• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

A. Kajian Teoritik

1. Belajar

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Kajian Teoritik 1. Belajar a. Pengertian Belajar

Belajar merupakan salah satu kegiatan yang sering dilakukan baik itu di sekolah, rumah, ataupun tempat-tempat lainnya. Belajar merupakan kegiatan mental yang tidak dapat disaksikan dari luar. Ada beberapa ahli yang mengemukakan pendapat mengenai pengertian belajar. Beberapa ahli tersebut yakni diantaranya Abdillah, W. S. Winkel dan R. Gagne.

Menurut Abdillah (dalam Aunurrahman, 2012:35), belajar adalah suatu usaha sadar yang dilakukan oleh individu dalam perubahan tingkah laku baik melalui latihan dan pengalaman yang menyangkut aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik untuk memperoleh tujuan tertentu. Pendapat serupa dikemukakan oleh W. S. Winkel (2014:59), belajar adalah suatu aktivitas mental/psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan sejumlah perubahan dalam pengetahuan-pemahaman, keterampilan, dan nilai-sikap. Pendapat lain dikemukakan oleh R. Gagne (dalam Susanto, 2013:1), yang mengatakan bahwa belajar didefinisikan sebagai proses

di mana suatu organisme berubah perilakunya sebagai akibat pengalaman.

Berdasarkan beberapa pendapat diatas belajar dapat diartikan sebagai aktivitas dari mental yang dilakukan secara sadar sehingga menimbulkan perubahan pada diri seseorang. Ini berarti belajar berkaitan dengan kegiatan mental, lingkungan, pengalaman dan adanya perubahan.

b. Prinsip-Prinsip Belajar

Guru berupaya untuk mengembangkan potensi-potensi peserta didik secara optimal dengan demikian seluruh proses dan tahapan pembelajaran harus mengarah pada upaya mencapai perkembangan potensi-potensi anak tersebut. Agar aktivitas yang dilakukan guru dalam proses pembelajaran terarah pada upaya peningkatan potensi siswa secara komprehensif maka pembelajaran harus dikembangkan sesuai dengan prinsip-prinsip belajar. Prinsip-prinsip tersebut meliputi prinsip perhatian dan motivasi, prinsip transfer dan retensi, pinsip keaktifan, prinsip pengulangan, prinsip tantangan, prinsip balikan dan penguatan, dan prinsip perbedaan individual, prinsip pengetahuan, prinsip afektif, dan prinsip psikomotorik. Pembahasan mengenai motivasi, prinsip keaktifan, dan prinsip afektif akan dibahas secara mendalam.

1.) Keterlibatan

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, keterlibatan adalah turut berperan serta dalam suatu kegiatan. Pendapat serupa

dikemukakan oleh Khatib Sholeh (2016:41) bahwa pembelajaran partisipastif/keterlibatan adalah pembelajaran yang mengikutsertakan peserta didik dalam kegiatan merencanakan, melaksanakan, dan menilai kegiatan. Berdasarkan dua pendapat diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa keterlibatan adalah suatu bentuk peran serta seseorang dalam suatu kegiatan.

Menurut Made Sumadi yang dikutip oleh Yasinta (2014:28), partisipasi siswa dapat dilihat dari:

a.) Partisipasi dalam bertanya dan menjawab b.) Menyelesaikan tugas secara tuntas

c.) Partisipasi dalam diskusi d.) Mencatat penjelasan guru

e.) Menyelesaikan soal di papan tulis f.) Mengerjakan tes secara individu

g.) Menyimpulkan materi pelajaran di akhir pelajaran. 2.) Sikap

Sikap merupakan kecenderungan perasaan dan perbuatan yang konsisten pada diri seseorang (Thobroni, 2015:23). Sikap berhubungan dengan minat, nilai, penghargaan, pendapat, dan prasangka. Sikap seseorang dapat tercermin melalui tindakannya. Kegiatan memulai pembelajaran sangat penting untuk diperhatikan karena aktivitas belajar siswa selanjutnya ditentukan

oleh sikap siswa ketika memulai belajar. Sikap siswa terhadap pembelajaran dapat dilihat melalui ciri-ciri berikut:

a) Kesungguhan mengikuti pelajaran, misalnya acuh dengan penjelasan guru, tidak serius ketika bertanya atau mengemukakan pendapat, mengerjakan tugas apa adanya. b) Memperhatikan penjelasan guru dalam menjelaskan.

c) Berpartisipasi aktif dalam berdikusi dan mengerjakan tugas. 3.) Minat

Sukardi (dalam Susanto, 2013:57) menyatakan minat dapat diartikan sebagai suatu kesukaan, kegemaran atau kesenangan akan sesuatu. Pendapat serupa dikemukakan Bloom yang dikutip oleh Ahmad Susanto (2013:59) mengatakan bahwa minat adalah sesuatu yang disebut sebagai subject-related affect, yang didalamnya termasuk minat dan sikap terhadap materi pembelajaran. Hal ini dapat diukur dari apa yang disukai dan tidak disukai. Berdasarkan dua pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa minat adalah suatu kesukaan atau rasa ketertarikkan seseorang terhadap suatu hal.

Menurut Slameto (dalam Suyono, 2015:177), ciri-ciri siswa yang berminat dalam belajar adalah sebagai berikut:

a) Mempunyai kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang sesuatu yang dipelajari secara terus menerus.

b) Ada rasa suka dan senang pada sesuatu yang diminati. c) Memperoleh suatu kebanggaan dan kepuasan pada sesuatu

yang diminati. Ada rasa keterkaitan pada sesuatu aktivitas-aktivitas yang diminati.

d) Lebih menyukai suatu hal yang menjadi minatnya daripada yang lainnya.

e) Dimanifestasikan melalui partisipasi pada aktivitas dan kegiatan.

4.) Motivasi

Motivasi didefinisikan sebagai faktor-faktor internal maupun eksternal yang mendorong keinginan dan energi manusia untuk secara kontinu menaruh minat dan perhatian terhadap pekerjaan, peranannya, atau keada suatu subjek tertentu.

Sardiman (dalam Imron, 1996:31) mengemukakan ciri-ciri orang yang memiliki motivasi, yakni:

a) Tekun dalam mengerjakan tugas. b) Ulet dan tidak mudah putus asa. c) Menunjukkan minat yang besar.

d) Lebih suka bekerja sendiri dan tidak bergantung pada orang lain.

e) Tidak cepat bosan dengan tugas-tugas rutin. f) Senang mencari dan memecahkan masalah.

Brown (dalam Imron, 1996:88) mengemukakan beberapa ciri siswa yang mempunyai motivasi belajar, yakni:

a) Tertarik kepada guru, misalnya tidak membenci guru, b) Tertarik pada mata pelajaran yang diajarkan guru. c) Mempunyai antusiasme yang tinggi.

d) Mengendalikan perhatiannya khususnya kepada guru. e) Ingin selalu bergabung dalam kelompok kelas.

f) Ingin identitasnya diakui dalam kelompok kelas. g) Kebiasaan dan moralnya selalu dalam control diri.

h) Selalu mengingat pelajaran dan mempelajarinya kembali. 2. Pembelajaran Matematika

a. Definisi Pembelajaran

Walter Dick mendefinisikan pembelajaran sebagai intervensi pendidikan yang dilaksanakan dengan tujuan tertentu, bahan atau prosedur yang ditargetkan pada pencapaian tujuan tersebut, dan pengukuran yang menentukan perubahan yang diinginkan pada perilaku (dalam Khodijah, 2014:176).

Dr. Nyayu Khodijah (2014:177) mengutarakan pembelajaran adalah usaha yang dilakukan oleh pendidik, baik secara formal di sekolah maupun secara informal maupun nonformal di rumah dan masyarakat.

Menurut Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pembelajaran adalah proses interaksi peserta

didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.

Berdasarkan ketiga pendapat tersebut pembelajaran terdiri dari empat aspek yakni interaksi guru dan siswa, lingkungan belajar, tujuan yang hendak dicapai, dan usaha untuk mencapai tujuan tersebut. b. Definisi Matematika

Johnson dan Myklebust (dalam Abdurahman, 2003:252-253), matematika adalah bahasa simbolis yang fungsi praktisnya untuk mengekspresikan hubungan-hubungan kuantitatif dan keruangan sedangkan fungsi teoretisnya adalah untuk memudahkan berpikir.

H. W. Fower (dalam Sundayana, 2015:3) mengemukakan Mathematics is the abstract science of space and number (matematika adalah ilmu abstrak mengenai ruang dan bilangan).

Drs. Ahmad Susanto (2013:185) mengartikan matematika sebagai satu disiplin ilmu yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir dan beragumentasi, memberikan kontribusi dalam penyelesaian masalah sehari-hari dan dalam dunia kerja serta memberikan dukungan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Dari ketiga pendapat tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa matematika merupakan ilmu abstrak dalam bentuk bahasa simbolis yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir.

c. Pembelajaran Matematika

Pembelajaran matematika adalah suatu proses belajar mengajar yang dibangun oleh guru dalam mengembangkan proses berpikir siswa ataupun mengkontruksi pengetahuan baru sebagai usaha meningkatkan kemampuan dalam matematika. Proses tersebut mengandung dua jenis kegiatan yakni belajar dan mengajar. Kedua kegiatan tersebut saling bersatu padu membentuk interaksi di dalam proses pembelajaran. Pelajaran matematika diberikan di setiap jenjang pendidikan dan di setiap jenis pendidikan, baik pendidikan regular, segregasi maupun pendidikan inklusi. Lebih lanjut dibahas mengenai pendidikan regular dan pendidikan segregasi.

1.) Pembelajaran Matematika SMP pada pendidikan regular

Menurut Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan regular adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagaman, pengendallian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Berdasarkan undang-undang tersebut, matematika menjadi salah satu pelajaran yang wajib ada di sekolah.

Menurut Permendikbud No. 68 Tahun 2013 dan Permendikbud No. 22 Tahun 2016, pelaksanaan pembelajaran secara umum sebagai berikut:

a.) Alokasi waktu yang diberikan untuk pembelajaran matematika di SMP yakni 5 Jam Pertemuan (JP) per minggu, durasi 1 jam pelajaran yakni 40 menit.

b.) Proses pembelajaran disesuaikan dengan karakteristik peserta didik.

c.) Jumlah peserta didik di dalam kelas untuk SMP maksimum 32 orang.

d.) Guru menyesuaikan materi pelajaran dengan kecepatan dan kemampuan belajar peserta didik.

2.) Pembelajaran Matematika SMP pada pendidikan segregasi untuk

Dokumen terkait