• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROSES PENYIDIKAN TINDAK PIDANA PERIKANAN OLEH TNI ANGKATAN LAUT (Studi Kasus di Wilayah Pangkalan Utama TNI AL VI Makassar)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "PROSES PENYIDIKAN TINDAK PIDANA PERIKANAN OLEH TNI ANGKATAN LAUT (Studi Kasus di Wilayah Pangkalan Utama TNI AL VI Makassar)"

Copied!
71
0
0

Teks penuh

(1)

PROSES PENYIDIKAN TINDAK PIDANA PERIKANAN OLEH TNI ANGKATAN LAUT

(Studi Kasus di Wilayah Pangkalan Utama TNI AL VI Makassar)

Skripsi Ini Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Hukum

Oleh Lukas Mule NIM 4513060044

Fakultas Hukum/Ilmu Hukum Universitas Bosowa Makassar

2017

(2)
(3)
(4)
(5)

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PENERIMAAN PENGESAHAN...……..……... ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING... iii

PERSETUJUAN UJIAN SKRIPSI... iv

KATA PENGANTAR ... v

DAFTAR ISI ... vi

BAB1 PENDAHULUAN ... 1

1.1 LatarBelakangMasalah ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 5

1.3.Tujuan dan Kegunaan Penelitian ... 5

1.4.Metode Penelitian... 6

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Penegakan Hukum ... 9

2.2 Pengertian Penyidikan ... 11

2.3 Pengertian Tindak Pidana Pibidang Perikanan ... 13

2.4 Penanganan Tindak Pidana Perikanan ... 24

2.5 Mekanisme Penanganan Tindak Pidana di Laut Oleh TNIAL ... 22

a. Pengejaran Kapal ... 22

b. Penangkapan dan Penyidikan Kapal... 23

c. Penyidikan di Pangkalan ... 30

(6)

2.6 Dasar Kewenangan Perwira TNI AL Dalam Pelaksanaan

Penyidikan di Laut. ... 42 BAB 3 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

3.1 Proses Pelaksanaan Penyidikan Tindak Pidana Perikanan Oleh TNI AL di Wilayah Pangkalan Utama TNI AL VI………. … 48 3.2 Kendala Yang Dihadapi Penyidik Dalam Penyidikan Tindak Pidana

Perikanan di Wilayah Pangkalan Utama TNI AL ... 57 BAB 4 PENUTUP

4.1 Kesimpulan... 59 4.2 Saran... 60 DAFTAR PUSTAKA………. ... 61

(7)

KATA PENGANTAR

Puji Syukur kepada Tuhan Yanga Maha Esa atas segala limpahan rahmat dan karunianya sehingga penulis dalam penyusunan skripsi ini dapat terselesaikan. Sekalipun, penulis menyadari bahwa di dalamnya masih banyak kekurangan, karena keterbatasan penulis. Oleh karena itu penulis sangat mengharapkan berbagai masukan atau saran dari para penguji untuk penyempurnaannya.

Skripsi ini dibuat sebagai syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana Hukum dalam bidang Hukum Pidana Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Bosowa. Adapun judul Skripsi ini adalah Proses Penyidikan Tindak Pidana Perikanan Oleh TNI AL (studi kasus di wilayah Pangkalan Utama TNI AL VI Makassar).

Dalam masa studi sampai dengan hari ini dimana Penulis sudah sampai pada tahapan akhir penyelesaian studi, begitu banyak halangan dan rintangan yang telah Penulis lalui, baik bersifat ekstern maupun interm, salah satunya antara kulia dan kerja terkadang susah dalam membagi waktu, namun berkat sebuah cita-cita dan dengan harapan yang orang tua, istri dan keluarga titipkan kepada penulis, akhirnya penulis dapat melalui semua itu dan tiba di hari ini dengan impian bahwa akan mendapatkan gelar Sarjana Hukum di belakang nama penulis.

Dibalik perjuangan penulis berkuliah, hingga sekarang ini, tidak pernah luput dari doa kedua orangtua Penulis. Walau tidak ayahanda tidak melihat penulis

(8)

meraih gelar sarjana dikarenakan beberapa tahun yang lalu telah berpulang ke kesorga.

Kepada Bapak Dr. Ruslan Renggong ,S.H.,M.H. selaku Pembimbing I sekaligus Dekan Fakultas Hukum Universitas Bosowa dan Ibu Dr.Yulia A. Hasan, S.H.,M.H selaku Pembimbing II sekaligus Wakil Dekan I Fakultas Hukum Universitas Bosowa. Terima kasih atas nasehatnya, ilmu dan binbingan yang telah diberikan di tengah-tengah kersibukan dan aktivitas, sehingga Penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini telah melibatkan banyak pihak tentunya dengan sepenuh hati meluangkan waktu serta dengan ikhlas memberikan informasi-informasi yang dibutuhkan. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini dengan segala kerendahan hati penulis mengungkapkan terimakasih yang tulus kepada:

1. Hj. Siti Zubaidah, S.H., M.H. Ketua Progaram Studi Fakultas Hukum Universitas Bosowa.

2. Bapak Dr. Baso Madiong, SH., M.H., sebagai tim penguji yang banyak memberikan masukan kepada Penulis dalam penyusunan skripsi ini.

3. Bapak Basri Oner, S.H., M.H., sebagai tim penguji yang banyak memberikan saran dan masukan kepada Penulis dalam penyusunan skripsi ini.

4. Seluruh Dosen pengajar Fakultas Hukum Universitas Bosowa yang telah banyak memberikan ilmu yang sangat berharga bagi Penulis.

(9)

5. Kepala Dinas Hukum Lantamal VI, Bapak Letkol Laut (KH) Bahtiar, S.H., M.H. dan Kepala Sub bagian Hukum, Mayor Laut (KH) Agung Yudi K. S.H., Mayor Laut (KH) Jimrifes Bawataa, S.H. dan Mayor Laut (KH) Sulfikar, S.H. atas waktunya membantu Penulis untuk mendapatkan data-data serta masukan guna melengkapi skripsi Penulis.

6. Teman-teman KKN angkatan 42 di Kelurahan Tamanlanrea Jaya Makassar.

7. Seluruh pegawai dan staf akademik Fakultas Hukum Universitas Bosowa yang telah melayani urusan administrasi dan bantuan lainnya

.

Penulis sadari bahwa dalam skripsi ini masih begitu banyak kekurangan, olehnya itu dengan senang hati penulis harapkan kritik dan saran yang membangun dari para penguji dan para pembaca yang sempat membaca skripsi ini.

Makassar, 2017

Penulis

(10)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Indonesia adalah Negara kepulauan yang berarti wilayah Indonesia dikelilingi oleh perairan laut, baik laut teritorial, zona ekonomi eksklusif dan laut lepas, mengandung berbagai macam sumber daya. Diantara sumber daya tersebut adalah sumber daya ikan merupakan berkah dari Tuhan Yang Maha Kuasa yang dianugarkan kepada bangsa Indonesia untuk dimamfatkan sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyatnya. Oleh karena itu sumber daya ikan dilaut tersebut perlu dikolola dengan baik, dijaga kelestariannya, serta keamanannya dari penangkapan ikan oleh nelayan asing maupun lokal, ataupun dari cara-cara penangkapan ikan yang merusak lingkungan hidup.

Potensi perikanan di Indonesia sangat tinggi, tapi kontribusi perikanan terhadap pendapatan nasional relatif kecil. Masih banyak pencurian ikan secara terorganisir yang terjadi di perairan laut Indonesia. Akibatnya sektor perikanan tak jua mendatangkan kesejatraan bagi masayarakat Indonesia, meski pemerintah didukung berbagai Lembaga Sosial Masyarakat (LSM) telah berupaya mengembangkan dan mengelola sektor perikanan.

Perkembangan teknologi yang cukup pesat yang banyak dimamfaatkan nelayan Negara asing untuk menangkap ikan secara illegal diwilayah pengelolaan perikanan yang merugikan Negara Indonesia, oleh karena itu perlu tindakan dan

(11)

kebijakan mulai dari pearngkat aparatur pengamnan untuk melakukan penegakan hukum, perangkat perundang-undangan, penentuan kompetensi untuk menghindari benturan atau overlep dengan apartur keamanan lain, sampai dengan propesionalisme aparat penegak hukum dilaut.

Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) merupakan salah satu aparatur penegak hukum di laut yang tekait dengan tindak pidana perikan (illegal Fishing) disamping PPNS Perikanan dan aparat Kepolisian dalam hal ini polisi perairan (Polairut). Tidak jarang terjadi benturan atau overlep dalam menangani illegal fishing, maupun tindak pidana lainnya yang memberikan satu image yang kurang baik dalam penegakan hukum dilaut.

Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut memiliki berbagai macam sarana dan prasarana untuk menegakkan hukum dilaut, disamping fungsi dan peranan utamanya untuk menjaga keamanan dilaut sesuai semboyan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut yang berbunyi “ JALSTEVA JAYA MAHE”

yang artinya justru dilaut kita jaya, seyokyanya TNI-AL yang diberikan kompetensi untuk menegakkan hukum dilaut teritorial dan Zona ekonomi eksklusif. Pasal 73 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perikanan menentukan bahwa penyidikan tindak pidana dibidang perikanan diwilayah pengelolaan perikanan Negara Republik Indonesia dilakukan oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil Perikanan, Penyidik Perwira TNI Angkatan Laut , dan/atau Penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Adanya 3 (tiga) instansi yang diberikan kewenangan untuk melakukan penyidikan tindak pidana perikanan, membawa peran TNI-AL dalam penanganan

(12)

tindak pidana perikanan (illegal fishing). Dalam hubungannya dengan itu, maka diperlukan koordinasi yang terpadu antara penegak hukum lainnya yang diberikan kewenangan oleh Undang-Undang.

Diratifikasinya hukum laut internasional (UNCLOS) tahun 1982 dengan UU No. 17 tahun 1985, secara yuridis formal wilayah laut yiridiksi Nasional Indonesia menjadi lebih luas. Konsekuesi dari itu semua adalah mejadi semakin beratnya tugas pengamanan di laut khususnya TNI-AL untuk mengawasi dan menjaga lautan seluas 80.791 KM2, terutama diwilayah Zona Ekslusif Indonesia.

Untuk melaksanakan pengawasan dan pengamanan diperlukan sarana dan prasarana/armada yang memadai. Sarana dan prasarana tersebut diperlukan untuk mengintensifkan kegiatan patroli di laut, karena kehadiran TNI-AL dapat membuat pelaku tindak pidana di laut berfikir untuk melakukan kegiatannya termasuk illegal fishing.

TNI Angkatan Laut sebagai komponen utama pertahanan negara di laut bertugas untuk menjaga integritas wilayah Negara dan mempertahankan stabilitas keamanan di laut serta melindungi sumber daya alam di laut dari berbagai bentuk gangguan keamanan dan pelanggaran hukum diwilayah perairan yurisdiksi Nasional Indonesia yang diwujudkan melalui upaya penegakan hukum.

Wewenang Penyidik Perwira TNI Angkatan Laut sebagai perangkat aparat pelaksana penegak hukum yang diatur dalam Pasal 73 A Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perikanan , yaitu :

a. Menerima laporan atau pengaduan dari seseorang tentang adanya tindak pidana di bidang perikanan.

(13)

b. Memanggil dan memeriksa tersangka dan/atau saksi untuk didengar keterangannya.

c. Membawa dan menghadapkan seseorang sebagai tersangka dan/atau saksi untuk didengar keterangannya.

d. Menggeledah sarana dan prasarana perikanan yang diduga digunakan dalam atau menjadi tempat melakukan tindak pidana di bidang perikanan.

e. Menghentikan, memeriksa, menangkap, membawa, dan/atau menahan kapal dan/atau orang yang disangka melakukan tindak pidana di bidang perikanan.

f. Memeriksa kelengkapan dan keabsahan dokumen usaha perikanan.

g. Memotret tersangka dan/atau barang bukti tindak pidana di bidang perikanan.

h. Mendatangkan ahli yang diperlukan dalam hubungannya dengan tindak pidana dibidang perikanan.

i. Membuat dan menandatangani berita acara pemeriksaan.

j. Melakukan penyitaan terhadap barang bukti yang digunakan dan/atau hasil tindak pidana.

k. Melakukan penghentian penyidikan; dan

l. Mengadakan tindakan lain yang menurut hukum dapat dipertang- gungjawabkan.

Penyidikan terhadap tindak pidana merupakan bagian dari sistem penegakan hukum, Sistem penegakan hukum harus melihat cakupan yang luas yang terkandung dalam suatu sistem hukum. Sistem hukum memiliki cakupan

(14)

yang lebih luas dari hukum itu sendiri, kata “hukum”sering mengacu hanya pada aturan dan peraturan, sedangkan sistem hukum membedakan antara aturan dan peraturan itu sendiri, serta struktur, lembaga dan proses yang mengisinya.

Berkaitan dengan peranan Penyidik Perwira TNI Angkatan Laut sebagai salah satu aparat penegak hukum dibidang perikanan, maka penulis tertantang untuk menganalisis dan menuangkan dalam penulisan yang berbentuk skripsi dengan judul Proses Penyidikan Tindak Pidana Perikanan oleh TNI Angkatan Laut (Studi kasus di wilayah Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut VI Makassar).

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian tersebut, penulis mencatat rumusan masalah ini sebagai berikut:

1. Bagaimanakah pelaksanaan penyidikan tindak pidana perikanan oleh penyidik TNI Angkatan Laut di Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut VI Makassar ?.

2. Kendala apakah yang dihadapi oleh penyidik TNI Angkatan Laut dalam penydikan tindak pidana perikanan di Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut VI Makassar ?.

1.3 Tujuan dan Kegunaan Penelitian

1. Untuk mengetahui pelaksanaan penyidikan tindak pidana perikanan oleh penyidik TNI Angkatan Laut dan

2. Untuk mengtahui kendala-kendala dalam pelaksanaan penyidikan.

(15)

Adapun kegunaan penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Agar dapat diginakan oleh peneliti selanjutnya sebagai refrensi yang ingin mengetahui lebih lanjut mengnai proses penyidikan tindak pidana perikanan.

2. Untuk menambah bahan referensi bagi mahasiswa fakultas hukum pada umumnya dan mahasiswa yang mengambil program kekhususan praktisi hukum pada khususnya.

3. Menjadi bahan bacaan dan sumber pengetahuan bagi masyarakat umum yang mempunyai kepedulian terhadap system hukum di Indonesia.

1.4 Metode Penelitian a. Lokasi penelitian

Lokasi melakukan penelitian adalah di Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut VI Makassar. Penulis memilih tempat tersebut karena data dan imformasi yang akan diteliti dapat lebih mudah sehingga masalah yang penulis kemukakan dapat memperoleh bahasan yang sesuai teori dan fakta dilapangan.

b. Jenis dan Sumber Data

Data yang diperoleh dari penelitian skripsi ini bersumber dari bahan- bahan hukum primer dan bahan-bahan hukum sekuder.

(16)

1. Data primer

Data yang diperoleh langsung dari responden yang bersal dari pengamatan dan wawancara langsung dengan pihak-pihak yang berkompeten yaitu wancara dengan terarah guna memperoleh jawaban yang lebih lengkap dan mendalam. Ini dimaksudkan untuk memperoleh data terutama pemahaman terhadap judul penelitian ini.

Disampinng itu pengamatan penulis selama berdinas di TNI-AL dan Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut VI Makassar pada khusunya sangat berperan.

2. Data Sekunder

Data yang diperoleh berdasarkan studi dokumen TNI dihimpun dari aturan perundang-undangan, buku-buku, arsip atau data di Pangkalan uatamaTNI Angkatan Laut VI Makassar serta bahan atau sumber lain yang menjadi factor penunjang dalam penelitian ini.

c. Teknik Pengumpulan Data

Untuk memperoleh data yang dibutuhkan digunakan beberapa teknik pengumpulan data yaitu sebagai berikut:

1. StudiPustaka (Library Reserch)

Penelitian ini dilkukan dengan telaah pustaka, data-data dikumpulkan dengan membaca buku-buku, literature-literatur,ataupun perundang- undangan yang berhubungan dengan masalah yang akan dibahas.

(17)

2. Penelitian Lapangan (Field Research)

Suatu cara atau system penelitian secara langsung yang dilakukan dilapangan terhadap opjek yang akan diteliti. Studi lapanagan ini dapat ditempuh dengan cara sebagai berikut:

a) Dokumentasi

Cara mendapatkan data yang sudah ada dan didokumentasikan pada istansi yang terkait.

b) Wawancara

Meode atau teknik dalam pengumpulan data dengan melakukan komunikasi langsung dengan opjek yang diteliti dengan cara bertatap muka secara langsung.

c) Observasi

Dilakukan kunjungan dan pengamatan lasungsung pada lokasi penelitian.

3. Analisis Data

Dalam menyusun skripsi ini, penulis menggunakan metode analisis deskriptif yaitu menganalisa data yang diperoleh dari studi dilapangan dan perpustakaan dengan cara menjelaskan dan mengambarkan kenyataan-kenyataan atau kenyataan objek penelitian yang diperoleh dari hasil penelitian di lapangan.

Pendekatan yang dilakukan adalah pendekatan normative yaitu dengan melakukan penjabaran atas fakta-fakta yang ada sebagai hasil dari penelitian.

(18)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Penegakan Hukum

Negara Indonesia adalah negara hukum (rechtstaats), maka setiap orang yang melakukan tindak pidana harus mempertanggungjawabkan perbuatannya melalui proses hukum. Penegakan hukum mengandung makna bahwa tindak pidana adalah suatu perbuatan yang dilarang oleh suatu aturan hukum, di mana larangan tersebut disertai dengan sanksi yang berupa pidana tertentu sebagai pertanggungjawabannya. Dalam hal ini ada hubungannya dengan asas legalitas, yang mana tiada suatu perbuatan dapat dipidana melainkan telah diatur dalam undang-undang, maka bagi barang siapa yang melanggar larangan tersebut dan larangan tersebut sudah di atur dalam undang-undang, maka bagi para pelaku dapat dikenai sanksi atau hukuman, sedangkan ancaman pidananya ditujukan kepada orang yang menimbulkan kejadi an itu, ada hubungan yang erat pula.

(Andi Hamzah 2000 : 51)

Penegakan hukum adalah suatu usaha untuk menanggulangi jahatan secara rasional, memenuhi rasa keadilan dan berdaya guna, dalam rangka menanggulangi kejahatan terhadap berbagai sarana sebagai reaksi yang dapat diberikan kepada pelaku kejahatan, berupa sarana pidana maupun non hukum pidana, yang dapat diintegrasikan satu dengan yang lainnya. Apabila sarana pidana dipanggil untuk menanggulangi kejahatan, berarti akan dilaksanakan politik hukum pidana, yakni mengadakan pemilihan untuk mencapai hasil perundang-undangan pidana yang

(19)

sesuai dengan keadaan dan situasi pada suatu waktu dan untuk masa-masa yang akan datang. (Barda Nawawi Arief 2002:198)

Proses penegakan hukum tetap mengacu pada nilai-nilai dasar yang terdapat dalam hukum, seperti keadilan (gerechtigheit), kepastian hukum (rechtssicherheit), dan kemanfaatan hukum (zweckmassigkeit), ketiga unsur itulah yang harus dipenuhi dalam proses penegakan hukum sekaligus menjadi tujuan utama penegakan hukum. (Sudikno Mertokusumo,1994:23)

Menurut Bagir Manan, bahwa dalam sistem peradilan terpadu adalah keterpaduan antara penegak hukum. Keterpaduan dimaksudkan agar proses peradilan dapat dijalankan secara efektif, efisien, saling menunjang dalam menemukan hukum yang tepat untuk menjamin keputusan yang memuaskan baik bagi pencari keadilan maupun menurut pandangan kesadaran, atau kenyataan hukum yang hidup dalam masyarakat pada umumnya (Bagir Manan, 2005 : 93)

Menurut Sudarto, penegakan hukum dalam rangka penanggulangan kejahatan dengan menggunakan hukum pidana harus diperhatikan hal-hal sebagai berikut :

1. Penggunaan hukum pidana harus memperhatikan tujuan pembangunan nasional, yaitu mewujudkan masyarakat adil dan makmur yang memateriel spiritual berdasarkan Pancasila, sehubungan dengan ini maka (penggunaan)hukum pidana bertujuan untuk menanggulangi kejahatan dan mengadakan pengugeran terhadap tindakan penanggulangan itu sendiri, demi kesejahteraan dan pengayoman masyarakat.

2. Perbuatan yang diusahakan untuk dicegah atau ditanggulangi dengan hukum pidana harus merupakan perbuatan yang tidak dikehendaki, yaitu perbuatan yang mendatangkan kerugian (material dan atau spiritual) atas warga masyarakat.

3. Penggunaan hukum pidana harus pula memperhitungkan prinsip biaya dan hasil.

(20)

4. Penggunaan hukum pidana harus pula memperhatikan kapasitas atau kemampuan daya kerja dari badan-badan penegak hukum, yaitu jangan sampai ada kelampauan beban tugas (Sudarto,1997:44)

Moeljatno menyatakan bahwa hukum pidana adalah bagian dari keseluruhan hukum yang berlaku disuatunegara, yang mengadakan dasar-dasar dan aturan- aturan untuk :

1. Menentukan perbuatan-perbuatan yang tidak boleh dilakukan, yang dilarang, dengan disertai ancaman atau sanksi berupa pidana tertentu bagi barang siapa yang melanggar larangan tersebut;

2. Menentukan dalam hal apa kepada mereka yang melanggar larangan- larangan itu dapat dikenakan atau dijatuhi pidana sebagaimana yang telah diancamkan.

3. Menentukan dengan cara bagaimana pengenaan pidana itu dapat

dilaksanakan apabila orang yang disangkakan telah melanggar larangan tersebut (Moeljatno 2002:1)

2.2 Pengertian Penyidikan

Tahap penyidikan merupakan tahapan pertama dalam operasionalisasi system peradilan pidana dan merupakan tahapan yang paling menentukan, karena tanpa proses penyidikan tidak mungkin tahapan-tahapan selanjutnya dalam system peradilan pidana dapat dilaksanakan karena pada tahap penyidikanlah untuk pertamakali dapat diketahui bahwa telah terjadi peristiwa kejahatan atau tindak pidana serta penentuan tersangka pelakunya untuk kemudian menjalani proses- proses selanjutya yaitu proses penuntutan, proses penjatuhan putusan pidana serta proses pelaksanaan putusan pidana.

Penyidikan berasal dari kata sidik, yang berarti terang dan bekas, maksudnya penyidikan adalah membuat terang atau jelas dan penyidikan berarti mencari bekas-bekas, dalam hal ini adalah bekas-bekas kejahata n. Bertolak dari

(21)

dua kata terang dan bekas arti kata sidik tersebut, maka yang dimaksud dengan penyidikan adalah membuat terang kejahatan (R.Soesilo1996 : 17)

Pasal 1 angka 2 KUHAP menentukan bahwa yang dimaksud dengan penyidikan adalah serangkaian tindakan penyidik dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tentang tindak

pidana yang terjadi dan guna menemukan tersangkanya. Penyidikan adalah suatu tindak lanjut dari kegiatan penyelidikan dengan adanya persyaratan dan pembatasan yang ketat dalam penggunaan upaya paksa setelah pengumpulan bukti permulaan yang cukup guna membuat terang suatu peristiwa yang patut diduga merupakan tindak pidana. (M.Yahya Harahap 2003 : 15)

Penyidikan merupakan kegiatan pemeriksaan pendahuluan atau awal (vooronderzoe) yang seyogyanya dititik beratkan pada upaya pencarian atau pengumpulan „‟bukti faktual‟ penangkapan dan penggeledahan, bahkan jika perlu dapat diikuti dengan tindakan penahanan terhadap tersangka dan penyitaan terhadap barang atau bahan yang diduga erat kaitanya dengan tindak pidana yang terjadi. (Ali Wisnubroto 2002 :15)

Pengetahuan dan pengertian tentang penyidikan perlu dinyatakan dengan pasti dan jelas, karena hal itu langsung menyinggung dan membatasi hak-hak asasi manusia. Bagian-bagian hukum acara pidana yang menyangkut penyidikan adalah sebagai berikut :

1. Ketentuan tentang alat-alat penyidik

2. Ketentuan tentang diketahuinya terjadinya delik;

4. Pemeriksaan di tempat kejadian;

(22)

5. Pemanggilan tersangka atau terdakwa;

6. Penahanan sementara 7. Penggeledahan

8. Pemeriksaan atau interogasi;

9. Berita Acara (penggeledahan, interogasi, dan pemeriksaan ditempat) 10.Penyitaan

11.Penyampingan Perkara

12.Pelimpahan perkara kepada penuntut umum dan pengembaliannya kepada penyidik untuk disempurnakan (Andi Hamzah 2006 : 118 -19)

Menegakan hukum dalam rangka menciptakan keamanan dan ketertiban dilakukan secara bersama-sama dengan suatu sistem peradilan pidanayang merupakan suatu proses panjang dan melibatkan banyak unsur didalamnya. Sistem peradilan pidana sebagai suatu sistem yang didalamnya terkandung beberapa subsistem yang meliputi penyidik , penuntut umum, hakim, dan lembaga pemasyarakatan. Keempat subsistem tersebut dapat berjalan dengan baik apabila semua saling berinteraksi dan bekerjasama dalam rangka mencapai suatu tujuan yaitu mencari kebenaran dan keadilan materiil (Darwin Print 1998 : 8)

2.3 Pengertian Tindak Pidana Dibidang Perikanan.

Menurut John M. Echols dan Hasan Shadily (2003 : 244, 311) memberikan pengertian Illegal dari kata sifat artinya merupakan pelanggaran, gelap, tidak sah, liar, masuk secara illegal. Fishing dari kata benda artinya pemancingan, pengailan, dan penangkapan ikan. Dengan demikian maka penertian illegal fishing adalah penangkapan ikan dengan tidak sah, secara illegal atau perbuatan melanggar hukum dalam bidang perikanan meliputi produksi pengolahan dan pemasaran.

(23)

Ikan adalah segala jenis organisme yang seluruh atau sebagan dari siklus hidupnya berada didalam ligkungan perairan. Tindak pidana perikanan adalah tindak pidana atau perbuatan menangkap ikan yang melawan hukumsebagaimana diatur dan diancam dengan sanksi pidana oleh undang- undang atau peraturan perikanan lainnya. Penangkapan ikan merupakan bagian yang bertujuan untuk memperoleh ikan diperairan yang tidak dalam keadaan dibudidayakan dengan atau cara apapun, termasuk termasuk kegiatan yang menggunakan kapal untuk memuat, mengangkut, menyimpan, mendinginkanm mengolah atau mengawetkan (Protap Pengamanan Tindak Pidana di Laut Oleh TNI-AL, 2009 :14).

Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perikanan menentukan bahwa perikanan adalah semua kegiatan yang berhubungan dengan pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya ikan dan lingkungannya mulai dari praproduksi, produksi, pengolahan sampai dengan pemasaran yang dilaksanakan dalam suatu sistem bisnis perikanan.

Secara umum ketentuan mengenai tindak pidana dibidang perikanan diatur dalam Pasal 84 sampai dengan Pasal 100 D Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 jo Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perikanan.

Berdasarkan rumusan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 jo Undang- Undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perikanan, yang dimaksud dengan tindak pidana perikanan secara keseluruhan sebagai berikut :

1. Menangkap ikan atau memungut ikan yang berasal dari kawasan perikanan tanpa memiliki hak atau izin dari pejabat yang berwenang.

(24)

2. Mengelola dan atau membudidayakan ikan yang berasal dari kawasan perikanan tanpa memiliki hak atau izin dari pejabat yang berwenang.

3. Mengangkut , memiliki, menguasai hasil perikanan tanpa melengkapi surat keterangan sahnya pelayaran hasil perikanan berupa ikan.

4. Membawa alat-alat atau bahan-bahan lainnya yang digunakan pengelolaan perikanan tanpa izin dari pejabat yang berwenang.

Tindak pidana di bidang perikanan menurut UU RI No. 45 tahun 2009 perubahan UU No. 31 tahun 2004 tentang Perikanan selanjutnya disingkat UU RI tentang perikanan yang termasuk delik kejahatan diatur dalam Pasal 84, Pasal 85, Pasal 86, Pasal 88, pasal 91, Pasal 92, dan Pasal 94, serta Pasal 100A dan Pasal 100B, sedangkan yang termasuk delik pelanggaran diatur dalam Pasal 87, Pasal 89, Pasal 90, Pasal 95, Pasal 96, Pasal 97, Pasal 98, Pasal 99, Pasal 100 dan Pasal 100C.

Kualifikasi tindak Pidana Perikanan

Berdasarkan pasal 103 undang-undang No. 31 tahun 2004 tindak pidana perikanan terdiri dari kejahatan dan pelanggaran. Rad Clif Broun mendefinisikan kejahatan bagi suatu pelanggaran terhadap suatu kebiasaan yang mendorong dilaksanakannya sanksi pidana. Dengan definisi ini maka jelaslah bahwa setiap ada kejahatan maka disitu harus ada sanksi berarti ada orang atau badan hukum yang harus bertanggung jawab.

(Momon Mansaputra, 1973 : 27)

Dalam Dalam Undang-Unadang perikanan No. 31 Tahun 2004 yang termasuk kejahatan adalah tindak pidana sebagaimana diatur dalam pasal

(25)

84,85,86,88,91,92,93 dan pasal 94. Sedangkan yang termasuk pelanggaran adalah tindak pidana sebagaimana diatur dalam pasal 87,89,90,95,96,97,98,99 dan pasal 100.

Agar dalam penerapan hukum tindak pidana perikanan tersebut tidak keliru, dibawah ini akan dibahas unsur-unsur tindak pidana perikanan yang diatur dalam pasal 8 angka (1) yang menyatakan bahwa setiap orang dilarang melakukan penangkapan ikan dan atau pembudidayaan ikan dengan menggunakan bahan kimia, bahan biologis, bahan peledak, alat/atau cara,dan/atau bangunan yang dapat merugikan dan/atau membahayakan kelestarian sumber daya ikan dan/atau lingkungan pengelolaan perikanan Republik Indonesia.

Pasal 84 ayat (1) Undang-Undang No. 31 tahun 2004 memuat unsur- unsur tindak pidana sebagai berikut:

a. Setiap orang;

b. Dengan sengaja;

c. Di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia;

d. Melakukan penangkapan ikan dan/atau pembudidayaan ikan;

e. Menggunakan bhan kimia, bahan biologis, bahan peledak dan/atau bangunan;

f. Dapat merugikan dan/atau membahayakan kelestarian sumber daya ikan dan/atau lingkungannya sebagaimana dimaksud dalam pasal 8 ayat (1),

(26)

g. Dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan denda paling banyak Rp. 1.200.000.000,00 (satu miliar dua ratus juta rupiah).

Pasal 84 ayat (2)

a. Nahkoda atau pemimpin kapal perikanan, ahli penangkapan ikan, dan anak buah kapal;

b. Dengan sengaja;

c. Di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia;

d. Melakukan penangkapan ikan;

e. Menggunakan bahan kimia, bahan biologis, bahan peledak, alat dan/atau cara dan/atau bangunan;

f. Dapat merugikan dan/atau membahayakan kelestarian sumber daya ikan dan/atau lingkungan sebagaimana dimaksud daalam pasal 8 ayat (2);

h. Dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan denda paling banyak Rp. 1.200.000.000,00 (satu miliar dua ratus juta rupiah).

Pasal 84 ayat (3)

a. Pemilik kapal perikana, pemilik perusahaan perikanan penanggung jawab perikanan, dan/atau operator kapal perikanan;

b. Dengan sengaja;

c. Di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia;

d. Menggunakan bahan kimia, bahan biologis, bahan peledak, alat dan/atau cara dan/atau bangunan;

(27)

e. Dapat merugikan dan/atau membahayakan kelestarian sumber daya ikan dan/atau lingkungan sebagaimana dimaksud daalam pasal 8 ayat (3);

f. Dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp. 2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah).

Pasal 84 ayat (4)

a. Pemilik perusahaan pembudidaayaan ikan, kuasa pemilik perusahaan pembudidayaan ikan, dan/atau, penanggung jawab perusahaan pembudidayaan ikan;

b. Dengan sengaja;

c. Melakukan usaha pemudidayaan;

d. Di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia;

e. Menggunakan bahan kimia, bahan biologis, bahan peledak, alat dan/atau cara dan/atau bangunan;

f. Dapat merugikan dan/atau membahayakan kelestarian sumber daya ikan dan/atau lingkungan sebagaimana dimaksud dalam pasal 8 ayat (4);

g. Dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp. 2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah).

(Ruslan Renggong 2016 : 170-176)

Rumusan pasal ini berbeda dengan rumusan yang ada pada tindak pidana umum karena pada umumnya rumusan terhadap pelaku biasanya digunakan kata barang siapa. Dengan rumusan setiap orang maka pelaku

(28)

tindak pidana tersebut adalah setiap orang yang telah ikut melihat dalam perbuatan tesebut.

Unsur kedua yakni melakukan penangkapan ikan dan/atau pebudidayaan ikan. Masing-masing pengertiannya dimuat dalam Pasal 1 ayat (5) dan ayat (6) undang-undang No. 31 tahun 2004 sebagai berikut:

a. Penangkapan ikan adalah kegiatan untuk memperoleh ikan diperairan yang tidak dalam keadaan dibudidayakan dengan alat atau cara apapun, termasuk kegiatan yang menggunakan kapal untuk memuat, mengangkaut, menyimpan, mendinginkan, menangani, mengola dan/atau menagawetkannya. (Pasal 1 angka (5).

b. Pebudidayaan ikan adalah kegiatan untuk memelihara, membesarkan, dan/atau mengembangbiakkan ikan serta memanen hasilnya daam lingkungan yang terkontrol, termasuk kegiatan yang menggunakan kapal untuk memuat, mengangkut , menyimpan, mendiginkan, menangani, mengolah dan /atau mengawetkannya (Pasal 1 angka (6) .

Unsur ketiga yaitu menggunakan bahan kimia bahan biologis, bahan peledak, alat dan/atau cara,dan/atau bangunan yang dapat merugikan dan/atau meembahayakan kelestarian sumber daya ikan dan/atau lingkungannya di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia. Penggunaan bahan peledak, bahan beracun, bahan kimia tidak saja memetikn ikan tetapi dapat pula mengakibatkan kerusakan pada lingkungan atau bahan mengakibatkan kepunahan. Oleh karena itu dalam Undang-Undang No.23 tahun 1997 tentang pengeloaan lingkungan hidup,

(29)

juga telah diatur mengenai sanksi pidana bagi yang melanggar Undang- Undang ini. Pasal 41 ayat (1) menyatakan barang siapa yang secara melawan hukum dengan sengaja melakukan perbuatan yang mengakibatkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup,diancam dengan pidana penjara paling lama 10 tahun (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

(Moh. Askin,2003:184).

2.4 Penanganan Tindak Pidana Perikanan.

Dengan kekayaan sumber daya alam yang terdapat dilaut, dasar laut serta tanah dibawahnya menjadikan area ini rawan dari adanya eksplotasi illegal oleh pihak-pihak yang bertanggung jawab. Yang paling sering terjadi adalah tindak pidana dibidang perikanan yang dilakuakn oleh kapal ikan baik dari dari dalam negeri maupun kapal ikan asing dengan menggunakan peralatan canggih. Oleh karena itu kegiatan harus diberantas secara bersama- sama karena sangat merugikan Negara.

Kerugian Negara akibat illegal fishing di Indonesia diperkirakan sekitar Rp. 30 triliun pertahun (dengan perhitungan 25% potensi perikanan kita dicuri atau sekitar 1,6 juta ton, dan harga US $ 2 perkologram (Forum Hukum, 2005 : 13). Kerugian tersebut sanga besar yang seharusnya bias dimamfaatkan untuk meningkatkan kesejatraanrakyat Indonesia sesuai dengan Pasal 33 UUD 1945. Oleh karena itu permaslahan illegal fishing di tanah air harus diatasi atau dapat dikurangi dengan cara meningkatkan upaya penegakan hukum (law enforcement), dilakukan pengawasan secara ketat selain

(30)

monitoring dan perisinan hal ini memang gampang karena penegakan hukum dilaut diperhadapkan dengan tantangan laut yang besar dan luas oleh karena itu diperlukan kerjasama, komitmen dan sinergitas yang baik antara semua penegak hukum dilaut. Peningkatan kegiatan pengawasan dan operasi terpadu antara Departemen Kelautan dan Perikanan, TNI-AL dan Polairut maupun melibatkan kelompok pengwas masyarakat yang didukung dengan sarana dan prasarana yang canggi serta perangkat perundang-undangan yang memadai.

Lahirnya undang-undang No. 45 tahun 2009 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan merupakan produk hukum yang diharapkan dapat berfungsi secara preventif terhadap pelaku penangkapan ikan secara illegal, karena dalam undang-undang tersebut dengan jelas dan tegas disebutkan sanksi atministrasi dan sanksi pidana lebih berat daripada sanksi atministrasi maupun pidana yang diatur dalam undang- undang perikanan sebelumnya yaitu undang-undang No. 5 tahun 1985.

Diharapkan undang-undang ini betul-betul lahir dari jiwa rakyat sehingga masyarakat menemui hambatan untuk menerimanya, seperti yang dikemukakan oleh Von Savigny (H.Lili Rasjidi, 2004 : 65) Hukum sangat bergantung atau bersumber pada jiwa rakyat dan yang menjadi isi hukum itu ditentukan oleh pergaulan hidup manusia.

(31)

2.5 Mekanisme Penanganan Tindak Pidana di Laut oleh TNI AL.

a. Pengejaran Kapal.

Pengejaran kapal adalah upaya untuk menghentikan dan menangkap pelaku yang diduga melakukan tindak pidana dan melarikan diri, meliputi tindakan-tindakan pendeteksian, pengenalan dan penilaian sasaran sebagai berikut:

1. Pendeteksian.

Melaksanakan kegiatan pengawasan di sektor-sektor perairan yang rawan terjadi tindak pidana berdasarkan informasi yang diperoleh antara lain:

(1) Data/informasi intelijen.

(2) Analisa Daerah Operasi (ADO).

(3) Laporan/informasi dari patroli udara maritim.

(4) Laporan/informasi dari masyarakat.

(5) Laporan/informasi dari kapal lain.

2. Pengenalan.

Apabila dalam kegiatan patroli dijumpai sasaran, adakan pengenalan dengan menggunakan sarana yang ada (ESM, radar, sonar, teropong, TDS, optronik, komunikasi, radio, atau isyarat).

3. Penilaian Sasaran.

Dimaksudkan untuk menilai dan menentukan:

(1) Jenis kapal (kapal perang, kapal pemerintah, kapal niaga).

(32)

(2) Tanda pengenal kapal (nomor kapal, bendera, nomor lambung, warna dll).

(3) Kegiatan kapal (menarik jaring, menarik tongkang, lego jangkar, bongkar/muat dll).

(4) Data-data lain (pelabuhan asal dan tujuan, muatan kapal dll).

b. Penangkapan dan Penyelidikan Kapal.

1. Penghentian Kapal.

a. Apabila kapal dicurigai melakukan tindak pidana berdasarkan bukti permulaan yang cukup, diadakan penghentian dengan alasan-alasan sebagai berikut:

1) Di Perairan Kepulauan dan Laut Teritorial, melakukan tindak pidana yang diatur dalam perundang-undangan Indonesia.

2) Di Zona Tambahan, melakukan tindak pidana yang berhubungan dengan kepabeanan, imigrasi, fiskal dan karantina.

3) Di ZEEI dan Landas Kontinen Indonesia:

(1) Melakukan penelitian ilmiah kelautan tanpa ijin.

(2) Melakukan eksplorasi/eksploitasi sumber daya di ZEEI/

Landas Kontinen tanpa ijin pemerintah RI.

(3) Meletakkan/membongkar kabel dasar laut/pipa saluran tanpa ijin.

(4) Membangun dan menggunakan pulau buatan, instalasi dan bangunan tanpa ijin.

(5) Melakukan pencemaran.

(33)

(6) Melakukan kegiatan lain yang bertentangan dengan hukum nasional dan internasional.

4) Di laut lepas, kapal melakukan kegiatan yang bertentangan dengan hukum internasional. Contoh: Perompakan, penyiaran gelap, dll.

2. Prosedur penghentian.

Pada dasarnya penghentian kapal dilakukan bilamana ada dugaan yang cukup telah terjadi pelanggaran hukum dan atau untuk mencegah terjadinya pelanggaran hukum:

a. Pada saat KRI/KAL akan melaksanakan penghentian suatu kapal, laksanakan peran pemeriksaan dan penggeledahan yang didahului peran tempur bahaya permukaan.

b. Dimulai dengan memberikan isyarat untuk berkomunikasi dengan cara:

1) Mengibarkan bendera:“K” (pada batas cuaca yang dapat dilihat).

2) Optis lampu “KKK” (pada batas cuaca yang dapat dilihat).

3) Semaphore, huruf “K” (pada batas cuaca yang dapat dilihat).

4) Radio komunikasi channel 16.

c. Apabila komunikasi gagal, perintah berhenti dapat dilaksanakan dengan cara:

1) Mengibarkan bendera Upen “L” (pada batas cuaca yang dapat dilihat).

2) Megaphon (pada batas yang dapat didengar).

(34)

3) Isyarat Gauk.

d. Jika permintaan untuk berkomunikasi dan perintah berhenti menurut cara-cara di atas tidak di indahkan, maka diberikan peringatan tembakan dengan menggunakan amunisi jenis peluru hampa atau tajam ke arah atas.

e. Jika peringatan ini tidak diindahkan, laksanakan tembakan ke arah laut disekitar kapal yang percikannya dapat dilihat oleh kapal yang dicurigai.

f. Apabila dengan peringatan tersebut kapal tidak juga berhenti, dapat iambil tindakan sesuai dengan pasal 5 ayat (1) huruf a angka 4 jo pasal 7 ayat (1) huruf j KUHAP dalam rangka mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung jawab dengan menembak ke arah badan kapal pada tempat yang diperkirakan tidak ada ABK-nya dan laksanakan pertolongan jika diperlukan.

g. Dalam hal kapal melakukan manuver yang membahayakan dan atau ABK melakukan perlawanan tindak kekerasan maka dapat diambil tindakan bela diri.

3.Dalam melakukan penghentian kapal asing harus memperhatikan hak- hak kapal tersebut selama melakukan lintas di Perairan Kepulauan dan Laut Teritorial sesuai dengan ketentuan dalam Konvensi Hukum Laut 1982.

(35)

a. Pemeriksaan Kapal.

Setelah kapal dihentikan maka dilaksanakan tindakan:

1. Melaksanakan pemeriksaan.

2. Atas perintah Komandan, kapal merapat ke KRI/KAL atau sebaliknya.

3. Dalam keadaan tertentu dapat menggunakan sekoci KRI untuk merapat ke kapal yang diperiksa atau sekoci kapal yang diperiksa merapat ke KRI/KAL (KRI harus melaksanakan pengawasan terhadap kapal yang dicurigai tersebut pada jarak aman).

4. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam proses pemeriksaan di laut:

1) Pemeriksaan di laut harus menggunakan sarana yang sah/resmi dengan identitas/ciri-ciri luar yang jelas dan dapat dikenali sebagai kapal perang, KAL atau kapal pemerintah yang diberi kewenangan untuk melakukan tindakan tersebut.

2) Tim Pemeriksa harus menggunakan seragam lengkap dan dilengkapi surat perintah.

3) Pemeriksaan harus disaksikan oleh nahkoda atau ABK kapal yang diperiksa.

4) Pemeriksaan harus dilakukan secara tertib, tegas, teliti, cepat, tidak terjadi kehilangan, kerusakan dan tidak menyalahi prosedur pemeriksaan.

5) Selama peran pemeriksaan tim pemeriksa harus selalu berkomunikasi dengan kapal pemeriksa.

6) Selama melakukan pemeriksaan hindari menggunakan kekerasan.

(36)

7) Setelah selesai pemeriksaan, hal-hal yang harus diperhatikan:

(1) Membuat surat pernyataan tertulis dan ditandatangani oleh nahkoda kapal, yang menerangkan bahwa pemeriksaan berjalan dengan tertib tidak terjadi kekerasan, kerusakan atau kehilangan.

(2) Membuat surat pernyataan tertulis dan ditandatangani oleh nahkoda kapal, yang menerangkan tentang hasil pemeriksaan surat-surat/dokumen dengan menyebutkan tempat dan waktu.

(3) Mencatat dalam buku jurnal kapal yang diperiksa berisi:

(a) Kapan dan dimana kapal diperiksa.

(b) Pendapat tentang hasil pemeriksaan secara garis besar.

(c) Perintah yang diberikan.

(d) Perwira pemeriksa menandata-ngani hasil pemeriksaan pada jurnal kapal dibubuhi stempel kapal pemeriksa.

(4) Dalam hal buku jurnal kapal tidak ada, agar nahkoda membuat surat pernyataan tentang tidak adanya buku jurnal kapal.

3. Tindak Lanjut Hasil Penyelidikan.

Apabila tidak terdapat bukti yang cukup atau petunjuk yang kuat tentang adanya tindak pidana:

a Kapal diijinkan melanjutkan pelayaran.

b. Dalam buku jurnal pelayaran dicatat bahwa telah diadakan pemeriksaan dengan menyebutkan posisi dan waktu.

(37)

c. Meminta surat pernyataan tertulis dari nahkoda bahwa tidak terjadi kekerasan, kerusakan dan kehilangan selama pemeriksaan.Apabila terdapat bukti yang cukup atau petunjuk yang kuattentang telah terjadi suatu tindak pidana:

(1) Perwira pemeriksa memberitahukan kepada nahkoda bahwa telah terjadi tindak pidana dan untuk itu kapal akan dibawa kepangkalan/

pelabuhan yang ditentukan.

(2) Meminta kepada nahkoda kapal untuk memberikan tanda tangan pada peta posisi, gambar situasi pengejaran dan penghentian.

(3) Komandan KRI/KAL mengeluarkan surat perintah untuk membawa kapal dan orang kepangkalan/pelabuhan yang telah ditentukan.

Alternatif cara membawa kapal:

Di ad hoc.

a) Komandan KRI/KAL menerbitkan surat perintah ad hoc kepada nahkoda/tersangka supaya membawa sendiri kapalnya ke pelabuhan sesuai yang diperintahkan.

b) Surat-surat/dokumen kapal/muatan dan benda-benda yang mudah dipindahkan diamankan di KRI/KAL.

c) Perintah ad hoc hanya diberlakukan terhadap kapal berbendera Indonesia yang diyakini tidak akan melarikan diri.

d) Surat perintah ad hoc dibuat rangkap tiga (nahkoda, instansi yang dituju dan arsip KRI/KAL).

(38)

Dikawal.

a) Kapal tetap dibawa nahkoda dan ABK-nya menuju pelabuhan yang dituju.

b) Ditempatkan tim kawal di atas kapal.

c) KRI/KAL dapat mengawal pada jarak aman.

d) Surat-surat/dokumen kapal/muatan dan benda-benda yang mudah dipindahkan, diamankan di KRI/KAL.

e) Sebagian ABK dari kapal yang dikawal dapat dipindahkan ke KRI/KAL.

Digandeng/ditunda/ditarik.

a) Dalam hal kapal mengalami kerusakan dapat dibawa oleh KRI/

KAL dengan cara di gandeng/ ditunda/ditarik.

b) Sebagian ABK dapat dipindahkan ke KRI/KAL dan menempatkan petugas di atas kapal yang dikawal.

c) Apabila kapal mengalami kerusakan berat dan kemungkinan besar akan tenggelam serta upaya penyelamatan kapal tidak memungkinkan, maka nahkoda dan ABK di pindahkan ke KRI/KAL sebagai upaya pertolongan.

d) Apabila kapal yang di gandeng/ditunda/ditarik karena kerusakan berat mengakibatkan tenggelam, harus dibuat Berita Acara yang berisi tentang posisi dan sebab-sebab tenggelamnya kapal tersebut.

(39)

4. Penyerahan ke Pangkalan TNI AL.

Pada prinsipnya Komandan KRI/KAL adalah Penyidik, namun dengan pertimbangan efisiensi waktu penyidikan lanjut diserahkan kepada pangkalan.

Setelah kapal sampai di pangkalan/ pelabuhan Komandan KRI/KAL segera menyerahkan kapal dan muatan, nahkoda dan ABK serta surat-surat/dokumen kapal/muatan kepada pangkalan dengan dilengkapi:

a. Laporan kejadian.

b. Gambar situasi pengejaran dan penghentian kapal.

c. Pernyataan tentang posisi kapal.

d. Surat perintah dan berita acara pemeriksaan kapal.

e. Pernyataan hasil pemeriksaan kapal.

f. Pernyataan hasil pemeriksaan surat-surat kapal.

g. Pernyataan keadaan muatan kapal.

h. Pernyataan tidak tersedianya buku jurnal kapal (kalau tidak ada).

i. Surat perintah dan berita acara membawa kapal dan orang.

j. Berita Acara Pemeriksaan (BAP) Saksi dari KRI/KAL (min. 2 orang).

k. Berita acara pengambilan sumpah/ janji saksi dari KRI/KAL (minimal dua orang).

l. Berita acara serah terima kapal dan perlengkapannya, Nahkoda dan ABK, dokumen kapal serta berkas perkara.

(40)

5. Mekanisme Penyerahan dan Pelaporan Kapal Tangkapan.

Dalam rangka meningkatkan efektifitas, efisiensi dan kemandirian Pangkotama dalam melaksanakan penegakan hukum di laut disusun suatu mekanisme penyerahan dan pelaporan kapal tangkapan sebagai berikut:

1) Penangkapan dan Penyerahan kapal kepada Pangkalan TNI AL.

(a) KRI/KALBKOPangarmada atau Komandan Guspurla atau Komandan Guskamla, dalam melaksanakan penangkapan dan penyerahan kapal, Komandan KRI/KAL membuat laporan berupa berita telegram kepada Penerima BKO dengan tembusan kepada Kasal, Pangarma (Bila BKOGuspurla/Guskamla), Danguspurla (bila BKODanguskamla), Danguskamla (bila BKODanguspurla) dan Danlantamal/Lanal sesuai daerah penangkapan/penyerahan.

(b) KRI/KAL unsur Kolinlamil, dalam melaksanakan penangkapan dan penyerahan kapal, Komandan KRI/KAL membuat laporan berupa berita telegram kepada Panglima Kolinlamil dengan tembusan kepada Kasal, Pangarma, Danguspurla, Danguskamla dan Danlantamal sesuai daerah penangkapan/penyerahan.

(c) KRI/KAL unsur Dishidros, dalam melaksanakan Penangkapan dan penyerahan kapal, Komandan KRI/KAL membuat laporan kepada KasalUp.Kadishidrosdengan tembusan kepada Kasal, Pangarma, Danguspurla, Danguskamla dan Danlantamal sesuai daerah operasi.

(d) KRI/KAL unsur Pangkalan TNI Angkatan Laut / Lanal dalam melaksanakan penangkapan, Komandan KAL membuat laporan

(41)

berupa berita telegram kepada Komandan Pangkalan, selanjutnya Komandan Pangkalan lapor ke Pangarma dengan tembusan Danguskamla.

(e) KRI/KAL yang di BKO ke instansi lain, dalam melaksanakan penangkapan melaporkan ke penerima BKO dan tembusan ke pengirim BKO.

2). Dalam melaksanakan penyerahan kapal tangkapan kepada Kejaksaan/Jaksa Penuntut Umum (JPU) atau PPNS atau Polri, Pangkalan TNI AL membuat laporan berupa berita telegram kepada Panglima Armadadengan tembusan kepada Kasal, Pangkolinlamil (bila penangkap adalah unsur Kolinlamil), Kadishidros (bila penangkap adalah unsur Dishidros), Danguspurla, Danguskamla, Danlantamal (bila yang membuat laporan adalah Lanal) dan KRI/KAL penangkap.

c. Penyidikan di Pangkalan TNI AL.

a. Pemeriksaan oleh Pangkalan TNI AL.

Pangkalan melakukan pemeriksaan terhadap kapal dan muatan, nahkoda dan ABK serta surat-surat/dokumen kapal/muatan yang diserahkan oleh KRI/KALmaupun dari instansi lain untuk proses hukum lebih lanjut.

b. Proses Penyidikan.

Penyidik segera menerbitkan Surat Perintah Penyidikan dan Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP) kepada pihak Kejaksaan. Untuk keperluan penyidikan, dilakukan tindakan:

(42)

1) Penggeledahan kapal.

Pelaksanaan penggeledahan dilakukan dengan memperhatikan:

a) Dilakukan oleh penyidik atau atas perintah penyidik.

b) Harus dilengkapi dengan surat perintah penggeledahan dan dibuat berita acara yang ditandatangani oleh petugas dan dua orang saksi. Salinan berita acara diberikan kepada nakhoda atau yang bertanggung jawab.

c) Ijin penggeledahan dimintakan kepada Ketua Pengadilan Negeri setempat. Dalam hal sangat mendesak penyidik dapat menggeledah terlebih dahulu untuk kemudian dimintakan persetujuan Ketua Pengadilan Negeri setempat.

d) Dilakukan dengan disaksikan oleh nakhoda dan ABK.

e) Hindari terjadinya kerusakan atau hilangnya benda yang tidak ada hubungannya dengan tindak pidana.

f) Harus tertib dan cermat, kemudian nakhoda membuat pernyataan bahwa penggeledahan tersebut tidak menimbulkan kerusakan atau kerugian.

2) Pemeriksaan saksi.

a) Pemeriksaan saksi dilakukan oleh penyidik yang dituangkan dalam berita acara pemeriksaan saksi.

b) Pemeriksaan terhadap saksi (minimal dua orang) untuk memperoleh keterangan tentang perbuatan tersangka.

(43)

c) Berita acara pemeriksaan harus memuat secara jelas tentang identitas saksi dan hubungannya dengan tersangka.

d) Apabila saksi tidak mengerti bahasa Indonesia maka pemeriksa dibantu oleh juru bahasa. Juru bahasa dibuatkan berita acara pengambilan sumpah.

e) Berita acara pemeriksaan harus dibacakan ulang kepada saksi dan apabila isinya telah disetujui maka berita acara ditandatangani oleh saksi, penyidik dan juru bahasa apabila menggunakan juru bahasa.

3) Pemeriksaan Tersangka.

a) Pemeriksaan dilakukan oleh penyidik yang dituangkan dalam berita acara pemeriksaan tersangka.

b) Sebelum melakukan pemeriksaan, penyidik wajib menyampaikan hak tersangka untuk mendapatkan bantuan hukum.

c) Apabila tersangka tidak mengerti bahasa Indonesia maka penyidik dibantu juru bahasa yang harus disumpah terlebih dahulu.

d) Tersangka harus diberitahu tentang apa yang dipersangkakan terhadapnya.

e) Tersangka harus berada dalam kondisi yang sehat dan tidak dilakukan penekanan atau paksaan.

f) Berita acara pemeriksaan harus jelas memuat identitas tersangka.

(44)

g) Berita acara harus dibacakan ulang kepada tersangka dan apabila sudah menyetujui isinya maka tersangka, penyidik dan juru bahasa menandatangani berita acara.

4) Penyitaan.

Dalam melakukan penyitaaan harus memperhatikan:

a) Penyitaan hanya dapat dilakukan oleh penyidik dengan surat ijin Ketua Pengadilan Negeri setempat.

b) Dalam hal keadaan yang sangat perlu dan mendesak penyidik dapat menyita terlebih dahulu untuk kemudian dimintakan persetujuan kepada Ketua Pengadilan Negeri setempat.

c) Benda yang dapat dikenakan penyitaan adalah:

(1) Benda atau bukti surat yang seluruh atau sebagian diduga diperoleh dari tindak pidana atau sebagian hasil dari tindak pidana.

(2) Benda yang dipergunakan secara langsung untuk melakukan tindak pidana atau untuk mempersiapkanya.

(3) Benda yang dipergunakan untuk menghalang-halangi penyidikan.

(4) Benda yang khusus dibuat atau diperuntukkan melakukan tindak pidana.

(5) Benda lain yang mempunyai hubungan langsung dengan tindak pidana.

(45)

d) Hal-hal yang harus diperhatikan:

(1) Dalam hal orang/nakhoda dari siapa benda tersebut disita menolak untuk menandatangani berita acara penyitaan supaya dicatat dalam berita acara penyitaan dengan menyebutkan alasan penolakan tersebut.

(2) Barang bukti/benda sitaan harus disimpan:

(a) Di rumah penyimpanan benda sitaan negara/Rupbasan.

(b) Di tempat khusus di kantor penyidik.

(c) Dalam hal benda sitaan tidak mungkin disimpan di Rupbasan/kantor penyidik, maka benda sitaan dapat diamankan di tempat yang dapat diawasi oleh penyidik.

(3) Barang bukti/benda sitaan sebelum dibungkus, dicatat, berat dan atau jumlahnya, diikat menurut jenis masing-masing, ciri maupun sifat fisik, tempat, hari dan tanggal penyitaan serta identitas orang dari mana benda itu disita kemudian diberi lak dan cap jabatan serta ditandatangani penyidik.

(4) Barang bukti yang tidak mungkin dibungkus menurut cara seperti tersebut diatas, diberi label pada bagian benda sitaan yang mudah terlihat.

(5) Dalam hal barang/benda sitaan disimpan dalam kemasan/peti dan jumlahnya banyak, maka kemasan/peti itu dihubungkan satu sama lain dengan mempergunakan tali yang kuat kemudian dilak dan dicap/stempel.

(46)

(6) Barang bukti berupa kapal agar dilumpuhkan.

5) Pelelangan barang bukti/benda sitaan.

a) Dalam hal benda sitaan karena keadaan atau sifatnya sedemikian rupa mudah rusak atau biaya penyimpanan yang terlalu tinggi dan lain sebagainya, maka benda sitaan tersebut dapat dilelang.

b) Pelaksanaan lelang barang/benda sitaan sedapat mungkin dengan ijin Pengadilan Negeri setempat dan persetujuan tersangka.

c) Pelaksanaan lelang harus dengan perantara Pejabat Kantor Lelang Negara.

d) Uang hasil lelang dipergunakan sebagai pengganti barang bukti.

e) Diupayakan sebagian kecil benda sitaan disisihkan sebagai barang bukti.

6) Penahanan tersangka.

a) Dilaksanakan sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

b) Penahanan dilaksanakan di Rumah Tahanan Pangkalan.

c) Surat Perintah Penahanan harus memuat jenis penahanan dan jangka waktu penahanan. Lama penahanan maksimum 20 hari dan dapat diperpanjang atas ijin Penuntut Umum maksimum 40 hari (khusus untuk tindak pidana perikanan masa perpanjangan maksimal 10 hari).

7) Penanganan ABK yang bukan tersangka. ABK yang bukan tersangka setelah selesai dilakukan pemeriksaan segera dibebaskan.

Khusus ABK WNA koordinasi dengan instansi terkait.

(47)

8) Pengamanan tersangka dan barang bukti dilaksanakan oleh pangkalan dengan menerbitkan surat perintah.

9) Berita Acara Pendapat/Resume.

a) Penyidik setelah membaca dan mempelajari semua hasil pemeriksaan saksi-saksi dan para tersangka serta memperhatikan bukti-bukti yang ada, maka penyidik membuat suatu kesimpulan/pendapat tentang:

(1) Tindak pidana yang terjadi.

(2) Pelaku, orang yang menyuruh dan membantu melakukan tindak pidana.

(3) Kapan dan dimana tindak pidana terjadi.

(4) Bagaimana cara tindak pidana dilakukan.

b) Penyidik menguraikan unsur tindak pidana yang disangkakan dihubungkan dengan rangkaian perbuatan tersangka yang diperkuat dengan alat bukti lain.

c) Apabila penyidik berpendapat bahwa tersangka telah melakukan tindak pidana yang diatur dalam beberapa ketentuan, maka sangkaan dibuat primair, subsidair dan lebih subsidair (dimulai dari yang terberat).

d) Apabila penyidik berpendapat bahwa tersangka telah melakukan beberapa tindak pidana maka sangkaan dibuat secara kumulatif.

10) Penghentian penyidikan.

a) Penghentian penyidikan dilakukan karena :

(48)

(1) Tidak cukup bukti.

(2) Bukan merupakan suatu tindak pidana, atau (3)Dihentikan demi hukum.

b) Mengajukan permohonan penghentian penyidikan kepada komando atas secara berjenjang dalam waktu yang tidak terlalu lama.

c) Membuat Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) dan Berita Acara Penghentian Penyidikan.

d) Memberitahukan kepada Penuntut Umum, tersangka dan keluarganya.

e) Mengembalikan barang bukti dengan disertai Berita Acara kepada tersangka.

f) Melaporkan pelaksanaan penghentian penyidikan kepada komando atas

11) Berkas perkara.

a) Sampul berkas perkara memuat antara lain: kop satuan, nomor berkas perkara dan identitas tersangka.

b) Berkas perkara yang dibuat oleh penyidik berisi:

(1) Register perkara.

(2) Daftar isi perkara pidana atas nama tersangka.

(3) Berita acara pendapat/resume.

(4) Surat Perintah Penyidikan.

(49)

(5) Surat pemberitahuan kepada Kejaksaan Negeri tentang dimulainya penyidikan (SPDP).

(6) Surat perintah dan Berita acara penahanan.

(7) Surat permohonan perpanjangan penahanan kepada Kejaksaan.

(8) Surat perintah perpanjangan penahanan.

(9) Berita acara perpanjangan penahanan.

(10) Surat perintah dan berita acara mengeluarkan dari tahanan.

(11) Surat permohonan ijin atau pemberitahuan kepada Pengadilan Negeri tentang telah dilakukan penggeledahan.

(12) Surat perintah dan Berita acara penggeledahan.

(13) Daftar barang bukti yang digeledah.

(14) Surat perintah dan Berita acara penyitaan.

(15) Surat permohonan ijin atau kepada Pengadilan Negeri tentang telah dilakukan penyitaan barang bukti.

(16) Daftar barang bukti yang disita.

(17) Foto barang bukti yang disita.

(18) Daftar adanya saksi.

(19) Berita acara pemeriksaan saksi.

(20) Berita acara pengambilan sumpah/ janji saksi.

(21)Daftar adanya tersangka.

(22) Berita acara pemeriksaan tersangka.

(23) Foto tersangka.

(50)

(24) Berita acara pengambilan sumpah/ janji juru bahasa/ahli.

(25) Daftar barang bukti.

(26) Surat perintah dan berita acara mengeluarkan dari tahanan.

(27) Risalah lelang.

(28) Berkas-berkas yang dibuat oleh kapal penangkap (oleat, laporan kejadian, dll).

(29) Foto-foto/dokumentasi (kalau ada).

(30) Berita acara pelaksanaan tindakan lain sesuai dengan ketentuan undang-undang.

12) Penyerahan perkara kepada Kejaksaan.

a) Penyidik menyerahkan berkas perkara kepada Kejaksaan Negeri setempat secepat mungkin disertai dengan Surat penyerahan berkas perkara.

b) Kejaksaan Negeri akan mempelajari berkas tersebut untuk kemudian memeriksa kelengkapannya. Apabila tidak lengkap, maka berkas perkara dikembalikan kepada penyidik dengan surat P.18 (surat pengembalian berkas perkara yang tidak lengkap), disertai dengan petunjuk perbaikan P.19.

c) Apabila penyidik terlalu lama menyelesaikan perbaikan berkas perkara tersebut, maka Kejaksaan Negeri akan memberikan peringatan dengan memberikan P.20.

d) Dengan lengkapnya berkas perkara, pihak Kejaksaan Negeri akan mengeluarkan P.21. Apabila dalam jangka waktu 14 hari pihak

(51)

Penuntut Umum tidak mengembalikan hasil penyidikan maka penyidikan dianggap sudah selesai dan penyidik dapat menyerahkan tersangka dan barang bukti.

e) Penyidik menyerahkan tersangka dan barang bukti sesuai P.21 kepada Kejaksaan Negeri disertai Berita acara serah terima tersangka, Barang Bukti dan Berkas Perkara.

f) Apabila berkas perkara ditolak oleh Kejaksaan Negeri dan penyidik tidak dapat melengkapinya karena tidak cukup bukti atau bukan perkara pidana, maka:

(1) Penyidik mengusulkan SP3 (Surat Perintah Penghentian Penyidikan) kepada komando atas disertai alasan yuridis.

(2) Tersangka dapat dibebaskan dan barang bukti dikembalikan kepada yang berhak setelah mendapat persetujuan dari komando atas.

(3) Persetujuan dari komando atas, diberikan dalam waktu yang tidak terlalu lama untuk mencegah implikasi hukum dikemudian hari (Perkasal/ 32/V/2009 : 34-47)

2.6 Dasar Wewenangan Penyidik Perwira TNI Angkatan Laut dalam melakukan Penyidikan.

a. TZMKO. Ordonansi Laut Teritorial dan Lingkungan Laut Larangan (Territoriale Zee en Maritime KringenOrdonantie) 1939 Stbl.1939 Nomor 442 Pasal 13 menyatakan bahwa: ”Untuk memelihara dan mengawasi pentaatan ketentuan–ketentuan dalam ordonansi ini

(52)

ditugaskan kepada Komandan Angkatan Laut Surabaya, Komandan- komandan Kapal Perang Negara dan kamp-kamp penerbangan dari Angkatan Laut”.

b. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang KUHAP jo Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1983 tentang Pelaksanaan KUHAP penjelasan pasal 17 menyebutkan bahwa:

“bagi penyidik dalam perairan Indonesia, zona tambahan, landas kontinen dan ZEEI penyidikan dilakukan oleh perwira TNI AL dan pejabat penyidik lainnya yang ditentukan oleh undang-undang yang mengaturnya”.

b. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1983 tentang Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI). DalamPasal 14 ayat (1) memberikan kewenangan kepada Perwira TNI AL yang ditunjuk oleh Pangab sebagai aparat penegak hukum di bidang penyidikan terhadap pelanggaran ketentuan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1983.

d. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 1985 tentang Pengesahan UNCLOS 1982. Memberikan kewenangan kepada pejabat-pejabat, kapal perang dan kapal pemerintah untuk melakukan penegakan hukum di laut. Hal ini dapat dilihat dalam beberapa pasal antara lain pasal 107,110, 111 dan 224 UNCLOS 1982.

e. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Hayati dan Ekosistemnya. Pasal 39 ayat (2) kewenangan penyidik Kepolisian Negara RI, juga Pejabat Pegawai Negeri Sipil

(53)

tertentu di lingkungan departemen yang lingkup tugas dan tanggung jawabnya meliputi pembinaan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, tidak mengurangi kewenangan penyidik sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1983 tentang ZEEI dan Undang-UndangNomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan.

f. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1996 tentang Perairan Indonesia.

Dalam penjelasan pasal 24 ayat (3) Penegakan hukum dilaksanakan oleh instansi terkait antara lain TNI AL, Polri, Departemen Perhubungan, Departemen Pertanian, Departemen Keuangan dan Departemen Kehakiman sesuai dengan wewenang masing-masing instansi tersebut dan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan nasional maupun hukum internasional.

g. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentangPerikanan. Dalam Pasal 73 ayat (1) menyebutkan bahwa:

“Penyidikan tindak pidana di bidang perikanan dilakukan oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil Perikanan, Perwira TNI AL dan Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia”.

h. Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perubahan Undang- Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan. Dalam Pasal 73 ayat (1) Penyidikan tindak pidana di bidang perikanan di wilayah pengelolaan perikanan Negara Republik Indonesia dilakukan oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil Perikanan, Penyidik Perwira TNI AL, dan/atau Penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia.

(54)

i. Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 tentang Tentara Nasional Indonesia. Dalam pasal 9 huruf (b) Angkatan Laut bertugas menegakkan hukum dan menjaga keamanan di wilayah laut yurisdiksi nasional sesuai dengan ketentuan hukum nasional dan hukum internasional yang telah diratifikasi.

j. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentangPelayaran.Dalam Pasal 282 ayat (1) :

“Selain penyidik pejabat Polisi Negara Republik Indonesia dan penyidik lainnya, Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan instansi yang lingkup tugas dan tanggung jawabnya di bidang pelayaran diberi wewenang khusus sebagai penyidik sebagaimana dimaksud dalam undang-undang ini”.

Adapun dalam penjelasannya yang dimaksud dengan “penyidik lainnya”

adalah penyidik sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan antara lain Perwira Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut dan dipertegas pada pasal 340 untuk di ZEEI.

k. Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2008 tentang Wilayah Negara.Dalam Pasal 7 disebutkan:

“Negara Indonesia memiliki hak-hak berdaulat dan hak-hak lain di wilayah Yurisdiksi yang pelaksanaannya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dan hukum internasional”.

Dan Pasal 22 disebutkan:

“Negara Indonesia berhak melakukan pengelolaan dan pemanfaatan kekayaan alam dan lingkungan laut di laut bebas serta dasar laut internasional yang dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dan hukum internasional”.

( ProtapKamla 2009 :9-10)

(55)

Adapun wewenang Penyidik Perwira TNI Angkatan diatur dalam Pasal 73 A Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perikanan, yakni :

a. Menerima laporan atau pengaduan dari seseorang tentang adanya tindak pidana dibidang perikanan.

b. Memanggil dan memeriksa tersangka dan/atau saksi untuk didengar keterangannya.

c. .Membawa dan menghadapkan seseorang sebagai tersangka dan/atau saksi untuk didengar keterangannya.

d. Menggeledah sarana dan prasarana perikanan yang diduga digunakan dalam atau menjadi tempat melakukan tindak pidana dibidang perikanan.

e. Menghentikan, memeriksa, menangkap, membawa, dan/atau menahan kapal dan/atau orang yang disangka melakukan tindak pidana dibidang perikanan.

f. Memeriksa kelengkapan dan keabsahan dokumen usaha perikanan.

g. Memotret tersangka dan/atau barang bukti tindak pidana dibidang perikanan.

h. Mendatangkan ahli yang diperlukan dalam hubungannya dengan tindak pidana dibidang perikanan.

i. Membuat dan menandatangani berita acara pemeriksaan.

j. Melakukan penyitaan terhadap barang bukti yang digunakan dan/atau hasil tindak pidana.

k. Melakukan penghentian penyidikan dan

(56)

l. Mengadakan tindakan lain yang menurut hukum dapat dipertanggungjawabkan.

Pelaksanaan penyidikan yang dilakukan oleh Penyidik Perwira TNI Angkatan Laut dalam melakukan penegakan hukum dibidang perikanan diatur dalam Pasal 73 b Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perikanan, yakni :

(1) Penyidik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 73 memberitahukan dimulainya penyidikan kepada penuntut umum paling lama 7 (tujuh) hari sejak ditemukan adanya tindak pidana dibidang perikanan;

(2) Untuk kepentingan penyidikan, penyidik dapat menahan tersangka paling lama 20 (dua puluh) hari;

(3) Jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (2), apabila diperlukan untuk kepentingan pemeriksaan yang belum selesai, dapat diperpanjang oleh penuntut umum paling lama 10 (sepuluh) hari;

(4) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) tidak menutup kemungkinan tersangka dikeluarkan dari tahanan sebelum berakhir waktu penahanan tersebut, jika kepentingan pemeriksaan sudah terpenuhi;

(5) Setelah waktu 30 (tiga puluh) hari tersebut, penyidik harus sudah mengeluarkan tersangka dari tahanan demi hukum;

(6) Penyidik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 73A menyampaikan hasil penyidikan kepenuntut umum paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak pemberitahuan dimulainya penyidikan.

Referensi

Dokumen terkait