• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mekanisme kerja bank sampah - Pemilahan Sampah

KAJIAN TEORI DAN PENGAJUAN HIPOTESIS A. Kajian Teori

3) Mekanisme kerja bank sampah - Pemilahan Sampah

- Penyerahan sampah ke bank sampah - Penimbangan sampah

- Pencatatan

- Hasil penjualan sampah yang diserahkan dimasukkan ke dalam buku tabungan

- Bagi hasil penjualan sampah antara penabung dan pelaksana22 4) Pelaksanaan bank sampah

- Penetapan Jam Kerja

Berbeda dengan bank konvensional, jam kerja bank sampah sepenuhnya tergantung kepada kesepakatan pelaksana bank sampah dan masyarakat sebagai penabung. Jumlah hari kerja bank sampah dalam seminggu pun tergantung, bisa 2 hari, 3 hari, 5 hari, atau 7 hari tergantung ketersediaan waktu pengelola bank sampah yang biasanya punya pekerjaan utama.

- Penarikan Tabungan

Semua orang dapat menabung sampah di bank sampah. Setiap sampah yang ditabung akan ditimbang dan dihargai sesuai harga pasaran. Uangnya dapat langsung diambil penabung atau dicatat dalam buku rekening yang dipersiapkan oleh bank. Berdasarkan pengalaman selama ini, sebaiknya sampah yang ditabung tidak langsung diuangkan namun ditabung dan dicatat dalam buku rekening, dan baru dapat diambil paling cepat dalam 3 (tiga) bulan. Hal ini penting dalam upaya menghimpun dana yang cukup untuk dijadikan modal dan mencegah budaya konsumtif.

22 Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2012 Pasal 5 Tentang Pedoman Pelaksanaan Reduce, Reuse, dan Recycle Melalui Bank Sampah, hlm. 3.

- Peminjaman Uang

Selain menabung sampah, dalam prakteknya bank sampah juga dapat meminjamkan uang kepada penabung dengan sistem bagi hasil dan harus dikembalikan dalam jangka waktu tertentu.

- Buku Tabungan

Setiap sampah yang ditabung, ditimbang, dan dihargai sesuai harga pasaran sampah kemudian dicatat dalam buku rekening (buku tabungan) sebagai bukti tertulis jumlah sampah dan jumlah uang yang dimiliki setiap penabung. Dalam setiap buku rekening tercantum kolom kredit, debit, dan balans yang mencatat setiap transaksi yang pernah dilakukan. Untuk memudahkan sistem administrasi, buku rekening setiap RT atau RW dapat dibedakan warnanya.

- Jasa Penjemputan Sampah

Sebagai bagian dari pelayanan, bank sampah dapat menyediakan angkutan untuk menjemput sampah dari kampung ke kampung di seluruh daerah layanan. Penabung cukup menelpon bank sampah dan meletakkan sampahnya di depan rumah, petugas bank sampah akan menimbang, mencatat, dan mengangkut sampah tersebut.23

- Jenis Tabungan

Dalam prakteknya, pengelola bank sampah dapat melaksanakan dua jenis tabungan, tabungan individu dan tabungan kolektif. Tabungan individu terdiri dari: tabungan biasa, tabungan pendidikan, tabungan lebaran, dan tabungan sosial. Tabungan biasa dapat ditarik setelah 3 bulan, tabungan pendidikan dapat ditarik setiap tahun ajaran baru atau setiap bayar sumbangan pengembangan pendidikan (SPP), sementara tabungan lebaran dapat diambil seminggu sebelum lebaran. Tabungan kolektif biasanya ditujukan untuk keperluan kelompok seperti kegiatan arisan, pengajian, dan pengurus masjid.

23 Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Republic Indonesia Nomor 13 Tahun 2012 Pasal 6 Tentang Pedoman Pelaksanaan Reduce, Reuse, dan Recycle Melalui Bank Sampah, hlm. 3.

- Jenis Sampah

Jenis sampah yang dapat ditabung di bank sampah dikelompokkan menjadi:

1) Kertas, yang meliputi koran, majalah, kardus, dan dupleks;

2) Plastik, yang meliputi plastik bening, botol plastik, dan plastik keras lainnya;

3) dan logam, yang meliputi besi, aluminium, dan timah. Bank sampah dapat menerima sampah jenis lain dari penabung sepanjang mempunyai nilai ekonomi.

- Penetapan Harga

Penetapan harga setiap jenis sampah merupakan kesepakatan pengurus bank sampah. Harga setiap jenis sampah bersifat fluktuatif tergantung harga pasaran. Penetapan harga meliputi:

1) Untuk perorangan yang menjual langsung sampah dan mengharapkan uang tunai, harga yang ditetapkan merupakan harga fluktuatif sesuai harga pasar;

2) Untuk penabung yang menjual secara kolektif dan sengaja untuk ditabung, harga yang diberikan merupakan harga stabil tidak tergantung pasar dan biasanya di atas harga pasar.

Cara ini ditempuh untuk memotivasi masyarakat agar memilah, mengumpulkan, dan menabung sampah. Cara ini juga merupakan strategi subsidi silang untuk biaya operasional bank sampah.24

- Kondisi Sampah

Penabung didorong untuk menabung sampah dalam keadaan bersih dan utuh. Karena harga sampah dalam keadaan bersih dan utuh memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi. Penjualan plastik dalam bentuk bijih plastik memiliki nilai ekonomi lebih tinggi karena harga

24 Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Republic Indonesia Nomor 13 Tahun 2012 Pasal 6 Tentang Pedoman Pelaksanaan Reduce, Reuse, dan Recycle Melalui Bank Sampah, hlm. 3.

plastik dalam bentuk bijih plastik dapat bernilai 3 (tiga) kali lebih tinggi dibanding dalam bentuk asli.

- Berat Minimum

Agar timbangan sampah lebih efisien dan pencatatan dalam buku rekening lebih mudah, perlu diberlakukan syarat berat minimum untuk menabung sampah, misalnya 1 kg untuk setiap jenis sampah.

Sehingga penabung didorong untuk menyimpan terlebih dahulu tabungan sampahnya di rumah sebelum mencapai syarat berat minimum.

- Wadah Sampah

Agar proses pemilahan sampah berjalan baik, penabung disarankan untuk membawa 3 (tiga) kelompok besar sampah ke dalam 3 (tiga) kantong yang berbeda meliputi:

1. Kantong pertama untuk plastik;

2. Kantong kedua untuk kertas;

3. Kantong ketiga untuk logam.

- Sistem Bagi Hasil

Besaran sistem bagi hasil bank sampah tergantung pada hasil rapat pengurus bank sampah. Hasil keputusan besarnya bagi hasil tersebut kemudian disosialisasikan kepada semua penabung. Besaran bagi hasil yang umum digunakan saat ini adalah 85:15 yaitu 85%

(delapan puluh lima persen) untuk penabung dan 15% (lima belas persen) untuk pelaksana bank sampah.

Jatah 15% (lima belas persen) untuk bank sampah digunakan untuk kegiatan operasional bank sampah seperti pembuatan buku rekening, fotokopi, pembelian alat tulis, dan pembelian perlengkapan pelaksanaan operasional bank sampah.25

- Pemberian Upah Karyawan

25 Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Republic Indonesia Nomor 13 Tahun 2012 Pasal 6 Tentang Pedoman Pelaksanaan Reduce, Reuse, dan Recycle Melalui Bank Sampah, hlm. 3.

Tidak semua bank sampah dapat membayar upah karyawannya karena sebagian bank sampah dijalankan pengurus secara sukarela.

Namun, jika pengelolaan bank sampah dijalankan secara baik dan profesional, pengelola bank sampah bisa mendapatkan upah yang layak.26

Menurut Eka Utami, pendirian dan pengembangan sistem bank sampah ada beberapa tahap yaitu sebagai berikut:27

1) Sosialisasi awal

Sosialisasi awal dilakukan untuk memberikan pengenalan dan pengetahuan dasar mengenai bank sampah kepada masyarakat.

Wacana yang disampaikan antara lain tentang bank sampah sebagai program nasional, pengertian bank sampah, alur pengelolaan sampah dan sistem bank sampah.

2) Pelatihan teknis

Bertujuan untuk memberi penjelasan detail tentang standarisasi system bank sampah, mekanisme kerja bank sampah dan keuntungan sistem bank sampah. Forum ini juga dimanfaatkan untuk musyawarah penentuan nama bank sampah, pengurus, lokasi kantor dan tempat penimbangan, pengepul, hingga jadwal penyetoran sampah.

3) Pelaksanaan sistem bank sampah

Pelaksanan bank sampah dilakukan pada saat hari yang telah disepakati. Pengurus siap dengan keperluan administrasi dan peralatan timbang. Nasabah dating ke kantor bank dan lokasi penimbangan dengan membawa sampah yang sudah dipilah.

Nasabah akan mendapat uang yang disimpan dalam bentuk tabungan sesuai dengan nilai sampah yang disetor.

26 Lampiran II Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2012 Tentang Pedoman Pelaksanaan Reduce, Reuse, dan Recycle Melalui Bank Sampah, hlm. 1.

27 Eka Utami, Buku Panduan Sistem Bank Sampah & 10 KISAH SUKSES, (Jakarta: Yayasan Unilever Indonesia, 2013), hlm. 8-9.

4) Pemantauan dan evaluasi

Organisasi masyarakat harus tetap melakukan pendampiangan selama sistem berjalan. Evaluasi dilakukan untuk pelaksanaan bank sampah yang lebih baik.

5) Pengembangan

Sistem bank sampah bisa berkembang menjadi unit simpan pinjam, unit usaha sembako, koperasi dan pinjaman modal usaha.

Perluasan fungsi bank sampah ini bias disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.

3. Pendapatan

a. Pengertian Pendapatan

Secara umum pendapatan adalah jumlah penghasilan yang diterima oleh suatu masyarakat untuk jangka waktu tertentu sebagai balas jasa yang dinilai dalam rupiah. Pendapatan total keluarga adalah jumlah total pendapatan dari keluarga baik yang bersumber dari pekerjaan pokok maupun pekerjaan diluar pekerjaan pokok atau pekerjaan sampingan yang dinilai dengan Rupiah dalam jangka waktu tertentu.28 Pendapatan yang diterima oleh masyarakat dapat berupa sewa tanah, upah atau gaji, bunga modal, dan keuntungan usaha.29

Menurut Mulyanto yang dikutip oleh Fitri Nurlita, pendapatan dapat dibedakan menjadi 3 macam yaitu:

a) Pendapatan pokok artinya pendapatan yang utama atau pokok yaitu hasil yang didapat oleh seseorang dari pekerjaan yang dilakukan secara teratur dan tetap untuk memenuhi kebutuhan hidup rumah tangga.

b) Pendapatan tambahan merupakan hasil pendapatan yang tidak tetap namun hasilnya dapat membantu untuk menambah pendapatan setiap bulannya.

28 Ruski, “Pengaruh Program Bank Sampah Terhadap Tingkat Pendapatan Keluarga Nasabah Bank Sampah Lavender (BSL) di Desa Mlajah Bangkalan”, Jurnal Ilmiah STKIP PGRI Volume 2 Nomor 1 ISSN 2338-3933, 2014.

29 Chabibah, Ensklopedia Pendapatan Nasional, (Semarang: ALPRIN, 2010), hlm. 9-10.

c) Pendapatan keseluruhan merupakan pendapatan pokok ditambah pendapatan yang diperoleh setiap bulannya.30 Pendapatan secara umum adalah uang yang diterima seseorang atau perusahaan dalam bentuk gaji (wage), upah (salaries), sewa (rent), bunga (interes), laba (profit), dan sebagainya.

b. Sumber Pendapatan

Dalam BPS juga dikemukakan bahwa pendapatan tersebut dapat berasal dari tiga sumber yaitu:

1) Pendapatan dari upah atau gaji yang diterima oleh seluruh anggota rumah tangga ekonomi yang bekerja sebagai imbalan bagi pekerjaan yang dilakukan oleh suatu perusahaan atau majikan atau instansi tersebut baik uang maupun barang dan jasa.

2) Pendapatan dari hasil usaha seluruh anggota rumah tangga yang merupakan pendapatan kotor, yaitu selisih nilai jual barang dan jasa yang diproduksi dengan ongkos produksinya.

3) Pendapatan lainnya yaitu pendapatan di luar upah atau gaji yang menyangkut usaha lain dari:

- Perkiraan sewa rumah milik sendiri,

- Bunga, deviden, royalti, paten, sewa atau kontrak, lahan, rumah, gedung, bangunan, peralatan dan sebagainya,

- Buah hasil usaha (hasil usaha sampingan yang dijual), - Pensiunan dan klaim asuransi jiwa,

- Kiriman dari keluarga atau pihak lain secara rutin, ikatan dinas, beasiswa dan sebagainya.31

30 Fitri Nurlita, “Analisis Pendapatan Rumah Tangga Nelayan Buruh Di Kelurahan Kangkung”, Jurnal Universitas Lampung Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, 2017.

31 Dary Farah Fikriyyah, “Pengaruh Bank Sampah Terhadap Perilaku Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Pendapatan Nasabah (Studi Kasus: Bank Sampah Melati dan Bank Sampah Cilung, Bogor, Jawa Barat)”, Skripsi Institut Pertaniaan Bogor, Bogor, 2018.

c. Kriteria Pendapatan

Berdasarkan penggolongannya, menurut Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikutip oleh Husny Rabista Luhung itu membedakan pendapatan menjadi 4 golongan yaitu sebagai berikut:32

1) Golongan pendapatan sangat tinggi, adalah jika pendapatan rata- rata lebih dari Rp. 3.500.000,00 per bulan.

2) Golongan pendapatan tinggi adalah jika pendapatan rata-rata antara Rp. 2.500.000,00 – s/d Rp. 3.500.000,00 per bulan.

3) Golongan pendapatan sedang adalah jika pendapatan rata-rata antara Rp. 1.500.000,00 s/d Rp. 2.500.000,00 per bulan.

4) Golongan pendapatan rendah adalah jika pendapatan rata-rata 1.500.000,00 per bulan.

d. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pendapatan

Menurut Sukirno sebagaimana dikutip dalam skripsi Hanifah Amanaturrohim, faktor-faktor yang membedakan upah di antara pekerja-pekerja di dalam suatu jenis kerja dan golongan pekerja-pekerjaan tertentu yaitu:

1) Perbedaan corak permintaan dan penawaran dalam berbagai jenis pekerjaan, ketika dalam suatu pekerjaan terdapat penawaran tenaga kerja yang cukup besar tetapi tidak banyak permintaannya, maka upah cenderung mencapai tingkat rendah begitu juga sebaliknya;

2) Perbedaan dalam jenis-jenis pekerjaan, pada golongan pekerjaan yang memerlukan fisik dan berada dalam keadaan yang tidak menyenangkan akan menuntut upah yang lebih besar dari pekerjaan yang ringan dan mudah dikerjakan;

3) Perbedaan kemampuan, keahlian dan pendidikan, sehingga pekerja yang lebih tinggi pendidikannya memperoleh pendapatan yang lebih

32

Husny Rabista Luhung, “Pengaruh Pendapatan Orang Tua Terhadap Alokasi Biaya Pendidikan Anak Pada Pengrajin Tikar Dengan Orientasi Orang Tua Sebagai Variabel Intervening:

Studi Pada Home Industri Tikar Tenun Cv Andalan Lamongan”, Skripsi UIN Sunan Ampel, Surabaya, 2016.

tinggi karena pendidikannya mempertimbangkan kemampuan kerja yang akan menaikkan produktivitas;

4) Terdapatnya pertimbangan bukan keuangan dalam memilih pekerjaan;

5) Ketidaksempurnaan dalam mobilitas tenaga kerja, dalam faktor ini mobilitas kerja terjadi karena dua faktor yaitu faktor institusional dan faktor geografis.33

Sedangkan, menurut Ariyani Masruroh, tinggi rendahnya pendapatan dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain:

- Jenis pekerjaan atau jabatan:

Semakin tinggi jabatan seseorang dalam pekerjaan pendapatannya juga semakin besar.

- Pendidikan:

Semakin tinggi pendidikan seseorang maka mengakibatkan jabatan dalam pekerjaan semakin tinggi dan pendapatan yang diperoleh juga semakin besar.

- Masa kerja:

Masa kerja yang lama berpengaruh terhadap pendapatan, dimana masa kerja semakin lama pendapatan semakin besar.

- Jumlah anggota kerja:

Jumlah anggota kerja yang banyak mempengaruhi jumlah pendapatan karena jika setiap anggota keluarga bekerja maka pendapatan yang diperoleh semakin besar.34

33 Hanifah Amanaturrohim, “Pengaruh Pendapatan dan Konsumsi Rumah Tangga Terhadap Kesejahteraan Keluarga Petani Penggarap Kopi di Kecamatan Candiroto Kabupaten Temanggung”, Skripsi Universitas Negeri Semarang, Semarang, 2015, hlm. 19-20.

34 Ariyani Masruroh, “Kontribusi Usaha Tani Tembakau Terhadap Pendapatan Rumah Tangga di Desa Salamrejo Kecamatan Selopampang Kabupaten Temanggung Jawa Tengah”, Skripsi Universitas Negeri Yogyakarta, Yogyakarta, 2015, hlm. 14.

Untuk mendapatkan sebuah pendapatan memang butuh usaha.

Pendapatan merupakan sejumlah penghasilan yang diterima dalam waktu tertentu sebagai balas jasa dari faktor-faktor produksi berupa upah sewa, bunga, laba dan lain sebagainya. Ternyata pendapatan itu memiliki faktor-faktor yang membedakan upah diantara pekerja-pekerja di dalam suatu jenis kerja dan golongan pekerjaan tertentu dan faktor-faktor tinggi rendahnya suatu pendapatan.

e. Pendapatan Rumah Tangga

Menurut Mubyarto dalam skripsi Ariyani Masruroh, pendapatan rumah tangga diartikan sebagai pendapatan yang diperoleh seluruh anggota keluarga, baik suami, istri, maupun anak.35 Sedangkan menurut Badan Pusat Statistik (BPS), Pendapatan rumah tangga adalah pendapatan yang diterima oleh rumah tangga bersangkutan baik yang berasal dari pendapatan kepala rumah tangga maupun pendapatan anggota-anggota rumah tangga.

Pendapatan rumah tangga dapat berasal dari balas jasa faktor produksi tenaga kerja (upah dan gaji, keuntungan, bonus, dan lain lain), balas jasa kapital (bunga, bagi hasil, dan lain lain), dan pendapatan yang berasal dari pemberian pihak lain (transfer).36