4. Aspek Sikap
2.3 Teori Belajar .1 Pengertian Belajar .1 Pengertian Belajar
Belajar merupakan suatu proses perubahan di dalam kepribadian manusia, dan perubahan tersebut ditampakkan dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku seperti peningkatan kecakapan, pengetahuan, sikap, kebiasaan, pemahaman, keterampilan, daya pikir, dan lain-lain kemampuan (Hakim, 2005). Daryanto (2010) menyatakan bahwa belajar merupakan perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Proses belajar terjadi melalui banyak cara baik disengaja maupun tidak disengaja dan berlangsung sepanjang waktu dan menuju pada suatu perubahan pada diri pembelajar (Trianto, 2010).
2.3.2 Pengertian Belajar Menurut Teori Kognitif
Teori belajar kognitif menurut Bruner yaitu berpusat pada masalah apa yang dilakukan individu dengan informasi yang diterimanya dan apa yang dilakukannya setelah memperoleh informasi itu sehingga mencapai pemahaman yang memberikan kemampuan padanya. Bruner beranggapan bahwa seseorang belajar yaitu berinteraksi dengan lingkungannya secara aktif dimana perubahan tidak hanya terjadi di lingkungan tetapi juga dalam orang itu sendiri. Belajar sebagai proses kognitif melibatkan tiga proses yang berlangsung hampir bersamaan. Ketiga proses kognitif itu yaitu:
a) Memperoleh informasi baru
Peserta didik yang sedang belajar memperoleh sejumlah keterangan mengenai materi yang sedang dipelajari.
b) Transformasi informasi
Informasi yang diperoleh peserta didik kemudian dianalisis, diubah atau ditransformasikan menjadi bentuk yang abstrak atau konseptual.
c) Menguji relevansi dan ketepatan pengetahuan
Peserta didik menilai sendiri sampai sejauh mana informasi yang telah ditransformasikan sebelumnya dapat dimanfaatkan untuk memahami masalah atau peristiwa yang dihadapi.
Bruner menyebut pandangannya tentang belajar atau pertumbuhan kognitif sebagai konseptualisme instrumental dimana pandangan ini berpusat pada dua prinsip yaitu (1) pengetahuan seseorang tentang alam didasarkan pada model-model tentang kenyataan yang dibangunnya; dan (2) model-model-model-model tersebut awalnya diadopsi dari kebudayaan seseorang, kemudian model-model itu diadaptasikan pada kegunaan bagi orang yang bersangkutan (Dahar,2006). Pendewasaan pertumbuhan intelektual atau pertumbuhan konitif seseorang menurut Bruner adalah sebagai berikut.
a) Pertumbuhan kognitif ditunjukkan oleh bertambahnya ketidaktergantungan respons dari sifat stimulus.
b) Pertumbuhan kognitif bergantung pada bagaimana seseorang menginternalisasi peristiwa-peristiwa menjadi suatu sistem simpanan yang sesuai dengan lingkungan.
c) Pertumbuhan kognitif menyangkut peningkatan kemampuan seseorang untuk berkata pada dirinya sendiri atau pada orang lain mengenai apa yang telah atau akan dilakukannya.
2.3.3 Materi Kalor 2.4.1 Pengertian Kalor
Kalor adalah energi yang ditransfer dari satu benda ke benda lain karena beda temperatur. Kalor merupakan energi internal dimana dari satu bagian sistem ke bagian lain atau dari satu sistem ke sistem lain karena ada perbedaan temperatur (Zemansky, 1986). Selama pengaliran kita tidak mengetahui proses keseluruhannya, misalnya keadaan akhir maka kalor belum diketahui selama proses berlangsung.
2.4.2 Satuan Kalor
Satuan energi panas atau kalor secara historis adalah kalori, yang mula-mula didefinisikan sebagai jumlah energi panas yang dibutuhkan untuk menaikkan temperatur satu gram air satu derajat Celcius. Kilokalori adalah banyaknya banyaknya energi panas yang dibutuhkan untuk menaikkan temperatur satu kilogram air dengan satu derajat Celcius. Karena kita mengakui bahwa panas atau kalor adalah bentuk lain dari energi, maka kita tidak memerlukan satuan khusus untuk kalor yang berbeda dengan satuan energi lain. Kalori sekarang didefinisikan dengan menyatakan dalam satuan SI untuk energi, yaitu joule:
2.4.3 Kalor Jenis dan Kapasitas Kalor
Jika energi panas atau kalor ditambahkan pada suatu zat, maka temperatur zat itu biasanya naik. Jumlah energi panas Q yang dibutuhkan untuk menaikkan temperatur suatu zat adalah sebanding dengan perubahan temperatur dan massa zat tersebut.
Keterangan: = massa zat atau benda (kg)
= kalor jenis (J/kg.oC atau J/kg.K)
= perubahan suhu zat atau benda (oC atau K) = kapasitas kalor (J/oC atau J/K)
Kalor jenis merupakan kalor yang diperlukan untuk menaikkan suhu 1 kg zat atau benda sebesar 1 K. Zat yang mempunyai kalor jenis lebih tinggi mempunyai kemampuan menyerap kalor lebih banyak. Berbeda dengan kalor jenis, kapasitas kalor ) didefinisikan sebagai banyaknya kalor yang dibutuhkan untuk menaikkan suhu benda 1 K.
2.4.4 Perubahan Wujud Zat
Suatu zat (padat, cair maupun gas) dapat berubah wujud, contohnya ketika air dipanaskan sampai suhu cukup tinggi maka air akan mendidih dan berubah menjadi gas. Air yang terus didinginkan membeku dan berubah wujud menjadi padat.
Gambar 2.2 Diagram Perubahan Wujud Zat Sumber: (Surya, 2009)
2.4.5 Kalor Laten
Sejumlah energi panas tertentu dibutuhkan untuk mengubah fasa sejumlah zat tertentu. Kalor yang dibutuhkan sebanding dengan massa zat. Kalor yang dibutuhkan untuk mencairkan zat bermassa m tanpa perubahan temperaturnya adalah
dimana dinamakan kalor laten peleburan.
Bila perubahan fasa adalah dari cairan menjadi gas, maka panas yang dibutuhkan adalah
dengan adalah kalor laten penguapan.
2.4.6 Perpindahan Kalor
Kalor ditransfer dari satu tempat ke tempat lain melalui tiga proses yaitu: 1. Konduksi
Pada konduksi, kalor ditransfer lewat interaksi antara atom-atom atau molekul, walaupun atom-atom dan molekulnya sendiri tidak berpindah. Contohnya jika salah satu ujung sebuah batang padat dipanaskan, maka kalor akan dipindahkan sepanjang batang karena interaksi atom-atom yang lebih energetik dari sekitarnya.
2. Konveksi
Pada konveksi, kalor akan dipindahkan secara langsung lewat perpindahan massa. Contohnya ketika udara dekat lantai dipanaskan maka udara akan memuai dan naik (bersama dengan massa udara panas) karena kerapatannya yang lebih rendah.
3. Radiasi
Pada radiasi, kalor dipancarkan atau diserap oleh benda-benda dimana perpindahan energi panasnya tidak membutuhkan materi perantara. Contohnya ketika berada di dekat api unggun maka orang disekitarnya akan terasa hangat atau menerima kalor.
2.4.7 Hukum I Termodinamika
Hukum pertama termodinamika adalah rumusan dari kekekalan energi yang menggambarkan hasil eksperimen yang menghubungkan usaha yang dilakukan oleh sistem, panas yang ditambahkan atau dikurangkan dari sistem, dan energi internal sistem. Energi panas atau kalor yang diberikan pada sistem diperhitungkan sebagai usaha yang dilakukan oleh sistem atau sebagai kenaikan energi internal sistem atau sebagai kombinasi tertentu dari keduanya (Tipler, 1998). Persamaan dari hukum pertama termodinamika dituliskan sebagai berikut.
Keterangan:
= jumlah kalor (J) = energi internal (J) = kerja atau usaha (J)