BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Landasan Teori
2. Good Corporate Governance (GCG)
2.5. Mekanisme Corporate Governance
7. Bank harus menerapkan praktek-praktek transparansi kondisi
keuangan dan non keuangan kepada publik.
2.5. Mekanisme Corporate Governance
Mekanisme merupakan cara kerja sesuatu secara tersistem untuk memenuhi persyaratan tertentu. Mekanisme corporate governance merupakan suatu aturan main, prosedur dan hubungan yang jelas antara pihak yang mengambil keputusan dengan baik yang melakukan kontrol/ pengawasan terhadap keputusan tersebut. Mekanisme corporate governance diarahkan untuk menjamin dan mengawasi berjalannya sistem governance dalam sebuah organisasi (Arifin, 2005). Untuk meminimalkan konflik kepentingan antara
principal dan agent akibat adanya pemisahan pengelolaan perusahaan, diperlukan suatu cara efektif untuk mengatasi masalah ketidakselarasan kepentingan tersebut. Menurut Boediono (2005), mekanisme corporate governance merupakan suatu sistem yang mampu mengendalikan dan mengarahkan kegiatan operasional perusahaan serta pihak-pihak yang terlibat didalamnya, sehingga dapat digunakan untuk menekan terjadinya masalah keagenan.
Dalam paper Bassel Committee on Banking Supervision-Federal Reserve, telah menyoroti fakta bahwa strategi dan teknik yang didasarkan pada prinsip-prinsip OECD (Brigham dan Erhardt, 2005), yang merupakan dasar untuk melaksanakan tata kelola perusahaan meliputi:
commit to user
25 a. Nilai-nilai perusahaan, kode etik dan perilaku lain yang sesuai standar dan sistem yang digunakan untuk memastikan kepatuhan mereka.
b. Pembentukan mekanisme untuk interaksi dan kerjasama di antara dewan direksi, manajemen senior, dan para auditor.
c. Sistem pengendalian internal yang kuat, termasuk fungsi-fungsi audit internal dan eksternal, manajemen risiko fungsi independen dari lini bisnis, dan check and balance lainnya.
Penelitian Ying Huang, et.al. (2004) mengkaji mekanisme
good corporate governance terhadap efisiensi kinerja perusahaan. Mekanisme GCG terdiri dari jumlah rapat dewan, proporsi auditor independen, kompensasi komite independen, dewan independen, pembedaan komisaris dengan CEO, jumlah rapat komite audit, ahli keuangan dalam komite audit. Zulkafli dan Samad (2007) membagi mekanisme GCG menjadi ukuran dewan direksi, ukuran dewan komisaris, komisaris independen, rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio), serta pengungkapan yang dilakukan oleh Auditor Eksternal Big 4.
Cheng Hsu, et.al. (2006) menguji pengaruh CG terhadap efektifitas manajemen dengan menggunakan metode SEM, dan untuk menghitung efisiensi manajemen digunakan metode DEA. Variabel CG yang digunakan diantaranya proporsi kepemilikan saham direksi dan komisaris, proporsi kepemilikan saham institusi, proporsi
commit to user
26 kepemilikan saham manajer, proporsi saham kolateral dimiliki oleh direksi dan komisaris, komisaris sama dengan CEO, ukuran dewan direksi, proporsi direksi dan komisaris independen, proporsi gaji dan kompensasi direksi dan komisaris. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur kepemilikan dan struktur dewan komisaris (indikator CG) berpengaruh signifikan pada efisiensi manajemen.
Dalam penelitian ini lebih banyak mengkaji secara mendalam mekanisme corporate governance yang dilakukan oleh Cheng Hsu, et.al (2006) serta menambahkan beberapa variabel dari penelitian Ying Huang dan Zulkafli. Mekanisme GCG sendiri dapat dikelompokkan menjadi struktur kepemilikan, struktur dewan komisaris, karakteristik komite audit. Sehingga variabel yang akan dikaji dalam penelitian ini diantaranya struktur kepemilikan (proporsi kepemilikan saham manajer dan komisaris, proporsi kepemilikan saham institusional), struktur dewan komisaris (pembedaan CEO dengan komisaris, ukuran dewan komisaris, proporsi komisaris independen, proporsi gaji dan kompensasi direktur dan komisaris), dan karakteristik komite audit (proporsi anggota komite audit dengan keahlian akuntansi, jumlah rapat komite audit).
commit to user
27 1. Struktur Kepemilikan
a. Proporsi Kepemilikan Saham Manajer dan Komisaris
Yaitu kepemilikan saham yang dimiliki manajer, direksi, komisaris yang secara aktif ikut dalam pengambilan keputusan perusahaan (Jensen dan Meckling, 1976). Kepemilikan manajerial merupakan salah satu isu penting dalam teori keagenan sejak dipublikasikan oleh Jensen dan Meckling (1976) yang menyatakan bahwa dengan semakin besarnya proporsi kepemilikan manajerial dalam suatu perusahaan maka manajemen akan berupaya lebih giat untuk memenuhi kepentingan pemegang saham yang juga adalah dirinya sendiri. Secara umum dapat dikatakan bahwa persentase kepemilikan saham oleh pihak manajemen cenderung mempengaruhi tindakan manajemen laba (Boediono, 2005) .
b. Proporsi Kepemilikan Saham Institusional
Yaitu kepemilikan saham yang dimiliki institusional dan
blockholders. Institusional yang dimaksud misalnya LSM, pemerintah maupun swasta, perusahaan asuransi, bank, perusahaan investasi dan kepemilikan oleh institusi lain dalam bentuk perusahaan akan mendorong peningkatan pengawasan yang lebih optimal terhadap kinerja insider. Sedangkan yang dimaksud dengan blockholders adalah kepemilikan individu atas nama perorangan diatas 5% tetapi tidak termasuk dalam
commit to user
28 kepemilikan insider (Oktapiyani, 2009). Institusi sebagai pemilik saham dianggap lebih mampu dalam mendeteksi kesalahan yang terjadi. Hal ini dikarenakan investor institusi lebih berpengalaman dibandingkan dengan investor individual. Dengan demikian akan membatasi manajemen dalam memainkan angka-angka dalam laporan keuangan yang dapat berpengaruh terhadap kinerja keuangan perusahaan. Persentase saham tertentu yang dimiliki oleh institusi dapat mempengaruhi proses penyusunan laporan keuangan yang tidak menutup kemungkinan terdapat akrualisasi sesuai kepentingan pihak manajemen (Boediono, 2005).
2. Struktur Dewan Komisaris
a. Pembedaan CEO dengan Komisaris (Variabel Dummy)
Chief Executive Officer (CEO) cenderung menjadi orang dengan kekuatan lebih dan paling berpengaruh dalam perusahaan, dan ada minat dalam peran CEO dalam proses tata kelola perusahaan. Dewan kepemimpinan dapat dicirikan oleh peran ganda dari CEO dan komisaris. Dualitas CEO/Komisaris berkonsentrasi kekuasaan di posisi CEO, berpotensi memungkinkan manajemen yang lebih bijaksana. Hermalin dan Weisbach (1991) dan Diacon dan O'Sullivan (1995) menemukan bukti yang mendukung bahwa dualitas CEO dapat mengkonsolidasikan keputusan manajemen dan proses kontrol,
commit to user
29 dan juga kinerja perusahaan. Boyd (1995) dan Brickley, dkk. (1997) memberikan bukti yang menunjukkan bahwa kinerja operasi dapat ditingkatkan sebagai hasil dari kepentingan antara dewan direksi dan CEO. Dalam penelitian ini, apabila CEO sama dengan komisaris maka akan bernilai 1, begitu pula sebaliknya akan diberi nilai 0.
b. Ukuran Dewan Komisaris
Jensen (1993) dan Lipton dan Lorsch (1992) dalam Beiner,
et.al (2003) merupakan yang pertama menyimpulkan bahwa ukuran komisaris merupakan bagian dari mekanisme corporate governance. Hal ini didukung oleh penelitian Yermack (1996), Beaslley (1996) dan Jensen (1993) yang menyimpulkan bahwa ukuran dewan komisaris yang kecil akan lebih efektif dibandingkan dewan komisaris yang berukuran besar karena dianggap kurang efektif dalam menjalankan fungsinya, sulit berkomunikasi dalam pembuatan keputusan.
c. Proporsi Komisaris Independen
Secara umum dewan komisaris ditugaskan untuk melakukan pengawasan terhadap kualitas informasi yang terkandung dalam laporan keuangan. Hal ini penting mengingat adanya kepentingan dari manajemen untuk melakukan manajemen laba yang berdampak pada penurunan kepercayaan investor. Menurut Fama dan Jensen (1983) komisaris independen
commit to user
30 merupakan posisi terbaik untuk melaksanakan fungsi monitoring agar tercipta perusahaan yang memiliki good corporate governance.
d. Proporsi Gaji dan Kompensasi Direktur dan Komisaris
Adalah mekanisme governansi yang menyatukan kepentingan manajer dan pemilik melalui gaji, bonus, kompensasi insentif jangka panjang. Selanjutnya, pemilikan saham (kompensasi insentif jangka panjang) membuat manajer lebih rentan terhadap perubahan pasar yang sebagian di luar jangkauan mereka. Sistem insentif tidak menjamin bahwa manajer membuat keputusan yang “benar”, tetapi meningkatkan kemungkinan manajer akan melakukan untuk sebuah penghargaan.
3. Karakteristik Komite Audit
a. Proporsi Anggota Komite Audit dengan Keahlian Akuntansi Dewan komisaris dapat terdiri dari komisaris independen dan komisaris terafiliasi. Salah satu anggota dewan komisaris independen harus mempunyai keahlian di bidang akuntansi atau keuangan. Bidang keahlian yang berpengaruh terhadap keefektifan proses pengawasan adalah keahlian di bidang akuntansi atau keuangan. Komisaris independen dengan keahlian di bidang akuntansi atau keuangan juga dapat merangkap menjadi bagian dari anggota komite audit
commit to user