PELAKSANAAN OPERASIONAL
A. Mekanisme Pelaksanaan
Pada saat status keadaan darurat bencana kabupaten/kota ditetapkan maka mekanisme pelaksanaan Sistem Komando Penanganan Darurat Bencana adalah sebagai berikut:
1. BPBD Kabupaten/Kota terdampak sesuai kewenangannya menginisiasi dan memimpin penyelenggaraan penanganan darurat bencana dengan melakukan rapat koordinasi untuk aktivasi sistem komando penanganan darurat bencana dengan melibatkan perangkat kerja daerah/lembaga terkait, lembaga usaha dan organiasi kemasyarakatan setempat. Agenda utama rapat koordinasi dimaksud adalah membentuk Pos Komando Penanganan Darurat Bencana (Posko PDB) Kabupaten/Kota yang berperan sebagai pengendali operasi penanganan darurat bencana.
2. Posko PDB yang dibentuk dapat berkedudukan di ibukota kabupaten/kota atau di wilayah lain dalam kabupaten/kota terdampak dengan pertimbangan efektivitas penanganan, keamanan dan terbebas dari ancaman bencana.
3. Posko PDB Kabupaten/Kota terdampak berwenang membentuk Pos Lapangan PDB yang berperan sebagai pelaksana operasi di lapangan.
Pos Lapangan PDB dapat didirikan di lokasi bencana, disekitar lokasi
45 bencana dan lokasi pengungsian dengan jumlah Pos tergantung kebutuhan penanganan darurat bencana.
4. Posko PDB Kabupaten/Kota terdampak dapat pula membentuk Pos Pendukung PDB untuk memudahkan akses bantuan darurat dari luar wilayah kabupaten/kota, jika diperlukan. Pos Pendukung PDB dapat didirikan di pintu-pintu masuk wilayah seperti bandara, pelabuhan laut atau penyeberangan sungai.
5. Secara operasional Pos Lapangan PDB dan Pos Pendukung PDB di bawah kendali Posko PDB Kabupaten/Kota bersangkutan.
6. Dalam pelaksanaan operasional, Posko PDB Kabupaten/Kota bertanggungjawab kepada BPBD Kabupaten/Kota.
7. BPBD Kabupaten/Kota secara hirarki bertanggungjawab kepada Bupati/Walikota bersangkutan.
8. Perangkat kerja daerah/lembaga terkait Kabupaten/Kota berwenang melakukan pembinaan dan fasilitasi kepada Posko PDB Kabupaten/Kota.
9. Bupati/Walikota berwenang melakukan pengendalian dan pembinaan kepada BPBD Kabupaten/Kota terkait upaya penanganan darurat bencana
10. Pemerintah Provinsi, melalui koordinasi BPBD Provinsi dan melibatkan organisasi perangkat daerah/lembaga terkait, lembaga usaha dan organisasi kemasyarakatan di tingkat provinsi dapat melakukan pembinaan dan pendampingan bantuan sumber daya termasuk teknis penanganan kepada Posko PDB kabupaten/kota terdampak bilamana diperlukan.
11. Pemerintah provinsi jika diperlukan terkait pelaksanaan pendampingan penanganan darurat bencana dapat membentuk Pos Pendamping PDB Provinsi.
12. Pos Pendamping PDB Provinsi yang dibentuk dapat berkedudukan di ibukota provinsi atau di wilayah lain dalam provinsi dengan pertimbangan efektivitas penanganan, keamanan dan terbebas dari ancaman bencana.
13. Pemerintah melalui koordinasi BNPB dengan melibatkan Kementerian/Lembaga terkait, lembaga usaha dan organisasi kemasyarakatan di tingkat nasional dapat melakukan pembinaan dan pendampingan bantuan sumber daya termasuk teknis penanganan kepada pemerintah provinsi dan Posko PDB kabupaten/kota terdampak bilamana diperlukan.
14. Jika Pos Pendamping Nasional PDB memerlukan Pos Pendukung PDB yang dapat membantu akses bantuan darurat bencana yang berasal dari sumber daya tingkat nasional dan komunitas internasional, maka dapat membentuk Pos Pendukung PDB atau memanfaatkan Pos Pendukung PDB yang dimiliki Posko PDB
46 Kabupaten/Kota terdampak. Jika memanfaatkan Pos Pendukung PDB yang dimiliki Posko PDB Kabupaten/Kota terdampak maka pengendalian pengelolaan akses bantuan yang bersumber dari sumber daya tingkat nasional dan komunitas internasional tetap menjadi tanggungjawab Pos Pendamping Nasional PDB.
Untuk jelasnya mekanisme pelaksanaan Sistem Komando Penanganan Darurat Bencana untuk status keadaan darurat bencana kabupaten/kota dapat dilihat pada lampiran 7.
Secara operasional mekanisme kerja Posko PDB dalam menjalankan fungsinya diatur sebagai berikut:
1. Setelah struktur organisasi dan personil Posko PDB ditetapkan, maka tugas penting pertama adalah menyusun rencana operasi penanganan darurat bencana terkait dengan pelaksanaan operasi, pengendalian operasi dan dukungan operasi. Bahan dokumen yang dijadikan masukan adalah dokumen rencana kontinjensi yang pernah disusun dan hasil pengkajian cepat situasi dan kebutuhan yang telah dilakukan sebelumnya oleh TRC PB Provinsi.
2. Secara rutin Posko PDB dapat melakukan rapat-rapat terkait dengan pengendalian operasi sehari-hari dan dilakukan sekurang-kurangnya 1 kali sehari dengan melibatkan sebagian atau seluruh bidang operasional dan perwakilan instansi/lembaga terkait yang ada tergantung kebutuhan. Pada saat-saat tertentu rapat rutin dapat melibatkan Koordinator Pos Lapangan PDB dan Pos Pendukung PDB.
3. Masing-masing unit operasi melakukan kegiatan sesuai uraian tugas.
4. Secara berkala dan sesuai kebutuhan dilakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan operasi melalui kegiatan pengkajian cepat perkembangan penanganan darurat bencana.
5. Menyampaikan informasi penanganan darurat bencana kepada publik dan media (konferensi pers) secara berkala sesuai kebutuhan.
6. Menyampaikan laporan (harian, sesuai permintaan dan laporan akhir) kepada Kepala BPBD Provinsi setempat dengan tembusan organisasi perangkat daerah/lembaga terkait yang terlibat dalam penanganan darurat bencana.
7. Posko PDB beroperasi selama 24 (dua puluh empat) jam setiap harinya dan tujuh hari dalam seminggu. Jangka waktu keberadaannya dapat diperpanjang atau diperpendek sesuai dengan kebutuhan dan bersifat sementara selama keadaan darurat bencana diberlakukan.
Mekanisme kerja Pos Lapangan PDB secara operasional untuk menjalankan fungsinya diatur sebagai berikut:
47 1. Setelah struktur organisasi dan personil Pos Lapangan PDB
ditetapkan, maka hal terpenting yang pertama dilakukan adalah menjabarkan rencana operasi penanganan darurat bencana yang telah disusun oleh Posko PDB dengan membuat uraian tugas operasi lapangan masing-masing unit operasi.
2. Secara rutin Pos Lapangan PDB dapat melakukan rapat-rapat terkait dengan pelaksanaan operasi lapangan sehari-hari dan dilakukan sekurang-kurangnya 1 kali sehari dengan melibatkan sebagian atau seluruh unit operasional yang ada tergantung kebutuhan.
3. Masing-masing unit operasi melakukan kegiatan sesuai uraian tugas.
4. Secara berkala dan sesuai kebutuhan Koordinator Pos Lapangan PDB melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan operasi.
5. Menyampaikan laporan (harian, sesuai permintaan dan laporan akhir) kepada Komandan Posko PDB Provinsi.
6. Pos Lapangan PDB beroperasi selama 24 (dua puluh empat) jam setiap harinya dan tujuh hari dalam seminggu. Jangka waktu keberadaannya dapat diperpanjang atau diperpendek sesuai dengan kebutuhan dan bersifat sementara selama penanganan darurat diberlakukan. Keputusan waktu kerja Pos Lapangan PDB ditetapkan oleh Komandan Posko PDB.
Mekanisme kerja Pos Pendukung PDB secara operasional untuk menjalankan fungsinya diatur sebagai berikut:
1. Pada tahap awal penugasan adalah menjabarkan rencana operasi terkait dukungan pengelolaan bantuan dari luar wilayah terdampak yang telah disusun oleh Posko PDB dengan membuat uraian tugas operasi lapangan masing-masing unit operasi.
2. Secara rutin Pos Pendukung PDB dapat melakukan rapat-rapat terkait dengan pelaksanaan operasi lapangan sehari-hari dan dilakukan sekurang-kurangnya 1 kali sehari dengan melibatkan sebagian atau seluruh unit operasional yang ada tergantung kebutuhan.
3. Masing-masing unit operasi melaksanakan kegiatan sesuai uraian tugas
4. Secara berkala dan sesuai kebutuhan Koordinator Pos Pendukung PDB melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan operasi.
5. Menyampaikan laporan (harian, sesuai permintaan dan laporan akhir) kepada Komandan Posko PDB Provinsi.
6. Jangka waktu keberadaan Pos Pendukung PDB bersifat sementara selama masih diperlukan. Masa operasi selama 24 (dua puluh empat) jam setiap hari dan 7 hari dalam seminggu. Jangka waktu keberadaannya dapat diperpanjang atau diperpendek sesuai dengan kebutuhan dan bersifat sementara selama penanganan darurat
48 diberlakukan. Keputusan waktu kerja Pos Pendukung PDB ditetapkan oleh Komandan Posko PDB.