A. Tinjauan Pustaka
5. Mekanisme Corporate Governance
topik bahasan di atas perlu disajikan dalam bagian ini karena isu corporate
governance muncul dari adanya pemisahan antara kepemilikan dan pengendalian.
Pemisahan ini menyebabkan manajemen mempunyai discretion dalam mengelola perusahaan yang sangat mungkin menimbulkan permasalahan keagenan. Pemilik perlu menyamakan kepentingannya dengan kepentingan manajemen dalam memaksimumkan nilai perusahaan (dengan demikian juga memaksimumkan kekayaan pemilik). Isu corporate governance juga berbeda di antara negara. Pada bagian ini juga dibahas isu corporate governance yang berbeda di antara negara.
1. Corporate governance
Isu corporate governance muncul karena terjadinya pemisahan antara kepemilikan dan pengendalian perusahaan. Pemisahan kepemilikan dan pengendalian ini memunculkan masalah keagenan. Pemilik (prinsipal) memberikan kewenangan untuk mengelola perusahaan kepada eksekutif (agen). Adanya informasi asimetri dan
self serving behaviour pada eksekutif, memungkinkan mereka untuk mengambil
keputusan dan kebijakan (discretion) yang kurang bermanfaat bagi perusahaan. Manajer mungkin bertindak untuk kepentingannya sendiri dengan mengorbankan
kepentingan pemilik. Masalah perbedaan kepentingan atau konflik kepentingan antara manajer dan pemilik perusahaan ini disebut sebagai permasalahan keagenan. Konflik kepentingan yang terjadi antara pemilik dan manajer perlu dihilangkan sehingga pemilik percaya bahwa dana yang diinvestasikan akan menghasilkan return.
Dalam pengertian sempit, menurut Zingales (1997) corporate governance merupakan pengelolaan (governance) dari bentuk organisasi tertentu, yaitu perusahaan (corporation). Karena esensi dari governance adalah bergaining terhadap
ex-post rents, Zingales (1997:4) mendefinisikan corporate governance sebagai the complex set of constraints that shape the ex-post bergaining over the quasi-rents generated by a firm. Mekanisme corporate governance yang didiskusikan dalam
literatur dapat diinterpretasikan kembali dari sudut pandang definisi ini. Alokasi kepemilikan, struktur modal, skema insentif manajerial, takeover, kompetisi pasar tenaga kerja, struktur organisasi, dan lainnya dapat dianggap sebagai institusi yang mempengaruhi proses bagaimana quasi-rents didistribusikan. Kontribusi dari definisi ini adalah menyoroti hubungan antara bagaimana quasi-rents didistribusikan dan bagaimana dihasilkan.
Masalah corporate governance juga menjadi perhatian Indonesia. Forum for
Corporate Governance in Indonesia (FCGI), mendefinisikan corporate governance
sebagai seperangkat peraturan yang menetapkan hubungan antara pemegang saham, pengurus, pihak kreditur, pemerintah, karyawan serta para pemegang kepentingan intern dan ekstern lainnya sehubungan dengan hak-hak dan kewajiban mereka, atau dengan kata lain sistem yang mengarahkan dan mengendalikan perusahaan. Tujuan
pemegang kepentingan. FCGI menuliskan prinsip-prinsip internasional mengenai
corporate governance, antara lain mencakup:
1. hak-hak para pemegang saham, yang harus diberi informasi dengan benar dan tepat pada waktunya mengenai perusahaan, dapat ikut berperan serta dalam pengambilan keputusan mengenai perubahan-perubahan yang mendasar atas perusahaan, dan turut memperoleh bagian dari keuntungan perusahaan;
2. perlakuan sama terhadap para pemegang saham, terutama kepada pemegang saham minoritas dan pemegang saham asing, dengan keterbukaan informasi yang penting serta melarang pembagian untuk pihak sendiri dan perdagangan saham oleh orang dalam;
3. peranan pemegang saham harus diakui sebagaimana ditetapkan oleh hukum dan kerjasama yang aktif antar perusahaan serta para pemegang kepentingan dalam menciptakan kekayaan, lapangan kerja dan perusahaan yang sehat dari aspek keuangan;
4. pengungkapan yang akurat dan tepat pada waktunya serta transparansi mengenai semua hal yang penting bagi kinerja perusahaan, kepemilikan, serta para pemegang kepentingan;
5. tanggungjawab pengurus dalam manajemen, pengawasan manajemen serta pertanggungjawaban kepada perusahaan dan pemegang saham.
OECD (Organization for Economic Cooperation and Development) adalah institusi lain yang merumuskan prinsip-prinsip corporate governance. Prinsip-prinsip ini dimaksudkan untuk membantu pemerintah negara anggota dan bukan anggota
untuk mengevaluasi dan meningkatkan hukum, institusi dan kerangka peraturan untuk
corporate governance. Tujuan lain adalah untuk memberikan arahan dan saran untuk
pasar modal, investor, perusahaan, serta pihak lain yang mempunyai peranan dalam proses pengembangan corporate governance yang baik. Prinsip ini terfokus pada perusahaan publik, meskipun mungkin juga bermanfaat pada perusahaan swasta dan perusahaan pemerintah. Menurut OECD corporate governance dipengaruhi oleh hubungan di antara partisipan dalam sistem governance. Pemegang saham pengendali, baik individu, keluarga, aliansi, atau perusahaan lain yang bertindak melalui holding
company atau cross shareholding, dapat mempengaruhi perilaku perusahaan secara
signifikan. Pihak lain selain pemegang saham yang berperan dalam sistem governance adalah kreditor, pekerja dan stakeholder lain.
Lima bidang dari prinsip-prinsip corporate governance menurut OECD adalah: 1. Hak-hak pemegang saham, 2. Perlakuan sama atas pemegang saham, 3.Peranan stakeholder dalam corporate governance, 4. Disclosure dan transparansi, dan 5. Tanggungjawab Dewan. 8 Tiga bidang pertama dari prinsip-prinsip corporate
governance menurut OECD menyangkut pemegang saham. Khususnya pada prinsip
ketiga, menyangkut peranan stakeholder dalam corporate governance, sudah dibahas mengenai perlindungan hukum bagi kepentingan stakeholder. Stakeholder mempunyai kesempatan untuk mendapatkan ganti rugi efektif (effective redress) apabila ada penyimpangan dari hak-haknya. Dengan demikian, apabila prinsip-prinsip corporate
governance ini bisa berjalan, sebenarnya bisa menurunkan masalah keagenan karena
8 Prinsip-prinsip corporate governance secara lebih lengkap dapat dilihat pada The OECD
apabila prinsipal tidak memperoleh hak-haknya atau dirugikan maka secara hukum dijamin mempunyai kesempatan untuk memperoleh ganti rugi efektif.
Menurut Walsh dan Seward (1990) terdapat dua mekanisme untuk membantu menyamakan perbedaan kepentingan antara manajer dengan pemegang saham (shareholder) yaitu mekanisme pengendalian perusahaan internal dan mekanisme pengendalian berdasarkan pasar. Mekanisme pengendalian internal didesain untuk menyamakan kepentingan antara manajer dengan pemegang saham. Dewan Direksi perusahaan publik bertanggung jawab pada pengembangan dan implementasi mekanisme ini.
Kontrak insentif jangka panjang merupakan salah satu pilihan mekanisme internal untuk menyamakan kepentingan antara manajer dengan shareholder (Walsh dan Seward, 1990; Jensen, 1993). Kontrak jangka panjang ini dilakukan dengan memberikan insentif pada manajer apabila nilai perusahaan atau kemakmuran pemegang saham meningkat. Dengan demikian, manajer akan meningkatkan nilai perusahaan atau meningkatkan kemakmuran pemegang saham karena juga akan meningkatkan kekayaan manajer. Beberapa contoh bentuk kontrak insentif antara lain kepemilikan saham, pemberian stock option, serta ancaman pemecatan apabila laba perusahaan rendah (Jensen dan Meckling, 1976; Fama, 1980).
Kontrak insentif jangka panjang, meskipun bertujuan untuk menyamakan kepentingan manajer dan pemegang saham, juga mempunyai masalah. Menurut Jensen (1993) masalah yang mungkin timbul adalah terciptanya kesempatan yang sangat besar bagi manajer untuk melakukan self-dealing, khususnya apabila kontrak ini dinegosiasikan dengan dewan direksi yang bermotivasi tidak baik, bukannya
dengan pemegang saham mayoritas. Manajer mungkin melakukan negosiasi kontrak insentif untuk mereka pada saat mereka tahu bahwa laba atau harga saham akan naik, atau bahkan memanipulasi laba akuntansi dan kebijakan investasi untuk meningkatkan penghasilan mereka.
Mekanisme pengendalian eksternal adalah pengendalian perusahaan yang dilakukan oleh pasar. Pasar untuk pengendalian perusahaan merupakan cara terakhir yang dilakukan setelah usaha pengendalian internal tidak berhasil (Fama, 1980). Menurut teori pasar untuk pengendalian perusahaan (market for corporate control), pada saat manajemen puncak berperilaku yang menguntungkan diri sendiri, kinerja perusahaan akan menurun. Menurunnya kinerja perusahaan ini direfleksikan oleh nilai saham perusahaan. Pada kondisi tersebut, kelompok manajemen lain akan menawarkan pada pemegang saham sebagai alternatif dari manajemen yang sedang memegang jabatan. Dengan demikian, pasar untuk pengendalian perusahaan merupakan kompetisi di antara kelompok (tim) manajemen dalam memperoleh hak pengendalian untuk mengelola sumberdaya perusahaan.
Pengelompokan mekanisme internal dan eksternal berbeda-beda di antara negara. Misalnya, Gedajlovic dan Shapiro (1998) mengklasifikasikan corporate
governance menjadi dua sistem. Pertama, sistem dengan pola Amerika Serikat dan
Inggris, dengan karakteristik pemegang saham relatif pasif, dewan direksi yang tidak selalu independen terhadap manajemen, dan pasar pengendalian perusahaan yang aktif. Kedua, sistem dengan pola Eropa dan Jepang, dengan karakteristik koalisi pemegang saham yang aktif, Dewan Direksi yang lebih independen terhadap manajemen dan terbatasnya pasar pengendalian perusahaan. Pengelompokan
berdasarkan Gedajlovic dan Shapiro (1998) membedakan mekanisme corporate
governance internal (pemegang saham, dewan direksi) serta mekanisme eksternal
(pasar pengendalian perusahaan) dengan membedakannya berdasarkan pola Amerika Serikat dan Inggris serta pola Eropa dan Jepang.
Pembahasan isu corporate governance yang berbeda di antara negara lainnya dilakukan oleh Prowsen (1998) dan Zhuang dkk. (2000). Prowsen (1998) membedakan governance di negara industri dengan negara-negara di Asia Timur. Pada negara industri, governance perusahaan dapat berfungsi dengan baik, pengaruh minimal pemerintah pada kompetisi pasar (khususnya pasar uang), perlindungan legal yang kuat pada investor luar (kreditor, pemegang saham, atau keduanya), dan beberapa cara bagaimana investor luar dapat mempengaruhi perilaku direktur dan manajer. Di Asia Timur, isu corporate governance utama bukanlah pada bagaimana investor luar dapat mengendalikan tindakan manajemen (sebagaimana pada negara industri) tetapi bagaimana investor luar dapat mengendalikan pemegang saham besar.
Zhuang (2000) meneliti corporate governance pada lima negara, Indonesia, Republik Korea, Malaysia, Philipina, dan Thailand. Karakteristik corporate
governance pada lima negara, sebagaimana pada banyak negara Asia Timur lainnya
berdasarkan observasi yang dilakukan, adalah tidak efektifnya Dewan Direksi, lemahnya pengendalian internal, lemahnya audit, kurangnya disclosure yang mencukupi, kurangnya pelaksanaan legal, serta terkonsentrasinya kepemilikan perusahaan.
Karena isu corporate governance adalah permasalahan keagenan yang disebabkan oleh pemisahan kepemilikan dan pengendalian serta karena pemisahan ini
menyebabkan timbulnya managerial discretion, dalam bagian berikutnya dibahas permasalahan keagenan, managerial discretion, dan mekanisme corporate
governance, baik internal maupun eksternal. Pembahasan lain adalah mengenai
kinerja perusahaan yang dipergunakan dalam penelitian. 2. Masalah keagenan
Masalah keagenan terjadi karena adanya pemisahan kepemilikan dan pengelolaan perusahaan. Pemisahan ini terjadi karena pemegang saham yang tersebar dan melakukan diversifikasi portofolio mendelegasikan keuangan dan pengambilan keputusan lain pada manajer perusahaan (Crutchley dan Hansen, 1989). Pemisahan ini memungkinkan munculnya konflik kepentingan antara shareholder sebagai pemilik dan manajer sebagai pengendali perusahaan. Pemegang saham berkepentingan pada diversifikasi risiko sistematik perusahaan sedangkan manajer mempunyai kecenderungan untuk memenuhi kepentingannya sendiri yang mungkin bertentangan dengan kepentingan pemegang saham. Misalnya, manajer mungkin menikmati penghasilan tambahan yang besar atas biaya pemilik, manajer mungkin membuat keputusan biaya operasi jangka pendek yang menguntungkan manajer tetapi merugikan pemegang saham, dan manajer mungkin memutuskan aktivitas yang mengurangi risiko mereka meskipun membuat risiko perusahaan pada pemegang saham meningkat.
Permasalahan keagenan yang terjadi antara pemegang saham dengan manajer menimbulkan biaya keagenan ekuitas (equity agency cost). Menurut Jensen dan Meckling (1976:308), terdapat tiga macam biaya keagenan yaitu biaya monitoring oleh prinsipal, biaya bonding oleh agen, dan residual loss. Biaya monitoring
dikeluarkan oleh prinsipal untuk membatasi aktivitas agen yang berbeda dengan kepentingan prinsipal. Agen juga akan mengeluarkan sumber daya (bonding cost) untuk memberikan kepastian pada prinsipal bahwa agen tidak akan melakukan tindakan yang akan merugikan investor. Contoh bonding cost adalah biaya yang dikeluarkan oleh owner-manager untuk menjamin pada pemegang saham luar (outside
equity holder) bahwa manajer akan membatasi aktivitas yang akan menimbulkan
keuntungan non kas bagi manajer (non pecuniary benefits). Beberapa bentuk biaya ini misalnya jaminan bahwa laporan keuangan diaudit oleh akuntan publik, jaminan secara eksplisit mengenai penyalahgunaan wewenang manajer, dan pembatasan terhadap kekuasaan pengambilan keputusan oleh manajer. Pembatasan ini akan menimbulkan biaya karena membatasi kemampuan manajer untuk mengambil beberapa kesempatan yang menguntungkan sebagaimana pada pembatasan untuk merugikan pemegang saham dengan menguntungkan dirinya sendiri. Residual loss adalah kemakmuran dalam nilai uang yang turun sebagai akibat perbedaan kepentingan ini. Penurunan kemakmuran ini terjadi karena perbedaan antara keputusan agen dan keputusan-keputusan yang akan memaksimumkan kemakmuran prinsipal. Salah satu contoh sederhana residual loss adalah menurunnya nilai pasar perusahaan yang ditimbulkan dari penjualan ekuitas oleh outside blockholder yang disebabkan oleh tidak terlaksananya kegiatan monitoring dan bonding.
Konflik kepentingan antara manajer dan pemegang saham dapat dihilangkan dengan dua cara (Denis dkk.,1997,1999). Pertama, manajer mungkin diberikan insentif untuk melakukan tindakan yang sesuai dengan kepentingan pemegang saham. Misalnya, apabila manajer adalah pemegang saham maka kepentingan mereka sejalan
dengan kepentingan pemegang saham lain (Jensen dan Meckling, 1976). Pada kasus ekstrim dengan kepemilikan perusahaan 100% oleh manajer, manajer dapat mengurangi biaya keagenan sampai nol. Contoh lain adalah struktur kontrak kompensasi eksekutif yaitu kompensasi manajer yang dikaitkan dengan kemakmuran pemegang saham dapat menyamakan kepentingan manajer dengan pemegang saham, meskipun manajer tidak memiliki saham perusahaan. Kedua, tindakan manajer dapat dimonitor oleh dewan direksi atau pemegang saham sendiri. Mekanisme monitoring ini tidak dapat sempurna karena tidak semua tindakan manajer dapat diobservasi. Penyebab lain, khususnya pada kepemilikan saham yang menyebar, pemilik dengan sedikit kepemilikan apabila melakukan monitoring akan menanggung semua biaya monitoring tetapi akan mendapatkan sebagian keuntungan saja karena harus berbagi dengan pemegang saham lainnya (adanya masalah free rider (Zhuang dkk.,2000)).
Penelitian empiris lain yang menguji biaya keagenan dengan struktur kepemilikan dilakukan oleh Ang dkk. (2000). Ang dkk. (2000), mendasarkan pada Jensen dan Meckling (1976), berpendapat bahwa perusahaan dengan biaya keagenan nol adalah perusahaan dengan manajer sebagai pemilik 100% perusahaan. Data yang dipergunakan bukanlah perusahaan publik tetapi 1708 perusahaan kecil sehingga dijumpai sampel dengan kepemilikan 100% oleh manajer. Dengan demikian, tidak terjadi pemisahan antara kepemilikan dengan pengendalian. Biaya keagenan dalam penelitian ini diukur dengan efisiensi perusahaan. Efisiensi diukur sebagai rasio biaya, yaitu rasio antara biaya operasi dengan penjualan tahunan, dan rasio penggunaan aset, yaitu rasio antara penjualan tahunan dengan aset. Rasio pertama mengukur seberapa efektifnya manajemen perusahaan mengendalikan biaya operasi. Rasio kedua
mengukur seberapa efektifnya manajemen perusahaan menggunakan asetnya. Berbeda dengan rasio biaya, biaya keagenan berbanding terbalik dengan rasio penjualan dan aset. Secara empiris Ang dkk. (2000) menemukan bahwa biaya keagenan secara signifikan lebih tinggi pada saat perusahaan dikelola oleh bukan pemilik (outsider) dibandingkan dengan pada saat dikelola oleh pemilik (insider) dan biaya keagenan berhubungan terbalik dengan kepemilikan saham oleh manajer. Penemuan ini mendukung Jensen dan Meckling (1976), yaitu bahwa kepemilikan saham oleh manager (insider ownership) dapat dipergunakan untuk menurunkan biaya keagenan. 3. Managerial discretion
Pemisahan antara kepemilikan dan pengelolaan perusahaan menjadikan manajer mempunyai hak pengendalian atas pengalokasian dana investor di dalam perusahaan. Pemilik modal berkepentingan untuk menanamkan dana pada perusahaan atau menyerahkannya pada manajer karena memerlukan keahlian manajer untuk menghasilkan return atas dana yang dimiliki. Pemilik modal tidak menjalankan sendiri usahanya karena mungkin keterbatasan dalam mengelola dana untuk bisnis yang menguntungkan ataupun tidak adanya kemampuan untuk menjalankan bisnis. Sebaliknya, manajer memerlukan dana dari shareholder mungkin karena tidak mempunyai cukup dana untuk diinvestasikan.
Tidak semua permasalahan keagenan dapat diobservasi oleh prinsipal. Contoh tindakan manajer yang dapat menimbulkan masalah keagenan dan dapat diobservasi adalah managerial discretion (Gedajlovic dan Shapiro, 1998). Pada saat pemilik menyerahkan dana pada manajer, akan terjadi pengambilalihan dana dari pemilik oleh manajer. Manajer akan mempunyai kewenangan untuk mengalokasikan dana yang
diserahkan pemilik (managerial discretion). Adanya kewenangan ini memungkinkan manajer untuk bertindak demi kepentingannya sendiri (adanya masalah moral hazard) yang tidak selaras dengan kepentingan pemilik (misalnya dengan menurunnya kesejahteraan pemilik (shareholder wealth)).
Pada kasus yang paling buruk dari managerial discretion ini, mungkin manajer akan membawa lari dana yang dipercayakan oleh pemilik. Masalah keagenan juga terjadi apabila manajer mengalokasikan dana pada proyek investasi dengan return rendah tetapi menguntungkan manajer. Manajer mungkin juga akan mempunyai perusahaan sendiri, yang akan membeli output dari perusahaan yang dikendalikannya di bawah harga pasar, atau bahkan membeli aset perusahaan di bawah harga pasar.
Manajer mungkin melakukan kegiatan yang berorientasi jangka pendek untuk memperoleh pendapatan di luar gaji atau memperoleh keuntungan lain. Kegiatan ini akan menurunkan keuntungan perusahaan karena meningkatkan biaya. Dalam jangka panjang, manajer mungkin melakukan strategi yang bertujuan untuk memaksimumkan ukuran perusahaan dan pertumbuhan, bukan untuk memaksimumkan keuntungan perusahaan. Contoh strategi jangka panjang ini adalah apabila manajer melakukan strategi diversifikasi secara berlebihan (Amihud dan Lev, 1981). Pada kasus ini, laba perusahaan menurun karena manajer menerima proyek dengan prediksi laba masa depan yang rendah. Biaya keagenan dalam bentuk managerial discretion dapat juga terjadi apabila strategi diversifikasi yang dilakukan manajer tidak meningkatkan nilai perusahaan tetapi justru menurunkan nilai perusahaan (Denis, dkk. 1997). Hal ini terjadi apabila orientasi manajer adalah untuk meningkatkan pertumbuhan perusahaan guna meningkatkan ukuran perusahaan. Pertumbuhan perusahaan akan meningkatkan
kekuasaan manajer dengan meningkatnya sumber daya yang dapat dikendalikan (Jensen, 1986). Meningkatnya pertumbuhan perusahaan juga berhubungan dengan meningkatnya kompensasi manajer karena kompensasi berhubungan positif dengan pertumbuhan penjualan (Murphy, 1985).
4. Kinerja Perusahaan
Kinerja perusahaan yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah efisiensi perusahaan dan tobin’s q. Efisiensi perusahaan dengan proksi rasio antara biaya operasi dengan penjualan (operating to sales ratio atau O/S) dan rasio antara penjualan dengan total aset (sales to asset ratio atau S/A) dipergunakan sebagai alternatif pengukuran kinerja perusahaan yang mendasarkan pada nilai buku selain nilai perusahaan.9 Pemilihan efisiensi sebagai ukuran kinerja ini mendasarkan pada beberapa alasan. Pertama, O/S dan S/A merupakan proksi perilaku orientasi jangka pendek (Gedajlovic dan Shapiro, 1998). Kedua, rasio ini merupakan proksi biaya keagenan (Ang, dkk., 2000). Berbeda dengan rasio biaya, biaya keagenan berbanding terbalik dengan rasio penjualan dan aset. Ketiga, khususnya untuk biaya operasi, Mello dan Parsons (1992) menjelaskan bahwa nilai perusahaan salah satunya tergantung pada pemilihan keputusan operasi manajemen. Biaya keagenan dari efektivitas perusahaan ini akan meningkat apabila manajer antara lain berperilaku:
9 Ukuran kinerja lain untuk penelitian serupa selain nilai perusahaan dengan proksi tobin’s q yang pernah dipergunakan antara lain return on assets yang disesuaikan dengan industri, ekses return saham yang disesuaikan dengan industri, variabel binari, 1 jika laba operasi sebelum pajak negatif (Kang dan Shivdasani, 1995); ROA (Mehran, 1995); rata-rata tingkat perubahan penjualan tahunan, rasio perubahan laba operasi terhadap penjualan, rata-rata tingkat perubahan aset tahunan, rasio perubahan laba operasi terhadap aset (Karpoff dkk.,1995); kinerja operasi (Mikkelson, 1997); log nilai pasar ekuitas, varian return saham, rasio antara median nilai pasar industri terhadap nilai buku total aset, rasio antara total hutang dengan total aset (Denis dan Sarin 1999); kapitalisasi pasar, pendapatan dividen, return, beta, varian residual, rasio nilai buku terhadap nilai pasar, rasio lancar, tingkat perputaran (Dahlquist dan Robertsson, 2001).
memilih investasi yang tidak menguntungkan perusahaan atau mengurangi usaha sehingga menurunkan penjualan, mencari penghasilan tambahan, sehingga perusahaan membeli aset yang tidak produktif, misalnya memperluas dan memperlengkapi kantor, kendaraan serta tempat peristirahatan.
Tobin’s q sebagai salah satu alat penilaian aset sudah banyak dipergunakan dalam penelitian untuk menentukan nilai atau kinerja perusahaan. Beberapa penelitian yang menggunakan tobin’s q antara lain Yermack (1996), meneliti komposisi dewan; Morck dkk.(1988), meneliti kepemilikan saham manajerial; Lang dan Stulz (1994), meneliti strategi diversifikasi; Amihud dan Lev (1981), meneliti strategi diversifikasi dan struktur kepemilikan; McConnell dan Servaes (1990), meneliti kepemilikan institusi; ataupun Khanna dan Palepu (1999), meneliti konsentrasi kepemilikan.
Tobin’s q merupakan rasio dua valuasi aset atau sekelompok aset yang sama, yaitu nilai pasar aset dibagi dengan replacement cost atau nilai buku aset (Ciccolo dan Fromm, 1979). Dengan demikian, valuasi aset ini disesuaikan dengan replacement
cost atau nilai buku aset. Tobin’s q sebagai ukuran prospek keuntungan perusahaan
mengindikasikan bahwa semakin tinggi tobin’s q semakin menarik perusahaan. Apabila q1 maka nilai pasar perusahaan sama dengan nilai buku perusahaan. Apabila q1 maka nilai pasar perusahaan lebih tinggi dibandingkan dengan nilai buku dan sebaliknya apabila nilai q1. Penelitian ini menggunakan rasio antara nilai pasar perusahaan dan nilai buku perusahaan (Market to Book ratio atau M/B) sebagai proksi dari tobin’s q karena tidak terdapat data raplacement cost.
5. Mekanisme corporate governance
Pembahasan mekanisme corporate governance dalam tulisan ini dibagi menjadi dua kelompok yaitu mekanisme internal dan mekanisme eksternal.
5.1. Mekanisme Internal
5.1.1. Struktur Kepemilikan
Salah satu bentuk atau mekanisme corporate governance yang dapat dipergunakan untuk menyamakan kepentingan prinsipal dan agen adalah konsentrasi kepemilikan (Denis dkk.,1999; Demsetz dan Lehn, 1985). Dengan terkonsentrasinya kepemilikan, prinsipal mempunyai insentif untuk memonitor agen, agar mereka bertindak selaras dengan kepentingan pemilik. Hal ini dapat dilakukan, misalnya dengan penggunaan hak atas suara (voting right). Cara lain untuk menghilangkan konflik kepentingan ini adalah dengan memberikan insentif pada manajer untuk melakukan tindakan yang sesuai dengan kepentingan pemilik, misalnya dengan kepemilikan manajerial (Jensen dan Meckling, 1976) ataupun dengan struktur kontrak kompensasi yang dikaitkan dengan kekayaan pemilik. Apabila manajer ikut memiliki perusahaan (insider ownership), atau apabila pendapatan atau kompensasi manajer dikaitkan secara langsung dengan kekayaan pemilik maka manajer akan bertindak sebagaimana pemilik.
Dua aspek penting struktur kepemilikan menurut Zhuang dkk.(2000) adalah konsentrasi kepemilikan dan komposisi kepemilikan. Apabila kepemilikan perusahaan menyebar, pengendalian pemilik cenderung lemah karena lemahnya pengawasan (monitoring). Kurangnya pengawasan pemilik karena permasalahan free rider.
Pemilik dengan kepemilikan rendah tidak tertarik untuk melakukan pengawasan karena akan menanggung semua biaya pengawasan (monitoring cost) atas sebagian kecil manfaat yang diterima. Apabila semua pemilik berperilaku sama maka tidak akan terjadi pengawasan terhadap tindakan manajemen.
Apabila kepemilikan terkonsentrasi, pemilik besar (large shareholder - pemilik dengan kepemilikan tinggi) dapat memainkan peranan dalam pengawasan manajemen. Menurut Shleifer dan Vishny (1997), pemilik besar dapat melakukan pengawasan karena dapat mendapatkan informasi dan memonitor manajemen serta mempunyai hak suara untuk menekan manajemen dalam beberapa kasus. Khususnya pemegang saham dengan kepemilikan lebih dari 51%, akan mempunyai hak