BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.5 Mekanisme Penanganan Tindak Pidana di Laut Oleh TNIAL
a. Pengejaran Kapal.
Pengejaran kapal adalah upaya untuk menghentikan dan menangkap pelaku yang diduga melakukan tindak pidana dan melarikan diri, meliputi tindakan-tindakan pendeteksian, pengenalan dan penilaian sasaran sebagai berikut:
1. Pendeteksian.
Melaksanakan kegiatan pengawasan di sektor-sektor perairan yang rawan terjadi tindak pidana berdasarkan informasi yang diperoleh antara lain:
(1) Data/informasi intelijen.
(2) Analisa Daerah Operasi (ADO).
(3) Laporan/informasi dari patroli udara maritim.
(4) Laporan/informasi dari masyarakat.
(5) Laporan/informasi dari kapal lain.
2. Pengenalan.
Apabila dalam kegiatan patroli dijumpai sasaran, adakan pengenalan dengan menggunakan sarana yang ada (ESM, radar, sonar, teropong, TDS, optronik, komunikasi, radio, atau isyarat).
3. Penilaian Sasaran.
Dimaksudkan untuk menilai dan menentukan:
(1) Jenis kapal (kapal perang, kapal pemerintah, kapal niaga).
(2) Tanda pengenal kapal (nomor kapal, bendera, nomor lambung, warna dll).
(3) Kegiatan kapal (menarik jaring, menarik tongkang, lego jangkar, bongkar/muat dll).
(4) Data-data lain (pelabuhan asal dan tujuan, muatan kapal dll).
b. Penangkapan dan Penyelidikan Kapal.
1. Penghentian Kapal.
a. Apabila kapal dicurigai melakukan tindak pidana berdasarkan bukti permulaan yang cukup, diadakan penghentian dengan alasan-alasan sebagai berikut:
1) Di Perairan Kepulauan dan Laut Teritorial, melakukan tindak pidana yang diatur dalam perundang-undangan Indonesia.
2) Di Zona Tambahan, melakukan tindak pidana yang berhubungan dengan kepabeanan, imigrasi, fiskal dan karantina.
3) Di ZEEI dan Landas Kontinen Indonesia:
(1) Melakukan penelitian ilmiah kelautan tanpa ijin.
(2) Melakukan eksplorasi/eksploitasi sumber daya di ZEEI/
Landas Kontinen tanpa ijin pemerintah RI.
(3) Meletakkan/membongkar kabel dasar laut/pipa saluran tanpa ijin.
(4) Membangun dan menggunakan pulau buatan, instalasi dan bangunan tanpa ijin.
(5) Melakukan pencemaran.
(6) Melakukan kegiatan lain yang bertentangan dengan hukum nasional dan internasional.
4) Di laut lepas, kapal melakukan kegiatan yang bertentangan dengan hukum internasional. Contoh: Perompakan, penyiaran gelap, dll.
2. Prosedur penghentian.
Pada dasarnya penghentian kapal dilakukan bilamana ada dugaan yang cukup telah terjadi pelanggaran hukum dan atau untuk mencegah terjadinya pelanggaran hukum:
a. Pada saat KRI/KAL akan melaksanakan penghentian suatu kapal, laksanakan peran pemeriksaan dan penggeledahan yang didahului peran tempur bahaya permukaan.
b. Dimulai dengan memberikan isyarat untuk berkomunikasi dengan cara:
1) Mengibarkan bendera:“K” (pada batas cuaca yang dapat dilihat).
2) Optis lampu “KKK” (pada batas cuaca yang dapat dilihat).
3) Semaphore, huruf “K” (pada batas cuaca yang dapat dilihat).
4) Radio komunikasi channel 16.
c. Apabila komunikasi gagal, perintah berhenti dapat dilaksanakan dengan cara:
1) Mengibarkan bendera Upen “L” (pada batas cuaca yang dapat dilihat).
2) Megaphon (pada batas yang dapat didengar).
3) Isyarat Gauk.
d. Jika permintaan untuk berkomunikasi dan perintah berhenti menurut cara-cara di atas tidak di indahkan, maka diberikan peringatan tembakan dengan menggunakan amunisi jenis peluru hampa atau tajam ke arah atas.
e. Jika peringatan ini tidak diindahkan, laksanakan tembakan ke arah laut disekitar kapal yang percikannya dapat dilihat oleh kapal yang dicurigai.
f. Apabila dengan peringatan tersebut kapal tidak juga berhenti, dapat iambil tindakan sesuai dengan pasal 5 ayat (1) huruf a angka 4 jo pasal 7 ayat (1) huruf j KUHAP dalam rangka mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung jawab dengan menembak ke arah badan kapal pada tempat yang diperkirakan tidak ada ABK-nya dan laksanakan pertolongan jika diperlukan.
g. Dalam hal kapal melakukan manuver yang membahayakan dan atau ABK melakukan perlawanan tindak kekerasan maka dapat diambil tindakan bela diri.
3.Dalam melakukan penghentian kapal asing harus memperhatikan hak-hak kapal tersebut selama melakukan lintas di Perairan Kepulauan dan Laut Teritorial sesuai dengan ketentuan dalam Konvensi Hukum Laut 1982.
a. Pemeriksaan Kapal.
Setelah kapal dihentikan maka dilaksanakan tindakan:
1. Melaksanakan pemeriksaan.
2. Atas perintah Komandan, kapal merapat ke KRI/KAL atau sebaliknya.
3. Dalam keadaan tertentu dapat menggunakan sekoci KRI untuk merapat ke kapal yang diperiksa atau sekoci kapal yang diperiksa merapat ke KRI/KAL (KRI harus melaksanakan pengawasan terhadap kapal yang dicurigai tersebut pada jarak aman).
4. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam proses pemeriksaan di laut:
1) Pemeriksaan di laut harus menggunakan sarana yang sah/resmi dengan identitas/ciri-ciri luar yang jelas dan dapat dikenali sebagai kapal perang, KAL atau kapal pemerintah yang diberi kewenangan untuk melakukan tindakan tersebut.
2) Tim Pemeriksa harus menggunakan seragam lengkap dan dilengkapi surat perintah.
3) Pemeriksaan harus disaksikan oleh nahkoda atau ABK kapal yang diperiksa.
4) Pemeriksaan harus dilakukan secara tertib, tegas, teliti, cepat, tidak terjadi kehilangan, kerusakan dan tidak menyalahi prosedur pemeriksaan.
5) Selama peran pemeriksaan tim pemeriksa harus selalu berkomunikasi dengan kapal pemeriksa.
6) Selama melakukan pemeriksaan hindari menggunakan kekerasan.
7) Setelah selesai pemeriksaan, hal-hal yang harus diperhatikan:
(1) Membuat surat pernyataan tertulis dan ditandatangani oleh nahkoda kapal, yang menerangkan bahwa pemeriksaan berjalan dengan tertib tidak terjadi kekerasan, kerusakan atau kehilangan.
(2) Membuat surat pernyataan tertulis dan ditandatangani oleh nahkoda kapal, yang menerangkan tentang hasil pemeriksaan surat-surat/dokumen dengan menyebutkan tempat dan waktu.
(3) Mencatat dalam buku jurnal kapal yang diperiksa berisi:
(a) Kapan dan dimana kapal diperiksa.
(b) Pendapat tentang hasil pemeriksaan secara garis besar.
(c) Perintah yang diberikan.
(d) Perwira pemeriksa menandata-ngani hasil pemeriksaan pada jurnal kapal dibubuhi stempel kapal pemeriksa.
(4) Dalam hal buku jurnal kapal tidak ada, agar nahkoda membuat surat pernyataan tentang tidak adanya buku jurnal kapal.
3. Tindak Lanjut Hasil Penyelidikan.
Apabila tidak terdapat bukti yang cukup atau petunjuk yang kuat tentang adanya tindak pidana:
a Kapal diijinkan melanjutkan pelayaran.
b. Dalam buku jurnal pelayaran dicatat bahwa telah diadakan pemeriksaan dengan menyebutkan posisi dan waktu.
c. Meminta surat pernyataan tertulis dari nahkoda bahwa tidak terjadi kekerasan, kerusakan dan kehilangan selama pemeriksaan.Apabila terdapat bukti yang cukup atau petunjuk yang kuattentang telah terjadi suatu tindak pidana:
(1) Perwira pemeriksa memberitahukan kepada nahkoda bahwa telah terjadi tindak pidana dan untuk itu kapal akan dibawa kepangkalan/
pelabuhan yang ditentukan.
(2) Meminta kepada nahkoda kapal untuk memberikan tanda tangan pada peta posisi, gambar situasi pengejaran dan penghentian.
(3) Komandan KRI/KAL mengeluarkan surat perintah untuk membawa kapal dan orang kepangkalan/pelabuhan yang telah ditentukan.
Alternatif cara membawa kapal:
Di ad hoc.
a) Komandan KRI/KAL menerbitkan surat perintah ad hoc kepada nahkoda/tersangka supaya membawa sendiri kapalnya ke pelabuhan sesuai yang diperintahkan.
b) Surat-surat/dokumen kapal/muatan dan benda-benda yang mudah dipindahkan diamankan di KRI/KAL.
c) Perintah ad hoc hanya diberlakukan terhadap kapal berbendera Indonesia yang diyakini tidak akan melarikan diri.
d) Surat perintah ad hoc dibuat rangkap tiga (nahkoda, instansi yang dituju dan arsip KRI/KAL).
Dikawal.
a) Kapal tetap dibawa nahkoda dan ABK-nya menuju pelabuhan yang dituju.
b) Ditempatkan tim kawal di atas kapal.
c) KRI/KAL dapat mengawal pada jarak aman.
d) Surat-surat/dokumen kapal/muatan dan benda-benda yang mudah dipindahkan, diamankan di KRI/KAL.
e) Sebagian ABK dari kapal yang dikawal dapat dipindahkan ke KRI/KAL.
Digandeng/ditunda/ditarik.
a) Dalam hal kapal mengalami kerusakan dapat dibawa oleh KRI/
KAL dengan cara di gandeng/ ditunda/ditarik.
b) Sebagian ABK dapat dipindahkan ke KRI/KAL dan menempatkan petugas di atas kapal yang dikawal.
c) Apabila kapal mengalami kerusakan berat dan kemungkinan besar akan tenggelam serta upaya penyelamatan kapal tidak memungkinkan, maka nahkoda dan ABK di pindahkan ke KRI/KAL sebagai upaya pertolongan.
d) Apabila kapal yang di gandeng/ditunda/ditarik karena kerusakan berat mengakibatkan tenggelam, harus dibuat Berita Acara yang berisi tentang posisi dan sebab-sebab tenggelamnya kapal tersebut.
4. Penyerahan ke Pangkalan TNI AL.
Pada prinsipnya Komandan KRI/KAL adalah Penyidik, namun dengan pertimbangan efisiensi waktu penyidikan lanjut diserahkan kepada pangkalan.
Setelah kapal sampai di pangkalan/ pelabuhan Komandan KRI/KAL segera menyerahkan kapal dan muatan, nahkoda dan ABK serta surat-surat/dokumen kapal/muatan kepada pangkalan dengan dilengkapi:
a. Laporan kejadian.
b. Gambar situasi pengejaran dan penghentian kapal.
c. Pernyataan tentang posisi kapal.
d. Surat perintah dan berita acara pemeriksaan kapal.
e. Pernyataan hasil pemeriksaan kapal.
f. Pernyataan hasil pemeriksaan surat-surat kapal.
g. Pernyataan keadaan muatan kapal.
h. Pernyataan tidak tersedianya buku jurnal kapal (kalau tidak ada).
i. Surat perintah dan berita acara membawa kapal dan orang.
j. Berita Acara Pemeriksaan (BAP) Saksi dari KRI/KAL (min. 2 orang).
k. Berita acara pengambilan sumpah/ janji saksi dari KRI/KAL (minimal dua orang).
l. Berita acara serah terima kapal dan perlengkapannya, Nahkoda dan ABK, dokumen kapal serta berkas perkara.
5. Mekanisme Penyerahan dan Pelaporan Kapal Tangkapan.
Dalam rangka meningkatkan efektifitas, efisiensi dan kemandirian Pangkotama dalam melaksanakan penegakan hukum di laut disusun suatu mekanisme penyerahan dan pelaporan kapal tangkapan sebagai berikut:
1) Penangkapan dan Penyerahan kapal kepada Pangkalan TNI AL.
(a) KRI/KALBKOPangarmada atau Komandan Guspurla atau Komandan Guskamla, dalam melaksanakan penangkapan dan penyerahan kapal, Komandan KRI/KAL membuat laporan berupa berita telegram kepada Penerima BKO dengan tembusan kepada Kasal, Pangarma (Bila BKOGuspurla/Guskamla), Danguspurla (bila BKODanguskamla), Danguskamla (bila BKODanguspurla) dan Danlantamal/Lanal sesuai daerah penangkapan/penyerahan.
(b) KRI/KAL unsur Kolinlamil, dalam melaksanakan penangkapan dan penyerahan kapal, Komandan KRI/KAL membuat laporan berupa berita telegram kepada Panglima Kolinlamil dengan tembusan kepada Kasal, Pangarma, Danguspurla, Danguskamla dan Danlantamal sesuai daerah penangkapan/penyerahan.
(c) KRI/KAL unsur Dishidros, dalam melaksanakan Penangkapan dan penyerahan kapal, Komandan KRI/KAL membuat laporan kepada KasalUp.Kadishidrosdengan tembusan kepada Kasal, Pangarma, Danguspurla, Danguskamla dan Danlantamal sesuai daerah operasi.
(d) KRI/KAL unsur Pangkalan TNI Angkatan Laut / Lanal dalam melaksanakan penangkapan, Komandan KAL membuat laporan
berupa berita telegram kepada Komandan Pangkalan, selanjutnya Komandan Pangkalan lapor ke Pangarma dengan tembusan Danguskamla.
(e) KRI/KAL yang di BKO ke instansi lain, dalam melaksanakan penangkapan melaporkan ke penerima BKO dan tembusan ke pengirim BKO.
2). Dalam melaksanakan penyerahan kapal tangkapan kepada Kejaksaan/Jaksa Penuntut Umum (JPU) atau PPNS atau Polri, Pangkalan TNI AL membuat laporan berupa berita telegram kepada Panglima Armadadengan tembusan kepada Kasal, Pangkolinlamil (bila penangkap adalah unsur Kolinlamil), Kadishidros (bila penangkap adalah unsur Dishidros), Danguspurla, Danguskamla, Danlantamal (bila yang membuat laporan adalah Lanal) dan KRI/KAL penangkap.
c. Penyidikan di Pangkalan TNI AL.
a. Pemeriksaan oleh Pangkalan TNI AL.
Pangkalan melakukan pemeriksaan terhadap kapal dan muatan, nahkoda dan ABK serta surat-surat/dokumen kapal/muatan yang diserahkan oleh KRI/KALmaupun dari instansi lain untuk proses hukum lebih lanjut.
b. Proses Penyidikan.
Penyidik segera menerbitkan Surat Perintah Penyidikan dan Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP) kepada pihak Kejaksaan. Untuk keperluan penyidikan, dilakukan tindakan:
1) Penggeledahan kapal.
Pelaksanaan penggeledahan dilakukan dengan memperhatikan:
a) Dilakukan oleh penyidik atau atas perintah penyidik.
b) Harus dilengkapi dengan surat perintah penggeledahan dan dibuat berita acara yang ditandatangani oleh petugas dan dua orang saksi. Salinan berita acara diberikan kepada nakhoda atau yang bertanggung jawab.
c) Ijin penggeledahan dimintakan kepada Ketua Pengadilan Negeri setempat. Dalam hal sangat mendesak penyidik dapat menggeledah terlebih dahulu untuk kemudian dimintakan persetujuan Ketua Pengadilan Negeri setempat.
d) Dilakukan dengan disaksikan oleh nakhoda dan ABK.
e) Hindari terjadinya kerusakan atau hilangnya benda yang tidak ada hubungannya dengan tindak pidana.
f) Harus tertib dan cermat, kemudian nakhoda membuat pernyataan bahwa penggeledahan tersebut tidak menimbulkan kerusakan atau kerugian.
2) Pemeriksaan saksi.
a) Pemeriksaan saksi dilakukan oleh penyidik yang dituangkan dalam berita acara pemeriksaan saksi.
b) Pemeriksaan terhadap saksi (minimal dua orang) untuk memperoleh keterangan tentang perbuatan tersangka.
c) Berita acara pemeriksaan harus memuat secara jelas tentang identitas saksi dan hubungannya dengan tersangka.
d) Apabila saksi tidak mengerti bahasa Indonesia maka pemeriksa dibantu oleh juru bahasa. Juru bahasa dibuatkan berita acara pengambilan sumpah.
e) Berita acara pemeriksaan harus dibacakan ulang kepada saksi dan apabila isinya telah disetujui maka berita acara ditandatangani oleh saksi, penyidik dan juru bahasa apabila menggunakan juru bahasa.
3) Pemeriksaan Tersangka.
a) Pemeriksaan dilakukan oleh penyidik yang dituangkan dalam berita acara pemeriksaan tersangka.
b) Sebelum melakukan pemeriksaan, penyidik wajib menyampaikan hak tersangka untuk mendapatkan bantuan hukum.
c) Apabila tersangka tidak mengerti bahasa Indonesia maka penyidik dibantu juru bahasa yang harus disumpah terlebih dahulu.
d) Tersangka harus diberitahu tentang apa yang dipersangkakan terhadapnya.
e) Tersangka harus berada dalam kondisi yang sehat dan tidak dilakukan penekanan atau paksaan.
f) Berita acara pemeriksaan harus jelas memuat identitas tersangka.
g) Berita acara harus dibacakan ulang kepada tersangka dan apabila sudah menyetujui isinya maka tersangka, penyidik dan juru bahasa menandatangani berita acara.
4) Penyitaan.
Dalam melakukan penyitaaan harus memperhatikan:
a) Penyitaan hanya dapat dilakukan oleh penyidik dengan surat ijin Ketua Pengadilan Negeri setempat.
b) Dalam hal keadaan yang sangat perlu dan mendesak penyidik dapat menyita terlebih dahulu untuk kemudian dimintakan persetujuan kepada Ketua Pengadilan Negeri setempat.
c) Benda yang dapat dikenakan penyitaan adalah:
(1) Benda atau bukti surat yang seluruh atau sebagian diduga diperoleh dari tindak pidana atau sebagian hasil dari tindak pidana.
(2) Benda yang dipergunakan secara langsung untuk melakukan tindak pidana atau untuk mempersiapkanya.
(3) Benda yang dipergunakan untuk menghalang-halangi penyidikan.
(4) Benda yang khusus dibuat atau diperuntukkan melakukan tindak pidana.
(5) Benda lain yang mempunyai hubungan langsung dengan tindak pidana.
d) Hal-hal yang harus diperhatikan:
(1) Dalam hal orang/nakhoda dari siapa benda tersebut disita menolak untuk menandatangani berita acara penyitaan supaya dicatat dalam berita acara penyitaan dengan menyebutkan alasan penolakan tersebut.
(2) Barang bukti/benda sitaan harus disimpan:
(a) Di rumah penyimpanan benda sitaan negara/Rupbasan.
(b) Di tempat khusus di kantor penyidik.
(c) Dalam hal benda sitaan tidak mungkin disimpan di Rupbasan/kantor penyidik, maka benda sitaan dapat diamankan di tempat yang dapat diawasi oleh penyidik.
(3) Barang bukti/benda sitaan sebelum dibungkus, dicatat, berat dan atau jumlahnya, diikat menurut jenis masing-masing, ciri maupun sifat fisik, tempat, hari dan tanggal penyitaan serta identitas orang dari mana benda itu disita kemudian diberi lak dan cap jabatan serta ditandatangani penyidik.
(4) Barang bukti yang tidak mungkin dibungkus menurut cara seperti tersebut diatas, diberi label pada bagian benda sitaan yang mudah terlihat.
(5) Dalam hal barang/benda sitaan disimpan dalam kemasan/peti dan jumlahnya banyak, maka kemasan/peti itu dihubungkan satu sama lain dengan mempergunakan tali yang kuat kemudian dilak dan dicap/stempel.
(6) Barang bukti berupa kapal agar dilumpuhkan.
5) Pelelangan barang bukti/benda sitaan.
a) Dalam hal benda sitaan karena keadaan atau sifatnya sedemikian rupa mudah rusak atau biaya penyimpanan yang terlalu tinggi dan lain sebagainya, maka benda sitaan tersebut dapat dilelang.
b) Pelaksanaan lelang barang/benda sitaan sedapat mungkin dengan ijin Pengadilan Negeri setempat dan persetujuan tersangka.
c) Pelaksanaan lelang harus dengan perantara Pejabat Kantor Lelang Negara.
d) Uang hasil lelang dipergunakan sebagai pengganti barang bukti.
e) Diupayakan sebagian kecil benda sitaan disisihkan sebagai barang bukti.
6) Penahanan tersangka.
a) Dilaksanakan sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
b) Penahanan dilaksanakan di Rumah Tahanan Pangkalan.
c) Surat Perintah Penahanan harus memuat jenis penahanan dan jangka waktu penahanan. Lama penahanan maksimum 20 hari dan dapat diperpanjang atas ijin Penuntut Umum maksimum 40 hari (khusus untuk tindak pidana perikanan masa perpanjangan maksimal 10 hari).
7) Penanganan ABK yang bukan tersangka. ABK yang bukan tersangka setelah selesai dilakukan pemeriksaan segera dibebaskan.
Khusus ABK WNA koordinasi dengan instansi terkait.
8) Pengamanan tersangka dan barang bukti dilaksanakan oleh pangkalan dengan menerbitkan surat perintah.
9) Berita Acara Pendapat/Resume.
a) Penyidik setelah membaca dan mempelajari semua hasil pemeriksaan saksi-saksi dan para tersangka serta memperhatikan bukti-bukti yang ada, maka penyidik membuat suatu kesimpulan/pendapat tentang:
(1) Tindak pidana yang terjadi.
(2) Pelaku, orang yang menyuruh dan membantu melakukan tindak pidana.
(3) Kapan dan dimana tindak pidana terjadi.
(4) Bagaimana cara tindak pidana dilakukan.
b) Penyidik menguraikan unsur tindak pidana yang disangkakan dihubungkan dengan rangkaian perbuatan tersangka yang diperkuat dengan alat bukti lain.
c) Apabila penyidik berpendapat bahwa tersangka telah melakukan tindak pidana yang diatur dalam beberapa ketentuan, maka sangkaan dibuat primair, subsidair dan lebih subsidair (dimulai dari yang terberat).
d) Apabila penyidik berpendapat bahwa tersangka telah melakukan beberapa tindak pidana maka sangkaan dibuat secara kumulatif.
10) Penghentian penyidikan.
a) Penghentian penyidikan dilakukan karena :
(1) Tidak cukup bukti.
(2) Bukan merupakan suatu tindak pidana, atau (3)Dihentikan demi hukum.
b) Mengajukan permohonan penghentian penyidikan kepada komando atas secara berjenjang dalam waktu yang tidak terlalu lama.
c) Membuat Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) dan Berita Acara Penghentian Penyidikan.
d) Memberitahukan kepada Penuntut Umum, tersangka dan keluarganya.
e) Mengembalikan barang bukti dengan disertai Berita Acara kepada tersangka.
f) Melaporkan pelaksanaan penghentian penyidikan kepada komando atas
11) Berkas perkara.
a) Sampul berkas perkara memuat antara lain: kop satuan, nomor berkas perkara dan identitas tersangka.
b) Berkas perkara yang dibuat oleh penyidik berisi:
(1) Register perkara.
(2) Daftar isi perkara pidana atas nama tersangka.
(3) Berita acara pendapat/resume.
(4) Surat Perintah Penyidikan.
(5) Surat pemberitahuan kepada Kejaksaan Negeri tentang dimulainya penyidikan (SPDP).
(6) Surat perintah dan Berita acara penahanan.
(7) Surat permohonan perpanjangan penahanan kepada Kejaksaan.
(8) Surat perintah perpanjangan penahanan.
(9) Berita acara perpanjangan penahanan.
(10) Surat perintah dan berita acara mengeluarkan dari tahanan.
(11) Surat permohonan ijin atau pemberitahuan kepada Pengadilan Negeri tentang telah dilakukan penggeledahan.
(12) Surat perintah dan Berita acara penggeledahan.
(13) Daftar barang bukti yang digeledah.
(14) Surat perintah dan Berita acara penyitaan.
(15) Surat permohonan ijin atau kepada Pengadilan Negeri tentang telah dilakukan penyitaan barang bukti.
(16) Daftar barang bukti yang disita.
(17) Foto barang bukti yang disita.
(18) Daftar adanya saksi.
(19) Berita acara pemeriksaan saksi.
(20) Berita acara pengambilan sumpah/ janji saksi.
(21)Daftar adanya tersangka.
(22) Berita acara pemeriksaan tersangka.
(23) Foto tersangka.
(24) Berita acara pengambilan sumpah/ janji juru bahasa/ahli.
(25) Daftar barang bukti.
(26) Surat perintah dan berita acara mengeluarkan dari tahanan.
(27) Risalah lelang.
(28) Berkas-berkas yang dibuat oleh kapal penangkap (oleat, laporan kejadian, dll).
(29) Foto-foto/dokumentasi (kalau ada).
(30) Berita acara pelaksanaan tindakan lain sesuai dengan ketentuan undang-undang.
12) Penyerahan perkara kepada Kejaksaan.
a) Penyidik menyerahkan berkas perkara kepada Kejaksaan Negeri setempat secepat mungkin disertai dengan Surat penyerahan berkas perkara.
b) Kejaksaan Negeri akan mempelajari berkas tersebut untuk kemudian memeriksa kelengkapannya. Apabila tidak lengkap, maka berkas perkara dikembalikan kepada penyidik dengan surat P.18 (surat pengembalian berkas perkara yang tidak lengkap), disertai dengan petunjuk perbaikan P.19.
c) Apabila penyidik terlalu lama menyelesaikan perbaikan berkas perkara tersebut, maka Kejaksaan Negeri akan memberikan peringatan dengan memberikan P.20.
d) Dengan lengkapnya berkas perkara, pihak Kejaksaan Negeri akan mengeluarkan P.21. Apabila dalam jangka waktu 14 hari pihak
Penuntut Umum tidak mengembalikan hasil penyidikan maka penyidikan dianggap sudah selesai dan penyidik dapat menyerahkan tersangka dan barang bukti.
e) Penyidik menyerahkan tersangka dan barang bukti sesuai P.21 kepada Kejaksaan Negeri disertai Berita acara serah terima tersangka, Barang Bukti dan Berkas Perkara.
f) Apabila berkas perkara ditolak oleh Kejaksaan Negeri dan penyidik tidak dapat melengkapinya karena tidak cukup bukti atau bukan perkara pidana, maka:
(1) Penyidik mengusulkan SP3 (Surat Perintah Penghentian Penyidikan) kepada komando atas disertai alasan yuridis.
(2) Tersangka dapat dibebaskan dan barang bukti dikembalikan kepada yang berhak setelah mendapat persetujuan dari komando atas.
(3) Persetujuan dari komando atas, diberikan dalam waktu yang tidak terlalu lama untuk mencegah implikasi hukum dikemudian hari (Perkasal/ 32/V/2009 : 34-47)
2.6 Dasar Wewenangan Penyidik Perwira TNI Angkatan Laut dalam melakukan Penyidikan.
a. TZMKO. Ordonansi Laut Teritorial dan Lingkungan Laut Larangan (Territoriale Zee en Maritime KringenOrdonantie) 1939 Stbl.1939 Nomor 442 Pasal 13 menyatakan bahwa: ”Untuk memelihara dan mengawasi pentaatan ketentuan–ketentuan dalam ordonansi ini
ditugaskan kepada Komandan Angkatan Laut Surabaya, Komandan-komandan Kapal Perang Negara dan kamp-kamp penerbangan dari Angkatan Laut”.
b. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang KUHAP jo Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1983 tentang Pelaksanaan KUHAP penjelasan pasal 17 menyebutkan bahwa:
“bagi penyidik dalam perairan Indonesia, zona tambahan, landas kontinen dan ZEEI penyidikan dilakukan oleh perwira TNI AL dan pejabat penyidik lainnya yang ditentukan oleh undang-undang yang mengaturnya”.
b. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1983 tentang Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI). DalamPasal 14 ayat (1) memberikan kewenangan kepada Perwira TNI AL yang ditunjuk oleh Pangab sebagai aparat penegak hukum di bidang penyidikan terhadap pelanggaran ketentuan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1983.
d. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 1985 tentang Pengesahan UNCLOS 1982. Memberikan kewenangan kepada pejabat-pejabat, kapal perang dan kapal pemerintah untuk melakukan penegakan hukum di laut. Hal ini dapat dilihat dalam beberapa pasal antara lain pasal 107,110, 111 dan 224 UNCLOS 1982.
e. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Hayati dan Ekosistemnya. Pasal 39 ayat (2) kewenangan penyidik Kepolisian Negara RI, juga Pejabat Pegawai Negeri Sipil
tertentu di lingkungan departemen yang lingkup tugas dan tanggung jawabnya meliputi pembinaan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, tidak mengurangi kewenangan penyidik sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1983 tentang ZEEI dan Undang-UndangNomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan.
f. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1996 tentang Perairan Indonesia.
Dalam penjelasan pasal 24 ayat (3) Penegakan hukum dilaksanakan oleh instansi terkait antara lain TNI AL, Polri, Departemen Perhubungan, Departemen Pertanian, Departemen Keuangan dan Departemen Kehakiman sesuai dengan wewenang masing-masing instansi tersebut dan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan nasional maupun hukum internasional.
g. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentangPerikanan. Dalam Pasal 73 ayat (1) menyebutkan bahwa:
“Penyidikan tindak pidana di bidang perikanan dilakukan oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil Perikanan, Perwira TNI AL dan Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia”.
h. Undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perubahan Undang-Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan. Dalam Pasal 73 ayat (1) Penyidikan tindak pidana di bidang perikanan di wilayah pengelolaan perikanan Negara Republik Indonesia dilakukan oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil Perikanan, Penyidik Perwira TNI AL, dan/atau Penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia.
i. Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 tentang Tentara Nasional Indonesia. Dalam pasal 9 huruf (b) Angkatan Laut bertugas menegakkan hukum dan menjaga keamanan di wilayah laut yurisdiksi nasional sesuai dengan ketentuan hukum nasional dan hukum internasional yang telah diratifikasi.
j. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentangPelayaran.Dalam Pasal 282 ayat (1) :
“Selain penyidik pejabat Polisi Negara Republik Indonesia dan penyidik lainnya, Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan instansi yang lingkup tugas dan tanggung jawabnya di bidang pelayaran diberi wewenang khusus sebagai penyidik sebagaimana dimaksud dalam undang-undang ini”.
Adapun dalam penjelasannya yang dimaksud dengan “penyidik lainnya”
adalah penyidik sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan antara lain Perwira Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut dan dipertegas pada pasal 340 untuk di ZEEI.
k. Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2008 tentang Wilayah Negara.Dalam Pasal 7 disebutkan:
“Negara Indonesia memiliki hak-hak berdaulat dan hak-hak lain di wilayah Yurisdiksi yang pelaksanaannya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dan hukum internasional”.
Dan Pasal 22 disebutkan:
“Negara Indonesia berhak melakukan pengelolaan dan pemanfaatan kekayaan alam dan lingkungan laut di laut bebas serta dasar laut internasional yang dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dan hukum internasional”.
( ProtapKamla 2009 :9-10)