BAB 1 PENDAHULUAN
2.3. Sindrom Mata Kering
2.3.4. Mekanisme Sindrom Mata Kering
Secara umum, mata kering disebabkan oleh gangguan pada unit fungsi lakrimal (UFL), mencakup integrasi sistem glandula lakrimal, permukaan okuler dan kelopak mata, dan saraf motorik dan sensorik yang menyambungkan mereka. Unit fungsional ini mengatur komponen utama film air mata dalam regulasi dan berespon pada pengaruh lingkungan, endokrin, dan kortikal.
Keseluruhan fungsi ini untuk memproses integritas film air mata, kejernihan kornea dan kualitas gambar yang diproyeksikan ke retina. Ketika penyakit dan kerusakan pada komponen UFL dapat menyebabkan mata kering, mekanisme inti dari mata kering dikendalikan oleh hiperosmolaritas air mata dan ketidakstabilan film air mata.3
Hiperosmolaritas air mata menyebabkan kerusakan pada permukaan epitel dengan mengaktifkan kaskade inflamasi pada permukaan okuler dan melepaskan mediator inflamasi ke dalam air mata. Kerusakan epitel melibatkan kematian sel dengan apoptosis, hilangnya sel goblet dan gangguan paparan musin, memicu ketidakstabilan film air mata. Ketidakstabilan film air mata dapat dimulai, tanpa kehadiran hiperosmolaritas air mata, oleh beberapa etiologi, seperti xeroftalmia, alergi okuler, penggunaan obat-obat topikal dan pemakaian lensa kontak.3
Kerusakan epitel disebabkan oleh mata kering yang menstimulasi akhir persarafan kornea, mengarahkan pada gejala ketidaknyamanan, meningkatkan penutupan mata dan secara potensial mengkompensasi refleks sekresi air mata.
Hilangnya musin normal pada permukaan okuler berkontribusi pada gejala peningkatan resistensi gesekan antara kelopak mata dan bola mata.3
Hal utama yang diakibatkan oleh hiperosmolaritas air mata adalah berkurangnya aliran akuos air mata, menghasilkan kegagalan lakrimasi, dan meningkatkan evaporasi film air mata. Peningkatan evaporasi dipengaruhi oleh kondisi lingkungan dengan kelembapan rendah dan tingginya aliran udara dan menyebabkan disfingsi glandula meibom secara klinis. Disfungsi glandula meibom menyebabkan ketidakstabilan lapisan lipid air mata. Hal utama yang paling sering menyebabkan infalamasi lakrimal, terlihat pada kelainan autoimun seperti Sindroma Sjogren dan juga non-Sjogren. Inflamasi menyebabkan
17
kerusakan jaringan dan hambatan neurosekretorik yang reversibel. Penghambatan reseptor dapat juga disebabkan oleh antibodi sirkulasi di reseptor muskarinik subtipe M3.3
Pengiriman air mata dapat terhambat oleh sikatriks konjungtiva akibat luka atau penurunan refleks sensorik ke glandula lakrimal dari permukaan okuler.
Akhirnya kerusakan permukaan yang kronik dari mata kering mengarahkan pada gagalnya sensitivitas kornea dan penurunan refleks sekresi air mata. Berbagai etiologi dapat menyebabkan mata kering, oleh mekanisme blok refleks sekresi, termasuk operasi refraksi (LASIK), pemakaian lensa kontak dan penyalahgunaan anastesi topikal.3 Mekanisme Sindrom Mata Kering yang telah diuraikan terangkum pada gambar di bawah ini.
Gambar 2.6 : Mekanisme Sindrom Mata Kering.3 2.3.5. Manifestasi klinis sindrom mata kering
Keluhan dan gejala SMK berbeda-beda pada setiap individu tergantung etiologi, mekanisme dan respon penderita SMK terhadap terapi.3 Penderita mata kering paling sering mengeluhkan iritasi, rasa kering, terbakar, sensasi benda
18
asing atau berpasir, mata merah, keluar air mata dan sekret berlebihan, pandangan kabur, fotosensitivitas, dan intoleransi lensa kontak. Hal ini dapat dieksaserbasi oleh angin, asap, dan aktivitas yang mengurangi frekuensi berkedip seperti membaca dan bekerja dengan komputer.4
Pada pemeriksaan slitlamp, ciri yang paling khas adalah terputus atau tiadanya meniskus air mata di tepian palpebra inferior. Benang-benang mukus kental kekuning-kuningan kadang-kadang terlihat dalam forniks konjungtiva inferior.
Pada konjungtiva bulbi tidak tampak kilauan yang normal dan mungkin menebal, edema, dan hiperemik.28
2.3.6. Tatalaksana Sindrom Mata Kering
Manajemen Sindrom Mata Kering bertujuan untuk mengontrol gejala dan mencegah kerusakan permukaan okuler. Pemilihan pengobatan didasarkan pada derajat keparahan SMK dan melibatkan 1 atau lebih cara berikut atau dengan kombinasi.27
1. Level 1 a. Edukasi
-Modifikasi makanan atau lingkungan.
-Menghindari penggunaan obat-obatan yang memiliki toksisisitas tinggi dan menghentikan pemakaian obat topikal jika memungkinkan.
-Menekankan pentingnya berkedip saat di depan televisi atau komputer.
-Penggunaan lensa kontak yang benar.
-Faktor lingkungan seperti peningkatan kelembapan ataupun adanya riwayat operasi mata seperti LASIK dapat menyebabkan Sindrom Mata Kering.
b. Menanyakan riwayat pengobatan sistemik, untuk mengeluarkan efek yang mempengaruhi dari pengobatan yang mempengaruhi SMK.
c. Penggunaan air mata buatan, dapat berupa:
- Drop dan gel seperti turunan selulosa untuk derajat ringan dan autologous serum untuk derajat berat.
19
- Ointment yang mengandung minyak mineral petrolatum dapat digunakan saat tidur ataupun pada siang hari.
- Spray yang disemprotkan pada mata yang ditutup dan mengandung
a. Anti inflamasi seperti steroid topikal, konsumsi asam lemak omega dan obat lain seperti siklosporin topikal.
b. Tetrasiklin oral untuk SMK disertai penyakit lain seperti blepharitis, meibomianitis, dan lainnya dalam dosis rendah selama 3 bulan
c. Oklusi punkta untuk mengurangi drainase sehingga menjaga air mata alami dan memperpanjang efek kerja air mata buatan.
d. Secretagogues untuk menambah sekresi air mataseperti pilokarpin, cevilemine, rebamipide.
3. Level 3
a. Serum tetes mata.
b. Lensa kontak. Meskipun dapat memperparah dry eye, hal ini dapat diimbangi dengan tertahannya air mata yang terjebak di lensa dan hal ini efektif dalam mengurangi gejala dry eye.
c. Penutupan punkta secara permanen. Dapat dilakukan hanya pada pasien SMK derajat berat dan memiliki respon positif terhadap sumbatan sementara tanpa epifora.
4. Level 4
a. Anti inflamasi sistemik.
b. Pembedahan
i. Pembedahan kelopak mata seperti tarsorrhaphy ii. Autotransplantasi kelenjar saliva
iii. Transpalntasi membran mukus atau membran amnion untuk komplikasi kornea.27
20
2.3.7. Sindrom mata kering dan penggunaan lensa kontak
Pengguna lensa kontak telah sering dilaporkan memiliki hubungan dengan kejadian SMK. Kira-kira 43-50% pengguna lensa kontak melaporkan gejala iritasi okuler. Gejala yang paling sering adalah rasa kering pada mata.8 Pengguna lensa kontak memiliki resiko 12 kali lebih besar untuk mengalami gejala SMK dibanding mata emetropia. Patogenesis SMK pada pengguna lensa kontak masih belum diketahui dengan jelas tetapi merupakan masalah klinis yang sering.
Menurut Nichols, pemakaian lensa kontak memisahkan pre-lens tear film menjadi dua bagian sehingga tidak ada musin di pre lens dan tidak ada lapisan lipid di post lens sehingga SMK sering dialami.15 Buruknya kemampuan pembasahan lensa, menjadi dasar terjadinya penguapan air mata berlebih dan berpotensi mengubah komposisi lapisan lemak pada lapisan air mata, daripada kurangnya sekresi lemak dari kelenjar meibom.3 Selain itu, terjadi penurunan kualitas bayangan retina pada pengguna lensa kontak dengan alat aberometer.15
2.4. Pemeriksaan Sindrom Mata Kering
Diagnosis dan penentuan derajat kondisi mata kering dapat dilakukan secara akurat dengan beberapa metode diagnostik, antara lain dengan menggunakan kuesioner Ocular Surface Diseases Index dan Tes Schirmer.30
2.4.1. Ocular Surface Diseases Index (OSDI)
Ocular Surface Diseases Index (OSDI) merupakan sebuah kuesioner yang dikembangkan oleh Outcomes Research Group pada Allergan Inc. Kuesioner yang terdiri dari 12 pertanyaan ini adalah salah satu alat untuk mendeteksi dan membuat tingkatan mata kering. Pertanyaan-pertanyaan tersebut didesain untuk memberikan penilaian secara cepat gejala iritasi okuler dan efeknya terhadap fungsi penglihatan.21 Ke-12 pertanyaan yang terdapat dalam kuisioner OSDI dibagi dalam 4 gradasi skala:
21
0 = tidak ada sama sekali 1 = kadang kala,
2 = setengah waktu 3 = hampir seluruh waktu 4 = setiap saat / selalu
Total skor OSDI dikalkulasi berdasarkan formula berikut:
Skor OSDI = (jumlah skor untuk semua 47 jawaban pertanyaan x 100) / (jumlah total pertanyaan yang dijawab x 4).
Nilai yang diperoleh berada pada skala 0-100, dimana 0 – 12 normal, 13 – 22 ringan, 23-32 sedang, dan 33 - 100 berat.21
Kuesioner OSDI menggambarkan validitas yang sangat baik, efektif dalam membedakan derajat mata kering dari normal, ringan sampai sedang, dan berat.
Selain itu, OSDI memberikan sensitivitas dan spesifisitas yang baik dalam membedakan subyek normal dan pasien dengan SMK.21 Kuesioner OSDI dapat dilihat pada gambar berikut ini.
22
Gambar 2.7 : Kuesioner Ocular Surface Diseases Index21
23
2.4.2. Tes Schirmer
Tujuan tes ini adalah untuk menilai fungsi sekresi kelenjar lakrimal utama.
Metode kerjanya ialah dengan memasukkan kertas strip Schirmer (kertas saring Whatmann) ke dalam sakkus konjungtiva inferior pada batas sepertiga temporal dari palpebra inferior.36 Berikut merupakan kertas strip Schirmer yang digunakan untuk melakukan tes ini.
Gambar 2.8: Kertas Strip Schirmer
Tes Schirmer I digunakan untuk menilai sekresi basal dan refleks sekresi sistem lakrimal. Tes ini dilakukan tanpa didahului pemberian anestesi topikal. Tes ini dilakukan dengan langkah sebagai berikut.36
1. Penderita diperiksa dalam kamar dengan penerangan redup, atau tidak terlalu terang dan tidak ada sinar langsung ke dalam ruangan.
2. Kertas filter dilipat kemudian diletakkan pada 1/3 lateral forniks inferior, dengan bagian lekukan kertas 5 mm diletakkan di belakang kelopak.
3. Penderita disuruh memfiksasikan matanya pada titik di atas bidang horizontal selama 5 menit.
4. Mata diminta tidak berkedip terlalu banyak.
5. Dilihat bagian filter yang basah sesudah 5 menit dan diukur dari bagian filter yang dilipat.
Apabila filter basah 10-30 mm maka sekresi lakrimal normal atau ada pseudoepifora. Apabila basah lebih dari 30 mm hal ini tidak ada arti, penderita pseudoepifora, hipersekresi, atau normal. Apabila kurang dari 5 mm menunjukkan sekresi basal kurang.36
24
Tes Schirmer II digunakan untuk menilai refleks kelenjar lakrimal dengan melakukan rangsangan nervus trigeminus. Rangsangan ini dilakukan pada mukosa nasal. Tes ini membutuhkan anastetik lokal.36 Tes ini dilakukan dengan langkah sebagai berikut:
1. Satu mata diberi anastetik lokal.
2. Diletakkan kertas filter di belakang kelopak mata yang akan diperiksa yang sudah ditetes obat anastetik.
3. Pada mukosa hidung sisi mata yang tidak diberi anastetik dirangsang dengan kapas kering selama 2 menit atau dengan ammonia >10%.
4. Ditunggu 2-5 menit kemudian dilihat bagian filter yang basah.
Bila tidak terdapat bertambahnya pembasahan kertas filter berarti kegagalan total refleks sekresi, bila bertambah berarti refleks sekresi normal. Pada keadaan normal kertas filter menjadi basah 15 mm sesudah 5 menit.
2.5. Lensa Kontak 2.5.1. Definisi
Lensa kontak merupakan lensa tipis yang diletakkan di depan kornea untuk memperbaiki kelainan refraksi dan pengobatan. Lensa tipis ini mempunyai diameter 8-10 mm, yang dengan nyaman dapat dipakai akibat terapung pada selaput bening seperti kertas yang terapung pada air.37
2.5.2. Klasifikasi lensa kontak
Berdasarkan bahan penyusun, terdapat dua jenis lensa kontak yaitu:
1. Soft contact lens (lensa kontak lembut)
Lensa ini terbuat dari hidroksi etil meta krilat (HEMA) yang bersifat sangat lentur. Soft lens dibuat dari silikon-hidrogel yang mengandung air sehingga lunak, fleksibel, dan memudahkan oksigen mencapai kornea.
Pengguna lensa kontak untuk pertama kali lebih mudah menyesuaikan diri dengan lensa kontak lembut karena lebih nyaman dipakai. Lensa silikon-hidrogel merupakan tipe lensa kontak yang paling sering digunakan dan dianjurkan untuk pengguna yang memerlukan pemakaian setiap hari.38
25
Lensa kontak lembut dipakai untuk pengobatan karena sifatnya yang lentur mengandung banyak air, untuk astigmatisma iregular, edema karena atau keratitis bulosa, erosi rekuren, trauma kimia, dan perforasi kecil kornea.25 2. Rigid gas permeable contact lens (lensa kontak keras tembus gas)
RGP lens terbuat dari bahan polimetilmetakrilat (PMMA) dengan indeks refraksi 1.496, bersifat inert, dan tidak toksis. Lensa ini kurang fleksibel, namun masih memungkinkan oksigen mencapai kornea. Keunggulan lensa kontak jenis ini adalah rigiditasnya bermanfaat untuk mengoreksi kelainan permukaan kornea yang tidak rata.38 Lensa ini merubah daya bias permukaan depan kornea dengan melakukan pembiasan dipermukaan depan lensa kontak yang menempel di depan kornea. Bahannya yang rigid menyebabkan pengguna RGP lens memerlukan penyesuaian lebih lama dibandingkan lensa kontak lembut RGP lens tidak dapat dipakai terlalu lama. Pada pemakai lensa kontak keras akan terjadi penurunan sensibilitas kornea.37 RGP lens bertahan lebih lama sehingga harganya lebih murah.
Berdasarkan waktu penggunaan, lensa kontak diklasifikasikan menjadi39:
1. Disposable wear
Lensa tipe ini hanya digunakan sekali pemakaian dan diganti setiap interval tertentu. Lensa ini dapat berupa daily, weekly, atau monthly disposable lens.40
2. Extended wear
Dapat digunakan berulang kali sampai waktu tertentu, misalnya satu minggu atau satu bulan. Tipe extended wear dikembangkan menjadi tipe overnight continuous wear sehingga lensa kontak dapat dipakai sepanjang hari hingga malam tanpa perlu dilepas saat tidur. Lensa kontak tipe extended dan overnight continuous wear memiliki resiko infeksi lebih tinggi karena mikroorganisme dapat melekat dan berpindah ke permukaan mata. Oleh karena itu hanya dianjurkan bagi individu dengan gangguan penglihatan derajat berat yang memerlukan koreksi penglihatan sepanjang hari.7 Pengguna lensa yang tipe ini perlu memperhatikan bahawa matanya
26
perlu istirahat selama satu malam tanpa lensa kontak pada setiap penggantian lensa kontak.39
2.5.3. Indikasi pemakaian lensa kontak
Berdasarkan analisa Aryani Atiyatul Amra41, indikasi pemakaian lensa kontak telah dibagi kepada beberapa kelompok di bawah.
1. Perbaikan penglihatan : Pengganti kacamata, astigmatisma irregular, keratokonus, miopia tinggi, afakia.
2. Indikasi medik :
a. Melindung kornea : coloboma trichiasis, keratitis sicca.
b. Pengganti perban : keratitis bulosa, ulkus kornea descemetocele.
3. Indikasi preventif : mencegah terjadinya simblefaron.
4. Indikasi diagnostik : penggunaan gonioskopi, elektroretinografi.
5. Indikasi operasi : digunakan selama operasi goniostomi pada glaukoma kongenital.
6. Indikasi kosmetik : pada parut kornea, ptosis, ptosis bulbi.
7. Indikasi pekerjaan : olahragawan, aktor.
2.5.4. Kontraindikasi pemakaian lensa kontak a. Kontraindikasi absolut4
1. Radang akut atau subakut di bagian depan bola mata.
2. Infeksi bola mata akut atau kronik
3. Setiap kelainan yang mempengaruhi kelopak mata, konjungtiva, dan kornea.
4. Gangguan sensasi di kornea.
5. Glaukoma tidak terkontrol.
6. Tidak dapat mentoleransi pemasangan benda asing di mata.
7. Penyakit sistemik atau alergi yang dapat kambuh karena dipicu lensa kontak.
b. Kontraindikasi relatif4
1. Kebersihan individu yang buruk terutama tangan dan kuku.
2. Ketidakpatuhan mengikuti petunjuk perawatan lensa kontak.
27
3. Ketidakmampuan memahami risiko penggunaan lensa kontak misalnya infeksi.
4. Menderita penurunan daya tahan tubuh.
5. Mengonsumsi obat yang menurunkan produksi air mata.
6. Hamil, menyusui, dan menopause.
7. Berusia terlalu tua atau terlalu muda sehingga tidak mampu memasang atau melepas lensa kontak dengan benar.
28
BAB 3
KERANGKA TEORI, KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS PENELITIAN
3.1. Kerangka Teori Penelitian
Berdasarkan tujuan penelitian di atas maka kerangka teori dalam penelitian ini adalah:
Gambar 3.1. Kerangka Teori Penelitian Penggunaan Lensa Kontak
Ketidakstabilan lapisan air mata dan hiperosmolaritas air mata
Reaksi Inflamasi
Alat diagnostik:
1. Kuesioner OSDI 2. Tes Schirmer
Derajat Sindrom Mata Kering Sindrom Mata Kering
29
3.2. Kerangka Konsep Penelitian
Berdasarkan tujuan penelitian di atas maka kerangka konsep dalam penelitian ini adalah:
Variabel Independen Variabel Dependen
Gambar 3.2. Kerangka Konsep Penelitian
3.3. Hipotesis Penelitian
Terdapat hubungan antara waktu penggantian lensa kontak dengan derajat keparahan Sindrom Mata Kering pada mahasiswa Fakultas Kedokteran USU.
Waktu Penggantian Lensa Kontak
Derajat Sindrom Mata Kering
30
BAB 4
METODE PENELITIAN
4.1. Rancangan Penelitian 4.1.1. Jenis penelitian
Jenis penelitian ini menggunakan desain penelitian analitik observasional dengan studi cross sectional untuk melihat hubungan waktu penggantian lensa kontak dengan derajat keparahan Sindrom Mata Kering.
4.1.2. Waktu dan tempat penelitian
Penelitian akan dilaksanakan di kampus Fakultas Kedokteran USU terhadap mahasiswa angkatan 2013, 2014, 2015, dan 2016 yang menggunakan lensa kontak. Waktu penelitian akan dilaksanakan selama dua bulan yaitu dari bulan Agustus hingga September 2016.
4.2. Populasi dan Sampel Penelitian 4.2.1. Populasi
Populasi target pada penelitian ini adalah mahasiswa angkatan 2013, 2014, 2015, dan 2016 yang menggunakan lensa kontak. Populasi terjangkau adalah populasi target yang sedang menjalani pendidikan di Fakultas Kedokteran USU.
4.2.2. Sampel
Dalam penelitian ini teknik pengambilan sampel dengan menggunakan metode consecutive sampling yaitu teknik pengambilan sampel berdasarkan kriteria pemilihan yang telah ditetapkan. Kriteria pemilihan subyek terdiri dari kriteria inklusi dan eksklusi, dalam kurun waktu tertentu hinggan subyek penelitian terpenuhi.42
31
Besar sampel yang dibutuhkan untuk penelitian ini ditentukan dengan rumus berikut:43
P0-P = Beda proporsi yang bermakna ditetapkan sebesar = 0,23
Berdasarkan rumus di atas, maka besar sampel yang diperoleh adalah n≥(1,96√0,27(1−0,27)+1,645√0,5(1−0,5))
(0,5−0,27)2
2
n ≥ 57,2 ≈ 57
Dengan rumus diatas, maka jumlah sampel yang dibutuhkan adalah 57 orang.
4.2.3. Kriteria inklusi dan eksklusi Kriteria inklusi:
1. Mahasiswa Fakultas Kedokteran USU stambuk 2013, 2014, 2015 dan 2016.
2. Subyek yang menggunakan lensa kontak memakai setiap hari dengan tujuan untuk mengoreksi kelainan refraksi.
3. Subyek bersedia untuk berpartisipasi menjadi sampel penelitian.
Kriteria eksklusi:
1. Subyek menggunakan lensa kontak untuk aksesoris.
2. Menderita penyakit infeksi atau yang lainnya pada mata.
3. Sedang mengkonsumsi obat-obatan tertentu atau obat sistemik.
4. Pernah menjalani operasi LASIK atau katarak.
32
4.3. Teknik Pengumpulan Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data primer yaitu data umum populasi mahasiswa FK USU angkatan 2013, 2014, 2015, dan 2016. Data mahasiswa yang menggunakan lensa kontak didapatkan dari setiap kelas tutorial.
Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner OSDI dan Tes Schirmer. Kuesioner OSDI merupakan sebuah kuesioner yang terdiri dari 12 pertanyaan yang digunakan untuk mendeteksi dan membuat tingkatan mata kering. Terlebih dahulu kuesioner OSDI yang sudah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia dilakukan uji validitas dan reliabilitas. Sebuah instrumen dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang diinginkan atau yang hendak diukur, dan instrumen dikatakan reliabel apabila digunakan beberapa kali untuk mengukur objek yang sama akan menghasilkan data yang sama. Uji validitas dan reliabilitas dilakukan dengan uji korelasi antara setiap skor tiap-tiap pertanyaan dengan skor total kuesioner tersebut. Untuk menguji validitas dan reliabilitas kuesioner menggunakan program statistik di komputer. Setelah itu, akan didapatkan kuesioner OSDI terjemahan bahasa Indonesia yang telah valid dan reliabel.
Dalam melakukan Tes Schirmer, digunakan kertas strip Schirmer atau kertas saring Whatmann no. 41 yang dimasukkan ke dalam sakkus konjungtiva inferior pada batas sepertiga temporal dari palpebra inferior untuk mendapatkan data mengenai derajat keparahan mata kering pada subyek.
Data yang digunakan merupakan data yang telah diperoleh dari hasil pengukuran sampel penelitian dan sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah dipaparkan.
4.4. Identifikasi Variabel
Dalam penelitian ini ditetapkan variabel bebas dan variabel tergantung sebagai berikut:
Variabel Bebas : Waktu Penggantian Lensa Kontak
Variabel Tergantung : Derajat keparahan Sindrom Mata Kering
33
4.5. Definisi Operasional
4.5.1 Waktu penggantian lensa kontak 1. Definisi:
Waktu yang dipilih responden untuk mengganti lensa kontaknya.
2. Cara Ukur:
Cara ukur dengan menggunakan angket.
3. Alat Ukur:
Alat ukur dengan menggunakan kuesioner.
4. Hasil ukur:
a. Daily : Jika lensa kontak diganti setiap hari b. Weekly : Jika lensa kontak diganti setiap 7 hari.
c. Monthly : Jika lensa kontak diganti setiap 30 hari.
5. Skala Ukur: Ordinal
4.5.2. Jenis kelamin 1. Definisi:
Jenis kelamin mahasiswa Fakultas Kedokteran USU stambuk 2013, 2014, 2015, dan 2016 yang menggunakan lensa kontak.
2. Cara Ukur:
Cara ukur dengan menggunakan angket.
3. Alat ukur:
Alat ukur dengan menggunakan kuesioner.
4. Hasil ukur:
Usia responden berdasarkan tanggal lahir, dihitung sampai ulang tahun terakhir
34
2. Cara Ukur:
Cara ukur dengan menggunakan angket.
3. Alat ukur:
Alat ukur dengan menggunakan kuesioner.
4. Hasil ukur:
Dinyatakan dalam tahun.
5. Skala ukur: Rasio
4.5.5. Derajat keparahan sindrom mata kering 1. Definisi:
Tingkatan sindrom mata kering berdasarkan gejala dan pemeriksaan lapisan air mata.
Subyek diberikan kuesioner yang berisi 12 pertanyaan mengenai gejala iritasi okuler dan efeknya terhadap fungsi penglihatan untuk mendeteksi dan membuat tingkatan mata kering.
b. Tes Schirmer
1) Subyek diperiksa dalam kamar dengan penerangan redup, atau tidak terlalu terang dan tidak ada sinar langsung ke dalam ruangan.
2) Kertas filter dilipat kemudian diletakkan pada 1/3 lateral forniks inferior, dengan bagian lekukan kertas 5mm diletakkan di belakang kelopak.
3) Subyek diminta memfiksasikan matanya pada titik di atas bidang horizontal selama 5 menit.
4) Mata diminta tidak berkedip terlalu banyak.
5) Dilihat bagian filter yang basah sesudah 5 menit dan diukur dari bagian filter yang dilipat.
35 Skor 33 – 100: Derajat berat b. Tes Schirmer:
4.6. Metode Pengolahan Data dan Analisis Data 4.6.1 Pengolahan data
1. Editing
Editing dilakukan untuk memeriksa ketepatan dan kelengkapan data.
Apabila data belum lengkap ataupun ada kesalahan data dilengkapi dengan mewawancarai ulang responden.
2. Coding
Data yang telah terkumpul dan dikoreksi ketepatan dan kelengkapannya kemudian diberi kode oleh peneliti secara manual sebelum diolah ke dalam komputer.
3. Entry
Data yang telah dibersihkan kemudian dimasukkan ke dalam program pengolah statistik.
4. Cleanings
Pemeriksaan semua data yang telah dimasukkan ke dalam komputer guna menghindari terjadinya kesalahan dalam pemasukkan data.
5. Saving
Penyimpanan data untuk siap dianalisis.
36
4.6.2. Analisis data
Analisis data adalah proses penyederhanaan data dalam bentuk yang lebih mudah dibaca dan diinterpretasikan. Analisis data dilakukan dengan menggunakan alat berupa komputer. Analisis data dilakukan dengan menggunakan program statistik di komputer. Analisis data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data univariat dan analisis data bivariat.
1. Analisis Univariat
Analisis univariat bertujuan untuk mendeskripsikan karakteristik responden dan karakteristik masing-masing variabel dalam penelitian.
Variabel yang berbentuk kategorik (jenis kelamin, usia dan waktu penggantian lensa kontak) disajikan dalam bentuk proporsi atau persentase. Penyajian masing-masing variabel dilakukan dengan menggunakan tabel dan diinterpretasikan berdasarkan hasil yang diperoleh.
2. Analisis Bivariat
Analisis bivariat dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui hubungan korelasi antara variabel independen (independent variable) dengan variabel dependen/terikat (dependent variable). Kelompok data yang akan dianalisis yaitu waktu penggantian lensa kontak sebagai variabel independen dan derajat keparahan Sindrom Mata Kering sebagai variabel dependen. Setelah data dikumpulkan, maka dilakukan pengolahan data
Analisis bivariat dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui hubungan korelasi antara variabel independen (independent variable) dengan variabel dependen/terikat (dependent variable). Kelompok data yang akan dianalisis yaitu waktu penggantian lensa kontak sebagai variabel independen dan derajat keparahan Sindrom Mata Kering sebagai variabel dependen. Setelah data dikumpulkan, maka dilakukan pengolahan data