3. Memberikan kemampuan dan keterampilan dalam memantau faktor risiko PTM
4. Memberikan keterampilan dalam melakukan konseling serta tindak lanjut lainnya.
Menurut Kementerian Kesehatan RI (2013), salah satu upaya untuk meningkatkan kompetensi pelaksana program dapat dilakukan melalui pelatihan.
Pelatihan digunakan sebagai metode untuk meningkatkan kualitas aparatur kesehatan ke arah yang positif.
Hasil wawancara mendalam dengan, kepala puskesmas dan petugas pelaksana posbindu Puskesmas Kartini tentang pelatihan terhadap tenaga pelaksana:
“Kalau pelatihan untuk petugas puskesmasnya sudah pernah dek.
Pelatihannya yang melatih dari dinas, sudah cukup baik, kalau untuk kadernya ada yang sudah ikut pelatihan ada yang belum ikut dek kemaren pelatihannya di buat di siantar hotel yang melatih dari provinsi tapi ya itu tadi belum semua kader ikut pelatihannya jadi sisanya yang belum kamila yang memberi arahan sama mereka dek.” (Informan 1)
“Kalau pelatihannya pihak dinas ada dek yang melatih. Dulu sering itu ada kabar pelatihan-pelatihan gitu sekarang udah jarangla dek. Langsung di bina orang dinas kan bagus jadi kami pun tau seharusnya kayak mana.
Kalau untuk kader ada pernah dek dari provinsi tapi ya itu tadi dek belum semua kader yang ikut pelatihannya, maunya diadakan lagi pelatihan untuk kader ini dek jadi bisa ikut orang ini kan biar lebih paham tentang posbindunya sama PTMnya dek jadi ilmu yang di dapat juga bisa di bagikan ke masyarakat lain dek” (Informan 2)
“kalau saya belum pernah ikut pelatihan dek tapi ada juga kader yang sudah ikut,pengen juga si dek ikut kalau di adakan lagi pelatihannya biar kami juga tambah pengetahuan kan dek tentang posbindu sama biar kami juga bisa ngasih solusi sama masyarakat kalau ada yang bertanya”
(Informan 5)
Berdasarkan kutipan informan di atas tentang pelatihan terhadap tenaga kesehatan Puskesmas Kartini dapat diketahui bahwa pelatihan sudah dilakukan.
Pelatihan dilakukan di Dinas Kesehatan Kota Pematangsiantar. Pelatihan ini menjadikan petugas Puskesmas sebagai tenaga pelaksana untuk melakukan pemeriksaan-pemeriksaan posbindu yang dibina oleh pihak Dinas Kesehatan Kota Pematangsiantar di posbindu PTM Dinas Kesehatan Kota Pematangsiantar.
Namun untuk pelatihan khusus untuk kader ada yang sudah ikut pelatihan ada juga yang belum mengikuti pelatihan. Pelatihan untuk kader pernah dilakukan di Saintar Hotel yang melatih dari provinsi tetapi belum semua kader yang
mengikutinya, bagi kader yang belum mengikuti pelatihan hanya diberi pengetahuan dasar mengenai pelaksanaan Posbindu seperti mencatat dan menimbang oleh petugas posbindu di Puskesmas Kartini yang sudah mengikuti pelatihan, Petugas yang melakukan pelatihan bagi kader yang belum mengikuti pelatihan. Kader sebagai tenaga pelaksana seharusnya mendapatkan pelatihan khusus agar kader dapat menjalankan peran dan tugasnya dengan maksimal.
Menurut Kementerian Kesehatan RI (2013), pelatihan terhadap kader bertujuan untuk memberikan pengetahuan tentang Posbindu PTM, memberikan kemempuan dan keterampilan dalam memantau faktor risiko PTM serta melakukan konseling tindak lanjut lainnya.
Penelitian ini tidak sejalan dengan Primiyani (2018) tentang Analisis Pelaksanaan Program Pos Pembinaan Terpadu Penyakit Tidak Menular di Kota.
Solok yang menyatakan bahwa tenaga sumber daya manusia yang terlibat dalam posbindu telah dilatih baik dan sudah semua melakukan pelatihan, petugas kesehatan maupun kader. Hal ini dikarenakan tingginya komitmen dari pemerintah dalam menjalankan program posbindu PTM di kota Solok.
Sarana dan prasana. Menurut Kementerian Kesehatan RI (2019), peralatan dalam pelaksanaan Posbindu PTM bernama posbindu kit yang terdiri dari sarana strandart minimal seperti pengukuran tinggi badan, timbangan berat badan, pita pengukur lingkar perut, dan tensimeter serta alat ukur analisa lemak tubuh dan media bantu edukasi dan sarana standart lengkap seperti alat ukur kadar gula darah, alat ukur kadar kolesterol total dan trigliserida, alat ukur kadar pernafasan alkohol, tes amfetamin urin kit, dan IVA kit. Kegiatan deteksi dini
kanker leher rahim (IVA) dibutuhkan ruangan khusus dan hanya dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan. Standar sarana Posbindu PTM sarana dan peralatan yang diperlukan untuk menyelenggarakn posbindu PTM adalah sebagai berikut :
1. Untuk standar minimal lima set meja-kursi, pengukuran tinggi badan, timbangan berat badan, pita pengukur lingkar perut dan tensimeter serta buku pintar kader tentang cara pengukuran tinggi badan dan berat badan, pengukuran lingkar perut, alat ukur analisa lemak tubuh dan pengukuran tekanan darah dengan ukuran manset dewasa dan anak, alat fungsi paru sederhana (peakflowmeter)
2. Sarana standar lengkap diperlukan alat ukur kadar gula darah, alat ukur kadar kolesterol total dan trigriserida, alat ukur kadar pernafasan alkohol, tes amfetamin urin kit, dan IVA kit.
3. Untuk pelaksanaan pencatatan hasil pelaksanaan Posbindu PTM diperlukan Kartu Menuju Sehat Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular (KMS FR-PTM) dan buku pencatatan
4. Untuk mendukung kegiatan edukasi dan konseling diperlukan media KIE (Komunikasi, informasi dan edukasi) yang memadai seperti serial buku pintar kader, lembar balik, leafleat, model makan (food model) dan lainnya.
Hasil wawancara mendalam tentang sarana dan prasarana posbindu diperoleh informasi bahwa :
“kalau peralatan kita sudah ada dek tapi mashi ada beberapa peralatan yang tidak ada, rusak atau jarang tersedia pada saat posbindu, saya juga tanyakkan ke pemegang posbindunya apa-apa saja peralatan yang rusak atau tidak lengkap biar saya bisa minta ke dinas” (Informan 1)
“Ada beberapa peralatan yang belum ada dek kaya alat ukur analisa lemak tubuh, pengukuran tinggi dan alat ukur pemeriksaan fungsi paru badan dan tensimeter yang kami gunakan terkadang mau tidak cocok tekanan darahnya pas kami tensi dek jadi harus kami ganti dulu batrainya itu jadi buat waktu lama. Kalau gitu kan masyarakat jadi kecewa dek, untuk peralatan pemeriksaan gula darah seperti stick pemeriksaan gula darah terkadang mau habis” (Informan 3)
“Sudah cukupla dek timbangan kami ada tensi kami ada juga tapi ya itu tadi dek tensi kami pakai yang digital kadang agak rusak dia dek ada dua punya kami gitu dua-duanya kayak gitu dek” ( Informan 6)
“Menurut saya kurangla dek karna perlatannya kadang ada yang tidak ada jadi pergi kesana pun malas” ( Informan 8)
Berdasarkan kutipan informan dapat diketahui bahwa sarana dan prasarana yang ada dalam pelaksanaan posbindu PTM di Puskesmas Kartini belum mencukupi sehingga kegiatannya belum dapat berjalan dengan baik. Sarana dan prasarana yang terdapat di Puskesmas Kartini adalah pengukuran tinggi badan, timbangan berat badan, pengukuran lingkar perut, alat pengukuran kadar gula darah dan kolesterol seperti alat pengukur, jarum penusuk atau lancet dan stick.
Namun ada alat yang rusak dan terkadang habis seperti tensi digital, stick pemeriksaan gula darah alat yang tidak tersedia seperti pengukuran tinggi badan, alat ukur analisa tubuh dan alat ukur pemeriksaan fungsi paru.
Minimnya sarana dan prasarana di Puskesmas Kartini juga menjadi salah satu penyebab masyarakat kurang antusias untuk mengikuti kegiatan Posbindu PTM. Kegiatan program posbindu seharusnya di dukung oleh sarana dan prasarana yang memadai agar pelaksanaan kegiatan dapat berjalan dengan masksimal. Tujuan program posbindu tidak akan tercapai jika tidak didukung oleh sarana dan prasarana yang cukup. Oleh karena itu sudah seharusnya Puskesmas
Kartini melakukan pelaporan kepada pihak Dinas Kesehatan Kota Pematangsiantar untuk melengkapi sarana dan prasarana kegiatan posbindu.
Dana. Menurut Kemenkes 2014, pembiayaan dapat berasal dari bantuan Pemerintah kerjasama dengan pihak swasta dana iuran peserta ataupun dari sumber lainnya. Dana yang terkumpul dari berbagai sumber ini dapat dipergunakan untuk mendukung penyelenggaraan kegiatan Posbindu PTM seperti:
1. Biaya penyelenggaraan pertemuan sosialisasi 2. Biaya penyediaan peralatan dan bahan habis pakai
3. Biaya pelatihan dan penyegaran petugas pelaksana Posbindu PTM 4. Biaya operasional posbindu PTM seperti transport petugas pelaksana 5. Bantuan biaya rujukan bagi yang membutuhkan
Menurut Kementerian Kesehatan RI (2013), dalam mendukung terselenggaranya posbindu PTM, diperlukan pembiayaan yang memadai baik dana mandiri dari perusahaan, kelompok masyarakat/lembaga atau dukungan dari pihak lain. Puskesmas juga dapat memanfaatkan sumber-suimber pembiayaan yang potensial. Pembiayaan ini mendukung dan memfasilitasi posbindu PTM, salah satunya melalui pemanfaatan bantuan operasional kesehatan. Dana juga bisa didapat dari lembaga donor yang umumnya didapat dengan mengajukan proposal/usulan kegiatan dana dapat dipergunakan untuk mendukung kegiatan Posbindu PTM, pengganti biaya perjalanan kader, biaya penyediaan bahan habis pakai, biaya pembelian bahan Pemberi Makana Tambahan (PMT), biaya penyelenggara pertemuan, bantuan biaya rujukan bagi yang membutuhkan dan bantuan biaya duka bila ada anggota yang mengalami kecelakaan atau kematian.
Adanya keterbatasan sumber dana dapat menghambat pelaksanaan suatu program, semakin besar dana yang dikeluarkan untuk memperbaiki sebuah program maka hasilnya pun akan semakin efektif. Apabila dana yang tersedia kurang maka program akan berjalan lambat dan tidak ada kemajuan.
Dalam pelaksanaannya, dana BOK digunakan untuk mengadakan konsumsi saat acara, dana dari mitra, seperti BPJS digunakan untuk pengadaan instruktur dan dana dari masyarakat, salah satunya ialah untuk mendukung pencegahan PTM, seperti untuk mengadakan obat-obatan dan peralatan yang diperlukan. Pihak swasta dapat menyelenggarkan posbindu PTM di lingkungan kerja sendiri maupun dapat berperan serta dalam posbindu PTM di wilayah sekitarnya dalam bentuk kemitraan melalui CSR (Corporate Social Responsibility) / Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 82).
BOK merupakan bantuan pemerintah pusat kepada pemerintah daerah untuk mendukung oprasional Puskesmas dalam rangka pencapaian program kesehatan, khususnya untuk kegiatan promotif dan preventif sebagai bagian dari upaya kesehatan masyarakat. BOK diharapkan dapat mendekatkan petugas dengan masyarakat dan memperdaya masyarakat dan kader kesehatan untuk berperan aktif dalam pembangunan kesehatan. Kebijakan operasional BOK mulai direalisasikan sejak pertengahan Tahun 2010. (Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 82)
Hasil wawancara mendalam tentang dana kegiatan posbindu di Puskesmas Kartini diperoleh bahwa :
“Sumber dana posbindu dari Bantuan Operasional Kesehatan namanya.
Memang ada dana dari situ, itu hanya konsumsi untuk masyarakat, biaya transportasi petugas dan untuk bahan habis pakai.tapi belum cukup hanya sekitar 800.00/bulan Itu pun di bagi dua sama posyandu balita dananya.”
(Informan 1)
“Dana untuk kegiatan posbindu dari BOKla dek itu masih dana untuk bahan habis pakai dan uang transport saja. Posbindu disini juga belum pernah dapat dana pihak lain seperti sponsor atau lembaga yang sukarela gitu” (Informan 2)
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sumber dana dalam pelaksanan program posbindu berasal dari dana BOK (Bantuan Operasional Kesehatan) Puskesmas. Anggaran biaya untuk program kegiatan tersebut meliputi transpot petugas ke posbindu, konsumsi untuk masyarakat dan untuk bahan habis pakai.
Anggaran dana untuk kegiatan posbindu PTM sebesar Rp. 800.000/bulan dan di bagi dua dengan kegiatan posyandu balita.
Sementara dana transportasi untuk kader belum tersedia. Selain itu, biaya untuk mendukung pencegahan PTM (Penyakit Tidak Menular), seperti untuk mengadakan obat-obatan dan peralatan/fasilitas tambahan untuk pengadaan posbindu belum tersedia.
Dana untuk kegiatan Posbindu PTM seharusnya tidak hanya berupa dana transportasi untuk petugas dan dana penyediaan bahan habis pakai saja. Agar posbindu PTM dapat berjalan dengan baik, kegiatatan posbindu PTM juga memerlukan dana lain seperti dana pengganti biaya perjalanan kader dan dana pembelian bahan pemberian makanan tambahan (PMT)
Penelitian ini tidak sejalan dengan Parinduri (2014) menyatakan bahwa Puskesmas Glugur Darat tidak tergantung kepada dana yang di berikan oleh Dinas
pendanaan. Dalam pelaksanaannya, dana BOK digunakan untuk mengadakan konsumsi saat acara, dana dari mitra seperti BPJS digunakan untuk pengadaan instruktur dan dana dari masyarakat, salah satunya ialah untuk mendukung pencegahan PTM, seperti untuk mengadakan obat-obatan dan peralatan yang diperlukan.
Sasaran dan tujuan posbindu PTM. Tujuan dan kegiatan Posbindu Penyakit Tidak Menular (PTM) adalah terlaksananya pencegahan dan pengendalian faktor risiko PTM berbasis peran serta masyarakat secara terpadu rutin dan periodik. Oleh karena itu sasaran posbindu PTM cukup luas mencakup semua masyarakat usia 15 tahun ke atas baik dengan kondisi sehat, masyarakt berisiko terkena penyakit PTM. Bagi masyarakat berisiko Posbindu PTM bertujuan untuk mengenali faktor risiko PTM yang ada dan upaya mengurangi jumlah maupun intensitas faktor risiko tersebut agar tidak menjadi penyakit PTM.
dan untuk masyarakat denan penyakit PTM, Posbindu PTM bertujuan untuk mengontrol dan menjaga kesehatan secara optimal baik dengan upaya preventif seperti penyuluhan dan kuratif melalui sistem rujukan Posbindu PTM ke Puskesmas. (Dinas Kesehatan DKI Jakarta, 2017)
Sasaran Posbindu PTM dapat dibagi menjadi 3 kelompok yaitu sasaran utama, sasaran antara, dan sasaran penunjang. Pendekatan terhadap ketiga sasaran tersebut dilakukan satu persatu berurutan namun harus dilakukan secara integratif selama proses pelaksanan.
1. Sasaran Utama
Sasaran utama adalah masyarakat sehat, berisiko dan penyandang PTM
berusia 15 tahun ke atas 2. Sasaran Antara
Sasaran antara adalah individu/kelompok masyarakat yang dapat menjadi agen
pengubah faktor risiko PTM, dan dapat menciptakan lingkungan yang kondusif untuk mencegah dan mengendalikan faktor risiko PTM. Sasaran antara tersebut adalah petugas kesehatan baik pemerintah maupun swasta, tokoh panutan masyarakat, anggota masyarakat yang peduli PTM.
3. Sasaran Penunjang
Sasaran penunjang adalah individu / kelompok / organisasi / lembaga masyarakat dan profesi, lembaga pendidikan dan lembaga pemerintah yang diharapkan dapat memberi dukungan baik dukungan kebijakan, teknologi dan ilmu pengtahuan, material maupun dana untuk terwujudnya keberlangsungan aktifitas. Mereka antara lain adalah pemimpin daerah/ wilayah, perusahaan, lembaga pendidikan dan penyandang dana.
Hasil wawancara mendalam tentang sasaran dan tujuan Posbindu Penyakit Tidak Menular di Puskesmas Kartini diperoleh informasi bahwa :
“Sasarannya sebenarnya cukup luas itu dari umur 15 tahun ke atas, tapi sangat susah untuk mengajak anak diatas umur 15 tahun untuk ke Posbindu dengan alasan ya mereka sekolah atau yang lainnya, kalau Puskesmas sendiri tidak ada jadwal lain selain jadwal yang sudah kami tentukan, adapun masyarakat yang berumur 29 tahun keatas yang ke Posbindu, sudah ada rencana setidaknya membuat satu kali dalam sebulan posbindu untuk remaja mereka bisa pergi setelah pulang sekolah, harapan saya masyarakat mau untuk memeriksakan diri ke posbindu tidak hanya ibu maupun orang tua saja yang datang, agar tujuan kita untuk pencegahan PTM bisa tercapai dan untuk mengurangi tingginya PTM ” (Informan 1)
“Kalau yang datang ke Posbindu sekitar umur 28 keatas dek kalau yang umur 15-25 tahun itu gak dek, padahal sasaran kita kan umur 15 tahun ke atas, yang umurnya sudah lanjut saja kadang masih sedikit yang datang dek, rencana kita kedepannya ingin membuat jadwal posbindu itu ada juga di siang hari setelah anak-anak pulang sekolah, tapi itu masi rencana dikarenakan anggota yang kurang dan posbindu yang sudah banyak, 9 kali dalam sebulan, kami harapkan kalau nanti sudah terlaksana agar anak-anak diatas 15 tahun mau meriksa diri ke Posbindu” (Informan 2)
“Rata-rata yang datang orangtua dek kalau anak-anak tidak ada malah tidak pernah ibu lihat karena kan posbindu ini pagi jadi ya anak-anak pada sekolah makanya tidak ada yang datang ke posbindu” (Informan 5)
Berdasarkan kutipan informan di atas menyatakan bahwa sasaran Posbindu Penyakit Tidak Menular di Puskesmas Kartini untuk usia 15 tahun ke atas belum tercapai dikarenakan jadwal yang tidak sesuai dengan anak-anak yang masih sekolah, kegiatan Posbindu Puskesmas Kartini dilakukan pagi hari dan di salah satu rumah warga, yang hadir ke Posbindu PTM umur 28 tahun ke atas . Puskesmas Kartini juga sudah merencanakan untuk membuat kegiatan Posbindu yang dilakukan sebulan sekali agar masyarakat yang berusia 15 tahun ke atas mau untuk mengikuti kegiatan Posbindu yang diadakan oleh Puskesmas. Harapan Puskesmas Kartini agar masyarakat terutama masyarakat diatas umur 15 tahun mau berpartisipasi untuk datang ke Posbindu PTM agar terlaksananya tujuan PTM yaitu pencegahan dan mengendalian faktor risiko PTM.
Proses
Proses adalah langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Untuk melihat baik atau tidaknya dari proses yang dilakukan Puskesmas atau Rumah Sakit dapat diukur dari : 1) Relevan atau tidaknya proses yang diterima oleh pelanggan, 2) Efektif atau tidaknya proses
merupakan pendekatan langsung terhadap mutu pelayanan kesehatan. Jika petugas atau profesi semakin patuh terhadap standar pelayanan kesehatan maka pelayanan kesehatan yang diberikan akan semakin bermutu (Bustami, 2011)
Promosi dan sosialisasi program posbindu PTM di Puskemas Kartini dalam pencegahan DM. Pemberian promosi dan sosialisasi tentang PTM, upaya pengendalian serta manfaatnya kepada masyarakat, pemimpin wilayah misalnya camat, kepala desa/lurah seharusnya dilakukan secara rutin untuk meningkatkan kesadaran serta minat untuk berkunjung ke posbindu PTM.
Hasil wawancara mendalam tentang bagaimana promosi dan sosialisasi program posbindu PTM di Puskesmas Kartini Kota Pematangsiantar dapat diperoleh informasi :
“Kalau ada pertemuan lintas sektor, kita bahas juga bagaimana promosi dan sosialisasinya. Dari kita ya paling promosi atau ke pasien-pasienla, bilang kalau nanti atau kapan posbindunya disini ya buk,pak. Kita bilangla gratis dek biar pada mau datang tapi tetap juga yang datang sedikit. peran pemangku kepentingan disini juga kan maunya mereka juga ikut andil dalam kegiatan promosi dan sosialisasi ini. Walaupun sudah sering dibahas, toh perkembangan masyarakat yang ikut juga masih sangat sedikit.target kita terkhusus untuk penderita DM sekitar 50 orang yang mengikuti sosialisasi tapi saya lihat juga masyarakat disini kurang kemauannya untuk ikut sosialisasi dan posbindu yang datang sekitaran 15-25 orang itupun tidak semua dengan DM” (Informan 1)
“Iya promosi dilakukan, kalau sosialisasi pernah juga di kantor camat.
Melibatkan lurah,kader dan Dinas Kesehatan.kalau untuk masyrakat yang datang juga cuman sedikit. Edukasi tentang PTM juga uda ada. Cuma itu sudah lama, sekarang ya dari Puskesmas sama waktu Posbindu saja promosinya. .” (Informan 3)
“Sekarang promosi dan sosialisasi kami lakukan di Posbindu ini dek, petugas Puskesmas nanti yang melakukannya pada saat Posbindu, kalau nunggu selesai Posbindu masyarakatnya udah pada pulangla dek.”
(Informan 6)
Berdasarkan kutipan informan di atas diketahui bahwa promosi dan sosialisasi program Posbindu PTM sudah pernah dilakukan di kantor kelurahan dengan melibatkan pihak kelurahan, kepala lingkungan, kader dan Dinas keshatan yang turut menghadiri sosialisasi yang diadakan oleh Puskesmas Kartini, Puskesmas Kartini termasuk Puskesmas dengan penderita diabetes militus yang tinggi, masyarakat sekitar masih kurang antusias untuk mengikuti sosilisasi, kegiatan sosilisasi belum memenuhi target dari Puskesmas karena kurangnya partisipasi dari masyarakat untuk mengikuti sosialisasi yang dilakukan oleh pihak Puskesmas. Puskesmas Kartini menargetkan sekitar 50 orang datang untuk mengikuti sosialisasi dan pelaksanaan Posbindu namun nyatanya masyarakat yang datang sekitar 15-25 orang. Promosi juga sudah dilakukan setiap kegiatan Posbindu berlangsung, pihak Puskesmas selalu mengingatkan masyarakat agar minggu-minggu berikutnya untuk datang Posbindu. Dalam pelaksanaan posbindu diperlukan keteribatan dan peran dari pihak-pihak lain seperti pihak kecamatan, kelurahan, kepala lingkungan untuk saling bekerja sama dan juga mengetahui perannya masing-masing salah satunya untuk menggerakkan masyarakat.
Seharusnya untuk kegiatan promosi dan sosialisasi kegiatan posbindu PTM ini harus dilakukan setiap bulan dengan melibatkan para pemangku kepentingan.
Selain itu masyarakat yang sudah diberikan promosi dan sosialisasi namun masyarakat tetap tidak antusias untuk datang karena tidak sedikit masyarakat yang memiliki paradigma yang berbeda, bahwa masyarakat menganggap pelayanan program posbindu PTM kurang baik.
Pelaksanaan kegiatan posbindu PTM di Puskesmas Kartini dalam mencegah DM. Pelaksanaan Posbindu PTM di Puskesmas Kartini memiliki jadwal yang tetap yaitu di minggu kedua hari Salasa-Kamis pukul 09.30 WIB sampai dengan 11.30 WIB. Pelaksanaan kegiatan Posbindu PTM dilakukan di dua kelurahan yaitu kelurahan simarito dan sipinggol-pinggol kegiatan Posbindu PTM ini dilakukan di rumah salah satu kader.
Pelaksanaan Posbindu PTM di Puskesmas Kartini dilakukan bersamaan dengan posyandu balita. Kader memegang peranan penting dalam pelaksanaan kegiatan posbindu PTM, ada 9 Posbindu PTM di Puskesmas Kartini untuk 2 kelurahan, peserta Posbindu PTM setiap bulannya berfluktuasi, berdasarkan data 3 bulan terakhir dari 3 Posbindu PTM di Puskesmas Kartini peserta yang mengikuti kegiatan Posbindu PTM sebanyak 72 orang dan peserta penderita Diabetes Militus sebanyak 38 orang.
Menurut Kementerian Kesehatan RI (2019), pelaksanaan program posbindu PTM menggunakan sistem 5 meja, yaitu pendaftaran pada meja pertama; wawancara terarah pada meja kedua; pengukuran TB, BB, IMT, lingkar perut dan analisa lemak tubuh pada meja ketiga; pengukuran tekanan darah, gula darah, kolesterol total dan trigriserida darah, asam urat, Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA), kadar alkohol pernafasan dan tes amfetamin urin pada meja keempat; serta konseling/edukasi dan tindak lanjut lainnya pada meja kelima;
sementara untuk kegiatan deteksi dini kanker leher rahim (IVA) dibutuhkan ruangan khusus dan hanya dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan.
Kegiatan pelaksanaan Posbindu PTM yang diberikan oleh tenaga
Kegiatan pelaksanaan Posbindu PTM yang diberikan oleh tenaga