pemerintah, terutama untuk masyarakat di daerah pedesaan. Minimnya pengetahuan tentang kesehatan bagi masyarakat desa, merupakan pemandangan yang sering dianggap biasa, khususnya kesehatan para lansia, anak balita, dan ibu hamil. Persoalan kesehatan yang sering menjadi perhatian saat ini adalah permasalahan yang dihadapi masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan saja. Terbengkelainya pelayanan kesehatan di desa dapat terjadi akibat beberapa faktor, di antaranya kondisi geografis dusun tempat tinggal yang jauh dari pusat pelayanan kesehatan dan pendidikan yang masih rendah. Persoalan pendidikan maupun kesehatan yang sering terabaikan juga disebabkan oleh karena mayoritas penduduk desa adalah buruh tani, yang kebanyakan mereka selalu disibukkan oleh persoalan mencari nafkah.
Pasar desa sebagai pusat e konomi dan pemberdayaan masyarakat pedesaan
Pasar desa akan menguntungkan bagi peningkatan ekonomi rakyat dan pendapatan desa, sekalipun proses ekonomi tidak serta merta hanya terjadi di dalam pasar. Di era kapitalisme yang dibarengi dengan pesatnya kemajuan teknologi seperti yang berkembang sekarang ini, di mana pun akan sangat mudah melakukan transaksi ekonomi. Namun, yang membedakan kegiatan ekonomi tersebut dengan pasar di desa adalah potensi sosial yang sangat besar di balik adanya pasar desa tradisional. Di pasar tradisional desa ada hubungan kekerabatan di antara warga, munculnya solidaritas dan kebersamaan yang tidak akan ditemui di pasar-pasar modern. Interaksi konstruktif yang unik dalam suasana pasar desa yang khas tersebut, dapat menjadi sarana transfer pengetahuan dan pendidikan, yang pada gilirannya diharapkan dapat memicu kesadaran diri untuk berperan aktif membangun masa depan yang lebih baik. Satu hal yang tidak boleh dilupakan dalam rangka membangun desa adalah pendekatan yang kita gunakan. Jika kemandirian masyarakat desa yang diharapkan, maka jelas pendekatan yang diterapkan haruslah berupa pendekatan edukatif. Dalam pendekatan ini ujung tombaknya adalah gerakan pemberdayaan, yang memiliki tiga mata tombak , yaitu konseling, kunjungan rumah, dan pengorganisasian masyarakat. Ketiga mata tombak ini
pada hakikatnya adalah upaya memfasilitasi proses pemecahan masalah dalam diri sasaran/klien. Pemberdayaan itu tidak dilakukan secara serta-merta, melainkan secara berjenjang. Para petugas kesehatan dan petugas lintas sektor terkait memberdayakan pemuka-pemuka masyarakat, yang disusul dengan gerakan para pemuka masyarakat untuk memberdayakan unsur-unsur masyarakat (yaitu kader), dan akhirnya para kader bergerak memberdayakan seluruh masyarakat. Pendekatan edukatif memerlukan kesabaran dan ketangguhan dari para petugas (penggerak), karena mereka harus mengawal proses secara berkelanjutan hingga tercapainya kemandirian masyarakat. Di jajaran kesehatan, penggerak awal adalah para petugas di Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, Rumah Sakit, serta Puskesmas dan jaringannya.
Konsep Desa Siaga, sebenarnya sudah memfasilitasi penggerakan dan pemberdayaan masyarakat melalui Forum Kesehatan Desa (FKD). Pengembangan Desa Siaga berarti juga pengembangan kapasitas Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota, Rumah Sakit, Puskesmas dan jaringannya. Oleh sebab itu terwujudnya Desa Siaga, perlu dipercepat sebagai salah satu upaya membuat rakyat sehat, namun sebaiknya juga diingat bahwa percepatan tersebut memerlukan ”modifikasi” konsep implementasinya agar lebih membumi dan mudah diterapkan secara terukur. Bila sudah tercipta permintaan masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya sendiri maka terwujudnya desa siaga hanyalah masalah waktu.
Metode ”Tumpang Sari” membuat desa menjanjikan harapan
Pasar Desa yang merupakan tempat transaksi jual-beli hasil rakyat di desa, jelas berpotensi menjadi titik-tolak peningkatan ekonomi berbasis kerakyatan, kekerabatan. Bila dikelola secara baik dengan pendekatan yang pas, maka banyak hasil yang bisa diraih lebih dari nilai ekonomis saja. Transfer pengetahuan dan pendidikan dari para kader desa yang berperan aktif di pasar desa, membuat masyarakat desa lebih nyaman menerima informasi tanpa merasa di gurui, oleh karena proses transfer tersebut berlangsung sederhana, kekeluargaan dan mudah dimengerti.
Kesadaran untuk selalu produktif, memerlukan kesehatan yang prima, kebiasaan berperilaku bersih dan sehat akan menjadi kebutuhan agar tidak sakit, dan membutuhkan biaya untuk penyembuhannya. Upaya promotif dan preventif ini dapat dimulai oleh siapa saja, kapan saja, dan dimana saja, baik di tingkat individu, keluarga maupun masyarakat. Dengan demikian masyarakat ditempatkan sebagai pusat perhatian pemeliharaan kesehatan. Satu kegiatan pokok, yang dapat diikuti oleh kegiatan lain pada waktu yang bersamaan dan dapat bersimbiose mutualisma, agar dapat menghasilkan multi manfaat tampaknya membuat desa dapat menjanjikan harapan kehidupan masa depan yang lebih baik, utamanya bagi kaum muda desa. ”Tumpang Sari” yang biasa kita kenal dalam bercocok tanam, ternyata bisa pula kita gunakan sebagai pendekatan untuk bercocok tanaman harapan melalui pasar desa. (Rizki)
H
ampir biasa terlihat di bangku panjang ruang tunggu Puskesmas, sederetan pasien dengan penampilan seadanya sangaat sabar menunggu diperiksa. Bila diteliti lagi, sebenarnya sederhana saja keinginan mereka, ingin cepat dilayani, cepat sembuh, cepat dapat mencari nafkah lagi, namun tetap dengan biaya terjangkau. Jadi tidak banyak atribut pelayanan yang dituntut. Namun tampaknya saat ini masyarakat sudah berubah, masyarakat tidak mau lagi dilayani seadanya dan tidak manjur. Puskesmas dituntut lebih berfokus pada kepentingan pasien dan keamanan pelayanannya.Puskesmas Saat Ini?
Bagaimana sesungguhnya Puskesmas dicitrakan saat ini?Tempat berobat berupa gedung denganperalatan yang kumuh? Hanya mengobati PUSing KESeleo MASuk angin? Obat yang diberikan hanya itu-itu saja? Tempat berobat masyarakat miskin? Antrenya lama? Mungkin masih banyak lagi komentar yang ada di benak orang tentang Puskesmas.
Pengamatan yang dilakukan oleh dr. Musyidah di Bireun Nangroe Aceh Darussalam (NAD) bersama WHO tahun 2005 menunjukkan harapan pengguna Puskesmas: