• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam dunia ekonomi, semakin ketatnya persaingan antar perusahaan dari tahun ke tahun menuntut perusahaan harus mampu bertahan dan berkompetisi dengan perusahaan lain. Salah satu yang dapat ditempuh perusahaan agar mampu bertahan dalam persaingan yang ketat yaitu dengan memberikan jaminan kesehatan dan keselamatan kerja. Karena dengan memberikan jaminan kesehatan dan keselamatan kerja karyawan tidak perlu khawatir dalam menjalankan tugas dan tanggung

jawabnya, sehingga ini dapat menjadi motivasi bagi karyawan dalam mengoptimalkan dan meningkatkan produktivitas kerja perusahaan.

Secara umum setiap perusahaan, baik perusahan dagang, jasa maupun industry memiliki tujuan dan sasaran yang hendak dicapai antara lain untuk mendapatkan keuntungan (profit) agar kelangsungan hidup dari perusahaan dan pertumbuhannya akan terus berlanjut sampai ke masa yang akan datang.

Atas dasar itu, perusahaan membuat suatu kebijakan atau prosedur. Salah satu alat yang baik dalam perencanaan dan pengawasan adalah dengan menyusun

anggaran. Anggaran memberikan manajemen, proyeksi yang dapat dipercaya mengenai hasil – hasil dari rencana, sebelum rencana dilaksanakan.

Salah satu biaya yang dikeluarkan perusahaan adalah biaya medical.

Perusahaan mengeluarkan biaya ini merundut dari aturan pemerintah yang dituangkan dalam UU No. I Tahun 1970, UU No. 21 Tahun 2003 yang meratifikasi Konvensi ILO No. 81, dan UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan secara jelas diatur mengenai Kesehatan dan Keselamatan Kerja. Pemerintah mewajibkan kepada perusahaan untuk memberikan hak bagi karyawan, akan tersedianya jaminan kesehatan dan keselamatan kerja selama karyawan tersebut menjalankan tugas dan tanggung jawabnya, sehingga karyawan dapat maksimal tanpa adanya kekhawatiran pada kesehatan dan keselamatan. Biaya tersebut memerlukan pengawasan dari pihak manajemen, dengan membandingkan biaya aktual yang telah dikeluarkan dengan anggaran yang telah disusun, dengan melakukan perbandingan tersebut akan dilihat perbedaannya atau penyimpangan yang dapat terjadi.

PT. Pertamina (Persero) yang dahulu bernama Perusahaan Perkembangan Minyak dan Gas Bumi Negara adalah salah satu Badan Usaha Milik Negara ( BUMN ) yang bertugas mengelola penambangan minyak dan gas bumi di

Indonesia.

Dalam meningkatkan kemampuan dan kinerja PT Pertamina (Persero) MOR I Medan harus membuat suatu perencanaan kerja yaitu mengenai biaya medical yang harus disertai juga dengan pengawasan. Perencanaan harus diikuti dengan

pengawasan untuk menjamin aktivitas yang dilaksanakandapat berjalan sesuai dengan yang direncanakan. Pengawasan juga dimaksudkan untuk menilai sampai sejauh

mana prinsip efisiensi telah tercapai. Untuk itu dibuat suatu anggaran yang dapat digunakan sebagai alat dalam melakukan pengawasan yaitu dengan cara

membandingkan aktualisasi dengan yang telah dianggarkan. Dari perbandingan ini dapat ditentukan apakah ada penyimpangan – penyimpangan yang terjadi

Untuk menyediakan rencana mengenai aktivitas biaya medical pada PT Pertamina Persero Marketing Operation Region (MOR) I Medan dengan maksud mengurangi ketidakpastian dan memberi pengarahan yang jelas dalam uapay

mencapai tujuan perusahaan. Oleh karena itu penulis ingin mengetahui lebih banyak dan merasa tertarik untuk menyajikan suatu tulisan ilmiah mengenai “Evaluasi Penyusutan Anggaran Biaya Medical Pada Karyawan PT Pertamina Persero Marketing Operation Region ( MOR ) I Medan” .

B. Rumusan Masalah

Perencanaan dan pengawasan yang cermat dalam mengelolah Biaya Medical pada PT Pertamina (Persero) MOR I Medan akan sangat membantu manajemen perusahaan untuk mencapai tujuan perusahaan dengan efektik dan efisien.

Selanjutnya, peneliti merumuskan pertanyaan penelitian sebagai berikut:

Bagaimana PT Pertamina (Persero) MOR I Medan khususnya Unit Health and Safety yang menangani kesehatan karyawan untuk merencanakan dan menyusun anggaran Biaya Medical?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah :

1) Menganalisis proses penyusunan anggaran biaya medical administrasi yang dibuat oleh PT Pertamina (Persero) MOR I Medan.

2) Menganalisis proses perencanaan dan pengendalian biaya Medicalnya yang telah disusun dari 2012 sampai dengan 2014.

D. Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah :

a. Bagi penulis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan mengenai cara perusahaan melakukan penyusunan anggaran biaya Medical juga sebagai pengaplikasian ilmu pengetahuan yang telah didapat selama masa studi di D III Manajemen Keuangan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

b. Bagi Perusahaan

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan - masukan kepada perusahaan PT Pertamina (Persero) MOR I Medan dalam dalam meningkatkan perencanaan dan pengendalian anggara biaya Medicalnya.

c. Bagi Peneliti Lain

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah referensi dan bahan pustaka yang diharapkan dapat memberikan informasi mengenai penyusunan anggaran biaya Medical suatu perusahaan, serta sebagai bahan pertimbangan dalam penelitian selanjutnya serta untuk pihak-pihak yang membutuhkan.

BAB II

PROFIL PERUSAHAAN

A. Gambaran Umum PT Pertamina (Persero) Marketing Operation Region I Medan

1. Sejarah PT Pertamina (Persero) MOR I Medan

Berdirinya PT. Pertamina awalnya dikarenakan perebutan kembali lapangan minyak Sumatera Utara oleh para pejuang dari pihak Jepang pada bulan September 1985. Perebutan itu menyebabkan seluruh tambang minyak yang berada di Pangkalan Berandan maupun yang ada di Rantau, Kuala Simpang, Aceh Timur, dikuasai oleh Indonesia. Kemudian dalam waktu yang hampir bersamaan, didirikanlah perusahaan minyak nasional pertama yang diberi nama Perusahaan Tambang Minyak Negara Republik Indonesia (PTMNRI).

Segera sesudah terjadinya serah-terima, karyawan-karyawan perminyakan di tempat itu segera melakukan perbaikan-perbaikan untuk meningkatkan produksi yang sempat turun. Tetapi tidak berapa lama pada tanggal 13 Agustus 1947, tiga minggu setelah Belanda melancarkan agresinya yang pertama tempat tersebut dibumi hanguskan. Pada tanggal 22 Juli 1957, pemerintah memutuskan untuk menyerahkan lapangan minyak Sumatera Utara kepada Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD) yang pengusahaannya diserahkan kepada PT. Eksploitasi Tambang Minyak Sumatera Utara (PT. ETMSU). Penyerahan penguasaan bulan Juli 1957 tersebut menjadi

lengkap setelah Menteri Perdagangan dan Industri mengeluarkan keputusan tanggal 15 Oktober 1957 yang mengesahkan pembentukan PT. ETMSU.

Untuk menegaskan bahwa minyak adalah milik nasional dan bahwa perusahaan yang baru dibentuk itu bukan perusahaan daerah dan tidak bersifat kedaerahan, maka diadakan pergantian nama. Maka sejak tanggal 10 Desember 1957, PT. Eksploitasi Tambang Minyak Sumatera Utara dirubah menjadi PT Perusahaan Milik Nasional (PT Permina) yang kemudian diubah lagi menjadi PN Permina dalam tahun 1957 itu adalah lapangan minyak tempat Shell memulai usahanya lebih kurang 70 tahun sebelumnya, lapangan dan fasilitas yang telah dihancurkan oleh sekutu selama perang dunia kedua. Tahun 1961, terdapat perusahaan minyak dan gas milik negara : PN PERMINA (ex PT. PERMINA), PN PERATAMIN dan PN PERTAMIGAN.

Diantara puing-puing dan reruntuhan yang menjadi modal permulaan usaha perminyakan nasional itu ialah kilang minyak di Pangkalan Berandan, yang dibangun oleh perusahaan Belanda pada tahun 1982, terletak ±83 km di barat laut Medan, fasilitas pangkapalan di Pangkalan Susu ±25 km di sebelah utara Pangkalan

Berandan, lapangan minyak Rantau di daerah Aceh ±55 km dari Pangkalan Berandan yang diproduksi untuk pertama kalinya pada tahun 1929 dan beberapa lapangan lainnya di dekat Rantau. Tahun 1966 PN PERMIGAN dilikuidasi. Tahun 1968 PN PERMIGAN dan PN PERTAMIN dilebur menjadi PN PERTAMINA.

Pada Maret 1966, menteri migas menetapkan lima daerah eksplorasi dan produksi PN Pertamina, yaitu :

a. Unit I meliputi daerah Sumatera Utara dan Aceh dengan kantor pusat I Pangkalan Berandan.

b. Unit II meliputi daerah Lampung, Bengkulu, Sumatera Selatan dan Jambi dengan kantor pusat di Plaju.

c. Unit III meliputi daerah Jawa dan Madura dengan kantor pusat di Jakarta. d. Unit IV meliputi daerah Kalimantan, termasuk Tarakan dan Bunyu dengan

kantor pusat di Balik Papan.

e. Unit V meliputi daerah Irian Jaya, Sulawesi, dan Nusa Tenggara dengan kantor pusat di Sorong.

Daerah eksplorasi dan produksi tersebut kemudian bertambah lagi dengan Unit VI yang meliputi Sumatera Tengah. Sejalan dengan perkembangan dan tuntutan kebutuhan organisasi yang menyangkut kegiatan operasi perminyakan dipisahkan antara kegiatan hulu dan hilir. Berdasarkan UU No. 8 Tahun 1971 PN PERTAMINA berubah menjadi PERTAMINA (Perusahaan Pertambangan Minyak dan Gas Bumi Negara).

Tahun 1995 melalui Surat Keputusan Direktur Utama Pertamina nomor kpts-Perusahaan nomor 1589-Cooooo-1995-So tanggal 28 Desember 1995 pemasaran untuk wilayah provinsi NAD-Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat dan Riau

dilaksanakan oleh Unit Pembekalan dan Pemasaran Dalam Negeri I (UPPDN I) yang berkedudukan di Medan. Berdasarkan UU MIGAS No. 22 Tahun 2001 PERTAMINA berubah menjadi PT. Pertamina (Persero) pada tanggal 17 September 2003.

Dan melalui Surat Keputusan Direksi nomor Kpts-P076-Cooooo-2001-So tanggal 25 Juni 2001 sebelum UPPDN I diubah menjadi Unit Pemasaran I (Upms-I).Sehingga sebutan lengkapnya adalah PT. Pertamina (Persero) Upms-I Medan atau PT. Pertamina (Persero) Unit Pemasaran I. Pada 10 Desember 2005 PERTAMINA dengan logo baru dan semangat baru yang “Selalu hadir Melayani”.

2. Makna Logo, Visi, Misi dan Tujuan

Gambar 2.1 Logo Pertamina

Elemen logo membentuk huruf “P”, yang secara keseluruhan merupakan representasi bantuk panah menggambarkan Pertamina yang bergerak maju dan progresif.

Warna-warna mencolok, menunjukkan langkah besar yang diambil Pertamina dan aspirasi perusahaan akan masa depan yang lebih poesitif dan dinamis.

Warna merah, mencerminkan keuletan dan ketegasan serta keberanian dalam menghadapi berbagai berbagai macam kesulitan.

Warna biru, mencerminkan andal, dapat dipercaya dan bertanggung jawab.

Visi dan Misi Perusahaan

Visi : Menjadi Perusahaan Energi Nasional Kelas Dunia

Misi : Menjalankan usaha minyak, gas, serta energi baru dan

terbarukan serta terintegrasi, berdasarkan prinsip-prinsip komersial yang kuat.

Maksud dan Tujuan Perusahaan

Maksud dan tujuan Perusahaan sesuai Akta Perubahan Anggaran Dasar PT Pertamina (Persero) No. 1 tanggal 1 Agustus 2012 adalah:

1. Melakukan usaha energi, yaitu minyak dan gas bumi, energi baru dan terbarukan, baik di dalam maupun di luar negeri serta kegiatan lain yang terkait atau menunjang kegiatan usaha di bidang energi, yaitu minyak dan gas bumi, energi baru dan terbarukan.

2. Pengembangan optimalisasi sumber daya yang dimiliki Perseroan untuk menghasilkan barang dan/atau jasa yang bermutu tinggi dan berdaya saing kuat.

3. Meraih keuntungan guna meningkatkan nilai Perseroan dengan menerapkan prinsip-prinsip Perseroan Terbatas.

Tata Nilai Perusahaan

Pertamina menetapkan enam tata nilai perusahaan yang dapat menjadi pedoman bagi seluruh karyawan dalam menjalankan perusahaan.

Keenam tata nilai perusahaan Pertamina adalah (6C), sebagai berikut: 1. Clean (Bersih)

Dikelola secara profesional, menghindari benturan kepentingan, tidak

menoleransi suap, menjunjung tinggi kepercayaan dan integritas. Berpedoman pada asas-asastata kelola korporasi yang baik.

2. Confidence (Percaya diri)

Berperan dalam pembangunan ekonomi nasional, menjadi pelopor dalam reformasi BUMN, dan membangun kebanggaan bangsa.

3. Commercial (Komersial)

Menciptakan nilai tambah dengan orientasi komersial, mengambil keputusan berdasarkan prinsip-prinsip bisnis yang sehat.

4. Competitive (Kompetitif)

Mampu berkompetisi dalam skala regional maupun internasional, mendorong pertumbuhan investasi, membangun budaya sadar biaya dan menghargai kinerja.

5. Customer Focused (Fokus pada Pelanggan)

Berorientasi pada kepentingan pelanggan dan berkomitmen untuk memberikan pelayanan terbaik kepada pelangan.

6. Capable (Berkemampuan)

Dikelola oleh pemimpin dan pekerja yang profesional dan memiliki talenta dan penguasaan teknis tinggi, berkomitmen dalam membangun kemampuan riset dan pengembangan.

B. Struktur Organisasi PT Pertamina (Persero) Marketing Operation Region I Medan

Struktur organisasi merupakan kerangka pembagian tanggung jawab dan fungsional kepada unit-unit organisasi yang dibentuk untuk melaksanakan kegiatan pokok perusahaan dan agar perusahaan dapat berjalan kearah tujuan yang diinginkan. PT Pertamina (Persero) MOR I menyusun struktur organisasinya sedemikian rupa sehingga terlihat jelas pembagian tugas dan wewenangnya serta pertanggungjawaban atas tugas yang didelegasikan dalam usahanya mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Pada dasarnya struktur organisasi yang dimiliki oleh perusahaan ini berbentuk garis dan staff (struktur terlampir), artinya disamping pucuk pimpinan yang mempunyai wewenang komando, juga diperlukan staff atau pejabat yang dapat memberikan masukan dan nasehat sesuai dengan bidang keahliannya.

C. Uraian Tugas (Job Description)

Berikut ini adalah deskripsi jabatan dari struktur organisasi PT Pertamina (Persero) MOR I Medan, dan setiap bagiannya memiliki tugas:

1. GM Marketing Operation Region I Memiliki tugas antara lain:

a. Mengkoordinasi kegiatan pemasaran bahan bakar minyak dan gas bumi di wilayah kerja PT Pertamina (Persero) MOR I Medan.

b. Mengkoordinasi kegiatan pemasaran yang meliputi pengadaan, pengangkutan, penimbunan, penyaluran, dan menjaga mutu produk yang dijual.

c. Mengendalikan dan melaksanakan pengawasan kerja operasi di wilayah kerja PT Pertamina (Persero) MOR I Medan.

d. Mengkoordinasi kegiatan administrasi penunjang serta pembinaan Sumber Daya Manusia sehubungan dengan kegiatan pemasaran BBM agar terwujud suatu sistem kerja yang produktif, efektif, dan efisien.

e. Mengkoordinasi hubungan kerja secara terpadu dengan pihak luar sehubungan dengan operasi wilayah kerja PT Pertamina (Persero) MOR I Medan.

2. Fuel Retail Marketing Region I Manager

Memiliki tugas antara lain:

a.Mengkoordinir perencanaan, pengawasan pelaksanaan penjualan BBM Subsidi, dan BBK di wilayah Marketing Operation Region I.

b.Mengkoordinir perencanaan, pengawasan pelaksanaan penjualan BBM Subsidi, BBK, dan pengawasan mutu BBM yang disalurkan ke lembaga penyalur.

c.Mengendalikan dan melaksanakan pengawasan kegiatan penjualan dan pemasaran BBM subsidi dan BBK oleh lembaga penyalur.

d.Mengkoordinasi kegiatan penyelenggaraan administrasi penjualan BBM subsidi dan BBK.

3. Industrial Marketing Region I Manager

Memiliki tugas antara lain:

a. Mengkoordinir perencanaan dan pengawasan pelaksanaan penjualan BBM Nonsubsidi ke agen BBM Industri, Costumer Industri, dan perkapalan termasuk SPBB.

b. Mengkoordinasi perencanaan, pengawasan pelaksanaan penjualan BBM Nonsubsidi dan BBK, dan pengawasan mutu BBM yang disalurkan kea gen BBM Industri, Costumer Industri, dan perkapalan termasuk SPBB.

c. Mengendalikan dan melaksanakan pengawasan kegiatan penjualan dan pemasaran BBM Nonsubsidi dan BBK oleh agen BBM Industri, Costumer Industri, dan perkapalan termasuk SPBB.

d. Mengkoordinasi kegiatan penyelenggaraan administrasi penjualan BBM Nonsubsidi dan BBK.

4. Petrochemical Marketing Area Manager

Memiliki tugas antara lain:

a. Mengkoordinir perencanaan dan pengawasan pelaksanaan penjualan produk-produk Petrochemical.

b. Mengkoordinasi perencanaan dan pengawasan pelaksanaan penjualan produk-produk Petrochemical.

c. Mengendalikan dan melaksanakan pengawasan kegiatan penjualan produk-produk Petrochemical.

d. Mengkoordinasi kegiatan penyelenggaraan administrasi penjualan produk-produk Petrochemical.

5. Domestic Gas Region Manager I Memiliki tugas antara lain:

a. Mengkoordinir perencanaan dan pengawasan pelaksanaan penjualan LPG Subsidi dan Nonsubsidi.

b. Mengkoordinasi perencanaan dan pengawasan pelaksanaan penjualan LPG Subsidi dan Nonsubsidi.

c. Mengendalikan dan melaksanakan pengawasan kegiatan penjualan LPG Subsidi dan Nonsubsidi.

d. Mengkoordinasi kegiatan penyelenggaraan administrasi penjualan LPG Subsidi dan Nonsubsidi.

6. Aviation Area Manager Memiliki tugas antara lain:

a. Mengkoordinir perencanaan dan pengawasan pelaksanaan penjualan produk Avtur dan Avigas.

b. Mengkoordinasi perencanaan dan pengawasan pelaksanaan penjualan produk Avtur dan Avigas.

c. Mengendalikan dan melaksanakan pengawasan kegiatan penjualan produk Avtur dan Avigas.

d. Mengkoordinasi kegiatan penyelenggaraan administrasi penjualan produk Avtur dan Avigas.

7. Technical Services Region Manager I Memiliki tugas antara lain:

a. Menyelenggarakan koordinasi perencanaan dan pembangunan baru dan pemeliharaan seluruh sarana distribusi dan pemasaran di Pertamina Marketing Operation Region I.

b. Menyelenggarakan pelaksanaan koordinasi terhadap kegiatan pembangunan baru dan pemeliharaan distribusi dan pemasaran di Pertamina Marketing Operation Region I.

c. Melaksanakan koordinasi penyelenggaraan administrasi teknis.

d. Melaksanakan proses lelang dan pengawasan proyek pengadaan pemeliharaan dan pembangunan di wilayah Marketing Operation Region I.

8. HSSE Area Manager Sumbagut

Memiliki tugas antara lain:

a. Menyelenggarakan perencanaan, pengawasan, evaluasi, dan penyuluhan dalam bidang pencemaran lingkungan kerja.

b. Menyelenggarakan perencanaan, pengembangan, dan evaluasi sarana dan fasilitas di Terminal BBM, depot filling plant LPG, dan DPPU yang berkaitan dengan HSSE.

c. Menyelenggarakan pencegahan dan penanggulangan kebakaran.

d. Menyelenggarakan pengarahan dan penyuluhan pencegahan terhadap bahaya kecelakaan kerja.

9. Marketing Branch Manager NAD

Memiliki tugas antara lain:

a. Mengkoordinir perencanaan dan pengawasan pelaksanaan penjualan BBM Subsidi dan BBK di wilayah Nangroe Aceh Darusalam.

b. Mengkoordinasi perencanaan, pengawasan pelaksanaan penjualan BBM Subsidi dan BBK, dan pengawasan mutu BBM yang disalurkan ke lembaga penyalur.

c. Mengendalikan dan melaksanakan pengawasan kegiatan penjualan dan pemasaran BBM Subsidi dan BBK oleh lembaga penyalur.

d. Mengkoordinasi kegiatan penyelenggaraan administrasi penjualan BBM subsidi dan BBK.

10. Marketing Branch Manager Sumbar

Memiliki tugas antara lain:

a. Mengkoordinir perencanaan dan pengawasan pelaksanaan penjualan BBM Subsidi dan BBK di wilayah Sumatera Barat.

b. Mengkoordinasi perencanaan, pengawasan pelaksanaan penjualan BBM Subsidi dan BBK, dan pengawasan mutu BBM yang disalurkan ke lembaga penyalur.

c. Mengendalikan dan melaksanakan pengawasan kegiatan penjualan dan pemasaran BBM Subsidi dan BBK oleh lembaga penyalur.

d. Mengkoordinasi kegiatan penyelenggaraan administrasi penjualan BBM Subsidi dan BBK.

11. Marketing Branch Manager Riau

Memiliki tugas antara lain:

a. Mengkoordinir perencanaan dan pengawasan pelaksanaan penjualan BBM Subsidi dan BBK di wilayah Riau.

b. Mengkoordinasi perencanaan, pengawasan pelaksanaan penjualan BBM Subsidi dan BBK, dan pengawasan mutu BBM yang disalurkan ke lembaga penyalur.

c. Mengendalikan dan melaksanakan pengawasan kegiatan penjualan dan pemasaran BBM Subsidi dan BBK oleh lembaga penyalur.

d. Mengkoordinasi kegiatan penyelenggaran administrasi penjualan BBM Subsidi dan BBK.

12. Marketing Branch Manager Kepri

Memiliki tugas antara lain:

a. Mengkoordinir perencanaan dan pengawasan pelaksanaan penjualan BBM Subsidi dan BBK di wilayah Kepulauan Riau.

b. Mengkoordinasi perencanaan, pengawasan pelaksanaan penjualan BBM Subsidi dan BBK, dan pengawasan mutu BBM yang disalurkan ke lembaga penyalur.

c. Mengendalikan dan melaksanakan pengawasan kegiatan penjualan dan pemasaran BBM Subsidi dan BBK oleh lembaga penyalur.

d. Mengkoordinasi kegiatan penyelenggaraan administrasi penjualan BBM Subsidi dan BBK.

13. Finance Marketion Operation Region I

Memiliki tugas antara lain:

a. Menyelenggarakan penyusunan dan pengawasan pemakaian anggaran PT Pertamina (Persero) Marketing Operation Region I.

b. Menyelenggarakan kegiatan perbendaharaan PT Pertamina (Persero) Marketing Operation Region I.

c. Menyelenggarakan kegiatan Akuntansi PT Pertamina (Persero) Marketing Operation Region I.

d. Menyelenggarakan pengendalian keuangan PT Pertamina (Persero) Marketing Operation Region I.

14. Unit Manager Human Resources Sumbagut

Memiliki tugas antara lain:

a. Mengkoordinir kegiatan pembinaan perawatan Sumber Daya Manusia, penelitian dan usul perbaikan norma-norma dan syarat-syarat kerja serta mengadakan material untuk kebutuhan kantor dan rumah tangga.

b. Mengkoordinir kegiatan pelayanan jasa perawatan kesehatan pekerja dan pengaturan fasilitas pekerja dan keluarganya.

c. Mengkoordinir kegiatan jasa konsultasi manajemen antara lain mengenai sistem dan tata kerja organisasi dan evaluasi jabatan maupun tatalaksananya.

15. IT Region Sumatera Region

Memiliki tugas antara lain:

a. Menerima, memprioritaskan, dan menyelesaikan permintaan bantuan IT.

b. Instalasi, perawatan, dan penyediaan dukungan harian baik untuk hardware dan software, peralatan termasuk printer, scanner, tinta, dan lain-lain.

d. Maintain dan perawatan komputer.

e. Memperbaiki berbagai masalah seputar hardware, software, dan konektivitas, termasuk di dalamnya akses pengguna dan konfigurasi komponen.

f. Bertanggung jawab untuk administrasi dan pemeliharaan teknis yang menyangkut perusahaan dalam pembagian sistem database.

16. S&D Region Manager I

Memiliki tugas antara lain:

a. Mengkoordinasi kegiatan pengadaan, penyimpanan, penerimaan, dan pembekalan BBM/NBBM serta pengaturan layanan dan transportasi.

b. Mengkoordinasi kegiatan penerimaan, penimbunan BBM dan NBBM untuk penyaluran ke depot dan konsumen.

c. Menyusun rencana dan melakukan pengawasan distribusi BBM dan NBBM serta gas untuk kebutuhan di wilayah kerja Pertamina MOR I.

D. Kinerja Terkini PT Pertamina (Persero) Marketing Operation Region I Medan

1. ROPER EMAS. Area Kamojang berhasil tiga kali berturut-turut mempertahankan peringkat emas dalam Program Penilaian Kinerja Perusahaan (PROPER) Periode 2011, 2012 dan 2013 dari Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia.

2. Penghargaan Energi Pratama dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia untuk Area Kamojang yang telah berhasil dalam melakukan efisiensi energi.

3. Juara umum dalam ajang Upstream Improvement and Innovation (UII)Award di Bandung. Empat kategori berhasil diraih yang ditampilkan oleh GKM Lokomotif, SS Panas Bumi, SS Motor Winch, serta booth terbaik kedua.

4. Penghargaan Indonesia Suistainability Reporting Award 2012 sebagai Winner Best Susitainability Report 2011 Group B kategori “Natural Resources”.

5. Direktorat Keuangan PGE berhasil meraih sertifikat ISO 9001:2008 dari Badan Sertifikat PT. TUV Rheinland Indonesia yang menyatakan telah memenuhi persyaratan Sistem Manajemen Mutu dalam bidang Keuangan. 6. Area Lahendong berhasil meraih ISO 14001:2004 dari Badan Sertifikasi

PT. TUV Rheinland Indonesia atas keberhasilan menerapkan Sistem Manajemen Lingkungan.

7. Best Completion of Audited Financial Statement Award 2011 pada ajang

Annual Pertamina Subsidiary Award (APSA) 2012, PT. Pertamina (Persero).

8. Nominasi untuk Best Community Involvement and Development Implementation 2011 pada ajang Annual Pertamina Subsidiary Award (APSA) 2012, PT. Pertamina (Persero).

9. Nominasi untuk Best Annual Report 2011 pada ajang Annual Pertamina Subsidiary Award (APSA) 2012, PT. Pertamina (Persero).

10.GKM IMTAQ dan SS Husni Mubarok meraih Predikat 3-Stars dan 2-Stars dalam International Convention on Quality Control Circle (ICQCC) di Kuala Lumpur.

11.Annual Pertamina Quality Award PGE meraih 2 medali Gold untuk GKM

Lokomotif dan SS Motorwinch dan 3 medali Silver untuk GKM Piranha Imut, GKM Superman dan SS ey IPanas Bumi.

12.Temu Karya Mutu dan Produktivitas Nasional (TKMPN) XVI dan International Quality and Productivity Convention, PGE meraih predikat Platinum melalui SS Motorwinch dan meraih 2 Gold melalui GKM Lokomotif dan GKM Superman.

13.Sertifikasi ISO 9001:2008 Learn Wirehouse Gudang Logistik untuk Area Kamojang dan Lahendong.

14.Keberhasilan Area Kamojang dalam melakukan Resertifikasi Integrasi 3 sistem manajemen ISO 9001, ISO 14001 dan OHSAS 18001 dari Badan Sertifikasi PT. TUV Rheinland Indonesia.

15.Area Geothermal Kamojang sebagai Department of The Year 2012 hasil survei Internal Customer Satisfaction (ICS).

BAB III

ANALISIS DAN EVALUASI

A. Pengertian, Tujuan, dan Manfaat Anggaran

1. Pengertian Anggaran

Manajemen perusahaan dituntut untuk dapat bertindak secara efektif, efisien dan mengambil keputusan atas dasar rencana yang diteliti di dalam menghadapi faktor ketidakpastian yang selalu ada dalam dunia usaha.

Pengendalian secara terus menerus diperlukan agar pelaksanaan dapat terkendali atau berjalan dengan baik ke arah tujuannya. Dalam hal ini, anggaran merupakan alat bantu atau alat pengendali yang baik.

Dokumen terkait