• Tidak ada hasil yang ditemukan

MEKANISME CEDERA DAN TRAUMA ORGAN LAIN DENGAN PROGNOSIS PADA PASIEN CEDERA KEPALA BERAT

Amelia Sarma1, Kuat Sitepu2, Pitriani3

1Program Studi Profesi Ners, Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam Jln. Sudirman No.38 Lubuk Pakam, Kabupaten Deli Serdang,

Sumatera Utara – Indonesia

*email korespondensi author: [email protected]

Abstrak

Cedera kepala merupakan suatu kondisi terjadinya cedera pada kepala yang dapat menyebabkan kerusakan jaringan otak akibat adanya trauma. Cedera kepala berat mempunyai prognosis yang buruk. Salah satu fakor yang mempengaruhi prognosis cedera kepala berat adalah mekanisme cedera. Cedera karena trauma atau benturan merupakan penyebab kematian utama pada usia di bawah 44 tahun di Amerika Serikat. Bahwa setiap tahunnya di seluruh dunia terdapat sekitar 1,2 juta orang meninggal akibat kecelakaan lalu lintas dan 50 juta lainnya mengalami luka-luka (WHO, 2015). Badan Pusat Statistik Indonesia menjelaskan bahwa angka kecelakaan di Indonesia pada tahun 2013 lebih dari 100.000, sekitar 26.000 warga meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas. Selain korban jiwa, lebih dari 139.000 warga mengalami luka-luka akibat kecelakaan lalu lintas sepanjang tahun 2013.

Kata kunci: Trauma Organ ; Prognosis; Cidera kepala Berat Abstract

Head injury is a condition of injury to the head that can cause damage to brain tissue due to trauma. Severe head injuries have a poor prognosis. One of the factors that influence the prognosis of severe head injury is the mechanism of injury. Injuries due to trauma or impact are the leading cause of death in people under 44 years of age in the United States. That every year around the world around 1.2 million people die from traffic accidents and another 50 million are injured (WHO, 2015). The Indonesian Central Statistics Agency explained that the number of accidents in Indonesia in 2013 was more than 100,000, around 26,000 people died due to traffic accidents. In addition to the fatalities, more than 139,000 residents were injured in traffic accidents throughout 2013.

Keywords: Organ trauma; Proosis; Severe head injury

1. Pendahuluan

Cedera kepala adalah cedera mekanik yang secara langsung atau tidak langsung mengenai kepala yang mengakibatkan luka di kulit kepala, fraktur tulang tengkorak, robekan selaput otak, dan kerusakan jaringan otak itu sendiri, serta mengakibatkan gangguan neurologis (Arifin & Ajid, 2013).

Brain Injury Associattion of America (2013) cedera kepala adalah suatu kerusakan pada kepala, bukan bersifat congenital ataupun degenerative, tetapi disebabkan oleh serangan atau benturan fisik dari luar, yang dapat mengurangi atau mengubah kesadaran yang mana menimbulkan kerusakan kemampuan kognitif dan fungsi fisik. Cedera kepala adalah suatu gangguan traumatik dari fungsi otak yang disertai atau tanpa diikuti terputusnya kontinuitas otak (Padila, 2012).

Mekanisme trauma kepala meliputi (Morton et al., 2012) :

a. Trauma akselerasi yaitu terjadi jika objek bergerak menghantam kepala yang tidak bergerak (misalnya alat pemukul penghantam kepala atau peluru yang di tembakan ke kepala).

b. Trauma deselerasi yaitu terjadi jika kepala yang bergerak membentur objek yang diam, seperti pada kasus jatuh atau tabrakan mobil ketika kepala membentur kaca depan mobil.

Trauma akselerasi-deselerasi sering terjadi pada kasus kecelakaan bermotor dan kekerasan fisik.

c. Trauma coup-contrecoup yaitu terjadi jika kepala terbentur yang menyebabkan otak bergerak dalam ruang kranial dan dengan kuat mengenai area tulang tengkorak yang berlawanan serta area kepala yang pertama kali terbentur. Trauma tersebut juga disebut trauma translasional karena benturan dapat berpindah ke area otak yang berlawanan.

Sebagai contoh apabila seorang pasien dipukul dengan benda tumpul di belakang kepalanya penting untuk mengkaji apakah terdapat trauma pada lobus frontalis dan oksipitalis serta serebelum.

d. Trauma rotasional yaitu terjadi jika benturan/pukulan menyebabkan otak berputar dalam rongga tengkorak yang mengakibatkan peregangan atau robeknya neuron dalam substansi alba serta robeknya pembuluh darah yang memfiksasi otak dengan bagian dalam rongga tengkorak.

2. Metode

Kegiatan pengabdian ini dilakukan melalui seminar dengan menggunakan metode ceramah dan diskusi. Dalam memaparkan materi mengenai Mekanisme Cedera Dan Trauma Organ Lain Dengan Prognosis Pada Pasien Cedera Kepala Berat menggunakan metode ceramah yang dibantu dengan peralatan laptop dan infokus.

Kemudian dilanjutkan dengan metode diskusi agar dapat memahami materi dengan lebih baik dan membangun komunikasi yang lebih intens terhadap peserta seminar.

Langkah-langkah yang digunakan dalam pelaksanaan pengabdian ini adalah sebagai berikut:

1. Langkah 1

Pengabdi meminta ijin di tempat pengabdian dengan menyertakan surat tugas dari Ketua LPPM.

2. Langkah 2

Pengabdi mensosialisakan seputar kegiatan pengabdian kepada peserta seminar.

3. Langkah 3

Pengabdi dan peserta melakukan diskusi dan tanya jawab mengenai Mekanisme Cedera Dan Trauma Organ Lain Dengan Prognosis.

4. Langkah 4

Pengabdi melakukan evaluasi dan tindak lanjut kepada para peserta seminar

3. Hasil dan Pembahasan

Kegiatan pengabdian pada masyarakat ini dilakukan untuk mengedukasi perawat tentang Mekanisme Cedera Dan Trauma Organ Lain Dengan Prognosis. Hasil kegiatan yang telah tercapai dalam pengabdian masyarakat ini adalah:

1. Materi yang disosialisasikan dapat dipahami dan direspon baik oleh peserta seminar.

2. Secara umum peserta memahami materi mengenai Mekanisme Cedera Dan Trauma Organ Lain Dengan Prognosis. Secara umum hasil kegiatan pengabdian masyarakat ini meliputi beberapa aspek sebagai berikut:

1. Aspek tujuan kegiatan

Tujuan Pengabdian masyarakat Mekanisme Cedera Dan Trauma Organ Lain Dengan

Prognosis sudah sangat baik terlaksana, semua persiapan yang direncanakan dapat terlaksana dengan baik dan didukung oleh bukti yang dicatat secara langsung.

2. Aspek target materi

Ketercapaian target materi sudah sangat baik, karena materi telah dapat disampaikan secara keseluruhan.

3. Aspek Kemampuan Peserta

Kemampuan peserta dinilai berdasarkan pemahaman dan kemampuan peserta dalam mengikuti pre test dan post test yang disiapkan.

Beberapa faktor pendukung dan penghambat dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah:

1. Faktor pendukung

a. Adanya dukungan baik dari pihak tempat pengabdian kepada masyarakat dengan tim pelaksana pengabdian.

b. Tersedianya sarana dan prasarana yang memadai.

c. Ketertarikan dan minat peserta dalam mengikuti semua rangkaian kegiatan.

d. Peserta seminar dan tim pengabdi tetap menjalankan porotokol kesehatan.

2. Faktor penghambat

Pelaksanaan kegiatan adalah keterbatasan waktu, sebab pelaksanaan tidak dapat dilakukan dalam durasi yang lebih panjang.

4. Kesimpulan

a) Adanya respon positif dari peserta dengan munculnya pertanyaan dan tanggapan yang diberikan selama kegiatan dan diskusi.

b) Peserta workshop dapat memahami materi terkait Mekanisme Cedera Dan Trauma Organ Lain Dengan Prognosis Pada Pasien Cedera Kepala Berat c) Sebanyak 90% peserta seminar

mengalami peningkatan edukasi mengenai materi yang disampaikan dengan nilai post test yang lebih meningkat dibandingkan dengan nilai pre test.

5. Ucapan Terima Kasih

Pengabdi menyampaikan ucapan terima kasih kepada:

1. Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam

2. Direktur Rumah Sakit Umum Sembiring Deli tua

6. Daftar Pustaka

Andra, S. W., & Yessie, M. P. (2013). KMB 1 Keperawatan Medikal Bedah Keperawatan Dewasa Teori dan Contoh Askep.

Yogyakarta: Nuha Medika.

Baroto, T.B. (2007). Pengaruh Koagulopati Terhadap Glasgow Outcome Scale Penderita Cedera Kepala Berat dengan Gambaran CT Scan Diffuse Injury. Tesis.

Universitas Diponegoro

BPS. (2014). Statistik Transportasi 2013.

Jakarta: Badan Statistik Indonesia

Bruns, J., & Hauser, W.A. (2003).The Epidemiology of traumatic brain injury, A Review. Epilepsia, 44 (Suppl.10): 2-10.

New York: Blackwell Publishing, Inc Cardozo, L.C.M., Silva, R.R.D. (2014). Sepsis

in intensive care unit patients With traumatic brain injury : factors associated

with higher mortality,

http://doi.org/10.5935/0103507X.2014002 2

Djaja, S., Widyastuti, R., Tobing, K., Lasut, D.,

& Irianto, J. (2016). Gambaran Kecelakaan Lalu Lintas Di Indonesia , Tahun 2010-2014 Description of Traffic Accident in Indonesia, Year 2010-2014, 2007 30–42.

Ehsaei, M. R., Sarreshtedar, A., Ashraf, H., &

Karimiani, E. G. (2014). Trauma Mortality : Using Injury Severity Score ( ISS ) for Survival Prediction in East of Iran.

Razavi International Journal Medicine http://doi.org/10.5812/rijm.15189 Faul, M., Xu, L., Wald, M.M., Coronado.

Fithrah, B. A., Oetoro, B. J., Umar, N., & Saleh, S. C. (2016). Perdarahan Berulang Pascakraniotomi pada Pasien Cedera Kepala Ringan Recurrent Post Craniotomy Hemorrhage in Patient with Mild Head Injury, 5(3), 173–179.

Hemingway, H., Croft, P., Hayden, J. A., Abrams, K., Timmis, A., Briggs, A.,

… Riley, R. D. (2013). Prognosis research strategy (PROGRESS) 1: A,

5595(February), 1–11.

http://doi.org/10.1136/bmj.e5595

Japardi, Iskandar. (2004). Cedera Kepala Memahami Aspek-Aspek Penting dalam Pengelolaan Penderita Cedera Kepala.

Medan: PT Bhuana Ilmu Populer Kelompok Gramedia

Karbakhsh, Zandi, Rouzrokh, Zarei. (2009).

Injury Epidiomology in Kermanshah:the National Trauma Project in Islamic Republic of Iran. Eastern Mediterranean Health Journal 15 (1):57-63.

Lund, S. B., Gjeilo, K. H., Moen, K. G., Schirmer-mikalsen, K., Skandsen, T., &

Vik, A. (2016). Moderate traumatic brain injury, acute phase course and deviations in physiological variables : an observational study. Scandinavian Journal of Trauma, Resuscitation and Emergency

Medicine, 1–8.

http://doi.org/10.1186/s13049-016- 0269-5 Mina, A. A., Knipfer, J. F., Park, D. Y., Bair, H. A., Howells, G. A., & Bendick, P. J.

(2002). Intracranial Complications of Preinjury Anticoagulation in Trauma Patients with Head Injury. The Journal Of Trauma.http://doi.org/10.1097/01.TA.000 00

Morton,et al. (2012). Keperawatan kritis pendekatan asuhan holistik. Vol.1. Jakarta:

kedokteran EGC

Nasution, S. H. (2014). Mild Head Injury.Medula.Vol.2: 4. Lampung:

Fakultas Kedokteran Universitas Lampung.

Noor, Zairin. (2012). Buku Ajar Gangguan Muskuloskeletal. Edisi 2.Jakarta: Salemba Medika

V.G. (2010). Traumatic Brain Injury in The United States. Emergency Department Visits, Hospitalizations and Deaths 2002–2006.

Atlanta (GA): Centers for Disease Control and Prevention National Center for Injury

Prevention and Control

Dokumen terkait