• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGGUNAAN MEDIA DARING DAN PEMBUKAAN DIRI REMAJA DI LINGKUNGAN KELUARGA

TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kerangka Konseptual

2.1.1. Perkembangan Teknologi dan Media Berbasis Digital

Perkembangan teknologi di zaman ini terjadi dalam waktu yang relatif singkat. Masyarakat banyak dipertontonkan dengan penemuan-penemuan teknologi yang semakin hari semakin canggih. Kecanggihan teknologi berdampak sangat luas dan dirasakan dampaknya oleh hampir seluruh umat manusia. Penemuan-penemuan teknologi canggih ini pula yang paling banyak mempengaruhi komunikasi setiap orang melalui kehadirannya

53

(Liliweri, 1991: 63). Perkembangan ini pula semakin meningkatkan kecepatan serta menciptakan variasi pilihan dalam memudahkan komunikasi oleh setiap orang. Salah satu yang menjadi bukti nyatanya adalah kelahiran media daring (dalam jaringan) di masyarakat.

Media daring atau sering juga disebut media sosial adalah sebuah media yang digunakan untuk mengirim atau menerima pesan melalui aplikasi digital yang dilakukan dengan jaringan internet. Beberapa aplikasi seperti WhatsApp, Instagram, Facebook dan masih banyak lagi, sangat membantu orang-orang untuk dapat terhubung antara satu dengan yang lainnya, walaupun terpisahkan oleh jarak. Selain itu, dengan kehadiran media daring, orang-orang dapat mengakses informasi seperti berita, hiburan, musik, dan sebagainya, yang semakin memudahkan orang banyak serta banyak memberi keuntungan kepada masyarakat secara luas.

Turkle (Dines and Humez, 2003: 717 : dalam Nurbani, 2019) menyatakan bahwa di dalam internet orang dapat membentuk ulang identitas kepribadian mereka dalam bentuk yang bermacam-macam, sehingga menghasilkan identitas yang berbeda dengan yang ada di dunia nyata. Perkembangan teknologi komunikasi yang semakin pesat perlahan telah mengisolasi manusia dalam kesendirian dan komunikasi antar pribadi. Teknologi tersebut juga ikut mengancam suatu budaya yang telah lama dijalankan umat manusia, yaitu komunikasi tatap muka (Liliweri, 1991: 66). Namun demikian, kemajuan yang ada tidak sampai menghancurkan budaya tersebut, jika para pengguna dapat memanfaatkan secara bijak teknologi yang ada.

2.1.2. Masa Remaja

Dalam perkembangan kepribadian, remaja sebenarnya tidak memiliki tempat yang jelas. Ia tidak termasuk golongan anak, tetapi juga bukan termasuk golongan dewasa. Remaja juga masih belum mampu untuk menguasai fungsi- fungsi fisik maupun psikisnya dan masih harus menemukan tempat dalam masyarakat (Mönks et al., 2014:258). Masa remaja juga menunjukkan dengan jelas sifat-sifat masa transisi atau peralihan.

Havighurst (Mönks et al., 2014:258) merangkum data-data penelitian lintas budaya dan mengemukakan sejumlah tugas-tugas perkembangan oleh remaja berusia 12-18 tahun, beberapa diantaranya adalah:

54

b. Mendapatkan pandangan hidup sendiri

c. Merealisasikan suatu identitas diri dan dapat berpartisipasi dalam budayanya sendiri

Tugas-tugas itu sendiri lahir dari masa peralihan remaja dan memberikan kesan krisis identitas pada remaja, sehingga mereka mancoba mencari jati diri mereka yang sebenarnya di tengah labilitas yang meningkat.

Perkembangan pada diri remaja juga berakibat tehadap perubahan dalam perkambangan sosial remaja. Dalam perkembangan sosial remaja, dapat dilihat adanya dua macam gerak, yaitu berusaha memisahkan diri dari orang tua dan fokus mempererat relasi dengan teman sebaya (Mönks et al., 2014:276). Gerakan ini merupakan suatu reaksi terhadap status interim remaja. Secara ekonomik, mereka memang masih bergantung pada orang tua, namun dalam keadaan ini mereka berupaya untuk mencari rekan sebaya, karena saling memahami bahwa mereka memiliki nasib yang sama. Dalam status interim yang sama, mereka bersama mencapai kebebasan dan mengisinya bersama. Untuk itu mereka mengorbankan sebagian besar hubungan intim dengan orang tua, yang diakibatkan proses pencarian jati diri tadi, yang tak jarang mengakibatkan pertentangan terhadap orang tua ataupun orang dewasa.

2.1.3. Pembukaan Diri (Self-Disclosure) dalam Hubungan Keluarga

Hubungan dapat didefinisikan sebagai sejumlah harapan bagi perilaku antara individu dengan individu lainnya yang didasarkan pada rangkaian pola interaksi yang saling kenal satu sama lain. Hubungan yang dikatakan baik apabila interaksi antar individu sifatnya memuaskan dan sehat bagi para perlaku yang terlibat, yang tidak dapat tumbuh dan terpelihara sacara otomatis, sehingga memerlukan usaha untuk menumbuhkannya (Budyatna & Ganiem, 2014:36). Salah satu kompetensi yang penting untuk menumbuhkan sebuah hubungan adalah pembukaan diri (self-disclosure).

Pembukaan diri merupakan momen dimana kedua belah pihak individu saling mengungkapkan perasaan pribadinya satu sama lain. Hubungan yang akrab tidak akan dapat terjalin apabila masing-masing individu hanya masalah-masalah dangkal sifatnya dan tidak mendalam. Pembukaan diri juga merupakan proses memberikan informasi pribadi secara sengaja dan sukarela kepada seorang individu dengan tingkat keakraban yang tinggi, yang informasinya diyakini jujur dan akurat serta tidak dapat diketahui orang lain dengan cara lain.

55

Sebagaimana orang berinteraksi dalam hubungan, mereka akan terlibat pada tingkat tertentu terhadap pengungkapan satu sama lain serta memberikan umpan balik terhadap masing- masing individu. Hubungan antarpribadi yang sehat ditandai dengan keseimbangan pembukaan diri atau self-disclosure yang tepat dengan saling memberikan data biografis, gagasan-gagasan pribadi dan perasaan yang tidak diketahui bagi orang lain, serta memberikan umpan balik berupa verbal dan respons-respons fisik serta pesan-pesan mereka di dalam suatu hubungan, sehingga kedua individu tersebut saling berpartisipasi. Keakraban yang terjalin menghendaki secara relatif pembukaan diri tingkat tinggi, melalui berbagai perasaan dan pengungkapan diri yang sangat pribadi, yang salah satunya dapat ditemukan dalam hubungan keluarga.

Sebuah keluarga adalah sebuah kelompok manusia yang memiliki hubungan akrab yang mengembangkan rasa berumah tangga dan identitas kelompok, lengkap dengan ikatan yang kuat mengenai kesetiaan dan emosi melalui proses pengalaman sejarah serta menatap masa yang akan datang (Galvin & Brommel, 1996 dalam Budyatna & Ganiem, 2014:169). Verderber (Budyatna &

Ganiem, 2014:169) mencatat setidaknya terdapat tiga tujuan utama dalam komunikasi keluarga terhadap para anggota keluarga individual, diantaranya:

a. Komunikasi keluarga berkontribusi bagi pembentukan konsep diri, merupakan satu tanggung jawab utama yang dimiliki para anggota keluarga terhadap satu sama lain melalui “berbicara”, yang meliputi unsur-unsur komunikasi verbal dan nonverbal, dengan cara-cara yang akan berkontribusi bagi pengembangan konsep diri yang kuat terhadap semua anggota keluarga, terutama anak-anak muda. Konsep diri tersebut dibentuk, dipelihara, diperkuat dan diubah melalui komunikasi dari para anggota keluarga. Konsep diri tersebut ditingkatkan melalui pernyataan pujian, dukungan dan rasa mengasihi yang terjalin pada masing-masing anggota keluarga. b. Komunikasi keluarga memberikan pengakuan dan dukungan yang diperlukan,

merupakan tanggung jawab kedua dari para anggota keluarga melalui pengakuan dan dukungan akan satu sama lain, yang dapat membantu para anggota keluarga merasa diri mereka berarti dan membantu mereka mengatasi masa-masa sulit yang mungkin mereka hadapi. Tanggung jawab yang penting ini sering diabaikan karena kesibukan hidup sehari-hari. Hal ini perlu dilakukan sedemikian rupa untuk dapat

56

memberi kesan bahwa rumah adalah surga yang aman dan tempat yang tepat untuk mencurahkan setiap masalah yang dialami oleh masing-masing anggota keluarga. Apabila pengakuan dan dukungan ini tidak dijalankan dengan baik, maka masing-masing individu akan mencari hal tersebut di luar keluarga.

c. Komunikasi keluarga menciptakan model-model, merupakan tanggung jawab ketiga dari setiap anggota keluarga untuk dapat bertindak sebagai model atau contoh mengenai komuniksi yang baik, khususnya terhadap para anggota keluarga yang lebih muda. Hal ini merupakan tanggung jawab orang tua atau orang dewasa untuk menyosialisasikan anak-anak bagaimana berperilaku yang baik dan mengelola konflik dalam kehidupan mereka, kemudian memberikan praktik nyata dan bukan hanya perkataan belaka. Di sisi lain, orang tua juga dapat berkolaborasi dalam memberikan contoh melalui diskusi, mengingatkan, serta memberikan waktu untuk mereka mengungkapkan perasaan atau gagasan.

Kualitas hubungan yang dibangun oleh orang tua dan keluarga memegang peranan yang sangat penting dan sangat menentukan tindak tanduk remaja. Pengisian waktu luang dan pola komunikasi yang baik, dengan cara yang sesuai dengan umur remaja merupakan tantangan yang masih menjadi masalah dalam proses penyesuaiannya dalam membimbing remaja. Mengenali dan menyesuaikan terhadap perubahan tampaknya akan sulit terutama kepada remaja yang berjuang untuk mendapatkan kebebasan dan pada saat yang sama orang tua dan orang dewasa dalam keluarga juga mungkin mengalami perubahan dikaitkan dengan peralihan yang moderat.

2.2. Hipotesis Penelitian

Penelitian ini akan mengkaji bagaimana penggunaan media daring di kalangan remaja, lalu melihat pembukaan diri remaja di lingkungan keluarga, dengan menggunakan Variabel Penggunaan Media Daring (X) dan Variabel Pembukaan Diri dalam Keluarga (Y), yang kemudian menghubungkan kedua variabel tersebut, yakni penggunaan media daring di kalangan remaja dengan pembukaan diri di lingkungan keluarga.

Berdasarkan uraian di atas, maka dirumuskan hipotesis alternative (Ha) bahwa terdapat hubungan yang negatif dan signifikan antara penggunaan media daring di kalangan remaja dengan pembukaan diri remaja di lingkungan keluarga. Sehingga, hasil hipotesis sementara dari penelitian ini adalah semakin tinggi intensitas penggunaan media daring di kalangan remaja maka akan mengurangi hubungan pembukaan diri di lingkungan keluarga.

57

Hipotesis alternatif (Ha) diterima dan hipotesis nol (Ho) ditolak jika nilai signifikansi < 0,05, yang berarti terdapat hubungan antara variabel X dan Y. Sebaliknya, hipotesis alternatif (Ha) ditolak dan hipotesis nol (Ho) diterima jika nilai signifikansi > 0,05, yang berarti tidak terdapat hubungan antara variabel X dan Y.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN