BAB II KAJIAN PUSTAKA
2.4 Media Massa dan Konstruksi Realitas Politik
Tentang proses konstruksi realitas, prinsipnya setiap upaya menceritakan sebuah peristiwa, keadaan, atau benda tak terkecuali mengenai hal-hal yang berkaitan dengan politik adalah usaha mengkonstruksikan realitas. Laporan tentang kegiatan orang yang berkumpul mengenai hal-hal yang berkaitan dengan politik adalah usaha mengkonstruksikan realitas.
Karena sifat dan faktanya bahwa pekerjaan media massa adalah menceritakan peristiwa-peristiwa, maka kesibukan utama media massa adalah mengkonstruksikan berbagai realitas yang akan disiarkan. Media menyususn realitas dari berbagai peristiwa yang terjadi hingga menjadi cerita atau wacana yang bermakna. Pembuatan berita di media pada dasarnya adalah penyusunan realitas – realitas hingga membentuk sebuah cerita atau wacana yang bermakna.
Dengan demikian seluruh isi media tiada lain adalah realitas yang telah dikonstruksikan dalam bentuk wacana yang bermakna. (Suwardi dalam Hamad, 2004: 11-12)
Dalam proses konstruksi realitas, bahasa adalah unsur utama, Ia merupakan instrumen pokok untuk menceritakan realitas. Bahasa adalah alat konseptualisasi dan alat narasi. Begitu pentingnya bahasa, maka tak ada berita, cerita, atau ilmu pengetahuan tanpa bahasa. Selanjutnya, penggunaan Bahasa
(simbol) tertentu menentukan format narasi (dan makna) tertentu. Sedangkan jika dicermati secara teliti, seluruh isi media baik media cetak ataupun elektronik menggunakan bahasa, baik Bahasa verbal (kata-kata tertulis atau lisan) maupun non verbal (gambar, foto, grafik, gerak-gerik, angka dan tabel).
Pada umumnya terdapat tiga tindakan yang dilakukan oleh pekerja media massa, khususnya oleh para komunikator massa, tatkala melakukan konstruksi realitas politik yang berujung pada pembentukan makna dan citra mengenai sebuah kekuatan politik (Hamad dalam Sobur, 2004: 166) Pertama, dalam hal pilihan kata (simbol) politik. Sekalipun media massa hanya bersifat melaporkan, namun telah menjadi sifat dari pembicaraan politik untuk selalu memperhitungkan simbol politik. Dalam komunikasi politik, para komunikator bertukar citra politik.
Dalam komunikasi politik komunikator bertukar citra melalui lambang atau simbol.
Kedua, dalam melakukan pembingkaian atau framing peristiwa politik.
Minimal oleh sebab adanya keterbatasan-keterbatasan kolom dan halaman pada media cetak atau waktu pada media elektronik, jarang ada media yang membuat berita sebuah kejadian peristiwa utuh, mulai dari menit pertama hingga ke menit paling akhir. Atas nama kaidah jurnalistik, peristiwa yang panjang, lebar, rumit, dicoba disederhanakan melalui pembingkaian framing fakta – fakta dalam bentuk beri` ta sehingga layak terbit atau tayang. Ketiga menyediakan ruang atau waktu untuk sebuah peristiwa politik. Justru hanya jika media massa memberi tempat pada sebuah peristiwa politik, maka peristiwa akan memperoleh perhatian dari masyarakat. Semakin besar tempat yang diberikan semakin besar pula perhatian yang diberikan oleh khalayak.
Dewasa ini, di satu sisi, politik berada di era mediasi (politics in the age of mediation), di sisi lain, peristiwa politik, tingkah laku dan pernyataan para aktor politik, sekalipun bersifat rutin, selalu mempunyai nilai berita sehingga banyak diliput oleh media massa. Dalam mengonstruksi realitas, media memanfaatkan tiga komponen: Pertama, pemakaian simbol-simbol politik (language of politic), kedua, strategi pengemasan pesan (framing strategies) dan ketiga, kesediaan media memberi tempat (agenda setting function).
Padahal sebuah media juga bukan mustahil memiliki ideologi, sikap politik, dan kebijakan redaksional tertentu mengenai suatu kekuatan politik, dimana faktor-faktor ini berpengaruh terhadap penggunaan simbol politik, pengemasan pesan, dan pemberian tempat mengenai keuatan politik tersebut.
Alhasil, suatu peristiwa politik bisa menimbulkan opini publik yang berbeda-beda, tergantung media yang memberitakannya (Hamad, 2004, No 1 Vol 8) 2.4.2 Penyajian Berita Politik: Media dan Pesan
Setiap pembahasan mengenai bagaimana pers menyajikan berita politik harus dimulai dari kesadaran bahwa berita yang relevan dengan politik meliputi bagian yang relatif kecil dari makanan media sehari-hari. Namun, tanpa ada hubungannya dengan jumlah berita politik yang disajikan, puncak proses yang bertalian dengan pejabat dan jurnalis melalui proses pengumpulan berita adalah kisah berita politik. Penyajiannya kepada pembaca, pendengar, atau penonton merupakan hasil dari urutan pilihan kebijakan yang dicapai dalam organisasi berita mengenai ihwal mana yang harus disajikan, berapa banyak ruang dan atau waktu yang disediakan bagi masing, dimana menempatkan masing-masing (halaman pada surat kabar, periode waktu untuk radio dan televisi), reporter mana yang namanya akan dicantumkan pada cerita, dan hal-hal penting lainnya.
Penyajian berita bervariasi di antara berbagai tipe publikasi yang menantang dari media cetak sebagai sumber utama media politik bagi kebanyakan orang Amerika adalah televisi. Tentu saja berita televisi memiliki sifat khusus, yang pasti televisi membuat paket informasi dalam format yang diringkaskan, disarikan, dan menghibur. Selain itu, televisi memenuhi kebutuhan banyak orang akan keakraban parasosial (Nimmo, 2005: 236).
Namun, pada tahun-tahun terakhir para kritikus berita televisi meragukan analogi televisi menyajikan “cermin realitas”. Jika televisi memegang cermin kepada dunia, begitu dikemukakan oleh mereka, refleksi yang dihasilkan sangat terdistorsi. Beberapa faktor yang mendasari kritik mereka, pertama, ada ketidakseimbangan geografis dalam jumlah dan jenis cerita untuk bahan berita malam televisi jaringan. Kedua, meskipun penonton televisi merasa lebih dekat
kepada kejadian atau peristiwa jika mereka dapat melihatnya ketimbang hanya membacanya.
Ketiga, jaringan berita televisi lebih banyak menaruh perhatian pada pengolahan berita ketimbang pada pengumpulannya. Terakhir, yang keempat, televisi adalah benda visual dan, karena itu, kelayakan berita suatu peristiwa berasal dari apakah berita itu dapat atau tidak dapat direkam oleh kamera video atau pada film. Ringkasnya, di dunia jurnalistik cetak terdapat konvensi tertentu yang membantu wartawan dalam menentukan apa yang bernilai berita. Dalam jurnalistik elektronik terdapat konvensi yang persis sama dengan yang terdapat dalam jurnalistik cetak-letak geografis pusat berita, pengendalian ihwal yang tak terduga, persyaratan pengolahan berita, tuntutan tehadap isi visual, format dramatis, dan pertimbangan biaya (Nimmo, 2005: 239).
Akhirnya, cermin ajaib itu menyajikan refleksi selektif, ilusi keseketikaan, peristiwa yang dihangatkan dan disajkan kembali, kesan visual, dan perasaan bahwa segala sesuatu yang terjadi di tempat yang tersebar luas itu sesungguhnya bagian-bagian dari satu gambaran yang dikotakkan, dirasionalkan, dan dipolitikkan. Ada kemungkinan bahwa perubahan teknologis akan memodifikasi proses penyajian berita di masa depan. Kenyataanya adalah bahwa orang menggunakan media yang berlainan untuk maksud yang berbeda. Jika hanya diambil satu, tidak ada media berita yang memenuhi hasrat setiap warga negara akan informasi, begitu juga bila semua media berita digabungkan, Namun, setiap media berita memang memainkan peran yang menonjol dan penting dalam mengolah kejadian menjadi peristiwa yang bernilai berita, berita menjadi kisah berita (Nimmo, 2005: 240).