• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

A. Tinjauan Literatur

4. Mekanisme Corporate Governance

Menurut Griffin (2002) dalam Susiana dan Herawaty (2007)

24 Sedangkan menurut Tunggal (2011:11) corporate governance

adalah hubungan antara stakeholders yang digunakan untuk menentukan

arah dan pengendalian kinerja suatu perusahaan. Corporate governance

yang efektif dapat menyelaraskan kepentingan manajer dengan

pemegang saham sehingga menghasilkan keunggulan kompetitif bagi

perusahaan.

Forum for Corporate Governance in Indonesia (FCGI)

merumuskan corporate governance sebagai seperangkat peraturan yang

mengatur hubungan antara pemegang saham, pengurus, pihak kreditor,

pemerintah, karyawan, serta pemegang kepentingan internal dan

eksternal lainnya yang berkaitan dengan hak-hak dan kewajiban mereka.

Corporate governance yang efektif diharapkan dapat meningkatkan

kinerja perusahaan.

Adanya teori agensi yang menyatakan bahwa jika terdapat

pemisahan antara pemilik sebagai principal dan agen sebagai manajer

akan menimbulkan masalah agensi karena masing-masing selalu

berusaha memaksimalkan keuntungan untuk diri sendiri yang akan

menimbulkan biaya keagenan (agency cost). Menurut Nicolin dan

Sabeni (2013) salah satu cara untuk meminimalkan konflik keagenan

dengan penerapan mekanisme corporate governance. Dengan penerapan

corporate governance yang memiliki fungsi sebagai memonitor maka

akan memberikan keyakinan kepada stakeholder atas pengambalian

Peraturan No. 1-A tentang Ketentuan Umum Pencatatan Efek

bersifat ekuitas di bursa huruf C-1, dimana dalam rangka penyenggraan

pengelolaan yang baik (good corporate governance), perusahaan tercatat

wajib memiliki (Susiana dan Herawaty, 2007):

1. Komisaris independen yang jumlahnya secara proporsional

sebanding dengan jumlah saham yang dimiliki oleh bukan

pemegang saham pengendali dengan ketentuan jumlah

komisaris independen sekurang-kurangnya 30% (tiga puluh

persen) dari jumlah seluruh komisaris.

2. Komite audit yang terdiri dari sekurang-kurangnya satu orang

komisaris independen dan sekurang-kurangnya 2 (dua) orang

anggota lainnya berasal dari luar emiten atau perusahaan publik.

3. Sekretaris perusahaan

Forum for Corporate Governance in Indonesia (2001) dalam

Jamaan (2008) menyatakan penerapan corporate governance bermanfaat

sebagai berikut:

1) Meningkatkan kinerja perusahaan melalui terciptanya proses

pengambilan keputusan yang lebih baik, meningkatkan efisiensi

operasional perusahaan serta lebih meningkatkan pelayanan

kepada stakeholders.

26 3) Mengembalikan kepercayaan investor asing untuk menanamkan

modalnya di Indonesia.

4) Mempermudah diperolehnya dana pembiayaan yang lebih

murah dan tidak kaku (faktor kepercayaan) yang pada akhirnya

akan meningkatkan corporate value.

Dalam penelitian ini mekanisme corporate governance yang

dipakai untuk penelitian ini menggunakan komisaris independen dan

komite audit. Hal ini dikarenakan dalam mencapai integritas laporan

keuangan tidak hanya dilihat dari pihak internal tetapi pihak eksternal

tidak luput dari salah satu faktornya. Oleh karena itu komisaris

independen dan komite audit yang digunakan untuk melihat pengaruh

terhadap integritas laporan keuangan. Berikut ini dijelaskan mengenai

komisaris independen dan komite audit sebagai berikut:

a. Komisaris Independen

Definisi komisaris independen menurut ketentuan Bapepam

No.Kep-29/PM/2004 adalah :

“Anggota komisaris yang berasal dari luar emiten atau perusahaan

publik, tidak mempunyai saham, baik langsung maupun tidak

langsung melalui emiten atau perusahaan publik, tidak mempunyai

afiliasi dengan emiten atau perusahaan publik, Komisaris, Direksi

atau pemegang saham utama emiten atau perusahaan publik serta

langsung yang berkaitan dengan kegiatan usaha emiten atau

perusahaan publik.”

Keberadaan komisaris indepeden dapat menjadi penyeimbang

dalam pengambilan keputusan ekonomi khususnya dalam rangka

perlindungan terhadap pemegang saham terutama pemegang saham

minoritas (Nicolin dan Sabeni, 2013).

Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 33/POJK.04/ 2014

tentang direksi dan dewan komisaris emiten atau perusahaan public

menjelaskan dalam rangka penyelenggaraan pengelolaan yang baik,

perusahaan tercatat wajib memiliki komisaris independen

jumlahnya secara proposional sebanding dengan jumlah saham yang

dimiliki oleh bukan Pemegang Saham Pengendali (minoritas)

dengan ketentuan jumlah komisaris independen sekurang-

kurangnya 30% (tiga puluh persen) dari jumlah seluruh komisaris.

Mengacu pada keputusan Bapepam No. Kep-29/PM/2004

kriteria komisaris independen yaitu:

1) Komisaris independen bukan merupakan orang yang bekerja atau

mempunyai wewenang dan tanggung jawab untuk merencanakan,

memimpin, mengendalikan, atau mengawasi emiten atau

perusahan publik tersebut dalam waktu 6 (enam) bulan terakhir.

2) Komisaris independen tidak mempunyai saham baik langsung

28 3) Komisaris independen tidak mempunyai hubungan afiliasi

dengan emiten atau perusahaan publik, anggota dewan komisaris,

anggota direksi, atau pemegang saham atau perusahaan publik.

4) Komisaris independen tidak mempunyai hubungan usaha baik

langsung maupun tidak langsung yang berkaitan dengan kegiatan

usaha emiten atau perusahaan publik tersebut.

Komisaris independen merupakan pihak yang mempunyai

tanggung jawab untuk mendorong diterapkannya prinsip good

corporate governance di dalam perusahaan melalui pemberdayaan

dewan komisaris agar dapat melakukan tugas pengawasan dan

pemberi nasihat kepada manajer secara efektif dan ebih memberikan

nilai tambah bagi perusahaan (Rozania, et.al, 2013). Sehingga

memungkinkan dengan adanya komisaris independen dapat

memberikan laporan keuangan yang berkualitas.

b. Komite Audit

Berdasarkan surat keputusan Ketua BAPEPAM KEP

29/PM/2004, pembentukan komite audit merupakan suatu

keharusan. Komite audit merupakan komponen vital dalam stuktur

corporate governance untuk mendukung akuntabilitas dan

transparansi laporan keuangan yang berkualitas.

Menurut Komite Nasional Kebijakan Corporate Governance

(KNKCG) komite audit adalah suatu komite yang beranggotakan

kalangan luar dengan berbagai keahlian, pengalaman, dan kualitas

lain yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan komite audit.

Keputusan Ketua Bapepam Kep-29/PM/2004 menyatakan

bahwa komite audit adalah komite yang dibentuk oleh dan

bertanggungjawab kepada dewan komisaris dalam membantu

melaksanakan tugas dan fungsi dewan komisaris. Hal ini terutama

berkaitan dengan manfaat komite audit di perusahaan untuk

mengoptimalkan fungsi pengawasan yang sebelumnya merupakan

tanggung jawab dari dewan komisaris.

Menurut Susiana dan Herawaty (2007) keberadaan komite audit

dapat memberikan fungsi untuk memberikan pandangan mengenai

masalah-masalah yang berhubungan dengan kebijakan keuangan,

akuntansi dan pengendalian intern. Sehingga dapat dikatakan bahwa

komite audit merupakan kepanjang tanganan dari dewan komisaris

untuk mengawasi kegiatan manajemen.

Peraturan Bapepam No.KEP-29/PM/2004 menyatakan bahwa

komite audit bertugas untuk memberikan pendapat kepada dewan

komisaris terhadap laporan atau hal-hal yang memerlukan perhatian

komisaris, dan melaksanakan tugas-tugas lain yang berkaitan

dengan tugas dewan komisaris, antara lain meliputi:

1. Melakukan penelahaan atas informasi keuangan yang akan

30 2. Melakukan penelahaan atas ketaatan perusahaan terhadap

peraturan perundang-undangan dibidang pasar modal dan

peraturan perundangan lainnya yang berhubungan dengan

kegiatan perusahaan.

3. Melakukan penelahaan atas pelaksanaan pemeriksaan oleh

auditor internal.

4. Melaporkan kepada komisaris berbagai risiko yang dihadapi

perusahaan dan pelaksanaan manajemen risiko oleh direksi.

5. Melakukan penelahaan dan melaporkan kepada dewan

komisaris atas pengaduan yang berkaitan dengan emiten.

6. Menjaga kerahasiaan dokumen, data, dan rahasia perusahaan.

Sehingga peran sentral komite audit sebagai pengawas sistem

keuangan dan transparansi pelaporan perusahaan, dengan demikian

transparansi informasi yang diungkap manajemen sangat ditentukan

oleh keberhasilan komite audit dalam menjalankan tugasnya

Dokumen terkait