• Tidak ada hasil yang ditemukan

MEMBANGUN DA’WAH ILA ALLAH

Dalam dokumen DARING, SEPTEMBER (Halaman 57-61)

KARENA BANGSA INI SEMAKIN JAUH DARI ALLAH

MEMBANGUN DA’WAH ILA ALLAH

58 Di masa penjajahan

da’wah berhasil

Kebebasan tanpa batas

MENATA

Di masa orde lama da’wah terkendala

Hilangnya nilai keadilan

MENYAPA

Di masa orde baru da’wah terkendala

Retaknya persaudaraan

MEMBELA (Lisan, Tulisan & Perbuatan) Di era reformasi da’wah

bebas, tapi

kemungkaran juga bebas

Datangnya arus globalisasi

Karena itu, kita harus segera menata ulang da’wah kita ke depan. Dalam menata da’wah ke depan, yang paling pertama harus kita tata adalah cara pandang kita terhadap realita yang ada di hadapan kita :

a. Realita itu tidak boleh kita jadikan sebagai penghalang, kita harus menjadikannya sebagai pemicu dan pemacu semangat kita.

b. Kita tidak boleh menganggap bahwa realita itu sebagai tantangan yang berat.

Kita harus yakin bahwa seberat apapun tantangan yang harus kita hadapim di dalam diri kita Allah telah menanam kemampuan utnuk menghadapinya. Allah berfirman

“Allah tidak akan membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya”

FAKTA DA’WAH DI

INDONESIA DA’WAH KE

DEPAN

REALITA DI HADAPAN KITA

59

c. Untuk memacu semangat kita, Allah menyembunyikan kemudahan dan kemenangan itu dibalik kesulitan, dan kesuksesan. Allah berfirman :

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”

d. Allah juga memacu semangat kita dengan janjiNya, bahwa solusi atau jalan keluar dari kesulitan itu hanya akan diberikan kepada orang-orang yang mau bekerja keras. Allah berfirman : “Orang-orang yang bersungguh-sungguh dijalan Allah pasti Allah akan memberikan petunjuk kepada mereka dan jalan yang banyak.”

Selain menata cara pandang, kita harus segera menata organisasi dan sumber dana agar menjadi organisasi yang kuat dan professional. Organisasi yang kuat ditandai dengan adanya pengurus yang solid, kemudian sekretariat yang hidup dan memiliki jaringan komunikasi yang kuat. Baik secara vertikal maupun horizontal.

Eksistensi organisasi baru akan bisa dirasakan, dihitung dan diperhitungkan keberadaannya oleh umat ketika organisasi itu mampu menyapa dan membela umat secara optimal. Dan mohon maaf, kondisi umat kita sekarang seperti buih yang bisa diombang-ambingkan oleh kepentingan-kepentingan sesaat. Umat kita sudah terjebak oleh pola fikir pragmatis. Nilai –nilai religi sudah mulai copot satu persatu.

Keadaan seperti itu lebih diperparah oleh semakin sulitnya untuk bisa memenuhi kebutuhan minimal dan banyak lagi hal lain yang menghimpit kehidupan umat kita.

Kita harus segera datang menyapa umat kita. Menyapa dengan sapaan yang bisa memberi ketenangan kepada mereka dan sapaan yang bisa membangkitkan jiwa optimis mereka. Kita sapa mereka dengan agama, dengan pendidika, dengan ekonomi, dan dengan sapaan-sapaan lain. Peluang kita untuk menyapa mereka masih lebih besar dibandingkan yang lain. Kita jangan menunggu mereka datang menemui kita, tapi kita lah yang harus datang menyapa dan membela mereka.

Untuk mewujudkan aktifitas menata, menyapa, dan membela diperlukan adanya:

a. Kerja keras b. Kerja cerdas c. Kerja ikhlas

Ketika kita melihat realitas yang ada di hadapan kita, akan terlihat gerakan anti Islam semakin nyata dan konprehensip. Kenyataan itu sering mengganggu dan mempengaruhi semangat para aktivis da’wah. Sering kita mendengar keluhan para aktivis da’wah yang mengatakan bahwa tantangan da’wah kita semakin berat dan ada juga ungkapan lain yang senafas dengan itu.

Sikap mental para aktivis seperti itu harus kita luruskan. Kita harus membangun dan menghidupkan kembali mental dan semangat da’wah mereka. Kita harus menanamkan di dalam hati para aktivis da’wah bahwa kemenangan hanya bisa diraih jika ada kemenangan yang diberikan oleh Allah. Untuk itu kita harus

60

melandasi seluruh gerak da’wah kita dengan keikhlasan. Buah keikhlasan itu akan diberikan oleh Allah manakala kita menggapainya dengan kerja keras dan kerja cerdas. Karena itu kerja keras, kerja cerdas dan kerja ikhlas harus menjadi landasan gerak da’wah kita ke depan.

Firman Allah dalam Surat At Taubah ayat 67 berbunyi :

Artinya : Orang-orang munafiq laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh berbuat yang mungkar dan melarang berbuat yang ma’ruf dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafiq itu adalah orang-orang yang fasik.

Karena itu da’wah merupakan amal besar yang harus dijadikan jalan dan tulang punggung bagi tegaknya syari’ah menuju “baldah thoyyibah wa robbun gofur”.

2. Tujuan Da’wah PARMUSI

“BALDAH THOYYIBAH WA ROBBUN GOFUR”

Ketika Allah memberikan kemerdekaan kepada Bangsa Indonesia dan Allah telah menyimpan kekayaan alam yang melimpah di Indonbesia, maka Indonesia saat itu seperti digambarkan oleh Allah dalam Surat An Nahl ayat 112.

Artinya : Dan Allah telah membuat satu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rizkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, Tetapi kemerdekaan dan kekayaan yang melimpah itu kurang disyukuri oleh penduduk negeri ini. Bahkan penduduk negeri ini cenderung semakin jauh dari Allah.

maka dalam ayat 112 dari Surat An Nahl itu Allah menegaskan,

Artinya : tetapi penduduknya mengingkari nikmat-nikmat Allah, karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.

Berpedoman kepada ayat 112 dari Surat An Nahl, maka kewajiban da’wah yang terpikul di atas pundak kader-kader Parmusi adalah, berusaha secara optimal untuk mengembalikan keadaan Indonesaia kepada posisi seperti ketika Allah

61

memberikan kemerdekaan dan kekayaan kepada Bangsa ini. “Baldah Thoyyibah wa Robbun Gofuur”.

Karena itu, da’wah adalah pekerjaan mulya yang harus kita hidupkan secara bersama-sama. Terlebih lagi tantangan da’wah sekarang semakin konprehensif.

Mereka menjauhkan bangsa ini dari Allah dengan mengatasnamakan Allah. Padahal jauhnya kita dari Allah hanya akan menuai musibah bukan barokah.

3. Obyek Da’wah PARMUSI

Dalam dokumen DARING, SEPTEMBER (Halaman 57-61)

Dokumen terkait