• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.3. Akseptor

2.4.3. Mekanisme Kerja Implant

Setiap kapsul susuk KB mengandung 36 mg levonogestrel yang akan dikeluarkan setiap harinya sebanyak 80 mg. Konsep mekanisme kerjanya sebagai progesterone, yakni :

a. Mengentalkan lendir servik uteri sehingga menyulitkan penetrasi sperma.

b. Menimbulkan perubahan-perubahan pada endometrium sehinga idak

cocok untuk implantasi zygote.

c. Pada sebagian kasus dapat pula menghalangi terjadinya ovulasi

Efek kontrasepsi implan norplan meupakan gabungan dari ketiga mekanisme kerja tesebut. (Hanifa 1999)

2.4.4. Efektifitas Implant

1. Angka kegagalan implant = < per 100 wanita-pertahun dalam 5 tahun pertama

2. Efektifitas implant berkurang sedikit setelah 5 tahun, dan pada tahun ke 5 kira-kira 2,5-3% akseptor hamil (Hartanto, 2003)

2.4.5. Indikasi dan kontraindikasi 1. Indikasi pemakaian implant

Yang boleh menggunakan KB implant : a. Wanita usia reproduksi

b. Wanita-wanita yang ingin memakai kontrasepsi untuk jangka

waktu yan lama tetapi tidak bersedia menjalani atau menggunakan AKDR

c. Wanita-wanita yang tidak boleh menggunakan pil KB yang

mengandung estrogen

d. Menyusui dan membutuhkan kontasepsi

e. Pasca persalinan tidak menyusui

f. Pasca keguguran

g. Tekanan darah < 180/100 mmHg, dengan masalah pembekuan

darah, atau anemia bulan sabit 2. Kontraindikasi implant

Yang tidak boleh menggunakan KB implant :

a. Hamil atau diduga hamil

b. Perdarahan pervaginam yang belum jelas sebabnya

c. Kanker payudara

d. Riwayat kehamilan ektopik

2.4.6. Keuntungan kontrasepsi implant

1. Daya guna tinggi

2. Perlindungan jangka panjang

3. Pengembalian tingkat kesuburanyang cepat setelah pencabutan

4. Tidak memerlukan pemeriksaan dalam

5. Bebas dari pengaruh estrogen

6. Tidak menganggu kegiatan senggama

7. Tidak menganggu ASI

8. Klien hanya perlu kembali ke klinik bila ada keluhan

9. Dapat dicabut setiap saat sesuai dengan kebutuhan. (Prawihardjo, 2003)

2.4.7. Kerugian implant

1. Perubahan haid berupa perdarahan bercak (spotting)

2. Hipermenorea atau meningkatnya jumlah darah haid

3. Amenorea

4. Nyeri kepala

5. Peningkatan atau penurunan berat badan

6. Nyeri payudara

7. Perasaan mual

8. Pening atau pusing kepala

9. Perubahan perasaan atau kegelisahan

10.Membutuhkan tindak pembedahan minor untukninsersi dan

11.Klien tidak dapat menghentikan sendiri pemakaian kontrasepsi ini sesuai dengan keinginan, akan tetapi harus pergi ke klinik untuk pencabutan

12.Efektifitasnya menrun apabila menggunakan obat-obatan tuberculosis atau obat epilepsy

2.4.8. Waktu Pemasangan Implant

1. Setiap saat selama siklus haid hari ke-2 sampai hari ke-7 tidak

diperlukan metode kontrasepsi tambahan

2. Insersi dapat dilakukan setiap saat, asal saja diyakini tidak terjadi kehamilan, bila insersi setelah hari ke-7 siklus haid, klien jangan melakukan hubungan seksal, atau menggunakan kontrasepsi lainnya untuk 7 hari saja

3. Bila menyusui antara 6 mingu sampai 6 bulan pasca persalinan insersi dapat dilakukan setiap saat. Bila menyusui penuh, klien tidak perlu memakai metode kontrasepsi lain

4. Bila setelah 6 minggu melairkan dan telah terjadi haid kembali, insersi dapat dilakukan setiap saat, tetapi jangna melakuka hubungan seksual selama 7 hari atau menggunakan metode kontrasepsi lain untuk 7 hari saja

5. Bila kontrasespsi sebelumnya adalah kotrasespsi suntuikan, implant

dapat diberikan pada saat jadwal kontrasespsi suntukan tersebut. Tidak diperlkan metode kontraespsi lainnya.

6. Bila kontrasepsi sebelumnya adalah AKDR dan klien ingin menggantinya dengan implant, Implant dapat diinsersikan pada saat haid hari ke-7 hari dan klien jangan melakukan hubungan seksual selama 7 hari atau gunakan metode kontrasepsi lain untuk 7 hari saja AKDR segera dicabut

7. Pasca keguguran implant dapat segera diinsersikan (Prawihardjo,2003)

Waktu yang paling baik untuk pemasangan implant adalah sewaktu haid berlangsung atau masa pra ovulasi dari siklus haid, sehingga adanya kehamilan dapat disingkirkan. (Hanifa, 1999)

2.4.9. Prosedur pemasangan dan pencabutan implant

1. Prosedur Pemasangan

a. Persiapan klien

Walaupun kulit dan integuman sulit untuk di sterilkan, pencucian dan penberian antiseptik pada daerah operasi tempat implan akan dipasang dapat mengurangi jumlah mikroorganisme di daerah kulit klien.

b. Persiapan alat

Adapun alat-alat yang harus dipersiapkan untuk pemasangan implant adalah meja pireksa untuk berbaring klien, batang imoplan dalam kantumg, kain penutup steril serta mangkok untuk tempat meletakkan implan norplant, sepasang sarung tangan, karet yang steril atau DTT, sabun untuk mencuci tangan, larutan antiseptik untuk disinfeksi kulit, obat anastesi local, semprit dan jarum suntik,

trokar nomor 10, calpel nomor 11, kasa pembalut, ben aid, atau plrster, kasa steril, bak atau tempat instrumen.

2. Teknik insersi implant

Pemasangan dilakukan pada bagian dalam lengan atas atau bawah, kira-kira 6-8 cm, diatas atau dibawah siku, melalui insisi tunggal, dalam bentuk kipas, dan dimasukkan tepat dibawah kulit

Untuk memasang norplant

a. Letakkan lengan akseptor yang akan dipasang norplant diatas

penyangga.

b. Pakailah sarung tangan. Bukalah tempat alat-alat yang telah steril dan aturlah alat-alat sedemikian rupa agar mudah dicapai

c. Cucilah daerah lengan tempat pemasangan tersebut dengan sabun

antiseptik dan berila betadin (atau antiseptik lainnya)

d. Pasanglah kain steril yang berlubang besar yang biasa dipakai

untuk operasi pada lengan bawah danlenga atas e. Letakkan ke 6 kapsl berjejer seperti bentuk kipas

f. Isilah semprit dengan zat anastesi local sebanyak 2,5 cc.Suntikan jarum semprit yang berisi zat anastesi local tadi hingga dibawah kulit ditempat dimana norplant akan dimasukkan dan lepaskan 0,5 cc. Kemudian tanpa memindahkan jarum, masukkan kebawah kulit sekitar 4 cm, hal ini akan membuat kulit terangkat dari jaringan lunak dibawahnya. Kemudian tarik jarum pelan-pelan seingga

1 ml diantara tempat untuk memasang, kapsul 1 dan 2, selanjutnya diantara kapsul 3 dan 4 serta 5 dan 6.

g. Dengan pisau scalpel dibuat insisi 2 mm sejajar dengan lengkung

siku.

h. Masukkan ujung trokar melalui insisi

Terdapat 2 garis yanda batas pada trokar, satu dekat ujung, lainnya dekat pangkal trokar. Dengan perlahan-lahan trokar dimasukkan sampai mencapai garis batas dekat pangkal trokar, kurang lebih 4-4,5 cm, trokar dimasukkan sambil melakukan tekanan keatas dan

tanpa merubah sudut pemasukan.

i. Msukkan implan kedalam trokarnya

Dengan batang pendorong, implan didorong perlahan-lahan keujung trokar sampai terasa adanya tahanan. Dengan batang tetap stationer, trokar perlahan-lahan ditarik kembali sampai garis batas di dekat ujung trokar terlihat pada insisi an terasa implan nya “melonjat keluar” dari trokarnya. Jangan keluarkan trokarnya, raba lengan dengan jari untuk memastikan implan sudah berada pada tempatnya dengan baik.

j. Ubah arah trokar sehingga implan berikutnya berada 15 dari

implan sebelumnya. Letakkan jari tangan pada implan sebelumnya. Masukkan kembali trokar sepanjang pinggir jari tangan sampai garis batas dekat pangkal trokar. Masukkan implan kedalam trokar. Selanjutnya seperti pada butir Ulangi lagi prosedur tersebut sampai semua implan telah terpasang.

k. Setelah semua implan terpasang, lakukan penekanan pada tempat luka insisi dengan kasa steril untuk mengurangi perdarahan. Lalu ke pinggir insisi ditekan sampai berdekatan dan ditutup dengan plester. Tidak diperlukan penjahitan luka insisi.

Luka insisi ditutup dengan kompres kering, lalu lengan dibalut dengan kasa.

l. Luka insisi ditutup dengan kompres kering, lalu lengan dibalut

dengan kasa intuk mencegah perdarahan.

m. Nasihatkan pada akseptor agar luka jangan basah selama lebih

kurang 3 hari dan datang kembali jika terjadi keluhan-keluhan yang mengganggu.

3. Teknik pengeluaran dan pengangkatan

Mengeluarkan implan umumnya lebih sulit dari pada insersi. Persoalan dapat timbul bila implant di pasang terlalu dalam atau timbul jaringan fibrous sekeliling implant.

Cara mengeluarkan implant:

a. Cuci lengan akseptor, lakukan tindakan antiseptis

b. Tentukan lokasi dari implan dengan jari-jari tangan dan dapat

diberi tanda dengan tinta atau apa saja. c. Suntikkan anastesi local dibawah implant

d. Buat satu insisi 4 mm sedekat mungkin pada ujung-ujung implant

e. Keluarkan implant pertama yang trerletak paling dekat dengan insisi atau yang terletak paling dekat dengan permukaan.

f. Sampai saat ini dikenal 4 cara pengeluaran/pencabutan norplant Cara pop-out

Merupakan teknik pilihan bila memungkinkan karena tidak traumatis, sekalipun tidak selalu mudah untuk mengeluarkannya.

Dorong ujung proksimal “kapsul” kearah distal dengan ibu jari seingga mendekati lubang insisi, sementara jari telunjuk menahan bagian tengah kapsul, sehingga ujung dital kapsul menekan kulit. Bila perlu, bebaskan jaringan yang menyelubungi ujun kapsul dengan scapel. Tekan dengan lembut ujung kapsul melaluui lubang insisi seinga ujung tersebut akan “menyembut/pop-out” melalui lubang insisi. Kerjakan prosedur yan sama untuk semua kapsul yang tertingal.

Cara standard

Bila cara pop-out tiak berhasil atau tidak mungkin dikerjakan, maka dapat dipakai cara standar.

Jepit ujung distal kapsul dengan klem masquito, sampai kira-kira 0.5-1 cm dari ujung klemnya masuk dibawah kulit melalui lubang insisi. Putar pegangan klem pada posisi 180 disekitar sumbu utamanya mengarah ke bahu akseptor. Bersihkan jaringan-jarinan yang menempel disekeliling klem dan kapsul dengan scapel ataiu kasa sterril sampai kapsul terlihat jelas. Tangkap ujung kapsul yang sudah terlihat dengan klem crille, lepaskan klem masquito, dan keluarkan

kapul dengan klem crille.Cabut atau keluarkan kapsul-kapsul lainnya denan cara yang sama.

Cara “u”

Teknik ini dikembangkan oleh Dr.Untung Prawirohardjo dari semarang dibuat insisi memanjang selebar 4 mm, kira-kira 5 mm proksimal dari ujung distal kapsul, diantara kapsul ke 3 an kapsul 4. Kapsul yang akan dicabut difiksasi dengn meletakkan jari telunjuk

tangan kiri sejajar di samping kapsul. Kapsul dipegang kurang lebih 5 mm dari ujung distalnya. Kemudian klem diputar kearah pangkal

lengan atas atau bahu akseptor sehingga kapsul terlihat dibawah lubang insisi dan dapt dibersihkan dari jaringan-jaringan yang menyelubunginya dengan scapel, untuk seterusnya dicabut keluar.

Cara tusuk Ma

Memakai alat Bantu kawat atau jari roda sepeda, satu ujun dilengkungkan sepanjang 0.5-0.75 cm dengan sudut 90 dan diperkecil serta diruncingkan, sedamkan ujung yang lain di lengkungkan satu bidang dengan lengkungan runcing tadi dan dipakai untuk pegangan oprator. Setelah kapsul di kepit dengan pinset atau klem artetri, jaringan ikat di besihkan dengan pisau sampai kapsul tampak putih kemudian alat tusuk Ma ditusukkan pada kapsul serta terus dikait

keluar. Atau setelah kapsul di jepit dengan pinset, alat tusuk Ma ditusukkan kedalam kapsul sambil diangkat kearah luka insisi, lalu

pinset dilepaskan dan dengan pissau kapsul di bebaskan dari ajringan ikat lalu diangkat keluar dari luka insisi.

g. Berikan anastesi lagi bila diperlukan, untuk mengeluarkan implan yang lain

h. Tutup dan lluka insisi seperti pada saat insersi. Bila akseptor ingin implan yang baru, hal ini apat segera dilakukan

i. Upaya pencabutan keenam kapsul noorplandibatasi sampai 45 menit. Bila dala waktu tersebut tidak semua kapsul berhasil dikeluarkan, maka prosedur pencabutan dihentikan, dan upaya pencabutan kembali sisa kapsul yang masih tertingal diulangi lagi kira-kira 2-4 minggu kemudian

j. Setelah selesai dengan pencabutan keenam kapsul noorplant, rendam semua alat-alat yang sudah dipakai dalam cairan klorin untuk dekontaminasi alat-alat tersebut. (Harianto, 2003)

2.5. Faktor yang Mempengaruhi Akseptor Tidak Memilih Implant

2.5.1 Usia

Usia atau umur adalah lama waktu hidup atau ada sejak dilahirkan atau diadakan hidup, nyawa. (Kamus Lengkap Bahasa Indonesia Modern, 2004)

Usia seorang wanita dapat mempengaruhi kecocokkan metode kontrasepsi tertentu. Dua kelompok pemakai alat kontrasepsi remaja atau usia muda (20-30) dan wanita perimenapause atau usia tua (31-40) perlu mendapatkan perhatian khusus.

Secara umum remaja (usia muda) kecil kemungkinannya memiliki kontraindikasi medis terhadap pemakaian alat kontrasepsi. Berbeda dengan remaja wanita perimenaupause (usia tua) lebih besar kemunkinannya memiliki kontraindikasi medis, karena usia ibu relatif tua akan mengakibatkan sampingan dan komplikasi. Pada usia tua ini pil oral kurang dianjurkan

Pelayanan kontrasepsi di Indonesia berdasarkan usia di katagorikan menjadi 3 fase untuk mencapai sasaran yaitu ; fase menunda atau mencegah kehamilan dengan usia < 20 tahun, fase menjarangkan dengan usia 20 – 35 tahun, fase mengakhiri > 35 tahun

Penurunan fertilitas selain karena tingkat pemakaian kontrasepsi yang meningkat dari tahun ke tahun juga terkait dengan makin meningkatnya usia

perkawinan pertama perempuan maupun usia melahirkan. Pada tahun 1994 di Indonesia ada pada kelompok usia 20-24 tahun maka pada tahun 2003 telah

bergeser ke kelompok usia 25-29.

Dokumen terkait