Bila operator telah bekerja menurut prinsip asepsis dan antisepsis, maka sebenamya tidak diperlukan pemberian antibiotika. Pemberian antibiotika hanya bersifat pencegahan dan pada keadaan tertentu bersifat penyembuhan. Dapat diberikan antibiotika berspektrum luas seperti tetrasiklin, ampisilin, amoksisilin dan sebagainya demean dosis yang memadai. Antibiotika diberikan dalam satu aturan pengobatan. Berikut perhitungan dosis antibiotika.
• Dewasa : 3 x 500 mg/hari
• Anak-anak : 10 mg/kg BB/hari
Usia 2 – 10 tahun : 3 x 125-250 mg/hari Usia < 2 tahun : 3 x 62,5-125 mg/hari
• Atau menggunakan rumus :
1) YOUNG untuk anak usia 1-12 tahun
Dosis Anak : n / (n + 12) x dosis dewasa. n = umur anak (th)
2) FRIED untuk anak usia < 1 tahun Dosis Bayi : m / 150 x dosis dewasa m = umur bayi (bulan)
7
Laboratorium Keterampilan Medik
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM b. Obat analgetika dan anti inflamasi
Karena penis merupakan daerah sensitif, maka pada sirkumsisi penderita akan merasa nyeri. Pemberian analgetika dilakukan pada hari pertama dan kedua, terutama pada pagi hari. Dapat diberikan analgetik non narkotik, misalnya antalgin.® asam mefenamat (Ponstan®), asam asetikalisilat (Aspirin) dan sebagainya.
Asam Mefenamat :
Dewasa = 3 x 500 mg/hari Anak-anak = 6,5 mg/kgBB/hari Paracetamol :
Dewasa = 500-1000 mg/dosis, 4-6 kali, Maks : 4000 mg/hari. Anak –anak = 10 mg/kgBB/dosis. Maks : 500 mg/dosis Asetosal (Aspirin) :
Dewasa : 500-1000 mg/dosis, 4-6 kali, PC Anak-anak : 15-25 mg/kgBB/dosis, 4-6 kali, PC c. Anti inflamasi
Bila diperliikan dapat diberikan anti radang (anti mflamasi), seperti serapeptase (Danzen®), pankreatin + proktase (Proctase )/ tripsin + kimotripsin (Chymomed®), dan sebagainya. Dikatakan pula bahwa obat-obat ini meninekatkan daya kerja antibiotika.
KETERAMPILAN MEDIK : Sirkumsisi
d. Roboransia
Dapat diberikan vitamin seperti vitamin B kompleks ditambah vitamin C dosis tinggi untuk membantu penyembuhan. Vitamin B kompleks diberikan sebagai terapi tambahan karena bakteri penghasil vitamin B kompleks di dalam usus besar terbunuh oleh antibiotika.
Multivitamin : 3 X 1 Tab. Vit. B Komplek :
Dewasa : 3 x 1 tab.
Anak- anak : 3 x 0,5 – 1 tab. 2. PENANGGULANGAN KOMPLIKASI
a. Nyeri
Komplikasi tersering, obati dengan anti nyeri. Menipakan komplikasi yang paling sering dikeluhkan pasien dan sangat mengganggu. Sebaiknya sebelum sirkumsisi dilakukan, penderita rriinum analgetika terlebih dahulu. Dengan demikian, pada saat tindakan sirkumsisi selesai, obat diharapkan telah mulai bekerja. Bila penderita merasa sakit sekali, dapat diberikan analgetika non narkotik per injeksi, seperti injeksi xylomidon dan sebagainya.
b. Edema atau Bengkak
Terjadi pada hari kedua dan seterusnya. Bila pembalut terlalu ketat dan terjadi edema, longgarkan balutan. Biasanya edema mulai mereda pada hari ke 5. Yakinkan penderita dan keluarganya bahwa
7
Laboratorium Keterampilan Medik
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM
edema tersebut tidak membahayakan dan biasa terjadi, agar penderita dan keluarga tidak cemas. Terjadi pada hari kedua dan seterusnya. Bila pembalut terlalu ketat dan terjadi edema, longgarkan balutan. Biasanya edema mereda mulai pada hari ke 5. Yakinkan penderita/keluarganya bahwa edema tersebut tidak membahayakan dan biasa terjadi, karena penderita/keluarganya merasa cemas. c. Perdarahan
Bila banyak dan menetes keluar, sumber perdarahan harus dicari, bila perlu dijahit ulang. Bila hanya meliputi balutan saja tidak apa, sebaiknya ganti pembalut. Bila hanya meliputi balutan tidak apa-apa, tetapi sebaiknya balutan diganti bila basah, karena darah adalah media yang baik untuk pertumbuhan kuman. Bila perdarahan banyak dan menetes ke luar, maka Sumber perdarahan hams dicari, bila perlu penjahitan di buka kembali. Bila perlu dapat diberikan obat hemostatik seperti karbazokrom (Adona®) atau asam traneksamat (Transamine ) dan sebagainya
d. Hematoma kecil
Tidak apa-apa karena akan diserap kembali oleh tubuh. e. Hematoma besar
Bila terjadi saat proses sirkumsisi berlangsung sebaiknya di drainase. Karena akan memperlambat penyembuhan. Bila terjadi saat melakukan sirkumsisi, sebaiknva hematoma tersebut dikeluarkan. Hernatoma yang besar amemperlambat penyembuhan. Pengobatan dengan anti inflamasi sekaligus mfimba mempercepat penyerapan hematoma.
f. Infeksi
Tanda-tandanya : penis merah, bengkak, nyeri dan terdapat nanah, dan bila berat penderita bisa demam. Obat yang diberikan dilanjutkan dan lokal dengan kompres betadine atau rivanol. Pengobatannya dengan memberikan antibiotika dan pengobatan simptomatis lainnya. Dapat
KETERAMPILAN MEDIK : Sirkumsisi
ditambahkan kompres pada penis dengan Betadine® atau rivanol. Setelah keadaan tenang dapat diberikan salep yang sesuai.
g. Penyakit Peyronie
Merupakan komplikasi lambat dari infeksi. Terjadi karena adanya jaringan fibrosis (parut) pada salah satu korpus kavernosum. Bila penis ereksi, maka penis akan miring ke arah yang sakit, dan terasa sangat nyeri. Pengobatannya sukar, antara lain dapat dicoba pobatan radiasi, pemberian vitamin E dosis tinggi, operasi menghilangkan jaringan parut, tetapi hasilnya tidak memuaskan.
3. PEMBALUT
Bila tidak ada penyulit maka pembalut diganti setiap tiga hari. Penggantian pembalut harus dikerjakan dengan prinsip steril. Bila balutan basah, misal oleh darah, maka harus diganti dengan segera. Balutan tidak boleh terlalu ketat atau terlalu longgar. Bila tidak ada penyulit, maka pembalut diganti setia tiga hari. Penggantian pembalut harus dikerjakan secar steril. Bila balutan basah, misalnya oleh darah, maka haru diganti dengan segera. Balutan tidak boleh terlalu ketc atau terlalu longgar. Pada pembalut dapat dibubuhi antic»iotika, antiseptik, atau digunakan kasa khusus mengandung antibiotika (Sofratulle® dan sebagainya). 4. LAIN-LAIN
a. Makanan
Tidak ada pantangan. Nasehati agar lebih banyak mengkonsumsi yang banyak mengandung protein. Tidak ada pantangan nnakanan. Berikan nasehat kepada penderita untuk makan makanan yang kaya protein untuk mempercepat penyembuhan. Hal-hal yang berhubungan dengan makanan dijelaskan
7
Laboratorium Keterampilan Medik
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM
pula, misalnya jangan makan niakanan niengandung logam berat (misalnya susu) bila mendapatkan tetrasiklin, niinun^ ainpisilin pada saat perut kosong dan sebagainya.
b. Hal Lain
Penderita dapat mengenakan celana yang longgar dan tidak terlalu menekan penis. Untuk mencegah perdarahan atau kemungkinan terkena trauma. Sebaiknya penderita beristirahat pada hari pertama, selanjutnya boleh bergerak seperti biasa. Penis tidak boleh dibasahi hingga luka kering dan balutan dilepaskan.
KETERAMPILAN MEDIK : Sirkumsisi
DAFTAR PUSTAKA 1. Karakata, S dan Bachsinar, B. 1995; Sirkumsisi, Medan.
2. Bailey, H. 1973; Demonstrations of Physical Signs in Clircal Surgery, 15th. Ed., Hazell, Watson & Viney Lt Aylesbury.
3. Davis, L.; Textbook of Surgery, 9th. Ed., W.B. Sauders Company, Philadelphia, 1969. 4. Junadi, P., dkk. 1982; Kapita Selekta Kedokteran, Ed. Media Aesculapius, FK-UI, Jakarta.
5. Purnomo, B. B,. 2003. Kateterisasi dan sirkumsisi. Dalam buku Dasar-dasar Urologi. Edisi kedua. CV. Sagung Seto. Jakarta.
6. Hafidzin, M. N; 2005. Nilai-Nilai Pendidikan Dalam Khitan Laki-Laki Dan Implementasinya Dalam Pendidikan Anak. Semarang.
7. Anonim. 2007.Circumcision. http://en.wikipedia.org/wiki/Circumcision" Akses : Agustus 2007
8. Pdpersi. 2003. Kebijakan Departemen Kesehatan Terhadap Medikalisasi Sunat perempuan. http://PDPERSI.CO.ID. Akses : 13 Maret 2007
9. Wrana, P. (1939). "Historical review: Circumcision". Archives of Pediatrics 56: 385–392. as quoted in: Zoske, Joseph (Winter 1998). "Male Circumcision: A Gender Perspective". J ournal of Men’s Studies6 (2): 189–208. Retrieved on 2006-06-14.
10. Gollaher, David L. (February 2000). Circumcision: a history of the world’s most controversial surgery. New York, NY: Basic Books, 53–72. ISBN 978-0-465-04397-2 LCCN 99-40015.
11. Beidelman, T. (1987). "CIRCUMCISION". The Encyclopedia of religionVolume 3. Ed. Mircea Eliade. New York, NY: Macmillan Publishers. 511–514. LCCN 86-5432 ISBN 978-0-02-909480-8. Retrieved on 2006-10-03.
7
Laboratorium Keterampilan Medik
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM
12. Ku, J.H.; M.E. Kim, N.K. Lee, and Y.H. Park (2003). "Circumcision practice patterns in South Korea: community based survey" (PDF). Sexually Transmitted Infections79 (1): 65–67. DOI:10.1136/sti.79.1.65. PMID 12576619. Retrieved on 2006-10-03.
13. Xu, F, L Markowitz, M Sternberg, and S Aral (2006). "Prevalence of circumcision in men in the United States: data from the National Health and Nutrition Examination Survey (NHANES), 1999-2002". XVI International AIDS Conference. Retrieved on 2006-09-21.
14. Lee, R.B. (2005). "Circumcision practice in the Philippines: community based study" (PDF). Sexually Transmitted Infections81 (1): 91. DOI:10.1136/sti.2004.009993. PMID 15681733. Retrieved on
2006-10-03.
15. Milos, Marilyn Fayre; Donna Macris (March-April 1992). "Circumcision: A medical or a human rights issue?". J ournal of Nurse-Midwifery 37 (2 S1): S87–S96. DOI:10.1016/0091-2182(92)90012-R. PMID 1573462. Retrieved on 2007-04-06.
16. Schoen, Edgar J (1997). "Benefits of newborn circumcision: is Europe ignoring medical evidence?" ((free registration required)). Archives of Disease in Childhood77 (3): 258-260. PMID 9370910. Retrieved on 2007-04-06.
7
Laboratorium Keterampilan Medik
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM
PENUNTUN PRAKTEK KETERAMPILAN MEDIK
SIRKUMSISI
Rohadi