DEFENDER APHATETIC
DESKRIPSI PROSES DAN HASIL IMPLEMENTASI AKSI PERUBAHAN
A. Deskripsi Proses Kepemimpinan
1. Membangun Integritas dan Akuntabilitas Kinerja Organisasi
Dalam melakukan implementasi dan penyusunan Laporan Aksi Perubahan Pelatihan Kepemimpinan Administrator merupakan sebuah proses kepemimpinan dalam mewujudkan suatu tujuan yang akan dicapai. Proses Kepemimpinan yang akan dicapai dibagi menjadi jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang.
Menurut Bass (1990) dan Yuki (1998), kepemimpinan transformasional adalah kemampuan memberi inspirasi dan memotivasi pengikut untuk mencapai sasaran transendental daripada kepentingan diri jangka pendek serta pencapaian aktualisasi diri. Proses kepemimpinan dalam membangun integritas dalam jangka pendek adalah sebagai berikut:
a. Konsultasi dan Koordinasi
Dalam koordinasi, konsultasi dan membangun komitmen dengan stakeholder internal maupun eksternal ada beberapa hal yang dilakukan pada tahap ini.
Konsultasi dan komunikasi dengan pimpinan yang lebih tinggi dan koordinasi dengan stakeholder internal dan eksternal kami laksanakan untuk memperkuat komitmen pelaksanaan inovasi. Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 15 Juli 2021.
Untuk membangun komitmen bersama, seorang pemimpin harus mempunyai tekad yang kuat dan kerangka berpikir yang sama dalam melaksanakan inovasi pelayanan. Pemimpin adalah seseorang yang sangat berpengaruh dan memainkan peranan penting terhadap aktivitas anggotanya dalam merumuskan sesuatu guna mencapai tujuan (Kartini Kartono, 2003: 27). Cara mempengaruhi dan memotivasi seseorang agar orang tersebut mau berkontribusi untuk keberhasilan organisasi.
Kemampuan mempengaruhi tidak hanya sebatas pada bawahan tetapi juga di level sejajar maupun di level yang lebih tinggi.
22 Gambar 3
Konsultasi dan koordinasi dengan Kasatpol PP Provinsi Sulawesi Utara, Konsultasi dengan Dinas Kominfo, Koordinasi dengan Satpol PP Kota Manado.
Tanggal : 15 Juli 2021
Komitmen kita lakukan di lingkup internal dan eksternal organisasi agar memperoleh dukungan yang kuat. Dukungan yang kuat akan menjadikan tekad yang kuat untuk mewujudkan inovasi pelayanan. Komitmen dengan para pengambil kebijakan kami rangkai menjadi modal tekad yang kuat dalam mewujudkan rencana aksi perubahan di satpol pp.
23 b. Pembentukan Tim
Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini diawali dengan Rapat dinas pada tanggal 26 Juli 2021 di ruang rapat Sekretaris Satpol PP membahas tentang pembentukan tim. Hasil dari kegiatan tersebut adalah terbentuknya Tim Kerja Aplikasi Siaga Trantib. Selain itu juga membahas tugas pokok dan fungsi kerja Tim dalam pelaksanaan pengimplementasian Rencana Aksi Perubahan pada jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang. Kegiatan ini dihadiri oleh pejabat struktural beberapa pelaksana yang ada di Satpol PP Daerah Provinsi Sulawesi Utara, dan pengembang Teknolgi Informasi dari Dinas Kominfo. Kegiatan berjalan lancar dan tidak ada kendala dalam kegiatan ini. Dalam pembentukan tim ini peran kita harus mampu memberikan motivasi pentingnya meningkatkan kinerja organisasi dengan pengembangan sistem. Menurut Pamela & Oloko (2015) motivasi adalah kunci dari organisasi yang sukses untuk menjaga kelangsungan pekerjaan dalam organisasi dengan cara dan bantuan yang kuat untuk bertahan hidup. Pemimpin transformasional dapat menciptakan suatu sinergi di dalam organisasi, berarti dia dapat mengoptimalkan, memotivasi dan memberi energi kepada setiap pengikutnya. Motivasi dapat berupa tugas atau pekerjaan yang betul-betul menantang serta memberikan peluang untuk terlibat suatu proses kreatif, memberikan usulan mengambil keputusan dalam pemecahan masalah
Gambar 4
Rapat Pembentukan Tim Kerja Internal.
Tanggal : 26 Juli 2021
24 c. Maksud dan Tujuan
Setelah terbentuk Tim, selanjutnya pada minggu pertama bulan Agustus melakukan koordinasi dengan pihak pengembang IT (informasi dan teknologi) untuk perencanaan aplikasi. Hasil dari kegiatan tersebut adalah tersampaikannya maksud dan tujuan pembuatan aplikasi dan unsur-unsur yang ada dalam aplikasi tersebut dalam bentuk TOR Aplikasi Siaga Trantib yaitu agar terciptanya akses yang cepat untuk jejaring sosial dan mampu mengurangi kelemahan-kelemahan dalam menangani pengaduan dari kabupaten/kota karena akses yang jauh. Aplikasi ini juga mempermudah percepatan pengaduan dari masyarakat. Dalam kegiatan ini juga dibahas tentang fitur apa saja yang akan dimasukkan dalam aplikasi tersebut (data terlampir).
Gambar 5
Maksud dan Tujuan Pembuatan Aplikasi Tanggal : 2 Agustus 2021
25 d. Pembuatan Aplikasi
Pada tahapan ini tim eksternal/tim pengembang IT bersama dengan action leader bersama-sama membuat design/rancangan aplikasi berdasarkan maksud dan tujuan, serta unsur-unsur atau konten apa yang ada dalam aplikasi, kemudian dilanjutkan dengan membangun aplikasi Siaga Trantib (Sitrab) yang merupakan inovasi dalam menunjang kinerja organisasi Satuan Polisi Pamong Praja Daerah Provinsi Sulawesi Utara. Inovasi atau kemampuan untuk menghasilkan ide-ide baru, mengimplementasikan ide baru yang bermanfaat. Oleh karena itu dituntut pemimpin yang mampu berinovasi dan menyesuaikan dengan perkembangan teknologi informasi. Berkaitan dengan hal ini pemimpin transformasional harus mampu merespons perubahan tanpa mengorbankan rasa percaya dan tim kerja yang sudah dibangun. Perubahan dalam hal ini bukan sekedar perubahan, namun perubahan yang inovatif.
Gambar 6
Membangun Aplikasi Siaga Trantib. Tanggal : 18 - 20 Agustus 2021
26 e. Sosialisasi
Setelah aplikasi terbangun, langkah selanjutnya adalah melaksanakan publikasi di internal maupun eksternal tentang adanya layanan dan fasilitas aplikasi Sitrab kepada stakeholder terkait . Publikasi ini penting mengingat aplikasi ini menjadi suatu hal yang baru dan belum diketahui publik sebelumnya. Keberhasilan publikasi dengan menerangkan kemudahan-kemudahan suatu inovasi akan sangat berpengaruh terhadap mobilitas dan antusiasme stakeholder dalam menggunakan aplikasi di masa-masa yang akan datang. Sosialisasi ini dilakukan di internal Satpol PP Daerah Prov. Sulut juga pada stakeholder eksternal yaitu Satpol PP Kota Manado pada tanggal 2 September 2021.
Gambar 7
Sosialisasi Internal dan Eksternal tentang Aplikasi Siaga Trantib Tanggal : 2 September 2021
27 2. Pengelolaan Budaya Kerja
Tantangan yang dihadapi aparatur di Satpol PP saat ini cukup besar mengingat masih banyaknya para pemimpin serta aparatur yang ada masih abai terhadap nilai-nilai moral dan budaya kerja. Untuk itu perlu segera diwujudkan budaya kerja aparatur di Satuan Polisi Pamong Praja Daerah Prov. Sulut untuk mewujudkan kesejahteraan dan memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat.
Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 78 Tahun 2018 tentang Pengembangan Budaya Kerja di Lingkungan Kementerian Dalam Negeri menjelaskan Budaya Kerja adalah suatu komitmen atas sikap perilaku ASN, yang didasari nilai budaya kerja dalam upaya membangun sumber daya manusia, proses kerja, dan hasil kerja yang lebih baik.
Nilai budaya kerja adalah pilihan nilai moral dan etika meliputi nilai sosial budaya positif yang relevan, norma atau kaidah, etika dan nilai kinerja produktif yang bersumber dari pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Nilai budaya kerja meliputi:
1) Profesional; merupakan nilai budaya kerja dalam menjalankan tugas sesuai dengan keahlian, keterampilan dan pengetahuan untuk mencapai kinerja terbaik.
2) Integritas; merupakan nilai budaya kerja membangun kepercayaan dengan kejujuran dan tanggung jawab
3) Disiplin; merupakan nilai budaya kerja untuk kesanggupan melaksanakan kode etik kepegawaian ASN, serta kewajiban sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
4) Inovatif; merupakan nilai budaya kerja yang menjadi motivasi bagi ASN untuk melakukan pembaharuan kearah yang lebih baik.
28
5) Pelayanan; merupakan nilai budaya kerja pada pemenuhan kebutuhan aktifitas organisasi
6) Sinergitas. merupakan nilai budaya kerja yang membangun dan memastikan kerja sama internal yang produktif.
Triguno (1997:3) mendefinisikan budaya kerja organisasi sebagai sebuah perilaku pengelolaan administrasi sebuah organisasi yang menghasilkan pengembangan, proses produksi barang serta jasa pelayanan yang berkualitas dalam arti optimal, ekonomis, memuaskan dan bermanfaat. Tujuan utama budaya kerja adalah untuk mengubah sikap dan perilaku aparatur agar bisa meningkatkan produktifitasnya dalam menghadapi berbagai masalah yang akan datang (Fernandez, 2006).
Sebagai sebuah upaya transformasi nilai-nilai kepemimpinan, peningkatan layanan melalui proses digitalisasi, diantaranya:
1. Kreativitas dan Kepekaan
Kreativitas seringkali muncul karena adanya kepekaan terhadap kebutuhan inovasi dalam sebuah lini kerja yang dirasa kurang efektif dan efisien. Usaha-usaha untuk mewujudkan layanan yang lebih baik seringkali mengilhami munculnya inovasi.
Pengembangan digitalisasi layanan Aplikasi Sitrab ini muncul karena adanya kepekaan akan fenomena pelaksanaan proses penyusunan dan pengolahan data ketertiban umum dan ketentraman masyarakat yang cenderung tidak terorganisir, data yang tidak terdokumentasikan dengan baik. Lewat Aplikasi Sitrab kecenderungan ini bisa jauh diminimalisasi.
2. Ketepatan dan Kecepatan
Salah satu nilai positif yang ditawarkan oleh teknologi digital adalah ketepatan dan kecepatan. Di dalam aplikasi Sitrab yang dikembangkan, nilai-nilai tersebut makin bisa dipenuhi. Melalui aplikasi tersebut, data yang masuk langsung di proses dengan cepat dan tepat.
3. Penguasaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Salah satu tugas kepemimpinan adalah mendorong adanya peningkatan dan penguasaan keterampilan. Di masa di mana penguasaan teknologi digital menjadi suatu hal yang mutlak dimanfaatkan dalam layanan publik, keharusan penguasaan teknologinya oleh aparatur pemerintahan menjadi hal yang tak terhindarkan. Adanya teknologi digital aplikasi Sitrab ini ini akan mendorong aparatur pemerintahan untuk belajar baik di sisi teori maupun praktik.
29 3. Membangun Jejaring dan Kolaborasi
Kesuksesan lembaga atau organisasi masih sangat bergantung pada keberhasilan menciptakan jejaring kerja (networking). Dengan kata lain, menjalin hubungan sosial dengan siapa pun menjadi bagian penting dalam segala aktivitas kehidupan setiap organisasi. Menjaga hubungan jejaring kerja adalah salah satu kegiatan penting dalam berorganisasi yang diwujudkan dengan melakukan koordinasi dan kolaborasi antar bagian dari satu organisasi atau dengan organisasi lain. Lewat kerja berjejaring ini diharapkan akan memudahkan setiap individu mengatasi masalah untuk tujuan bersama.
Pengertian jejaring kerja menurut Wayne E. Baker ( 1994 ) adalah proses aktif membangun dan mengelola hubungan-hubungan yang produktif baik personal maupun organisasi. Pendapat lainnya menyatakan bahwa jejaring kerja merupakan suatu sistem informasi yang terdiri dari manusia, data, perangkat lunak (software), perangkat keras (hardware) dan jaringan itu sendiri (O’Brien, 1999). Sedangkan Nazir Harjanto (2002) menyatakan jejaring kerja sebagai wadah baik formal maupun informal yang memfasilitasi pertemuan kelompok atau komunikasi diantara pihak-pihak yang berkepentingan untuk menemukan pemecahan masalah dan kebutuhan informasi untuk kepentingan semua pihak.
Dari pengertian di atas, dapat disimpulkan kerja kepemimpinan di bidang trantib bisa difungsikan dengan maksimal jika tercipta komunikasi dan kerjasama yang efektif efisien di antar lini-lini pemerintahan, antar-aparatur, maupun antara aparatur dengan stakeholder pemanfaat layanan seperti gambar di bawah ini:
Keterangan:
GAMBAR 8 : PETA JEJARING KERJA
30
Pada gambar diatas dapat dijelaskan bahwa Kepala Bidang Ketertiban Umum dan Ketentraman Masyarakat selaku Action Leader mampu bekerja sama dan berkolaborasi, baik dengan stakeholder internal maupun stakeholder eksternal untuk melakukan perubahan dalam meningkatkan kinerja organisasi. Upaya yang dilakukan dalam bentuk konsultasi, koordinasi, instruksi secara hirarki dan kerjasama dengan menggunakan strategi komunikasi yang efektif sehingga stakeholder yang sebelumnya kurang mendukung pada akhirnya bisa mendukung aksi perubahan ini dan ikut terlibat. Dampak dari kolaborasi dan kerjasama ini bisa menghasilkan satu produk berupa Aplikasi Siagat Trantib.