• Tidak ada hasil yang ditemukan

Memahami dan Mengetahui Tentang Isu-isu Lingkungan

Angket / Instrumen Skala

4.2.4. Aspek Sikap Sains

4.2.4.3. Memahami dan Mengetahui Tentang Isu-isu Lingkungan

Memahami dan mengetahui isu-isu lingkungan memiliki tiga indikator menurut PISA 2015 yaitu mempunyai rasa peduli dan perhatian terhadap lingkungan dan kehidupan berkelanjutan, kemampuan untuk menghubungkan pengetahuan sains dengan lingkungan, dan mempunyai kebiasaan ramah lingkungan yang berkelanjutan. Adapun analisis jawaban butir pernyataan pada kategori memahami dan mengetahui isu-isu lingkungan dari instrumen skala sikap sains sebagai berikut.

4.2.4.3.1 Mempunyai Rasa Peduli dan Perhatian Terhadap Lingkungan dan Hidup Berkelanjutan

Indikator mempunyai rasa peduli dan perhatian terhadap lingkungan dan hidup berkelanjutan terdiri dari 2 pernyataan pada instrumen skala sikap sains. Berikut disajikan hasil analisis tiap butir pernyataan.

25) Pernyataan 25

Pernyataan dua puluh lima dijawab oleh 25 mahasiswa calon guru fisika pada instrumen skala sikap sains. Mahasiswa yang menjawab selalu sebanyak 8 orang, sering sebanyak 3 orang, kadang-kadang sebanyak 11 orang, hampir tidak pernah sebanyak 1 orang, dan tidak pernah sebanyak 2 orang. Persentase skor dari pernyataan dua puluh lima sebesar 71,2% dari jumlah mahasiswa calon guru fisika yang mengerjakan instrumen skala sikap sains. Berdasarkan persentase skor tersebut, dapat dikatakan bahwa mahasiswa calon guru fisika memiliki sikap yang “cukup” dalam mengamati isu atau berita terkait kondisi lingkungan.

26) Pernyataan 26

Pernyataan dua puluh enam dijawab oleh 25 mahasiswa calon guru fisika pada instrumen skala sikap sains. Mahasiswa yang menjawab selalu sebanyak 3 orang, sering sebanyak 3 orang, kadang-kadang sebanyak 12 orang, hampir tidak pernah sebanyak 6 orang, dan tidak pernah sebanyak 1 orang. Persentase skor dari pernyataan dua puluh enam sebesar 60,8% dari jumlah mahasiswa calon guru fisika yang mengerjakan instrumen skala sikap sains. Berdasarkan persentase skor tersebut, dapat dikatakan bahwa mahasiswa calon guru fisika memiliki sikap yang “cukup” dalam menanggapi isu-isu tentang lingkungan.

4.2.4.3.2 Kemampuan untuk Menghubungkan Pengetahuan Sains dengan Lingkungan

Indikator kemampuan untuk menghubungkan pengetahuan sains dengan lingkungan terdiri dari 2 pernyataan pada instrumen skala sikap sains. Berikut disajikan hasil analisis tiap butir pernyataan.

27) Pernyataan 27

Pernyataan dua puluh tujuh dijawab oleh 25 mahasiswa calon guru fisika pada instrumen skala sikap sains. Mahasiswa yang menjawab selalu sebanyak 2 orang, sering sebanyak 7 orang, kadang-kadang sebanyak 11 orang, hampir tidak pernah sebanyak 2 orang, dan tidak pernah sebanyak 3 orang. Persentase skor dari pernyataan dua puluh tujuh sebesar 62,4% dari jumlah mahasiswa calon guru fisika yang mengerjakan instrumen skala sikap sains. Berdasarkan persentase skor tersebut, dapat dikatakan bahwa mahasiswa calon guru fisika memiliki sikap yang “cukup” dalam menghubungkan isu-isu lingkungan dengan pengetahuan sains.

“Anda menanggapi isu-isu yang berkaitan dengan lingkungan”.

“Anda menghubungkan isu-isu lingkungan dengan pengetahuan sains yang dimiliki”.

28) Pernyataan 28

Pernyataan dua puluh delapan dijawab oleh 25 mahasiswa calon guru fisika pada instrumen skala sikap sains. Mahasiswa yang menjawab selalu sebanyak 2 orang, sering sebanyak 3 orang, kadang-kadang sebanyak 15 orang, hampir tidak pernah sebanyak 3 orang, dan tidak pernah sebanyak 2 orang. Persentase skor dari pernyataan dua puluh delapan sebesar 60% dari jumlah mahasiswa calon guru fisika yang mengerjakan instrumen skala sikap sains. Berdasarkan persentase skor tersebut, dapat dikatakan bahwa mahasiswa calon guru fisika memiliki sikap yang “cukup” dalam mengidentifikasi permasalahan lingkungan dengan pengetahuan sains. 4.2.4.3.3 Mempunyai Kebiasaan Ramah Lingkungan yang Berkelanjutan

Indikator mempunyai kebiasaan ramah lingkungan yang berkelanjutan terdiri dari 2 pernyataan pada instrumen skala sikap sains. Berikut disajikan hasil analisis tiap butir pernyataan.

29) Pernyataan 29

Pernyataan dua puluh sembilan dijawab oleh 25 mahasiswa calon guru fisika pada instrumen skala sikap sains. Mahasiswa yang menjawab selalu sebanyak 15 orang, sering sebanyak 8 orang, kadang-kadang sebanyak 2 orang, dan tidak ada mahasiswa yang menjawab hampir tidak pernah maupun tidak pernah. Persentase skor dari pernyataan dua puluh sembilan sebesar 90,4% dari jumlah mahasiswa calon guru fisika yang mengerjakan instrumen skala sikap sains. Berdasarkan persentase skor tersebut, dapat dikatakan bahwa mahasiswa calon guru fisika memiliki sikap yang “sangat baik” dalam menjaga kebersihan diri dan lingkungan sekitar.

“Anda mengidentifikasi permasalahan lingkungan dengan menggunakan pengetahuan sains”.

30) Pernyataan 30

Pernyataan tiga puluh dijawab oleh 25 mahasiswa calon guru fisika pada instrumen skala sikap sains. Mahasiswa yang menjawab selalu sebanyak 14 orang, sering sebanyak 8 orang, kadang-kadang sebanyak 3 orang, dan tidak ada mahasiswa yang menjawab hampir tidak pernah maupun tidak pernah. Persentase skor dari pernyataan tiga puluh sebesar 88,8% dari jumlah mahasiswa calon guru fisika yang mengerjakan instrumen skala sikap sains. Berdasarkan persentase skor tersebut, dapat dikatakan bahwa mahasiswa calon guru fisika memiliki sikap yang “sangat baik” dalam mengupayakan ramah lingkungan dan hemat energi.

Skor literasi sains aspek sikap sains pada kategori memahami serta mengetahui tentang isu-isu lingkungan mahasiswa calon guru fisika dihitung berdasarkan rata-rata hasil jawaban pada instrumen skala sikap sains. Pencapaian literasi sains aspek sikap sains pada kategori ketertarikan terhadap sains dan teknologi sebesar 72,3% dengan dikategorikan “cukup”.

Profil literasi sains aspek sikap sains mahasiswa calon guru fisika dihitung dari rata-rata persentase skor tiap kategori sikap sains. Secara keseluruhan, profil literasi sains pada aspek sikap sains mahasiswa calon guru fisika sebesar 73,4% dengan dikategorikan “cukup”.Pencapaian sikap sains tertinggi mahasiswa calon guru fisika yaitu pada kategori menilai segala sesuatu dengan pendekatan ilmiah inquiri, kedua memahami serta mengetahui isu-isu lingkungan, dan terakhir ketertarikan terhadap sains dan teknologi. Pengujian instrumen skala sikap sains dianggap perlu karena dengan mengetahui sikap sains peserta didik, maka peneliti dapat mengetahui apakah materi atau konsep yang telah dipelajari dapat diterima atau tidak.

Profil literasi sains mahasiswa calon guru fisika pada aspek pengetahuan dan kompetensi/proses dikategorikan “kurang sekali”. Hal tersebut menunjukkan sebagian besar mahasiswa masih mengalami kesulitan dalam mengerjakan instrumen evaluasi literasi sains yang diberikan. Berikut beberapa cuplikan wawancara dengan mahasiswa.

P : ... Kemudian kamu kemarin kan mengerjakan soal literasi

sains materi kalor, kira-kira mengalami kesulitan nggak?

N2 : Kalau saya itu kak orangnya memang pelupa, jadi kalau

masalah teori-teori seperti konsep-konsep yang masih bisa saya ingat gitu mudah aja, tapi kalau masalah hitungan itu kan memang sudah ada rumusnya jadi kalau sudah lupa rumusnya ya kira-kira jawabnya kak.

...

P : ... Kesulitannya dimana?

N6 : Diperhitungan.

P : Perhitungannya ya? Sering lupa rumusnya atau gimana?

N6 : Ya begitu, dasarnya kurang juga.

Berdasarkan cuplikan wawancara mahasiswa calon guru fisika mengatakan bahwa kesulitan dialami karena sering tidak ingat atau lupa, khususnya dalam soal perhitungan yang berkaitan dengan persamaan fisika. Selain itu mahasiswa juga mengatakan kurangnya konsep dasar fisika juga mengakibatkan kesulitan terjadi dalam mengerjakan soal. Hal tersebut ditunjukkan dengan rendahnya capaian literasi sains pada kompetensi menjelaskan fenomena ilmiah dengan persentase skor 24%. Kurangnya pemahaman konsep dasar sains berkaitan dengan kemampuan kognitif peserta didik dalam mengerjakan instrumen evaluasi literasi sains yang diberikan. Soh (2010) mengatakan bahwa kemampuan kognitif dapat mempengaruhi pembentukan sikap maupun karakter dan keinginan dalam menanggapi suatu permasalahan sains. Kebanyakan peserta didik masih terpaku pada persamaan atau rumus dalam memecahkan suatu permasalahan sains yang terdapat pada soal. Rusilowati (2016) menyebutkan bahwa kurangnya literasi sains peserta didik salah satunya dikarenakan guru yang sering mengajarkan formula dibandingkan konsep dan peserta didik yang lebih banyak menghabiskan waktu dengan pengetahuan berupa hafalan.

4.2.5. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Literasi Sains Mahasiswa Calon