BAB IV DESKRIPSI LOKASI DAN INTEPRETASI DATA
4.2 Profil Informan
4.6.1. Memberikan kemudahan dalam mengakses
komunitas
IKMCW sebagai organisasi berbasis masyarakat berusaha menjadi wadah bagi anggotanya dalam hal interaksi sosial. Tak bisa dipungkiri bawasanya masyarakat perkotaan selalu disibukkan dengan berbagai isu-isu yang mempengaruhi baik bisnis, profesi, maupun kekuasaan. Dengan berbagai latar belakang yang ada dalam tubuh organisasi setidaknya kebutuhan akan informasi baik di dalam maupun di luar organisasi bisa dapat terpenuhi. Hal senada juga diungkapkan oleh Ivan:
“…Kami terkadang juga saling bertukar informasi mengenai bisnis yang
memungkinkan dilakukan secara bersama antar anggota, tidak Cuma itu, kadang juga kami sharing jika ada hal yang kami rasa tidak tahu dengan anggota IKMCW. Walau tak formal-formal kita ngomongnya, paling tidak
karena satu anggota itu (anggota IKMCW) jadi enak ngomongnya…”
Keadaan ini memberikan gambaran jika organisasi tidak hanya memfasilitasi masyarakat dalam kegiatan-kegiatan formal yang mereka lakukan. Solidaritas yang
mereka miliki antar sesama anggota organisasi IKMCW menumbuhkan solidaritas organik di dalamnya. Kedekatan-kedekatan emosional mulai muncul dalam diri sesame anggota sesuai dengan kepentingan yang mereka miliki. Keadaan saling membutuhkan juga menciptakan interaksi yang lebih intens meskipun tanpa adanya kegiatan formal yang dilakukan organisasi.
4.6.2. Menjadi MediaPower SharingAtau Pembagian Kekuasaan Dalam
Komunitas
Organisasi IKMCW merupakan organisasi yang resmi terdaftar di Kantor Urusan Agama Kecamatan Medan Johor melalui surat keputusan nomor: kk.02.15.11/PW.01/174/2014 dengan kepengurusan terbaru sebelum didirikan pada tahun 1998 sebagai sebuah Badan Kemakmuran Masjid yang disahkan oleh Kementrian Agama.
Organisasi yang massif pasti memiliki pengurus dan melakukan regulasi kepengurusan untuk menciptakan nuansa demokratis di dalamnya. IKMCW juga melakukan itu dalam perjalannya. Hal ini diungkapkan oleh bapak Ahmad Thamrin:
“…Kami melakukan pergantian kepengurusan tiga tahun sekali, hal ini untuk memberikan nuansa demokratis dalam tubuh organisasi…”
Masyarakat yang tergabung dalam IKMCW melihat pentingnya melakukan regulasi kepengurusan dalam tubuh organisasi mengingat organisasi juga terdiri dari berbagai orang dengan berbagai latarbelakang yang berbeda. Hal ini harus diimbangi
dengan nuansa demokratis dalam tubuh organisasi agar seluruh elemen keanggotaan dapat tersalurkan gagasan-gagasannya.
4.6.4. Mengembangkan Solidaritas
Jelas interaksi yang intens dilakukan anggota akan menumbuhkan solidaritas antar sesamanya. Hal ini juga didukung oleh adanya kepentingan-kepentingan baik itu pemenuhan informasi maupun yang lainnya menciptakan masyarakat yang saling ketergantungan.
Kondisi ini jelas terlihat saat salah satu anggota IKMCW melaksanakan pesta pernikahan atau yang lainnya, seluruh anggota akan berusaha membentu atau paling tidak memberikan jaringan yang mereka miliki untuk mepermudah acara tersebut. Hal senada juga diungkapkan oleh bapak Bambang Sulistyo:
“…Saya pernah akan melakukan pesta untuk keponakan saya, ya IKMCW
juga yang membantu baik untuk penyebaran undangan bagi warga komplek atau menyediakan informasi tentang kebutuhan-kebutuhan pesta
yang tentunya lebih murah…”
Kondisi ini membuktikan bawasanya solidaritas antar anggota sangat terjaga dengan baik. Solidaritas yang telah menciptakan modal sosial yang kuat dalam tubuh organisasi IKMCW. Masyarakat semakin memiliki sikap saling membutuhkan satu sama lain. Pemenuhan kebutuhan hidup menjadi bagian yang dikerjakan secara bersama-sama pada perjalannanya.
4.6.5. Memungkinkan Mobilisasi Sumber Daya Komunitas
Ferdinand Tonnies memiliki teori yang sangat penting yang akhirnya berhasil membedakan konsep tradisional dan modern dalam suatu organisasi sosial, yaitu Gemeinschaft (yang diartikan sebagai kelompok atau asosiasi) dan Gesellschaft (yang diartikan sebagai masyarakat atau masyarakat modern istilah Piotr Sztompka). Masyarakat dalam artian merupakan kumpulan dari Paguyuban (gemeinschaft) dan Patembayan (gessellschaft) sebagai bentuk organisasi sosial.
Semakin jelas besarnya solidaritas yang dimiliki organisasi IKMCW dan berbagai latar belakang yang ada di dalamnya menciptakan sebuah jaringan-jaringan yang lebih besar daripada jaringan yang terbentuk dalam tubuh IKMCW sebagai organisasi dalam masyarakat. Hal ini juga senada dengan yang diungkapkan ibu Ivo:
“…Kami sering sharing tentang saudara, anak, maupun teman kami yang butuh pekerjaan atau yang lainnya. Kami sering membicarakannya dengan sesame anggota. Biasanya kami juga menemukan jalan keluar di situ…”
Organisasi IKMCW jelas memiliki akses yang luas dalam mobilisasi sumber daya yang ada dalam tubuh organisasi. Hal ini jelas diakibatkan oleh jaringan sosial yang dimiliki setiap anggota berfariasi. Besarnya jaringan ini yang menciptakan akses-akses yang dimiliki organisasi untuk menyalurkan sumber daya yang dimilikinya semakin mempunyai peluang yang besar.
4.6.6. Memungkinkan Pencapaian Bersama
Setiap organisasi pasti memiliki tujuan dalam proses pembentukannya. Talcott Parsons juga pernah menciptakan sebuah formula guna melihat sebuah penerapan sistem yang ideal dimana salah satunya dilihat dari gold atau tujuan.
IKMCW sendiri didirakan dilatarbelakangi akibat adanya kondisi asosial masyarakat yang ada di wilayah Komplek Perumahan Citra Wisata Medan. Kondisi ini jelas menjadi prioritas untama organisasi sebagai wadah interaksi masyarakat komplek.
Pembentukan modal sosial, interaksi yang intensif dan trust dalam tubuh organisasi jelas menjadi fokus utama organisasi. Hal ini juga dijelaskan bapak Asman:
“…Yang paling penting di organisasi ini adalah bagaimana masyarakat
di dalamnya dapat bersilahturahmi dengan baik, bagus kalo diantara kami dapat saling bertukar informasi ya paling tidak minimal kan bisa
memperluas jaringan setiap anggota…”
Tujuan organisasi IKMCW memiliki potensi besar untuk tetap tumbuh berkembang. Berbagai kepentingan yang ada dalam masyarakat komplek yang merupakan salahsatu sub masyarakat moderen yang mempunyai intessitas waktu pekerjaan yang tinggi membutuhkan berbagai informasi khususnya informasi kemasyarakat dan kehidupan ketetanggan.
4.6.7. Membentuk Perilaku Kebersamaam Dan Berorganisasi Komunitas Perilaku kebersamaan merupakan sebuah sistem perilaku yang dilandasi oleh tujuan bersama dalam sebuah kelompok. Hal ini juga berlaku dalam sebuah organisasi yang memiliki aturan-aturan yang menjadi pedoman tindakan anggota organisasi itu sendiri.
Solidaritas yang ada dalam tubuh organisasi membentuk sebuah karakter baru dalam masing-masih diri anggotanya. Hal ini diakibatkan dengan tujuan organisasi yang telah disepakati bersama yang akhirnya mendorong masyarakat memiliki gaya yang berbeda dalam kehidupan sehari-hari.
Perubahan besar memang telah terjadi dalam diri masyarakat. Konteks masyarakat moderen yang cenderung asosial setidaknya tidak lagi kental terlihat dalam diri masyarakat Komplek Citra Wisata dalam kehidupan sehari-hari. Yang terlihat hanya tembok-tembok besar yang dianggap sebagian kalangan merupakan sebuah symbol status perumahan mewah yang jauh dari kehidupan ketetanggan yang harmonis. Hal senada juga diungkapkan oleh ibu Yani Harahap:
“…Kami selalu melakukan hal yang berhubungan dengan kenyamanan
komplek secara bersama-sama. Seperti membuat kegiatan perayaan hari besar nasional, keagamaan ataupun acara-acara yang lainnya…”
Pada prinsipnya tujuan awal berdirinya organisasi telah menciptakan sebuah sistem baru dalam kehidupan masyarakat. Pembentukan mental ketetanggan yang baik telah optimal dilakukan organisasi yang dapat dilihat dari berbagai kegiatan yang melibatkan sitiap anggota didalamnya.
4.7. Pembentukan Jaringan Sosial dalam Tubuh Organisasi
Rusdi Syahara, dkk (dalam Kristina,2003:60) menyebutkan jaringan sosial terletak pada bagaimana kemampuan masyarakat dalam suatu entitas atau kelompok untuk kerjasama membangun suatu jaringan untuk mencapai tujuan bersama. Kerjasama tersebut diwarnai oleh suatu pola intraksi timbal balik dan saling menguntungkan dan dibangun atas kepercayaan yang ditopang oleh norma-norma dan nilai-nilai sosial positif dan kuat. Kekuatan tersebut akan maksimal jika didukung oleh semangat membuat jalinan hubungan diatas prinsip-prinsip yang telah disepakati bersama.
Masyarakat Komplek Citra Wisata yang berasal dari berbagai latar belakang yang berbeda juga mempunya kepentingan untuk saling tukar informasi guna memenuhi kebutuhan informasi untuk kepentingan ekonomi, sosial, politik maupun budaya. Hal senada juga diungkapkan oleh bapak Ahmad Thamrin:
“…Biasanya kami melakukan diskusi-diskusi ringan, seperti bapak-bapak pada umumnyalah. Kadang ya bicara ekonomi, politik sosial pokonya macem-macem lah. Nah di situ kan kadang memang ada yang membutuhkan informasi-informasi tersebut, misalnya ada yang butuh info tentang sekolah untuk anaknya nanti siapa tau ada yang punya link untuk
itu…”
Jaringan sosial tidak hanya berkembang dalam tubuh IKMCW semata. Mengingat IKMCW juga beranggotakan berbagai kalangan, para anggota IKMCW yang juga merupakan bagian sub jaringan sosial yang lainnya otomatis ikut serta mengembangkan jaringan sosial yang telah ada. Hal ini dikarenakan interaksi soasial
yang terjadi antara masyarakat tidak hanya terbatas pada masyarakat itu sendiri melainkan dengan masyarakat yang ada di luar.
Interaksi sosial juga bisa terjadi antara kelompok dengan kelompok. Interaksi
jenis ini terjadi pada kelompok sebagai satu kesatuan bukan sebagai pribadi-pribadi anggota kelompok yang bersangkutan. Ciri-ciri interaksi sosial menurut Sitorus (1996:16) yaitu, jumlah pelaku lebih dari satu orang, ada komunikasi antar pelaku dengan menggunakan simbol-simbol, ada dimensi waktu atau masa lampau, masa kini dan masa mendatang atau yang menentukan sifat aksi yang sedang berlangsung dan juga ada tujuan-tujuan tertentu terlepas dari sama atau tidaknya tujuan tersebut dengan yang diperkirakan oleh pengamat. Ciri-ciri tersebut juga terdapat dalam interaksi sosial para warga perumahan dengan masyarakat sekitar. Hal ini jelas membuktikan bahwa pembentukan jaringan sosial dengan wadah IKMCW sangat potensial untuk terus berkembang seiring berjalannya waktu.
Modal sosial dapat bermanfaat untuk pembentukan jaringan sosial melalui trust (kepercayaan) yang dibangun dalam proses interaksi yang ada. Melalui unsur kepercayaan yang semakin meluas melalui interaksi sosial yang bersumber dari hubungan timbal balik antara pelakunya (soetono.2006:87). Menurut Lesser (2000), modal sosial sangat penting bagi kelompok karena dapat memberi kemudahan dalam
mengakses informasi bagi anggota kelompok, menjadi media ”power sharing” atau
pembagian kekuasaan dalam kelompok, mengembangkan solidaritas, memungkinkan pencapaian bersama, memungkinkan mobilitas sumber daya kelompok, membentuk perilaku kebersamaan dan berorganisasi kelompok. Modal sosial merupakan suatu komitmen dari setiap individu untuk saling terbuka, saling percaya dan memberi
kewenangan bagi setiap orang yang dipilihnya untuk berperan sesuai dengan tanggung jawabnya. Pandangan ini juga menggambarkan bahwa jaringan sosial dapat berkembang secara optimal dengan adanya modal sosial yang dimiliki masyarakatnya.
(http://repository.unhas.ac.id.Suparman 09A06040 diakses pada tanggal 16 agustus 2013 pada pukul 11:17 wib).
Kepercayaan adalah unsur penting dalam modal sosial yang merupakan perekat bagi langgengnya hubungan dalam kelompok masyarakat. Dengan menjaga suatu kepercayaan, orang-orang dapat bekerjasama secara efektif. Kepercayaan sosial efektif dibangun melalui jalinan pola hubungan sosial resiprosikal atau timbal balik antara pihak yang terlibat dan berkelanjutan (Ibrahim, 2006 : 111).
Kepercayaan akan menimbulkan kewajiban sosial dengan mempercayai seseorang maka akan menimbulkan kepercayaan kembali dari orang tersebut (resiprositas). Dalam kaitannya dengan resiprositas dan pertukaran, Pretty dan Ward, (dalam Badaruddin, 2005 : 32) mengemukakan bahwa adanya hubungan-hubungan yang dilandasi oleh prinsip resiprositas dan pertukaran akan menumbuhkan kepercayaan karena setiap pertukaran akan dibayar kembali (repaid and balanced). Hal ini merupakan pelicin dari suatu hubungan kerjasama yang telah dibangun agar tetap konsisten dan berkesinambungan.
4.8. Kendala IKMCW dalam Mewujudkan Tujuan Organisasi
Pola-pola interaksi individu yang berbeda menurut situasi dan kepentingan masing-masing individu diwujudkan dalam proses hubungan sosial, hubungan-hubungan sosial itu pada awalnya merupakan proses penyesuaian nilai-nilai sosial dalam kehidupan sosial. Kemudian hubungan itu meningkat menjadi semacam pergaulan yang ditandai adanya saling mengerti tentang maksud dan tujuan masing-masing pihak yang terjadi dalam hubungan.
Setiap interaksi sosial pasti ada faktor-faktor yang mempengaruhinya yang artinya faktor-faktor tersebut ikut berperan di dalamnya (Santoso, 2004:12). Termasuk di dalam interaksi sosial para warga perumahan dengan masyarakat sekitar. Faktor-faktor yang mempengaruhi interaksi sosial menurut Santoso adalah situasi sosial, kekuasaan norma kelompok, tujuan pribadi masing-masing individu, interaksi sesuai dengan kedudukan dan kondisi setiap individu serta penafsiran situasi. Tanpa faktor-faktor tersebut niscanya interaksi tidak dapat terjadi atau terlaksana.
Faktor-faktor yang berperan dalam interaksi sosial warga perumahan dengan masyarakat sekitar yang pertama adalah situasi sosial yang memberi bentuk tingkah laku terhadap individu yang berada dalam situasi tersebut. Situasi sosial memiliki peran yang sangat penting bagi bentuk interaksi sosial warga perumahan.
Beberapa informan menyebutkan bahwa salasatu hal yang paling menjadi kendala dalam mewujudkan tujuan organisasi adalah regenerasi yang dilakukan organisasi dalam kepengurusannya. Tanggung jawab sebagai pengurus agaknya
menjadi beban terhadap setiap anggota untuk menduduki posisi tersebut. Hal ini diungkapkan oleh bapak Ahmad Thamrin:
“…Saya melihat bagaimana susah sekali melakukan regenerasi. Mungkin
hal ini dikarenakan kesibukan para anggota di luar dan tuntutan kegiatan setiap anggota keluarganya. Ya kita harusnya menyadari itu sebagai
sebuah hak bagi setiap anggota…”
Tingginya intensitas kegiatan anggota menjadi kendala bagi kelancaran regenerasi dalam tubuh organisasi. Melihat seluruh anggota berasal dari berbagai kalangan yang memiliki intensitas kerja yang tinggi. Organisasi melihatnya sebagai sebuah fenomena bersama yang juga harus dipahami dan disikapi secara bersama.
Selain hal tersebut, sulitnya merekrut anggota-anggota baru baik yang baru menempati area komplek maupun kaum muda yang ada di sekitaran komplek. Proses sosialisasi yang dilakukan IKMCW guna mensosialisasikan organisasi terhadap para penghuni baru selalu mendapat kendala alasan kesibukan mereka yang sangat padat.
Sosialisasi pada akhirnya hanya dipusatkan di Masjid Amaliyah yang berada di lingkungan Komplek Citra Wisata Medan mengingat tempat ibadah dianggap menjadi pusat berkumpulnya masyarakat oleh anggota organisasi. Hal ini ditegaskan oleh bapak Asman:
“…Anggota yang beribadah biasanya ikut mensosialisasikan IKMCW terhadap masyarakat pendatang baru ataupun penghuni baru yang belum bergabung dengan organisasi. Organisasi masih melihat pentingnya perkembangan IKMCW sebagai organisasi masyarakat yang melihat pentingnya kehidupan ketetanggaan dalam Komplek Citra Wisata…”
Manusia tidak dapat hidup sendiri, sehingga manusia harus hidup bersama dengan orang lain untuk memenuhi kebutuhannya. Kelompok inilah yang disebut masyarakat. Masyarakat di Komplek Citra Wisata ini juga sama halnya dengan masyarakat lain. Selain masyarakat sebagai sebuah organisasi yang terbesar, juga ada organisasi-organisasi khusus yang terdapat dalam suatu masyarakat yang lahir akibat dari kebutuhan yang beraneka ragam.
Hubungan sosial yang terjalin diantara warga Komplek Citra Wisata berjalan sangat terbatas. Hal ini terjadi karena faktor pekerjaan, mereka kebanyakan bekerja dari pagi hinga sore hari. Nuansa kehidupan perkotaan juga turut mewarnai kehidupan warga Komplek Citra Wisata karena lokasi perumahan tersebut berada dekat dengan keramaian kota, kehidupan egois dan individualis masih sangat terasa. Misalnya sesama tetangga bisa tidak saling mengenal.
peringatan hari besar keagamaan seperti hari kurban. Momen pertemuan sering terjadi karena dilandaskan oleh kegiatan keagamaan, tapi kegiatan hanya sebagai ritual bukan subtansi yang dapat membangun kebersamaan sesama warga.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
Pada tahun 1999 IKMCW (Ikatan Keluarga Muslim Citra Wisata) terbentuk sebagai sebuah organisasi masyarakat perkotaan yang berkedudukan di komplek Citra Wisata Medan. Keadaan ini didorong oleh minimnya ruang-ruang sosialisasi yang dibutuhkan masyarakat dengan padatnya aktivitasnya di luar. Masyarakat seperti menemukan sebuah bentuk baru gaya berinteraksi dalam kehidupan bermasyarakat di area komplek.
Pada perkembangannya IKMCW mengoptimalisasikan seluruh anggota yang dimiliki untuk mengembangkan organisasi hingga ke seluruh komplek. Sistem jaringan ketetanggaan menjadi sebuah cara IKMCW mensosialisasikan organisasi terhadap penghuni komplek yang lain. Mengingat anggota IKMCW berasal dari berbagai latar belakang yang berbeda, saling bertukar informasi menjadi andalan organisasi dalam hal menumbuhkan modal sosial antar anggota.
5.2. Saran
1. Organisasi IKMCW sebagai wadah interaksi masyarakat moderen harus memiliki program-program masif untuk para anggotanya. Hal ini diakibatkan keterbatasan waktu berkumpul masing-masing anggotanya.
2. IKMCW harus melakukan regenerasi kepengurusan karena hal tersebut penting bagi sharing power dalam organisasi. Hal ini dapat menciptakan keperdulian antar anggota.
3. Pengelola perumahan harus dapat memfasilitasi IKMCW mengingat organisasi tersebut telah menjadi organisasi potensial sebagai wadah interaksi masyarakat Komplek Citra Wisata.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1. Peran Modal Sosial dalam Masyarakat
Modal sosial merupakan kekuatan yang mampu membangun civil community yang dapat meningkatkan pembangunan partisipatif, dengan demikian basis modal sosial adalah trust, idiologi dan religi. Modal sosial dapat dicirikan dalam bentuk kerelaan individu untuk mengutamakan keputusan komunitas, Dampak dari kerelaan ini akan menumbuhkan interaksi kumulatif yang menghasilkan kinerja yang mengandung nilai sosial (Sudrajat, 2008).
Francis Fukuyama (1995) mengilustrasikan modal sosial dalam trust, believe and vertrauen artinya bahwa pentingnya kepercayaan yang mengakar dalam faktor kultural seperti etika dan moral. Trust muncul maka komunitas membagikan sekumpulan nilai-nilai moral, sebagai jalan untuk menciptakan pengharapan umum dan kejujuran. Ia juga menyatakan bahwa asosiasi dan jaringan lokal sungguh mempunyai dampak positif bagi peningkatan kesejahteraan ekonomi dan pembangunan lokal serta memainkan peran penting dalam manajemen lingkungan.
James S, Colement (1998) menegaskan bahwa, modal sosial sebagai alat untuk memahami aksi sosial secara teoritis yang mengkombinasikan perspektif sosiologi dan ekonomi. Pengertian ini dipertegas oleh Ismail Serageldin (Dalam Rahmanto, 2010) bahwa modal sosial selalu melibatkan masyarakat dan menjadikan masyarakat muncul bukan semata dari interaksi pasar dan memiliki nilai ekonomis.
Selanjutnya, Ismail Serageldin (dalam Rahmanto, 2010) memberikan klasifikasi modal sosial antara lain:
a. Modal sosial dalam bentuk interaksi sosial yang tahan lama tetapi hubungan searah, seperti pengajaran dan perdagangan sedang interaksi sosial yang hubungannya resiprokal (timbal balik) seperti jaringan sosial dan asosiasi. b. Modal sosial dalam bentuk efek interaksi sosial lebih tahan lama dalam
hubungan searah seperti kepercayaan, rasahormat dan imitasi sedang dalam bentuk hubungan timbal balik seperti gosip, reputasi, pooling, peranan sosial dan koordinasi, semua ini mengandung nilai ekonomi yang tinggi.
Pada kenyataan yang terjadi akhir-akhir ini masih banyaknya terjadi benturan-benturan sosial, baik dalam bentuk konflik, kekerasan, bahkan terorisme yang mengacak-acak modal sosial (social capital) sehingga kita sudah banyak kehilangan nilai-nilai kejujuran, solidaritas, keadilan, persatuan, dan nilai-nilai lainnya yang dapat meningkatkan kemantapan persatuan dan kesatuan.
Berbagai upaya yang harus dilakukan adalah bagaimana kita sebagai bangsa menata kembali modal sosial yang telah kita miliki sesuai dengan peran kita masing-masing dalam institusi lokal yang lambat laun diharapkan dapat menyebar ke institusi yang lebih luas dan lebar yaitu institusi global.
Hilangnya modal sosial yang dimiliki masyarakat, bisa dilihat dari bagaimana masyarakat tersebut menghadapi dan memecahkan masalah-masalahnya. Munculnya saling curiga, masa bodoh, opportunis, primodialisme, individualistis adalah tanda-tanda hilangnya modal sosial dalam masyarakat tersebut. Kalau kita lihat dan kita renungkan berbagai bencana dan musibah yang selalu datang silih berganti di negara yang subur ini semestinya memberikan pelajaran kepada kita akan pentingnya menumbuhkembangkan modal sosial yang ada di masyarakat. Dengan
bencana dan musibah tersebut, semestinya manusia akan terbuka pintu hatinya untuk membantu sesama, mengatasi masalah yang dihadapi bersama dan semangat kebersamaan.
Kemampuan masyarakat untuk dapat saling bekerjasama tidak dapat terlepas dari adanya peran modal sosial yang mereka miliki. Hakikat modal sosial adalah hubungan sosial yang terjalin dalam kehidupan sehari-hari warga masyarakat. Dengan membangun suatu hubungan satu sama lain, dan memeliharanya agar terjalin terus, tujuan bersamapun akan dapat tercapai. Modal sosial bukan milik individual, melainkan sebagai hasil dari hubungan sosial antara individu. Modal sosial menentukan bagaimana orang dapat bekerjasama dengan mudah (Ibrahim, 2002: 76).
Modal sosial menjadi hal yang sangat vital dibutuhkan dalam perkembangan ekonomi. Fransis Fukuma menunjukkan hasil-hasil studi di berbagai negara bahwa modal sosial yang kuat akan merangsang pertumbuhan diberbagai sektor ekonomi, karena adanya tingkat rasa percaya yang tinggi dan keeratan hubungan dalam jaringan yang luas tumbuh antar sesama pelaku ekonomi. Ia mendefinisikan modal sosial adalah segala sesuatu yang membuat masyarakat bersekutu untuk mencapai tujuan bersama atas dasar kebersamaan dan didalamnya diikat oleh nilai-nilai yang akan menjadi resep kunci bagi keberhasilan pembangunan disegala bidang ekonomi dan demokrasi (Hasbullah, 2006:8).
Masyarakat sebenarnya memiliki kekuatan sendiri untuk bangkit dari bencana apabila masyarakat tersebut mengedepankan trust, norma sosial, nilai-nilai dan tindakan proaktif dalam setiap menentukan langkah. Ostrom dan Putnam (dalam Wibowo, 2007) menunjukkan bahwa modal sosial merupakan prasyarat bagi
keberhasilan suatu proyek pembangunan dan merupakan unsur utama dalam pembangunan suatu masyarakat madani (civil society).
Hal tersebut didukung oleh thesis yang dikemukakan oleh Robert Putnam
(2002) yang menyatakan bahwa “modal sosial yang tinggi akan membawa dampak pada tingginya partisipasi masyarakat sipil dalam berbagai bentuknya”. Akibat
positif yang timbulkannya, pemerintahan akan memiliki akuntabilitas yang lebih kuat (Jousairi Hasbullah, 2006).
Berangkat dari thesis Putnam tersebut, maka modal sosial yang tinggi akan membantu pemerintah dalam menggerakan partisipasi masyarakat dalam menjalankan berbagai program yang telah ditetapkan.
Lebih lanjut Fukuyama alam Jousairi Hasbullah, 2006). mengemukakan bahwa agama merupakan salah satu sumber utama modal sosial. Menurutnya perkumpulan- perkumpuan keagamaan sangat potensial untuk menghadirkan dan