• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 1 PENDAHULUAN

5.1. Hasil Penelitian

5.1.1 Deskripsi lokasi penelitian

Penelitian ini dilakukan di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara yang beralamat di Jl. Dr. Mansyur No. 5, Medan. Pengambilan data dilakukan di ruang kelas, ruang tutorial, dan lobi yang memiliki penerangan redup, atau tidak terlalu terang dan tidak ada sinar langsung ke dalam ruangan. Hal ini dilakukan agar pemeriksaan tes Schirmer dapat memberikan hasil yang valid. Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara telah memberikan izin kepada peneliti untuk melakukan penelitian terhadap mahasiswa sebagai responden penelitan.

5.1.2 Deskripsi karakteristik demografi responden

Responden yang terlibat dalam penelitian ini adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran USU semester 1 hingga 7 yang menggunakan lensa kontak. Jumlah responden adalah sebanyak 57 orang yang dipilih menurut kriteria inklusi dan eksklusi sebelumnya. Semua data responden diambil dari data primer yaitu dengan menggunakan kuesioner. Pada responden dilakukan pengukuran derajat mata kering dengan menggunakan kuesioner Ocular Surface Disease Index dan tes Schirmer. Adapun karakteristik demografi responden yang diteliti dalam penelitian ini meliputi usia, jenis kelamin, dan waktu penggantian lensa kontak.

A. Karakteristik responden berdasarkan usia

Usia responden dinyatakan dalam tahun berdasarkan tanggal lahir, dihitung sampai ulang tahun terakhir. Distribusi responden berdasarkan kategori usia dapat dilihat dalam tabel 5.1.

Dari tabel 5.1 diketahui bahwa responden paling banyak berusia 17-21 tahun (59,6%) dan yang paling sedikit berusia 21-24 tahun (40,4%). Dari hasil perhitungan didapat rata-rata usia responden adalah 20 tahun.

41

B. Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin

Distribusi responden berdasarkan kategori jenis kelamin dapat dilihat dalam tabel dibawah. Dari tabel 5.1 diketahui bahwa mayoritas responden pada penelitian ini adalah perempuan yaitu sebanyak 56 orang (98,2%) dan laki-laki hanya terdapat 1 orang (1,8%) .

C. Karakteristik responden berdasarkan waktu penggantian lensa kontak Waktu penggantian lensa kontak merupakan waktu yang dipilih responden untuk mengganti lensa kontaknya dengan lensa kontak yang baru.

Pengelompokannya terbagi atas daily jika responden mengganti lensa kontak dengan yang baru setiap hari, weekly jika responden mengganti lensa kontak dengan yang baru setelah 7 hari, dan monthly yaitu jika responden mengganti lensa kontak dengan yang baru setelah 30 hari. Data mengenai waktu penggantian lensa kontak didapatkan melalui kuesioner yang diisi responden dengan dipandu oleh peneliti. Distribusi responden berdasarkan kategori waktu penggantian lensa kontak dapat dilihat dalam tabel.

Dari tabel 5.1 diketahui bahwa paling banyak responden mengganti lensa kontaknya setelah 30 hari atau monthly yaitu sebanyak 38 orang (66,7%) dan paling sedikit responden mengganti lensa kontaknya setelah 7 hari atau weekly yaitu 6 orang (10,5%).

Tabel 5.1 Karakteristik responden berdasarkan usia, jenis kelamin, dan waktu penggantian lensa kontak

Variabel Frekuensi (orang) Persentase (%)

Usia

42

5.1.3. Distribusi frekuensi sindrom mata kering pada responden berdasarkan kuesioner OSDI dan tes Schirmer

Penilaian Sindrom Mata Kering pada responden dilakukan dengan menggunakan kuesioner OSDI dan tes Schirmer. Kuesioner OSDI menilai keparahan Sindrom Mata Kering berdasarkan gejala sedangkan tes Schirmer berdasarkan pengukuran produksi air mata. Distribusi frekuensi Sindrom Mata Kering pada responden dapat dilihat dalam tabel dibawah ini.

Tabel 5.2 Distribusi frekuensi sindrom mata kering pada responden dari kuesioner OSDI yaitu sebanyak 45 orang (79%) dibanding tes Schirmer yang hanya 25 orang (25%).

5.1.4. Derajat keparahan sindrom mata kering berdasarkan kuesioner OSDI dan tes Schirmer

Derajat keparahan Sindrom Mata Kering dinilai pada seluruh responden dengan menggunakan kuesioner OSDI dan tes Schirmer. Penilaian dengan menggunakan kuesioner OSDI dilakukan dengan cara menghitung skor total menggunakan suatu formula kemudian ditentukan derajatnya berdasarkan skala, yaitu 0 – 12 normal, 13 – 22 ringan, 23-32 sedang, dan 33 - 100 berat.21 Sedangkan penilaian dengan tes Schirmer dilakukan dengan mengukur produksi air mata menggunakan strip Whatmann no. 41 selama 5 menit, kemudian dilihat berapa millimeter strip tersebut basah. Derajat normal jika >15 mm, derajat ringan jika 15-10mm, derajat sedang jika 10-5mm/5menit, derajat berat jika 3-5mm.

43

Derajat keparahan Sindrom Mata Kering pada responden dapat dilihat dalam tabel dibawah ini.

Tabel 5.3 Derajat Keparahan Sindrom Mata Kering Berdasarkan Kuesioner OSDI Dan Tes Schirmer

Dari tabel 5.3 terlihat bahwa terdapat perbedaan derajat keparahan Sindrom Mata Kering antara kuesioner OSDI dan tes Schirmer. Dengan menggunakan kuesioner OSDI, derajat berat memiliki jumlah yang paling banyak yaitu 22 orang (38,6%), sedangkan dengan tes Schirmer tidak ditemukan satupun.

Dengan menggunakan tes Schirmer, yang paling banyak ditemukan adalah derajat normal yaitu 32 orang (56,1%).

5.1.5. Distribusi frekuensi sindrom mata kering berdasarkan jenis kelamin dan usia

Penilaian Sindrom Mata Kering ini dilakukan dengan tes Schirmer. Tes Schirmer dapat menggambarkan secara objektif produksi air mata responden.

Distribusi frekuensi Sindrom Mata Kering berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat dalam tabel dibawah ini.

Variabel Derajat Keparahan Sindrom Mata Kering

Normal Ringan Sedang Berat Jumlah

Kuesioner OSDI

N % N % n % N % n %

12 21,1 12 21,1 11 19,3 22 38,6 57 100

Tes 32 56,1 13 22,8 12 21,1 0 0 57 100

Schirmer

44

Tabel 5.4 Derajat keparahan sindrom mata kering berdasarkan jenis kelamin dan usia

Dari tabel 5.4 dapat dilihat bahwa responden perempuan lebih banyak mengalami Sindrom Mata Kering dibanding laki-laki. Pada penelitian ini tidak terdapat responden laki-laki yang mengalami Sindrom Mata Kering (0%), sedagkan pada responden perempuan terdapat 31 orang (31,4%). Rata-rata usia responden adalah 20 tahun, sehingga responden dibagi menjadi kelompok usia diatas 20 tahun dan dibawah 20 tahun. Responden yang mengalami Sindrom Mata Kering paling banyak pada kelompok usia 17 – 20 tahun yaitu sebanyak 14 orang (41,2%).

5.1.6. Hubungan waktu penggantian lensa kontak dengan derajat keparahan sindrom mata kering

Untuk mengetahui hubungan antara waktu pengantian lensa kontak dengan derajat keparahan Sindrom Mata Kering dilakukan uji statistik menggunakan korelasi Spearman. Hasilnya dapat dilihat dalam tabel dibawah ini.

Tabel 5.5. Hubungan waktu penggantian lensa kontak dengan derajat

Derajat Sindrom Mata Kering dengan Tes Schirmer

45

Derajat Sindrom Mata Kering dengan Kuesioner OSDI Dari tabel 5.5 dan tabel 5.6 terlihat bahwa nilai p sebesar 0,201 dan 0,117 (p<0,05). Dalam penelitian ini Ho ditolak, artinya tidak ada hubungan yang bermakna antara waktu penggunaan lensa kontak dengan derajat keparahan Sindrom Mata Kering. Nilai korelasi (r) sebesar 0,172 dan 0,210 menunjukkan arah korelasi positif dengan korelasi yang lemah.45

Dokumen terkait