BAB II. KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS
A. Kajian Pustaka
4. Minat Belajar Siswa Kelas VIII dalam Pembelajaran
a. Minat
Secara sederhana, minat (interest) berarti kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu (Muhibbin Syah, 1997: 136). Minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan. Kegiatan yang diamati seseorang diperhatikan terus menerus yang disertai dengan rasa senang. Jadi berbeda dengan perhatian, karena perhatian sifatnya hanya sementara (tidak dalam waktu yang lama) dan belum diikuti dengan perasaan senang, dan dari situ diperoleh keputusan. Slameto (2010: 180) berpendapat sebagai berikut.
Minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa keterikatan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang meminta/dilakukan dengan senang hati. Minat pada dasarnya adalah penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu di luar diri sendiri. Semakin kuat atau dekat hubungan tersebut, semakin besar minat.
Suatu minat dapat diekspresikan melalui suatu pernyataan yang menunjukkan bahwa siswa lebih menyukai suatu hal dari pada hal lainnya, dapat pula ditunjukkan melalui partisipasi dalam suatu aktivitas. Siswa yang memiliki minat terhadap suatu subyek tertentu cenderung memberikan perhatian lebih terhadap subyek tersebut.
Minat tidak dibawa sejak lahir, melainkan diperoleh kemudian melalui pengalaman-pengalaman hidup selanjutnya. Minat terhadap sesuatu dipelajari dan mempengaruhi belajar selanjutnya serta mempengaruhi penerimaan minat-minat baru yang muncul kemudian. Jadi minat terhadap sesuatu merupakan hasil belajar dan menyokong proses belajar selanjutnya. Walaupun minat terhadap sesuatu hal tidak merupakan hal yang hakiki untuk dapat mempelajari hal tersebut, asumsi umum menyatakan bahwa minat akan membantu seseorang mempelajarinya. Slameto (2010: 18) berpendapat bahwa.
Mengembangkan minat terhadap sesuatu pada dasarnya adalah membantu siswa melihat bagaimana hubungan antara materi yang diharapkan untuk dipelajarinya dengan dirinya sendiri sebagai individu. Proses ini berarti menunjukkan pada siswa bagaimana pengetahuan atau kecakapan tertentu mempengaruhi dirinya, melayani tujuan-tujuannya, memuaskan kebutuhan-kebutuhannya. Bila siswa menyadari bahwa belajar merupakan suatu alat untuk mencapai beberapa tujuan yang dianggapnya penting, dan bila siswa melihat bahwa hasil dari pengalaman belajarnya akan membawa kemajuan pada dirinya, kemungkinan besar ia akan berminat untuk mempelajarinya.
Jika terdapat siswa yang tidak berminat atau kurang berminat dalam belajar, dapat diusahakan agar ia mempunyai minat yang lebih besar dengan cara menjelaskan hal-hal yang menarik dan berguna bagi kehidupan serta hal-hal yang berhubungan dengan cita-cita serta kaitannya dengan bahan pelajaran yang diminati oleh siswa.
b. Faktor-faktor yang mempengaruhi minat belajar
Mahfud Shalahuddin sebagaimana dikutip dalam Sahrundi (2008: 74-81) berpendapat bahwa terdapat dua faktor yang mempengaruhi belajar siswa, yakni faktor luar dan faktor dalam. Faktor luar terdiri dari lingkungan dan instrumen, sedangkan faktor dalam terdiri dari fisiologis dan psikologis.
46
1) Faktor luar terdiri dari: lingkungan yang dibagi dalam lingkungan alam non sosial, lingkungan sosial; instrumen yang di dalamnya terdapat kurikulum, sarana atau media pendidikan, interaksi guru dan murid, metode belajar, keadaan gedung.
a) Lingkungan
(1) Lingkungan alam dan non sosial
Yang digolongkan dalam faktor ini dalam belajar ialah keadaan alam, udara, cuaca, waktu (pagi, siang atau malam hari), tempat atau lokasi gedungnya, alat-alat yang dipakai untuk belajar, seperti alat tulis menulis, buku-buku, media pendidikan dan sebagainya. Semua faktor-faktor ini harus diatur sedemikian rupa sehingga dapat membantu, menguntungkan dan menimbulkan rasa aman dalam proses belajar mengajar. Letak sekolah dan tempat belajar yang kurang atau tidak memenuhi syarat seperti: kelas yang terlalu sempit dengan jumlah peserta didik yang terlalu banyak, suasana bising karena dekat dengan pusat keramaian dan sebagainya, harus dihindarkan, media pengajaran juga harus memenuhi persyaratan yang telah ditentukan menurut pertimbangan psikologis (Sahrundi, 2008: 74).
(2) Lingkungan sosial
Yang dimaksud dengan faktor sosial dalam belajar di sini adalah faktor manusia dan sesama manusia, baik manusia itu ada atau hadir maupun kehadirannya itu dapat disimpulkan. Maksudnya, bahwa manusia itu tidak langsung hadir. Kehadiran orang atau orang-orang lain pada waktu seseorang
sedang belajar, kerapkali mengganggu aktivitas belajar, misalnya: jika dalam sebuah kelas murid sedang menjelaskan materi ke peserta didik kemudian dari luar timbul suara gaduh orang yang bergurau maka konsentrasi peserta didik tersebut menjadi kacau sehingga sulit untuk menerima materi yang diberikan oleh guru. Faktor-faktor sosial ini pada umumnya bersifat mengganggu proses belajar dan prestasi belajar yang akan dicapai (Sahrundi, 2008: 75).
b) Instrumen (1) Kurikulum
Kurikulum diartikan sebagai sejumlah kegiatan yang diberikan kepada peserta didik. Kegiatan itu sebagian besar adalah menyiapkan bahan pelajaran agar peserta didik menerima, menguasai dan mengembangkan bahan pelajaran itu. Kurikulum yang kurang baik berpengaruh tidak baik terhadap proses belajar. Kurikulum yang tidak baik itu misalnya yang terlalu padat, di atas kemampuan peserta didik, tidak sesuai dengan bakat, minat dan perhatian peserta didik. Perlu kita ingat bahwa sistem instruksional sekarang menghendaki proses belajar mengajar yang mementingkan kebutuhan peserta didik. Guru perlu mendalami karakter peserta didik dengan baik, harus memiliki perencanaan yang mendetail agar dapat melayani peserta didik sesuai dengan baik (Sahrundi, 2008: 75-76).
(2) Sarana atau media pendidikan
Kenyataannya bahwa pada masa ini, dengan banyaknya jumlah anak yang masuk sekolah, maka memerlukan alat-alat atau media yang membantu lancarnya belajar anak dalam jumlah yang besar pula, seperi media audiovisual,
48
multimedia, buku-buku di perpustakaan, laboraturium dan media-media lain. Menggunakan media pendidikan dalam proses pembelajaran dapat mempertinggi proses belajar siswa dalam pengajaran yang pada gilirannya diharapkan dapat mempertinggi hasil belajar yang dicapainya (Sahrundi, 2008: 76).
(3) Interksi guru dan murid
Proses belajar megajar terjadi antara guru dengan peserta didik. Proses tersebut juga dipengaruhi oleh relasi yang ada dalam proses itu sendiri. Jadi cara belajar peserta didik juga dipengaruhi oleh relasinya dengan guru. Dalam relasi yang baik, peserta didik akan menyukai gurunya dengan demikian juga akan menyukai mata pelajaran yang diberikan, sehingga peserta didik tersebut berusaha mempelajari dengan sebaik-baiknya. Hal ini berlaku sebaliknya. Jika peserta didik membenci gurunya maka secara otomatis dia tidak suka dengan pembelajaran tersebut. Guru yang kurang berinteraksi dengan peserta didik secara akrab, akan menyebabkan proses belajar mengajar menjadi kurang lancar. Juga peserta didik menjadi merasa jenuh, enggan untuk berpartisipasi secara aktif dalam proses pembelajaran (Sahrundi, 2008: 76).
(4) Metode belajar
Guru yang hanya mengajar dengan metode ceramah saja tentu akan membuat siswa menjadi bosan, mengantuk, pasif, dan hanya mencatat saja. Guru yang yang progresif adalah yang berani mencoba metode-metode baru yang bermanfaat dan membantu meningkatkan keaktifan belajar mengajar dan meningkatkan minat serta motivasi siswa dalam belajar (Sahrundi, 2008: 77).
Dalam kegiatan belajar banyak siswa yang menggunakan cara keliru. Masalah ini perlu adanya pembinaan dari pihak guru. Sebab dengan cara belajar yang tepat maka akan efektif pula hasil belajar siswa. Juga pembagian waktu untuk belajar. Cara yang efektif di antaranya dengan belajar secara teratur setiap hari. Belajar yang penuh disiplin, mantap dan teratur, niscaya dapat meningkatkan prestasi belajar.
(5) Keadaan gedung
Dengan jumlah siswa yang banyak serta variasi karakteristik setiap pribadi menuntut keadaan gedung yang harus memadai di dalam setiap kelas. Jika suatu sekolah memiliki gedung yang kurang layak dan tidak sesuai dengan jumlah siswa, maka siswa dalam proses belajar tentu akan merasa terganggu dan kurang nyaman dengan keadaan tersebut, sehingga minatnya dalam mengikuti proses pembelajaran akan terganggu (Sahrundi, 2008: 77).
2) Faktor dalam terdiri dari: faktor fisiologis (kondisi fisik dan kondisi indera), faktor psikologis yang di dalamnya terdapat minat, intelegensi, bakat, perhatian, dan emosi.
a) Fisiologis (kondisi fisik dan kondisi indera)
Kesehatan seseorang berpengaruh terhadap proses belajarnya. Proses belajar seseorang akan terganggu jika kesehatan seseorang terganggu, orang yang kesehatannya terganggu cenderung cepat lelah, kurang bersemangat, mudah pusing, mengantuk, ataupun gangguan fungsi alat indera lainnya. Agar seseorang dapat belajar dengan baik ia harus mengusahakan kesehatan badannya dengan
50
cara selalu mengindahakan ketentuan-ketentuan tentang bekerja, belajar, istirahat, tidur, makan, olahraga, rekreasi dan ibadah (Sahrundi, 2008: 77-78).
Cacat tubuh adalah sesuatu yang menyebabkan kurang baik atau kurang sempurnanya seseorang. Cacat tubuh itu dapat berupa buta, tuli, setengah tuli, patah tulang, lumpuh dll. Keadaan cacat tubuh juga dapat mempengaruhi belajar. Peserta didik yang cacat belajarnya juga menjadi terganggu. Jika hal ini terjadi, hendaknya ia belajar pada lembaga pendidikan khusus atau diusahakan alat bantu agar dapat menghindari atau mengurangi pengaruh kecacatannya tersebut.
b) Psikologis (1) Minat
Minat menyangkut dua hal yang perlu diperhatikan yaitu minat pembawaan dan minat yang muncul karena adanya pengaruh dari luar. Minat pembawaan muncul dengan tidak dipengaruhi oleh faktor-faktor lain, baik kebutuhan maupun lingkungan. Minat semacam ini, biasanya muncul berdasarkan bakat yang ada. Minat seseorang bisa saja berubah karena adanya pengaruh dari luar seperti lingkungan dan kebutuhan. Perlu ditambahkan juga, bahwa spesialisasi bidang studi yang menarik minat seseorang akan dapat dipelajari dengan sebaik-baiknya demikian pula sebaliknya, bidang studi yang tidak sesuai dengan minatnya tidak akan mempunyai daya tarik baginya (Sahrundi, 2008: 78- 79). Oleh sebab itu, dalam kegiatan belajar sangat diharapkan minat yang didasari oleh bukan yang kemudian dikembangkan secara maksimal dan ditunjang oleh fasilitas yang diharapkan. Media pembelajaran yang sesai dan relevan dengan
peserta didik dapat dijadikan salah satu alternatif untuk menjadikan peserta didik menjadi berminat dalam mengikuti sebuah proses pembelajaran.
(2) Intelegensi
Intelegensi adalah kecakapan yang terdiri dari tiga jenis yaitu kecakapan untuk menghadapi dan menyesuaikan ke dalam situasi yang baru dengan cepat dan efektif, mengetahui/menggunakan konsep-konsep yang abstrak secara efektif, mengetahui relasi dan mempelajarinya dengan tepat. Intelegensi besar pengaruhnya terhadap kemajuan belajar. Dalam situasi yang sama, siswa yang memiliki tingkat intelegensi tinggi akan lebih berhasil dari pada yang memiliki tingkat intelegensi rendah. Walaupun begitu siswa yang memiliki tingkat intelegensi tinggi belum pasti berhasil dalam belajarnya. Hal ini disebabkan karena belajar adalah suatu proses yang kompleks dengan banyak faktor yang mempengaruhinya, sedangkan intelegensi adalah salah satu faktor di antara faktor yang lainnya. Jika faktor lain itu bersifat menghambat/berpengaruh negatif terhadap belajar, akhirnya siswa gagal dalam belajarnya. Siswa yang memiliki tingakat intelegensi yang normal dapat berhasil dengan baik dalam belajar, jika ia belajar dengan baik, artinya belajar dengan menerapkan metode belajar yang efisien dan faktor-faktor yang mempengaruhi belajarnya (faktor jasmaniah, psikologi, keluarga, sekolah, dan masyarakat) memberi pengaruh yang positif, jika siswa memiliki intelegensi yang rendah, ia perlu mendapat pendidikan di lembaga pendidikan khusus (Sahrundi, 2008: 79).
52
(3) Bakat
Setiap manusia dilahirkan dilengkapi dengan bakat atau kemampuan yang melekat pada dirinya. Bakat adalah kemampuan untuk belajar. Kemampuan itu baru akan terealisir menjadi kecakapan yang nyata sesudah belajar atau berlatih. Jika bahan pelajaran yang dipelajari siswa sesuai dengan bakatnya, maka hasil belajarnya akan lebih baik karena ia senang belajar dan pastilah selanjutnya ia akan lebih giat dalam belajarnya. Penting bagi guru untuk mengetahui bakat siswa dan menempatkan siswa belajar di sekolah sesuai dengan bakatnya (Sahrundi, 2008: 79-80).
(4) Perhatian
Untuk dapat belajar dengan baik, seorang anak harus ada perhatian terhadap materi pelajaran yang dipelajarinya. Apabila materi pelajaran yang disajikan kepada mereka tidak menarik baginya, maka akan timbullah rasa bosan dan malas untuk belajar, sehingga prestasi dalam studi menurun. Oleh sebab itu, pendidik harus berusaha semaksiamal mungkin, agar materi pelajaran yang disajikan itu, menarik perhatian peserta didik (Sahrundi, 2008: 80).
(5) Emosi
Dalam kegiatan belajar, sangat diperlukan kestabilan emosi. Ketidakstabilan emosi dalam artian emosi cepat tersentuh walau bagaimana kecilnya suatu masalah menimbulkan gejala-gejala negatif, misalnya: kejang, tidak sadarkan diri, berteriak-teriak dan lain sebagainya. Keadaan emosi yang mendalam ini, sudah tentu menimbulkan hambatan-hambatan dalam kegiatan
belajar. Oleh karena itu anak-anak yang mempunyai emosi sedemikian ini memerlukan situasi yang cukup tenang dan penuh pengertian dari orang yang ada di sekitarnya, agar kegiatan belajar dapat berjalan dengan lancar (Sahrundi, 2008: 80-81).
c. Minat belajar Pendidikan Agama Katolik
Minat belajar Pendidikan Agama Katolik adalah kecenderungan yang bersifat tetap atau keinginan peserta didik dalam mengikuti proses pembelajaran PAK, yang ditandai dengan adanya rasa tertarik, perhatian dan rasa senang ketika mengikuti proses pembelajaran PAK di sekolah. Rasa tertarik ini dapat diekspersikan melalui keterlibatan secara aktif dalam proses pembelajaran PAK. Ketertarikan peserta didik dalam mengikuti proses pembelajaran PAK ini sangat diperlukan guna memotivasi peserta didik agar mampu mengahayati apa yang sedang dipelajarinya dan kemudian peserta didik termotivasi untuk melakukan tindakan atau sikap baik dari seluruh rangkaian kegiatan pelajaran yang telah diterimanya.
Sebelumnya kita sudah melihat berbagai hal yang dapat mempengaruhi belajar siswa baik faktor dari luar maupun dari dalam. Tugas guru dalam adalah membantu siswa untuk mengatasi hal-hal yang dapat menghambat minat belajarnya. Ada berbagai macam hal yang dapat dilakukan oleh guru untuk dapat meningkatkan minat belajar peserta didik dalam mengikuti pelajaran PAK di sekolah, di antaranya dengan memanfaatkan media film yang berkembang dan dekat dengan hidup para peserta didik saat ini. Jika guru PAK di sekolah mampu membangkitkan minat peserta didik dalam mengikuti proses pembelajaran PAK
54
maka diharapkan para peserta didik mampu lebih terlibat aktif dalam proses pembelajaran, sehingga hasil belajar mereka dapat semakin meningkat.
Peserta didik juga diharapkan mampu memiliki sikap positif terhadap pendidikan agama yakni memiliki disposisi batin dan komitmen terhadap perlunya PAK di sekolah. Sikap seperti ini akan mempengaruhi gejala kejiwaan, perasaan dan emosi. Perasaan dan emosi yang dimiliki digerakkan oleh adanya tujuan atau kebutuhan. Dalam hal ini peserta didik dimotivasi untuk mampu memahami pendidikan agama sebagai pendidikan iman dan akhirnya peserta didik terdorong untuk bertindak dan melakukan sesuatu secara bertanggung jawab berdasarkan ajaran imannya.