• Tidak ada hasil yang ditemukan

DK memiliki mekanisme kerja tertentu. Mekanisme kerja tersebut adalah:

1. Dewan Syariah Nasional

a. DSN mengesahkan rancangan fatwa yang diusulkan oleh Badan Pelaksana Harian DSN

b. DSN melakukan rapat pleno paling tidak satu kali dalam tiga bulan, atau bilamana diperlukan.

c. Setiap tahunnya membuat suatu pernyataan yang dimuat dalam laporan tahunan (annual report) bahwa lembaga keuangan syariah yang bersangkutan telah/tidak memenuhi segenap ketentuan syariah sesuai dengan fatwa yang dikeluarkan oleh DSN.

d. Jika diketahui bahwa Bank yang syariah yang diawasi tidak berjalan sesuai syariah (sesuai laporan DPS) maka DSN dapat mengusulakn kepada Bank Indonesia untuk melayangkan surat teguran kepada bank yang bersangkutan.

e. Apabila surat teguran tidak d Indahkan oleh lembaga keuangan tersebut, maka DSN dapat memberikan rekomendari, pencabutan dan penutupan terhadap lembaga keuangan tersebut.

2. Dewan Pengawas Syariah

a. DPS melakukan pengawasan secara periodik pada lembaga keuangan syariah yang berada di bawah pengawasannya. Dan memastikan bahwa lembaga keuangan yang diawasinya telah benar-benar menerapkan ajaran islam sesuai dengan yang di fatwakan oleh dewan syariah nasional.

b. DPS berkewajiban mengajukan usul-usul pengembangan lembaga keuangan syariah kepada pimpinan lembaga yang bersangkutan

dan kepada DSN. Termasuk kedalamnya adalah penggunaan akad-akad yang tepat untuk setiap produk bank yang menggunakan kombinasi akad. Seperti misalnya, akad murabahan dengan wakalah, akad rahn dengan ijarah dan lain sebagainya.

c. DPS melaporkan perkembangan produk dan operasional lembaga keuangan syariah yang diawasinya kepada DSN sekurang-kurangnya dua kali dalam satu tahun anggaran. Pelaporan dilakukan terhadap produk yang sudah ada fatwanya dan juga terhadap produk yang belum ada fatwanya namun dijalankan oleh lembaga yang diawasinya. Khusus unutk produk yang belum ada fatwanya, tapi dilakukan oleh perbankan yang diawasi, maka DPS dapat memberikan usul kepada Komisaris untuk pemilihan akad-akad yang tepat, dan dalam hal akadnya belum ada, maka DPS harus mengusulkan kepada DSN untuk mengeluarkan fatwa.

d. DPS merumuskan permasalahan-permasalahan yang memerlukan pembahasan DSN. Termasuk diantaranya permasalahan penggunaan akad yang tepat diperbankan untuk suatu produk tertentu.

e. Jika dalam pengawasan, lembaga keuangan tidak mengikuti arahan DPS, dan tidak patuh pada fatwa-fatwa syariah, maka DPS dapat melaporkannya kepada DSN dan Bank Indonesia.

f. Hasil laporan yang telah ditindak lanjuti oleh DSN dapat dijasikan dasar oleh Bank Indonesia dalam memberikan teguran atau bahkan membubarkan lembaga keuangan yang tidak patuh.

Dalam hal pengawasan terhadap lembaga keuangan yang dilakukan DPS, maka Lembaga keuangan memiliki kewajiban terhadap DPS untuk memberikan fasilitas kepada DPS guna mendukung kinerja pengawasan syariah untuk melaksanakan tugas serta wewenang dan tanggung jawab selaku DPS, antara lain:

1. Mengakses data dan informasi yang diperlukan terkait dengan pelaksanaan tugasnya serta mengklarifikasikannya kepada manajemen Bank.

2. Memanggil dan meminta pertanggungjawaban dari segi syariah kepada manajemen Bank.

3. Memperoleh fasilitas yang memadai untuk melaksanakan tugas secara efektif.

4. Memperoleh imbalan sesuai dengan aturan perseroan.

Terkait dengan pemberian imbalan (gaji) DPS yang diberikan oleh lembaga keuangan, agaknya dipandang janggal kalo dinilai dengan seksama. Kejanggalan yang terjadi adalah, ketiaka suatu lembaga diawasi dan pengawas berhak memberikan rekomendasi penutupan usaha bank, adalah suatu hal yang mustahil apabila DPS akan melakukan hal tesebut, kara jika bank ditutup, maka secara otomati, DPS akan kehilangan pekerjaan dan tidak mendapatkan gaji sma sekali. Oleh karena itu, dengan system penggajian yang diberikan lembaga keuangan pada DPS, sepertinya dapat mengekang keleluasanaa DPS untuk mengeksplore kesalahan-kesalahan yang terjadi dalam lembaga keuangan.

Meskipun demikian adanya, maka perlulah dicarikan solusi yang tepat agar DPS dapat melakukan pengawasan dengan bijak dan tepat, dan DPS pun tidak merasa terbebani dengan haji yang diterimanya sehingga tidak mampu melakukan tugas pengawasan syariah dengan benar. Salah satu solusi yang mungkin dipandang tepat dalam mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan menjadikan DPS sebagai suatu kesatuan dengan Bank Indonesia, dan seluruh imbalan (gaji) yang diterima oleh DPS dibayarkan oleh Bank Indonesia. Hal ini tentunya akan membuat kinerja DPS menjadi lebih Optimal tanpa terbebanani dengan hasil-hasil rekomendasi yang akan dilaporkannya kepada DSn dan Bank Indonesia.

Selanjutnya, Sehubungan dengan kinerja DPS yang akan mengawasi semua kegiatan lembaga keuangan, maka lembaga keuangan yang diawasi harus harus menjamin kebebasan mengeluarkan pendapat dewan pengawas syariah dengan memperhatikan hal-hal seperti:

1. Mereka bukan staf bank, dalam arti mereka tidak tunduk di bawah kekuasaan administratif;

2. Mereka dipilih oleh RUPS;

3. Honorarium mereka ditentukan oleh RUPS;

4. DPS mempunyai sistem kerja dan tugas-tugas tertentu seperti halnya badan pengawas lainnya.

Di Indonesia, fatwa ulama mengenai produk dan jasa keuangan syariah diberikan oleh Majelis Ulama Indonesia melalui Dewan Syariah Nasional.

Kemudian untuk mengawasi pelaksanaan pemberian produk dan jasa keuangan oleh lembaga keuangan Dewan Syariah Nasional akan menunjuk Dewan Pengawas Syariah untuk tiap lembaga keuangan yang bersangkutan.

Peran DSN dan DPS memang tidak terbatas pada pemberian fatwa atas produk, jasa dan transaksi keuangan yang akan dilakukan oleh lembaga keuangan, tetapi juga harus menentukan proses purifikasi dan memonitor pengelolaan lembaga keuangan. Secara umum tugas DSN dan DPS meliputi:

1. Penentuan transaksi keuangan yang diperbolehan.

Transaksi dalam keuangan haruslah sesuai dengan syariah. Apabila penerapan prinsip syariah tidak dilaksanakan dengan konsisten (istiqo-mah) walaupun kreatif (fathonah) dalam menjalankannya tentu akan menurunkan nilai hakiki dari prinsip syariah itu sendiri.

2. Purifikasi.

Purifikasi adalah memisahkan yang haram (yang terpaksa ada dan jumlahnya relatif kecil) dari yang halal, bukan memisahkan yang halal dari yang haram.

3. Advokasi untuk nasabah funding dan lending.

Transaksi keuangan syariah harus memberikan perlindungan terhadap yang haram khususnya untuk menjaga keimanan, kehidupan, dan akal mereka. Dan memberikan kepentingan nasabah secara proporsional.

4. Monitor kepatuhan.

Pengawasan kepatuhan dapat dilakukan dengan memonitor pelaksanaan sejak awal hingga akhir, termasuk kajian atas dokumentasi transaksi, dan membuat laporan yang akurat dan tepat waktu atas penyimpangan yang ada.

5. Kepedulian terhadap masyarakat sekitar.

Ide dasar dari ekonomi Syariah juga untuk memanfaatkan sumber daya yang telah diciptakan Allah Swt dan diciptakan untuk kemashlahatan manusia.

6. Tanggung jawab sosial

Mengingat tingkat pemahaman dan kecanggihan ekonomi syariah masih relatif rendah maka tanggung jawab sosial ini juga dapat mencakup tanggung jawab peningkatan pendidikan ekonomi syariah.

Dari uraian diatas, maka secara umum DSN dan DPS hanya membahas mengenai kesyariahan tiap-tiap priduk perbankan yang dikeluarkan oleh perbankan. Selanjutnya untuk pengawasan manajemen dan keuangan secara rinci, dapat dilakukan oleh dewan komisaris. Dalam mekanisme kerja yang lebih kongkrit antara DSN, DPS dan DK dapat dijelaskan bahwasanya DSN merupakan lembaga yang memberikan legalitas ke syariahan suatu produk melalui fatwa-fatwanya. Selanjutnya untuk memastikan fatwa DSN tersebut dijalankan oleh lembaga keuangan yang bergerak di bidang Syariah, maka DSN memiliki perpanjangan tanga yang dikelan dengan DPS.

Kedudukan DPS dalam perusahaan adalah setara dengan Dewan Komisaris, mereka menempati posisi teratas dalam sususan sutau perusahaan.

Namu dalam pekerjaan, mereka memiliki bidang yang berbeda. DPS mengawasi keyariahan lembaga keuangan sednagkan DK mengawasi penggunaan dana lembaga keuangan agar dapat dikembangkan dengan baik.

DPS dapat memberikan saran ataupun usul kepada dewan komisaris untuk pelaksanaan kegiatan perbankan. Hasil pengawasan DK dan DPS sama-sama menjadi dasar penetapan status suatu lembaga keuangan oleh bank indoneisa apakah sudah dijalankan dengna benar dan sesuai syariah atau tidak.

XII

OJK DAN LPS

Pengantar

Setelah terjadinya krisis ekonomi tahun 1998, kepercayaan masyarakat terhadap lembaga keuangan khususnya perbankan menjadi semakin lemah.

Hal ini dikarenakan pada saat krisis, banyak perbankan yang tidak mampu mengembalikan uang nasabah yang telah disimpannya karena nasabah pembiayaan yang telah bangkrut dalam berusaha tidak mampu lagi mencicil pinjamannya ke bank. Selain itu, negative spreat yang begitu besar, seolah-olah hanya menjadi kedok semata agar masayarakat tidak menarik dananya di bank.

Hal ini telah membuat ratusan lembaga keuangan khususnya bank, berada dalam posisi tidak sehat (sakit) yang kemudian berlanjut menjadi bangkrut dan dilikuidasi oleh bank Indonesia. Akibat lebih jauhnya, Negara harus mengembalikan dana masyarakata yang telah disimppannya pada bank dengan mencairkan Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI). Hal ini telah merugikan Negara ribuan triliun rupiah. Beranjak dari kejadian ini lah, maka Indonesia perlu kembali memupuk kepercayaan masayarakat terhadap lembaga keuangan di Indonesia. Salah satu cara yang dilakukan adalah dengan mendirikan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dan lembaga Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Kehadiran kedua lembaga ini diharapkan mampu membantu Negara dalam menjaga stabilitas keuangan dalam negeri serta diharapkan juga mampu meminimalisis kejahatan-kejahatan dalam dunia keuangan Khususnya

perbankan. Berdasasrkan hal inilah, maka lebih jauh akan dibahas mengenai LPS dan OJK ini dalam uraian berikut.