• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya oleh Hubeis (2007) mengenai tingkat pengetahuan petani melalui media audio-visual video. Unsur visual, audio, materi, dan penggunaan waktu dalam penayangan penggunaan pupuk agrodyke melalui video sangat berpengaruh secara signifikan terhadap peningkatan pengetahuan petani.

Artinya, unsur-unsur dalam penggunaan video tersebut memberikan dampak kognitif terhadap petani. Audio visual yang dilakukan melalui media video tersebut dikemas sedemikian rupa sesuai dengan kebutuhan petani. Berbeda dengan audio-visual video yang ditayangkan oleh BKKBN mengenai program KB melalui media televisi. Meski sama-sama menggunakan media audio visual, media televisi adalah media massa yang sasarannya heterogen sehingga kebutuhan terhadap media televisi akan berbeda dengan media audio-

visual video. Dibandingkan dengan media massa lainnya, Televisi mempunyai kelebihan yaitu bersifat audio visual (didengar dan dilihat), dapat menggambarkan kenyataan dan langsung dapat menyajikan peristiwa yang sedang terjadi ke setiap rumah para pemirsa dimanapun mereka berada (Ardianto & Erdinaya, 2006).

Televisi menurut Effendy (1993) merupakan media komunikasi jarak jauh dengan penayangan gambar dan pendengaran suara. Baik melalui kawat maupun secara elektromagnetik tanpa kawat.

Dari semua media komunikasi yang ada, televisilah yang paling berpengaruh pada kehidupan manusia. Sebanyak 99% orang Amerika memiliki televisi di rumahnya. Tayangan televisi mereka dijejali hiburan, berita dan iklan. Mereka menghabiskan waktu menonton televisi sekitar tujuh jam dalam sehari (Agee et al., 2001). Televisi merupakan media yang dapat mendominasi komunikasi massa, karena sifatnya yang dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan khalayak.

Televisi mempunyai daya tarik yang kuat tidak perlu dijelaskan lagi, karena televisi mempunyai unsur kata-kata, musik, sound effect serta unsur visual berupa gambar. Gambar ini merupakan gambar hidup yang mampu menimbulkan kesan yang mendalam pada penonton. Salah satu sifat siaran televisi adalah langsung, tidak berbelit-belit. Keistimewaan yang dimiliki televisi ini menyebabkan televisi dianggap lebih efektif dalam penyampaian pesan kepada khalayak. Aktivitas dalam penyampaian pesan tersebut terlihat pada keberadaan televisi dalam menjalankan fungsinya dengan baik sebagai media komunikasi massa.

Fungsi televisi sama dengan fungsi media massa lainnya (surat kabar dan radio siaran), yakni memberi informasi, mendidik, menghibur dan membujuk. Fungsi menghibur lebih dominan pada media televisi sebagaimana hasil penelitian-penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya, yang menyatakan bahwa pada umumnya tujuan utama khalayak menonton televisi adalah untuk memperoleh hiburan, selanjutnya untuk memperoleh informasi (Ardianto et al., 2009).

Mengenai unsur hiburan, Penelitian yang juga pernah dilakukan oleh Bunna Agustina Tandi dengan judul penelitian “Desain media komunikasi untuk pendidikan konservasi berdasarkan preferensi masyarakat dan efeknya terhadap perubahan pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat di kawasan Lindung

Sungai Lesan, Berau, Kalimantan Timur”. Tesis Institut Pertanian Bogor tahun 2010, menyatakan bahwa, lebih efektif menyampaikan media bersifat visual dan menghibur seperti poster dan lagu untuk masyarakat kampung, sedangkan untuk masyarakat perkotaan lebih menyukai mendapat informasi melalui media massa (radio, televisi dan sebagainya). Penelitian yang dilakukan berkaitan dengan preferensi masyarakat dalam memilih media untuk menyampaikan informasi.

Dari peneliltian terlihat bahwa, masyarakat yang belum terjangkau oleh media masa seperti masyarakat kampung menyukai media yang bersifat menghibur. Unsur hiburan merupakan hal yang penting dalam menyampaikan informasi.

Ditinjau dari stimulasi alat indera, televisi memiliki tiga karakteristik, yaitu: 1. Audio-visual: Televisi dapat didengar sekaligus dapat dilihat (audio-visual).

Jadi, apabila khalayak radio siaran hanya mendengar kata-kata, musik, dan efek suara, maka khalayak televisi dapat melihat gambar yang bergerak. Namun demikian, tidak berarti gambar lebih penting daripada kata-kata. 2. Berpikir dalam gambar: Ada dua tahap yang dilakukan dalam proses berpikir

dalam gambar. Pertama, adalah visualisasi (visualization), yakni menerjemahkan kata-kata yang mengandung gagasan yang menjadi gambar secara individual. Dalam proses visualisasi, pengarah acara harus menunjukkan obyek-obyek tertentu menjadi gambar yang jelas dan menyajikannya sedemikian rupa, sehingga mengandung suatu makna. Kedua, penggambaran, yakni kegiatan merangkai gambar-gambar individual sedemikian rupa, sehingga kontinuitasnya mengandung makna tertentu. 3. Pengoperasian lebih kompleks: Dibandingkan dengan radio siaran, pengope-

rasian televisi siaran lebih kompleks, dan lebih banyak melibatkan orang. Peralatan yang digunakannya pun lebih banyak dan untuk mengoperasikannya lebih rumit dan harus dilakukan oleh orang-orang yang terampil dan terlatih (Ardianto & Erdinaya, 2006).

Pesan yang disampaikan media televisi memerlukan pertimbangan-pertimbangan lain agar pesan tersebut dapat diterima oleh khalayak sasaran. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan itu adalah sebagai berikut (Ardianto & Erdinaya, 2006):

1. Pemirsa: Individu yang menggunakan media massa elektronik dalam memenuhi suatu tujuan tertentu. Jadi, setiap acara yang ditayangkan benar-benar berdasarkan kebutuhan pemirsa, bukan acara yang dijejalkan.

2. Waktu: Menyesuaikan waktu penayangan dengan minat dan kebiasaan pemir- sa. Faktor waktu menjadi bahan pertimbangan, agar setiap acara yang ditayangkan secara proposional dapat diterima oleh khalayak sasaran.

3. Durasi: Berkaitan dengan waktu, yakni jumlah menit dalam setiap penayangan acara. Durasi masing-masing acara disesuaikan dengan jenis acara dan tuntutan skrip atau naskah. Suatu acara tidak akan mencapai sasaran karena durasi terlalu singkat.

4. Metode penyajian: Telah kita ketahui bahwa fungsi utama televisi menurut khalayak pada umumnya adalah untuk menghibur, selanjutnya adalah informasi. Dengan mengemas pesan sedemikian rupa, yakni menggunakan metode penyajian tertentu dimana pesan non hiburan dapat mengandung unsur hiburan. Pada umumnya pesan yang mengandung non hiburan kurang diminati pemirsa.

Salah satu cara yang dapat digunakan media massa televisi adalah dengan memanfaatkan kemampuan elektronik yang tepat, dan karya artistik yang baik, memungkinkan penyajian tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi penontonnya.

Program Televisi

Untuk memperoleh perhatian dari pemirsanya, stasiun televisi setiap harinya menyajikan berbagai jenis program yang jumlahnya sangat banyak dan beragam jenisnya. Pada dasarnya, apa saja bisa dijadikan program untuk ditayangkan di televisi selama program itu menarik dan disukai audien serta tidak bertentangan dengan kesusilaan, hukum dan peraturan yang berlaku.

Salah satu penelitian yang pernah dilakukan mengenai penayangan tersebut adalah “Pengaruh Tayangan Sinetron Religius terhadap Perilaku Beragama Ibu Rumah Tangga Muslimah (di Desa Kedung Jaya dan Desa Tuk Kecamatan Kedawung Kabupaten Cirebon), Tesis, Institut Pertanian Bogor, tahun 2007 yang dilakukan oleh Nurfalah Farida. Penelitian ini menganalisis mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi pola menonton tayangan sinetron religius dan akan mempengaruhi perilaku menonton. Faktor-faktor yang diteliti adalah karakteristik ibu rumah tangga, karakteristik tayangan sinetron religius dan kegiatan pendalaman agama. Sementara dari segi tayangan sinetron, variabel yang diteliti, tema cerita, muatan cerita, kualitas acting, tampilan fisik dan kesesuaian jam tayang.

Sebuah tayangan, selain tak bertentangan dengan kesusilaan, hukum dan peraturan yang berlaku, juga harus memperhatikan unsur-unsur lain seperti tema cerita, muatan cerita, acting, tampilan fisik dan kesesuaian jam tayang.

Pengelola stasiun penyiaran dituntut untuk memiliki kreativitas seluas mungkin untuk menghasilkan berbagai program yang menarik. Berbagai jenis program itu dapat dikelompokkan menjadi dua bagian besar berdasarkan jenisnya yaitu: 1) Program informasi (berita) dan 2) Program Hiburan (entertaintment). Program informasi kemudian dibagi lagi menjadi dua jenis yaitu berita keras (hard news) yang merupakan laporan berita terkini yang harus segera disiarkan dan berita lunak (soft news) yang merupakan kombinasi dari fakta, gosip dan opini. Soft news juga dapat berbentuk perbincangan (talk show) (Pane, 2003).

Talk show adalah sebuah pertunjukkan yang dipusatkan pada wawancara-wawancara, dan yang lainnya diselingi dengan penampilan penyanyi atau pelawak (comedian). Namun, wawancara tetap menjadi sentral dalam talk show dengan segala tipenya (Pane, 2003).

Menurut Darmanto (1998), talk show adalah acara perbincangan dengan tukar menukar pendapat, dimana pemimpin acara dapat mengatur dan bertindak mengambil peran aktif tanpa menarik kesimpulan.

Program hiburan adalah segala bentuk siaran yang bertujuan untuk menghibur audien dalam bentuk musik, lagu, cerita dan permainan. Program yang termasuk dalam kategori hiburan adalah drama, pemainan (game), musik, pertunjukkan (Morissan, 2005).

Program hiburan terbagi atas tiga kelompok besar yaitu musik, drama permainan (game show) dan pertunjukkan (Morissan, 2005). Program hiburan adalah segala bentuk siaran yang bertujuan untuk menghibur audien dalam bentuk musik, lagu, cerita, dan permainan. Program yang termasuk dalam kategori hiburan adalah drama, musik, dan permainan (Morissan, 2005).

Variety show

Variety show menurut Bignell (2004) adalah, sebuah program hiburan yang terdiri dari campuran beberapa program seperti drama, komedi dan musik). Dalam variety show diberikan tempat untuk berbagai hal.

Karakteristiknya yang terbanyak adalah porsi untuk perbincangan yang topiknya berisi banyak hal, terdiri dari berita, laporan (reportase), komentar,

feature, wawancara, drama, dan segala rupa siaran jurnalistik dan model artistik dapat ditemukan dalam acara variety show (Schwarzmeier, 2011).

Variety show biasa dimulai dengan pembukaan, yang memperdengarkan lagu pengawal acara, kemudian pembawa acara memberikan penjelasan mengenai topik yang akan disampaikan. Waktu dalam variety show harus benar-benar direncanakan, sehingga program dapat mencakup berbagai peristiwa maupun kegiatan yang telah direncanakan masing-masing waktunya (Schwarzmeier, 2011).

Dokumen terkait