• Tidak ada hasil yang ditemukan

Membangun Perdamaian Pendidikan

Dalam dokumen Agama dalam Pilkada Serentak (Halaman 36-38)

dapat memutus rantai

prasangka dan konflik.

Mereka percaya bahwa

perdamaian merupakan

hasil dari pendidikan yang

sempurna. Bagi mereka,

pendidikan yang baik akan

menghasilkan manusia-

manusia yang berakal, dan

bukan orang-orang yang

bernafsu kekerasan, the best

life is lived according to the

higest vertue.

PERSOALAN penting yang harus diperhatikan dalam pengemban- gan pendidikan adalah masalah pilihan pendekatan yang digunakan.

Pendidikan haruslah menyentuh

aspek mendasar keterbelengguan

pikiran, sebagai sumber utama konflik

kekerasan, disinilah diperlukan pen- didikan untuk perdamaian.

Pendidikan untuk perdamaian men-

jadi sarana pembebasan, seperti ditekankan oleh Freire, penting dijadi-

kan titik tolak acuan. Elise Boulding

(dalam Burhanuddin, 2003) menye- but model pendidikan ini sebagai strategi mengubah sistem kekerasan di masyarakat (uncivilzed society)

dengan bertitik tolak dari peruba- han kesadaran budaya damai warga masyarakat sipil (civic culture) sebagai

lawan dari prilaku dogmatis.

Pemaksaan kehendak dan cara

berpikir yang bisa berbuntut pada

kekerasan adalah akibat dari ketidak- mampuan subjek untuk bersikap kri-

tis terhadap keyakinan- keyakinannya sendiri. Ketidakmampuan berpikir kri-

tis pada akhirnya berbuah kekerasan, sehingga bukan tidak mungkin situasi

damai saat ini adalah suatu bentuk

konflik laten yang suatu saat dapat menjadi konflik terbuka kembali.

Menurut Dewey dalam Jacoby

(2008), imbas negative berupa pe- maksaan kehendak dan kekerasan

menjadi mudah dipahami ketika

keyakinan-keyakinan irasional pada

tingkat tertentu berubah menjadi

kekuatan tak kelihatan yang secara konstan mengendalikan subjek didik dan memaksanya tunduk tanpa memberi ruang berkembangnya sikap

Oleh Kuriake Karismawan

KUB

Melalui

Membangun Perdamaian

Pendidikan

KUB

rasional. Hal ini nampak dari resist- ensi responden untuk menjalin perte- manan dengan siswa lain yang berbe- da agama dengan memberikan label

negatif pada agama lain. Seseorang

yang terkolonisasi oleh keyakinan- keyakinan idak rasional pada akhirnya kehilangan kemampuan distansi, kemampuan yang memungkinkan

seseorang tidak begitu saja tunduk pada dorongan-dorongan instingtual

irasional.

Keterlibatan Masyarakat dan

Pemerintah dalam Pendidikan Perdamaian

Kontribusi masyarakat dalam hal ini salah satunya dapat melalui ide pendidikan pembebasan sebagaima-

na yang digulirkan Romo Mangun,

yakni model sekolah tanpa dinding. Konsep sekolah tanpa dinding, anak- anak sebagai subjek didik dari pen- didikan non formal dilibatkan untuk menjadi manusia merdeka dengan menjadi manusia eksplorator, yakni suka mencari, bertanya, berpetu- alang dan punya keyakinan bahwa manusia yang bertanya jauh lebih

tinggi kualitasnya daripada manusia

yang pintar menjawab suatu pertan- yaan.

Yang kedua adalah manusia kreatif,

yakni menjadi pembaharu, berjiwa

terbuka, kritis, kaya imajinasi dan fantasi, tidak mudah menyerah pada nasib, dan yang ketiga menjadi

manusia integral, yakni sadar akan

multidimensional kehidupan, paham akan kemungkinan jalan alternatif,

mampu membuat pilihan yang benar

atas pertimbangan yang benar, yakin

akan kebhinekaan kehidupan namun mampu mengintegrasikannya da- lam suatu kerangka yang sederhana (Mangunwijaya, 2004).

Kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan akan menjadi pondasi bagi perubahan dalam kemerdekaan berpikir. Hal yang pertama adalah mengubah paradigma, paradigma pedagogis menjadi paradigma dia- logis. Dalam paradigma dialogis

terdapat kesetaraan. Pola – pola pengajaran yang bersifat antidialog

umumnya memberikan kontribusi yang memunculkan adanya kekerasan dalam proses belajar - mengajar.

Proses belajar mengajar yang bersifat antidialog akan memposisikan guru

sebagai atasan dan siswa sebagai bawahan, unsur senioritas sangat dominan dalam model pendidikan

yang bersifat antidialog. Pendidikan antidialog ialah pendidikan yang tidak

membuka kran komunikasi antara pengajar dengan anak didik, terutama

komunikasi terbuka. Jhon Rawls da- lam Gorsky menyatakan prinsip keadi- lan atau kesetaraan merupakan posisi awal kesamaan dari seseorang yang bebas dan rasional (www. Edchange.

org/multicultural).

Dalam kebebasan untuk berpikir, siswa akan mengembangkan kemam-

puannya untuk berpikir kritis dan ke-

mampuannya berpikir rasional. Pola

berpikir ini akan menjadi pondasi untuk memilah budaya kekerasan dan perdamaian serta menghargai keberagaman. Untuk menciptakan pendidikan yang dialogis, pemerin- tah perlu mendukung dengan ke- bijakan kurikulum, komposisi kelas yang memadai, heterogenitas kelas dan sarana pendukung bagi peruba- han sistem pengajaran serta kualitas pengajar.

Jumlah siswa yang kerap menca-

pai 40-50 anak untuk tiap kelasnya,

membuat proses dialog dalam pen-

didikan menjadi sulit. Proses pen-

didikan tidak memiliki cukup waktu

untuk bertanya maupun berpenda- pat, akibatnya yang terjadi adalah proses pendidikan satu arah. Konsep pendidikan dialogis, menuntut nor- malitas perbandingan jumlah peserta didik dengan guru.

Heterogenitas kelas akan mem- berikan kesempatan interaksi bagi siswa-siswa yang memiliki keberaga- man agama dan suku. Interakasi yang

timbul diantara siswa akan meng- konfrontasikan prasangka yang ada dengan realita, selain hak tersebut

keberagaman latar belakang siswa akan mendidik anak menghargai kebhinekaan.

Penutup

Memberikan kesadaran kritis pada orang lain berarti memberi kesem- patan bagi orang lain untuk berani mempertanyakan sesuatu yang di- terima. Suatu tantangan besar, bagi manusia yang cenderung menyukai kemapanan berpikir dan pengulan- gan.

Prasangka akan menghasilkan kek- erasan, dan kekerasan akan mem- perkuat prasangka. Simbiosisme prasangka dan kekerasan akan terputus, jika pendidikan yang ber- potensi sebagi sumber kekerasan, diubah menjadi pendidikan yang membebaskan. Sistem pendidikan yang baik dapat menjadi pondasi bagi pendidikan untuk perdamaian. Suatu pendidikan yang mengajar- kan kemampuan berpikir kritis dan kesetaraan, mulai dari tataran kebi- jakan hingga pada perubahan kuali- tas pengajar.

Kita dapat berkontribusi untuk me- matahkan prasangka dan kekerasan, dengan menjadi model yang baik

bagi siswa dan melatih siswa un- tuk menjadi pribadi otonom. Kunci utama agar siswa dapat menjadi subyek yang otonom adalah dengan cara mengembangkan kesadaran

kritisnya. Disinilah pendidik dapat

berkontribusi dalam membangun perdamaian di Indonesia, dengan mendidik siswa untuk berpikir kri-

tis. Pendidikan yang menstimulasi berpikir kritis adalah pendidikan

perdamaian yang sesungguhnya.

Pendidikan semacam ini akan membuat masyarakat tidak mudah

terprovokasi dan mampu melihat indahnya keberagaman. (*)

Penulis adalah pengajar di Fakultas Psikologi Unika Soegijapranata dan kepala Pusat Pemulihan Trauma. Pernah menjadi konsultan untuk program per- damaian dan pemulihan trauma di berbagai lembaga

nirlaba (Mennonite Central Committe, Pusat Studi Pengembangan dan Perdamaian UKDW, American Friend Service Committe, Handicap International, ChildFund dan Wahana Visi Indonesia).

Dalam dokumen Agama dalam Pilkada Serentak (Halaman 36-38)

Dokumen terkait