dapat memutus rantai
prasangka dan konflik.
Mereka percaya bahwa
perdamaian merupakan
hasil dari pendidikan yang
sempurna. Bagi mereka,
pendidikan yang baik akan
menghasilkan manusia-
manusia yang berakal, dan
bukan orang-orang yang
bernafsu kekerasan, the best
life is lived according to the
higest vertue.
PERSOALAN penting yang harus diperhatikan dalam pengemban- gan pendidikan adalah masalah pilihan pendekatan yang digunakan.
Pendidikan haruslah menyentuh
aspek mendasar keterbelengguan
pikiran, sebagai sumber utama konflik
kekerasan, disinilah diperlukan pen- didikan untuk perdamaian.
Pendidikan untuk perdamaian men-
jadi sarana pembebasan, seperti ditekankan oleh Freire, penting dijadi-
kan titik tolak acuan. Elise Boulding
(dalam Burhanuddin, 2003) menye- but model pendidikan ini sebagai strategi mengubah sistem kekerasan di masyarakat (uncivilzed society)
dengan bertitik tolak dari peruba- han kesadaran budaya damai warga masyarakat sipil (civic culture) sebagai
lawan dari prilaku dogmatis.
Pemaksaan kehendak dan cara
berpikir yang bisa berbuntut pada
kekerasan adalah akibat dari ketidak- mampuan subjek untuk bersikap kri-
tis terhadap keyakinan- keyakinannya sendiri. Ketidakmampuan berpikir kri-
tis pada akhirnya berbuah kekerasan, sehingga bukan tidak mungkin situasi
damai saat ini adalah suatu bentuk
konflik laten yang suatu saat dapat menjadi konflik terbuka kembali.
Menurut Dewey dalam Jacoby
(2008), imbas negative berupa pe- maksaan kehendak dan kekerasan
menjadi mudah dipahami ketika
keyakinan-keyakinan irasional pada
tingkat tertentu berubah menjadi
kekuatan tak kelihatan yang secara konstan mengendalikan subjek didik dan memaksanya tunduk tanpa memberi ruang berkembangnya sikap
Oleh Kuriake Karismawan
KUB
Melalui
Membangun Perdamaian
Pendidikan
KUB
rasional. Hal ini nampak dari resist- ensi responden untuk menjalin perte- manan dengan siswa lain yang berbe- da agama dengan memberikan label
negatif pada agama lain. Seseorang
yang terkolonisasi oleh keyakinan- keyakinan idak rasional pada akhirnya kehilangan kemampuan distansi, kemampuan yang memungkinkan
seseorang tidak begitu saja tunduk pada dorongan-dorongan instingtual
irasional.
Keterlibatan Masyarakat dan
Pemerintah dalam Pendidikan Perdamaian
Kontribusi masyarakat dalam hal ini salah satunya dapat melalui ide pendidikan pembebasan sebagaima-
na yang digulirkan Romo Mangun,
yakni model sekolah tanpa dinding. Konsep sekolah tanpa dinding, anak- anak sebagai subjek didik dari pen- didikan non formal dilibatkan untuk menjadi manusia merdeka dengan menjadi manusia eksplorator, yakni suka mencari, bertanya, berpetu- alang dan punya keyakinan bahwa manusia yang bertanya jauh lebih
tinggi kualitasnya daripada manusia
yang pintar menjawab suatu pertan- yaan.
Yang kedua adalah manusia kreatif,
yakni menjadi pembaharu, berjiwa
terbuka, kritis, kaya imajinasi dan fantasi, tidak mudah menyerah pada nasib, dan yang ketiga menjadi
manusia integral, yakni sadar akan
multidimensional kehidupan, paham akan kemungkinan jalan alternatif,
mampu membuat pilihan yang benar
atas pertimbangan yang benar, yakin
akan kebhinekaan kehidupan namun mampu mengintegrasikannya da- lam suatu kerangka yang sederhana (Mangunwijaya, 2004).
Kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan akan menjadi pondasi bagi perubahan dalam kemerdekaan berpikir. Hal yang pertama adalah mengubah paradigma, paradigma pedagogis menjadi paradigma dia- logis. Dalam paradigma dialogis
terdapat kesetaraan. Pola – pola pengajaran yang bersifat antidialog
umumnya memberikan kontribusi yang memunculkan adanya kekerasan dalam proses belajar - mengajar.
Proses belajar mengajar yang bersifat antidialog akan memposisikan guru
sebagai atasan dan siswa sebagai bawahan, unsur senioritas sangat dominan dalam model pendidikan
yang bersifat antidialog. Pendidikan antidialog ialah pendidikan yang tidak
membuka kran komunikasi antara pengajar dengan anak didik, terutama
komunikasi terbuka. Jhon Rawls da- lam Gorsky menyatakan prinsip keadi- lan atau kesetaraan merupakan posisi awal kesamaan dari seseorang yang bebas dan rasional (www. Edchange.
org/multicultural).
Dalam kebebasan untuk berpikir, siswa akan mengembangkan kemam-
puannya untuk berpikir kritis dan ke-
mampuannya berpikir rasional. Pola
berpikir ini akan menjadi pondasi untuk memilah budaya kekerasan dan perdamaian serta menghargai keberagaman. Untuk menciptakan pendidikan yang dialogis, pemerin- tah perlu mendukung dengan ke- bijakan kurikulum, komposisi kelas yang memadai, heterogenitas kelas dan sarana pendukung bagi peruba- han sistem pengajaran serta kualitas pengajar.
Jumlah siswa yang kerap menca-
pai 40-50 anak untuk tiap kelasnya,
membuat proses dialog dalam pen-
didikan menjadi sulit. Proses pen-
didikan tidak memiliki cukup waktu
untuk bertanya maupun berpenda- pat, akibatnya yang terjadi adalah proses pendidikan satu arah. Konsep pendidikan dialogis, menuntut nor- malitas perbandingan jumlah peserta didik dengan guru.
Heterogenitas kelas akan mem- berikan kesempatan interaksi bagi siswa-siswa yang memiliki keberaga- man agama dan suku. Interakasi yang
timbul diantara siswa akan meng- konfrontasikan prasangka yang ada dengan realita, selain hak tersebut
keberagaman latar belakang siswa akan mendidik anak menghargai kebhinekaan.
Penutup
Memberikan kesadaran kritis pada orang lain berarti memberi kesem- patan bagi orang lain untuk berani mempertanyakan sesuatu yang di- terima. Suatu tantangan besar, bagi manusia yang cenderung menyukai kemapanan berpikir dan pengulan- gan.
Prasangka akan menghasilkan kek- erasan, dan kekerasan akan mem- perkuat prasangka. Simbiosisme prasangka dan kekerasan akan terputus, jika pendidikan yang ber- potensi sebagi sumber kekerasan, diubah menjadi pendidikan yang membebaskan. Sistem pendidikan yang baik dapat menjadi pondasi bagi pendidikan untuk perdamaian. Suatu pendidikan yang mengajar- kan kemampuan berpikir kritis dan kesetaraan, mulai dari tataran kebi- jakan hingga pada perubahan kuali- tas pengajar.
Kita dapat berkontribusi untuk me- matahkan prasangka dan kekerasan, dengan menjadi model yang baik
bagi siswa dan melatih siswa un- tuk menjadi pribadi otonom. Kunci utama agar siswa dapat menjadi subyek yang otonom adalah dengan cara mengembangkan kesadaran
kritisnya. Disinilah pendidik dapat
berkontribusi dalam membangun perdamaian di Indonesia, dengan mendidik siswa untuk berpikir kri-
tis. Pendidikan yang menstimulasi berpikir kritis adalah pendidikan
perdamaian yang sesungguhnya.
Pendidikan semacam ini akan membuat masyarakat tidak mudah
terprovokasi dan mampu melihat indahnya keberagaman. (*)
Penulis adalah pengajar di Fakultas Psikologi Unika Soegijapranata dan kepala Pusat Pemulihan Trauma. Pernah menjadi konsultan untuk program per- damaian dan pemulihan trauma di berbagai lembaga
nirlaba (Mennonite Central Committe, Pusat Studi Pengembangan dan Perdamaian UKDW, American Friend Service Committe, Handicap International, ChildFund dan Wahana Visi Indonesia).