• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS

A. Kajian Pustaka

2. Media Pembelajaran dalam PAK

Kata media berasal dari bahasa Latin dan merupakan bentuk jamak dari kata medium yang secara harafiah memiliki arti perantara atau pengantar. Medòё adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan (Arief S. Sadiman dkk, 2009: 6).

Banyak batasan yang diberikan mengenai pengertian media. Asosiasi Teknologi dan Komunikasi Pendidikan (Association of Education and

Communication Technology/ AECT) di Amerika, memberi batasan tentang pengertian media sebagai segala bentuk dan saluran yang digunakan orang untuk menyalurkan pesan atau informasi. Gagne sebagaimana dilansir oleh Lastiko Runtuwene (2015: 2) menyatakan bahwa media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsangnya untuk belajar. Sementara itu Bringgs yang dilansir oleh Lastiko Runtuwene (2015: 2) berpendapat bahwa media adalah segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsangnya untuk belajar.

Sedangkan Asosiasi Pendidikan Nasional (National Education Association/ NEA) memiliki definisi yang berbeda tentang media. Media adalah segala bentuk-bentuk komunikasi baik tercetak maupun audiovisual serta peralatan-peralatannya. Media hendaknya dapat dimanipulasi, dilihat, didengar dan dibaca. Dari beberapa batasan pengertian di atas dapat disimpulakan bahwa “media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima pesan sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat serta perhatian siswa sedimikan rupa sehingga proses belajar dapat terjadi” (Arief S. Sadiman dkk, 2009: 7).

Media pengajaran dalam pengertian secara luas adalah setiap orang, materi atau peristiwa yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Sedangkan pengertian media pengajaran secara sempit adalah alat-alat elektro-mekanis yang menjadi perantara antara siswa dan materi pelajaran (Winkel, 1991: 187).

Media pembelajaran merupakan sarana yang dapat membantu siswa dalam melaksanakan aktivitas belajar, terlebih bila dijumpai perbedaan, misalnya

22

 

seperti perbedaan: minat, inteligensi, gaya belajar, maupun perbedaan lainnya. Media tidak dapat hanya dipandang sebagai alat bantu saja bagi seorang guru dalam mengajar, tetapi media lebih sebagai alat penyalur pesan (guru atau buku) ke penerima pesan (peserta didik atau pembaca). Dapat disimpulkan bahwa media adalah bagian yang tak terpisahkan dari proses belajar mengajar demi tercapainya tujuan pendidikan pada umumnya dan tujuan pembelajaran pada khususnya (Azhar Arsyad, 2014: 2).

Media merupakan salah satu aspek penting dalam pembelajaran. Demikian pula dalam Pandidikan Agama Katolik sebagai salah satu bentuk katekese sekolah sehingga kegiatan komunikasi penyampaian pesan Allah bagi manusia adalah hal yang penting. Agar pesan-pesan pewartaan dapat diterima oleh guru dan siswa dengan baik, maka diperlukan media yang tepat.

Jika dilihat dari segi PAK dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran Pendidikan Agama Katolik adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan dan menghadirkan Allah dan pesan-pesanNya kepada umat beriman dalam lingkup sekolah, terlebih guru dan siswa, sehingga mereka mampu berinteraksi (berkomunikasi) tentang imannya, dengan demikian diharapkan iman mereka semakin berkembang dan diteguhkan menurut ajaran iman Katolik, dengan tetap memperhatikan penghormatan terhadap agama lain dalam membina kerukunan antar umat beragama dan mewujudkan persatuan nasional (Lastiko Runtuwene, 2015: 3).

b. Fungsi media pembelajaran

Yudhi Munandi (2010: 36-48) dalam bukunya Media Pembelajaran: Sebuah Pendekatan Baru, memfokuskan analisis fungsi media pembelajaran

terhadap dua hal yakni didasarkan pada medianya dan penggunaannya. Pertama, analisis fungsi yang didasarkan pada media terdapat tiga fungsi media pembelajaran yakni (1) media pembelajaran berfungsi sebagai sumber belajar; (2) fungsi sematik; dan (3) fungsi manipulatif. Kedua, analisis fungsi didasarkan pada penggunanya (peserta didik) terdapat dua fungsi yakni (4) fungsi psikologis dan (5) fungsi sosio-kultural.

1) Fungsi media pembelajaran sebagai sumber belajar

Media pembelajaran secara teknis berfungsi sebagai sumber belajar. Dalam kalimat “sumber belajar” memiliki makna keaktifan, yakni sebagai penyalur, penyampai, penghubung dan lain-lain. Sumber belajar dapat dipahami sebagai segala macam sumber yang ada di luar diri seseorang (peserta didik) dan memungkinkan (memudahkan) terjadinya proses belajar (Yudhi Munandi, 2010: 37).

Pada usia sekolah terutama setelah menyelesaikan sekolah dasarnya, peserta didik telah mencapai tingkat kesadaran sosial yang jelas sebagai hasil pengalamannya dengan keluarganya, teman-teman sekolahnya (orang dewasa dan anak-anak), kelompok-kelompok keagamaan, masyarakat dan media sosialisasi lainnya seperti film, acara radio, buku dan majalah. Semua itu adalah sumber bagi anak untuk belajar. Selama perkembanga horizonnya, maka anak akan mampu memasuki dunia sosialnya, bukan hanya melalui orang-orang atau objek-objek yang ada di lingkungannya, melainkan dapat pula melalui saluran buku, film, televisi, dan lain-lain (Yudhi Munandi, 2010: 37-39).

24

 

2) Fungsi sematik

Yakni kemampuan media dalam menambah perbendaharaan kata (simbol verbal) yang makna atau maksudnya benar-benar dipahami oleh peserta didik (tidak verbalistik). Guru yang kreatif akan mampu mendayagunakan media pembelajaran secara tepat maka akan membantu peseta didik untuk memahami hal yang dimaksudkan dengan mudah. Misalnya dengan memberikan penjelasan melalui bahasa dramatisasi, simulasi, cerita (mendongeng), cerita bergambar, dan lain-lain (Yudhi Munandi, 2010: 39-40).

3) Fungsi manipulatif

Berdasarkan karakteristik umum, media memiliki dua kemampuan, yakni mengatasi batas-batas ruang dan waktu dan mengatasi keterbatasan inderawi. Pertama kemampuan media pembelajaran dalam mengatasi batas-batas ruang dan waktu (Yudhi Munandi, 2010: 41-43), yaitu:

a) Kemampuan media menghadirkan objek atau peristiwa yang sulit dihadirkan dalam bentuk aslinya, seperti peristiwa ikan paus melahirkan anak, bencana alam dan lain-lain.

b) Kemampuan media menjadikan objek atau peristiwa yang menyita waktu panjang menjadi singkat, seperti proses metamorfosis, berang-berang membangun bendungan dan sarangnya.

c) Kemampuan media menghadirkan kembali objek atau peristiwa yang telah terjadi (terutama mata pejaran sejarah), seperti peristiwa Nabi Nuh dan kapalnya, Musa membawa bangsa Israel menuju tanah terjanji, Peristiwa hidup, karya, sengasara, wafat dan kebangkitan Kristus. Peristiwa-peristiwa

sejarah tersebut dapat dituangkan dalam film, dramatisasi, dongeng (sandiwara program audio), cerita bergambar (komik) dan lain-lain.

Kedua, kemampuan media pembelajaran dalam mengatasi keterbatasan inderawi manusia, yaitu:

a) Membantu siswa dalam memahami objek yang sulit diamati karena terlalu kecil, seperti molekul, sel, atom dan lain-lain, yakni dengan memanfaatkan film, gambar dan lain-lain.

b) Membantu siswa dalam memahami objek yang bergerak terlalu cepat ataupun terlalu lambat, seperti proses metamorfosis. Hal ini dapat memanfaatkan film ataupun gambar.

c) Membantu siswa dalam memahami objek yang membutuhkan kejelasan suara, seperti belajar bahasa asing, belajar menyanyi dan bermusik, yakni dengan memanfaatkan rekaman video maupun kaset (tape recorder).

d) Membantu siswa dalam memahami objek yang terlalu kompleks misalnya dengan memanfaatkan diagram, peta, grafik dan lain-lain.

4) Fungsi psikologis a) Fungsi atensi

Media pembelajaran dapat meningkatkan perhatian (attention) siswa terhadap materi pembelajaran. Setiap orang memiliki sel saraf penghambat, yakni sel khusus dalam sistem saraf yang berfungsi membuang sejumlah sensasi yang datang. Dengan adanya sel penghambat ini para peserta didik dapat memfokuskan perhatiannya pada rangsangan yang dianggapnya menarik dan membuang rangsangan-rangsangan lain. Dengan demikian, media pembelajaran yang tepat

26

 

guna adalah media pembelajaran yang mampu menarik dan memfokuskan perhatian siswa (Yudhi Munandi, 2010: 43-44).

b) Fungsi afektif

Fungsi afektif, yakni menggugah perasaan, emosi dan tingkat penerimaan atau penolakan siswa terhadap sesuatu. Setiap orang memiliki gejala batin jiwa berisikan kualitas karakter dan kesadaran. Hal itu berwujud pencurahan perasaan minat, sikap penghargaan, nilai-nilai, dan perangkat emosi atau kecenderungan- kecenderungan batin (Yudhi Munandi, 2010: 44).

Media pembelajaran yang tepat guna dapat meningkatkan sambutan atau penerimaan siswa terhadap stimulus tertentu. Sambutan atau penerimaan tersebut berupa kemauan. Dengan adanya media pembelajaran, terlihat pada sisi siswa kesediaan untuk menerima beban pelajaran, dan untuk itu perhatiannya akan tertuju kepada pelajaran yang diikutinya.

Hal lain dari penerimaan itu adalah munculnya tanggapan yakni berupa partisipasi siswa dalam keseluruhan proses pembelajaran secara suka rela, ini merupakan reaksi siswa terhadap rangsangan yang diterimanya. Apabila hal tersebut dilakukan secara terus menerus, maka tidak menutup kemungkinan dalam jiwanya melakukan penilaian dan penghargaan terhadap nilai-nilai atau norma- norma yang diperolehnya, dan pada tingkat tertentu nilai-nilai atau norma-norma tersebut akan diterima dan diyakininya. Kemudian terjadilah pengorganisasian nilai-nilai, norma-norma, kepercayaan, ide dan sikap menjadi sistem batin yang konsisten yang disebut sebagai karakterisasi. Pada tingkat ini siswa dapat memperkuat falsafah hidupnya dan mempunyai nilai-nilai yang membimbing hidupnya.

c) Fungsi kognitif

Siswa yang belajar melalui media pembelajaran akan memperoleh dan menggunakan bentuk-bentuk representasi yang mewakili objek-objek yang dihadapi, baik objek itu berupa orang, benda, atau kejadian/peristiwa. Objek-objek itu direpresentasikan atau dihadirkan dalam diri seseorang melalui tanggapan, gagasan, lambang, yang dalam psikologi semuanya merupakan sesuatu yang bersifat mental (Yudhi Munandi, 2010: 45-46).

Media pembelajaran telah ikut andil dalam mengembangkan kemampuan kognitif siswa. Semakin banyak siswa dihadapkan pada objek-objek maka semakin banyak pula pikiran dan gagasan yang dimiliki siswa, atau semakin kaya dan luas alam pikiran kognitifnya.

d) Fungsi imajinatif

Media pembelajaran dapat meningkatkan dan mengembangkan imajinasi siswa. Imajinasi adalah proses menciptakan objek atau peristiwa tanpa pemanfaatan data sensoris. Imajinasi ini mencakup penimbulan atau kreasi objek- objek baru sebagai rencana bagi masa mendatang atau dapat juga mengambil bentuk fantasi (khayalan) yang didominasi kuat sekali oleh pikiran-pikiran austik (Yudhi Munandi, 2010: 46-47).

e) Fungsi motivasi

Motivasi merupakan seni mendorong siswa agar siswa terdorong untuk mrlakukan kegiatan pembelajaran sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. Guru dapat memotivasi siswanya dengan cara membangkitkan minat belajarnya dan dengan cara memberikan serta menimbulkan harapan. Harapan akan

28

 

tercapainya suatu hasrat atau tujuan dapat menjadi motivasi yang ditimbulkan guru ke dalam diri siswa, yakni melalui pemanfaatan media pembelajaran yang tepat guna (Yudhi Munandi, 2010: 47-48).

5) Fungsi sosio-kultural

Fungsi media dilihat dari sosio-kultural, yakni mengatasi hambatan sosio-kultural antar peserta komunikasi pembelajaran. Bukan hal yang mudah bagi guru untuk memahami para siswa, apalagi dengan jumlah yang banyak. Mereka masing-masing memiliki karakteristik yang berbeda apalagi jika dihubungkan dengan adat, keyakinan, lingkungan dan pengalaman. Sedangkan di pihak lain, kurikulum dan materi ajar ditentukan dan diberlakukan secara sama untuk setiap siswa (Yudhi Munandi, 2010: 48).

Tentunya guru akan mengalami kesulitan dalam mengahadapi hal itu, terlebih ia harus mengatasinya sendirian. Masalah ini dapat diatasi dengan media pembelajaran, karena media pembelajaran memiliki kemampuan dalam memberikan rangsangan yang sama, mempersamakan pengalaman dan menimbulkan presepsi yang sama.

Jika kita melihat uraian diatas maka jelas bahwa media memiliki peran yang penting dan strategis dalam sebuah proses pembelajaran, oleh karena itu penggunaan media dalam proses belajar-mengajar di kelas tidak boleh diabaikan oleh guru.

c. Karakteristik Jenis Media Pembelajaran

Media adalah perangkat lunak (software) yang merupakan pesan, materi atau informasi pendidikan yang biasanya disajikan dengan menggunakan

peralatan atau perangkat keras (hardware) (Arief S. Sadiman dkk, 2009:19). Perangkat keras dapat berfungsi sebagai media pembelajaran sejauh berperan sebagai sarana pengantar (medium) pesan/materi pelajaran.

Berdasarkan perkembangan teknologi, Azhar Arsyad yang dilansir oleh Sukiman (2012: 46) mengklasifikasikan media atas empat kelompok, yaitu: 1) media hasil teknologi cetak, 2) media hasil teknologi audio-visual, 3) media hasil teknologi berbasis komputer, dan 4) media hasil gabungan teknologi cetak dan komputer. Sementara Seels dan Glasgow membagi media ke dalam dua kelompok besar, yaitu: media tradisional dan media teknologi mutakhir. Media tradisional berupa media visual diam tak diproyeksikan dan yang diproyeksikan, audio, penyajian multimedia, visual dinamis yang diproyeksikan, media cetak, permainan, dan media realita. Sedangkan media teknologi mutakhir berupa media berbasis telekomunikasi (misalnya: teleconference) dan media bebasis mikroprosesor (misalnya: permainan komputer dan hypermedia). Belum terdapat taksonomi media yang berlaku secara umum dan mencakup segala aspeknya, terutama untuk suatu sistem instruksional (pembelajaran). Namun, pengelompokan media yang ada saat ini dapat membantu untuk memperjelas perbedaan tujuan penggunaan, fungsi dan kemampuannya, sehingga bisa dijadikan pedoman dalam memilih media yang sesuai untuk suatu pembelajaran tertentu.

Media pembelajaran sebagai salah satu komponen dalam suatu proses pembelajaran perlu dipilih dengan tepat sehingga dapat berfungsi secara efektif. Dalam pemilihan media guru perlu mempertimbangkan: 1) ia merasa sudah akrab dengan media tersebut, 2) ia merasa bahwa media yang dipilih dapat

30

 

menggambarkan dengan lebih baik dari pada dirinya sendiri, 3) media yang dipilih dapat menarik minat dan perhatian peserta didik, serta menuntunnya pada penyajian yang lebih terstruktur dan terorganisasi (Sukiman, 2012: 47).

Menurut Azhar Arsyad yang dilansir oleh Sukiman (2012: 47-50), dari segi teori belajar, berbagai kondisi dan prinsip-prinsip psikologis yang perlu mendapat pertimbangan dalam pemilihan dan penggunaan media adalah motivasi, perbedaan individual, tujuan pembelajaran, organisasi isi, persiapan sebelum mengajar, emosi, partisipasi, umpan balik, penguatan (reinforcement), latihan dan pengulangan dan penerapan.

1) Motivasi

Dalam diri peserta didik harus terdapat kebutuhan, minat, atau keinginan untuk belajar sebelum meminta perhatiannya untuk mengerjakan tugas dan latihan. Pengalaman belajar yang akan dialami oleh peserta didik harus relevan dan bermakna baginya. Maka, perlu untuk melahirkan minat itu dengan perlakuan yang memotivasi dari informasi yang terkandung dalam media pembelajaran itu (Sukiman, 2012: 47).

2) Perbedaan individual

Dalam proses belajar, peserta didik memiliki cara yang beragam dan tingkat kecepatan yang beragam pula. Faktor-faktor seperti kemampuan intelegensia, tingkat pendidikan, kepribadian, dan gaya belajar mempengaruhi kemampuan dan kesiapan peserta didik untuk belajar. Tingkat kecepatan penyajian informasi melalui media harus dipertimbangkan berdasarkan kepada tingkat pemahaman peserta didik dalam proses belajar (Sukiman, 2012: 47-48).

3) Tujuan pembelajaran

Kesempatan untuk berhasil dalam proses pembelajaran semakin besar apabila peserta didik diberi tahu apa yang diharapkan agar mereka pelajari melalui media pembelajaran tersebut. Di samping itu, pernyataan mengenai tujuan belajar yang ingin dicapai dapat menolong perancang dan penulis materi pelajaran. Tujuan ini akan menentukan bagian isi yang mana, yang harus mendapatkan perhatian pokok dalam media pembelajaran (Sukiman, 2012: 48).

4) Organisasi isi

Pembelajaran akan lebih mudah, jika isi dan prosedur atau keterampilan fisik yang akan dipelajari diatur dan diorganisasikan ke dalam urut-urutan yang bermakna. Peserta didik akan memahami dan mengingat lebih lama materi pelajaran yang secara logis disusun dan diurutkan secara teratur. Tingkatan materi yang akan disajikan ditetapkan berdasarkan kompleksitas dan tingkat kesulitan isi materi. Dengan cara seperti ini dalam pengembangan dan penggunaan media, peserta didik dapat dibantu untuk secara lebih baik mensintesis dan memadukan pengetahuan yang akan dipelajari (Sukiman, 2012: 48).

5) Persiapan sebelum mengajar

Peserta didik sebaiknya telah mengausai secara baik pelajaran dasar dan telah memiliki pengalaman yang diperlukan secara memadai yang mungkin merupakan prasyarat untuk penggunaan media dengan sukses. Dengan kata lain, ketika merancang materi pelajaran, perhatian harus ditujukan kepada sifat dan tingkat persiapan peserta didik (Sukiman, 2012: 48).

32

 

6) Emosi

Pembelajaran melibatkan emosi, perasaan pribadi serta kecakapan amat berpengaruh dan bertahan. Media pembelajaran adalah cara yang sangat baik untuk menghasilkan respon emosional seperti takut, cemas, empati, cinta kasih, dan kesenangan. Oleh karena itu, perhatian khusus harus ditujukan kepada elemen-elemen rancangan media jika hasil yang diinginkan berkaitan dengan pengetahuan dan sikap (Sukiman, 2012: 48-49).

7) Partisipasi

Agar pembelajaran dapat berlangsung dengan baik, seorang peserta didik harus menginternalisasi informasi. Oleh sebab itu, dalam belajar peserta didik memerlukan kegiatan yang membuat mereka dapat berpartisipasi aktif. Partisipasi berarti kegiatan mental atau fisik yang terjadi di sela-sela penyajian materi pelajaran. Melalui partisipasi kesempatan terbuka lebih besar bagi peserta didik untuk memahami dan mengingat materi pembelajaran (Sukiman, 2012: 49).

8) Umpan balik

Hasil belajar dapat meningkat apabila peserta didik diberi informasi secara berkala tentang kemajuan belajarnya. Pengetahuan tentang hasil belajar, pekerjaan yang baik, atau kebutuhan untuk perbaikan pada sisi-sisi tertentu akan memberikan sumbangan terhadap motivasi belajar yang berkelanjutan (Sukiman, 2012: 49).

9) Penguatan (reinforcement)

Apabila peserta didik berhasil belajar, ia didorong untuk terus belajar. Pembelajaran yang didorong oleh keberhasilan amat bermanfaat, dapat membangun kepercayaan diri, dan secara positif mempengaruhi perilaku di masa- masa yang akan datang (Sukiman, 2012: 49).

10) Latihan dan pengulangan

Sesuatu hal baru sangat jarang dapat dipelajari secara efektif hanya dengan sekali mencoba. Agar suatu pengetahuan atau keterampilan dapat menjadi bagian kompetensi atau kecakapan intelektual seseorang, haruslah pengetahuan/ keterampilan itu sering diulangi dan dilatih dalam berbagai konteks. Dengan demikian, ia dapat tinggal dalam ingatan jangka panjang (Sukiman, 2012: 49).

11) Penerapan

Hasil belajar yang diinginkan adalah meningkatkan kemampuan seseorang untuk menerapkan atau mentransfer hasil belajar pada masalah atau situasi baru. Jika peserta didik mampu melakukan hal ini, maka pemahamannya dapat dikatakan telah sempurna. Tanpa dapat melakukan hal ini, maka pengetahuan sempurna belum dapat dikatakan dikuasai. Peserta didik harus dibantu untuk mengenali atau menemukan generalisasinya (prinsip, konsep dan kaidah) yang berkaitan dengan tugas. Kemudian peserta didik diberi kesempatan untuk bernalar dan memutuskan dengan menerapkan generalisasi atau prosedur terhadap berbagai masalah maupun tugas baru. (Sukiman, 2012: 49-50).

34

 

d. Dasar pertimbangan pemilihan media pembelajaran dalam PAK

Berikut ini adalah beberapa dasar pertimbangan pentingnya penggunaan media pembelajaran dalam Pendidikan Agama Katolik menurut Jansen yang dilansir oleh Lastiko Runtuwene (2015: 9-10).

1) Ditinjau dari segi kateketis

Dalam pewataan, sarana dan keperagaan sangat penting dalam mencapai tujuan. Hal ini sangat sesuai dengan yang dilakukan oleh Yesus. Misalnya Yesus dalam pewartaan-Nya menggunakan perumpamaan-perumpamaan dan simbol- simbol tertentu dalam pewartaan. Bahkan diri dan pribadi-Nya sendiri menjadi media pewartaan (Lastiko Runtuwene, 2015: 9).

2) Ditinjau dari segi psikologis

Banyak ahli berpendapat bahwa 75% dari pengetahuan manusia masuk dalam otaknya melalui indra pengelihatan. Gambaran mental yang tepat di dalam otak peserta didik akan lebih benar (sesuai kebenarannya) jika dipandu atau dibantu dengan media pembelajaran (Lastiko Runtuwene, 2015: 9-10).

3) Ditinjau dari segi didaktis

Dengan media pembelajaran dapat memudahkan peserta didik dalam menerima dan memahami suatu materi yang disajikan sehingga tujuan yang diharapkan dalam pelajaran dapat tercapai. Dengan media pembelajaran memudahkan terjadinya korelasi, komunikasi antara peserta didik dengan guru (Lastiko Runtuwene, 2015: 10).

4) Ditinjau dari segi sosiologis

Manusia pada hakikatnya tidak lepas dari masyarakat dan lingkungannya. Dengan komunikasi yang terjadi dapat membawa manusia ke relasi yang lebih tinggi dengan penciptanya. Misalnya menggunakan alam sebagai media akan menghantar siswa untuk menyadari dan memahami dirinya sebagai ciptaan Allah (Lastiko Runtuwene, 2015: 10).

Dalam penggunaan media (khususnya media komunikasi) untuk pewartaan iman (termasuk dalam PAK) instruksi Pastoral Aetatis Novae (oleh dewan kepausan untuk komunikasi sosial pada tanggal 18 Maret 1992) menyatakan bahwa segala bentuk media dipergunakan untuk: melayani perkembangan pribadi manusia, melayani dialog dengan dunia, mengabdi jemaat manusia dan kemajuan, persatuan Gerejani dan melayani suatu evangelisasi baru.

3. Media Film dalam Pembelajaran PAK

Dokumen terkait