Persentase Peningkatan Kualitas Air
5.7. Analisis Kelembagaan yang terkait dalam Pengelolaan DAS Babon Vidula Arun Swami dan Sushma (2011) menjelaskan bahwa salah satu
5.7.1 Mekanisme Kelembagaan Pengelolaan ABAM di DAS Babon
Skenario Optimis yang disimulasikan dalam model pengelolaan ABAM berbasis DAS di DAS Babon menunjukkan bahwa ketersediaan air akan lestari untuk jangka waktu 50 tahun ke depan. Skenario optimis memang menjanjikan untuk mencapai ketersediaan air baku yang lestari, namun untuk mencapai skenario optimis akan banyak kendala yang harus dihadapi. DAS Babon yang pertumbuhan penduduknya 1.8% per tahun, mendekati pertumbuhan penduduk secara nasional, sulit untuk ditekan pertmbuhannya menjadi 0.5% per tahun seperti yang digariskan dalam skenaro optimis. Lebih realistis untuk mengimplementasikan skenarion moderat, dimana pertumbuhan perduduk yang ditetapkan sebesar 1% per tahun. Berdasarkan simulasi model, kebutuhan akan air baku didominasi leh kebutuhan domestik. Kebutuhan air baku untuk indutri dan perhotelan, hanya kurang 20% dari kebutuhan air baku domestik. Oleh sebab itu, menekan laju pertumbuhan penduduk harus menjadi perioritas utama apabila ingin mencapai ketersediaan air baku yang lestari.
Kualitas air baku akan berada pada kategori 1 (satu), PP.82/2001, yaitu kualitas air baku air minum pada tahun 2037 atau kira-kira 25 tahun ke depan. Apabila target kualitas air baku air minum tercapai, maka akan berimplikasi terhadap biaya produksi air minum yang diproduksi oleh PDAM. Apabila biaya produksi dapat ditekan, maka keuntungan PDAM akan meningkat dan kontribusi sebagai bentuk tanggungjawab sosial sebuah koporasi, CSR, akan lebih besar terhadap pelestarian lingkungan. Dalam skenario optimis, ditargetkan peningkatan kualitas air baku sebesar 5% per tahun, dimana dalam periode 25 tahun ke depan, akan tercapai kualitas air baku air minum (ABAM).
Adapun target yang harus dicapai dalam skenario optimis sebagai berikut: 1. Laju pertumbuhan penduduk turun menjadi 0.5 %/tahun.
2. Laju pertumbuhan industri 0.015 %/tahun. 3. Laju pertumbuhan perhotelan 0.3 %/tahun.
4. Koefisien run off minimum karena ada program reboisasi pada kawasan hutan, terasering pada tegalan, pengembangan metode SRI untuk sawah dan pembuatan sumur resapan untuk kawasan pemukiman.
6. Kebijakan reduce, reuse, dan recycle dalam pemanfaatan air baku untuk domestik, perhotelan, dan industri.
7. Pemakaian air tanah 40%.
Salah satu upaya mengurangi kebutuhan air adalah dengan mengurangi laju pertumbuhan penduduk. Kebutuhan air baku untuk pelayanan penduduk, domestik, jauh lebih besar dibandingkan dengan pelayanan untuk industri dan hotel. Target yang akan yaitu laju pertumbuhan penduduk sebesar 0.5%. Perlu dijustifikasi kembali agar skenario ini lebih realistis. Oleh sebab itu, target pertumbuhan penduduk yang digariskan dalam skenario moderat, 1%/tahun, lebih mungkin untuk dilaksanakan. Agar target tersebut dapat dicapai, progam KB harus dilakukan dengan baik, yaitu dengan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya keluarga berencana. Upaya menekan laju pertumbuhan penduduk tetap harus menjadi inisiatif pemerintahan kabupaten kota dengan cara berkoordinasi dengan BKKBN sebagai pemerintah pusat. Disamping itu harus dilakukan upaya efisiensi pemanfaatan air baku untuk kebutuhan domestik, industri dan hotel dengan melaksanakan program reduce dan reuse untuk kegiatan domestik dan hotel serta reduce, reuse, dan recycle untuk kegiatan industri. Demikian juga kegiatan dalam rangka meningkatkan ketersediaan air baku. Upaya yang harus dilakukan adalah memperbaiki tutupan lahan untuk kawasan hutan dengan melakukan reboisasi, terasering untuk tegalan, melaksanakan program SRI dan sumur resapan untuk kawasan perumahan. Perbaikan kualitas air di DAS Babon mutlak diperlukan, guna melindungi pemakai dan pengguna air yang berada di DAS Babon. Agar program diatas dapat tercapai, semua stakeholders, diinisiatifi dan dikoordinasi Pemerintah Kabupaten Kota, sebaiknya berkoordinasi secara rutin untuk melakukan identifikasi dan evaluasi.
Program reduce dan reuse untuk kebutuhan domestik dapat dilakukan dengan cara sosialisasi dan kampanye publik agar kesadaran masyarakat meningkat terhadap pentingnya menghemat pemakaian air. Sebagai contoh, masyarakat diberi kesadaran bahwa reuse pemakaian air dapat dilakukan dengan cara menampung air yang digunakan untuk mencuci sehingga air tersebut dapat digunakan untuk menyiram tanaman.
Dalam rangka meningkatkan kualitas air baku perlu dilaksanakan program pemberdayaan masyarakat berupa pemahaman bahwa kualitas air sangat penting bagi kesehatan. Tujuan pemberdayaan masyarakat agar masyarakat tidak membuang limbah rumah tangga ke dalam drainase atau sungai. Dengan demikan, diharapkan, mereka akan membuat septic tank di rumah masing-masing. Bersamaan dengan kegiatan pemerdayaan masyarakat, pihak Pemerintahan Kabupaten Kota harus berinisiatif untuk membuat peraturan daerah tentang kewajiban masyarakat untuk mengolah limbah padat dengan cara mewajibkan membuat septic tank. Pemerintahan Kabupaten/Kota harus senantiasa melakukan monitoring kualitas air agar baku mutu air baku tetap terjaga. Metode yang digunakan bermacam macan antara lain dengan menggunakan metode stored dan atau metode index pencemaran dengan menggunakan data monitoring kualitas air yang rutin dilakukan setiap bulan. Tercemarnya air baku juga diakibat oleh aktifitas industri. Oleh sebab itu Pemerintah Kabupaten/Kota harus bertindak secara hukum apabila industri membuang limbahnya ke badan sungai. Peraturan terhadap kualitas lingkungan sudah ada, jadi yang diperlukan adalah pelaksanaan dan penegakan dari peraturan peraturan yang sudah ada. Peran LSM dan masyarakat sangat diperlukan sebagai kontrol agar penegakan hukum atau law enforcement berjalan.
Untuk meningkatkan ketersediaan air inisiatif harus dimulai oleh Pemerintahan Kabupaten/Kota dengan cara melakukan koordinasi dengan institusi yang berwenang. Sebagai contoh untuk melakukan reboisasi hutan, Pemerintahan Kabupaten/Kota harus berkoordinasi dengan Pemerintah Pusat. Dalam hal ini Kementerian Kehutanan, agar pelaksanaan program reboisasi hutan dapat terkoordinasi. Masyarakat dan LSM harus terlibat dalam mereboisasi hutan, agar pelaksanaan reboisasi dapat terawasi. Sejalan dengan reboisasi hutan, Pemerintahan Kabupaten/Kota harus segera mengevaluasi tarif air tanah agar pemakaian air tanah dapt terkendali. Rencana Walikota Semarang untuk menaikkan air tanah sebesar 1 000% atau sepuluh kali dari harga saat ini harus didukung agar diperoleh dana untuk melakukan konservasi air tanah. Demikian juga dengan tarif air minum dari PDAM. Berdasarkan survey WTP, masyarakat bersedia membayar lebih dari tarif yang ada saat ini sejauh ketersediaan air
minum terjadi dan kualitas baik. Dalam simulasi dapat dilihat bahwa apabila kualitas air baku diperbaiki, biaya produksi akan banyak berkurang dimana pada tahun 2010 biaya produksi PDAM sebesar Rp 109 486 080 000,-/tahun namun dengan memperbaiki kualitas air baku menjadi kualitas ABAM, maka biaya biaya produksi per tahun menjadi hanya sebesar Rp 79 499 069 229,-/tahun dengan pertambahan volume produksi yang lebih besar.
5.7.2 Penerapan BMP (Best Management Practise) dalam Pengelolaan ABAM