• Tidak ada hasil yang ditemukan

selama 140 tahun (1685-1825) Dan berkat tradisi dokumentas

Dalam dokumen Mediakom Edisi 35 April 2012 - [MAJALAH] (Halaman 62-64)

barat yang maju, cerita tentang

malaria itu menyeruak dalam

berbagai laporan sejarah.

K

ita bisa berkaca, atau memilih memalingkan muka. Atau di antara keduanya. Berkaca, tapi tidak menangkap refl eksinya: malaria kokoh bercokol hingga kini, meski pengalaman dan pengetahuan telah memeranginya berabad-abad; Meski World Health Assembly telah menggalang komitmen global eliminasi malaria bagi setiap negara; Meski presiden Sukarno telah mencanangkan

pembasmian malaria dengan penyemprotan di sebuah rumah di Yogyakarta pada 12 November 1959 dan membentuk Komando Pembasmian Malaria (KOPEM); Meski saat ini Gerakan Berantas Kembali Malaria (Gebrak Malaria) yang diprakarsai Kementerian Kesehatan menargetkan eliminasi malaria pada 2030.

Endemisitas, Pe-eR bersama yang tak mudah

“Di sini standar pemeriksaannya kalau ada pasien panas, pasti typhoid atau malaria,” demikian Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu, dr. Zulman Zuri Amran, menggambarkan endemisitas malaria di daerahnya. Sedikit berkelakar, tetapi mewakili kondisi sesungguhnya. Penegasan yang sama diberikan oleh petugas kesehatan di Puskesmas maupun rumah sakit, bahkan kader. Malaria adalah hal biasa. Yuyun, seorang sopir mobil sewaan yang mengenal seluruh wilayah Bengkulu seperti mengenal urat nadinya, berujar sangat yakin, “rata-rata penduduk Bengkulu pasti kena malaria.”

dr. Zulman Zuri Amran

Menurut data Subdit Malaria Ditjen P2PL Kementerian Kesehatan, tujuh dari sepuluh kabupaten/kota di Bengkulu endemis malaria. Lima diantaranya memiliki Annual Parasite Incidence (API) yang lebih tinggi dari rata-rata Indonesia yang 1,75/1000 penduduk. Kabupaten Bengkulu Utara dan Muko-muko bahkan tercatat memiliki API lebih dari 5/1000 penduduk (endemis tinggi), disamping Kota Bengkulu, Kab Seluma dan Kab Bengkulu Tengah yang masuk kategori endemis sedang (1-5/1000 penduduk). Tentu tak mudah menekan API hingga batas minimum. Pengalaman di berbagai negara menunjukkan bahwa faktor komitmen seluruh komponen masyarakat dan pemerintah menjadi sangat menentukan dalam keberhasilan pengendalian malaria. Kondisi faktor ini bervariasi antar daerah, dan tak jarang menjadi batu sandungan yang sangat berat dalam mengungkit beban malaria. Tak heran pemerintah mengangkat pamor Forum Nasional Gebrak Malaria dalam acara pengukuhan yang dihadiri Wakil Presiden Boediono dan Princess Astrid dari Belgia yang merupakan duta malaria dunia pada rangkaian peringatan Hari Malaria Sedunia 2012.

Bengkulu mungkin termasuk daerah yang masih harus mengencangkan mata rantai kemitraan untuk menggebrak kekokohan kerajaan malaria di provinsi pantai barat sumatera ini. Dukungan program hibah Global Fund yang akan berakhir setahun lagi, Perda eliminasi malaria yang belum terealisasi, pengetahuan masyarakat yang belum tepat, adalah sebagian isyarat panggilan darurat untuk bekerjasama. Meskipun anggaran malaria dari APBD kabupaten/kota belum menjanjikan, namun secercah harapan tetap ada. “Ada kabupaten yang menggunakan dana PNPM Mandiri untuk pelatihan petugas malaria. Ada beberapa inisiatif lokal, meskipun tidak terus menerus,” Susilawati, Kasi Penanggulangan Penyakit Dinkesprov Bengkulu yang juga Pengelola Program Global Fund mencoba optimis.

Tradisi Obat Segitiga

Yuyun tidak ingat kapan pertama kena malaria, tapi yang pasti, “sampai sekarangpun masih kambuh-kambuh.” Seperti yang lainnya, pria usia 40an ini tak perlu ke sarana kesehatan untuk berobat jika malaria menyerang. “Saya sudah tahu, kalau meriang-

meriang, saya langsung minum obat.” Bapak tiga anak ini bahkan paham obat apa yang lebih tepat untuk dirinya, “saya sudah tahu kalau beli obat yang segitiga itu, apa namanya, resochin atau riboquin itu, saya sudah tidak mempan. Dosis saya sudah lebih tinggi, fansidar. Fansidar itu isinya tiga, saya minum dua dulu. Berkeringat langsung badan, nggak sempat merasuk ke darah. Istirahat sehari dua hari, sudah itu sehat.”

Menurutnya fansidar tak mudah ditemukan di warung, tetapi mudah di toko obat. Obat segitiga, seperti yang disebutnya, memang sangat dikenal masyarakat dan tersedia di warung manapun. Dokter Zulman juga menyebut obat segitiga sebagai obat malaria yang populer dan biasa digunakan masyarakat. Pengobatan malaria sebenarnya tidak boleh dilakukan dengan asal-asalan. Bisa menimbulkan resistensi dan tidak tuntasnya pengobatan. Obat yang sekarang digunakan dalam program pembebasan malaria adalah Artemisinin-based Combination Therapy (ACT). Namun soal pengobatan ini nampaknya juga tak semudah membalik telapak tangan. Selain berhadapan dengan kemudahan dan kemujaraban tradisi ‘obat segitiga’ yang mengakar, petugas kesehatan pun tak selalu dapat diyakinkan. Seorang bidan di Puskesmas Sri Kuncoro, Bengkulu Tengah memberi alasan, “Kalau ACT kami tidak berani kasih. Takut. Ada yang pingsan. Kita dengar dari teman waktu pelatihan.” Bidan yang lain menimpali, “Dulu kita pakai malarex, ada keluhan. Sekarang diganti, sama saja.” Para ujung tombak kesehatan ini melanjutkan pendapatnya, “Kita di Puskesmas pakai ACT, tapi di rumah sakit belum pakai. Jadi kita di sini masih pakai chloroquin. Masih ampuh kok.”

Subdit Malaria yang dikonfi rmasi membenarkan situasi yang masih banyak terjadi tersebut. “Kami memperhatikan setiap masukan dan temuan dari lapangan. Kami menjelaskan dan membantu memberikan solusi kepada mereka. Di Bengkulu kami juga sedang membahas soal diagnosis dan pengobatan malaria bersama IDI dan dokter penyakit dalam.”

Meski banyak perniknya, problem dalam aspek yang berbeda, untaian harus berujung pada eliminasi malaria.

M

eskipun pengeringan gurita berjajar sepanjang jalan, namun potensinya konon baru sekelumit tergarap. Pemkab Kaur berencana menggenjot potensi gurita, juga cakalang yang secara musiman berimigrasi dari laut Australia ke Kaur, menjadi salah satu komoditas andalan ekonomi Kaur yang akan dikelola secara modern. Namun untuk saat ini, Kaur meletakkan pembangunan infrastruktur dalam prioritas teratas. Akses jalan diperluas, zona wilayah ditata cermat, investor digaet. Bahkan

Dalam dokumen Mediakom Edisi 35 April 2012 - [MAJALAH] (Halaman 62-64)

Dokumen terkait