• Tidak ada hasil yang ditemukan

SANTRI DAN MEDIA DIGITAL

A. Media Digital, Pesantren, dan Aktivitas Santri

96

Media digital yang di dalamnya juga bisa mengakses media sosial dan hal-hal yang berbasis internet menjadi salah satu sarana yang mampu membantu peningkatan kualitas dan kuantitas penyebaran informasi pesantren. Baik dari segi peran dan tugas pesantren, kegiatan pesantren, dan manfaat-manfaat yang ditawarkan oleh santri dan pesantren untuk masyarakat umum. Selain menjadi penyebar informasi yang diminati masyarakat, media sosial memberikan ruang bagi pesantren dan santri dalam mengaktualisasikan diri. Salah satunya dengan menyebarkan foto kegiatan santri yang bernuansa keagamaan seperti khitobah (pidato), dan mengaji. Kegiatan sosial santri seperti kerja bakti, gotong royong, pengabdian masyarakat, dan saluran bantuan kepada masyarakat. Kegiatan budaya seperti pentas budaya yang ditampilkan oleh santri yang berasal dari seluruh penjuru nusantara. Kegiatan seni seperti drama, musikalisasi puisi, dan karya-karya santri yang kemudian disiarkan dan bisa dinikmati oleh masyarakat luas.

Artikel tentang pesantren dan media telah banyak ditulis dalam sebuah penelitian, salah satunya adalah hasil penelitian Saputra (2016), berjudul "Dampak Media Sosial terhadap Sikap Keberagamaan Remaja dan Solusinya melalui Pendidikan Agama Islam". Dalam karya ini, ia menyimpulkan bahwa media sosial dapat menjadi alat komunikasi yang pada satu wilayah harus diperhatikan, karena media tidak mempunyai filter dalam penyebarannya kecuali orang yang menggunakan. Pada wilayah ini pendidikan agama menjadi alat yang dapat menyaring penyebaran dampak negatif dari media sosial. Dalam hal ini pesantren harusnya menjadi lembaga yang mampu memfilter kehadiran media digital dengan pemanfaatan yang sebaik-baiknya untuk kemajuan pesantren, kesejahteraan santri, dan kebaikan bagi masyarakat sekitar.

Hal ini diakui oleh Umdatul Fadhila, salah satu santri sekaligus pengurus Pondok Pesantren Putri Walisongo yang menjadi pengelola akun media sosial berupa instagram pondok pesantren @putri_walisongo. Awal diaktifkan media ini adalah sebagai upaya penyebaran informasi pesantren dan kegiatan santri yang secara tidak langsung sebagai media eksistensi santri dalam berkreasi dan menampilkan kemampuan di berbagai hal. Baik dalam dunia kepenulisan, dunia seni seperti tari, sastra, drama, kepenulisan, dan lainnya. Sehingga dari hal itu akan menjadi salah satu bukti bahwa santri tidak hanya mumpuni di bidang keagamaan, namun juga dalam skill yang lain.

97

“Media sosial tidak bisa dipandang sebelah mata sebagai hal baru yang memberikan sisi negatif. Tetapi sebaliknya, kehadiran media sosial sebenarnya mampu memberikan nuansa baru yang baik dan mengasikkan, apabila kita bisa menggunakan dengan baik. Di sini (pesantren) kegiatan santri seperti pidato, drama, pentas seni, dan kesenian lain biasanya disebarkan di media sosial, seperti instagram. Hal ini menjadi ruang eksistensi diri santri sekaligus sebagai informasi kegiatan pesantren selain mengaji.” ungkap Umdatul Fadhilah.

Penggunaan dan pemanfaatan media sosial bagi santri di Pondok Pesantren Putri Walisongo Jombang memberikan efek positif bagi kemajuan pesantren itu sendiri. Hal ini juga diakui oleh Iswanti, Ketua atau pimpinan Pondok Pesantren Putri Walisongo masa khidmat 2015-2017, menurutnya diperbolehkannya mengakses internet tersebut adalah untuk mendorong minat bakat santri tanpa mengerdilkan program mengaji di pesantren, selain itu baginya tidak mungkin juga santri zaman kini lepas dari akses media sosial, karena bagaimana pun tugas-tugas kuliah di luar pondok juga terkoordinasi melalui smartphone, komputer atau laptop.

“Awalnya kami (pengurus pesantren) mengkhawatirkan masuknya teknologi dan media digital ke pesantren. Khawatir kegiatan belajar dan mengajar terganggu. Waktu mengaji santri jadi kosong dan lainnya. Namun alhamdulillah, sejauh ini masih mampu memanfaatkan sebaik-baiknya. Ya, secukupnya sesuai kebutuhan pesantren dan santri. Untuk menjaga kekhawatiran itu, pihak pesantren tentu memberi aturan kepada santri dalam mengakses internet dan penggunaan media digital lainnya. Dengan itu insyaAllah semua akan berjalan sesuai di jalannya.” Ungkap Iswanti yang sudah menjadi pembina sekaligus guru di salah satu sekolah pesantren.

Penggunaan media sosial diharapkan memberikan efek positif kepada santri dan tentunya kepada lembaga pesantren itu sendiri. Meskipun demikian, santri tetap dalam pengawasan pengurus pesantren, jika dalam keadaan program pondok, dan masuk ke asrama, maka santri diharap untuk fokus belajar dan mengaji. Akan ada sanksi atau hukum bagi santri

98

yang mengakses smartphone dan media digital sejenisnya yang bisa mengakses internet termasuk media sosial di saat program pondok berlangsung.

Ruang eksisitensi untuk santri diakui memang penting dalam pergaulan. Eksistensi menjadi simbol bahwa seorang remaja itu dapat bergaul dan memiliki koneksi terhadap orang lain. Menjadi eksis bagi seorang remaja adalah suatu kenikmatan sendiri. Karena eksis sering dikonotasikan dengan hal-hal yang menyenangkan (Mahendra, 2017). Hal ini diakui oleh beberapa santri yang sudah lama aktif menggunakan media sosial Instagram. Salah satunya oleh santri pemilik akun instagram @durrotunnafisah18, yang mengaku bahwa dirinya merasa ketergantungan terhadap penggunaan Instagram. Santri ini sering menggunakan instagram untuk mempublish foto, mencari caption yang bagus, mengikuti akun tokoh yang dirasa pantas dijadikan panutan.

“Hari ini kita hidup di era globalisasi, kebutuhan akses internet tentu tidak bisa dipungkiri. Oleh karena itu beberapa pesantren memperbolehkan santri terutama yang mahasiswa untuk mengakses internet meski pada jam-jam tertentu. Ini adalah salah satu bukti bahwa pesantren mau menerima kehadiran media yang sebenarnya bisa memberikan dampak positif, jangan selalu dipandang negatif. Saya sebagai santri tentu harus tahu diri, bagaimana cara memanfaatkan waktu dengan baik. Meski pun memang, terkadang terlena dan keasikan, ya kecanduan main media sosial. Tapi itu masih di ranah fashion atau upload foto, menyebarkan konten positif, dan stalking saja. Tidak lebih dari itu.” Ungkap Durrotun Nafisah.

Beberapa santri lain pemilik akun instagram @robiatul.adawiyah97, @tikaherlina13, @maharomantis, dan @kiekyen_waywhest, mengaku bahwa selain mengaji dan mengikuti kegiatan pondok, mereka juga aktif menggunakan media sosial. Mengikuti perkembangan zaman menjadi tuntutan tersendiri bagi mereka. Salah satu hal yang paling penting adalah, memiliki akun media sosial salah satunya instagram dianggap santri yang uptodate, dan tidak akan mendapatkan lebel ketinggalan zaman dari pada remaja lain di luar pesantren. Menunjukkan diri, baik melalui caption, foto, video, dan bentuk lainnya, mereka lakukan setiap hari. Hal ini dianggap sebagai bukti bahwa mereka remaja milenial yang bisa mengikuti perkembangan zaman, hidup boleh di pesantren namun pengalaman yang luas

99

tetap mereka pahami dengan baik. Proses eksistensi diri, bagi mereka dicontohkan seperti memiliki banyak teman dan koneksi, banyak dikenal orang, menjadi orang penting, dan beberapa kenikmatan dari eksistensi lainnya seorang remaja seperti dapat mengekspresikan dirinya secara bebas dan melakukan hal-hal yang sudah menjadi trend para remaja lain tanpa harus melanggar kewajiban dan haknya sebagai santri di pesantren yang memiliki aturan.

Menurut Bambang & Atmoko (2012), jika remaja tidak eksis di lingkungannya maka remaja akan kesulitan berteman dan beradaptasi dengan lingkungannya. Remaja itu selalu ingin diakui keberadaan dirinya serta ingin mendapatkan sebuah kebanggaan, dan kalau mereka tidak eksis mereka akan kesulitan dalam mendapatkan teman dan informasi. Hingga hal ini menjadi dalil yang tepat bagi santri dalam memanfaatkan media sosial di era ini.

Media sosial menjadi produk teknologi dan media digital yang digemari banyak kalangan termasuk santri. Dengan layanan ini kita dapat berkomunikasi dengan teman lama, memperluas jaringan pertemanan, ataupun sekadar mengetahui keadaan atau status teman dan kerabat. Kehadiran media sosial seakan tidak dapat dilepaskan dari kehidupan remaja. Biasanya jejaring sosial digunakan remaja untuk berbicara tentang kehidupan, mereka berbicara tentang apa yang mereka lakukan sehari-hari bahkan menunjukkan eksistensi diri.

“Sudah saatnya santri unjuk kreativitas. Menggunakan media sosial tidak boleh selalu dinilai negatif. Santri pasti bisa memanfaatkan dengan baik. Contohnya saja banyak santri di sini yang jualan (berwirausaha) lewat media sosial. Ada pula yang menulis, berkarya dan disebarkan ke media sosial. Hal itu menjadi jalan kebaikan juga. Jadi tidak bisa kita menyimpulkan pesantren dan internet itu dua hal yang harus dipisahkan. Kita bisa menerima kehadiran perkembangan teknologi, asal kita siap untuk memanfaatkan dengan baik.” Ungkap Sakinatul Fikriyah, ustadzah di Pesantren Putri Walisongo.

Beberapa pernyataan santri tentunya menjadi bagian penting sebagai referensi pesantren dalam menerima kehadiran internet atau media digital. Era ini, usia santri tentu tidak jauh beda dengan remaja yang hidup di luar pesantren yang begitu akrab dengan media dgital. Sehingga wajar apabila santri di beberapa pesantren begitu merasa beruntung dengan diperbolehkannya mengakses internet dan prodak media digtal lainnya seperti media sosial meski dalam waktu yang ditentukan pihak pesantren.

100

Selain berguna dalam mengekspresikan diri, menyebar konten positif, dan mencari hiburan, media sosial seperti instagram juga menjadi wadah ajang kreativitas santri. Santri yang notabennya adalah masyarakat pesantren yang salafi dan bisa disebut dengan manusia yang selalu akrab dengan kegiatan ibadah, mengaji, dan zikir, mulai dan bisa memanfaatkan keberadaan media sosial instagram sebagai media dakwah. Seperti yang terjadi di Pondok Pesantren Walisongo Jombang, dakwah ini sudah menjadi kebiasaan santri, baik dalam beberapa acara pesantren, atau di masyarakat luar. Dakwah yang dilakukan tidak monoton, santri bisa menyiarkan melalui penampilan pentas seni, unjuk karya tulisan ilmiah atau fiksi, serta kegiatan-kegiatan positif lain dan memberikan pesan kepada masyarakat luas.

Kegiatan santri yang berkaitan dengan dakwah yang merupakan latihan public speaking ini, bermula dari program kerja pengurus pesantren yang memiliki program latihan pidato dan bicara di hadapan ratusan santri lainnya. Hal ini tak lepas dari visi misi pesantren untuk menciptakan santri yang berani menyampaikan kebenaran dan menyebarkan kalam Tuhan. Atas kegiatan itu, tentu ada dokumentasi yang kemudian disebarluaskan menjadi media dakwah kepada khalayak ramai di luar pesantren, salah satunya dengan melalui instagram yang dimiliki oleh pesantren.

Ketua Pondok Pesantren Putri Walisongo masa khidmat 2013-2015, Athirah AnNufus Aly, menuturkan bahwa diperbolehkannya santri dalam mengelola media sosial ini adalah melihat semakin majunya perkembangan teknologi, dan semakin banyaknya kreativitas santri yang sejatinya sangat inspiratif dan bernilai positif disebarkan kepada masyarakat. Hal ini mengingat bahwa pesantren adalah lembaga yang dipercaya sebagai tempat yang serba ada. Baik dari ilmu pengetahuan agama hingga ilmu pengetahuan umum, keahlian dan kreativitas lainnya.

“Santri diberitahu aturan-aturan pesantren. Apabila mereka melanggar, mereka akan mendapatkan hukuman. Begitu pun dengan penggunaan media atau alat komunikasi. Jika lewat jam yang telah ditentukan, maka tentu santri harus menerima konsekuensi, seperti didenda atau disita barangnya. Hal ini tentu untuk kebaikan santri. Bagaimana mereka bisa tetap menjalani aktivitas pesantren dan bagaimana mereka mampu menerima kesempatan mengakses teknologi sesuai aturan.” Ungkap Athirah An Nufus.

101

Sejauh ini, Pondok Pesantren Putri Walisongo cukup efektif dalam memanfaatkan media sosial khususnya instagram. Baik dalam penggunaan sebagai media publikasi dan informasi seputar pesantren, eksistensi diri santri dan kreativitas (minat dan bakat) santri, serta media dakwah masa kini yang dinilai lebih efektif dan lebih efisien. Maka atas dasar kemanfaatan tersebut, penggunaan media sosial ini dianggap memberikan efek positif kepada santri dan pesantren.

Selama berlangsungnya kegiatan belajar mengajar dan proses penggunaan media digital dianggap tidak saling mengganggu, tentu pesantren akan terus memberikan pintu terbuka terhadap kehadiran media dgital. Namun tidak menutup kemungkinan, apabila terjadi sesuatu yang dianggap merugikan, maka pihak pesantren kapan saja bisa merubah peraturan sesuai yang dibutuhkan untuk kebaikan bersama. Hal ini tentu menjadi pertimbangan pihak-pihak pesantren, sehingga sejauh ini masih ada beberapa bahkan banyak pesantren yang benar-benar menutup diri (tidak menerima) atas kehadiran media digital dan mempertahankan cara tradisional mereka dalam segala hal.