IBADAH JEMAAT DI ERA 4.0
2. MEMAHAMI GEREJA SEBAGAI EKLESIA
Dasar pertama-tama untuk memahami Ibadah Gereja atau Ibadah Jemaat adalah pemahaman tentang Gereja itu sendiri, yaitu Gereja yang dipahami sebagai Eklesia. Gereja sebagai eklesia adalah karya Allah melalui Roh Kudus dalam Tuhan Yesus Kristus.4 Dengan demikian, upaya memahami Gereja 3Bdk. Jan S. Aritonang (peny.), Teologi-Teologi Kontemporer (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2019), 52-55.
4Bdk. Paul S Minear, Images of the Church in the New Testament (London: Lutterworth Press, 1961), 45-48.
47 sebagai Eklesia berdasar pada pendekatan yang berpusat pada Allah (Teo-sentris) dan pada Kristus (Kristo-sentris). Menurut pendekatan Teo-sentris, di samping Allah menjumpai manusia dengan sejumlah perantara, maka Allah telah menjumpai manusia secara langsung dalam Yesus Kristus dan Roh Kudus. Menurut pendekatan Kristo-sentris, maka di dalam Yesus Kristus, Allah telah menjumpai manusia dan manusia memiliki ”Jalan” untuk menjumpai Allah oleh pertolongan Roh Kudus.5 Berdasarkan pendekatan Teo-sentris dan Kristo-sentris, tidak ada yang mustahil, ketika berbicara tentang Ibadah Jemaat tersebut, baik dalam situasi normal-tradisional maupun dalam situasi lainnya, termasuk di era Postmodern atau era 4.0 saat ini dan di era pandemic COVID-19.
Memperhatikan dan berdasarkan pemikiran teologi yang berpusat pada Allah (Teo-sentris) dan pada Kristus (Kristo-sentris) tersebut, hal berikutnya adalah pemahaman tentang Gereja atau Jemaat yang hendak beribadah. Hal paling mendasar dalam memahami Gereja adalah istilah Alkitab yang digunakan untuk memaknai Gereja, yaitu Ecclesia atau Ecclesiae yang berarti “persekutuan orang-orang percaya” yang siap menjalankan koinonia – marturia – dan diakonia.6 Hal yang ditekankan di sini adalah “persekutuan orang-orang percaya”. Sebagai eklesia, maka penekanan pemahaman adalah pada orang-orang percaya yang bersekutu beribadah untuk selanjutnya siap melaksanakan tugas panggilan pelayanan dan kesaksian.7
5Bdk. James D.G. Dunn, Christology in the Making: A New Testament
Inquiry into the Origin of the Docktrine of the Incarnation (London: SCM
Press Ltd., 1980), 239-245.
6Hendrikus Berkhof, Christian Faith: An Introduction to the Study of
the Faith (Grand Rapids, Michigan: Wm.B. Eerdmans Publishing Co., 1979),
325-329.
7Bdk. Ibid, 343-345. Lihat juga David F. Ford “Jesus Christ in Scripture, Community and Mission: the wisdom of John 1: 1-18” dalam Philip
48 Hal berikutnya, dalam memahami Gereja, yaitu bersifat institusional, yakni menunjuk kepada Persekutuan Orang Percaya yang ada dalam “bingkai” denominasi dan organisasi untuk mewujudkan koinonia – marturia – dan diakonia. Khusus untuk GKE, maka latar belakang tradisi teologi tersebut dikaitkan dengan tradisi Lutheran, Calvinis dan Pietis. Dalam hal ini, maka pemikiran teologi yang diperlukan untuk memahami Ibadah Jemaat dikaitkan dengan latar belakang teologi atau tradisi teologi yang diwarisi suatu GKE. Khusus dalam hal ibadah Jemaat, GKE sangat kuat mewarisi tradisi Calvinis, yaitu menempatkan pemberitaan Firman sebagai pusat ibadah.8 Hal ini selanjutnya diaktualkan secara praktis dalam bentuk penataan ruang gedung Gereja, yaitu menempatkan Mimbar Utama (tempat pemberitaan Firman Tuhan) berada pada bagian depan bagian tengah ruangan suatu Gereja dan Mezbah yang di atasnya diletakkan Alkitab dan perlengkapan Sakramen ditempatkan di depan dari Mimbar Utama tersebut.9
Hal paling praktis dan terbatas dalam memahami Gereja, yaitu menunjuk kepada wadah atau gedung tempat dari orang-orang percaya untuk mewujudkan koinonia – marturia – dan diakonia. Dikatakan praktis dan terbatas, karena Gereja sebagai Gedung baru berarti sebagai Gereja ketika ada “orang-orang percaya” bersekutu di dalamnya. Unsur “orang-orang percaya” menjadi pemberi makna kepada suatu Gedung, termasuk Gedung
L Wickeri (ed.), Scripture, Community and Mission (Hong Kong: CCA, 2003), 303-306.
8Bdk. John Calvin (transl. By Henry Beveridge), Institutes of the
Christian Religion (Grand Rapids, Michigan: Wm.B. Eerdmans Publishing
Co., 1995), 316-319.
9Bdk. “Peraturan GKE Nomor 38 Tahun 2016 tentang Letak Mimbar dan Meja Perjamuan dalam Ruangan Gedung Gereja Kalimantan Evangelis” dalam BPH Majelis Sinode GKE, Himpunan Peraturan Gereja Kalimantan
49 Gereja. Gedung Gereja yang tidak digunakan sebagai tempat bersekutu “orang-orang percaya”, maka hakikatnya sebagai Gereja menjadi hilang. Sementara suatu Gedung, sekalipun bukan Gedung Gereja secara formal, kalau Gedung tersebut dimanfaatkan menjadi tempat bersekutu dari “orang-orang percaya”, maka Gedung tersebut pada hakikatnya bisa dikatakan sebagai Gereja.10 Lebih lanjut, ketika berbicara menyangkut “wadah”, maka pemikiran yang disediakan di dalam budaya yang tersedia pada suatu wilayah dengan berbagai persoalan sosial yang ada di suatu wilayah tersebut, perlu menjadi landasan teologis-praktis untuk memahami Gereja, khususnya mewujudkan koinonia. Bagi masyarakat Dayak, maka “wadah” untuk kegiatan bersekutu atau menghimpunkan orang banyak bisa menunjuk kepada Balai atau Rumah Adat secara formal, Rumah Panjang atau Rumah tempat tinggal, gedung atau bangunan terbuka, bahkan lapangan terbuka.11
Memperhatikan keseluruhan paparan di atas, untuk menjadi landasan teologis dalam mewujudkan koinonia – marturia – dan diakonia, termasuk bagi GKE, adalah pada pemahaman paling dasar, yaitu Gereja sebagai Eklesia. Ketika Gereja atau Jemaat dipahami sebagai Eklesia, maka persekutuan Gereja atau Jemaat tersebut menjadi “lintas batas” dan “menerobos batas” penghalang oleh keterpisahan karena tidak bisa berada sama pada satu tempat secara bersama-sama. Sebagai Eklesia dengan Kristus sebagai Kepala, maka Gereja atau Jemaat berada dalam “persekutuan bersama” sekalipun dipisahkan oleh tempat, jarak dan waktu. Menurut bahasa Augustinus dan Yohanes Calvin, Gereja yang demikian 10Bdk. James D.G. Dunn, The Christ and the Spirit: 2. Pneumatology (Grand Rapids, Michigan: Wm.B. Eerdmans Publishing Co., 1998), 248-252.
11 Bdk.https://indonesia.go.id/ragam/budaya/kebudayaan/rumah-betang-tak-hanya-kediaman-suku-dayak diunduh pada hari Jum’at tanggal 10 Juli 2020.
50 adalah “Gereja yang Kelihatan” yang berada dalam kerangka “Gereja yang Tidak Kelihatan”, yaitu persekutuan orang-orang percaya yang meliputi orang-orang percaya pada segala tempat dan segala waktu.12
3. PERTIMBANGAN UMUM UNTUK IBADAH