Proses pemberian KKP-E berdasarkan asas kepercayaan, maka harus mengenal terlebih dahulu karakter dan reputasi calon debitur. Secara umum tahapan realisasi KKP-E sama untuk semua kegiatan usaha, baik yang dilaksanakan oleh petani/peternak/pekebun secara individu, kelompok tani, mandiri, atau bekerjasama dengan mitra usaha baik oleh petani/peternak/pekebun. Kelompok tani/koperasi yang membutuhkan pembiayaan KKP-E wajib melakukan penyusunan Rencana Kebutuhan Usaha (RKU) atau Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) sebagai dasar perencanaan kebutuhan KKP-E dengan memperhatikan kebutuhan indikatif yang telah ditetapkan. Terdapat tiga mekanisme pencairan KKP-E, yaitu kegiatan usaha yang dilaksanakan secara mandiri, koperasi, dan dengan mitra.
Kegiatan usaha dilaksanakan secara mandiri/kelompok tani
c d g Koordinasi d c/f a e c f b BRI AGRO Kelompok tani Dinas Teknis/Terkai
Gambar 7 Prosedur penyaluran KKP-E oleh petani/peternak/pekebun secara individu/kelompok tani secara langsung ke BRI AGRO
Pembinaan Petani/peternak/
pekebun
Dari bagan alir di atas dapat dijelaskan prosedur penyaluran KKP-E kepada petani/peternak/pekebun/kelompok tani sebagai berikut:
a. Petani/peternak/pekebun yang langsung mengajukan kredit secara individu menyusun RKU dan atau kelompok tani menyusun RDKK dibantu oleh petugas Dinas Teknis setempat/penyuluh pertanian.
b. Pejabat yang diberi kuasa oleh Dinas Teknis/penyuluh pertanian terkait mensahkan RKU atau RDKK.
c. Rencana Kebutuhan Usaha (RKU) petani/peternak/pekebun dan atau RDKK yang sudah disahkan langsung ke BRI AGRO.
d. BRI AGRO meneliti kelengkapan dokumen usulan kredit, dan apabila dinilai layak kemudian bank menandatangani akad kredit dengan petani/peternak/pekebun yang langsung mengajukan kredit dan atau dengan kelompok tani, selanjutnya menyalurkan KKP-E pada kelompok tani.
e. Kelompok tani/koperasi meneruskan KKP-E pada waktu dan jumlah sesuai kebutuhan pada petani/anggota kelompok tani.
f. Petani/peternak/pekebun yang secara individu langsung mengembalikan kredit pada BRI AGRO sesuai jadwal dan bila melalui kelompok tani anggota mengembalikan kepada kelompok tani.
g. Kelompok tani harus mengembalikan kewajiban KKP-E kepada BRI AGRO sesuai dengan jadwal dalam akad kredit, tanpa harus menunggu saat jatuh tempo.
Kegiatan usaha dilakukan melalui koperasi
a. Permohonan yang diajukan melalui koperasi disampaikan kepada BRI AGRO dilampiri dengan rekapitulasi RDKK dan RDKK yang telah ditandatangani oleh kelompok tani dan telah disahkan oleh pejabat yang diberi kuasa oleh Dinas Teknis setempat/penyuluh pertanian.
b. Pengurus koperasi menandatangani akad kredit dengan BRI AGRO.
c. BRI AGRO merealisasikan KKP-E pada waktu dan jumlah sesuai kebutuhan pada koperasi untuk diteruskan pada kelompok tani.
d. Kelompok tani meneruskan KKP-E pada waktu dan jumlah sesuai kebutuhan pada petani/anggota kelompok tani.
e. Petani/kelompok tani harus mengembalikan kewajiban KKP-E melalui koperasi pada BRI AGRO sesuai dengan jadwal, tanpa harus menunggu saat jatuh tempo.
Kegiatan usaha bekerjasama dengan mitra usaha
Bekerjasama dengan mitra usaha (perusahaan BUMN, BUMD, Koperasi, Swasta lain yang memiliki usaha bidang pertanian) dapat menjamin keberhasilan pengembalian suatu kredit yang diberikan pada petani/peternak/ pekebun/kelompok tani. Berikut bagan alir tentang prosedur realisasi KKP-E BRI AGRO
Koordinasi Koordinasi c d g b b fe f a a e b BRI AGRO Petani/kelompok tani/koperasi Mitra Usaha (perusahaan/ koperasi) Dinas Pertanian Koordinasi Gambar 8 Prosedur penyaluran KKP-E oleh petani/kelompok tani/ koperasi yang
bekerjasama dengan mitra usaha kebutuhan indikatif kredit
Dari bagan alir di atas dapat dijelaskan prosedur penyaluran KKP-E kepada petani/kelompok tani/koperasi yang bekerja sama dengan mitra usaha sebagai berikut:
a. Petani menyusun Rencana Kebutuhan Usaha (RKU) dan Kelompok Tani menyusun Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) dibantu oleh petugas Dinas Teknis setempat/penyuluh pertanian.
b. Pejabat yang diberi kuasa Dinas Teknis setempat/penyuluh pertanian terkait mensahkan RKU atau RDKK yang diketahui oleh mitra usaha.
c. RDKK yang sudah disahkan diajukan langsung ke BRI AGRO.
d. BRI AGRO meneliti kelengkapan dokumen RKU/RDKK dan apabila dinilai layak kemudian bank menandatangani akad kredit dengan petani/kelompok tani, selanjutnya menyalurkan KKP-E kepada kelompok tani.
e. Mitra usaha dapat bertindak sebagai penjamin pasar atau kredit (avalis) sesuai perjanjian dengan pihak yang bermitra.
f. Mitra usaha menjamin pemasaran hasil produksi pertanian dan membantu kelancaran pengembalian kredit yang berkoordinasi dengan BRI AGRO. g. Petani/kelompok tani melalui avalis mengembalikan angsuran KKP-E
langsung kepada BRI AGRO sesuai jadwal yang telah disepakati dalam akad kredit.
Mekanisme Penyaluran KKP-E PT BRI AGRO Tbk Semarang
Semua prosedur realisasi KKP-E tidak lepas dari prinsip 5C, yaitu
Character, Capacity, Capital, Collateral, dan Condition of Economy. Proses pencairan KKP-E PT BRI AGRO Tbk Semarang kurang lebih seminggu setelah pengajuan permohonan kredit. Mekanisme penyaluran kredit yang dilakukan oleh PT BRI AGRO Tbk Semarang, sebagai berikut:
Permohonan Kredit
Calon debitur harus melengkapi berkas-berkas yang dibutuhkan, mencantumkan latar belakang usaha, jenis bidang usaha, identitas usaha, perkembangan usaha, identitas ketua kelompok sebagai penanggung jawab, dan
identitas anggota. Selain itu, perlu diketahui tujuan permohonan KKP-E, apakah untuk mengembangkan skala usaha atau menambah modal usaha. Pendaftaran dapat dilakukan dengan menyusun proposal dan melampirkan RKU dan RDKK terlebih dahulu. Penilaian kelayakan jumlah KKP-E dapat diidentifikasi dari RDKK dan RKU usaha yang akan dibiayai. Jika hasil analisis tidak sesuai dengan permohonan, pihak PT BRI AGRO Semarang tetap berpedoman pada hasil analisis yang dilakukan dalam memutuskan jumlah KKP-E yang akan diberikan kepada calon debitur.
Pemenuhan Kelengkapan Berkas
Setelah permohonan kredit dilakukan, selanjutnya adalah proses administrasi. Sebelumnya, AO bertugas memeriksa apakah calon debitur memiliki pinjaman di bank lain dan masuk ke dalam daftar buku hitam Bank Indonesia atau tidak (BI Checking). Jika calon debitur tidak terdaftar dalam buku hitam Bank Indonesia, proses administrasi dilakukan oleh AO terhadap usaha mencakup
cashflow untuk mengetahui besar keuntungan calon debitur (mampu atau tidak membayar angsuran kredit dan membiyai kebutuhan hidup), lama usaha (pengalaman usaha), dan agunan yang diberikan serta prospek usaha ke depan (dapat diidentifikasi dari kemudahan akses pakan, bibit, dan pasar penjualan). Setelah berkas lengkap, berkas diberikan kepada Manajer Pemasaran untuk diproses lebih lanjut. Sebelum pemutusan permohonan kredit, MP menugaskan AO untuk melakukan survey guna memeriksa kebenaran laporan usaha yang telah diberikan calon debitur.
Pemeriksaan Langsung Terhadap Usaha Calon Debitur
Pemeriksaan usaha calon debitur sangat diperlukan untuk meminimalisasi risiko penunggakan pinjaman. Pemeriksaan dapat dilakukan langsung oleh AO PT BRI AGRO Semarang. Informasi yang berkaitan dengan usaha calon debitur dapat diperoleh dengan melakukan wawancara, baik langsung maupun tidak langsung melalui tetangga atau relasi sekitar lingkungan tempat tinggal maupun usaha.
Prinsip 5C sangat diperhatikan pada pemeriksaan yang dilakukan. Oleh karena itu, AO harus mengamati dan melakukan wawancara terhadap orang-orang yang tepat guna mendapatkan data yang akurat sehingga tidak terjadi kesalahan dalam menganalisis usaha calon debitur. Dalam hal ini Character menjadi hal utama yang harus diperhatikan. Kriteria pemeriksaan meliputi :
1. Domisili calon debitur sesuai dengan KTP yang telah diberikan.
2. Calon debitur mempunyai karakter yang baik, dapat diketahui dari hasil wawancara dengan tetangga, relasi, maupun perangkat desa yang berada di sekitar lingkungan tempat tinggal dan usaha debitur.
3. Usaha mempunyai prospek yang baik.
4. Usaha benar-benar sesuai dengan surat keterangan dari kecamatan atau kelurahan yang diberikan.
Pada saat kunjungan ke calon debitur, AO PT BRI AGRO Tbk Semarang membawa Laporan Survey Nasabah yang nantinya harus diisi oleh calon debitur yang meliputi identitas responden, lama usaha, alamat usaha, modal usaha, perkiraan pendapatan, dan tanggungan keluarga. Dari hasil analisis yang dilakukan oleh AO pada tahap sebelumnya ditambah dengan Laporan Survey
Nasabah, dapat menjadi rekomendasi apakah calon debitur tersebut layak diberikan KKP-E atau tidak.
Proses Keputusan Kredit
Hasil analisis yang telah dilakukan oleh AO kemudian diberikan kepada Manajer Pemasaran (MP). MP akan melakukan peninjauan dan menilai analisis kunjungan terhadap nasabah yang telah dilakukan oleh AO. Jika MP menyatakan kredit diterima, maka pihak PT BRI AGRO Tbk Semarang akan mempersiapkan administrasi. Keputusan kredit mencakup jumlah pinjaman yang diterima, jangka waktu kredit, dan angsuran pokok pinjaman beserta bunga yang harus dibayarkan. Jika kredit ditolak akan dikirimkan surat penolakan sesuai dengan alasan masing- masing.
Proses Realisasi Kredit
Setelah kredit disetujui, maka proses selanjutnya adalah realisasi kredit. Tetapi sebelum kredit dicairkan, calon debitur harus diikat oleh pihak bank. Pengikatan yang dilakukan dengan menandatangani akad kredit dan pengikatan jaminan. Penandatanganan dilaksanakan dengan disaksikan seorang notaris. Lama proses realisasi KKP-E adalah satu minggu. Proses pencairan KKP-E dilakukan secara bertahap. Tahap awal adalah pencairan kredit ke rekening kelompok untuk membeli bakalan sapi. Kemudian secara periodik, PT BRI AGRO Tbk Semarang mencairkan sisa kredit untuk pembelian pakan ke perusahaan pakan (PT TOSSA AGRO) yang telah bekerja sama dengan PT BRI AGRO Tbk Semarang, sehingga peternak dapat menerima pencairan kredit berupa pakan melalui pendamping yang telah ditunjuk oleh PT BRI AGRO Tbk Semarang. Hal tersebut dilakukan untuk mengantisipasi risiko penyalahgunaan KKP-E.
Pembinaan dan Pelaporan Debitur KKP-E
Pembinaan dalam pelaksanaan KKP-E di tingkat pusat dilakukan oleh Direktorat Pembiayaan Pertanian Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian bersama instansi lain serta BRI AGRO. Pembinaan di tingkat Provinsi dan Kabupaten/Kota dilakukan Dinas Teknis melalui penyuluh pertanian yang berkoordinasi dengan pendamping yang sebelumnya telah bekerjasama dengan BRI AGRO. Pembinaan diarahkan dalam hal:
1. Membimbing petani/peternak/pekebun/kelompok tani dalam penyusunan rencana kebutuhan usaha atau RDKK.
2. Melakukan sosialisasi sumber pembiayaan pertanian kepada petani/peternak/pekebun dan penyuluh di tingkat lapangan.
3. Melakukan intermediasi akses pembiayaan ke lembaga perbankan. 4. Memfasilitasi mencarikan penjamin pasar hasil produksi.
5. Mendampingi peternak/petani/pekebun/kelompok tani dalam pemanfaatan KKP-E secara optimal, sehinggamampu menerapkan teknologi guna meningkatkan mutu intensifikasinya.
6. Memberikan pemahaman kepada petani/peternak/pekebun/kelompok tani bahwa kredit yang diterima wajib dikembalikan sesuai jadwal.
Setelah dilaksanakan pembinaan secara periodik, BRI AGRO wajib melakukan pelaporan berupa laporan bulanan atau tiga bulanan perkembangan
penyaluran dan pengembalian KKP-E kepada Dinas Teknis (Tanaman pangan dan Hortikultura, Pertanian, Peternakan) selambat-lambatnya tangga 10 bulan berikutnya. Selanjutnya, Dinas Teknis menyampaikan laporan tersebut kepada Direktorat Pembiayaan Pertanian, Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian serta Kementerian Pertanian.