• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

A. Kajian Teoritik

4. Tunarungu

Tunarungu merupakan suatu keadaan di mana seseorang tidak mampu menangkap berbagai rangsangan yang melalui indera pendengarannya. Pengertian istilah tunarungu diberikan oleh beberapa ahli diantaranya Andreas Dwidjosumarto, Mufti Salim, dan Sutjihati Somantri. Andreas Dwidjosumarto (dalam Somantri, 2007:93) mengemukakan bahwa anak tunarungu adalah seseorang yang tidak atau kurang mampu mendengar suara. Pendapat serupa disampaikan oleh Mufti Salim (dalam Somantri, 2007:93) yang mengatakan bahwa anak tunarungu adalah anak yang mengalami kekurangan atau kehilangan kemampuan mendengar yang disebabkan oleh kerusakan atau tidak berfungsinya sebagian atau seluruh alat pendengaran sehingga mengalami hambatan dalam bahasanya. Sutjihati Somantri (2007:94) kemudian menarik kesimpulan bahwa tunarungu adalah mereka yang kehilangan pendengaran baik sebagian (hard of hearing) atau seluruhnya (deaf) yang menyebabkan pendengarannya tidak memiliki nilai fungsional di dalam kehidupan sehari-hari.

Berdasarkan paparan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa tunarungu adalah suatu kelainan fisik dimana indera pendengaran (telinga) kurang atau bahkan tidak dapat berfungsi dengan baik sehingga dapat mengganggu perkembangan individu yang mengalaminya.

b. Klasifikasi Tunarungu

Menurut Andreas Dwidjosumarto (dalam Somantri, 2007:93) tunarungu dapat di kategorikan menjadi dua yakni tuli (deaf) dan kurang dengar (hard of hearing). Tuli (deaf) adalah mereka yang indera pendengarannya mengalami kerusakan dalam taraf berat sehingga pendengarannya tidak berfungsi lagi sedangkan kurang dengar (hard of hearing) adalah mereka yang indera pendengarannya mengalami kerusakan tetapi masih dapat berfungsi, baik dengan ataupun tanpa alat bantuan.

Andreas juga mengemukakan klasifikasi tunarungu berdasarkan tingkat taraf kehilangan pendengarannya sebagai berikut:

1.) Tingkat I

Individu pada tingkat ini kehilangan kemampuan mendengar antara 35 sampai 45 desibel (dB), penderita hanya memerlukan latihan berbicara dan bantuan mendengar secara khusus.

2.) Tingkat II

Pada tingkat ini penderita kehilangan kemampuan mendengar antara 55 sampai dengan 69 desibel (dB). Penderita kadang-kadang memerlukan penempatan sekolah secara khusus dan dalam kebiasaan sehari-hari memerlukan latihan berbicara serta bantuan latihan berbahasa secara khusus.

3.) Tingkat III

Penderita pada tingkat ini kehilangan kemampuan mendengar antara 70 samapi dengan 89 desibel (dB).

4.) Tingkat IV

Kehilangan kemampuan mendengar 90 desibel (dB) ke atas.

Penderita pada tingkat I dan tingkat II dapat dikategorikan dalam individu yang mengalami ketulian sedangkan penderita pada tingkat III dan IV pada hakekatnya memerlukan pelayanan pendidikan khusus.

Ditinjau dari kepentingan pendidikan Mohammad Efendi (2006:59-61) mengelompokkan anak tunarungu sebagai berikut:

1.) Anak tunarungu yang kehilangan pendengaran antara 20-30dB Ciri-ciri anak tunarungu pada rentang ini, yakni sebagai berikut: a.) Kemampuan mendengar masih baik tetapi sudah termasuk

dalam kekurangan pendengaran taraf ringan.

b.) Tidak mengalami kesulitan dalam memahami pembicaraan dan dapat mengikuti pembelajaran dengan syarat tempat duduk harus berdekatan dengan guru.

c.) Kemampuan mendengarnya dapat memungkinkan belajar bicara secara efektif.

d.) Pembendaharaan kata perlu diperhatikan agar tidak terhambat perkembangan bicara dan bahasanya.

e.) Disarankan untuk menggunakan alat bantu dengar guna menambah ketajaman pendengarannya.

Anak-anak pada tingkat ini untuk kepentingan pendidikan hanya memerlukan latihan membaca bibir untuk pemahaman percakapan.

2.) Anak tunarungu yang kehilangan pendengaran antara 30-40dB Ciri-ciri anak tunarungu pada rentang ini, yakni sebagai berikut: a.) Mengerti percakapan biasa pada jarak sangat dekat.

b.) Tidak memiliki kesulitan untuk mengekspresikan isi hati. c.) Tidak dapat menangkap suatu percakapan yang lemah (suara

yang pelan dari lawan bicaranya).

d.) Kesulitan menangkap isi pembicaraan dari lawan bicara yang tidak satu arah atau berhadapan (berlawan arah).

e.) Kesulitan bicara dapat diatasi melalui bimbingan yang baik dan intensif

f.) Ada kemungkinan untuk mengikuti sekolah biasa namun pada permulaan sebaiknya diikutkan pada sekolah yang khusus. g.) Disarankan untuk menggunakan alat bantu dengar untuk

mempertajam pendengarannya.

Kebutuhan layanan pendidikan pada kelompok ini yaitu membaca bibir, latihan pendengaran, latihan artikulasi dan latihan kosakata.

3.) Anak tunarungu yang kehilangan pendengaran antara 40-60dB Ciri-ciri anak kehilangan pendengaran pada rentang ini, yaitu: a.) Kesulitan untuk membedakan suara.

b.) Tidak dapat menyadari getaran suara benda-benda disekitanya. c.) Perlu menggunakan alat bantu dengar karena anak pada

kelompok ini tergolong tidak mampu berbicara spontan.

d.) Pada intensitas tertentu dapat mendengar suara keras tetapi pada jarang yang sangat dekat.

Kebutuhan layanan pendidikan pada kelompok ini adalah layanan pendidikan khusus dalam belajar bicara maupun bahasa. Selain itu, anak-anak pada kelompok ini memerlukan latihan pendengaran intensif, membaca bibir, dan latihan pembentukan kosakata.

4.) Anak tunarungu yang kehilangan pendengaran antara 60-75dB Ciri-ciri anak pada kelompok ini, yakni:

a.) Hanya dapat mendengar suara keras pada jarak lebih kurang satu inci atau sama sekali tidak mendengar.

b.) Tidak menyadari bunyi keras.

c.) Tidak dapat memahami ataupun menangkap suara meskipun dengan pengeras suara.

d.) Alat bantu dengar tidak berpengaruh bagi anak dalam kelompok ini.

Kebutuhan pelayanan pendidikan yakni membaca bibir, latihan mendengar untuk kesadaran bunyi, latihan membentuk dan membacar ujaran dengan menggunakan metode khusus, dan

visualisasi yang dibantu dengan seluruh kemampuan indera yang tersisa.

c. Perkembangan Kognitif Anak Tunarungu

Pada dasarnya kecerdasan (kognitif) anak tunarungu secara potensional tidak berbeda dengan kecerdasan yang dimiliki oleh anak normal. Bahkan, terdapat anak tunarungu yang memiliki kecerdasan diatas rata-rata (superior). Namun, secara fungsional perkembangan kognitif anak tunarungu dipengaruhi oleh kemampuan berbahasanya. Ketunarunguan yang dialami dapat menghambat perkembangan bahasa anak tersebut. Lebih lanjutnya, keterbatasan bahasa tersebut dapat menghambat perkembangan inteligensinya.

Rendahnya inteligensi anak tunarungu bukan berasal dari hambatan intelektualnya melainkan berasal dari kurangnya kesempatan inteligensinya untuk berkembang. Tidak semua aspek inteligensi anak tunarungu terhambat, yang terhambat hanyalah perkembangan yang bersifat verbal. Bimbingan yang teratur kepada anak tunarungu dapat membantu perkembangan intelektual yang terhambat tadi. Aspek inteligensi yang diperoleh dari penglihatan dan yang berupa motorik tidak mengalami hambatan melainkan berkembang lebih cepat.

Cruickshank (dalam Somantri, 2007:97) mengatakan bahwa anak tunarungu seringkali memperlihatkan keterlambatan dalam belajar dan kadang-kadang tampak terbelakang. Keadaan ini tidak hanya disebabkan oleh gangguan pendengaran yang dialaminya melainkan

tergantung juga pada potensi kecerdasan yang dimiliki, rangsangan mental, serta dorongan dari lingkuangan luar yang memberikan kesempatan kepada anak tunarungu untuk berkembang,

Fruth (dalam Somantri, 2007:98) mengemukakan bahwa anak tunarungu menunjukkan kelemahan dalam memahami konsep-konsep yang berlawanan sedangkan konsep yang berlawanan tersebut tergantung dari pengalaman bahasa.

d. Perkembangan Emosi Anak Tunarungu

Kemampuan berbahasa anak tunarungu berpengaruh pada kekurangan pemahaman bahasa lisan ataupun tulisan. Hal ini berdampak pada penafsiran negatif anak tunarungu sehingga dapat menjadi tekanan bagi emosi. Tekanan tersebut dapat menghambat perkembangan pribadi dengan menampilkan sikap menutup diri, agresif, kebimbangan, atau keragu-raguan.

e. Perkembangan Sosial Anak Tunarungu

Keterbatasan yang dimiliki oleh anak tunarungu bukan berarti mereka tidak perlu untuk bersosialisasi. Anak tunarungu juga merupakan makhluk sosial yang membutuhkan orang lain untuk mengembangkan dirinya. Namun, keterbatasan ini membuat kelainan dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungan. Kesulitan ini bukan semata disebabkan oleh ketunarunguan melainkan juga oleh lingkungan. Pada umumnya, lingkungan menganggap anak tunarungu sebagai pribadi yang memiliki kekurangan dan kurang mampu berkarya.

Penilaian seperti itu membuat anak tunarungu merasa dirinya kurang berharga. Penilaiannya ini kemudian berdampak pada terhambatnya perkembangan sosial yang kemudian mengakibatkan semakin minimnya penguasaan bahasa, kecenderungan menyendiri, dan memiliki sifat egosentris. Oleh karena itu lingkungan perlu mempelajari dan memahami mereka agar tidak berkembang kepribadian yang negatif.

Anak tunarungu banyak dihinggapi kecemasan karena menghadapi lingkungan yang beragam komunikasinya. Hal ini dapat menimbulkan kebingungan, konflik, dan ketakutan pada diri anak tersebut. Jelaslah bahwa hubungan sosial banyak ditentukan oleh komunikasi. Kesulitan komunikasi anak tunarungu ini disebabkan karena mereka mengalami hambatan dalam berbicara sehingga mereka kurang mampu terlibat dalam situasi sosialnya dan sebaliknya lingkungan akan sulit memahami perasaan dan pikirannya.

f. Perkembangan Perilaku Anak Tunarungu

Perkembangan perilaku anak dilihat dari perkembangan kepribadian anak tersebut. Kepribadian merupakan sifat dan sikap pada seseorang yang menentukan cara-cara unik penyesuaian dengan lingkungannya. g. Cara Berkomunikasi Anak Tunarungu

Terdapat berbagai cara komunikasi untuk anak-anak yang memiliki masalah pendengaran, yaitu:

1) Metode auditory oral, yaitu metode yang menekankan proses mendengar serta bertutur kata dengan penggunaan alat bantu yang lebih baik. Metide ini tidak menggunakan bahasa isyarat tetapi lebih menekankan pembacaan gerak bibir.

2) Metode membaca bibir, yaitu metode yang menekankan pada penglihatan yang baik. Metode ini sangat cocok bagi anak yang mampu berkonsentrasi tinggi pada bibir penutur bahasa.

3) Metode bahasa isyarat, yaitu metode yang menggabungkan perkataan dengan makna dasar.

4) Metode komunikasi universal, yaitu metode yang menggabungkan gerakan jari, isyarat, pembacaan gerakan bibir, penuturan, dan implikasi audiotoris.

5) Penuturan isyarat, yaitu metode yang menggunakan simbol-simbol tangan untuk memandu bunyi-bunyian.

6) Metode Maternal Reflektif (MMR), yaitu metode pengajaran bahasa seperti seorang ibu mengajarkan bahasa dengan bayinya yang belum bisa berbahasa. Menurut Drs. Sunarto yang dikutip oleh Sri Kuwati (2009: xxxv), MMR adalah suatu pengajaran bahasa yang:

a.) Mengikuti cara-cara bagaimana anak dengar sampai pada suatu penguasaan bahasa ibu.

b.) Menuntun anak secara bertahap untuk menemukan sendiri aturan atau bentuk bahasa melalui reflektif terhadap segala permasalahan.

c.) Bertitik tolak pada minat dan kebutuhan komunikasi anak dan bukan pada program tentang aturan bahasa yang perlu diajarkan atau di latihkan.

d.) Menyajikan bahasa yang sewajar mungkin pada anak, baik secara ekspresif maupun representatif.

Dokumen terkait