BAB III ROH KUDUS
MEMBENTUK GEREJA-GEREJA SETEMPAT
48. Pertobatan dan Pembaptisan membuka jalan masuk ke dalam Gereja yang sudah ada ataupun memerlukan dibangunya komunitas-komunitas baru yang mengakui Yesus sebagai Penyelamat dan Tuhan. Ini merupakan bagian dari rencana Allah, sebab Dia suka “memanggil manusia berpartisipasi dalam kehidupan-Nya, bukan saja sebagai perorangan tanpa hubungan apapun dengan orang lain, melainkan Ia menjadikan mereka umat, di dalam mana putera-puteri-Nya yang tersebar Ia himpun menjadi satu.”78
Tujuan dari tugas perutusan kepada para bangsa (ad
gentes) ialah ini: mendirikan komunitas-komunitas Kristen dan
mengembangkan Gereja-gereja menuju kematangannya yang penuh. Ini merupakan tujuan sentral dan menentukan dari kegiatan missioner, hal itu sedemikian penting sehingga tugas perutusan tidaklah selesai sebelum dia berhasil membangun suatu Gereja setempat yang baru yang berjalan secara normal dalam lingkungan setempat. Dekrit Ad Gentes menggarap pokok ini secara panjang lebar,79 dan sejak Konsili, telah berkembanglah suatu garis permenungan teologis, suatu teologi yang menekankan bahwa seluruh misteri Gereja terkandung di dalam masing-masing Gereja partikular, asalkan dia tidak menutup dirinya sendiri, melainkan tetap tinggal dalam persekutuan dengan Gereja Universal dan pada gilirannya sendiri akan becorak misioner juga. Di sini kita sedang berbicara tentang suatu proses yang besar dan panjang; dalam proses itu sulit diidentifikasi suatu tingkat yang pasti, dalam mana kegiatan misioner secara tepat sudah dapat dikatakan mencapai
78 KONSILI EKUMENIS VATIKAN KEDUA, Konstitusi Dogmatik tentang Gereja Lumen Gentium, 9 .
79 Bdk. Dekrit tentang Kegiatan Misioner Gereja, Ad Gentes, bab III, 19-22.
tujuan akhirnya, lalu digantikan dengan kegiatan Pastoral. Meskipun demikian, pokok-pokok tertentu harus tetap jelas.
49. Pertama-tama dan terutama, perlu sekali berjuang untuk membangun komunitas-komunitas Kristen dimana-mana, komunitas-komunitas yang merupakan “tanda kehadiran Allah di dunia” dan80 yang bertumbuh hingga mereka menjadi Gereja-gereja. Meskipun dioses-dioses ada banyak sekali jumlahnya, namun masih ada juga daerah-daerah yang luas dimana tidak ada Gereja-gereja setempat atau dimana jumlah mereka tidaklah memadai kalau dibandingkan dengan luasnya daerah dan padatnya penduduk. Masih ada banyak sekali yang mesti dilakukan dalam usaha menanamkan dan mengembangkan Gereja. Tahap dari sejarah Gereja ini, yang disebut sebagai Plantatio Eccleciae
(penanaman Gereja), belumlah mencapai tujuannya; sesungguhnya,
untuk sebagian besar umat manusia, hal ini masih harus dimulai. Tanggung jawab atas tugas ini terletak pada Gereja semesta dan Gereja setempat, pada seluruh umat Allah, dan pada semua daya kekuatan misionernya. Setiap Gereja, bahkan Gereja yang anggota-anggotanya adalah orang-orang yang baru bertobat, dari kodratnya bersifat misioner, dan serentak sudah diinjili dan sedang menginjili, Iman mesti senantiasa dihadirkan sebagai karunia pemberian dari Allah untuk dihayati dalam komunitas (keluarga-keluarga, paroki-paroki, perkumpulan-perkumpulan), dan untuk disebarluaskan kepada orang-orang lain melalui kesaksian dengan perkataan dan perbuatan. Kegiatan evangelisasi dari suatu komunitas Kristen, pertama kegiatan ditempatnya sendiri, lalu kemudian kegiatan di aman pun sebagai bagian dari tugas perutusan Gereja semesta, merupakan tanda yang paling jelas dari iman yang matang. Untuk menjadi misionaris dituntut suatu toh
80 Ibid., 15
pertobatan radikal di dalam pemikiran dan hal ini tetap benar baik bagi individu-individu mapun bagi seluruh komunitas. Tuhan senantiasa memanggil kita untuk keluar dari diri kita sendiri dan untuk membagikan kepada orang-orang lain kebaikan-kebaikan yang kita miliki, mulai dengan karunia pemberian yang paling berharga dari semuanya: yaitu iman kita. Efektifitas organisasi-organisasi Gereja, gerakan-gerakan Gereja, paroki-paroki dan karya-karya kerasulan mesti diukur berdasarkan perintah misioner ini. Hanya dengan menjadi misionaris komunitas Kristen akan mampu mengatasi perbedaan-perbedaan dan ktegangan-ketegangan ke dalam, dan menemukan kembali kesatuannya dan kekuatan imannya.
Petugas-petugas misionaris yang datang dari Gereja-gereja dan negara-negara yang lain mesti bekerja dalam persekutuan dengan sejawat-sejawat mereka di tempat yang mereka tujui demi pengembangan komunitas Kristen. Teristimewa, tugas ini terletak pada pundak para petugas misionaris, - sesuai dengan petunjuk-petunjuk dari para Uskup dan bekerja sama dengan orang-orang yang bertanggungjawab pada tingkat setempat – untuk mendorong memajukan penyebarluasan iman dan pengembangan Gereja dalam lingkungan-lingkungan non-Kristen dan di antara kelompok-kelompok orang-orang non-Kristen, dan membangkitakan kepekaan misioner di tengah Gereja-gereja partikular, agar kepedulian pastoral akan selalu dikombinasikan dengan kepedulian akan tugas perutusan kepada para bangsa (ad gentes). Dengan cara ini, setiap Gereja menjadikan apa yang diperhatikan oleh Kristus Sang Gembala Baik, sebagai miliknya; Kristus mengabdikan diri-Nya sendiri sepenuhnya demi kawanan-Nya, tetapi juga pada saat menaruh perhatian terhadap “domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini” (Yoh 10:16).
50. Kepedulian ini akan berfungsi sebagai pendorong dan rangsangan bagi komitmen dengan ekumenisme yang diperbaharui. Hubungan antara kegiatan ekumenis dengan kegiatan misioner menyebabkan terasa perlunya mempertimbangkan kedua faktor yang terkait secara erat itu. Di satu pihak, kita harus mengakui bahwa “perpecahan di antara umat Kristen merugikan usaha yang sangat suci yaitu pewartaan Injil kepada semua makhluk, dan menutup pintu iman bagi banyak orang.”81 Adalah fakta bahwa Kabar Baik perdamaian, yang diwartakan oleh orang-orang Kristen yang terpecah-pecah di antara mereka sendiri memperlemah kesaksian mereka. Maka terasa penting mengupayakan kesatuan orang-orang Kristen, supaya kegiatan misioner dapat menjadi lebih efektif. Pada saat yang sama kita tidak boleh lupa bahwa upaya-upaya mengarah ke kesatuan merupakan tanda karya perdamaian itu sendiri yang sedang dilaksanakan Allah di tengah-tengah kita.
Di lain pihak, benarlah bahwa sejenis persekutuan, walaupun tidak sempurna, ada di antara semua orang yang telah menerima Baptisan dalam Kristus. Berdasarkan ini, Konsili menetapkan prinsip bahwa “hendaknya kegiatan ekumene dimajukan sedemikian rupa, sehinga, tanpa bentuk indiferentisme dan pengaburan manapun, demikian pula tanpa segala jenis persaingan yang tidak sehat, orang-orang Katolik bekerja sama sebagai saudara dengan saudara-saudari yang terpisah, menurut kaidah-kaidah Dekrit tentang Ekumene, melalui pengakuan iman bersama terhadap Allah dan terhadap Yesus Kristus di depan bangsa-bangsa, sejauh hal ini ada, dan melalui kerjasama baik dalam hal-hal sosial dan teknik maupun dalam hal-hal budaya dan agama.”82
81 Ibid., 6.
Kegiatan Ekumenis dan kesaksian yang harmonis tentang Yesus Kristus oleh orang-orang Kristen yang menjadi angota Gereja-gereja dan Komunitas-Komunitas Gerejani yang berbeda-beda telah menghasilkan buah yang berlimpah-lompah. Tetapi pada waktu ini terasa lebih penting lagi bahwa mereka bekerja dan memberikan kesaksian bersama karna sekte-sekte Kristen dan para Kristen sedang menaburkan benih kekacauan melalui kegiatan mereka. Perkembangan sekte-sekte ini merupakan ancaman bagi Gereja Katolik dan bagi semua Persekutuan-persekutuan Gerejani yang terlibat dalam dialog dengannya. Dimana saja keadaan memungkinkan, dan berdasarkan situasi-situasi lingkungan setempat, tanggapan-tanggapan orang-orang Kristen pada dirinya dapat menjadi suatu tanggapan yang ekumenis juga.
“KOMUNITAS-KOMUNITAS BASIS GEREJANI”