BAB II : PELAKSANAAN PERJANJIAN PEMBIAYAAN
J. Mekanisme Sistem Bagi Hasil (Mudharabah) antara Nasabah/
Sistem bagi hasil Mudharabah yang dilaksanakan oleh Bank Syariah Mandiri Cabang Medan merupakan sistem yang meliputi pembagian hasil usaha antara bank syariah dengan nasabah/mudharib sebagai pengelola dana, pembagian hasil usaha ini dapat di lihat dari dua faktor, yaitu faktor secara langsung dan faktor tidak langsung.
Faktor yang secara langsung mempengaruhi bagi hasil antara lain :165
165 Ibid
1. Investment rate, yaitu merupakan persentase aktual dana yang diinvestasikan dari
total dana pembiayaan.
2. Jumlah dana pembiayaan yang tersedia, jumlah dana ini tersedia untuk diinvestasikan merupakan jumlah dana dari berbagai sumber dana yang tersedia dan dana tersebut dapat dikalkulasikan dengan menggunakan salah satu metode rata-rata saldo minimum bulanan atau rata-rata total saldo harian, maka investment rate dikalikan dengan jumlah dana yang tersedia untuk diinvestasikan
sehingga akan terlihat hasil dari jumlah dana aktual yang dipergunakan.
3. Salah satu ciri dari mudharabah ini adalah ditentukannya nisbah sebagaimana yang telah disetujui dalam akad atau perjanjian.
4. Nisbah bagi hasil pembiayaan mudharabah dapat berbeda-beda dari waktu ke waktu dalam satu pembiayaan, misalnya bagi hasil bulan pertama, ke dua dan bulan ke tiga berbeda.
5. Nisbah bagi hasil juga dapat berbeda antara satu account dengan account lainnya sesuai dengan besarnya dana dan jatuh temponya.
Sedangkan faktor tidak langsung mempengaruhi bagi hasil terdiri dari :166 a. Penentuan angka-angka pendapatan dan biaya pembiayaan mudharabah, dimana
bank syariah dan nasabah/mudharib melakukan share dalam pendapatan dan
biaya (profit sharing), pendapatan yang dibagi hasilkan merupakan pendapatan
yang diterima dan dikurangi dari biaya-biaya, dan jika semua biaya ditanggung oleh bank syariah maka hal itu disebut dengan revenue sharing.
b. Kebijakan Akuntansi, dalam hal ini bagi hasil secara tidak langsung tidak terlepas dari berjalannya aktivitas usaha yang dilaksanakan terutama dengan pengajuan dari pendapatan dan biaya.
Pada umumnya bank syariah melaksanakan sistem bagi hasil dengan cara membagi keuntungan dari hasil pendapatan dan hasil laba/keuntungan, tetapi sistem bagi hasil yang dilaksanakan di Bank Syariah Mandiri Cabang Medan ini adalah sistem bagi hasil dari hasil keuntungan bukan pendapatan dari keseluruhan bisnis nasabah/mudharib setelah itu baru di bagi sesuai porsi yang telah disepakati dalam akad kedua belah pihak.167
166 Ibid 167
Wawancara dengan Ibu Rosmeri Dalimunthe customer service di Bank Syariah Mandiri
Penetapan nisbah bagi hasil keuntungan ditentukan berdasarkan pada perkiraan keuntungan yang diperoleh nasabah/mudharib dibagi dengan referensi tingkat keuntungan yang telah ditetapkan.168
Sedangkan penentuan nisbah bagi hasil berdasarkan pendapatan ditentukan dengan perkiraan pendapatan yang diperoleh nasabah dibagi dengan referensi tingkat keuntungan yang telah ditetapkan. Perkiraan tingkat pendapatan bisnis yang dibiayai dihitung dengan mempertimbangkan perkiraan penjualan, lama cash to cash cycle
dan perkiraan biaya-biaya langsung.
Maka tingkat keuntungan bisnis/proyek yang dibiayai dihitung dengan mempertimbangkan sebagai berikut :
1). Perkiraan penjualan yang meliputi dari volume penjualan setiap transaksi setiap bulan, fluktuasi hasil penjualan, rentang harga penjualan yang dapat dinegosiasikan dan marjin keuntungan setiap transaksi.
2). Lama cash to cash cycle yang meliputi dari lama proses barang, lama persediaan
dan lamanya piutang.
3). Perkiraan biaya-biaya langsung yaitu biaya langsung yang berkaitan dengan kegiatan penjualan seperti biaya pengangkutan, biaya pengemasan dan lain-lain. 4). Perkiraan biaya-biaya tidak langsung yaitu biaya yang tidak langsung berkaitan
dengan kegiatan penjualan, seperti biaya sewa kantor, gaji karyawan.
169
Islam menganjurkan manusia untuk selalu berusaha agar dapat memenuhi kebutuhan kehidupannya, untuk memulai usaha tersebut diperlukan modal atau dana
168
Adiwarman,A.Karim, Bank Islam Analsis Fiqh dan Keuangan, Op Cit, hlm. 287
169
dalam menjalankan bisnis yang dimaksud, adakalanya orang mendapatkan modal dari simpanannya atau bisa dari keluarganya dan adapula yang meminjam kepada rekan- rekannya, maka jika dari semua hal tersebut tidak mampu menolong atau tersedia modal, disinilah peran dari institusi lembaga keuangan syariah untuk membantu mereka yang mau dalam berusaha, karena lembaga keuangan syariah yang nota benenya bank syariah menyediakan modal bagi para nasabah/mudharib yang membutuhkan dana tersebut.
Hubungan pinjam meminjam tidak dilarang dalam Islam bahkan dianjurkan agar tujuan akhir dari perbuatan peminjaman tersebut dapat memberi keuntungan kepada kedua belah pihak. Dalam perbankan syariah sebenarnya penggunaan kata pinjam meminjam kurang tepat digunakan, karena pinjaman merupakan akad sosial bukan akad komersial artinya bila sesorang meminjam sesuatu ia tidak boleh disyaratkan untuk memberikan sesuatu tambahan atas pokok pinjamannya sehingga yang demikian tersebut tergolong kepada perbuatan riba, hal ini didasarkan kepada surah Al-Baqarah ayat (275) yang berbunyi sebagai berikut :
Orang-orang yang memakan atau mengambil riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syetan lantaran tekanan penyakit gila.170
Jika seseorang datang kepada bank syariah dan ingin memperoleh dana untuk usahanya, maka bank syariah dan nasabah/mudharib tersebut dapat menyepakati kerja sama yang saling menguntungkan, seumpama seorang pedagang yang memerlukan modal untuk berbisnis, ia dapat mengajukan permohonan pembiayaan bagi hasil
170
mudharabah dengan cara membuat rencana bisnis (bussines Planing) seperti
menghitung perkiraan pendapatan yang akan diperoleh dari usahanya tersebut.
Bagi Bank Syariah Mandiri Cabang Medan yang menerapkan konsep bagi hasil dalam pembiayaan mudharabah, dengan melihat kepada tujuan dari pembiayaan yang diminta oleh nasabah/mudharib, artinya penerapan bagi hasil atau keuntungan yang akan diperoleh sangat bervariasi tergantung kepada kesepakatan antara nasabah/mudharib dengan Bank Syariah Mandiri Cabang Medan tersebut.
Nisbah bagi hasil dalam pembiayaan mudharabah merupakan faktor penting bagi Bank maupun nasabah/mudharib, oleh karena itu, perlu diketahui pokok-pokok perhitungan mudharabah, yaitu:
1. Jika diperhitungkan adalah hasil netto, ditentukan nisbah bagi hasil masing- masing, kemudian baru direncanakan tentang pembayaran kembali modal mudharabah.
Contoh :
Mudharabah ternak qurban sebesar Rp. 10.000.000,- pada1 Zulkaidah dengan nisbah 60 : 40 (Bank : nasabah). Rencana pengembalian modal sekaligus tanggal 1 Muharram. Ternyata aktualisasi hasil yang ada diperhitungkan sebesar Rp.1.000.000,- Perhitungannya: Nisbah 60 : 40 Aktualisasi hasil Rp. 600.000,-. Keuntungan nasabah Rp. 400.000,- maka Pembayaran ke Bank tanggal 1 Muharram = Rp. 10.600.000,-
2. Jika yang diperhitungkan hasil, maka untuk mengetahui hasil yang diterima oleh Bank maupun nasabah, maka digunakan rumus sebagai berikut : S (setoran
nasabah ke Bank Syariah) = P Profit (keuntungan yang diperhitungkan) dalam setoran ke Bank. Profit (keuntungan yang diperhitungkan) dalam setoran ke Bank + A (Angsuran atau cicilan pokok modal Mudharabah). Untuk menghitung hasil akhir dari permintaan, bahwa jika yang diperhitungkan adalah hasil dapat ditempuh melalui 2 (dua) cara, yaitu :
a. Dengan sistem rata-rata
Rumus yang digunakan untuk mencari hasil yang di bagi-hasilkan dengan sistem rata-rata adalah sebagai berikut:
Contoh : Pembiayaan Mudharabah sebesar R p.10.000.000,- rencana jangka waktu 10 bulan. Profit Bank setara 19,5 % satu tahun pendapatan actual. Nisbah bagi hasil = 60 : 40. Aktualisasi pendapat bruto Rp. 3.000.000,- tiap bulan untuk tahap periarna, tetapi untuk tahap berikutnya Rp. 1.000.000,- tiap bulan.
Perhitungan :
1). Profit Bank 19,5 % setahun, untuk rata-rata ( 12 + 1 ) : 2 = 6,5 bulan. Satu bulan rata-rata profitnya 19,5 % : 6,5 = 3 %.Tempo rata-rata adalah 10 bulan = 5,5 bulan besarya profit = 5,5 x 3 % = 16,5 % dari modal Rp. 10.000.000 = Rp.1.650.000,-. Maka profit rata-rata 1 (satu) bulan= Rp. 165.000,-. Angsuran rata-rata = Rp.1.000.000,-. Sehingga jumlah yang disetorkan ke Bank Syariah rata-rata tiap bulan (1.000.000 + 165.000) = Rp. 1.165.000,-
Jangka Waktu + 1
Tempo rata-rata = ---
Tabel 4. Proyeksi Pembiayaan Mudharabah dalam rata-rata (Dalam Ribuan Rupiah) Bulan Ke Aktual Hasil Nisbah Bank Aktual Setoran Profit Bank Angsuran Ke Bank Jumlah Porsi Nasabah
Nisbah Hasil Bonus Jumlah
1 3.000 60% 1.800 255 1.545 1.525 40% 1.400 1.400 2 3.000 60% 1.800 255 1.545 3.090 40% 1.400 2.800 3 3.000 60% 1.800 255 1.545 4.635 40% 1.400 4.200 ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... 7 3.000 60% 1.800 40% 1.400 326 10.126 21.000 60% 12.00 12.600 10.000 10.000 40% 9.800 326 10.126
Sumber data: contoh perhitungan nisbah pembiayaan mudharabah dari wawancara dengan Ibu Rosmeri Dalimunte customer service di Bank Syariah Mandiri Cabang Medan, tanggal 07 Agustus 2008
Profit yang harus diterima 785
Kelebihan Profit 815
Untuk bonus nasabah 40 % 324 Tambaha n Pro fit Bank 489
Profit Bank seharusnya 785
Jumlah Profit Bank semuanya 2.275
2). Aktualisasi hasil nasabah/ mudharib Rp. 3.000.000,- tiap bulan. Proyeksi hasil = Rp. 1.942.000 nisbah Bank 60 %, setorannya = Rp. 1.8.000.000. Maka profit
Bank 3.000.000 : 1.942.000 x 165.000 = Rp. 255.000. Angsuran pokok Rp. 1.800.000 – 255.000 = Rp. 1.545.000 tiap bulan. Maka 7 (tujuh) bulan sudah
lunas Rp. 10.000.000,- dengan angsuran ketujuh Rp. 730,000,- dan untuk profit Bank Rp. 1.0000.000,- sehingga jumlah profit selama 7 (tujuh) bulan menjadi Rp. 2.600.0000,- seharusnya hanya. Rp. 1.785.000,- kelebihan Rp. 815.000. Maka insentif/ bonus nasabah 40 % x Rp. 815.000 = Rp. 326.000,-.
1. Jika aktualisasi sama dengan proyeksi, jangka waktu sesuai proyeksi atau yang direncanakan;
2. Jika aktualisasi lebih besar dari pada proyeksi, jangka waktu dapat lebih cepat dari pada proyeksi/ rencana.,
3. Jika aktualisasi lebih kecil dari pada proyeksi, jangka waktu lebih lama dari pada rencana jangka waktu.
b. Dengan sistem efektif.
Untuk memberikan penjelasan tentang penerapan sistem efektif ini, akan diberikan kasus sebagai berikut :
Modal kerja dibutuhkan Rp.4.750.000,- pertama kali dari Bank Syariah, selanjutnya hasil panen tambak udang. Untuk investasi dibutuhkan Rp.5.648.000,- sehingga plafon Mudharabah berjumlah Rp.10.353.000,-; Panen udang setiap bulan sekali. Pembiayaan direncanakan dalam. waktu enam kali atau 36 bulan; Proyeksi penjualan tiap panen Rp.8.750.000,- bagi hasil setara dengan mark-up Bank 20% p.a (actual pendapatan) efektif, Perhitungan : profit setara 20% p.a efektif dalam bulan 12 bulan, 6 bulan 10%.
Misalnya Angsuran pertama = A
Profit 10% = 10% x Rp.10.353.000 = 1.035.300 (P) Setoran = A + P = A + Rp. 1.035.300
Saldo modal = Rp.10.353.000 - A
Ke-2 : P2 = 10% (10.353.000) - Rp.10.353.300 + 0,1 A
Saldo modal = Rp.10.353.000 – A – 1,1 A Rp.10.353.000 – 2,1 A. Ke-3 : P3 = 10% (10.353.000 + A) = 10.353.300 – 2,1 A. A3 = S3 – P3 = A - 10.353.300 + 1,21 A= 1,21 A Ke-4 : A4= 1,21 Ax 1,1 = 1,331 Ke-5: A5 = 1,331 A x 1,1 = 1,46 Ke-6 : A6 = 1,4641 A x 1,1 = 1,61051 A
Cara lain untuk menentukan nisbah dapat di hitung dengan cara sederhana sebagai berikut :
Data Pembiayaan:
Jumlah Pembiayaan Rp (M)
Jangka Waktu Pembiayaan (T) bulan Hasil yang diharapkan lembaga Rp (P)
Total Pengembalian Rp (M) + (P)
Angsuran Pokok Perhari (A) = (M)/(T)
Bagi Hasil (B) = (P)/(T)
Tabungan Wajib (Jika mungkin) (C)
Kewajiban Nasabah Perhari (D) = (A) +(B)+(C)
Pendapat Aktual (E)
Omset Usaha Perhari atau Bulan Rp (F)
Keuntungan Perhari atau Bulan Rp (Pendapatan rill)
Nisbah Bagi Bank (G) = (D) / (F) x 100%
Rasio Nisbah Kedua Pihak (G) : (H) Distribusi Bagi Hasil :
Angsuran Pokok (A) / (D) x E
Bagi Hasil (B) / (D) x E
Tabungan (C) / (D) x E
Contoh kasus perhitungan Nisbah Bagi Hasil : Data Kebutuhan Ekonomi:
Jumlah Pembiayaan Rp 200.000
Jangka Waktu Pembiayaan (T) 50 hari Hasil yang diharapkan lembaga, Rp 12.000
Total Pengembalian Rp 200.000 + 12.000 Angsuran Pokok Perhari Rp 200.00 / 50 = 4.000
Bagi Hasil 12.000 / 50 = 240
Tabungan Wajib (jika mungkin) Rp 500,- per hari (misal) Kewajiban Nasabah Perhari Rp 4.000 + 240 + 500 = 4.740
Pendapatan Aktual Rp 40.000 Hasil Analisis Usaha Pejabat Bank :
Omset Usaha Perhari atau Bulan Rp 100.000 Nisbah Pembiayaan :
Nisbah Bagi Bank 4.740/100.000 x 100% = 4,74 % Nisbah Bagi Nasabah 100 % - 4,74% = 95,26%
Distribusi Bagi Hasil, jika keuntungan perhari nasabah sebesar Rp 40.000, maka bagi hasil untuk : Bank = 4,74% x Rp 40.000 = Rp 1.896,- dan untuk Nasabah =95,26% x Rp 40.000= Rp 38.104,-
Nisbah bagi hasil dihitung berdasarkan profit sharing dari usaha pengadaan kacang kedelai yang dibiayai dengan fasilitas Mudharabah Muqayyadah (dengan nominal pembiayaan senilai Rp. 125.000.000), dengan data sebagai berikut :
Harga kacang kedelai = Rp 2.150/kg
Harga jual kepada nasabah = setara 16% p.a
Volume penjualan kedelai perbulan = 65.000 kg Nilai penjualan (65.000 x Rp 2.150) = Rp 139.750.000
Harga pokok pembelian = Rp 125.000.000
Laba bersih penjualan kedelai = Rp 14.750.000
Volume penjualan = 65.000 kg
Profit Margin (Rp. 14.750.000/ 139.750.000) x 110 % = 10,55% Lama piutang (data neraca 31-07-2007) = 65 hari
Lama persediaan (data neraca 31-08-2007) = 2 hari Lama hutang dagang (pembayaran ke supplier & carry) = 0
Cash to cash periode = 360/(DI+DR-DP) = 5,4 Profit margin pertahun = 5,4 x 10,55 =57% Nisbah Bank Syariah : (16 %)/(57 %) x 100 % = 28%
Dengan demikian jika usaha pada lima (5) bulan berikutnya memperoleh hasil sebesar: Bulan 1 = Rp. 6.000.000 Bulan 2 = Rp. 4.000.000 Bulan 3 = Rp. 5.000.000 Bulan 4 = Rp. 2.000.000 Bulan 5 = Rp. 8.000.000
Maka berdasarkan contoh di atas, maka bagi hasil dapat didistribusikan dengan tabel sebagai berikut :
Tabel 5. Contoh distribusi bagi hasil pembiayaan Mudharabah
Bulan LabaUsaha Bagian Bank 28 %
Bagian Nasabah
72 %
Cicilan Pokok Setoran
1. 6.000.000 1.680.000 4.320.000 - 1.680.000 2. 4.000.000 1.120.000 2.880.000 - 1.120.000 3. 5.000.000 1.400.000 3.600.000 - 1.400.000 4. 2.000.000 560.000 1.440.000 - 560.000 5. 8.000.000 2.240.000 5.760.000 - 2.240.000 Total 25.000.000 25.000.000 7.000.000 % dari Hasil 0,40 0,60 % dari Modal 26,52 39,78
Sumber data: Berdasarkan contoh perhitungan nisbah pembiayaan mudharabah hasil dari wawancara dengan Ibu Rosmeri Dalimunthe customer service di Bank Syariah Mandiri Cabang Medan, tanggal 07 Agustus 2008