BAB III : PERDA TENTANG KETERTIBAN UMUM :
B. Telaah Terhadap Isi Perda tentang Ketertiban Umum
B.3. Matrik Perbandingan Isi Perda Nomor 11 Tahun 1988
Sebagaimana telah dijelaskan terdahulu bahwa secara substansi tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara isi Perda 11 Tahun 1988 dengan isi Perda 8 Tahun 2007, kecuali berbagai penambahan dan perincian aturan pada Perda 8 Tahun 2007 yang pada mulanya tidak diatur secara detail pada Perda 11 Tahun 1988. Untuk memudahkan memahami aspek apa saja yang ditambahkan pada Perda 8 Tahun 2007 dari Perda sebelumnya, penulis menuangkannya dalam matrik berikut :
Matrik Perbandingan Isi
Perda Nomor 11 Tahun 1988 dengan Perda Nomor 11 Tahun 2007
Aspek Perda 11/1988 Perda 8/2007 Keterangan
Umum Terdiri dari 16 bab dan 34 pasal
Terdiri dari 16 bab dan 67 pasal
Terdapat dua bab baru dalam Perda 8/2007, yakni bab tentang Tertib Tempat Hiburan dan Keramaian (bab X) dan bab tentang Tertib Peran Serta masyarakat. Penambahan dua bab ini tidak mempegaruhi jumlah
keserluruhan bab karena pemadatan isi pada Perda 8/2007, yakni bab tentang Tertib Bangunan, Tertib Pemilik dan Penghuni Bangunan yang pada Perda 11/1988 dipisah dalam dua bab (bab VII dan bab VIII), pada Perda 8/2007 disatukan hanya dalam satu bab saja, yakni bab tentang Tertib Bangunan (bab VII). Demikian juga bab tentang Pembinaan dan Pengawasan yang pada Perda 11/1988 dipisah menjadi dua bab (bab XII dan bab XIII), pada Perda 8/2007 dijadikan satu bab saja (bab XII).
Bab I Membahas
tentang Ketentuan Umum, tediri atas 1 pasal yang mendefinisikan 9 konsep kunci yang digunakan dalam Perda. Membahas ketentuan yang sama. Terjadi penambahan konsep yang didefinisikan dalam ketentuan umum menjadi 20 konsep.
Konsep-konsep yang ditambahkan dalam ketentuan umum pada Perda 8 Tahun 2007 adalah pengertian tentang; DPRD, ketentraman masyarakat, kendaraan umum, tempat umum, pedagang kaki lima, parkir, hiburan, ternak potong, pencemaran dan keadaan darurat.
Bab II Tentang Tertib Jalan dan Angkutan Jalan Raya. Terdiri atas 6 pasal. Tentang Tertib Jalan, Angkutan Jalan dan Angkutan Sungai. Terdiri atas 10 pasal.
Pada perda 8/2007 ditambahkan aturan tentang angkutan sungai (pasal 2 ayat 3). Beberapa hal baru yang diatur dalam bab II Perda ini adalah larangan menggunakan atau menawarkan diri menjadi joki three in one (pasal 4), larangan bagi pengatur lalu lintas ilegal di persimpangan jalan, lebih dikenal dengan sebutan pak ogah atau polisi cepek (pasal 7), larangan memarkir kendaraan atau menyelenggarakan parkir tanpa izin (pasal 10 dan 1). Bab III Tentang Tertib
Jalur Hijau, Taman dan Tempat Umum. Terdiri dari 1 pasal. Tentang Tertib Jalur Hijau, Taman dan Tempat Umum. Terdiri dari 1 pasal.
Tidak ada perubahan isi pada bab ini dari Perda 11/1988 ke Perda 8/2007.
Sungai, Saluran, Kolam dan Lepas Pantai. Terdiri atas 5 pasal.
Sungai, Saluran, Kolam dan Lepas Pantai. Terdiri atas 4 pasal.
1988 terjadi pengurangan 1 pasal pada Perda 8 tahun 2007. Secara substansi tidak terdapat perubahan yang signifikan diantara keduanya.
Bab V Tentang Tertib
Lingkungan. Terdiri 2 pasal. Tentang Tertib Lingkungan. Terdiri dari 7 pasal.
Terdapat penambahan 5 pasal pada Perda 8 Tahun 2007. Beberapa hal yang ditambahkan antara lain; larangan merusak hutan mangrove (pasal 18), larangan membuat, menyimpan dan menjual petasan (pasal 19), melakukan aksi vandalisme dan mengotori lingkungan (pasal 21) pengaturan air minum dan air permukaan tanah (pasal 22 dan pasal 23).
Bab VI Tentang Tertib Usaha Tertentu. Terdiri atas 4 pasal. Tentang Tertib Tempat dan Usaha Tertentu. Terdiri atas 12 pasal.
Terdapat penambahan 8 pasal pada Perda 8 Tahun 2007. Penambahan paling krusial dan kontroversial adalah pada pengaturan masalah PKL dimana bukan hanya pedagang saja yang diancam dengan pidana melainkan juga meraka yang membeli barang dari PKL.
Bab VII Tentang Tertib Bangunan. Terdiri atas 1 pasal.
Tentang Tertib Bangunan. Terdiri atas 3 pasal.
Perda 8/2007 menggabungkan 2 bab pada Perda 11/1988, yakni bab VII tentang tertib bangunan dan bab VIII tentang Pemilik Bangunan. Secara substansi tidak terdapat perubahan yang signifikan dalam bab ini pada Perda 8/2007 kecuali adanya penambahan pasal khusus yang mengatur larangan untuk membangun menara/tower komunikasi, dan keharusan pegelolanya melakukan perawatan (pasal 37). Bab VIII Tentang Tertib
Pemilik dan Penghuni Bangunan.
Tentang Tertib Sosial.
Bab VIII pada Perda 11/1988 telah dipadatkan dalam bab VII Perda 8/2007. Karenanya pada bab VIII ini terjadi perbedaan signifikan karena adanya pemadatan sebagaimana disebut diatas. Dibandingkan dengan bab tentang Tertib Sosial pada Perda 11/1988, terdapat penambahan 4 pasal dari sebelumnya 4 pasal. Hal paling kontroversial dari Perda 8/2007 pada bab ini adalah larangan bukan hanya menjadi pengemis melainkan juga memberi pengemis.
Bab IX Tentang Tertib Sosial. Terdiri dari 4 pasal. Tentang Tertib Kesehatan. Terdiri dari 1 pasal. Disesuaikan
Bab X Tentang Tertib
Kesehatan
Tertib Hiburan, Keramaian dan Peran Serta Masyarakat
Seiring dengan semakin menjamurnya tempat-tempat hiburan dan berbagai aktivitas yang mengundang keramaian, Perda Nomor 8 Tahun 2007
yang tidak terdapat dalam Perda 11 Tahun 1988. Bab XI Tentang Ketentuan Pidana Tentang Ketentuan Pidana Bab XII Tentang
Ketentuan Pembinaan
Tentang Ketentuan Pembinaan Bab XIII Tentang
Pengawasan
Tentang Pengawasan Bab XIV Tentang
Penyidikan Tentang Penyidikan Bab XV Tentang Ketentuan Peralihan Tentang Ketentuan Peralihan Bab XVI Tentang
Ketentuan Penutup
Tentang Ketentuan Penutup
Tidak terjadi perubahan signifikan dari Perda 11/1988 ke Perda 8/2007 tentang ketentuan Pidana sampai ke ketentuan penutup, kecuali Perda 8/2007 lebih memerinci tentang ketentuan pidana seiring dengan semakin banyaknya klausul tambahan yang diatur dala perda dimaksud di atas.
C. Implementasi Perda Tentang Ketertiban Umum
Untuk dapat menilai implementasi Perda tentang Ketertiban Umum, penulis menjadikan Perda 11 Tahun 1988 sebagai pijakan, mengingat Perda yang baru, yakni Perda 8 tahun 2007 baru diberlakukan pada awal Januari 2008. Menjadikan implementasi Perda 8 Tahun 2007 sebagai dasar penilaian dalam kajian ini tidak mungkin dilakukan dan rentan menjadikan penelitian ini bias dalm penilaian mengingat masih sangat terbatasnya waktu pelaksanaan.
Berdasarkan hasil riset LBH APIK Jakarta,48 implementasi Perda yang seharusnya diberlakukan pada semua warga Jakarta dalam pelaksanaannya hanya mengatur masyarakat miskin saja, karena faktanya semua pasal dalam Perda ini ditujukan pada rakyat miskin kota. Perda ini memuat larangan-larangan orang berada ditempat umum yang sekiranya dapat mengganggu pandangan umum dan meresahkan masyarakat tanpa melihat latar belakang keberadaan rakyat miskin kota yang tidak mempunyai akses ke tempat-tempat yang dianjurkan yang
48
Lebih lengkap lihat, LBH APIK, Kajian Terhadap Perda 11 tahun 1988 tentang Ketertiban Umum di Wilayah DKI Jakarta, 2005..
notabene mesti mengeluarkan uang ekstra. Tak heran jika Perda ini – meskipun berjudul perda ketertiban umum - namun di kalangan rakyat miskin Jakarta lebih dikenal sebagai ‘Perda Penggusuran’. Faktanya, Perda 11 tahun 1988 selama ini memang selalu dijadikan dasar justifikasi oleh Pemerintah DKI Jakarta untuk melakukan penertiban berupa penggusuran, pengusiran dan perusakan terhadap properti warga yang dianggap menyalahi ketentuan yang diatur di dalam Perda ini.
Sejak diundangkannya Perda ini tahun 1988, tak terhitung lagi jumlah warga miskin Jakarta yang digusur dengan dalih ketertiban umum ataupun kepentingan dinas. Tidak terhitung pula jumlah becak yang dijaring dalam razia untuk kemudian dimusnahkan, padahal itu menjadi gantungan hidup para pemiliknya. Dalam kurun waktu enam tahun terakhir ini aktivitas ‘penertiban’ yang dilakukan aparat Pemda DKI Jakarta menunjukkan intensitas yang semakin tinggi. Data yang dilansir oleh Forum Keprihatinan Akademisi (FKA)49 menunjukkan bahwa pada tahun 2001 saja tercatat 45 kasus penggusuran pemukiman dengan 6588 rumah dan 5 sekolah dihancurkan, 6774 kepala keluarga dan 34.514 jiwa kehilangan tampat tinggal. Penggusuran yang tak jarang disertai dengan tindakan kekerasan membuat 19 orang meninggal, 67 orang luka, 50 orang sakit, 1000 orang depresi dan 4525 orang kehilangan pekerjaan.
Selain penggusuran pemukiman, pada tahun itu juga tercatat 54 kasus penggusuran terhadap pedagang kaki lima (PKL). Sebanyak 2700 PKL
49
Forum Keprihatinan Akademisi beranggotakan Prof. Dr. Saparinah Sadli, Prof. Dr. Sayogyo, Prof. Dr.Toety Herati, Ir. Marco Kusumawijaya, Prof. Dr. Franz Magnis-Suseno dan banyak tokoh akademisi dan LSM lainnya. Keprihatinan mereka akan akan penggusuran dan model penerapan Perda 11 Tahun 1988dituangkan dalam petisi berjudul “Menata Kembali Hak Warga Negara”, 11 Nopember 2003.
kehilangan tempat usaha dan barang dagangannya dengan kerugian mencapai Rp. 540 juta akibat penggusuran disertai dengan kekerasan, perampasan dan penjarahan oleh aparat. Padahal, selama berdagang, secara rutin PKL dipungut retribusi. Pada tahun ini juga dilakukan penggarukan becak secara besar-besaran. Pemerintah DKI Jakarta mengeluarkan setidaknya Rp. 1,24 milyar untuk menggusur becak dari bumi Jakarta. Akibatnya 6000 jiwa kehilangan pekerjaan dan 3000 becak dirampas.
Pada tahun 2002, data FKA mencatat setidaknya terjadi 26 kasus penggusuran pemukiman dengan sedikitnya 4908 rumah dihancurkan, 18.732 jiwa kehilangan tempat tinggal, 15 orang terluka, 11 orang ditangkap dan ditahan. Selain itu, juga terjadi 20 kasus penggusuran terhadap pedagang kaki lima (PKL), dimana sedikitnya 7770 lapak kios PKL dihancurkan.
Pada tahun 2003 Hasil investigasi Forum Warga Jakarta (FAKTA) dan Institut Sosial Jakarta (ISJ) mencatat setidaknya terjadi 15 kasus penggusuran pemukiman warga. Sedikitnya 7280 keluarga kehilangan tempat tinggal. Sebagian besar dari mereka tidak mendapatkan ganti rugi, dan hanya sebagian kecil saja yang mendapatkan uang kerohiman. Pada tahun 2005, dengan alasan melanggar jalur hijau sebagaimana diatur dalam Perda11/1988, belasan aktivis Falun Gong ditangkap saat berunjuk rasa memprotes Presiden Hu Jin Tao yang sedang berkunjung ke Jakarta. Pada tahun 2006 ratusan pedagang kaki lima di depan pasar Bendungan Hilir Jakarta Pusat yang mendapatkan giliran penertiban. Terakhir, pada awal tahun 2007, kasus penggusuran 700-an rumah di kolong tol Kalijodo Pejagalan Kecamatan Penjaringan Jakarta Utara yang berujung bentrok
antara warga dengan Satpol PP mengakibatkan tak kurang dari 3000 warga terusir dan kehilangan tempat tinggal.50
Kesemua aktivitas penertiban dan penggusuran tersebut di atas selalau menjadikan Perda 11 Tahun 1988 sebagai dasar hukum. Dengan alasan pemukiman berada di jalur hijau, bantaran kali, pinggir rel kereta api, atau lahan usaha berada di trotoar, dengan serta merta Pemda DKI Jakarta merasa berwenang untuk menghilangkan hak warga untuk mendapatkan pekerjaan dan penghidupan yang layak. Ironisnya, sebelum digusur baik pemukiman maupun pedagang kaki lima umumnya secara rutin ditarik retribusi oleh aparat pemerintah daerah. Dan setelah digusur, tidak sedikit dari lahan yang mereka tempati dibangun Mal, apartemen, dan berbagai kepentingan usaha bagi kelompok elit. Di sisi lain, banyak perumahan mewah, mal-mal dan berbagai tempat usaha menengah atas yang dibangun di lahan-lahan hijau tidak tersentuh penertiban oleh Pemda DKI Jakarta.
Dengan demikian menjadi jelas bahwa Perda Nomor 11 Tahun 1988 yang seharusnya mengatur ketertiban umum seluruh warga Jakarta, dalam implementasinya hanya menjadikan warga miskin dan termarjinalkan sebagai objek dari pemberlakuan Perda. Di dalam banyak kasus, implementasi Perda 11 Tahun 1988 juga ditengarai sarat dengan pelanggaran terhadap Hak Asasi Manusia warga miskin kota Jakarta.
50
BAB IV
PERDA TENTANG KETERTIBAN UMUM DI DKI JAKARTA DALAM TINJAUAN ISLAM DAN HAM
A. Tinjauan Islam Terhadap Perda Tentang Ketertiban Umum Di DKI Jakarta Islam sangat menghargai dan melindungi hak-hak dasar setiap manusia. Pentingnya perlindungan terhadap hak-hak dasar manusia ini ditegaskan oleh Al- Maududi. Menurutnya, dalam suatu kelompok hak-hak seseorang ditetapkan dan dijamin oleh kewajiban anggota-anggota kelompok yang lain, baik secara individual maupun kelompok. Prinsip-prinsip di dalam Al-Qur’an tentang keadilan, kejujuran, dan solidaritas kemanusiaan menimbulkan kewajiban bagi setiap anggota masyarakat Islam, orang perorangan. Prinsip-prinsip tersebut menimbulkan iklim saling hormat menghormati, dan jaga menjaga yang terjadi secara timbal balik. Tetapi dasar dari filsafat Islam menurut Mawardi tetap, yakni otonomi pribadi seseorang, yang menekankan hak-hak dasar manusia.51
Menurut Al-Maududi, Islam seperti halnya semua sistem politik, menempatkan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi. Tetapi jika pun kepentingan umum harus ditegakkan, negara tidak diperbolehkan melanggar sifat kemanusiaan warganya atau menyebabkan hilangnya kemerdekaan dan hak dasarnya.52 Apa saja sifat kemanusiaan dan hak dasar yang tidak dapat dilanggar oleh negara meskipun sedang menegakkan kepentingan umum tersebut?, ialah prinsip-prinsip dasar yang dikembangkan oleh Nabi ketika menyampaikan pidato
51
Abul A’la Al Maududi, Esensi Al Qur’an : Filsafat Politik, Ekonomi, Etika, Bandung : Mizan, 1987, hal 87.
52
perpisahan di padang Arafah. Prinsip-prinsip tersebut adalah hak dasar setiap manusia untuk hidup (al-dima), hak dasar setiap manusia untuk bebas memiliki sesuatu (al-amwal), dan hak dasar setiap manusia mendapatkan pengakuan dan kehormatan (al-a’rad).
Dengan demikian, didalam Islam, setiap manusia, baik muslim maupun tidak harus dijamin hal-haknya dan negara mempunyai kewajiban untuk melindungi warganya terhadap segala jenis pelanggaran yang dapat mengancam hak-hak tersebut. Adapun hak-hak warga yang harus dilindungi tersebut antara lain; a) Hak untuk mendapatkan jaminan keamanan jiwa (QS 49 : 11-1); b) Perlindungan terhadap hak milik (QS 24 : 27, QS 49 : 12); c) Hak mendapatkan kehormatan diri (QS 4 : 148); d) Hak kerahasiaan (QS 3 : 110, 5 : 78-79, 7 : 165); e) Hak untuk melakukan protes terhadap ketidakadilan (QS 3 : 11); f) Hak melakukan kritik, menyuruh kebaikan dan mencegah kejahatan (QS 8 : 61), g) Kemerdekaan untuk berserikat, h) Perlakuan yang sama bagi setiap warga tanpa diskriminasi.53
Di dalam perkembangannya, umat Islam mengembangkan dan mengakui hak-hak yang menjadi hak dasar manusia yang tidak dapat dilanggar yang kemudian disahkan dalam Cairo Declaration of Human Rights in Islam yang diadopsi oleh Organisasi Konferensi Islam (OKI) pada Agustus 1991. Hak-hak asasi manusia yang diadopsi dalam Deklarasi Kairo tersebut meliputi; a) Hak persamaan dan kebebasan, b) Hak hidup, c) Hak perlindungan diri, d) Hak kehormatan pribadi, e) Hak berkeluarga, f) Hak kesetaraan wanita dengan pria, g)
53
Teguh Prasetyo, Hak Asasi Manusia Dalam Tradisi Islam, dalam Jurnal Ilmu Hukum, Vol 10 Nomor 1, Maret 2007, hal 49-50
Hak anak dari orang tua, h) Hak mendapatkan pendidikan, i) Hak kebebasan beragama, j) Hak kebebasan mencari suaka, k) Hak memperoleh perlakuan sama, l) Hak kepemilikan.54
Jika Islam sedemikian menghormati kepentingan kemaslahatan umum namun sekaligus juga menjadikan hak dasar manusia sebagai tujuan dari syariat agama (maqasid syariah), bagaimana perspektif Islam terhadap Perda Nomor 11 Tahun 1988 yang oleh pemerintah di klaim mewakili kepentingan ketertiban dan kemaslahatan umum, sementara oleh sebagian masyarakat dituding melanggar hak-hak dasar manusia (yang menjadi tujuan dari syariat agama).
Sebelum memberikan justifikasi perspektif Islam tentang Perda Nomor 11 Tahun 1988 dan Perda Nomor 8 Tahun 2007, tentu penting untuk dilihat dan ditelaah terlebih dahulu, aspek-aspek apa saja dalam perda tersebut yang diklaim oleh pemerintah mewakili kepentingan dan kemaslahatan umum, dan aspek apa saja yang dituding oleh masyarakat melanggar hak dasar manusia.
Berdasarkan hasil bacaan dan telaah penulis terhadap materi Perda 11 Tahun 1988 dan Perda Nomor 8 Tahun 2007, setidaknya terdapat dua persoalan yang selama ini menjadi pokok perdebatan antara Pemerintah DKI dengan warga masyarakat. Kedua persoalan tersebut adalah; masalah akses ke tempat-tempat umum dan masalah pekerjaan dan mendapatkan penghidupan yang layak bagi warga Jakarta.
54
Sebelum Cairo Declaration of Human Rights in Islam disahkan pada 1991,satu dasawarsa sebelumnya umat Islam yang tergabung dalam Islamic Council Eropa telah menyusun deklarasi HAM yang bernama The Universal Islamic Declaration of Human Rights, yang dirumuskan pada tahun 1981.Lihat, Ahmad Ali Nurdin, Islam dan Hak Asasi Manusia, dalam Kompas 21/7/2005
Untuk masalah yang pertama, yakni persoalan akses masyarakat ke tempat-tempat umum, pada Perda 11 Tahun 1988 setidaknya terdapat empat pasal di dalam Perda yang mengaturnya, yaitu pasal 8, 9, 10, dan 15. Pasal 8 melarang setiap orang untuk memasuki atau berada di jalur hijau atau taman yang bukan untuk umum, termasuk juga tidur dan bertempat tinggal di dalamnya. Pasal 9 melarang setiap orang bertempat tinggal atau tidur di tanggul, bantaran sungai, di pinggir kali dan saluran. Pasal 10 melarang setiap orang untuk mandi, membersihkan anggota badan, mencuci pakaian, bahan makanan, binatang, kendaraan dan benda-benda di sungai, saluran dan kolam, termasuk juga dilarang memanfaatkan air sungai untuk kepentingan usaha. Sementara pasal 15 melarang setiap orang untuk bermain-main di jalan, di atas atau di bawah jembatan, di pinggir rel kereta api, pinggir kali, pinggir saluran dan tempat-tempat umum lainnya.
Pada Perda Nomor 8 tahun 2007 persoalan akses ke tempat umum diatur dalam pasal 6, pasal 12, pasal 13, pasal 14, pasal 20, dan pasal 39. Secara umum isi dari pasal-pasal pada Perda 8 tahun 2007 tidak jauh berbeda dengan isi Perda sebelumnya yang melarang warga untuk tinggal atau memanfaatkan beberapa kawasan seperti sungai, waduk, situ danau, pinggiran rel kereta dan seterusnya.
Pemerintah DKI selalu berargumen bahwa peraturan untuk menjaga jalur hijau, sungai dan tempat-tempat umum merupakan bagian dari upaya untuk memelihara ketertiban umum. Itulah sebabnya, berbagai penggusuran yang dilakukan oleh aparat trantib, baik di pada pemukiman warga di kolong-kolong jembatan, bantaran rel kereta api, bantaran sungai atau tempat-tempat yang oleh
Pemda DKI di kategorikan sebagai jalur hijau, Pemda DKI merasa absah untuk melakukannya. Di sisi lain, bagi sebagian masyarakat, berbagai pasal yang termuat dalam Perda tersebut di atas sangatlah mengada-ada. Larangan untuk tinggal di bantaran sungai, ketika pemerintah tidak mampu menyediakan lahan yang terjangkau dan layak bagi kaum miskin. Larangan untuk memanfaatkan air sungai ketika air bersih sedemikian mahal, dan larangan untuk bermain di berbagai tempat umum ketika masyarakat tidak lagi memiliki ruang bermain akibat ketiakmampuan pemerintah menyediakan fasilitas publik, adalah bentuk-bentuk pengebirian dan pelanggaran hak-hak dasar warga untuk mendapatkan jaminan perlindungan dan kehidupan yang layak dari Negara. Dan ketika Pemerintah melakukan penggusuran atas nama ketertiban umum, maka bertambah pula hak-hak dasar warga yang dilanggarnya, yakni; hak untuk mendapatkan jaminan keamanan jiwa (QS 49 : 11-1); hak mendapatkan perlindungan terhadap hak milik (QS 24 : 27, QS 49 : 12); dan hak mendapatkan kehormatan diri.
Untuk masalah yang kedua, yaitu persoalan akses warga terhadap pekerjaan dan penghidupan yang layak, terdapat beberapa pasal di dalam Perda 11 Tahun 1988 yang mengaturnya, yakni pasal 16, pasal 18, pasal 19 dan pasal 26. Pasal 16 melarang setiap untuk melakukan kegiatan usaha di jalan, pinggir rel kereta api, jalur hijau, taman dan tempat-tempat umum. Pasal 18 melarang setiap orang untuk melakukan usaha pembuatan, perakitan dan penjualan becak, memasukkan becak ke wilayah DKI Jakarta dan mengusahakan kendaraan bermotor atau tidak bermotor sebagai alat angkutan umum yang tidak termasuk dalam pola angkutan umum yang ditetapkan. Pasal 19 melarang setiap orang atau
badan melakukan usaha pengumpulan, penyaluran pembantu rumah tangga. Sementara pasal 26 melarang setiap orang/badan menyelenggarakan praktek/kegiatan usaha pengobatan dengan cara tradisional dan atau pengobatan yang bersifat kebatinan dan praktek yang ada hubungannya dengan bidang kesehatan.
Pada Perda Nomor 8 tahun 2007, masalah akses terhadap pekerjaan diatur dalam pasal 4 (larangan menjadi joki three in one), pasal 7 (larangan bagi ”pak ogah/polisis cepek”), pasal 10 (larangan menyelenggarakan parkir), pasal 25 (laangan bagi pedagang kaki lima), pasal 27 (larangan usaha kecil), pasal 28 (larangan menjadi calo), pasal 29 (larangan menarik becak), pasal 39 (larangan mengemis dan meminta sumbangan/derma), pasal 40 (larangan menjadi pengemis, pengamen, pedagang asongan dan pengelap mobil) dan pasal 47 (larangan menjalankan praktik pengobatan tradisional).
Pasal-pasal di atas adalah pasal-pasal yang selama ini digunakan oleh Pemerintah DKI Jakarta untuk menertibkan para pedagang kaki lima, melakukan razia becak atau menutup berbagai usaha pengobatan tradisional, tanpa diikuti oleh solusi yang memadai. Kebijakan yang selama ini amat ditentang oleh sebagian besar warga miskin Jakarta, terutama yang menjadi korban. Menurut mereka, memberikan penghidupan dan pekerjaan yang layak adalah kewajiban negara dan adalah hak warganya untuk mendapatkan jaminan penghidupan dari negara. Namun ironisnya, bukan hanya tidak memenuhi kewajibannya, Pemerintah DKI dengan dalih ketertiban dan keindahan kota justru melanggar hak
warganya untuk bekerja dan mendapatkan penghidupan yang layak (QS 24 : 27, QS 49 : 12).
Jika isi dan implementasi Perda 11 Tahun 1988 dan Perda Nomor 8 Tahun 2007 ternyata banyak mengundang perdebatan seputar konflik antara hak-hak perseorangan dengan apa yang oleh Pemerintah DKI dianggap sebagai kepentingan umum, bagaimana Islam menanggapi persoalan ini. Sebagaimana telah diulas dalam bab terdahulu, Islam memelihara kemaslahatan pribadi dan umum secara bersamaan tanpa harus ada yang dikorbankan. Namun demikian di saat terjadi pertentangan antara kepentingan pribadi dan umum maka yang didahulukan adalah kemaslahatan umum, dengan catatan, kemaslahatan umum tetap harus selaras dengan tujuan dari syariat itu sendiri, yakni terpeliharanya lima hak dan jaminan dasar manusia (al dharuriyat al khamsah) yang meliputi; keselamatan jiwa (hifdzu al nafs), keselamatan akal (hifdzu al aql), keselamatan keturunan (hifdzu al nasl), keselamatan harta benda (hifdzu al maal), dan keselamatan agama (hifdzu al din). Itu berarti, apapun upaya yang dilakukan – baik oleh individu maupun lembaga tertentu - dalam rangka menegakkan kemaslahatan dan ketertiban umum tidak dibenarkan melanggar hak-hak dasar yang dimiliki oleh manusia. Berdasarkan data-data yang selama ini terekam dalam berbagai media dan laporan penelitian, pelaksanaan Perda Nomor 11 Tahun 1988 dalam rangka penertiban umum telah terbukti membahayakan setidaknya dua dari lima jaminan dasar manusia (al-dharuriyat al khamsah), yakni keselamatan jiwa (hifdzu al-nafs) dan keselamatan harta benda (hifdzu al-maal). Dengan demikian, dalam perspektif Islam, penghapusan ataupun revisi terhadap peraturan yang
selama ini menjadi sumber ancaman bagi jaminan dasar keselamatan manusia ( al-dharuriyat al-khamsah) telah menjadi suatu keharusan.
B. Tinjauan HAM Terhadap Perda Tentang Keteriban Umum Di DKI Jakarta Sejak era reformasi, berbagai upaya penegakan, pemajuan, perlindungan dan pemenuhan HAM yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia mendapatkan