• Tidak ada hasil yang ditemukan

Melestarikan penjajahan ?

Dalam dokumen BENTENG DULU, KINI, DAN ESOK (Halaman 174-178)

Salah satu sumber kekuatiran, terutama dari mereka yang memiliki latar belakang arkeologis dan sejarah adalah bahwa bangunan baru yang akan muncul akan membuat warga kota Solo tidak lagi memiliki pemahaman sejarah yang benar karena kehadiran bangunan modern dengan multi­ fungsinya yang baru akan menutupi jati­diri benteng tersebut. Apakah kekuatiran dan ketakutan ini berlebihan? Tentu tidak, namun pertanyaan yang lebih mendasar dan perlu dipikirkan terkait dengan aspek memori kolektif masyarakat adalah: “Apakah sebagai bangsa harus terpenjara selama hidup kita dengan memori penjajahaan yang menyakitkan?” Hal itu pada akhirnya hanya akan memupuk rasa benci terhadap bangsa tertentu yang pernah menjajah kita, dan secara tidak sadar mendidik generasi muda menjadi diksriminatif dan memiliki kepribadian paranoid dan vigilante. Generasi muda secara sengaja dicekoki dengan informasi (yang kemudian menjadi memori kolektif yang keliru!) bahwa bangsa tertentu itu kejam. Penularan atau pembentukan sikap seperti ini dikenal dengan istilah strereotyping yang dalam psikologi Kelompok (Group Dynamic) sering menjadi sumber konflik antar kelompok (baca: bangsa), yang seharusnya dihindari dan bukan dipupuk atas nama memori kolektif. Di era Global saat ini, waktu dunia tidak lagi dibatasai sekat­ sekat geografis, dibutuhkan pikiran yang terbuka dan sikap egaliter yang mampu membuang jauh­jauh nasionalisme sempit yang seringkali dijadikan alasan mempertahankan sikap primordialisme.

Holocaust yang dilakukan NAZI terhadap bangsa Yahudi adalah sebuah contoh bagaimana memori kolektif negatif menghasilkan sebuah sikap primordial yang berbahaya dan membuat Israel menjadi bangsa yang vigilante terhadap bangsa lain akibat penganiayaan oleh Hitler tersebut. Pembentukan Karakter Bangsa (Nation Character Building)

Israel yang seperti itu terjadi akibat mereka merasa harus ekstra waspada dalam mempertahankan diri mereka agar tidak kembali dianiaya bangsa lain, meskipun akhirnya sikap tersebut menjadi sangat berlebihan.

Tembok Berlin adalah contoh memori kolektif negatif lainnya dan bagaimana seharusnya kita tidak memelihara memori negatif (namun juga bukan berarti sama sekali dilupakan) yang akhirnya dapat merusak mental bangsa. Betul, bahwa sebuah tempat tanpa bangunan tua ibarat seorang individu tanpa memori. Namun yang lebih penting adalah bagaimana menyikapi memori tersebut, dan menjadi­ kannya sebuah cara untuk memacu diri menjadi lebih baik dan mampu berkembang dengan optimal, dan sekali­kali bukan untuk membuat kita menjadi tidak berani maju dan sentimental karena terperangkap dalam kenangan masa silam. Lebih ekstrim lagi, kita menjadi sangat curiga dengan hal­hal baru dan modernisasi yang akhirnya memasung kreatifitas bangsa, termasuk potensi ekonomi kreatif kota Solo.

Potsdamer Platz tahun 1986 adalah no man’s Land (tanah tak bertuan) yang dibatasi tembok Berlin (kiri), saat ini menjadi salah satu inner city

development yang dibanggakan warga Jerman(kanan). Sumber:Lyricmac Gallery & Michael J. Zirbes.

Meruntuhkan Tembok Berlin yang resmi dibangun pada tanggal 13 Agustus 1961 adalah salah satu bukti bahwa tidak seluruh memori kolektif perlu terus dipertahankan dalam makna yang sempit (sejarah an sich!). Adalah benar bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya, tetapi bangsa yang lebih besar adalah bangsa yang mampu membuat sejarah baru dan memperbaiki kesalahan yang terjadi pada sejarah masa silam. Akibat Tembok Berlin diruntuhkan maka lahirlah sebuah persatuan yang mem­ buat Jerman semakin kuat sebagai bangsa karena mampu mempertemukan kapitalisme dan sosialisme dalam sebuah

platform yang memberikan peningkatan kesejahteraan bagi warganya, dan menjadi salah satu tumpuan harapan investasi asing dan penciptaan pasar yang baru di tengah­tengah ancaman mengerutnya pasar domestik akibat pertumbuhan penduduk yang negatif.

Postdamerplatz saat ini menjadi showcase (lemari pajang) bangunan­bangunan modern berbagai bangsa (baca:

Penanaman Modal Asing) dan sekaligus menjadi simbol keterbukaan dan kerjasama antar bangsa. Ketika Sony Tower hadir di Postdamer Platz, apakah Jerman berarti telah dijajah oleh Jepang? Tentu tidak. Hanya orang yang berpikiran sempit dan picik saja yang melihat hal tersebut sebagai bentuk penjajahan ekonomi Jepang terhadap Jerman. Bahkan sebaliknya Jerman patut bangga karena salah satu raksasa ekonomi Asia memiliki kepercayaan dengan menaruh inves­ tasinya di sana, dan akhirnya citra negatif yang di sandang oleh Jerman akibat peristiwa Holocaust sedikit demi sedikit dapat dilupakan. Dalam konteks psikologi kognitif, strategi ini mampu menggantikan ingatan buruk pada long-term memory.

Sony tower di waktu malam & siang hari. Sumber: Andreas Tille & Jaminnun

Tentu implikasinya terhadap Vastenburg bukan berarti harus dibongkar dan diruntuhkan akibat mengandung memori negatif penjajahan yang menyakitkan. Sama sekali tidak ! bahkan tembok Vastenburg tidak boleh diruntuhkan,

setidaknya karena ada tiga pertimbangan, yaitu: 1) usia tembok benteng ini jauh lebih tua dari tembok berlin (pertim­ bangan arkeologis), 2) memiliki bentuk arsitektur yang bernilai unik sebagai benteng, bukan hanya sekedar bidang rata tembok yang memanjang (pertimbangan arsitektur), dan 3) menaikkan nilai ekonomis kawasan jika dapat dikemas secara menarik dengan strategi city marketing yang tepat.

Namun, yang tidak kalah pentingya dari ketiga pertim­ bangan diatas adalah pertimbangan psikologis, yaitu perlu­ nya Solo memiliki sebuah “icon” sebagai jati diri kota Solo yang dapat men”jual” dan membuat Solo mampu bersaing dengan kota­kota lain di Indonesia. Pertanyaannya kemudian adalah: Icon seperti apa yang perlu diciptakan untuk Solo ? Penderitaan akibat penjajahan ataukah supremasi kebangkitan terhadap penjajahan. Pilihannya tentu akan tercermin dari semiotika bentuk arsitektur yang akan muncul di kompleks Vastenburg. Menggunakan kembali langgam arsitektur kolonial Belanda pada bangunan­bangunan baru dalam kompleks tersebut tentulah bukan pilihan yang tepat, karena hanya akan menciptakan memori kolektif negatif yang kesannya menganggungkan kembali era kolonialisme belanda. Lalu bagaimana ?

Dalam dokumen BENTENG DULU, KINI, DAN ESOK (Halaman 174-178)