• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENUTUP: DAMPAK REFORMATIF IBADAH 4.0 BAGI REFORMASI GEREJA?

DAFTAR PUSTAKA

6. PENUTUP: DAMPAK REFORMATIF IBADAH 4.0 BAGI REFORMASI GEREJA?

Dibalik era 4.0 dan PC-19 yang menggerus kebersamaan, melemahkan persekutuan jemaat, dan bahkan meneror dan membunuh, Allah mengajak dan mendorong kita membuka prinsip dan model baru dalam ibadah. Reformasi ibadah kita yang berfokus pada sistem digital – pelayanan dalam jaringan internet, berpusat di keluarga dan liturgi yang lebih kreatif dan kontekstual bisa jadi merupakan jalan untuk mereformasi Hakikat Gereja, Tata Gereja, Sistem, Misi, Program, dan Kemitraan Gereja kita. Banyak hal yang akan berubah dan gereja harus siap mereformasi diri demi Soli Deo Gloria.

Pertama, hakikat Gereja? Perlukan definisi baru. John

Calvin menulis Gereja adalah persekutuan orang-orang yang telah diselamatkan berkat kasih karunia Allah di dalam Yesus Kristus yang telah dibenarkan oleh dan melalui iman. Gereja (GKE) mesti mere-definisi bahwa persekutuan sebagai kata kunci diperluas dalam dimensi tanpa batas dan tanpa perbedaan. Sejauh beriman kepada Kristus dengan berbagai expresi dan exspansinya merupakan Gereja (persekutuan). Sejauh gereja berperan kunci sebagai pemberita Firman, pelaksana sakramen, pelayan pastoral, penggerak keadilan sosial ekologis, dan pencipta keteraturan tanpa batas, termasuk dalam dunia digital, adalah gereja.

26 Ruth Meyers, “Worship,” dalam Kenneth Ross, dkk., Ecumenical

Misiology: Changing Landscape and New Conceptions of Mission

40

Kedua, hakikat sistem dan struktur gereja? John

Calvin memang sangat ideal menekankan kerjasama dan relasi antara Majelis Sinode dan Majelis Jemaat.27 Kini, peran jemaat (warga+majelis jemaat) pada era 4.0 dan PC-19 semakin positif dan dominan. Kreativitas dan kontekstualisasi ibadah dibangun dan dikembangkan jemaat melalui umat yang bertalenta. Gerakan kepedulian kepada sesama, ketahanan income jemaat, dan keberanian merubah hal-hal yang tradisional dalam gereja dilahirkan dan dikembangkan dalam jemaat. Bagi GKE, tanpa gerakan struktur Sinode dan Resort, jemaat GKE tetap berdiri kokoh, tetap hidup walaupun terbatas. Sistem kongregasional dengan partisipasi aktif warga jemaat (kaum awam) pada era ini menjadi semakin kuat yang perlu dipertimbangkan dalam sistem dan organisasi gereja di masa mendatang.

Ketiga, hakikat Tripanggilan Gereja (misi dan program). Reformasi Calvin mempertanyakan banyak kebijakan

dan program pelayanan gereja. Fokus yang terlalu kuat kepada kegiatan seremonial dan dogmatisasi, penguatan struktural kepada jabatan Paus dan imam (pendeta), dan kurang peduli kepada kaum miskin dan tertindas merupakan bagian hakiki dari reformasi. Bagi GKE dengan kemajuan teknologi digital dan dampak PC-19, mau di bawa kemana Tripanggilan Gereja? Mau dibawa kemana program misi dan program pelayanan kita? Apakah misi dan program yang paling dibutuhkan jemaat dan masyarakat? Bagaimana pejabat gerejawi berpartisipasi aktif dan seimbang bagi pembangunan rohani sekaligus keadilan dan perdamaian? Dunia yang berubah memerlukan keberanian yang matang dan berkualitas dari gereja untuk Reformata Semper

Reformanda.

27Yohanes Calvin, Tata Gereja Perancis, dalam Th. Van den End,

41

Keempat, hakikat substansi dan metode pendidikan teologi kependetaan? John Calvin mereformasi dunia

pendidikan dengan sangat berani, akademis, dan kontekstual. Reformasi Calvin dimulai dalam dunia akademis. Berbagai rumusan dogmatis, liturgis, dan diakonis dibangun secara baru melalui tulisan, publikasi, dan diskusi. Pendidikan teologi (baca: STT GKE) akan ketinggalan kereta jika masih bertahan dengan substansi dan metode yang ada, termasuk dalam hal liturgi dan ibadah. Pendidikan teologi yang tidak memberi ruang kreativitas dan kemandirian dalam liturgi, musik, pastoral, diakonia, dan kesaksian akan ditinggalkan. Penguasaan dan keterbukaan terhadap kecanggihan informasi teknologi, kreativitas dengan aneka keterampilan pelayanan, dan konteks pergumulan jemaat harus menjadi syarat penting bagi pendidikan teologi dalam pengembangan pendidikan ke depan.

DAFTAR PUSTAKA

Abineno, J.L. Ch. Bucer dan Calvin, Suatu Perbandingan

Singkat. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006;

https://reformed.sabda.org/sekilas_hidup_reformator_john_calv in_di_jenewa_dan_di_strasburg

__________. Ibadah Djemaat dalam Abad-abad Pertengahan. Jakarta: BPK, 1966.

Aritonang, Jan S. Berbagai Aliran di Dalam dan Sekitar Gereja. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996.

__________. Garis Besar Sejarah Reformasi. Bandung: Jurnal Info Media, 2007.

42 Balkie, W. “Calvin dan Calvinisme,” dalam Agustinus Batlajery & Th. van den End, Ecclesia Reformata Semper

Reformanda. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2015.

BPH MS GKE. Liturgi & Kumpulan Doa. Banjarmasin: 2016. Calvin, John. Tata Ibadah Karangan Calvin (1542/1559);

https://reformed.sabda.org/node/137.

Calvin, Yohanes. Institutio: Pengajaran Agama Kristen, diterjemahkan oleh Winarsih Arifin dan Th. Van den End. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1983.

__________. “Tata Ibadah Calvin Jenewa 1542” dalam Th. Van den End, Enam Belas Dokumen Dasar Calvinisme. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001.

__________. “Katekismus Jenewa 1542”, dalam Th. Van den End, Enam Belas Dokumen Dasar Calvinisme. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001.

__________. “Tata Gereja Perancis 1559”, dalam Th. van den End, Enam Belas Dokumen Dasar Calvinisme. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001.

Cherry, Constance M. Arsitek Ibadah: Pedoman Merancang

Ibadah yang Alkitabiah, Autentik, dan Relevan,

dialihbahasakan oleh Budianto Lim. Jakarta: Literatur Perkantas, 2019.

End, Th. van den. Enam Belas Dokumen Dasar Calvinisme. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001.

43 Jonge, James J. De. “Calvin the Liturgist: How 'Calvinist' is Your Church's Liturgy?”. Jurnal Reformed Worship. Nomor 9, September 1988.

MS GKE. Liturgi GKE Jilid II & Kumpulan Doa. Banjarmasin, 2004.

__________. Tata Gereja GKE. Banjarmasin, 2015.

Parker, T.H.L. John Calvin. England: Lion Publishing, 1988. Meyers, Ruth Meyers. “Worship,” dalam Kenneth Ross, dkk.,

Ecumenical Misiology: Changing Landscape and New Conceptions of Mission. Oxford/Geneva: Regnum/WCC,

2016.

Yakoma PGI. Liturgi dan Komunikasi: Antara Peneguhan dan

Penipuan. Jakarta: Yakoma PGI, 2005

Ukur, Fridolin. Tuaiannya Sungguh Banyak. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2000.

Zending Basel Banjarmasin. Atoeran Sidang DJoem’at Orang

44