• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemeriksaan sampel. Untuk memeriksa sampel.

Air.

Alat. Alat yang digunakan pada pemeriksaan sampel kerang adalah :

1. spektrofotometri serapan atom (SSA) 2. Gelas kimia

3. Labu takar 50 ml 4. Erlenmeyer 100 ml 5. Corong

6. Botol sampel 7. Pipet tetes 10 ml 8. Kompor elektrik

9. Kertas saring whatmann 41

Bahan. Bahan yang digunakan pada pemeriksaan sampel kerang adalah:

1. Sampel Air

47

2. Aquades 50 ml

3. larutan asam nitrat pekat (HNO3) 10 ml 4. larutan standar timbal (Pb) 10 ml

Kerang.

Alat. Alat yang digunakan pada pemeriksaan sampel kerang adalah :

1. Spektrofotometer Serapan Atom (SSA) 2. Blender/ homogenizer

3. Timbangan analitik (Adventure ohaus) 4. Mikropipet 10 ml dan 200 ml

5. Labu takar 50 ml dan 100 ml 6. Tanur

7. Hot plate 8. Krus porselen

9. Gelas-gelas laboratorium

Bahan. Bahan yang digunakan pada pemeriksaan sampel kerang adalah:

1. Daging kerang 100 gr 2. Larutan asam nitrat (HNO3) 3. akuademineralisata

4. Larutan standar sekunder pertama Pb 10 ppm 5. Larutan standar sekunder kedua Pb 1 ppm

Prosedur pemeriksaan sampel. Prosedur pemeriksaan sampel yaitu.

Air.

Proses destruksi. Sampel dalam botol sampling dipipet sebanyak 10 ml dan dimasukkan kedalam labu erlenmeyer, lalu ditambahkan (aquadest) sebanyak

90 ml, kemudian ditambahkan larutan HNO3 sebanyak 5 ml dengan menggunakan pipet tetes. Selanjutnya sampel dipanaskan dengan menggunakan kompor listrik sekitar 40 menit sampai sampel mengalami pengurangan volume sekitar 2 ml. Selanjuntnya sampel didinginkan dan dimasukkan ke dalam labu ukur dengan menyaring menggunakan kertas saring whatmann no 21 hal ini dilakukan agar tidak ada sedimen yang ikut pada sampel tersebut.

Pengukuran sampel. Sampel yang telah didestruksi diambil untuk

dianalisis dengan menggunakan alat Spektrofotometri Serapan Atom (SSA) dengan menambahkan larutan standar timbal (Pb) 10 ml dan akan diperoleh kadar timbal dalam sampel.

Kerang.

Proses detruksi. Sampel dihaluskan terlebih dahulu sampai sampel

homogen dengan menggunakan blender (homogenizer). Kemudian menimbang sampel sebanyak 25 gram menggunakan timbangan analitik (Adventure ohaus) dalam krus porselen, diarangkan di atas hot plate, lalu diabukandalam tanur dengan temperatur awal 100℃ dan perlahan – lahan temperatur dinaikkan hingga suhu 500℃ dengan interval 25℃ setiap 5 menit. Pengabuan dilakukan selama 72 jam (dihitung saat suhu sudah 500℃), lalu setelah suhu tanur ±27℃, krus porselen dikeluarkan dan dibiarkan hingga dingin. Abu ditambahkan 5 ml HNO3 (1:1), kemudian diuapkan pada hot plate sampai kering. Krus porselen dimasukkan kembali ke dalam tanur dengan temperatur awal 100℃ dan perlahan lahan temperatur dinaikkan hingga suhu 500℃ dengan interval 25℃ setiap 5 menit.

49

Pengabuan dilakukan selama 1 jam dan dibiarkan hingga dingin di dalam tanur (suhu tanur ±27℃).

Pengukuran sampel. Sampel hasil destruksi dilarutkan dalam 5 ml HNO3

(1:1), lalu dipindahkan ke dalam labu takar 100 ml, dibilas krus porselen dengan 10 ml akuademineralisata sebanyak tiga kali dan dicukupkan dengan akuademineralisata hingga garis tanda. Kemudian disaring dengan kertas saring Whatman No. 42 dimana 5 ml filtrat pertama dibuang untuk menjenuhkan kertas saring kemudian filtrat selanjutnya ditampung ke dalam. Kemudian ambil filtrat sampel yang diperoleh sebanyak 10 ml, untuk dilakukan analisis logam Pb menggunakan metode SSA. Data yang diperoleh disajikan dalam bentuk tabel.

Pengukuran kualitatif. Pengukuran kualitatif dilakukan untuk melihat ada

atau tidaknya timbal pada sampel.

1. Reaksi Warna dengan Asam Klorida

Ke dalam tabung reaksi dimasukkan 2 ml larutan sampel, ditambahkan 3tetes asam klorida. Apabila terbentuk endapan putih berarti sampel mengandung timbal.

2. Reaksi Warna dengan Kalium Iodida

Ke dalam tabung reaksi dimasukkan 2 ml larutan sampel, ditambahkan 3 tetes kalium iodida. Terbentuk endapan kuning, jika ditambahkan berlebih larut sampel mengandung timbal.

Pengukuran kuantitatif. Pengukuran kuantitatif dilakukan untuk mengetahui seberapa besar kadar timbal dalam sampel. Larutan sampel

ditambahkan larutan standar timbal akan dimasukkan kedalam spektrofotometri serapan atom (SSA) dan akan diperoleh hasilnya.

Metode Analisis Data

Setelah diperoleh data dari hasil pemeriksaan laboratorium dan penyajian data dalam bentuk tabel dan pembahasan dilakukan secara deskriptif. Kemudian data yang diperoleh akan dibandingkan dengan acuan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.51 Tahun 2004 tentang batas maksimum keberadaan timbal di air laut untuk biota laut dan SNI No. 7387:2009 tentang batas maksimum cemaran logam berat timbal dalam pangan kekerangan (bivalve) moluska dan teripang. Data tersebut juga akan dibandingkan dengan batas asupan harian (ADI) bahan makanan yang tercemar logam berat timbal.

51

Hasil Penelitian

Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Perairan Pantai Kuala Aceh terletak di Kecamatan Tanjung Beringin Kabupaten Serdang Bedagai. Kabupaten Serdang Bedagai merupakan salah satu Kabupaten yang berada di kawasan Pantai Timur Sumatera Utara. Secara geografis Kabupaten Serdang Bedagai terletak pada posisi 2° 57” Lintang Utara, 3° 16” Lintang Selatan, 98° 33” - 99° 27” Bujur Timur dengan ketinggian berkisar 0-500 meter diatas permukaan laut.

Masyarakat sekitar Perairan Pantai Kuala Aceh umumnya memiliki mata pencaharian sebagai nelayan. Perairan tersebut merupakan salah satu penghasil produk laut yang cukup besar. Produk laut yang dihasilkan adalah berbagai jenis ikan, kepiting, udang, cumi-cumi, kerang dan lainnya. Di perairan tersebut aktivitas melaut cukup tinggi dan kapal nelayan yang cukup padat baik yang bersandar ataupun yang sedang dipakai melaut oleh nelayan. Padatnya kapal nelayan menjadi salah satu sumber masuknya timbal ke perairan yang diakibatkan oleh buangan atau tumpahan bahan bakar kapal nelayan. Di dekat perairan tersebut juga terdapat pabrik kelapa sawit yaitu PT. Tanindo Sejati yang dicurigai dapat meningkatkan kadar timbal pada air laut yang disebabkan oleh limbah cair pabrik kelapa sawit (Palm Oil Mill Effluent/ POME).

Masyarakat Perairan Pantai Kuala Aceh merupakan masyarakat daerah pesisir yang memiliki kebiasaan dalam mengonsumsi hasil laut (seafood) sebagai makanan sehari-hari sehingga tingkat konsumsi kerang di masyarakat tersebut cukup tinggi . Hal tersebut dipengaruhi oleh kebudayaan masyarakat sekitar dalam

mengonsumsi hasil tangkapan laut dan mudahnya akses untuk mendapatkan kerang.

Karakteristik Responden

Responden dari penelitian ini adalah nelayan yang mencari kerang di Perairan Pantai Kuala Aceh. Data hasil penelitian yang diperoleh dari 20 nelayan yang terdiri dari jenis kelamin, umur, serta tingkat pendidikan terakhir dapat di uraikan sebagai berikut :

Jenis kelamin. Dari data kuesioner diketahui bahwa seluruh nelayan yang terpilih menjadi responden adalah berjenis kelamin laki-laki yaitu sebanyak 20 orang.

Umur. Berdasarkan tabel 1, diketahui bahwa umur nelayan yang terpilih sebagai responden adalah pada kelompok umur 20-30 tahun sebanyak 8 nelayan (40%), kelompok umur 31-40 tahun sebanyak 8 nelayan (40%) dan kelompok umur 41-50 tahun sebanyak 4 nelayan (20%). Usia termuda nelayan adalah 23 tahun dan usia tertua adalah 50 tahun.

Tabel 1

Tingkat pendidikan terakhir. Berdasarkan tabel 2, diketahui bahwa tingkat pendidikan terakhir nelayan yang terpilih sebagai reponden adalah tidak

53

sekolah sebanyak 11 nelayan (55%) serta tingkat pendidikan terakhir sekolah dasar sebanyak 9 nelayan (45%).

Tabel 2

Distribusi Frekuensi Tingkat Pendidikan Terakhir Nelayan

Tingkat Pendidikan Terakhir n % Kabupaten Serdang Bedagai dapat dilihat melalui tabel berikut ini :

Tabel 3

Kandungan Timbal pada Air Laut Perairan Pantai Kuala Aceh Kabupaten Serdang Bedagai

Sampel Parameter Satuan Hasil Analisis

Timbal (Pb)

Keterangan : < Menunjukkan nilai terkecil dari pengukuran yang didapatkan berdasarkan metode yang digunakan

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa dari pemeriksaan laboratorium diperoleh hasil analisis kandungan timbal pada air laut Perairan Pantai Kuala Aceh di 4 titik kedalaman adalah <0.0015 mg/L. Hasil tersebut masih berada dibawah baku mutu air laut yaitu sebesar 0.005 mg/L.

Hasil Pemeriksaan Timbal pada Kerang Bulu (Anadara Antiquata) di Perairan Pantai Kuala Aceh Kabupaten Serdang Bedagai

Hasil Pemeriksaan timbal pada kerang bulu (Anadara antiquata) di Perairan Pantai Kuala Aceh Kabupaten Serdang Bedagai dapat dilihat melalui tabel berikut ini :

Tabel 4

Kandungan Timbal pada Kerang Bulu (Anadara antiquata) di Perairan Pantai Kuala Aceh Kabupaten Serdang Bedagai

Sampel Parameter Satuan Hasil Analisis Timbal

(Pb) Baku Mutu

Kerang Bulu (Anadara antiquata)

Timbal (Pb) mg/kg 0.04 1.5 mg/kg

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa dari pemeriksaan laboratorium menggunakan metode AAS diperoleh hasil analisis kandungan timbal pada kerang bulu (Anadara antiquata) adalah sebesar 0.04 mg/kg.

Data Hasil Kuesioner Pengetahuan, Sikap dan Konsumsi Nelayan di Perairan Pantai Kuala Aceh Kabupaten Serdang Bedagai

Kuesioner penelitian berisikan pengetahuan, sikap dan konsumsi nelayan terhadap kandungan timbal pada kerang bulu (Anadara antiquata) di Perairan Pantai Kuala Aceh Kabupaten Serdang Bedagai.

Pengetahuan. Tingkat pengetahuan nelayan diukur berdasarkan skor jawaban setiap nelayan tentang segala sesuatu yang diketahui oleh pedagang terkait dengan kandungan timbal pada kerang bulu (Anadara antiquata). Seperti yang dapat dilihat di tabel di bawah ini:

55

Tabel 5

Distribusi Kategori Pengetahuan Nelayan terhadap Kandungan Timbal pada Kerang Bulu (Anadara antiquata)

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa mayoritas nelayan memiliki kategori pengetahuan yang rendah yaitu sebanyak 19 nelayan (95 %) sedangkan yang memiliki kategori pengetahuan yang baik sebanyak 1 nelayan (5

%). Pengetahuan tersebut mengenai kandungan timbal pada kerang bulu (Anadara antiquata).

Sikap. Berikut merupakan gambaran sikap nelayan terhadap kandungan timbal pada dalam kerang bulu (Anadara antiquata).

Tabel 6

Distribusi Kategori Sikap Nelayan terhadap Kandungan Timbal pada Kerang Bulu (Anadara antiquata) yang negatif terhadap kandungan timbal pada kerang bulu (Anadara antiquata) di Perairan Pantai Kuala Aceh Kabupaten Serdang Bedagai yaitu sebanyak 14 nelayan (70 %) dan yang memiliki sikap positif yaitu sebanyak 6 nelayan (30 %).

Hasil tersebut menggambarkan bahwa sebagian besar nelayan tidak mengetahui

(ragu-ragu) apakah kerang bulu (Anadara antiquata) di Perairan Pantai Kuala Aceh sudah mengandung timbal atau belum.

Konsumsi. Berdasarkan data hasil kuesioner ditemukan bahwa keseluruhan nelayan yang terpilih menjadi responden sering dalam mengonsumsi kerang bulu (Anadara antiquata) yang berasal dari Perairan Pantai Kuala Aceh.

Batas maksimum konsumsi mingguan (maximum tolerable intake/

MTI). Berikut merupakan batas maksimum konsumsi kerang bulu (Anadara antiquata) per minggu dengan asumsi berat badan untuk orang dewasa adalah 60

kg. Menurut FAO atau WHO, PTWI bahan makanan yang tercemar logam berat timbal adalah sebesar 0.025 mg/ Kg per minggu

Maximum Weekly Intake (MWI) = BB x PTWI

Distribusi Konsumsi Konsumsi Maksimum Kerang Bulu (Anadara Antiquata) Per Minggu

57

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa nilai PTWI (Provisional Tolerabel Intake Weekly Intake) adalah sebesar 0,025 mg/kg, nilai MWI (Maximum weekly Intake) adalah sebesar 1.5 mg dan nilai MTI (Maximum Tolerable Intake) adalah sebesar 37.5 Kg.

58 Pembahasan

Karakteristik Responden

Berdasarkan data kuesioner, seluruh nelayan yang terpilih menjadi responden adalah berjenis kelamin laki-laki. Hal ini menunjukkan bahwa pada umumnya yang bekerja sebagai nelayan di Perairan Pantai Kuala Aceh adalah laki-laki. Sedangkan yang perempuan pada umumnya bekerja sebagai pengupas cangkang kerang dan lainnya.

Umur nelayan yang terpilih sebagai responden adalah pada kelompok umur 20-30 tahun sebanyak 8 nelayan (40%), kelompok umur 31-40 tahun sebanyak 8 nelayan(40%) dan kelompok umur 41-50 tahun sebanyak 4 nelayan (20%). Usia termuda nelayan adalah 23 tahun dan usia tertua adalah 50 tahun.

Nelayan terbanyak berasal dari kelompok umur 20-30 tahun dan 31-40 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa yang bekerja sebagai nelayan berasal dari semua kelompok umur dan termasuk kedalam usia produktif. Tidak jarang dalam satu keluarga ada beberapa yang bekerja sebagai nelayan yaitu ayah dan anak laki-lakinya.

Tingkat pendidikan terakhir nelayan yang terpilih sebagai reponden adalah tidak sekolah sebanyak 11 nelayan (55%) serta tingkat pendidikan terakhir sekolah dasar sebanyak 9 nelayan (45%).Pendidikan sangat memengaruhi pola fikir dan perilaku seseorang. Nelayan dalam penelitian ini paling banyak adalah tidak bersekolah. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pendidikan nelayan di Prairan Pantai Kuala Aceh masih sangat rendah bahkan masih banyak yang tidak pernah duduk dibangku sekolah. Masyarakat di Perairan pantai kuala Aceh pada

59

umumnya kurang mementingkan dunia pendidikan karena banyak anak-anak usia sekolah sudah ikut bekerja menjadi nelayan demi membantu perekonomian keluarga.

Kandungan Timbal pada Air Laut Perairan Pantai Kuala Aceh Kabupaten Serdang Bedagai

Berdasarkan hasil pemeriksaan logam berat timbal pada air laut, diperoleh hasil bahwa kandungan timbal pada air laut di 4 titik kedalaman masing-masing adalah sebesar <0.0015 mg/L. Berdasarkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 51 tahun 2004 tentang Baku Mutu Air Laut untuk Biota Laut, disebutkan bahwa batas maksimum keberadaan timbal di air laut adalah sebesar 0.005 mg/l. Kandungan timbal dalam air masih jauh di bawah baku mutu yang telah ditetapkan.

Kandungan timbal dalam air laut di Perairan Pantai Kuala Aceh masih tergolong rendah dan dibawah baku mutu. Rendahnya kandungan timbal di dasar perairan dapat disebabkan logam timbal yang masuk kedalam perairan mengalami pengenceran. Logam timbal pada air laut masih dapat bergerak bebas sehingga terjadi pengenceran (Wardani et al, 2014). Rendahnya kandungan timbal dalam air laut bukan berarti rendahnya masukan timbal kedalam perairan namun kadar timbal dapat menurun atau berkurang dikarenakan proses-proses tersebut.

Air laut Perairan Pantai kuala aceh masih dalam batas aman untuk menjadi tempat hidupnya biota laut. Rendahnya kandungan timbal pada air laut juga memungkinkan rendahnya akumulasi logam timbal pada biota-biota laut yang ada didalamnya dikarenakan kondisi perairan sangat memengaruhi biota laut didalamnya.

Hasil penelitian ini juga tidak sesuai dengan penelitian Silalahi (2018) yang dilakukan pada perairan di Kabupaten Serdang Bedagai yaitu perairan tambak Desa Tanjung Rejo, ditemukan kadar timbal pada stasiun I dengan nilai rata-rata 0,032 mg/L, pada stasiun II dan III sebesar 0,041 mg/L yang berarti perairan tersebut sudah melampaui ambang batas berdasarkan Kepmen LH No. 51 tahun 2004.

Logam timbal di Perairan Pantai Kuala Aceh diduga berasal dari berbagai aktivitas manusia dari darat yang bermuara kelaut, buangan limbah pabrik kelapa sawit (POME), buangan atau bocoran bahan bakar minyak kapal nelayan dan limbah rumah tangga. Hasyim (2016), menyatakan bahwa limbah pelumas dan bahan bakar minyak mengandung logam berat timbal. Sumber timbal di Perairan Pantai Kuala Aceh juga dapat berasal dari alam. Timbal dapat masuk ke perairan dengan bantuan air hujan melalui pengkristalan timbal diudara (Nugraha,2009).

Selain itu, Rahmadani et al (2015) menyatakan bahwa proses korofikasi dari batuan mineral juga menjadi salah satu jalan masuknya timbal ke perairan.

Kandungan Timbal pada Kerang Bulu (Anadara Antiquata) di Perairan Pantai Kuala Aceh Kabupaten Serdang Bedagai

Kerang bulu (Anadara antiquata) merupakan salah satu biota laut yang dapat mengakumulasi logam berat dalam tubuhnya. Tingkat akumulasi ini berbeda-beda tergantung pada masukan makanan, siklus hidup, laju pertumbuhan serta kondisi perairan tempat hidupnya (Bryan 1976).

Uji laboratorium dilakukan untuk mengetahui kandungan timbal yang terdapat pada kerang bulu (Anadara antiquata). Berdasarkan hasil pemeriksaan logam berat timbal pada kerang bulu (Anadara antiquata), diperoleh hasil bahwa

61

kandungan timbal pada kerang bulu (Anadara antiquata) adalah sebesar 0.04 mg/kg. Berdasarkan nilai baku mutu yang ditetapkan oleh SNI 7387-2009 tentang krustasea, kandungan timbal yang terdapat pada kerang bulu (Anadara antiquata) masih berada dibawah nilai baku mutu.

Kerang bulu (Anadara antiquata) di Perairan Pantai Kuala Aceh masih dalam kondisi yang belum sangat tercemar oleh logam berat dikarenakan kandungan timbal yang masih rendah dalam tubuh kerang. Hal ini juga disebabkan oleh rendahnya kandungan timbal pada air laut dimana kerang tersebut hidup. Kandungan timbal dalam air sangat memengaruhi kualitas daging kerang dikarenakan kerang sangat berpotensi terkontaminasi logam berat karena hidup membenamkan diri di dalam sedimen (lumpur), memiliki sifat yang menetap, lambat untuk dapat menghindarkan diri dari pengaruh polusi, dan mempunyai toleransi yang tinggi terhadap konsentrasi logam berat (Putri et al, 2012). Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan penelitian Emmawati (2015) yang menyatakan bahwa tingginya kandungan timbal dalam kerang bulu serta lebih tinggi dibandingkan dengan kerang hijau dikarenakan tingginya tingkat akumulasi timbal pada kerang bulu.

Berdasarkan SNI No. 7387:2009 mengenai batas maksimum cemaran logam berat dalam pangan dinyatakan bahwa batas maksimum timbal dalam kekerangan (bivalve) moluska dan teripang adalah 1,5 mg/kg. Oleh karena itu, kerang bulu (Anadara antiquata) masih aman untuk dikonsumsi masyarakat sekitar maupun pembeli dari luar daerah. Meskipun kandungan timbal pada sampel kerang bulu masih dibawah baku mutu yang ditetapkan, namun hal ini

dapat menjadi suatu masalah mengingat logam timbal yang bersifat terakumulasi dalam tubuh. Selain itu timbal juga dapat menyebabkan gangguan kesehatan bagi manusia, seperti gangguan sintesa hemoglobin, gangguan sistem syaraf, gangguan sistem urinaria, gangguan sistem reproduksi, gangguan sistem endokrin, gangguan jantung (Palar,2012).

Gambaran Pengetahuan, Sikap dan Konsumsi Nelayan di Perairan Pantai Kuala Aceh Kabupaten Serdang Bedagai

Gambaran pengetahuan nelayan. Berdasarkan hasil wawancara kuesioner kepada nelayan, nelayan yang memiliki kategori pengetahuan rendah yaitu sebanyak 19 nelayan (95 %). Hal itu menunjukkan bahwa pengetahuan para nelayan di Perairan Pantai Kuala Aceh masih dalam kategori rendah.

Rendahnya pengetahuan nelayan diasumsikan terkait dengan rendahnya latar belakang tingkat pendidikan. Mubarak (2007) menyatakan bahwa pengetahuan dapat dipengaruhi oleh pendidikan, hal ini sejalan dengan hasil penelitian ini dengan melihat distribusi pendidikan nelayan. Berdasarkan data kuesioner, diketahui bahwa nelayan yang tidak sekolah sebesar 55% dan yang hanya tamat sekolah dasar sebesar 45%.

Mayoritas nelayan memiliki tingkat pendidikan yang tergolong rendah, bahkan hampir seluruh dari nelayan yang dijumpai tidak pernah duduk dibangku sekolah. Tingkat pendidikan sangat memengaruhi cara berpikir, pola perilaku dan dalam memahami segala sesuatu yang ada disekitarnya, itulah sebabnya tingkat pendidikan sangat menentukan tingkat pengetahuan seseorang. Rendahnya tingkat pengetahuan nelayan juga dikarenakan kurangnya sumber informasi-informasi dari luar yang sampai ke nelayan.

63

Hal ini juga dipengaruhi oleh keterbatasan perekonomian dari nelayan Perairan Pantai Kuala Aceh sehingga untuk mencapai tingkat pendidikan yang tinggi nelayan akan mengalami kesulitan karena membutuhkan biaya lebih yang harus dikeluarkan untuk pendidikan yang lebih baik.

Pada penelitian ini pengetahuan nelayan diukur melalui kuesioner yang terdiri dari 12 pertanyaan dengan 5 pilihan jawaban. Pertanyaan meliputi pengetahuan tentang pencemaran timbal pada kerang bulu (Anadara antiquata), penyebab terjadinya pencemaran, jalur masuk timbal ke tubuh manusia, serta dampak yang ditimbulkan. Pertanyaan yang paling banyak dijawab benar adalah pertanyaan nomor B3 mengenai penyebab pencemaran air laut di sekitar Perairan Pantai Kuala Aceh yaitu sebanyak 12. Sebagian besar nelayan mengetahui bahwa timbal yang ada di air laut dapat berasal dari limbah pabrik, transportasi kapal dan sampah (Achmadi, 2013). Mayoritas nelayan tidak mengetahui apa itu logam timbal dan bagaimana logam timbal dapat masuk kedalam tubuh manusia.

Menurut teori yang dikemukakan WHO (2005) bahwa zat kimia dapat masuk kedalam tubuh manusia melalui jalur pencernaan, pernapasan dan permukaan kulit.

Tidak ada satupun nelayan yang diwawancarai mengetahui apa saja efek kesehatan yang ditimbulkan oleh logam timbal. Hal tersebut butuh perhatian khusus mengingat efek yang ditimbulkan oleh timbal jika terus menerus terpapar dan terakumulasi dalam tubuh. Timbal dapat menyebabkan gangguan kesehatan bagi manusia, seperti gangguan sintesa hemoglobin, gangguan sistem syaraf,

gangguan sistem urinaria, gangguan sistem reproduksi, gangguan sistem endokrin, gangguan jantung (Palar,2012).

Gambaran sikap nelayan. Pernyataan pada sikap ini meliputi persetujuan atas keadaan air laut dan kerang bulu di Perairan Pantai Kuala Aceh, penyebab dari pencemaran, bahaya kesehatan yang diakibatkan oleh timbal, dan dampak kesehatan jika mengonsumsi kerang yang sudah tercemar.

Sebagian besar nelayan setuju bahwa kerang bulu (Anadara antiquata) merupakan jenis kerang yang paling digemari untuk dikonsumsi daripada jenis kerang lainnya. Sikap ragu-ragu juga banyak di tunjukkan oleh nelayan dalam menjawab pernyataan-pernyataan yang disuguhkan. Sebagian besar nelayan memberikan sikap ragu-ragu terhadap pernyataan sikap nomor C2-C8 yaitu mengenai keadaan air laut dan kerang bulu di Perairan Pantai Kuala Aceh, kerang bulu sebagai hewan penyerap zat kimia yang ada diair, dan penyebab dari pencemaran.

Seluruh nelayan yang diwawancara memiliki sikap yang tidak setuju terhadap pernyataan nomor C9-C10 yaitu mengenai bahaya kesehatan yang diakibatkan oleh timbal. Keseluruhan nelayan yang terpilih menjadi responden memiliki sikap tidak setuju terhadap pernyataan nomor C9 yang menyatakan bahwa zat kimia atau timbal tidak berbahaya bagi kesehatan. Untuk pernyataan nomor C10 yang menyatakan bahwa banyak memakan kerang bulu yang sudah tercemar logam timbal baik untuk kesehatan mendapatkan sikap tidak setuju dari seluruh nelayan. Menurut Palar (2012), timbal dapat menyebabkan gangguan

65

kesehatan bagi manusia. Menurut Sembel (2015) kandungan timbal dalam darah 3,6mg/dL atau lebih dapat menyebabkan gangguan kardiovaskuler serta kematian.

Sikap negatif para nelayan terhadap kandungan timbal pada kerang bulu (Anadara antiquata) dapat terjadi karena tingkat pengetahuan nelayan yang rendah. Jika dilihat dari dari distribusi tingkat pendidikan terakhir pada tabel 2, sebanyak 55% nelayan tidak pernah bersekolah. Masyarakat di Perairan pantai kuala Aceh pada umumnya kurang mementingkan dunia pendidikan karena banyak anak-anak usia sekolah sudah ikut bekerja menjadi nelayan demi membantu perekonomian keluarga. Hal itu dapat dilihat dari distribusi umur nelayan yang mayoritas berada di umur produktif. Selain itu, juga dipengaruhi oleh minimnya sumber informasi dan teknologi yang diperoleh nelayan. Raut wajah nelayan tampak kebingungan saat mendengarkan pernyataan – pernyataan yang disuguhkan. Nelayan juga tidak mengetahui keadaan air laut dan kerang bulu (Anadara antiquata) yang sebenarnya sehingga membuat nelayan bersikap negatif terhadap kandungan timbal dalam kerang bulu (Anadara antiquata). Sikap dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu Pengalaman pribadi, lembaga pendidikan dan lembaga agama, pengaruh orang lain yang dianggap penting, pengaruh kebudayaan, media massa dan faktor emosional (Azwar, 2012).

Gambaran konsumsi nelayan. Berdasarkan hasil wawancara kuesioner kepada nelayan, keseluruhan nelayan yang terpilih menjadi responden sering

Gambaran konsumsi nelayan. Berdasarkan hasil wawancara kuesioner kepada nelayan, keseluruhan nelayan yang terpilih menjadi responden sering

Dokumen terkait