• Tidak ada hasil yang ditemukan

Maurya A, Verma SC, Meena R, Jayanthy A, Srivastava A, Shankar MB and Sharma RK

HERLINA 1 , EVI ANDRIANI 2

4. Maurya A, Verma SC, Meena R, Jayanthy A, Srivastava A, Shankar MB and Sharma RK

Phytochemistry and Chromatographic Analysis of Alstonia scholaris (L.) R.Br Used As a Traditional Medicine : A Review. World J. of Pharm. Res., 2016. 5(1).1503-1519

5. Tan, SJ., Lim KH, Subramaniam G, Kam TS. Macroline-sarpagine and macroline-pleiocarpamine bisindole alkaloids from Alstonia angustifolia. Phytochem. 2013. 85, 194-202

6. Ghedira K, et al., Alkaloids of Alstonia angustifolia. Phytochem.1988. 27 (12), 3955-3962 7. Kemen. Kehutanan RI. Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan dan Direktorat Jenderal Bina Usada Kehutanan. Budidaya Pulai (Alstonia spp) Untuk Bahan Barang Kerajinan. Badan Litbang Kehutanan IPB Press, Jakarta 2014 8. Meyer BN, Ferrigini NR, Jacobsen IB, Nichols DE, Mc Laughin JL. Brine Shrimp : A

Convenient General Bioassay for Active Plant Constituents. Plants Medica 1982. 45, 31-34.

9. Farnsworth NR. Review Article Biological and Phytochemistry Screening of Plants. J. of Pharm. Sci. 1966. 55 (3), 225 – 276

10. Tan Sj, Lim JL, Low YY, Sim KS, Lim SH, and Kam TS. Oxidized Derivatives of Macroline, sarpagine, and Pleiocarpamine Alkaloids from Alstonia angustifolia. J. of Nat.

Prod. 2014. 77, 2068-2080

11. Naranjo J. Pinar M, Hesse M, Schimid H. Indolalkaloids of Pleiocarpa talbotii W. Helv.

Chim. Acta 1972. 55(3). 752-771

12. Said IM, Din LB, et al., A New Alkaloid from The Roots of Alstonia angustifolia. J. Nat.

Prod. 1992, 55 (9), 1323-1324.

183

Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Metanol Daun Hijau Tanaman Pucuk Merah (Syzygium Analisis Kandungan Kalsium dan Besi dalam Susu Almond secara

Spektrofotometri Serapan Atom

Analysis Content of Calcium and Iron in Almond Milk by Atomic Absorption Spectrofotometry

PRISILIA PARAMITHA MAZER, SETYORINI SUGIASTUTI Fakultas Farmasi Universitas Pancasila

ABSTRAK

Susu almond merupakan susu nabati yang diperoleh dari proses pengolahan kacang almond. Susu almond memiliki nutrisi yang tinggi dan memiliki banyak manfaat untuk kesehatan. Susu almond menjadi popular sebagai susu nabati karena sebagian masyarakat tidak dapat mengkonsumsi susu sapi karena alergi terhadap protein susu sapi dan intoleransi terhadap laktosa. Susu almond menjadi alternatif pengganti susu sapi dan menjadi pilihan lain susu nabati. Untuk mengetahui bahwa susu almond memiliki kualitas yang baik maka dilakukan analisis kandungan mineral yang bermanfaat bagi tubuh yaitu mineral kalsium dan besi. Penelitian dilakukan terhadap produk rumah tangga susu almond yaitu A,B,C. Sampel susu dianalisis dengan larutan asam nitrat 65% yang kemudian diencerkan dan dianalisis kandungan mineralnya dengan menggunakan spektrofotometer serapan atom. Hasil analisis menunjukkan bahwa mineral kalsium didapat hasil rata-rata kadar dalam sampel susu almond A,B, dan C berturut-turut yaitu 114,92 bpj, 166,07 bpj, dan 163,80 bpj. Hasil tersebut menunjukkan bahwa kandungan mineral kalsium tertinggi pada sampel B dan terendah pada sampel A. Pada mineral besi didapat hasil rata-rata kadar dalam sampel susu almond A, B, dan C berturut-turut yaitu 3,78 bpj, 3,42 bpj, dan 2,44 bpj. Hasil tersebut menunjukkan bahwa kandungan besi tertinggi pada sampel A dan terendah pada sampel C.

Kata kunci : susu almond, kalsium, besi

ABSTRACT

Almond milk is vegetable milk obtained from the processing of almonds. Almond milk has high nutrition and has many health benefits. Almond milk is becoming popular as vegetable milk because some people cannot consume cow's milk because of allergies to cow's milk protein and lactose intolerance. Almond milk is an alternative to cow's milk and is another choice for vegetable milk. To provide that almond milk has good quality, it analysis of mineral content that is beneficial to the body of calcium and iron minerals. The study was conducted on household products of almond milk A, B, C. Milk samples were analyzed with 65% nitric acid solution which was then diluted and analyzed for the mineral content using an atomic absorption spectrophotometer. The results of the analysis showed that the calcium minerals obtained an average level of samples in almond milk A, B, and C respectively are 114.92 ppm, 166.07 ppm, and 163.80 ppm. These results indicate that the highest calcium mineral content in sample B and the lowest in sample A. In iron minerals obtained the average results in the samples of al, A, B, and C milk respectively are 3.78 ppm, 3.42 ppm, and 2.44 ppm. These results indicate that the highest iron content in sample A and the lowest in sample C.

Keywords : almond milk, calcium, iron

184

PENDAHULUAN

Susu almond merupakan salah satu produk susu nabati yang mengandung berbagai mineral yang sangat dibutuhkan, memiliki nilai gizi yang tinggi, dan banyak manfaat bagi kesehatan tubuh. Susu almond umum diual dan popularitasnya dikaitkan dengan berbagai alasan, yang paling penting adalah persepsi konsumen tentang manfaat kesehatannya. Susu almond kini telah menjadi produk susu nabati yang palinf popular di USA dan penjualannya telah melebihi penjualan susu kedelai. Susu almond memliki kandungan asam lemak tak jenuh tunggal dengan persentasi yang tinggi. Selain itu juga memiliki komposisi yang seimbang dalam protein, lemak, serat, vitamin, mineral dan tidak mengandung laktosa(1). Dengan demikian, susu almond cocok untuk mereka yang menderita intoleransi laktosa dan susu hewani(2).

Mineral dalam tubuh memegang peranan penting dalam pemeliharaan fungsi tubuh, baik tingkat sel, jaringan, organ maupun fungsi tubuh secara keseluruhan (3). Berdasarkan golongannya, mineral dibagi menjadi dua golongan yaitu mineral logam esensial dan nonesensial. Logam esensial diperlukan dalam proses fisiologis, sehingga logam golongan ini merupakan unsur penting yang jika kekurangan dapat menyebabkan kelainan proses fisiologis atau disebut penyakit defisiensi mineral. Logam esensial dibagi ke dalam dua kelompok yaitu mineral makro dan mineral mikro.mineral makro dibutuhkan dalam jumlah besar salah satu contohnya yaitu kalsium (Ca). Sedangkan, mineral mikro diperlukan tubuh dalam jumlah kecil salah satu contohnya yaitu besi (Fe)(4). Berdasarkan hal-hal di atas maka dilakukan analisis kandungan kalsium dan besi secara kuantitatif dalam 3 produk rumah tangga susu almond yang beredar dipasaran dengan menggunakan metode spektrofotometer serapan atom.

BAHAN DAN METODE BAHAN

Sampel yang digunakan yaitu susu almond dalam bentuk cair yang diproduksi oleh 3 produsen rumah tangga dengan merk A, B dan C, asam nitrat 65%, asam nitrat 10%, larutan bakupembanding besi (Fe), larutan baku pembanding kalsium (Ca), lanthanum (III) klorida 1%, aqua demineralisata.

METODE

Penyiapan larutan sampel

Sampel susu dipipet 5 mL, dimasukkan kedalam Erlenmeyer 100 mL, setelah itu ditambahkan 15 mL asam nitrat 65%, ditutup menggunakan kaca arloji kemudian didiamkan selama 24 jam. Dilakukan pemanasan secara perlahan-lahan diatas penangas listrik (hot plate) pada suhu 1150C sampai larutan jernih. Volume larutan dijaga agar tidak kering dengan penambahan asam nitrat 65%. Setelah didekstruksi secara sempurna, saring dengan menggunakan kertas saring Whatman No.42 ke dalam labu tentukut 10 mL. kertas saring dibilas menggunakan aqua demineralisata, kemudian diencerkan menggunakan aqua demineralisata sampai tanda.

Pembuatan larutan baku pembanding kalsium

Larutan baku pembanding kalsium 100 bpj dipipet 5 mL kemudian dimasukkan kedalam labu tentukur 50 mL dan diencerkan menggunakan dengan lantanum (III) klorida 1% hingga garis tanda, kemudian dikocok homogen. Dari larutan baku pembanding tersebut dibuat larutan baku pembanding dengan konsentrasi masing- masing 5; 10; 15; 20; 25; 30 bpj, masing-masing dimasukkan ke dalam labu tentukur 10 mL dan diencerkan dengan lantanum (III) klorida 1% sampai garis tanda.

Pembuatan larutan baku pembanding besi

Larutan baku pembanding besi 100 bpj dipipet 5 mL kemudian dimasukkan kedalam labu tentukur 50 mL dan diencerkan menggunakan dengan asam nitrat 10% hingga garis tanda, kemudian dikocok homogen. Dari larutan baku pembanding tersebut dibuat larutan baku pembanding dengan konsentrasi masing- masing 2; 2,5; 3; 3,5; 4; 4,5 bpj, masing-masing dimasukkan ke dalam labu tentukur 10 mL dan diencerkan dengan asam nitrat 10% sampai garis tanda.

185 Pembuatan kurva kalibrasi

Larutan baku pembanding kalsium 5; 10; 15; 20; 25; 30 bpj dan larutan baku pembanding besi 2; 2,5;

3; 3,5; 4; 4,5 bpj diukur dengan spektrofotometer serapan atom. Selanjutnya dibuat kurva dari hasil pengukuran, serapannya sebagai sumbu y dan konsentrasi sebagai sumbu x.

Uji linearitas kalsium

Sampel susu dipipet 5 mL kemudian dimasukkan ke dalam labu Erlenmeyer 50 mL, dilakukan sebanyak 6 kali dengan masing-masing sampel ditambahkan karutan baku pembanding dengan enam konsentrasi yang berbeda yaitu 5; 10; 15; 20; 25 dan 30 bpj sebanyak 10 mL. kemudian ditambahkan asam nitrat 65% sebanyak 10 mL, lalu ditutup dengan kaca arloji dan diamkan selama 24 jam. Setelah itu, dipanaskan di pemanas listrik secara perlahan-lahan selama 1 jam sampai warna karutan menjadi jernih sambil dijaga volumenya. Setelah larutan jernih disaring dengan menggunakan kertas Whatman No. 42 dan dimasukkan ke dalam labu tentukur 50 mL dan diencerkan dengan aqua demineralisata sampai tanda. Kemudian dipipet 1,0 mL larutan dimasukkan ke dalam labu tentukut 10 mL lalu diencerkan dengan lantanum (III) klorida 1% sampai tanda. Kemudian diukur serapannya dengan dpektrofotometer serapan atom.

Uji linearitas besi

Sampel susu dipipet 5 mL kemudian dimasukkan ke dalam labu Erlenmeyer 50 mL, dilakukan sebanyak 6 kali dengan masing-masing sampel ditambahkan karutan baku pembanding dengan enam konsentrasi yang berbeda yaitu 2; 2,5; 3; 3,5; 4 dan 4,5 bpj sebanyak 10 mL. kemudian ditambahkan asam nitrat 65% sebanyak 10 mL, lalu ditutup dengan kaca arloji dan diamkan selama 24 jam. Setelah itu, dipanaskan di pemanas listrik secara perlahan-lahan selama 1 jam sampai warna karutan menjadi jernih sambil dijaga volumenya. Setelah larutan jernih disaring dengan menggunakan kertas Whatman No. 42 dan dimasukkan ke dalam labu tentukur 50 mL dan diencerkan dengan asam nitrat 10% sampai tanda.

Kemudian diukur serapannya dengan dpektrofotometer serapan atom.

Penetapan batas deteksi (LOD) dan batas kuantitatif (LOQ)

Penetapan LOD dan LOQ dihitung menggunakan garis linear dari kurva kalibrasi yang telah diperoleh.

Uji presisi kalsium

Masing-masing sampel susu dipipet 5 mL kemudian dimasukkan ke dalam Erlenmeyer 50 mL, dilakukan sebanyak 6 kali pada tiap sampel susu. Kemudian masing-masing sampel susu ditambahkan baku pembanding kalsium sebanyak 2298 𝜇𝑙 pada sampel A, 3321 𝜇𝑙 pada sampel B, 3276 𝜇𝑙 pada sampel C dan masing-masing sampel susu ditambahkan 10 mL larutan asam nitrat 65%. Labu Erlenmeyer ditutup dengan kaca arloji, kemudian didiamkan selama 24 jam. Setelah 24 jam dipanaskan menggunakan penangas listrik selama 1 jam sampai warna menjadi jernih, kemudian disaring mengguanakan kertas saring Whatman No. 42 dan dimasukkan ke dalam labu tentukur 50 mL. Lalu, larutan tersebut dipipet 10 mL dimasukkan kedalam labu tentukur 10 mL diencerkan dengan lantanum (III) klorida 1% sampai tanda. Kemudian diukur serapannya dengan spektrofotometer serapan atom.

Uji presisi besi

Masing-masing sampel susu dipipet 40 mL kemudian dimasukkan ke dalam Erlenmeyer 100 mL, dilakukan sebanyak 6 kali pada tiap sampel susu. Kemudian masing-masing sampel susu ditambahkan baku pembanding besi sebanyak 380 𝜇𝑙 pada sampel A, 340 𝜇𝑙 pada sampel B, 240 𝜇𝑙 pada sampel C dan masing-masing sampel susu ditambahkan 10 mL larutan asam nitrat 65%. Labu Erlenmeyer ditutup dengan kaca arloji, kemudian didiamkan selama 24 jam. Setelah 24 jam dipanaskan menggunakan penangas listrik selama 1 jam sampai warna menjadi jernih, kemudian disaring mengguanakan kertas saring Whatman No. 42 dan dimasukkan ke dalam labu tentukur 50 mL lalu diencerkan dengan larutan asam nitrat 10% sampai tanda. Kemudian diukur serapannya dengan spektrofotometer serapan atom.

186

Analisis kadar kalsium dan besi dalam sampel susu almond

Sampel susu almond dipipet 5 mL (untuk analisis kalsium) dan dipipet 40 mL (untuk analisis besi), kemudian dimasukkan kedalam Erlenmeyer 100 mL lalu ditambahkan larutan asam nitrat 65% dan didiamkan selama 24 jam. Setelah 24 jam erlenmeyer tersebut dipanaskan dengan penangas listrik selama 1 jam sampai warna larutan jernih, kemudian disaring dengan menggunakan kertas Whatman No 42 dan dimasukkan kedalam masing-masing labu tentukur 50 mL. Untuk analisis kadar kalsium diencerkan aqua demineralisata sampai tanda lalu dipipet 1,0 mL dan dimasukkan kedalam labu tentukur 10 mL lalu diencerkan dengan lantanum (III) klorida 1%. Untuk analisis kadar besi diencerkan dengan asam nitrat sampai tanda. Kemudian diukur dengan spektrofotometer serapan atom.

Uji akurasi (perolehan kembali)

Sampel susu dipipet 5 mL untuk uji akurasi kalsium dan dipipet 40 mL untuk uji akurasi besi, kemudian dimasukkan ke dalam labu Erlenmeyer 50 mL, setelah itu untuk uji akurasi kalsium ditambahkan dengan larutan baku pembanding kalsium 20% yaitu 2298; 3448; 3321 µl, penambahan larutan baku pembanding kalsium 30% yaitu 4982; 3276; 4914 µl dan untuk uji akurasi besi sampel susu ditambahkan dengan larutan baku pembanding besi 20% yaitu 380; 340; 240 µl, penambahan larutan baku pembanding besi 30% yaitu 570; 510; 370 µl. Masing- masing ditambahkan 10 mL larutan asam nitrat 65%. Dilakukan sebanyak 3 kali untuk tiap penambahan baku pembanding kalsium dan besi, kemudian didiamkan selama 24 jam. Setelah didiamkan selama 24 jam, dipanaskan menggunakan penangas listrik pada suhu 1150 C selama ± 1 jam sampai warna larutan menjadi jernih, kemudian disaring dengan kertas Whatman No.42 dan dimasukkan ke dalam labu tentukur 50 mL. Kertas saring dibilas dengan aqua demineralisata, lalu diencerkan dengan aqua demineralisata sampai garis tanda.

Untuk akurasi kalsium dipipet 1,0 mL larutan dan dimasukkan ke dalam labu tentukur 10 mL lalu diencerkan dengan lantanum (III) klorida 1% sampai garis tanda. Kemudian diukur serapannya dengan spektrofotometer serapan atom.

HASIL DAN PEMBAHASAN Penetapan LOD dan LOQ

Berdasarkan hasil pada tabel 1 uji batas deteksi dan batas kuantitatif (LOD dan LOQ) pada logam kalsium diatas diperoleh harga LOD = 0,59 bpj dan LOQ = 1,95 bpj. Hal ini mengartikan bahwa pengukuran sampel harus berada diatas LOD dan LOQ.

Berdasarkan hasil pada tabel 2 uji batas deteksi dan batas kuantitatif (LOD dan LOQ) pada logam besi diatas diperoleh harga LOD = 0,17 bpj dan LOQ = 0,56 bpj. Hal ini mengartikan bahwa pengukuran sampel harus berada diatas LOD dan LOQ.

Tabel 1. Hasil penetapan LOD dan LOQ kalsium No. Konsentrasi (bpj)

(sumbu x)

Serapan (sumbu y)

Batas deteksi (LOD)

(bpj)

Batas kuantitatif (LOQ)

(bpj)

1 5,0 0,1977

0,59 1,95

2 10,0 0,3939

3 15,0 0,5961

4 20,0 0,7882

5 25,0 0,9731

6 30,0 1,1574

187

Tabel 2. Hasil penetapan LOD dan LOQ besi No. Konsentrasi (bpj)

(sumbu x)

Serapan (sumbu y)

Batas deteksi (LOD)

(bpj)

Batas kuantitatif (LOQ)

(bpj)

1 2,0 0,2257

0,17 0,56

2 2,5 0,2551

3 3,0 0,2962

4 3,5 0,3331

5 4,0 0,3678

6 4,5 0,4137

Uji Presisi

Dari tabel 3 dapat dilihat hasil uji presisi kalsium dari metode ini diperoleh nilai Simpangan Baku Relatif (SBR) sampel susu A = 0,18%, sampel susu B = 0,10%, dan sampel susu C = 0,11%. Data ini menunjukkan bahwa metode analisis yang digunakan memiliki ketelitian yang baik berdasarkan hasil pengukuran enam kali pengulangan dengan nilai simpangan baku relatif (SBR) berada dibawah batas syarat yang ditentukan, yaitu 7%. Hal ini menandakan bahwa matriks dalam sampel susu tidak mempengaruhi hasil uji yang didapat, sehingga hasil uji tersebut tetap memiliki kedekatan antar hasil uji. Tingkat ketelitian dalam analisis kalsium pada sampel susu A, B, dan C merupakan hal yang penting dalam menentukan tingkat kepercayaan dan aplikasi terhadap data analisis yang dihasilkan. Besar % nilai Simpangan Baku Relatif (SBR) yang didapat menandakan bahwa semakin tinggi tingkat ketelitiannya.

Tabel 3. Hasil uji presisi kalsium dalam sampel susu A, B, dan C

No. Jenis Sampel

Larutan sampel (ml)

Larutan BP (µl)

Serapan sampel + BP

(y)

Konsentrasi (bpj)

(x)

𝑋̅ ± SB SBR (%)

1 A 4,0 2298

0,2147 5,2891

5,2821

± 9,3041 x 10-3

0,18 0,2146 5,2865

0,2149 5,2943 0,2140 5,2708 0,2143 5,2786 0,2141 5,2734

2 B 4,0 3321

0,3119 7,8203

7,8199

± 7,9573 x 10-3

0,10 0,3124 7,8333

0,3117 7,8151 0,3120 7,8229 0,3115 7,8099 0,3118 7,8177

3 C 4,0 3276

0,3157 7,9193

7,9071

± 8,6975 x 10-3

0,11 0,3150 7,9010

0,3153 7,9089 0,3151 7,9036 0,3155 7,9141 0,3148 7,8958

188

Pada tabel 4 untuk hasil uji presisi besi dari metode ini diperoleh nilai Simpangan Baku Relatif (SBR) sampel susu A = 0,18%, sampel susu B = 0,19%, dan sampel susu C = 0,26%. Data ini menunjukkan bahwa metode analisis yang digunakan memiliki ketelitian yang baik berdasarkan hasil pengukuran enam kali pengulangan dengan nilai simpangan baku relatif (SBR) berada dibawah batas syarat yang ditentukan, yaitu 7%. Hal ini menandakan bahwa matriks dalam sampel susu tidak mempengaruhi hasil uji yang didapat, sehingga hasil uji tersebut tetap memiliki kedekatan antar hasil uji. Tingkat ketelitian dalam analisis besi pada sampel susu A, B, dan C merupakan hal yang penting dalam menentukan tingkat kepercayaan dan aplikasi terhadap data analisis yang dihasilkan. Besar % nilai Simpangan Baku Relatif (SBR) yang didapat menandakan bahwa semakin tinggi tingkat ketelitiannya.

Tabel 4. Hasil uji presisi besi dalam sampel susu A, B, dan C

No. Jenis Sampel

Larutan sampel (ml)

Larutan BP (µl)

Serapan sampel + BP

(y)

Konsentrasi (bpj)

(x)

𝑋̅ ± SB SBR (%)

1 A 32,0 380

0,2793 2,7723

2,7732

± 5,0551 x 10-3

0,18 0,2798 2,7790

0,2795 2,7750 0,2788 2,7656 0,2791 2,7696 0,2797 2,7776

2 B 32,0 340

0,2598 2,5126

2,5084

± 4,8541 x 10-3

0,19 0,2596 2,5100

0,2599 2,5140 0,2594 2,5073 0,2593 2,5060 0,2589 2,5007

3 C 32,0 240

0,2035 1,7630

1,7630

± 4,5900 x 10-3

0,26 0,2034 1,7617

0,2031 1,7577 0,2038 1,7670 0,2032 1,7590 0,2040 1,7696

Penetapan Kadar

Pada data tabel 5 dan gambar 1 dapat dilihat bahwa terdapat perbedaan kadar yang nyata dari penetapan kandungan kalsium dalam sampel susu almond A, B, dan C. Hasil data penetapan kadar kalsium dengan tiga kali perlakuan diperoleh rata-rata kadar pada sampel susu A adalah 114,92 µl/ml, sampel susu B adalah 166,07 µl/ml, dan sampel susu C adalah 163,80 µl/ml. Dari hasil penetapan kadar tersebut dapat disimpulkan bahwa pada sampel susu B memiliki kandungan kalsium yang paling tinggi dan pada sampel susu A memiliki kandungan kalsium yang paling rendah. Terjadinya perbedaan kadar kalsium yang diperoleh dapat disebabkan karena bahan utama pembuatan susu yaitu almond yang digunakan masing–masing industri rumah tangga diperoleh dari sumber yang berbeda-beda sehingga menyebabkan kadar kalsium yang didapat berbeda.