• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VI PEMAKZULAN KEPALA DAERAH MENURUT PERSPEKTIF

C. Mekanisme Pemberhentian Bupati Bogor Ditinjau Dari

Pemakzulan Bupati Bogor tidak terlepas dari kasus korupsi yang menjeratnya, yaitu berkaitan dengan pengurusan izin tukar-menukar kawasan hutan seluas 2.754

48

hektar di Bogor, Jawa Barat. Peristiwa ini bermula Rachmat Yasin menerima suap senilai Rp 4,5 miliar guna memuluskan rekomendasi surat tukar menukar kawasan hutan atas nama PT Bukit Jonggol Asri.

Atas dasar ketentuan Pasal 83 Undang-Undang Nomer 23 Tahun 2014 ini, kronologi proses pemberhentian bupati Bogor Rahmat Yasin adalah sebagai berikut:

Pada tanggal 7 Mei 2014, Komisi Pemberantasan Korupsi menangkap Bupati Bogor Rahmat Yasin. Rahmat Yasin dijemput tim dari komisi antirasuah di rumah pribadinya di Jalan Wijaya Kusumah Nomor 103, Kompleks Taman Yasmin, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor. Ia diduga menerima suap terkait dengan pengurusan izin tukar menukar kawasan hutan di Bogor, Jawa Barat. Pada tanggal 8 Mei 2014 KPK resmi menetapkan Rahmat Yasin sebagai tersangka.5

Pada tanggal 20 September 2014 Bupati Bogor Rahmat Yasin mengajukan surat pengunduran diri. Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan telah menerima surat pengunduran diri Bupati Bogor Rahmat Yasin tertanggal 20 September 2014 lalu. Dalam penyelenggaraan pemerintah daerah, jika seorang bupati/walikota menjadi terdakwa yang diperkuat oleh bukti register pengadilan, maka akan diusulkan ke presiden untuk pemberhentian sementara. Perjalanan pengunduran diri ini, Gubernur sudah mengusulkan pemberhentian sementara Bupati Bogor ke Mendagri. Ini disebabkan statusnya sudah menjadi terdakwa yang dibuktikan dengan bukti register pengadilan. Menurut aturan PP No.6 Tahun 2005, seorang bupati atau

5

Republika, "Terima Suap Rp. 4,5 Miliar Bupati Bogor Resmi Jadi Tersangka" artikel diakses Kamis 09 April 2015 dari http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/hukum/14/05/08/n59h7h-terima-suap-rp-45-miliar-bupati-bogor-resmi-jadi-tersangka

walikota yang sudah ditetapkan menjadi terdakwa maka Gubernur harus mengajukan pemberhentian sementara. Gubernur Jawa Barat sendiri sudah menyampaikan usulan tersebut pada Selasa tertanggal 23 september 2014 ke mendagri. Pada saat yang sama, Rahmat Yasin mengajukan surat pengunduran diri tertanggal 20 september.6

Pada tanggal 22 september 2014 DPRD kabupaten Bogor menerima surat pengunduran diri bupati Bogor Drs. H. Rahmat yasin, M.M. karena pada tanggal 22 september 2014 anggota DPRD baru dilantik jadi belum ada perlengkapan dewan untuk membahas surat pengunduran bupati Bogor Rahmat Yasin, sehingga DPRD menunggu sampai terbentuknya atau terpilihnya ketua definitif DPRD, setelah terpilihnya ketua, wakil, sekertaris dan anggota lainnya barulah dibentuk Badan Musyawarah. Setelah terbentuknya Badan Musyawarah maka surat pengunduran diri bupati Bogor Rahmat Yasin dibawa ke dalam rapat badan musyawarah pada tanggal 22 oktober 2014. Hasil dari rapat badan musyawarah tersebut menghasilkan agar DPRD mengkordinasikan surat pengunduran diri bupati Bogor Rahmat Yasin seperti apa tindak lanjutnya untuk DPRD. Setelah itu DPRD konsultasi ke Departemen Dalam Negeri (depdagri) mengenai pengunduran diri bupati Bogor Rahmat Yasin. Setelah DPRD konsultasi dengan depdagri maka, badan musyawarah DPRD mengadakan rapat paripurna, di dalam rapar paripurna tersebut diagendakan untuk mengumumkan pengunduran diri Bupati Bogor Rahmat Yasin tetapi tidak untuk mengambil suatu keputusan hanya menginformasikan bahwa bupati Bogor Rahmat

6

Bandung Bisnis, "Pengunduran Diri Rahmat Yasin, Aher Tunggu Proses DPRD" artikel diakses Kamis 09 April 2015 dari http://Pengunduran Diri Rahmat Yasin, Aher Tunggu Proses di DPRD Bogor bandung.bisnis.com.htm

50

Yasin telah mengundurkan diri sebagai bupati Bogor. Surat pengunduran diri Bupati Bogor Rahmat Yasin dibacakan langsung oleh sekertaris DPRD.7

Setelah selesai rapat paripurna DPRD mengirimkan surat kepada Gubernur Jawa Barat tentang pengunduran diri bupati Bogor Rahmat yasin. Surat dari DPRD tersebut ditujukan kepada Menteri Dalam Negeri yang dikirimkan melalui Gubernur Jawa Barat tentang pengumuman pengunduran diri Bupati Bogor Rahmat Yasin yang disertai dengan risalah rapat paripurna DPRD. Lalu, gubernur Jawa Barat menyampaikan lagi surat kepada departemen dalam negeri berdasarkan surat yang disampaikan dari DPRD. Setelah menerima surat tersebut, kurang lebih satu bulan terbitlah Surat keputusan (SK) pertama menteri dalam negeri tentang pemberhentian bupati Bogor Rahmat Yasin pada tanggal 27 November 2014 yang berdasarkan pengunduran diri Rahmat Yasin.8

Pada tanggal 27 November 2014 Pengadilan Tipikor Bandung menjatuhkan vonis hukuman kepada Bupati Bogor non-aktif, Rahmat Yasin, dalam kasus suap tukar menukar pengelolaan kawasan hutan PT Bukit Jonggol Asri. Rahmat Yasin terbukti secara sah dan menyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi yang dilakukan secara bersama-sama dan berlanjut. Rahmat Yasin dijatuhi pidana penjara selama lima tahun enam bulan dan pidana denda sebesar Rp 300 juta subsider tiga bulan kurungan penjara dan hukuman tambahan pencabutan hak dipilih selama dua tahun. Rachmat Yasin terbukti bersalah dan secara sah dan meyakinkan melakukan

7

Wawancara Pribadi dengan Nurjanah, Bogor, 17 Maret 2015.

8

Wawancara pribadi dengan Nurjanah, Bogor, 17 Maret 2015.

tindak pidana korupsi, sebagaimana tercantum dalam dakwaan pertama yaitu melanggar Pasal 12 (a) UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001.9

Senin 26 Januari 2015, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan (Aher) menyerahkan Surat Keputusan (SK) Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia No. 131.32-51 Tahun 2015 tanggal 20 Januari 2015 Tentang Pemberhentian Bupati Bogor Provinsi Jawa Barat Rahmat Yasin kepada Ketua DPRD Kabupaten Bogor Ade Ruhendi didampingi Plt Bupati Bogor Nurhayanti. SK ini ditetapkan menyusul Putusan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Bandung No. 87/Pid.Sus/TPK/2014/PN. Penyerahan SK ini diselenggarakan di Gedung Sate. SK ini juga memuat penunjukkan Nurhayanti yang adalah Wakil Bupati Bogor masa jabatan 2013-2018 sebagai Pelaksana Tugas, Wewenang dan Tanggung Jawab Bupati Bogor sampai dilantiknya Bupati Bogor sisa masa jabatan tahun 2013-2018.10

Senin 16 Maret 2015 Gubernur Jabar Ahmad Heryawan melantik Nurhayanti sebagai Bupati Bogor sisa masa jabatan tahun 2013-2018 di Gedung Sate. Dalam sambutannya, Ahmad Heryawan mengatakan pelantikan terhadap Nurhayanti merupakan amanat dari Keputusan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 131.32-526 Tahun 2015 tanggal 10 Maret 2015 tentang Pengangkatan Bupati dan

9

Kompas, "Mantan Bupati Bogor Divonis 5,5 Tahun Penjara" artikel diakses Rabu 08 April

2015 dari

http://nasional.kompas.com/read/2014/11/27/1242337/Mantan.Bupati.Bogor.Divonis.5.5.Tahun.Penjar a

10

Republika, " Bupati Bogor Segera Dilantik" artikel diakses Rabu 08 April 2015 dari

http://Bupati Bogor Segera Dilantik Republika Online.htm

52

Pemberhentian Bupati Bogor Provinsi Jawa Barat. Hal ini juga sesuai dengan ketentuan Pasal 203 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2015 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Wali Kota Menjadi Undang-Undang.11

D. Mekanisme Pemberhentian Bupati Bogor Ditinjau Dari Fiqih Siyasah

Pada uraian subbab sebelumnya telah penulis kemukakan bahwa Bupati Bogor Rahmat Yasin diberhentikan atas dasar Undang-Undang Nomer 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintah Daerah. Pasal pokok yang dijadikan alasan ia harus diberhentikan adalah Pasal 83 ayat (4), ia terbukti melakukan pelanggaran larangan kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah dengan melakukan tidak korupsi menerima suap.

Langkah dan prosedur pemberhentian bupati Bogor Rahmat Yasin sebagaimana dikemukana secara sangat rinci dalam rumusan Pasal 83 ayat (4) Undang-Undang Nomer 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah tersebut tentu saja tidak pernah dikemukakan oleh para teoritis fiqih siyasah. Para teoritis fiqih

siyasah hanya sedikit memaparkan bagaimana seorang pemimpin bisa dimakzulkan

seperti Imam al-Mawardi, Taqiyuddin An Nabhani dan teoritis-teoritis fiqih siyasah lainnya.

11

Republika, " Bupati Bogor Segera Dilantik" artikel diakses Rabu 08 April 2015 dari

http://Bupati Bogor Segera Dilantik Republika Online.htm

Kelompok Mu'tazilah, Khawarij, dan Zaidiyah bependapat bahwa kepala daerah yang telah menyimpang dari ajaran Islam maka ia diberhentikan dengan paksa, diperangi, atau dibunuh. Al-Baqillani menyebutkan bahwa kepala daerah boleh diberhentikan jika ingkar, melalaikan shalat dan mengajak orang lain untuk melakukan hal yang sama, atau jika menjadi cacat jasmani, penyelewengan dan tingkah laku tidak bermoral (fisq), ketidakadilan (jawr), dan kelalaian terhadap hukum-hukum Islam, juga membenarkan pemecatan terhadap kepala daerah. Menurut Al-Baghdadi, kepala daerah bisa diberhentikan apabila ia menyimpang dari ketetapan syari'at, maka masyarakat harus memilih di antara dua tindakan kepadanya, yaitu mengembalikannya dari berbuat salah kepada kebaikan, atau mencopot jabatannya dan memberikannya kepada yang lain.

Imam al-Mawardi dalam Kitabnya al-Ahkam al-Sultaniyyah, ia menjelaskan bahwa kepala daerah bisa diberhentikan dilihat dari siapa yang mengangkatnnya. Apabila yang mengangkatnnya adalah menteri maka ada dua kemungkinan; Pertama, Menteri mengangkat kepala daerah tersebut dengan seizin kepala negara. Maka, menteri tidak bisa memberhentikan kepala daerah tanpa seizin dari kepala negara dan turun instruksi darinya. Kedua, Menteri mengangkatnya dengan inisiatif sendiri. Menteri dapat dengan sendirinya memecatnnya dan menggantinya dengan orang lain, sesuai dengan hasil ijtihadnya dalam melihat yang terbaik dan paling cocok untuk menduduki jabatan itu. Sedangkan kepala daerah yang diangkat oleh kepala negara,

54

maka pada saat kepala negara meninggal atau berhenti dari jabatannya, kepala daerah tidak turut berhenti dari jabatannya.12

Berbeda dengan al-Mawardi, Taqiyuddin An Nabhani menjelaskan bahwa kepala daerah bisa diberhentikan tergantung dari kepala negara yang menjabat pada saat itu. Jika kepala negara menghendaki harus diberhentikannya kepala daerah tersebut makan kepala daerah itu pun diberhentikan atau kalau rakyat di wilayah yang sedang ia pimpin dan anggota majelis umat menunjukan ketidaksukaan dan tidak ridha terhadap kepala daerah itu maka kepala daerah itu pun bisa diberhentikan.13

Dengan demikian, secara prosedur apa yang dijelaskan oleh al-Mawardi Taqiyuddin An Nabhani, dan teoritis fiqih siyasah masih bersifat sederhana, tidak bersifat rinci dan prosedural sebagaimana dirumuskan dalam pasal-pasal di atas. Menurut penulis untuk kasus pemberhentian bupati Bogor menurut fiqih siyasah bisa dilakukan dengan melihat pendapat dari salah satu teoritis fiqih siyasah, yaitu Al-Baqillani. Jika kepala daerah melakukan kesalahan maka kepala daerah tersebut bisa digantikan, sama halnya dengan pemberhentian Rahmat Yasin karena ia sudah melakukan kesalahan maka, ia diberhentikan dari jabatannya.

Kalau seorang kepala daerah telah secara sah menduduki jabatan dan telah didukung oleh masyarakat luas seperti yang uraikan pada bagian terdahulu, maka seorang kepala daerah itu wajib ditaati dan warga masyarakat harus tunduk dengan

12

Imam Al-Mawardi, Hukum Tata Negara dan Kepemimpinan Dalam Takaran Islam, h. 64-65.

13

Taqiyuddin An Nabhani, Sistem Pemerintahan Islam: Doktrin Sejarah dan Realitas Empirik, h. 234-235.

kebijakan-kebijakannya. Dengan catatan ia tidak melakukan berbagai penyimpangan. Tetapi jika seorang pemimpin telah melakukan penyimpangan, melakukan berbagai pelanggaran atas berbagai larangan yang telah ditetapkan, maka ia harus dilengserkan.

E. Relevansi Mekanisme Pemakzulan Kepala Daerah Menurut Perspektif

Dokumen terkait