• Tidak ada hasil yang ditemukan

ISSN : Volume 8 No.1 Januari Juni 2018 Diterbitkan Oleh : Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ISSN : Volume 8 No.1 Januari Juni 2018 Diterbitkan Oleh : Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam"

Copied!
36
0
0

Teks penuh

(1)

1

ISSN : 2089 8193

Volume 8 | No.1 | Januari – Juni 2018

Diterbitkan Oleh :

Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam www.medistra.ac.id

E-mail : [email protected]

(2)

2

Volume: 8, No: 1 Januari – Juni 2018

KESTRA-NEWS

ISSN: 2089-8193

JURNAL ILMIAH INKES MEDISTRA LUBUK PAKAM

DAFTAR ISI

1. Workshop Pemberian Massage dan Kegel Exercise Pada Pasien Lansia Dengan Inkontinensia Urine.

Rahmad Gurusinga, Fredy Kalvind Tarigan, Tiurma Siringo ringo ...1-3

2. Workshop Pemberian Mc Kenzie Exercise dan Core Stability Exercise Untuk Aktivitas Fungsional Pasien Nyeri Punggung Bawah.

Tati Murni Karo-Karo, Nurhamida Pohan, Dwi Astuti ...4-6

3. Workshop Cedera Kepala Dengan Dosirirntasi Pada Pasien Kecelakaan Lalu Lintas.

Arfah May Syara, Darwin Tamba, Elfrida Simanjuntak ...7-9

4. Edukasi Terapi Oksigenasi Nasal Prong Untuk Perubahan Saturasi Oksigen Pasien Cidera Kepala.

Syatriawati, Nyi Nyoman Ayu Tamala Hardis, Mila Gustia ... 10-12

5. Workshop Tekhnik Distraksi Bercerita Pada Nyeri Anak Usia Prasekolah Pada Saat Pemasangan Infus .

Kardina Hayati, Nora Ervina Sembiring, Amelia Sarma3 ... 13-16

6. Seminar Pemasangan NGT dengan Infeksi pada Pasien dengan Trauma Nasal.

Elfrida Simanjuntak, Anita Sriganda Ria Purba, Arfah May Syara ... 17-20

7. Seminar Dukungan Keluarga Dengan Pelaksanaan Ambulasi Dini Pada Pasien Pasca Operasi Fraktur Eksttremitas Bawah.

Ongku Bosar Hasibuan, Ruttama Hutahuruk, Leni Sumiati Silaban ... 21-23

8. Pelatihan Tentang Balut Bidai Pada Korban Patah Tulang Untuk Tingkat Pengetahuan Dan Keterampilan Pada Perawat.

Fredy Kalvind Tarigan, Kardina Hayati, Dian Anggri Yanti ... 24-26

9. Sosialisasi Early Warning Score Dalam Deteksi Kegawatdaruratan.

Ruttama Hutahuruk, Sarmana, Amriani Eva Perawaty Silalahi ... 27-29

10. Mekanisme Cedera Dan Trauma Organ Lain Dengan Prognosis Pada Pasien Cedera Kepala Berat.

Amelia Sarma, Kuat Sitepu, Pitriani ... 30-33

INSTITUT KESEHATAN MEDISTRA

LUBUK PAKAM

(3)

WORKSHOP PEMBERIAN MASSAGE DAN KAGEL EXERCISE PADA PASIEN LANSIA DENGAN INKONTINENSIA URINE

Rahmad Gurusinga1, Fredy Kalvind Tarigan2, Tiurma Siringo ringo3 Program Studi Profesi Ners, Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam

Jln. Sudirman No.38 Lubuk Pakam, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara – Indonesia

*email korespondensi author: [email protected]

Abstrak

Aging process biasanya ditandai dengan adanya perubahan fisik biologis,mental atau pun spikososial.Perubahan fisik yang terjadi biasanya adalah adanya penurunan sel, sistem pendengaran,sistem kardiovaskuler, penurunan sistem persyarafan, sistem pengaturan temperature tubuh, sistem respirasi, sistem endokrin,sistem kulit,sistem penglihatan system musculoskeletal.

Perubahan fisik tersebut berpotensi menimbulkan masalah kesehatan secara umum maupun kesehatan jiwa secara khusus pada lanjut usia.Dari perubahan-perubahan yang terjadi pada usia tersebut, perubahan pada sistem perkemihan atau sistem urinaria secara potensial memiliki tingkat kepentingan yang cukup besar. Masalah yang terjadi seperti inkontiensia urin tidak disebabkan langsung oleh proses penuaan, adanya pemicu terjadinya inkontinensia pada lanjut usia yaitu dimana kondisi yang sering terjadi pada usia lanjut yang dikombinasikan dengan perubahan terkait usia dalam system urinaria. Angka pada kejadian inkontinensia urin bervariasi antara satu Negara dengan Negara lainnya. WHO menyebutkan bahwa sekitar 20 juta penduduk di seluruh dunia mengalami inkontinensia urin, tetapi angka sebenarnya tidak diketahui karena banyak kasus yang tidak dilaporkan. Lebih dari 12 juta orang diperkirakan mengalami inkontinensia urin di Amerika, hal ini dapat dialami pada semua usia baik pria maupun wanita dari semua status sosial. Sedangkan di 11 Negara Asia termasuk Indonesia ditemukan 5.052 laki-laki yang menghadapi problem inkontinensia urin Sekitar 15-30% individu yang mengalami inkontinensia urin diperkirakan berusia lebih dari 60 tahun.

Kata kunci: Pemberian massage; Exercise ; Inkontinensia Urine Abstract

The aging process is usually characterized by physical, biological, mental or psychosocial changes. The physical changes that occur are usually a decrease in cells, the auditory system, the cardiovascular system, a decrease in the nervous system, the body temperature regulation system, the respiratory system, the endocrine system, the skin system, and the nervous system. vision of the musculoskeletal system. These physical changes have the potential to cause health problems in general and mental health in particular in the elderly. From the changes that occur at that age, changes in the urinary system or urinary system have a potential level of considerable importance. Problems that occur such as urinary incontinence are not caused directly by the aging process, there are triggers for incontinence in the elderly, which is a condition that often occurs in old age combined with age-related changes in the urinary system. The incidence of urinary incontinence varies from country to country.

WHO states that around 20 million people worldwide experience urinary incontinence, but the actual figure is unknown because many cases go unreported. More than 12 million people are estimated to experience urinary incontinence in America, it can be experienced at all ages, both men and women of all social status. Meanwhile, in 11 Asian countries, including Indonesia, it was found that 5,052 men had urinary incontinence. Around 15-30% of individuals with urinary incontinence were estimated to be over 60 years old.

Keywords: Giving massage; Exercises; Urinary Incontinence

(4)

1. Pendahuluan

Aging process biasanya ditandai dengan adanya perubahan fisik biologis,mental atau pun spikososial.Perubahan fisik yang terjadi biasanya adalah adanya penurunan sel, sistem pendengaran,sistem kardiovaskuler, penurunan sistem persyarafan, sistem pengaturan temperature tubuh, sistem respirasi, sistem endokrin,sistem kulit,sistem penglihatan system musculoskeletal.

Perubahan fisik tersebut berpotensi menimbulkan masalah kesehatan secara umum maupun kesehatan jiwasecara khusus pada lanjut usia (Aspiani, R.Y, 2014).

Dari perubahan-perubahan yang terjadi pada usia tersebut, perubahan pada sistem perkemihan atau sistem urinaria secara potensial memiliki tingkat kepentingan yang cukup besar. Masalah yang terjadi seperti inkontiensia urin tidak disebabkan langsung oleh proses penuaan, adanya pemicu terjadinya inkontinensia pada lanjut usia yaitu dimana kondisi yang sering terjadi pada usia lanjut yang

dikombinasikan dengan perubahan terkait usia dalam system urinaria. Angka pada kejadian inkontinensia urin bervariasi antara satu Negara dengan Negara lainnya.

WHO menyebutkan bahwa sekitar 20 juta penduduk di seluruh dunia mengalami inkontinensia urin, tetapi angka sebenarnya tidak diketahui karena banyak kasus yang tidak dilaporkan. Lebih dari 12 juta orang diperkirakan mengalami inkontinensia urin di Amerika, hal ini dapat dialami pada semua usia baik pria maupun wanita dari semua status sosial. Sedangkan di 11 Negara Asia termasuk Indonesia ditemukan 5.052 laki-laki yang menghadapi issue inkontinensia urin Sekitar 15-30% individu yang mengalami inkontinensia urin diperkirakan berusia lebih dari 60 tahun (Kementrian Kesehatan RI, 2013).

Berdasarkanhasil Sensus Penduduk 2010,secara umum jumlah penduduk lansiai Indonesia sebanyak18,04 juta orang atau7,59 persen dari keseluruhan penduduk. Jumlah penduduk lansia perempuan(9,75 juta orang) lebih banyak dari jumlah penduduk lansia laki- laki(8,29 juta orang). Sebarannyajauh lebih banyak di daerah perdesaan (10,36 juta orang) dibandingkan didaerah perkotaan (7,69 juta orang). Adapun intervensi fisioterapi yang digunakan untuk menangani kasus

inkontinensia urin adalah dengan pemberian massage, kegelexercise. Latihan otot dasar panggul yang pertama kali dikembangkan tahun1940 oleh Dr. Arnold kegel untuk mengatasi inkontinensia urin dapat digunakan untuk menguatkan otot dasar panggul.

2. Metode

Kegiatan pengabdian ini dilakukan melalui seminar dengan menggunakan metode ceramah dan diskusi. Dalam memaparkan materi mengenai Pemberian Massage dan Kegel Exercise pada Pasien Lansia dengan Inkontinensia Urine di Rumah Sakit Umum Sembiring Deli Tua, dengan menggunakan peralatan laptop dan infokus. Kemudian dilanjutkan dengan metode diskusi agar dapat memahami materi dengan lebih baik dan membangun komunikasi yang lebih intens terhadap peserta seminar sehingga peserta memahami materi yang disampaikan dan memberikan latihan dan demonstrasi pemberian massage kagel exercise

Langkah-langkah yang digunakan dalam pelaksanaan pengabdian ini adalah sebagai berikut

1. Langkah 1

Pengabdi meminta ijin di tempat pengabdian dengan menyertakan surat tugas dari Ketua LPPM.

2. Langkah 2

Pengabdi mensosialisakan seputar kegiatan pengabdian kepada peserta seminar.

3. Langkah 3

Pengabdi dan peserta melakukan diskusi dan tanya jawab mengenai Massage dan Kegel Exercise serta memberikan demonstrasi dan latihan seputar massage kagel exercise.

4. Langkah 4

Pengabdi melakukan evaluasi dan tindak lanjut kepada para peserta seminar.

3. Hasil dan Pembahasan

Kegiatan pengabdian pada masyarakat ini dilakukan untuk mengedukasi Pemberian Massage dan Kegel Exercise pada Pasien Lansia dengan Inkontinensia Urine. Hasil kegiatan yang telah tercapai dalam pengabdian masyarakat ini adalah:

(5)

1. Materi yang disosialisasikan dapat dipahami dan direspon baik oleh peserta seminar.

2. Secara umum peserta memahami materi mengenai hubungan Pemberian Massage dan Kegel Exercise pada Pasien Lansia dengan Inkontinensia Urine Secara umum hasil kegiatan pengabdian masyarakat ini meliputi beberapa aspek sebagai berikut:

1. Aspek tujuan kegiatan

Tujuan Pengabdian masyarakat mengenai Pemberian Massage dan Kegel Exercise pada Pasien Lansia dengan Inkontinensia Urine sudah sangat baik terlaksana, semua persiapan yang direncanakan dapat terlaksana dengan baik dan didukung oleh bukti yang dicatat secara langsung.

2. Aspek target materi

Ketercapaian target materi sudah sangat baik, karena materi telah dapat disampaikan secara keseluruhan.

3. Aspek Kemampuan Peserta

Kemampuan peserta dinilai berdasarkan pemahaman dan kemampuan peserta dalam mengikuti pre test dan post test yang disiapkan.

Beberapa faktor pendukung dan penghambat dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah:

1. Faktor pendukung

a. Adanya dukungan baik dari pihak b. tempat pengabdian kepada masyarakat

dengan tim pelaksana pengabdian.

c. Tersedianya sarana dan prasarana yang memadai.

d. Ketertarikan dan minat peserta dalam mengikuti semua rangkaian kegiatan.

e. Peserta seminar dan tim pengabdi tetap menjalankan porotokol kesehatan.

2. Faktor penghambat

Pelaksanaan kegiatan adalah keterbatasan waktu, sebab pelaksanaan tidak dapat dilakukan dalam durasi yang lebih panjang.

4. Kesimpulan

1. Adanya respon positif dari peserta dengan munculnya pertanyaan dan tanggapan yang diberikan selama kegiatan dan diskusi.

2. Sebanyak 98% peserta seminar mengalami peningkatan edukasi mengenai materi yang disampaikan dengan nilai post test yang lebih meningkat dibandingkan dengan nilai pre test.

5. Ucapan Terima Kasih

Pengabdi menyampaikan ucapan terima kasih kepada:

1. Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam

2. Direktur Rumah Sakit Grandmed Lubuk Pakam.

6. Daftar Pustaka

Agoes, Anzwar, Achidiat dan Agoes.

Arizal. (2011) Penyakit di Usia Lanjut.

Jakarta: penerbit buku kedokteran.

EGC.

Arikunto, Suharsimi. (2013). Manajement Penelitian. Jakarta : PT Rineka Cipta Arikunto, S. 2010. Prosedur Penelitian

suatu Pendekatan Praktik. Jakarta:

Rineka Cipta.

Aspiani, R.Y. (2014). Buku Ajar Asuhan Keperawatan Gerontik. Jakarta: Trans Info Medi

Azizah (2011). Keperawatan

lanjutusia.Yogyakarta: Graha ilmu.

Badan Pusat Statistik. 2013. Data Perkembangan Lansia. Jakarta

BPS.Brown, etal. (2012). The sensitivity and Specificity of a Symple Test to Distinguish Between Urge and Stress Urinary Inkontinance. Annals of Internal Medicine, Vol 144, 715-723.

Kusharyadi & Setyohadi. (2011). Terapi Modalitas Keperawatan pada Klien Psikogeriatrik. Jakarta: Salemba Medika

Sayılan and A. Özba, 2018. ―The Effect of Pelvic Floor Muscle Training On Incontinence Problems After Radical Prostatectomy,‖ Am. J. Men’s Heal., vol. Vol. 12(4), no. 39

(6)

WORKSHOP PEMBERIAN MC KENZIE EXERCISE DAN CORE STABILITY EXERCISE UNTUK AKTIVITAS FUNGSIONAL PASIEN NYERI PUNGGUNG

BAWAH

Tati Murni Karo Karo1, Nurhamida Pohan2, Dwi Astuti3

1Program Studi Profesi Ners, Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam Jln. Sudirman No.38 Lubuk Pakam, Kabupaten Deli Serdang,

Sumatera Utara – Indonesia

*email korespondensi author: [email protected]

Abstrak

Nyeri punggung bawah (NPB) miogenik merupakan nyeri yang berkaitan dengan bagaimana tulang, ligamen dan otot punggung bekerja. Nyeri tersebut akan menjadi masalah bila mempengaruhi cara kita menjalani atau mengganggu aktifitas sehari-hari dalam kehidupan. Terdapat berbagai macam modalitas intervensi fisioterapi dalam upaya penanganan NPB, salah satunya adalah “Back Exercise”, diantaranya yaitu McKenzie Exercise. Dalam perkembangannya, terdapat suatu metode yang terkenal dengan “Core stabiliy exercise” (CSE). CSE merupakan aktivasi sinergis yang meliputi otot-otot bagian dalam dari trunk yakni otot core (inti). Penanganan yang dilakukan untuk mengurangi rasa yeri pada aerah punggung bawah maka dapat dilakukan dengan cara Mc. Kenzie Exercise dan Core Stability Exercise. Mc. Kenzie Exercise. Di Negara maju Seperti di Negara Amerika Serikat angka kejadian yang mengalami nyeri pada daerah punggung bawah dalam kurun waktu satu tahun terakhir adalah 15%-20%, sedangkan angka kejadian berdasarkan kunjungan pasien ke poliklinik dan dokter sekitar 14,3%. Di Afrika dari hasil penelitian yang dilakukan didapatkan data bahwa remaja mengalami nyeri punggung bawah dilakukan di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto Jakarta, angka kejadian nyeri punggung bawah didapat 24,4% dan rasa nyeri punggung bawah ini akan bertambah sesuai dengan penambahan usia masing- masing pasien yang mengalami nyerinya.

Kata kunci: Mc. Kenzie Exercise ; Core Stability Exercise ; Nyeri Punggung Bawah

Abstract

Myogenic low back pain (LBP) is pain related to how the bones, ligaments and muscles of the back work. The pain will be a problem if it affects the way we live or interfere with daily activities in life. There are various modalities of physiotherapy intervention in an effort to treat LBP, one of which is "Back Exercise", including the McKenzie Exercise. In its development, there is a method known as "Core stability exercise" (CSE). CSE is a synergistic activation that includes the deep muscles of the trunk, namely the core muscles. Handling that is done to reduce pain in the lower back area can be done by Mc. Kenzie Exercise and Core Stability Exercise. Mc. Kenzie Exercise. In developed countries As in the United States, the incidence rate of experiencing pain in the lower back area in the last one year is 15%-20%, while the incidence rate based on patient visits to polyclinics and doctors is around 14.3%. In Africa, from the results of research conducted, it was found that data on adolescents experiencing low back pain was carried out at the Gatot Subroto Army Central Hospital, Jakarta, the incidence of low back pain was 24.4% and this low back pain will increase according to the age of each individual. each patient experiencing pain.

Keywords: Mc. Kenzie Exercise ; Core Stability Exercises ; Lower Back Pain

(7)

1. Pendahuluan

Prinsip latihan McKenzie adalah memperbaiki postur untuk mengurangi hiperlordosis lumbal. Sedangkan secara operasional pemberian latihan untuk penguatan otot punggung bawah ditujukan untuk otot-otot fleksor dan untuk peregangan ditujukan untuk otot-otot ektensor punggung (McKenzie, 2008; Jumiati, 2015).

Model core stability exercise didasarkan pada stabilitas tulang belakang tergantung pada kontribusi otot. Dengan kata lain aktivitas otot diperlukan untuk mempertahankan posisi tulang belakang.

Menurut Pulat (2006) dalam Rivai (2014), di Uni Eropa sebesar 25-27% dari pekerja Eropa mengeluh sakit punggung dan 23%

nyeri otot. Sedangkan di Indonesia sendiri berdasarkan data dari hasil studi Departemen Kesehatan tahun 2005, menunjukkan bahwa sekitar 40,5% penyakit yang diderita pekerja sehubungan dengan pekerjaannya.

Rahim (2012) juga berpendapat bahwa nyeri punggung adalah keluhan yang umum dijumpai di masyarakat dan diperkirakan mengenai 65% dari seluruh populasi. Seperti yang terjadi pada pekerja usaha konveksi (penjahit) di Dukuh Tebon Gede Desa Tambong Wetan, Kecamatan Kalikotes, Kabupaten Klaten. Berdasarkan studi pendahuluan melalui observasi dan wawancara dengan kuesioner Nordic Body Map dan pemeriksaan nyeri dengan VAS (Visual Analogue Scale) pada sepuluh penjahit di lokasi tersebut, didapatkan adanya keluhan nyeri punggung bawah setelah bekerja dengan nilai nyeri tertinggi yaitu 6,3 cm (nyeri kuat) dan hanya diberikan minyak urut apabila keluhan tersebut benar-benar mengganggu aktifitasnya. Penjahit di lokasi tersebut melakukan aktifitas pekerjaannya pada posisi duduk membungkuk, dengan jam kerja yaitu 8 jam per hari dengan masa kerja > 5 tahun.

2. Metode

Kegiatan pengabdian ini dilakukan melalui seminar dengan menggunakan metode ceramah diskusi, dan Demonstrasi. Dalam memaparkan materi mengenai Pemberian Workshop Pemberian Mc Kenzie Exercise dan Core Stability Exercise Untuk Aktivitas Fungsional Pasien Nyeri Punggung Bawah di RS Grandmed Lubuk Pakam ini menggunakan metode ceramah yang dibantu dengan

peralatan laptop dan infokus. Kemudian dilanjutkan dengan metode diskusi agar dapat memahami materi dengan lebih baik dan membangun komunikasi yang lebih intens terhadap peserta seminar, dan pengabdi mendemonstrasikan SOP/ Teknik pemberian MC Kenzie dan Core Stability Exercise untuk pasien Nyeri Punggung.

Langkah-langkah yang digunakan dalam pelaksanaan pengabdian ini adalah sebagai berikut

1. Langkah 1

Pengabdi meminta ijin di tempat pengabdian dengan menyertakan surat tugas dari Ketua LPPM.

2. Langkah 2

Pengabdi mensosialisasikan seputar kegiatan pengabdian kepada peserta seminar.

3. Langkah 3

Pengabdi dan peserta melakukan diskusi dan tanya jawab mengenai Mc Kenzie Exercise dan Core Stability Exercise.

4. Langkah 4

Pengabdi Memberikan SOP / mendemonstrasikan Teknik Pemberian MC Kenzie Exercise dan Core Stability untuk Aktivitas Fungsional Pasien Nyeri Punggung Bawah

5. Langkah 5

Pengabdi melakukan evaluasi dan tindak lanjut kepada para peserta seminar.

3. Hasil dan Pembahasan

Kegiatan pengabdian pada masyarakat ini dilakukan untuk mengedukasi Pemberian Mc Kenzie Exercise dan Core Stability Exercise Untuk Aktivitas Fungsional Pasien Nyeri Punggung Bawah. Hasil kegiatan yang telah tercapai dalam pengabdian masyarakat ini adalah:

1. Materi yang disosialisasikan dapat dipahami dan direspon baik oleh peserta seminar.

2. Secara umum peserta memahami materi mengenai hubungan Pemberian Mc Kenzie Exercise dan Core Stability Exercise Untuk Aktivitas Fungsional Pasien Nyeri Punggung Bawah Secara umum hasil

(8)

kegiatan pengabdian masyarakat ini meliputi beberapa aspek sebagai berikut:

1. Aspek tujuan kegiatan

Tujuan Pengabdian masyarakat mengenai Pemberian Mc Kenzie Exercise dan Core Stability Exercise Untuk Aktivitas Fungsional Pasien Nyeri Punggung Bawah sudah sangat baik terlaksana, semua persiapan yang direncanakan dapat terlaksana dengan baik dan didukung oleh bukti yang dicatat secara langsung.

2. Aspek target materi

Ketercapaian target materi sudah sangat baik, karena materi telah dapat disampaikan secara keseluruhan.

3. Aspek Kemampuan Peserta

Kemampuan peserta dinilai berdasarkan pemahaman dan kemampuan peserta dalam mengikuti pre test dan post test yang disiapkan.

Beberapa faktor pendukung dan penghambat dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah:

3. Faktor pendukung

a. Adanya dukungan baik dari pihak tempat pengabdian kepada masyarakat dengan tim pelaksana pengabdian.

b. Tersedianya sarana dan prasarana yang memadai.

c. Ketertarikan dan minat peserta dalam mengikuti semua rangkaian kegiatan.

d. Peserta seminar dan tim pengabdi tetap menjalankan porotokol kesehatan.

4. Faktor penghambat

Pelaksanaan kegiatan adalah keterbatasan waktu, sebab pelaksanaan tidak dapat dilakukan dalam durasi yang lebih panjang.

4. Kesimpulan

a) Adanya respon positif dari peserta dengan munculnya pertanyaan dan tanggapan yangdiberikanselama kegiatan dan diskusi.

b) Sebanyak98%pesertaseminarmengala mi peningkatan edukasi mengenai materi yang disampaikan dengan nilai post test yang lebih meningkat dibandingkan dengan nilai pre test.

5. Ucapan Terima Kasih

Pengabdi menyampaikan ucapan terima kasih kepada:

1. Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam

2. Direktur Rumah Sakit Umum Sembiring Deli Tua

6. Daftar Pustaka

Jumiati, J. 2015. Penambahan Core Stabilization Exercise Lebih Menurunkan Disabilitas Di Bandingkan Dengan Penambahan Latihan Metode Mckenzie Pada Traksi Manipulasi Penderita Nyeri Pinggang Bawah Mekanik Di Kota Yogyakarta. Tesis. Denpasar: Program Pascasarjana Studi Fisiologi Olahraga Universitas Udayana

Meliawan S. (2013). Diagnosis dan Tatalaksana HNP Lumbal. Dalam : Diagnosis dan Tatalaksana Kegawat Daruratan Tulang Belakang. Jakarta.

Sagung Seto.

McKenzie, R. dan Craig Kubey. 2000. Steps To A Pain-Free Life. New York: Dutton Book Published by Penguin Group

Moldovan, M. 2012. Therapeutic Considerations and Recovery in Low Back Pain: Williams versus McKenzie.

Quinn. Elizabeth. (2013). It's More Than Just Abs It's More Than Just Abs. Available Timişoara Physical Education and

Rehabilitation Journal. Volume 05 Issue 09. Physical Education and Sport Faculty West University of Timișoara.

Pramita, I. 2014. Core Stability Exercise Lebih Baik Meningkatkan Aktivitas Fungsional Pada William’s Flexion Excercise Pada Pasien Nyeri Punggung Bawah Miogenik.

Tesis. Denpasar: Program Pascasarjana Studi Fisiologi Olahraga Universitas Udayana.

(9)

WORKSHOP CEDERA KEPALA DENGAN DISORIENTASI PADA PASIEN KECELAKAAN LALU LINTAS

Arfah May Syara1, Darwin Tamba2, Elfrida Simanjuntak3 Program Studi Profesi Ners, Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam

Jln. Sudirman No.38 Lubuk Pakam, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara – Indonesia

*email korespondensi author: [email protected]

Abstrak

kecelakaan lalu lintas menjadi penyebab kematian ke-10 di dunia dengan jumlah kematian 1,21 juta (2,1%) dan Menurut Profil Kesehatan Indonesia tahun 2008 cedera merupakan penyebab kematian utama keempat (6,5%) untuk semua umur setelah Stroke, TB, dan Hipertensi. Pada pola 10 penyakit penyebab kematian terbanyak di rumah sakit pada pasien rawat jalan cedera menempati urutan keenam, sedangkan pada pasien rawat inap menempati urutan keempat. Dalam studi kasus yang peneliti dapat dalam buku keperawatan kritis, ada kisah nyata seorang superfisor adiministrasi therapeutic bedah yang mendapat laporan seorang bapak mengalami cedera kepala yang serius.

Menurut petugas ia memiliki orientasi orang, tempat, waktu yang baik (a + x 3). Tingkat kesadaran TTV dan respon motoric maupun pupil semuanya dalam rentang normal. Namun tatapannya tidak focus hingga dicurigai dapat mempengaruhui neurologisnya. Dari studi kasus diatas dapat dilihat bahwa cedera kepala dapat mempengaruhi orientasi dan neurologis pasien jika tidak segera di tindak lanjuti oleh tenaga medis.

Kata kunci: Cidera Kepala; Disorientasi Kecelakaan Lalu Lintas Abstract

Traffic accidents cause the world's 10th death toll of 1.21 million (2.1%) and according to the Indonesia health profile of 2008 gedera. It is the fourth major cause of death (6.5%) for all age after stroke, and bada hypectention, the 10-pain pattern that causes the tectecnial death, the lolojack injured take sixth place, and the loinpatient takes fourth. In case studies that researchers were receiving from the control control book, ayata, a supetfisor radiating nedical surgery, was reported that a father was receiving a serious cdera. According to the officer he has an orientation people, a good time spot (a +0x3) TTV and motoric and pupil consciousness all in normal tick. But instead of focusing on the suspects can affect his neurologic. The above case studies show that a simple head can affect the orientation and aeurologic of patients if not immediately follow up by the medical examiner.

Keywords: Head Injury; Traffic Accidents Do

(10)

1. Pendahuluan

Menurut World Health Organization (WHO) Tahun 2008, kecelakaan lalu lintas menjadi penyebab kematian ke-10 di dunia dengan jumlah kematian 1,21 juta (2,1%) dan Menurut Profil Kesehatan Indonesia tahun 2008 cedera merupakan penyebab kematian utama keempat (6,5%) untuk semua umur setelah Stroke, TB, dan Hipertensi. Pada pola 10 penyakit penyebab kematian terbanyak di rumah sakit pada pasien rawat jalan cedera menempati urutan keenam, sedangkan pada pasien rawat inap menempati urutan keempat (Damanik., 2011).

Dalam studi kasus dalam buku keperawatan kritis, ada kisah nyata seorang superfisor adiministrasi medical bedah yang mendapat laporan seorang bapak mengalami cdera kepala yang serius. Menurut petugas ia memiliki orientasi orang, tempat, waktu yang baik (a + x 3). Tingkat kesadaran TTV dan respon motoric maupun student semuanya dalam rentang normal. Namun tatapannya tidak focus hingga dicurigai dapat mempengaruhu neurologisnya. Dari studi kasus diatas dapat dilihat bahwa cedera kepala dapat mempengaruhi orientasi dan neurologis pasien jika tidak segera di tindak lanjuti oleh tenaga medis.

Orientasi adalah proses dimana seseorang menyadari lingkungan sekelilingnya serta menempatkan dirinya secara mental dalam hubungan dengannya. Disorientasi adalah ketidaksanggupan seseorang untuk mengetahui posisi dirinya dalam hubungannya dengan waktu tempat, atau benda-benda tertentu di lingkungannya.

Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis tertarik menyusun Laporan Pengabdian Kepada Masyarakat tentang

“Workshop Cedera Kepala Dengan Dosirirntasi Pada Pasien Kecelakaan Lalu Lintas”

2. Metode

Kegiatan pengabdian ini dilakukan melalui seminar dengan menggunakan metode ceramah dan diskusi. Dalam memaparkan materi mengenai Pemberian Workshop Cedera Kepala Dengan Dosirirntasi Pada Pasien Kecelakaan Lalu Lintas di Rumah Sakit Grandmed Lubuk Pakam ini menggunakan metode ceramah yang dibantu dengan peralatan laptop dan infokus.

Kemudian dilanjutkan dengan metode diskusi agar dapat memahami materi dengan lebih baik

dan membangun komunikasi yang lebih intens terhadap peserta seminar.

Langkah-langkah yang digunakan dalam pelaksanaan pengabdian ini adalah sebagai berikut

1. Langkah 1

Pengabdi meminta ijin di tempat pengabdian dengan menyertakan surat tugas dari Ketua LPPM.

2. Langkah 2

Pengabdi mensosialisasikan seputar kegiatan pengabdian kepada peserta seminar.

3. Langkah 3

Pengabdi dan peserta melakukan diskusi dan tanya jawab mengenai Cedera Kepala Dengan Dosirirntasi Pada Pasien Kecelakaan Lalu Lintas.

4. Langkah 4

Pengabdi melakukan evaluasi dan tindak lanjut kepada para peserta seminar

3. Hasil dan Pembahasan

Kegiatan pengabdian pada masyarakat ini dilakukan untuk mengedukasi Pemberian Cedera Kepala Dengan Dosirirntasi Pada Pasien Kecelakaan Lalu Lintas. Hasil kegiatan yang telah tercapai dalam pengabdian masyarakat ini adalah:

1. Materi yang disosialisasikan dapat dipahami dan direspon baik oleh peserta seminar.

2. Secara umum peserta memahami materi mengenai hubungan Pemberian Cedera Kepala Dengan Dosirirntasi Pada Pasien Kecelakaan Lalu Lintas Secara umum hasil kegiatan pengabdian masyarakat ini meliputi beberapa aspek sebagai berikut:

1. Aspek Tujuan Kegiatan

Tujuan Pengabdian masyarakat mengenai Pemberian Cedera Kepala Dengan Disorientasi Pada Pasien Kecelakaan Lalu Lintas sudah sangat baik terlaksana, semua persiapan yang direncanakan dapat terlaksana dengan baik dan didukung oleh bukti yang dicatat secara langsung.

2. Aspek target materi

Ketercapaian target materi sudah sangat baik, karena materi telah dapat disampaikan secara keseluruhan.

(11)

3. Aspek Kemampuan Peserta

Kemampuan peserta dinilai berdasarkan pemahaman dan kemampuan peserta dalam mengikuti pre test dan post test yang disiapkan.

Beberapa faktor pendukung dan penghambat dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah:

1. Faktor pendukung

a. Adanya dukungan baik dari pihak tempat pengabdiankepada masyarakat dengan tim pelaksana pengabdian.

b. Tersedianya sarana dan prasarana yang memadai.

c. Ketertarikan dan minat peserta dalam mengikuti semua rangkaian kegiatan.

d. Peserta seminar dan tim pengabdi tetap menjalankan porotokol kesehatan.

2. Faktor penghambat

Pelaksanaan kegiatan adalah keterbatasan waktu, sebab pelaksanaan tidak dapat dilakukan dalam durasi yang lebih panjang.

4. Kesimpulan

a) Adanya respon positif dari peserta dengan munculnya pertanyaan dan tanggapan yang diberikan selama kegiatan dan diskusi.

b) Sebanyak 90% peserta seminar mengalami peningkatan edukasi mengenai materi yang disampaikan dengan nilai post test yang lebih meningkat dibandingkan dengan nilai pre test.

5. Ucapan Terima Kasih

Pengabdi menyampaikan ucapan terima kasih kepada:

1. Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam

2. Direktur Rumah Sakit Grandmed 6. Daftar Pustaka

Astarina Widya. 2014. Kamus Keperawatan Lengkap . Serba Jaya Jakarta

Balitbang Kesehatan RI. 2010. Hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) Indonesia Tahun 2007. CV Kiat Nusa, Jakarta.

Boughman C. Diane & Hackley C. JoAnn 2007. Keperawatan Medikal Bedah

http://eprints.ung.ac.id/12166/2/2015- 1-1-14201-841411007-bab1

Cynthia L. Terry & Aurora Weaver., 2013.

Keperawatan Kritis. Rapha Publising Yogyakarta.

Damanik, R. P. 2011. Karakteristik Penderita Cedera Kepala Akibat Kecelekaan Lalu Lintas

Price SA, Wilson LM. Anatomi dan Fisiologi Sistem Saraf. di dalam : Pendit BU, Hartanto H, Wulansari P, Mahanani DA, 2005. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, 6th ed.

Jakarta : EGC.

Sidharta, Priguna. 2009. Neurologi Klinis Dalam Praktek Umum. Penerbit : Dian Rakyat. Jakarta.

Trisnawati Habibie, Hendro Bidjuni, Reginus T. Malara. Hubungan cedera kepala dengan disorientasi pada pasien kecelakaan lalu lintas di IGD RS Bhayangkara Manado Tahun 2017 Https : //e journal. Unsrat.ac.id

(12)

EDUKASI TERAPI OKSIGENASI NASAL PRONG UNTUK PERUBAHAN SATURASI OKSIGEN PASIEN CIDERA KEPALA

Syatria Wati1, Nyi Nyoman Ayu Tamala Hardis2, Mila Gustia3

1Program Studi Profesi Ners, Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam Jln. Sudirman No.38 Lubuk Pakam, Kabupaten Deli Serdang,

Sumatera Utara – Indonesia

*email korespondensi author : [email protected]

Abstrak

Cedera kepala (head injury) merupakan salah satu kasus penyebab kecacatan dan kematian yang tinggi. Cedera kepala (head injury) dalam neurologi menempati urutan pertama dan menjadi masalah kesehatan utama oleh karena korban gawat darurat pada umumnya sebagian besar orang muda, sehat dan produktif. 2 Cedera kepala (head injury) meliputi luka pada kulit kepala tengkorak dan otak. Cedera kepala (head injury). Cedera kepala (head injury) dapat menimbulkan berbagai kondisi, dari gegar otak ringan, koma sampai kematian; kondisi paling serius disebut dengan istilah cedera otak traumatik (traumatik brain injury [TBI]). Penyebab paling umum TBI adalah jatuh (28%), kecelakaan kendaraan bermotor (20%), tertabrak benda (19%) dan perkelahian (11%). Kelompok beresiko tinggi mengalami TBI adalah individu yang berusia 15-19 tahun, dengan perbandingan laki- laki dan perempuan 2:1. Individu yang berusia 75 tahun memiliki angka rawat inap (hospitalisasi) dan kematian TBI tertinggi.Penurunan dilakukan hingga mencapai kadar PaCO2 sekitar 20- 30 mmHg, yang dikenal sebagai tindakan hiperventilasi. Penurunan PaCO2 ini akan menyebabkan vasokonstriksi pembuluh darah otak dan kondisi ini secara langsung akan menyebabkan penurunan laju aliran darah ke otak; dengan akibat (secara tidak langsung) akan menurunkan tekanan intrakranial.

Kata kunci: Terapi Oksigen; Nasal Prong ; Cidera Kepala Abstract

Head injury is one of the leading causes of disability and death. Head injury in neurology ranks first and becomes a major health problem because most emergency victims are young, healthy and productive people. 2 Head injuries include injuries to the scalp, skull and brain. Head injury (head injury). Head injuries can result in a variety of conditions, from mild concussion to coma to death; the most serious condition is known as traumatic brain injury (TBI). The most common causes of TBI were falls (28%), motor vehicle accidents (20%), being hit by objects (19%) and fighting (11%). The group at high risk for TBI is individuals aged 15-19 years, with a male to female ratio of 2:1. Individuals aged 75 years have the highest rates of TBI hospitalization and death. The reduction is carried out until the PaCO2 level is around 20-30 mmHg, which is known as hyperventilation. This decrease in PaCO2 will cause vasoconstriction of cerebral blood vessels and this condition will directly cause a decrease in the rate of blood flow to the brain; with the result (indirectly) will reduce intracranial pressure.

Keywords: Oxygen Therapy; Nasal Prog; Head Injury

(13)

1. Pendahuluan

Oksigen merupakan salah komponen gas dan unsur vital dalam proses metabolisme, untuk mempertahankan kelangsungan hidup seluruh sel tubuh. Secara normal elemen ini diperoleh dengan cara menghirup udara ruangan dalam setiap kali bernapas.

Penyampaian oksigen ke jaringan tubuh ditentukan oleh interaksi sistem respirasi, kardiovaskuler, keadaan hematologis. Adanya kekurangan oksigen ditandai dengan keadaan hipoksia, yang dalam proses lanjut dapat menyebabkan kematian jaringan bahkan dapat mengancam kehidupan (Anggraini &

Hafifah,2014).

Nasal prong adalah salah satu jenis alat yang digunakan dalam pemberian oksigen. Alat ini adalah dua lubang “prong” pendek yang menghantar oksigen langsung kedalam lubang hidung. Prong menempel pada pipa yang tersambung ke sumber oksigen, humidifier, dan flow meter. Manfaat sistem penghantaran tipe ini meliputi cara pemberian oksigen yang nyaman dan gampang dengan konsentrasi hingga 44%. Peralatan ini lebih murah, memudahkan aktivitas/mobilitas pasien, dan sistem ini praktis untuk pemakaian jangka lama (Terry & Weaver, 2013).

Perlunya menjaga kestabilan PaO2 dengan terapi oksigen dimana meningkatkan FiO2 maka juga akan meningkatkan PaO2 yang merupakan faktor yang sangat menentukan saturasi oksigen, dimana pada PaO2 tinggi hemoglobin membawa lebih banyak oksigen dan pada PaO2 rendah hemoglobin membawa sedikit oksigen. Dengan demikian kejadian hipoksia khususnya pada otak dapat dihindari untuk pencegahan terjadinya cedera sekunder pada pasien cedera kepala. Pada penelitian ini saturasi oksigen terus menerus meningkat hingga SpO2 semua responden pemberian terapi oksigen nasal prong. Pencapaian saturasi oksigen (SpO2) tersebut karena konsentrasi oksigen yang diberikan (Febriyanti, dkk) 2. Metode

Kegiatan pengabdian ini dilakukan melalui seminar dengan menggunakan metode ceramah, diskusi Demonstrasi. Dalam memaparkan materi mengenai Oksigenasi Nasal Prong dan Cidera Kepala ini menggunakan metode ceramah yang dibantu dengan peralatan laptop dan infokus. Kemudian dilanjutkan dengan metode diskusi agar dapat

membangun komunikasi yang lebih intens terhadap peserta seminar, kemudian dilanjut dengan demonstrasi edukasi terapi oksigenisasi pada pasien dengan cedera kepala

Langkah-langkah yang digunakan dalam pelaksanaan pengabdian ini adalah sebagai berikut

1. Langkah 1

Pengabdi meminta ijin di tempat pengabdian dengan menyertakan surat tugas dari Ketua LPPM.

2. Langkah 2

Pengabdi mensosialisakan seputar kegiatan pengabdian kepada peserta seminar.

3. Langkah 3

Pengabdi dan peserta melakukan diskusi dan tanya jawab mengenai Terapi Oksigenasi Nasal Prong Untuk Perubahan Saturasi Oksigen Pasien Cidera Kepala.

4. Langkah 4

Pengabdi memberikan Demonstrasi Tentang Edukasi Terapi Oksigenisasi Nasal Prong Untuk Perubahan Saturasi Oksigen Pasien Cedera Kepala

5. Langkah 5

Pengabdi melakukan evaluasi dan tindak lanjut kepada para peserta seminar

3. Hasil dan Pembahasan

Kegiatan pengabdian pada masyarakat ini dilakukan untuk mengedukasi Terapi Oksigenasi Nasal Prong Untuk Perubahan Saturasi Oksigen Pasien Cidera Kepala. Hasil kegiatan yang telah tercapai dalam pengabdian masyarakat ini adalah:

1. Materi yang disosialisasikan dapat dipahami dan direspon baik oleh peserta seminar.

2. Secara umum peserta memahami materi dan mampu melaksanakan atau memberikan terapi Oksigenasi Nasal Prong Untuk Perubahan Saturasi Oksigen Pasien Cidera Kepala Secara umum hasil kegiatan pengabdian masyarakat ini meliputi beberapa aspek sebagai berikut:

4. Aspek tujuan kegiatan

Tujuan Pengabdian masyarakat mengenai

(14)

Edukasi Hubungan Terapi Oksigenasi Nasal Prong untuk Perubahan Saturasi Oksigen Pasien Cidera Kepala sudah sangat baik terlaksana, semua persiapan yang direncanakan dapat terlaksana dengan baik dan didukung oleh bukti yang dicatat secara langsung.

5. Aspek target materi

Ketercapaian target materi sudah sangat baik, karena materi telah dapat disampaikan secara keseluruhan.

6. Aspek Kemampuan Peserta

Kemampuan peserta dinilai berdasarkan pemahaman dan kemampuan peserta dalam mengikuti pre test dan post test yang disiapkan.

Beberapa faktor pendukung dan penghambat dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah:

5. Faktor pendukung

a. Adanya dukungan baik dari pihak tempat pengabdian kepada masyarakat dengan tim pelaksana pengabdian.

b. Tersedianya sarana dan prasarana yang memadai.

c. Ketertarikan dan minat peserta dalam mengikuti semua rangkaian kegiatan.

d. Peserta seminar dan tim pengabdi tetap menjalankan porotokol kesehatan.

6. Faktor penghambat

Pelaksanaan kegiatan adalah keterbatasan waktu, sebab pelaksanaan tidak dapat dilakukan dalam durasi yang lebih panjang.

4. Kesimpulan

1. Adanya respon positif dari peserta dengan munculnya pertanyaan dan tanggapan yang diberikan selama kegiatan dan diskusi.

2. Sebanyak 98% peserta seminar mengalami peningkatan edukasi mengenai materi yang disampaikan dengan nilai post test yang lebih meningkat dibandingkan dengan nilai pre test.

5. Ucapan Terima Kasih

Pengabdi menyampaikan ucapan terima kasih kepada:

1. Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam

2. Direktur Rumah Sakit Umum H. Adam Malik

6. Daftar Pustaka

Anggraini dan Hafifah, 2014. Hubungan antara Oksigen Dan Tingkat Kesadaran Pada Pasien Cedera Kepala Non Trauma Di Icu Rsu Ulin Banjarmesin. Semarang : Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro.

Jakarta.

Arifin, M., dan Ajid Risdianto. 2013. Cedera Kepala. Bandung: Sagung Seto.

Arikunto, S. 2010. Prosedur Penelitian.

Jakarta: Rineka Cipta.

Borley P.A. 2006. At A Glance Ilmu Bedah.

Jakarta: Erlangga

Brain Injury Association of America. 2013. To the housecommittee on energy and energy and commerce subcommittee on health.

Campbell Jhon. 2012. International Trauma Life Support For Emergency Care Provider. Alabama, American : American College Emergency Phycisian. 7th Edition.

America. American College Emergency Physcian. ISBN-13: 978-0-13-215724-7 Centers for Disease Control and Prevention,

2011. Surveilance for Traumatic Brain Injury-Related Deaths-United States, 1997-2007. Dalam: MMWR. Vol. 60.Hal.1- 36.

Chard, R., & Makary, M. A. (2015). Transfer- of-Care Comunication: Nursing Best Practice.

Chi, J.H., Knudson, M.M., Vassar, M.J. 2006.

Prehospital Hypoxia Affects Outcome In Patients With Traumatic Brain Injury: A Prospective Multicenter Study. JTrauma 61: 1134–1141.

Davis, D. P., Meade, W., Sise, M. J., Kennedy,F., Simon, F., Tominaga, G., Steele, J., Coimbra, R. 2009. Both Hypoxemia And Extreme Hyperoxemia May Be Detrimental In

Sartono dkk, 2016. Basic Trauma Cardiac Life Support, Bekasi: Gadar Medik Indonesia.

Terry & Weaver, 2013 Kepewatan Keritis Demistyfied Yogyakarta : Rapha Publicing

(15)

WORKSHOP TEKNIK DISTRAKSI BERCERITA PADA NYERI ANAK USIA PRASEKOLAH PADA SAAT PEMASANGAN INFUS

Kardina Hayati1, Nora Ervina Sembiring2, Amelia Sarma3

1Program Studi Profesi Ners, Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam Jln. Sudirman No.38 Lubuk Pakam, Kabupaten Deli Serdang,

Sumatera Utara – Indonesia

*email korespondensi author: [email protected]

Abstrak

Anak adalah individu yang unik dan berbeda dengan orang dewasa, anak menjadi investasi terbaik masa depan bangsa jika perkembangan dan kesehatannya terjaga dengan baik. Tehnik bercerita dimanfaatkan untuk mengatasi kondisi anak yang demikian, salah satunya dengan melaksanakan terapi bercerita dalam pemasangan infus dan dari hasil pengamatan bahwa pada ruang perawatan belum mengintegrasikan 3 terapi bercerita sebagai salah satu metode distraksi manajemen nyeri nonfarmakologi. kepatuhan adalah suatu perilaku manusia yang taat terhadap aturan, perintah, prosedur, dan displin. Kepatuhan perawat dalam pelaksanaan SOP dalam hal ini pemasangan infus diartikan sebagai ketaatan untuk melaksanakan pemasangan infus sesuai SOP yang telah ditetapkan sehingga berkurangnya permasalahan akibat pemasangan infus. Kepatuhan perawat adalah perilaku perawat sebagai seorang professional terhadap suatu anjuran, prosedur atau peraturan yang harus dilakukan atau ditaati. Diperkirakan juga lebih dari 1,6 juta anak dan anak usia antara 2-6 tahun menjalani hospitalisasi disebabkan karena berbagai penyebab lainnya (Disease Control, National Hospital Discharge Survey) (NHDS).

Kata kunci: Teknik Diktraksi; Pemasangan Infus Abstract

The child is a unique individual and different from an adult, the child becomes the best investment in the future of the nation if his development and health are maintained properly. Storytelling techniques are used to overcome the condition of such children, one of which is by carrying out storytelling therapy in infusion installation and from the observation that in the treatment room has not integrated 3 storytelling therapies as one of the methods of distraction of nonpharmacological pain management. Obedience is a human behavior that obeys rules, orders, procedures, and disciplines.

Compliance of nurses in the implementation of SOPs in this case the installation of infusions is interpreted as obedience to carry out infusion installation in accordance with the SOP that has been established so that the reduction of problems due to infusion installation. Nurse compliance is the behavior of a nurse as a professional to a recommendation, procedure or regulation that must be done or adhered to. It is also estimated that more than 1.6 million children and children between the ages of 2-6 years undergo hospitalization due to injury and various other causes (Disease Control, National Hospital Discharge Survey (NHDS).

Keywords: Diction Technique; Infusion Installation

(16)

1. Pendahuluan

Sakit dan dirawat di rumah sakit pada anak dapat menimbulkan stress yang disebabkan oleh karena anak tidak memahami mengapa harus dirawat, lingkungan yang asing, prosedur tindakan yang menyakitkan serta terpisah dengan keluarga (Supartini, 2004). Anak mengalami masa yang sulit karena tidak terpenuhi kebutuhannya seperti halnya dirumah. Hal ini dapat berdampak negative bagi perkembangan anak, misalnya anak menjadi menarik diri, regresi. Anak seringkali merasa takut bila menghadapi sesuatu yang dapat mengancam integritas dan tubuhnya. Dalam Wijayanti (2009) menyatakan prevalensi kesakitan anak di Indonesia yang dirawat di rumah sakit cukup tinggi yaitu sekitar 35 per 100 anak yang ditunjukkan dengan selalu penuhnya ruangan anak baik di rumah sakit pemerintah ataupun rumah sakit swasta.

Reaksi terhadap nyeri pada anak usia prasekolah cenderung sama dengan yang terlihat pada masa toddler, meskipun beberapa perbedaan menjadi jelas.

Misalnya, respon anak usia prasekolah terhadap intervensi persiapan dalam hal penjelasan dan distraksi lebih baik bila dibandingkan dengan respon anak yang lebih kecil. Agresi fisik dan verbal lebih spesifik dan mengarah pada tujuan. Anak usia prasekolah dapat menunjukkan letak nyeri yang dirasakannya dan dapat menggunakan skala nyeri dengan tepat (Hockenberry dan Wilson 2007 dalam Purwati, 2010).

Salah satu metode untuk menanggulangi nyeri adalah manajemen nyeri dengan cara nonfarmakologi yang dapat dilakukan dengan meode distraksi.

Metode distraksi menggunakan tehnik bercerita yang merupakan tehnik distraksi yang efektif dan dapat memberi pengaruh baik dalam waktu yang singkat yang dapat menurunkan nyeri fisiologis, stress dan kecemasan dengan mengalihkan perhatian seseorang dari nyeri (Soetjiningsih, 2001).

Salah satu prosedur invasif yang dilakukan pada anak adalah terapi melalui intravena (infuse intravena).

Tindakan pemasangan infus merupakan prosedur yang menimbulkan kecemasan dan ketakutan serta rasa tidak nyaman

bagi anak akibat nyeri yang dirasakan saat prosedur tersebut dilaksanakan (Howel & Webster, 2002).

Anak prasekolah akan bereaksi terhadap tindakan penusukan bahkan mungkin bereaksi untuk menarik diri terhadap jarum karena menimbulkan rasa nyeri yang nyata yang menyebabkan takut. Karakteristik anak usia prasekolah dalam berespon terhadap nyeri diantaranya dengan menangis keras atau berteriak; mengungkapkan secara verbal ”aaow” ”uh”, ”sakit”;

memukul tangan atau kaki; mendorong hal yang menyebabkan nyeri; kurang kooperatif; membutuhkan restrain;

meminta untuk mengakhiri tindakan yang menyebabkan nyeri; menempel atau berpegangan pada orangtua, perawatatau yang lain; membutuhkan dukungan emosi seperti 5 pelukan;

melemah; antisipasi terhadap nyeri aktual (Hockenberry& Wilson, 2007 dalam Purwati, 2010).

2. Metode

Kegiatan pengabdian ini dilakukan melalui seminar dengan menggunakan metode ceramah dan diskusi Demontrasi.

Dalam memaparkan materi mengenai Workshop Tekhnik Distraksi Bercerita Pada Nyeri Anak Usia Prasekolah Pada Saat Pemasangan Infus ini menggunakan metode ceramah yang dibantu dengan peralatan laptop dan infokus. Kemudian dilanjutkan dengan metode diskusi agar dapat memahami materi dengan lebih baik dan membangun komunikasi yang lebih intens terhadap peserta seminar dan pengabdi mendemonstrasikan SOP serta Teknik Distraksi Bercerita pada anak saat pemasangan infus

Langkah-langkah yang digunakan dalam pelaksanaan pengabdian ini adalah sebagai berikut

1. Langkah 1

Pengabdi meminta ijin di tempat pengabdian dengan menyertakan surat tugas dari Ketua LPPM.

2. Langkah 2

Pengabdi mensosialisasikan seputar kegiatan pengabdian kepada peserta seminar.

3. Langkah 3

(17)

Pengabdi dan peserta melakukan diskusi dan tanya jawab mengenai Workshop Tekhnik Distraksi Bercerita Pada Nyeri Anak Usia Prasekolah Pada Saat Pemasangan Infus.

4. Langkah 4

Pengabdi mendemonstrasikan SOP serta teknik distraksi bercerita pada anak yang akan dipasang infus

5. Pengabdi melakukan evaluasi dan tindak lanjut kepada para peserta seminar untuk menilai pemahaman peserta seminar.

3. Hasil dan Pembahasan

Kegiatan pengabdian pada masyarakat ini dilakukan untuk mengedukasi perawat mengenai Tekhnik Distraksi Bercerita Pada Nyeri Anak Usia Prasekolah Pada Saat Pemasangan Infus. Hasil kegiatan yang telah tercapai dalam pengabdian masyarakat ini adalah:

1. Materi yang disosialisasikan dapat dipahami dan direspon baik oleh peserta seminar.

2. Secara umum peserta memahami materi mengenai Tekhnik Distraksi Bercerita Pada Nyeri Anak Usia Prasekolah Pada Saat Pemasangan Infus Secara umum hasil kegiatan pengabdian masyarakat ini meliputi beberapa aspek sebagai berikut:

1. Aspek tujuan kegiatan

Tujuan Pengabdian masyarakat mengenai Edukasi Tekhnik Distraksi Bercerita Pada Nyeri Anak Usia Prasekolah Pada Saat Pemasangan Infus sudah sangat baik terlaksana, semua persiapan yang direncanakan dapat terlaksana dengan baik dan didukung oleh bukti yang dicatat secara langsung.

2. Aspek target materi

Ketercapaian target materi sudah sangat baik, karena materi telah dapat disampaikan secara keseluruhan.

3. Aspek Kemampuan Peserta

Kemampuan peserta dinilai berdasarkan pemahaman dan kemampuan peserta dalam

mengikuti pre test dan post test yang disiapkan.

Beberapa faktor pendukung dan penghambat dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah:

1. Faktor pendukung

a. Adanya dukungan baik dari pihak tempat pengabdian kepada masyarakat dengan tim pelaksana pengabdian.

b. Tersedianya sarana dan prasarana yang memadai.

c. Ketertarikan dan minat peserta dalam mengikuti semua rangkaian kegiatan.

d. Peserta seminar dan tim pengabdi tetap menjalankan porotokol kesehatan.

2. Faktor penghambat

Pelaksanaan kegiatan adalah keterbatasan waktu, sebab pelaksanaan tidak dapat dilakukan dalam durasi yang lebih panjang.

4. Kesimpulan

a) Adanya respon positif dari peserta dengan munculnya pertanyaan dan tanggapan yang diberikan selama kegiatan dan diskusi.

b) Sebanyak 98% peserta seminar mengalami peningkatan edukasi mengenai materi yang disampaikan dengan nilai post test yang lebih meningkat dibandingkan dengan nilai pre test.signifikan 0,006. Ada hubungan beban kerja perawat dengan waktu tanggappasien di IGD RS Grandmed dengan nilai signifikan 0,002.

5. Ucapan Terima Kasih

Pengabdi menyampaikan ucapan terima kasih kepada:

1. Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam 2. Direktur Rumah Sakit Grandmed 6. Daftar Pustaka

Andarmoyo,S.(2013).Konsep dan proses keperawatan nyeri, Ar-Ruzz, Yogyakarta

Apriliawati. (2011). Pengaruh Biblioterapi Terhadap Tingkat Kecemasan Anak Usia Sekolah Yang Menjalani

(18)

Hospitalisasi Dirumah Sakit Islam Jakarta. (Tesis). Fakultas Ilmu Keperawatan, Universitas Indonesia Asmadi. ( 2008 ), Konsep Dasar

Keperawatan, Jakarta : EGC

Hockenberry, M.J., & Wilson, D.

(2007). Wong’s essentials of pediatric nursing. (8 th ed). St.Louis: Mosby Elsevier.

Howel, D., & Webster, S. (2002). The Impact of Recurrent Throath Infection on Childreen and Their Family; Family Practice.

James, (2012), konsep nyeri , Edisi Indonesia, Penerbit PT.Prenhallindo, Jakarta

Purwati (2010) Pengaruh terapi musik terhadap tingkat nyeri anak usia prasekolah yang dilakukan pemasangan infus di Rumah Sakit Islam Jakarta. Fakultas Ilmu Keperawatan: UI

Royal Collage of Nursing. (2010).

Standards for Infusion Therapy (3th ed).RCN IV Forum.

Setiadi. 2013. Konsep dan Praktik

Penulisan Risert

Keperawatan.Yogyakarta: Graha Ilmu.

Soetjiningsih. 2001. Tumbuh Kembang Anak. Jakarta EGC

Supartini. 2004. Buku Ajar Konsep dasar Keperawatan Anak. Jakarta : EGC Wong dkk. 2006. Buku Ajar Keperawatan

Pediatrik. Edisi 6. Jakarta : EGC Wong, Donna L. (2009). Keperawatan Pediaktrik. Jakarta :EGC

(19)

SEMINAR PEMASANGAN NGT DENGAN INFEKSI PADA PASIEN DENGAN TRAUMA NASAL

Elfrida Simanjuntak1, Anita Sriganda Ria Purba2, Arfah May Syara 1Program Studi Profesi Ners, Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam

Jln. Sudirman No.38 Lubuk Pakam, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara – Indonesia

*email korespondensi Author: [email protected]

Abstrak

Pemasangan pipa nasogastrik atau nasogastric tube (NGT) merupakan prosedur pemasangan pipa melalui lubang hidung (nostril) turun ke nasofaring kemudian ke lambung.1 Prosedur ini bermanfaat untuk tujuan diagnosis maupun terapi. Dua indikasi yang sering yaitu untuk akses pemberian nutrisi bagi pasien yang tidak mampu makan melalui mulut dan untuk mengevaluasi isi lambung bagi pasien yang dicurigai mengalami perdarahan gastrointestinal. Ada beberapa tipe-tipe NGT antara lain pipa Levin, pipa Salem sump, dan pipa Moss, namun yang sering digunakan adalah pipa Levin. Pemasangan NGT lebih dipilih karena lebih sederhana, aman, dan jarang menyebabkan trauma pada pasien dibandingkan dengan pipa orogastrik. Meskipun demikian kemungkinan terjadinya komplikasi yang serius seperti aspirasi isi lambung dapat terjadi. Komplikasi ini dapat dicegah bila pasien koperatif, diposisikan secara benar, serta persiapan peosedur dilakukan dengan baik serta observasi yang tepat selama prosedur dilakukan dan memastikan posisi pipa sudah tepat. Selain itu teknik melepaskan pipa yang benar juga dapat mengurangi terjadinya komplikasi berupa trauma mukosa dan aspirasi.

Kata kunci: Pemasangan NGT; Infeksi ; Trauma Nasal

Abstract

Insertion of a nasogastric tube or nasogastric tube (NGT) is a procedure for inserting a tube through the nostril (nostril) down into the nasopharynx and then into the stomach.1 This procedure is useful for both diagnostic and therapeutic purposes. Two frequent indications are for access to nutrition for patients who are unable to eat by mouth and for evaluation of gastric contents for patients with suspected gastrointestinal bleeding. There are several types of NGT, including Levin pipe, Salem sump pipe, and Moss pipe, but the most commonly used is Levin pipe. NGT installation is preferred because it is simpler, safer, and rarely causes trauma to the patient compared to an orogastric tube. However, serious complications such as aspiration of gastric contents may occur. This complication can be prevented if the patient is cooperative, positioned correctly, and the preparation of the procedure is carried out properly and proper observation during the procedure is carried out and ensures the position of the tube is correct. In addition, the correct technique of removing the tube can also reduce the occurrence of complications such as mucosal trauma and aspiration.

Keywords: NGT installation; infection; Nasal Trauma

Referensi

Dokumen terkait

Kecamatan Mantup berkewajiban menyusun Rencana Strategis ( RENSTRA ) Tahun 2016 - 2021 berdasarkan kebijakan Kepala Daerah Terpilih sedangkan sasaran dan indikator

membayar bunga tetap (Atmaja, 2003, p. 23), financial leverage dikatakan menguntungkan apabila biaya utang tidak lebih besar daripada pengembalian atas aktiva dan hasil

Suatu tipe difusi yang melibatkan molekul karier (pembawa). Molekul yang larut air, seperti glukosa dan gula lainnya, beberapa asam amino, vitamin yang larut air,

Kegiatan pengabdian ini dilakukan dengan memberikan pendidikan kebencanaan mitigasi banjir melalui materi dan diskusi dalam sebuah acara seminar kepada siswa dan siswi SMA

INSTITUT KESEHATAN MEDISTRA LUBUK PAKAM prosedur dari pewarnaan sederhana dan pewarnaan negatif. Masalahnya adalah ketika kita memanaskan preparat dengan suhu yang

Kegiatan pengabdian ini dilakukan melalui seminar dengan menggunakan metode ceramah, diskusi dan Demonstrasi. Dalam memaparkan materi mengenai Sosialisasi Manajemen Nyeri

1) Zakat mendidik seseorang untuk meningkatkan kualitas ketakwaannya. Seorang muslim dikatakan mampu menjaga ketakwaannya apabila dirinya telah memahami dan menyadari bahwa

Pada prinsipnya sterilisasi dapat dilakukan dengan 3 cara, yaitu caram mekanik, cara fisik, dan cara kimiawi. Proses ini ditujukan untuk sterilisasi bahan yang