• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mekanisme Pencatatan dan Pelaporan Hasil Pelayanan Kontrasepsi

I. PENDAHULUAN

1.5 Mekanisme Pencatatan dan Pelaporan Hasil Pelayanan Kontrasepsi

Berikut ini mekanisme arus pencatatan dan pelaporan hasil pelayanan kontrasepsi :

 Laporan F/II/KB/13 dari faskes dilaporkan ke kabupaten/kota secara manual. Namun, tidak menutup kemungkinan jika faskes KB atau petugas faskes KB dapat melaporkan langsung secara on line dengan menggunakan aplikasi ini. Batas akhir melaporkan yaitu tanggal 7 setiap bulannya.

 Kabupaten/Kota yang mampu melakukan pelaporan secara on line dengan menggunakan program aplikasi statistik rutin, batas akhir melaporkan yaitu tanggal 10 setiap bulannya.

 Bagi kabupaten/kota yang belum mampu melakukan pelaporan secara on line, maka dapat melaporkan hasil Rek.Kab.F/II/KB/13 kepada provinsi secara manual (via

email). Selanjutnya provinsi melakukan pelaporan secara on line dengan menggunakan program Aplikasi Statistik Rutin, batas akhir melaporkan yaitu tanggal 15 setiap bulannya.

 Jika ada laporan susulan/ralat masih dapat dilakukan untuk laporan 3 bulan terakhir dan hanya dapat dilakukan antara tanggal 1 sampai 15.

Gambar 2. Proses Pelaporan Hasil Pelayanan Kontrasepsi Secara On Line

1.6. Batasan Pengertian

Berikut ini merupakan beberapa pengertian dari istilah – istilah yang digunakan dalam Laporan Bulanan Pelayanan Kontrasepsi :

1. Pencatatan dan Pelaporan Pelayanan Kontrasepsi adalah suatu kegiatan mencatat dan melaporkan berbagai aspek yang berkaitan dengan pelayanan kontrasepsi yang dilakukan oleh Faskes KB Pemerintah maupun Swasta, Praktik Dokter/ Praktik Bidan Mandiri, serta Jejaring Faskes KB Lainnya sesuai dengan sistem yang telah ditetapkan.

2. Peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) adalah setiap orang, termasuk orang asing yang bekerja paling singkat 6 bulan di Indonesia yang telah membayar iuran. Peserta dalam petunjuk teknis ini adalah pasangan suami isteri.

3. Pelayanan Keluarga Berencana adalah pelayanan dalam upaya mengatur kelahiran anak, jarak dan usia ideal melahirkan, mengatur kehamilan, melalui promosi, perlindungan, dan bantuan sesuai dengan hak reproduksi untuk mewujudkan keluarga yang berkualitas melalui pemberian pelayanan Keluarga Berencana (KB) termasuk penanganan efek samping dan komplikasi bagi peserta Jaminan Kesehatan Nasional.

4. Peserta KB Baru adalah pasangan usia subur yang baru pertama kali menggunakan alat/cara kontrasepsi dan atau pasangan usia subur yang kembali menggunakan metode kontrasepsi setelah melahirkan/keguguran.

5. Peserta KB Baru Pra Sejahtera (KPS) dan Keluarga Sejahtera I (KS I) adalah pasangan usia subur dari Keluarga Pra Sejahtera dan Keluarga Sejahtera I yang baru pertama kali menggunakan alat/cara kontrasepsi, dan atau yang kembali menggunakan metode kontrasepsi setelah melahirkan/keguguran.

6. KB Pasca Persalinan adalah upaya pencegahan kehamilan dengan menggunakan metode/alat/obat kontrasepsi segera setelah melahirkan sampai dengan 42 hari / 6 minggu setelah melahirkan.

7. KB Pasca Keguguran adalah upaya pencegahan kehamilan dengan menggunakan alat atau obat kontrasepsi setelah mengalami keguguran sampai dengan kurun waktu 14 hari. 8. Pasangan Usia Subur (PUS) Penerima Bantuan Iuran (PBI) Jaminan Kesehatan

Nasional meliputi Pasangan Usia Subur peserta Jaminan Kesehatan Nasional yang

tergolong fakir miskin/tidak mampu.

9. PUS Bukan Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan Nasional meliputi Pasangan Usia Subur peserta Jaminan Kesehatan Nasional yang tidak tergolong fakir miskin dan tidak mampu.

10. PUS Bukan Peserta Jaminan Kesehatan Nasional meliputi Pasangan Usia Subur yang tidak tergolong fakir miskin dan tidak mampu serta belum mendaftar sebagai peserta Jaminan Kesehatan Nasional, dan juga Pasangan Usia Subur yang tergolong fakir miskin dan tidak mampu atau Keluarga Pra Sejahtera/Keluarga Sejahtera I serta belum mendaftar sebagai peserta Jaminan Kesehatan Nasional.

11. Pelayanan Peserta KB Ulang adalah tindakan kepada peserta KB, meliputi penanganan kasus komplikasi berat, penanganan kasus kegagalan, pencabutan IUD dan Implant, pelayanan ganti cara, serta pelayanan kontrasepsi ulang, dengan penjelasan sebagai berikut :

 Pelayanan Komplikasi Berat adalah pelayanan terhadap gangguan kesehatan akibat pemakaian metode kontrasepsi, yang harus dilayani secara intensif dan perlu rawat

inap di Rumah Sakit;

 Pelayanan Kegagalan adalah pelayanan terhadap terjadinya kehamilan pada peserta KB yang masih memakai kontrasepsi;

 Pelayanan Pencabutan IUD dan Implan adalah tindakan pelayanan pencabutan IUD dan Implan yang disebabkan habis masa pemakaian.

 Pelayanan Ganti Cara adalah pemberian pelayanan jenis metode kontrasepsi baru yang berbeda dengan metode kontrasepsi yang dipakai sebelumnya oleh peserta KB, karena alasan tertentu dan bukan karena alasan setelah melahirkan/keguguran.

 Pelayanan Kontrasepsi Ulang adalah pelayanan kepada peserta KB dengan memberikan kontrasepsi ulang untuk Pil, Suntikan, dan Kondom, serta pemasangan ulang kontrasepsi IUD dan Implan dengan alasan komplikasi, habis masa pemakaian, atau ganti jenis IUD dan Implan.

12. Fasilitas Kesehatan KB (Faskes KB) adalah fasilitas yang mampu dan berwenang memberikan pelayanan Keluarga Berencana, berlokasi dan terintegrasi di fasilitas kesehatan tingkat pertama atau tingkat lanjutan, yang dikelola oleh pemerintah, pemerintah daerah, dan atau swasta (termasuk masyarakat).

13. Jejaring Fasilitas Kesehatan KB adalah fasilitas kesehatan KB yang menginduk ke Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama, terdiri dari :

 Puskesmas Pembantu (Pustu)  Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu)  Pos Kesehatan Desa (Poskesdes)  Pos Bersalin Desa (Polindes)  Praktik Bidan

 Praktik Dokter (bagi yang belum bekerjasama dengan BPJS Kesehatan)

14. Praktik Dokter/Praktik Bidan Mandiri adalah dokter atau bidan yang melaksanakan praktik secara mandiri/perorangan.

15. Petugas Penghubung Praktik Dokter/Praktik Bidan Mandiri adalah PLKB/PKB atau petugas yang ditunjuk sebagai pengumpul data hasil pelayanan kontrasepsi oleh Praktik Dokter/Praktik Bidan Mandiri yang berada di wilayah kerjanya.

16. Status Fasilitas Kesehatan KB adalah status pemilikan atau pengelolaan Faskes KB yang dibedakan atas 2 (dua) macam pemilikan, yaitu : Pemerintah dan Swasta.

 Fasilitas Kesehatan KB Pemerintah adalah fasilitas kesehatan KB yang dikelola dan dibiayai oleh Pemerintah.

Misalnya : Faskes KB milik Pemerintah/Pemda (seperti Puskesmas/Rumah

Bersalin/Rumah Sakit), Faskes KB milik TNI, Faskes KB milik POLRI, dan Faskes KB milik instansi pemerintah lainnya.

 Fasilitas Kesehatan Swasta adalah fasilitas kesehatan KB yang dikelola dan dibiayai oleh Swasta dan atau LSOM.

Misalnya : Faskes KB milik NU, Faskes KB milik Muhammadiyah, Faskes KB milik

PGI, Faskes KB milik PERDHAKI, Faskes KB milik Walubi, Faskes KB milik Hindu, Faskes KB milik Perusahaan, dan Faskes KB milik Swasta lainnya.

17. Informed consent adalah suatu persetujuan tindakan medis tertulis yang menyatakan kesediaan dan kesiapan klien untuk ber-KB dengan metode suntikan, IUD, implan, Tubektomi (MOW) dan Vasektomi setelah mendapatkan informed choice.

18. Daerah Khusus adalah daerah tertinggal, terpencil, perbatasan, dan kepulauan meliputi :

 Daerah Tertinggal adalah daerah (desa/kelurahan, kecamatan, kabupaten/kota) yang masyarakat serta wilayahnya relatif kurang berkembang dibandingkan daerah lain dalam skala nasional.

 Daerah Terpencil adalah daerah (desa/kelurahan, kecamatan, kabupaten/kota) yang karena letak dan atau kondisi alam memiliki kesulitan, kekurangan atau keterbatasan prasarana dan sarana perhubungan, pelayanan kesehatan, persediaan kebutuhan 9 bahan pokok, serta kebutuhan sekunder lain, yang menimbulkan kesulitan bagi penduduk yang tinggal di wilayah tersebut.

 Daerah Perbatasan adalah daerah (desa/kelurahan, kecamatan, kabupaten/kota) dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berbatasan langsung dengan wilayah kedaulatan negara tetangga, baik perbatasan darat dan laut.

 Daerah Kepulauan adalah suatu gugus pulau, termasuk bagian pulau dan perairan di antara pulau-pulau tersebut, dan lain-lain wujud alamiah yang hubungannya satu sama lain demikian erat.

19. Desa/Kelurahan Siaga adalah suatu kondisi masyarakat tingkat desa/kelurahan yang memiliki kemampuan dalam menemukan permasalahan yang ada, kemudian merencanakan dan melakukan pemecahannya sesuai potensi yang dimilikinya, serta selalu siap siaga dalam menghadapi masalah kesehatan, bencana dan kegawat daruratan. Kriterianya adalah desa/kelurahan tersebut memiliki minimal 1 (satu) Pos Kesehatan Desa/Kelurahan (Poskesdes/Poskeskel) dengan tenaga minimal 1 (satu) orang bidan dan 2 (dua) orang kader.

20. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi (BP3K) adalah panduan bagi provider baik di tingkat pelayanan dasar maupun tingkat pelayanan rujukan baik di instansi Pemerintah maupun Swasta dalam memberikan pelayanan keluarga berencana sesuai dengan standar minimal guna memenuhi pelayanan keluarga berencana berkualitas.

II. CAKUPAN LAPORAN

2.1. CAKUPAN LAPORAN KECAMATAN

Gambaran dari hasil kegiatan pelayanan kontrasepsi dipengaruhi oleh kelengkapan pemasukan laporan bulanan, yaitu laporan Rekapitulasi Pelayanan Kontrasepsi (Rek.Prov.F/II/KB) dari tingkat provinsi yang merupakan kompilasi dari Rekapitulasi Laporan Pelayanan Kontrasepsi seluruh kabupaten/kota (Rek.Kab.F/II/KB) di wilayahnya, yang bersumber dari laporan seluruh F/II/KB dari para petugas Faskes KB.

Pada bulan juni 2016, laporan hasil pelayanan kontrasepsi dilaporkan oleh 12 kabupaten/kota. Untuk laporan dari kecamatan, terdapat 147 kecamatan yang melapor atau 90,18% dari 163 kecamatan yang ada. Berikut merupakan daftar kecamatan yang tidak melapor menurut kabupaten/kota :

Tabel 1 Kecamatan yang tidak melapor Juni 2016

No Kab/Kota Kecamatan Tidak Lapor Keterangan

Jumlah Nama

1 2 3 4 5

1 Kampar 2 Kampar Kiri Tengah dan Koto Kampar Hulu

Koto Kampar Hulu tidak memiliki faskes KB 2 Indragiri Hulu 1 Kuala Cenaku

3 Rokan Hilir 5

Bagan Sinembah, Batu Hampar, Rantau Kopar, Pekaitan, dan Kubu Babussalam

Pekaitan, Kubu Babussalam tidak memiliki faskes KB

4 Siak 5

Kerinci Kanan, Bunga Raya, Sabak Auh, Mempura, dan Pusako

5 Kepulauan Meranti 2 Pulau Merbau, dan Tebing Tinggi Timur

Tebing Tinggi Timur tidak memiliki faskes KB

6 Dumai 1 Dumai Kota

2.2. Cakupan Laporan Faskes KB Pemerintah

Laporan yang masuk pada bulan juni 2016 sebanyak 266 Faskes KB atau 88,96% dari 299 Faskes KB Pemerintah yang ada. Berikut adalah kabupaten/kota dengan persentase faskes KB Pemerintah lapor tertinggi dan terendah adalah sebagai berikut :

Tabel 2 Kabupaten/Kota dengan Cakupan Faskes KB Pemerintah Lapor Tertinggi dan Terendah Juni 2016

Ada Lapor % Ada Lapor % 1 Indragiri Hilir 32 32 100.00% Siak 16 11 68.75% 2 Pelalawan 14 14 100.00% 3 Rokan Hulu 24 24 100.00% 4 Kuantan Singingi 24 24 100.00% Laporan Faskes KB Pemerintah Te rendah No Kabupate n / Kota Laporan Faskes KB

Pe merintah Tertinggi Kabupaten / Kota

Keterangan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran Tabel 1. Cakupan Laporan dan Tempat Pelayanan KB.

2.3. Cakupan Laporan Faskes KB Swasta

Gambar 4. Cakupan Laporan Faskes KB Swasta Juni 2016

Laporan yang masuk pada bulan juni 2016 sebanyak 19 Faskes KB atau 81,19% dari 101 Faskes KB Swasta yang ada. Berikut adalah kabupaten/kota dengan persentase faskes KB Swasta lapor tertinggi dan terendah adalah sebagai berikut :

Tabel 3 Kabupaten/Kota dengan Cakupan Faskes KB Swasta Lapor Tertinggi dan Terendah Juni 2016

Ada Lapor % Ada Lapor % 1 Kampar 3 3 100.00% Siak 2 1 50.00% 2 Be ngkalis 1 1 100.00% Dumai 8 4 50.00% 3 Indragiri Hilir 2 2 100.00% Rokan Hilir 1 0 0.00% 4 Rokan Hulu 3 3 100.00% Ke p. Me ranti 0 0 0.00% 5 Kuantan Singingi 4 4 100.00%

No Kabupate n / Kota

Laporan Fas ke s KB

Swasta Te rtinggi Kabupate n / Kota

Laporan Fas ke s KB Swas ta Te re ndah

Keterangan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran Tabel 1. Cakupan Laporan dan Tempat Pelayanan KB.

2.4. Cakupan Laporan Faskes Jejaring Praktik Dokter

Gambar 5. Cakupan Laporan Faskes Jejaring Praktik Dokter Juni 2016

Pada bulan juni 2016, tercatat sebanyak 443 faskes jejaring praktik dokter yang ada, dan 375 dari faskes jejaring praktik dokter tersebut atau sebesar 84,65% melaporkan hasil pelayanannya. Berikut adalah kabupaten/kota dengan persentase faskes jejaring praktik dokter lapor tertinggi dan terendah adalah sebagai berikut :

Tabel 4 Kabupaten/Kota dengan Cakupan Faskes KB Jejaring Praktik Dokter Lapor Tertinggi dan Terendah Juni 2016

Ada Lapor % Ada Lapor % 1 Indragiri Hilir 50 50 100.00% Be ngkalis 45 15 33.33% 2 Pe lalawan 18 18 100.00% Siak 46 14 30.43% 3 Rokan Hulu 58 58 100.00% 4 Kuantan Singingi 50 50 100.00% 5 Pe kanbaru 48 48 100.00% 6 Dumai 17 17 100.00% No Kabupaten / Kota

Laporan Faske s Jejaring

Dokte r Tertinggi Kabupate n / Kota

Laporan Faskes Je jaring Dokter Te rendah

Keterangan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran Tabel 1. Cakupan Laporan dan Tempat Pelayanan KB.

2.5. Cakupan Laporan Faskes Jejaring Praktik Bidan

Gambar 6. Cakupan Laporan Faskes Jejaring Praktik Bidan Juni 2016

Pada bulan juni 2016, tercatat sebesar 92,25% faskes jejaring praktik bidan atau 1.594 dari 1.728 faskes jejaring praktik bidan yang tercatat pada aplikasi. Berikut adalah kabupaten/kota

dengan persentase faskes jejaring praktik bidan lapor tertinggi dan terendah adalah sebagai berikut :

Tabel 5 Kabupaten/Kota dengan Cakupan Faskes KB Jejaring Praktik Bidan Lapor Tertinggi dan Terendah Juni 2016

Ada Lapor % Ada Lapor %

1 Kampar 51 51 100.00% Be ngkalis 169 78 46.15% 2 Indragiri Hilir 416 416 100.00% 3 Pe lalawan 98 98 100.00% 4 Rokan Hulu 150 150 100.00% 5 Kuantan Singingi 259 259 100.00% 6 Pe kanbaru 121 121 100.00% 7 Dumai 45 45 100.00% No Kabupate n / Kota

Laporan Faskes Je jaring

Bidan Te rtinggi Kabupate n / Kota

Laporan Faskes Je jaring Bidan Tere ndah

Keterangan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran Tabel 1. Cakupan Laporan dan Tempat Pelayanan KB.

2.6. Cakupan Laporan Faskes Jejaring Lainnya

Gambar 7. Cakupan Laporan Faskes Jejaring Lainnya Juni 2016

Pada bulan juni 2016, tercatat sebesar 80,09% faskes jejaring lainnya atau 507 dari 633 faskes jejaring lainnya yang tercatat pada aplikasi. Berikut adalah kabupaten/kota dengan persentase faskes jejaring lainnya lapor tertinggi dan terendah adalah sebagai berikut :

Tabel 6 Kabupaten/Kota dengan Cakupan Faskes KB Jejaring Lainnya Lapor Tertinggi dan Terendah Juni 2016

Ada Lapor % Ada Lapor % 1 Kampar 1 1 100.00% Siak 150 117 78.00% 2 Indragiri Hilir 128 128 100.00% Bengkalis 139 107 76.98% 3 Kuantan Singingi 2 2 100.00% Indragiri Hulu 183 122 66.67% 4 Pekanbaru 30 30 100.00%

Laporan Faskes Jejaring Lainnya Terendah No Kabupaten / Kota

Laporan Faskes Jejaring

Lainnya Tertinggi Kabupaten / Kota

Keterangan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran Tabel 1. Cakupan Laporan dan Tempat Pelayanan KB.

III. RINGKASAN LAPORAN HASIL PELAYANAN

KONTRASEPSI JUNI 2016

3.1. Hasil Pelayanan Peserta KB Baru (PB)

A. Hasil Pelayanan Peserta KB Baru (PB)

Pencapaian peserta KB baru terhadap PPM PB tahun 2016 masing-masing kontrasepsi bulan juni 2016 dapat dilihat pada tabel dibawah ini :

Tabel 7 Peserta KB Baru Menurut Metode Kontrasepsi Juni 2016

Jumlah PB % Thd PPM % Thd Jumlah Jumlah PB % Thd PPM % Thd Jumlah 1. IUD 17,974 490 2.73% 4.06% 3,096 17.22% 3.84% 2. MOW 3,010 158 5.25% 1.31% 1,112 36.94% 1.38% 3. MOP 490 0 0.00% 0.00% 23 4.69% 0.03% 4. Implant 25,654 719 2.80% 5.96% 6,458 25.17% 8.00% 5. Kondom 11,000 1,018 9.25% 8.44% 6,792 61.75% 8.41% 6. S untikan 103,242 6,451 6.25% 53.49% 40,885 39.60% 50.65% 7. Pil 50,920 3,224 6.33% 26.73% 22,360 43.91% 27.70% Jumlah 212,290 12,060 5.68% 100.00% 80,726 38.03% 100.00% MKJP 47,128 1,367 2.90% 11.33% 10,689 22.68% 13.24% Metode KB Pria 11,490 1,018 8.86% 8.44% 6,815 59.31% 8.44% Metode Kontrasepsi Sas aran PPM - PB Tahun 2016 Pencapaian PB s .d Juni 2016 Pencapaian PB Juni 2016

Secara provinsi pada bulan juni 2016 sebanyak 12.060 peserta. Mayoritas peserta KB baru bulan juni 2016, didominasi oleh peserta KB yang menggunakan Non Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (Non MKJP), yaitu sebesar 88,67% dari seluruh peserta KB baru. Sedangkan peserta KB baru yang menggunakan metode jangka panjang hanya sebesar 11,33%. Dari tabel di atas menginformasikan bahwa pencapaian peserta KB Baru terhadap PPM-PB pada juni 2016 ini secara provinsi sebesar 5,68%.

Pencapaian peserta KB baru sampai dengan bulan juni 2016 sebanyak 80.726 peserta. Peserta KB baru yang menggunakan metode jangka panjang sampai dengan bulan juni 2016 hanya sebesar 13,24% dari seluruh peserta KB baru. Jika dibandingkan dengan PPM-PB maka pencapaian peserta KB baru sampai dengan juni telah mencapai 38,03%.

Berikut adalah kabupaten/kota dengan persentase Pencapaian PB Terhadap PPM-PB juni 2016 tertinggi dan terendah adalah sebagai berikut :

Tabel 8 Kabupaten/Kota Pencapaian Peserta KB Baru Terhadap PPM-PB Juni 2016

Sasaran PPM - PB Jumlah PB % Sasaran PPM - PB Jumlah PB % 1 Rokan Hulu 16,771 1,595 9.51% Indragiri Hulu 16,109 649 4.03% No Kabupaten / Kota Pencapaian PB Tertinggi Kabupaten / Kota Pencapaian PB Terendah

Tabel 8A Kabupaten/Kota Pencapaian Peserta KB Baru Terhadap PPM-PB s.d Juni 2016 Sasaran PPM - PB Jumlah PB % Sasaran PPM - PB Jumlah PB % 1 Rokan Hilir 11,967 6,969 58.24% Indragiri Hilir 23,084 6,694 29.00% No Kabupaten / Kota Pencapaian PB Tertinggi Kabupaten / Kota Pencapaian PB Terendah

B. Hasil Pelayanan Peserta KB Baru (PB) Menurut Metode Kontrasepsi dan Tempat

Pelayanan

Tabel 9 Peserta KB Baru Menurut Tempat Pelayanan Juni 2016

Jumlah PB Seluruhnya % Thd Jumlah PB Sel uruhnya Juml ah PB MKJP % Thd Jumlah PB Seluruhnya Juml ah PB Pri a % Thd Jumlah PB Seluruhnya 1 Faskes KB Pemeri ntah 5,968 49.49% 902 7.48% 397 3.29% 2 Faskes KB Swasta 1,282 10.63% 323 2.68% 188 1.56% 3 Jejari ng Praktik Dokter 553 4.59% 18 0.15% 12 0.10% 4 Jejari ng Praktik Bi dan 3,617 29.99% 377 3.13% 110 0.91% 5 Jejari ng Lainnya 640 5.31% 46 0.38% 12 0.10% Juml ah 12,060 100.00% 1,666 13.81% 719 5.96%

Hasi l Pelayanan PB Juni 2016 No Tempat Pelayanan

Berdasarkan tabel di atas terlihat bahwa Faskes KB Pemerintah merupakan tempat pelayanan yang paling banyak melayani peserta KB Baru yaitu 49,49% dari jumlah Peserta KB Baru seluruhnya. Posisi kedua yaitu pelayanan PB oleh Jejaring Praktik Bidan yaitu 29,99%. Sedangkan Pelayanan oleh Faskes KB swasta, Jejaring Praktik Dokter dan Jejaring Lainnya, masing-masing hanya kurang dari 11% jumlah PB seluruhnya.

Tabel 9A Peserta KB Baru Menurut Tempat Pelayanan s.d Juni 2016

Jumlah PB Seluruhnya % Thd Jumlah PB Seluruhnya Jumlah PB MKJP % Thd Jumlah PB Seluruhnya Jumlah PB Pria % Thd Jumlah PB Seluruhnya 1 Faskes KB Pemerintah 43,500 53.89% 7,208 8.93% 4,063 5.03% 2 Faskes KB Swasta 7,167 8.88% 1,927 2.39% 886 1.10% 3 Jejaring Praktik Dokter 3,082 3.82% 132 0.16% 288 0.36% 4 Jejaring Praktik Bidan 21,534 26.68% 1,290 1.60% 987 1.22% 5 Jejaring Lainnya 5,443 6.74% 466 0.58% 257 0.32% Jumlah 80,726 100.00% 11,023 13.65% 6,481 8.03%

Hasil Pelayanan PB s.d Juni 2016 No Tempat Pelayanan

Sedangkan jika dilihat hasil pelayanan Peserta KB Baru kumulatif sampai dengan bulan juni 2016 maka terlihat faskes KB pemerintah paling banyak melayani peserta KB baru yaitu 53,89% peserta KB baru seluruhnya.

B.1. Hasil Pelayanan Peserta KB Baru (PB) Faskes Pemerintah Menurut Metode Kontrasepsi

Tabel 10

Peserta KB Baru Faskes Pemerintah Menurut Metode Kontrasepsi Juni 2016

Jumlah PB % Thd Jumlah Jumlah PB % Thd Jumlah

1. IUD 248 0.57% 1,561 3.59% 2. MOW 93 0.21% 692 1.59% 3. MOP 0 0.00% 22 0.05% 4. Implant 561 1.29% 4,933 11.34% 5. Kondom 397 0.91% 4,041 9.29% 6. Suntikan 2,983 6.86% 19,996 45.97% 7. Pil 1,686 3.88% 12,255 28.17% Jumlah 5,968 13.72% 43,500 100.00% MKJP 902 2.07% 7,208 16.57% Metode KB Pria 397 0.91% 4,063 9.34% Metode Kontrasepsi

PB Fas kes Pemerintah s.d Juni 2016 PB Faskes Pemerintah Juni 2016

Secara provinsi pada bulan juni 2016 Faskes KB Pemerintah telah melayani sebanyak 5.968 peserta. Pelayanan PB MKJP hanya sebesar 2,07% dari seluruh PB yang dilayani Faskes KB Pemerintah. Metode suntikan masih mendominasi jenis pelayanan di faskes KB Pemerintah yaitu 6,86% dari seluruh PB yang dilayani faskes KB Pemerintah.

Sedangkan jika dilihat pelayanan kumulatif sampai dengan juni 2016, Faskes KB Pemerintah telah melayani sebanyak 43.500 peserta. Pelayanan PB MKJP hanya sebesar 16,57% dari seluruh PB yang dilayani Faskes KB Pemerintah.

B.2. Hasil Pelayanan Peserta KB Baru (PB) Faskes Swasta Menurut Metode

Kontrasepsi

Tabel 11 Peserta KB Baru Faskes Swasta Menurut Metode Kontrasepsi Juni 2016

Jumlah PB % Thd Jumlah Jumlah PB % Thd Jumlah

1. IUD 161 2.25% 1,029 14.36% 2. MOW 56 0.78% 398 5.55% 3. MOP 0 0.00% 1 0.01% 4. Implant 106 1.48% 499 6.96% 5. Kondom 188 2.62% 885 12.35% 6. S untikan 516 7.20% 3,047 42.51% 7. Pil 255 3.56% 1,308 18.25% Jumlah 1,282 17.89% 7,167 100.00% MKJP 323 4.51% 1,927 26.89% Metode KB Pria 188 2.62% 886 12.36%

Metode Kontras eps i PB Fas kes S was ta Juni 2016 PB Fas kes S was ta s .d Juni 2016

Secara provinsi pada bulan juni 2016 Faskes KB Swasta telah melayani sebanyak 1.282 peserta. Pelayanan PB MKJP hanya sebesar 4,51% dari seluruh PB yang dilayani Faskes KB Swasta. Metode suntikan masih mendominasi jenis pelayanan di faskes KB Swasta yaitu 7,20% dari seluruh PB yang dilayani faskes KB Swasta.

Sedangkan jika dilihat pelayanan kumulatif sampai dengan bulan juni 2016, Faskes KB Swasta telah melayani sebanyak 7.167 peserta. Pelayanan PB MKJP hanya sebesar 26,89% dari seluruh PB yang dilayani Faskes KB Swasta.

B.3. Hasil Pelayanan PB Jejaring Praktik Dokter Menurut Metode Kontrasepsi Tabel 12

Peserta KB Baru Jejaring Praktik Dokter Menurut Metode Kontrasepsi Juni 2016

Jumlah PB % Thd Jumlah Jumlah PB % Thd Jumlah

1. IUD 3 0.10% 45 1.46% 2. MOW 9 0.29% 22 0.71% 3. MOP 0 0.00% 0 0.00% 4. Implant 6 0.19% 65 2.11% 5. Kondom 12 0.39% 288 9.34% 6. Suntikan 306 9.93% 1,660 53.86% 7. Pil 217 7.04% 1,002 32.51% Jumlah 553 17.94% 3,082 100.00% MKJP 18 0.58% 132 4.28% Me tode KB Pria 12 0.39% 288 9.34% Me tode Kontras e ps i

PB Je jaring Praktik Dokte r s .d Juni 2016 PB Je jaring Praktik Dokte r Juni 2016

Secara provinsi pada bulan juni 2016 Jejaring Praktik Dokter telah melayani sebanyak 553 peserta. Pelayanan PB MKJP hanya sebesar 0,58% dari seluruh PB yang dilayani Jejaring Praktik Dokter. Metode Suntikan masih mendominasi jenis pelayanan di Jejaring Praktik Dokter yaitu 9,93% dari seluruh PB yang dilayani Jejaring Praktik Dokter.

Sedangkan jika dilihat pelayanan kumulatif sampai dengan bulan juni 2016, Jejaring Praktik Dokter telah melayani sebanyak 3.082 peserta. Pelayanan PB MKJP hanya sebesar 4,28% dari seluruh PB yang dilayani Jejaring Praktik Dokter.

B.4. Hasil Pelayanan PB Jejaring Praktik Bidan Menurut Metode Kontrasepsi

Tabel 13

Peserta KB Baru Jejaring Praktik Bidan Menurut Metode Kontrasepsi Juni 2016

Juml ah PB % Thd Juml ah Juml ah PB % Thd Juml ah

1. IUD 71 0.33% 364 1.69% 2. Impl ant 306 1.42% 926 4.30% 3. Kondom 110 0.51% 987 4.58% 4. Sunti kan 2,235 10.38% 12,863 59.73% 5. Pi l 895 4.16% 6,394 29.69% Juml ah 3,617 16.80% 21,534 100.00% MKJP 377 1.75% 1,290 5.99% Metode KB Pri a 110 0.51% 987 4.58% Metode Kontrasepsi

PB Jejari ng Prakti k Bi dan s.d Juni 2016 PB Jejari ng Prakti k Bi dan

Juni 2016

Secara provinsi pada bulan juni 2016 Jejaring Praktik Bidan telah melayani sebanyak 3.617 peserta. Pelayanan PB MKJP hanya sebesar 1,75% dari seluruh PB yang dilayani Jejaring Praktik Bidan. Metode suntikan masih mendominasi jenis pelayanan di Jejaring Praktik Bidan yaitu 10,38% dari seluruh PB yang dilayani Jejaring Praktik Bidan.

Sedangkan jika dilihat pelayanan kumulatif sampai dengan bulan juni 2016, Jejaring Praktik Bidan telah melayani sebanyak 21.534 peserta. Pelayanan PB MKJP hanya sebesar 5,99% dari seluruh PB yang dilayani Jejaring Praktik Bidan.

B.5. Hasil Pelayanan PB Jejaring Lainnya Menurut Metode Kontrasepsi Tabel 14

Peserta KB Baru Jejaring Lainnya Menurut Metode Kontrasepsi Juni 2016

Jumlah PB % Thd Jumlah Jumlah PB % Thd Jumlah

1. IUD 7 0.13% 97 1.78% 2. Implant 39 0.72% 369 6.78% 3. Kondom 12 0.22% 257 4.72% 4. Suntikan 411 7.55% 3,319 60.98% 5. Pil 171 3.14% 1,401 25.74% Jumlah 640 11.76% 5,443 100.00% MKJP 46 0.85% 466 8.56% Metode KB Pria 12 0.22% 257 4.72% Metode Kontrasepsi

PB Jejaring Praktik Lainnya s.d Juni 2016 PB Jejaring Praktik Lainnya Juni 2016

Secara provinsi pada bulan juni 2016 Jejaring Praktik Lainnya telah melayani sebanyak 640 peserta. Pelayanan PB MKJP hanya sebesar 0,85% dari seluruh PB yang dilayani Jejaring Praktik Lainnya. Metode suntikan masih mendominasi jenis pelayanan di Jejaring Praktik Lainnya yaitu 7,55% dari seluruh PB yang dilayani Jejaring Praktik Lainnya.

Sedangkan jika dilihat pelayanan kumulatif sampai dengan bulan juni 2016, Jejaring Praktik Lainnya telah melayani sebanyak 5.443 peserta. Pelayanan PB MKJP hanya sebesar 8,56% dari seluruh PB yang dilayani Jejaring Praktik Lainnya.

C. Hasil Pelayanan Peserta KB Baru KPS dan KSI Menurut Metode Kontrasepsi

Tabel 15 Peserta KB Baru KPS dan KSI Menurut Metode Kontrasepsi Juni 2016

Juml ah PB KPS dan KSI % Thd Juml ah PB KPS dan KSI Juml ah PB Sel uruh nya % Thd Juml ah PB Sel uruh nya Juml ah PB KPS dan KSI % Thd Juml ah PB KPS dan KSI Juml ah PB Sel uruh nya % Thd Juml ah PB Sel uruh

Dokumen terkait