Di kalangan umum tinggalantinggalan arkeologi yang berupa bangunan dikenal dengan istilah ‘bangunan kuna’. Sebagai warisan budaya masa lalu maka bangunan kuna sudah seharusnya dilindungi dan dijaga kelestariannya. Hal ini dikarenakan terkadang kelestarian bangunan kuna terancam karena umumnya berada di lokasi yang secara ekonomis cukup strategis sehingga dalam pembangunan fisik kota nilai ekonomis mengalahkan nilainilai lain yang dimilikinya.
Ditinjau dari segi kesejarahan, warisan budaya masa lalu bernilai penting karena berkaitan dengan peristiwaperistiwa penting dan tokohtokoh sejarah tertentu baik lokal maupun nasional; dari segi ilmu pengetahuan, warisan budaya masa lalu dapat digunakan untuk mengembangkan ilmu penge tahuan pada disiplin ilmuilmu tertentu seperti arkeologi, arsitektur, antropologi atau sosiologi; dari segi kebudayaan, warisan budaya masa lalu merupakan pen dukung keberadaan dan kelangsungan kebudayaan masya rakat setempat; dan akhirnya dari segi sosial ekonomi, warisan budaya masa lalu dapat dijadikan simbol kebanggaan daerah atau aset wisata yang dapat membantu perekonomian masyarakat setempat, pemerintah daerah, bahkan pemerintah pusat.
Pelestarian bangunan kuna pada dasarnya dilandasi dua hal, yaitu selain memiliki nilai historis, bangunan tersebut juga memiliki nilai estetis gaya arsitektur tertentu yang berkembang pada saat bangunan tersebut didirikan. Salah satu upaya pemerintah untuk menjaga kelestarian tinggalan arkeologi di Kota Palembang adalah dengan menerbitkan Keputusan Menteri No KM.09/PW.007/MKP/2004, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata yang menetapkan Benteng Kuto Besak sebagai salah satu situs di wilayah Sumatera Bagian Selatan yang merupakan Benda Cagar Budaya yang dilindungi oleh UndangUndang. Sebelum Keputusan Menteri tersebut terbit, pihak Pemerintah Kota Palembang sendiri telah mengeluarkan Peraturan Daerah yang mengatur peruntukan kawasan benteng Kuto Besak, yaitu Peraturan Daerah No 3 Tahun 1987 tentang Peruntukan Kawasan Wisata Benteng Kuto Besak dan Sekitarnya di Bagian Wilayah Inti Kota Palembang, dan Peraturan Daerah No 8 tahun 2000
tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Palembang Tahun 19992009.
Berkaitan dengan hal tersebut, ata ruang kawasan di sekitar Benteng Kuto Besak sebaiknya ditata kembali. Perlu diketahui bahwa penataan ulang ini tidak berarti mencipta kan suatu yang baru melainkan memanfaatkan komponen komponen yang telah ada. Dalam penataan ulang tersebut sebaiknya ditetapkan pemanfaatan ruang melalui sistem pembagian yang jelas dan relevan.
Kawasan di sekitar Benteng Kuto Besak dapat dibagibagi menjadi beberapa zona (mintakat), yaitu zona inti, penyangga dan pengembangan. Dalam penentuan zona (pemintakatan) tersebut dapat dilakukan dengan cara melaksanakan studi evaluasi kawasan yang bertujuan untuk mendata dan menge tahui distribusi persebaran serta melakukan penilaian terhadap potensi obyek warisan budaya untuk kemudian digunakan sebagai dasar pemintakatan.
Secara keseluruhan zona inti kawasan benteng Kuto besak yang merupakan obyek utama dari tujuan wisata dapat ditentukan bedasarkan batasbatas Benteng Kuto Besak masa lalu. Secara geografis Kawasan Benteng Kuto Besak mempunyai batasbatas yang cukup jelas berupa sungai sungai yang mengelilinginya, yaitu Sungai Musi, Sungai Sekanak, Sungai Kapuran dan Sungai Tengkuruk. Meskipun Sungai Kapuran dan Sungai Tengkuruk saat ini sudah hilang tetapi polanya masih dapat terlihat, yaitu Sungai Kapuran menjadi Jl Kapuran dan Sungai Tengkuruk menjadi Jl Sudirman.
Beberapa tinggalan arkeologi yang berasal dari masa Kesultanan Palembang Darussalam dan Kolonial Hindia
Belanda sampai saat ini masih dapat ditemukan di kawasan tersebut, yaitu : Masjid Agung, Bangunan Museum Sultan Mahmud Badaruddin II, Kantor Walikota Palembang, Hotel Musi, dan Bangunan Societeit. Secara keseluruhan tinggalan tinggalan arkeologi di sekitar Benteng kuto Besak dikelola oleh berbagai pihak seperti Pemerintah Kota Palembang, KODAM II Sriwijaya dan masyarakat umum.
F. Penutup
Dalam perjalanan sejarahnya Benteng Kuto Besak selain berfungsi sebagai tempat tinggal Sultan Palembang Darussalam, benteng ini juga berfungsi sebagai bangunan pertahanan. Ketika Kesultanan Palembang Darussalam di hapuskan oleh pemerintah Hindia Belanda, fungsi Benteng Kuto Besak lebih diutamakan menjadi instalasi militer, meskipun demikian di dalam benteng juga berfungsi sebagai tempat tinggal komisaris HindiaBelanda, pejabat pemerin tahan dan perwira militer.
Pengembangan Benteng Kuto Besak dan tinggalan tinggalan arkeologi di sekitarnya sebagai obyek wisata sangat erat kaitannya dalam upaya penyebaran informasi budaya kepada masyarakat luas karena selain berekreasi para wisatawan juga dapat mengetahui sejarah Kota Palembang. Melihat beragamnya pengelola tinggalantinggalan arkeologi di sekitar Benteng Kuto Besak dibutuhkan komitmen para pengelola sehingga pariwisata di kawasan ini dapat berjalan dengan baik. Untuk itu diperlukan produk hukum yang memayungi pengelolaan kawasan wisata Benteng Kuto Besak dan sekitarnya, seperti perda tentang kawasan bersejarah
dan pengelolaannya yang kemudian dilanjutkan dengan memorandum of understanding yang ditandatangani para pengelola tinggalan arkeologi yang menjadi objek wisata di Kawasan Benteng Kuto Besak.
kePuStakaan
Hanafiah, Djohan, 1988, Palembang Zaman Bari. Citra Palembang Tempo Doeloe. Palembang: Humas Pemerintah Kotamadya Daerah Tk II Palembang.
. 1989. Benteng Kuto Besak Upaya Kesultanan Palembang Menegakan Kemerdekaan. Jakarta: CV Haji Masagung.
Kasnowihardjo, Gunadi, 2001, Manajemen Sumber Daya Arkeologi. Makassar: Lembaga Penerbitan Universitas Hasanuddin
Novita, Aryandini dan Darmansyah, Armadi. 2001. Laporan Penelitian Arkeologi di Benteng Kuto Besak Palembang (tidak diterbitkan).
nn, 1997, Himpunan Peraturan Perundangundangan Republik Indonesia Tentang Cagar Budaya.
Sevenhoven, J.L. van, 1971, Lukisan Tentang Ibukota Palembang. Jakarta: Bhratara.
Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Provinsi Jambi, Sumatera Selatan dan Bengkulu, 2002, Laporan Survei Bangunan Kolonial di Kota Palembang Provinsi Sumatera Selatan (tidak diterbitkan).
Raswaty, Retno, 2002, Laporan Kegiatan Inventarisasi BCB Tidak Bergerak Masa Kolonial dan Kesultanan Palembang Darussalam di Kota Palembang, Provinsi Sumatera Selatan (tidak diterbitkan).
Utomo, Bambang Budi dan Djohan Hanafiah. 1993. “Palembang Masa PascaSriwijaya” , Sriwijaya dalam Perspektif Arkeologi dan Sejarah hal. B31 – B312.
... dan Djohan Hanafiah, Hasan Muarif Ambary. 2004.”Perkembangan Kota Palembang. Dari Wanua Sriwijaya Menuju Palembang Modern” (tidak diterbitkan).
61 Benteng Tarakan : Keseimbangan Antara Kepentingan Politik dan Pelestarian
Benteng tarakan :
keSeimBangan antara kePentingan
Politik dan PeleStarian
oleh:
Drs. Edi Triharyantoro1