• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS PELAKSANAAN PROGRAM POSBINDU PENYAKIT TIDAK MENULAR DALAM DETEKSI DINI DAN PENCEGAHAN DM DI PUSKESMAS KARTINI KOTA PEMATANGSIANTAR TAHUN 2019

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ANALISIS PELAKSANAAN PROGRAM POSBINDU PENYAKIT TIDAK MENULAR DALAM DETEKSI DINI DAN PENCEGAHAN DM DI PUSKESMAS KARTINI KOTA PEMATANGSIANTAR TAHUN 2019"

Copied!
118
0
0

Teks penuh

(1)

TAHUN 2019

SKRIPSI

Oleh

DWI KHOLILA LUBIS NIM. 141000205

PROGRAM STUDI S1 KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

TAHUN 2019

SKRIPSI

Diajukan sebagai Salah Satu Syarat

untuk Memperoleh Gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat pada Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara

Oleh

DWI KHOLILA LUBIS NIM. 141000205

PROGRAM STUDI S1 KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(3)
(4)

Telah diuji dan dipertahankan Pada tanggal: 18 Oktober 2019

TIM PENGUJI SKRIPSI

Ketua : Dr. Juanita S.E., M.Kes.

Anggota : 1. Sri Novita Lubis, S.K.M., M.Kes.

(5)

Pernyataan Keaslian Skripsi

Saya menyatakan dengan ini bahwa skripsi saya yang berjudul berjudul

“Analisis Pelaksanaan Program Posbindu Penyakit Tidak Menular dan Deteksi Dini dalam Pencegahan DM di Puskesmas Kartini Kota Pematangsiantar Tahun 2019” beserta seluruh isinya adalah benar karya saya sendiri dan saya tidak melakukan penjiplakan atau pengutipan dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan etika keilmuan yang berlaku dalam masyarakat keilmuan kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebut dalam daftar pustaka. Atas pernyataan ini, saya siap menanggung risiko atau sanksi yang dijatuhkan kepada saya apabila kemudian ditemukan adanya pelanggaran terhadap etika keilmuan dalam karya saya ini, atau klaim dari pihak lain terhadap keaslian karya saya ini.

Medan, Oktober 2019

Dwi Kholila Lubis

(6)

Abstrak

Penyakit diabetes merupakan salah satu PTM dimana kadar glukosa di dalam darah cukup tinggi. Berdasarkan WHO (2010) lebih dari 220 juta orang di dunia menderita diabetes di Tahun 2004, WHO memprediksikan bahwa akan terjadi peningkatan dua kali lipat kematian akibat diabetes antara Tahun 2005-2030.

Berdasarkan data IDF (2017), Indonesia merupakan Negara ke-6 penderita diabetes terbanyak di dunia yaitu sebanyak 10,3 juta orang. Posbindu PTM merupakan program nasional untuk menanggulangi masalah PTM yang menentukan DM sebagai penyakit utama melalui pendekatan preventif promotif.

Jenis Peneitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode observasi dan wawancara mendalam terhadap 21 informan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan program Posbindu PTM dalam pencegahan Diabetes Militus di wilayah kerja Puskesmas Kartini Tahun 2019. Hasil penelitian menunjukkan bahwa input meliputi tenaga pelaksana sudah mencukupi, sarana dan prasarana yang tidak lengkap, dan biaya opersional sangat terbatas berasal dari dana BOK Puskesmas. Proses meliputi kegiatan program posbindu tidak semua kegiatan dilakukan. Masih terdapat beberapa hal yang menjadi bahan evaluasi yang perlu ditingkatkan untuk pencapaian output dari pelaksanaan posbindu PTM dalam deteksi dini, pencegahan Diabetes Militus termasuk kurangnya antusias masyarakat untuk mengikuti kegiatan posbindu.Berdasarkan hasil penelitian tersebut, diharapkan adanya dukungan dari berbagai pihak untuk penyelenggaraan posbindu PTM di Puskesmas Kartini. Diharapkan petugas mampu menjalankan program posbindu PTM dengan inovasi-inovasi baru serta meningkatkan kualitas maupun kuantitas dari kegiatan posbindu PTM dalam deteksi dini, pencegahan DM.

Kata kunci: Posbindu PTM, Diabetes Melitus

(7)

Abstract

Diabetes is one of non communicable diseases (NCD) when glucose in blood higher than in usual. According to WHO (2010) more than 220 million people in the world suffer diabetes at 2004, WHO predict that it will increase twice of the death cause diabetes in 2005-2030. According to IDF (2017), Indonesia becoming the seventh country of the largest diabetes number in the world, 10,3 million people. Non Communicable Diseases Integrated Service Post (NCDISP) program is a national program for solving NCD, diabetes as one of main focus diseases, by using preventive promotion. This research aims to know the implemention of Posbindu PTM Program early detection and prevention of diabetes in the working area of Puskesmas Kartini in 2019 this research type is qualitative research with observation method and in-depth unterview to 21 informants.The result of the research showed that inputs include Posbindu implementing staff is sufficient, facilities dan infrastructure are classified as minimal and very limited operational costs derived from funds BOK Health Center. The process includes activites Posbindu program not al activites carried out. There are still same things that need to be evaluated for the achievemen of output from the implementation Posbinu PTM early detection and prevention of diabetes including the lack of enthusiasm for the citizen to follow Posbindu activites. Based on the result of the research, expected there will supported by others for implementing NCDISP program at Kartini Health Center. The Staff should implement the program with some innovation to increase quality and quantity of the program for early detection and complication prevention of diabetes.

Keywords: Posbindu PTM, Diabetes Mellitus

(8)

Kata Pengantar

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT atas segala berkah yang telah diberikan-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Analisis Pelaksanaan Program Posbindu Penyakit Tidak Menular dalam Deteksi Dini dan Penceghan DM di Puskesmas Kartini Kota Pematangsiantar Tahun 2019”. Skripsi ini adalah salah satu syarat yang ditetapkan untuk memperoleh gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

Selama proses penyusunan skripsi ini, penulis banyak mendapatkan bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak baik moril maupun materil. Pada kesempatan ini, penulis menyampaikan ucapan terima kasih sebesar-besarnya kepada :

1. Prof. Dr. Runtung Sitepu, S.H., M.Hum., selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.

2. Prof. Dr. Dra. Ida Yustina, M.Si., selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

3. Dr. Drs. Zulfendri, M.Kes., selaku Ketua Departemen Administrasi dan Kebijakan Kesehatan.

4. Dr. Juanita S.E., M.Kes., selaku Sekretaris Departemen Administrasi dan Kebijakan Kesehatan Universitas Sumatera Utara dan juga sebagai Dosen Pembimbing yang telah memberikan bimbingan, arahan dan motivasi kepada penulis untuk berjuang dengan sungguh-sungguh.

(9)

5. Sri Novita Lubis, S.K.M., M.Kes., selaku Dosen Penguji I yang telah memberikan kritik dan saran untuk penyempurnaan skripsi ini.

6. Puteri Citra Cinta Asyura Nasution, S.K.M., M.P.H., selaku Dosen Penguji II yang telah memberikan kritik dan saran untuk penyempurnaan skripsi ini.

7. Seluruh Dosen dan Staf di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara, terutama Departemen Administasi dan Kebijakan kesehatan yang telah banyak memberikan bantuan selama penulisan mengikuti pendidikan.

8. Kepala Puskesmas dan seluruh Staf di Puskesmas Kartini, serta para kader yang telah memberikan bantuan selama penelitian berlangsung.

9. Teristimewa untuk kedua orang tua penulis tercinta yang senantiasa memberikan motivasi, doa, kasih saying, dan dukungan baik moril maupun materi

10. Semua pihak yang telah berjasa dan tidak bisa disebutkan satu persatu atas bantuan dan kerjasamanya dalam penyelesaian skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu penulis mengharapkan saran dan kriktik yang membangun demi kesempuraan skripsi ini. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi penulis.

Medan, Oktober 2019

Dwi Kholila Lubis

(10)

Daftar Isi

Halaman

Halaman Persetujuan i

Halaman Penetapan Tim Penguji ii

Halaman Pernyataan Keaslian Skripsi iii

Abstrak iv

Abstract v

Kata Pengantar vi

Daftar Isi viii

Daftar Tabel xi

Daftar Gambar xii

Daftar Lampiran xiii

Daftar Istilah xiv

Riwayat Hidup xv

Pendahuluan 1

Latar Belakang 1

Perumusan Masalah 5

Tujuan Penelitian 5

Tujuan umum 5

Tujuan khusus 5

Manfaat Penelitian 6

Tinjauan Pustaka

Puskesmas 7

Pengertian 7

Fungsi puskesmas 7

Tujuan puskesmas 8

Diabetes Melitus 8

Jenis diabetes melitus 9

Gejala diabetes melitus 10

Faktor risiko diabetes melitus 11

Pencegahan diabetes militus 11

Upaya pengendalian DM 13

Posbindu PTM 13

Pengertian 13

Tujuan 14

Sasaran kegiatan 14

Wadah kegiatan 14

Pelaku kegiatan 14

Bentuk kegiatan 15

Pengelompokan tipe posbindu 17

(11)

Langkah-Langkah Penyelenggaraan Posbindu PTM 18

Persiapan 18

Pelatihan petugas pelaksana posbindu PTM 19

Kegiatan kader/pelaksana posbidu PTM 20

Pelaksanaan Posbindu PTM 20

Waktu 20

Tempat 21

Pelaksanaan kegiatan 21

Pembiayaan 24

Pencatatan dan pelaporan 25

Tindak lanjut hasil kegiatan 25

Rujukan posbindu PTM 27

Landasan Teori 28

Kerangka Berpikir 30

Metode Penelitian 32

Jenis Penelitian 32

Lokasi dan Waktu Penelitian 32

Subjek Penelitian 32

Definisi Konsep 33

Metode Pengumpulan Data 33

Metode Analisis Data 34

Hasil Penelitian dan Pembahasan 36

Gambaran Umum Lokasi Penelitian 36

Letak geografis Puskesmas Kartini 36

Wilayah kerja 36

Demografi 36

Karakteristik Informan 38

Alur Pelaksanaan Kegiatan Posbindu PTM di Puskesmas Kartini 39

Input 39

Tenaga pelaksana 39

Pelatihan terhadap tenaga pelaksana 43

Sarana dan prasana 45

Dana 48

Sasaran dan tujuan posbindu PTM 51

Proses 53

Promosi dan sosialisasi program posbindu PTM di

Puskemas Kartini dalam pencegahan DM 54

Pelaksanaan kegiatan posbindu PTM di Puskesmas Kartini

dalam mencegah DM 56

Pelaksanaan rujukan program posbindu PTM di puskesmas 63 Pencatatan dan pelaporan kegiatan program posbindu PTM

di Puskesmas Kartini 64

Monitoring dan evaluasi program posbindu PTM di

(12)

Hambatan dalam pelaksanaan kegiatan program posbindu

PTM dalam pencegahan DM di Puskesmas Kartini 69

Output 70

Keterbatasan Penelitian 71

Kesimpulan dan Saran 72

Kesimpulan 72

Saran 73

Daftar Pustaka 75

Lampiran 78

(13)

Daftar Tabel

No Judul Halaman

1 Materi Pelatihan Kader/Pelaksana Posbindu PTM 19

2 Pembagian Peran Kader 22

3 Frekuensi dan Jangka Waktu Pemantauan Faktor Risiko PTM 26 4 Demografi Penduduk di Wilayah Kerja Puskesmas Kartini 36 5 Distribusi Jumlah Tenaga Kesehatan di Puskesmas Kartini 37 6 Sarana dan Prasarana Kesehatan di Puskesmas Kartini Tahun

2018 37

7 Karakteristik Informan 38

(14)

Daftar Gambar

No Judul Halaman

1 Proses kegiatan posbindu PTM 21

2 Alur tindak lanjut dan rujukan hasil deteksi dini di posbindu 28

3 Kerangka berpikir 30

4 Alur pelaksana hasil observasi kegiatan Posbindu PTM di

Puskesmas Kartin 39

(15)

Daftar Lampiran

Lampiran Judul Halaman

1 Pedoman Wawancara 78

2 Hasil Wawancara Mendalam 84

3 Lembar Cheklis Peralatan Posbindu 96

4 Dokumentasi Penelitian 97

5 Surat Izin Penelitian Fakultas Kesehatan Masyarakat 99 6 Surat Izin Penelitian dari Dinas Kesehatan Kota

Pematangsiantar 100

7 Surat Selesai Penelitian dari Puskesmas Kartini 101

(16)

Daftar Istilah

DM Diabetes Melitus

IDF International Diabetes Federation IVA Inspeksi Visual Asam Asetat GDM Gestasional Diabetes Melitus

KMS FR-PTM Kartu Menuju Sehat Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular

PJK Penyakit Jantung Koroner

POSBINDU Pos Pembinaan Terpadu PTM Penyakit Tidak Menular

UKBM Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat UKM Upaya Kesehatan Masyarakat

WHO World Health Organization

(17)

Riwayat Hidup

Penulis bernama Dwi Kholila Lubis, lahir pada tanggal 15 November 1996 di Kota Pematangsiantar. Penulis beragama Islam, anak ke empat dari empat bersaudara dari pasangan Bapak Baharuddin Lubis dan Ibu Rafiah.

Pendidikan formal penulis dari pendidikan SD swasta YPHI Tahun 2002- 2008, penulis melanjutkan pendidikan menengah pertama di SMP Negeri 4 Pematangsiantar Tahun 2008-2011, dan melanjutkan pendidikan menengah atas di SMA Negeri 4 Pematangsiantar Tahun 2011-2014. Penulis kemudian menempuh pendidikan S1 di Universitas Sumatera Utara Fakultas Kesehatan Masyarakat, Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat Peminatan Administrasi Kebijakan dan Kesehatan.

Medan, Oktober 2019

Dwi Kholila Lubis

(18)

Masalah kesehatan merupakan tanggung jawab bersama dalam menanggulanginya demi terwujud masyarakat sehat, yang mempengaruhi kesehatan diantaranya adalah pengetahuan dan sikap masyarakat dalam menanggulangi penyakit. Masalah kesehatan masyarakat yang dihadapi saat ini adalah masih banyaknya penyakit menular dan penyakit tidak menular yang harus ditangani agar tidak semakin meningkat.

Penyakit Tidak Menular (PTM) merupakan penyakit yang tidak dapat ditularkan ke orang lain yang perkembangan penyakitnya berjalan secara perlahan dalam jangka waktu yang panjang, penyakit tidak menular (PTM) adalah penyebab kematian terbanyak. Penyakit PTM seperti hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung koroner, obesitas, ginjal dan stroke merupakan penyebab kematian PTM pada orang-orang yang berusia kurang dari 70 tahun dan terjadi di negara menengah dan miskin.

Penyakit diabetes melitus merupakan suatu penyakit yang disebabkan adanya peningkatan kadar gula dalam darah akibat kekurangan insulin. Diabetes Melitus merupakan golongan penyakit kronis akibat adanya gangguan sistem metabolisme dalam tubuh, dimana organ pankreas tidak mampu memproduksi hormon insulin sesuai kebutuhan. Insulin adalah salah satu hormon yang diproduksi oleh pankreas yang bertanggung jawab mengontrol jumlah/kadar gula dalam darah. Insulin dibutuhkan untuk mengubah karbohidrat, lemak dan protein

(19)

Berdasarkan WHO, pada Tahun 2017, 415 juta orang dewasa dengan diabetes, kenaikan 4 kali lipat dari 108 juta di Tahun 1980an. Hampir 80% orang diabetes di negara berpenghasilan rendah dan menengah termasuk Indonesia, pada Tahun 2017 persentase orang dewasa dengan diabetes adalah 10,3 % (1 diantara 11 orang dewasa menyandang diabetes).

Berdasarkan data International Diabetes Federation (IDF) 2017, Indonesia merupakan negara ke-6 penderita diabetes terbanyak di dunia yaitu sebanyak 10,3 juta orang setelah China (114,4 juta orang), India (72,9 juta orang), USA (30,2 juta orang), Brazil (12,15 juta orang), dan Mexico (12 juta orang), sedangkan di Indonesia penyandang diabetes diperkirakan sebesar 10 juta. Data Sample Registration Survey Tahun 2014 menunjukkan bahwa diabetes merupakan penyebab kematian terbesar nomor 3 di Indonesia dengan persentase sebesar 6,7%, stroke 21,1% dan penyakit jantung koroner 12,9%. (Kementerian Kesehatan RI, 2016)

Berdasarkan Dinas Kesehatan Sumatera Utara Tahun 2016, Kota Pematangsiantar merupakan kota tertinggi ke-tiga di Sumatera Utara dengan penderita diabetes melitus terbanyak yaitu sebesar (3,6 %) diurutan pertama Kota Medan dengan persentase (20,4 %) dan Pakpak Barat sebesar (7,6 %). Data Dinas Kesehatan Kota Pematangsiantar penyakit tidak menular Diabetes Melitus (3,6%), Penyakit Jantung Koroner (2,2 %), Hipertensi (1,3%) dan stroke (0,9%). Data Dinas Kota Pematangsiantar dari 19 Puskesmas di kota Pematangsiantar Puskesmas Kartini merupakan Puskesmas dengan penderita diabetes melitus tertinggi yaitu sebesar (1,1 %).

(20)

Indonesia merupakan salah satu negara yang telah menetapkan program nasional untuk menanggulangi masalah PTM melalui program Posbindu PTM (Pos Pembinaan Terpadu) PTM yang menentukan DM sebagai penyakit utama selain penyakit kanker, penyakit jantung dan pembuluh darah (PJPD), Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), dan gangguan akibat kecelakaan dan tindak kekerasan. Posbindu PTM merupakan kegiatan peran serta masyarakat dalam pengendalian faktor risiko PTM secara mandiri dan berkelanjutan. Posbindu PTM dilakukan untuk seluruh masyarakat yang berusia 15 tahun ke atas dengan pelaksana masyarakat dan dibantu oleh petugas puskesmas setempat. (Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 5 Tahun 2017)

Posbindu PTM (Pos pembinaan terpadu penyakit tidak menular) merupakan peran serta masyarakat dalam melakukan kegiatan deteksi dini dan salah satu bentuk upaya kesehatan masyarakat (UKM) yang selanjutnya berkembang menjadi upaya kesehatan bersumber daya masyarakat (UKMB) dalam pengendalian faktor risiko PTM di bawah pembinaan puskesmas. Posbindu dikembangkan di Indonesia pada Tahun 2011, telah tercatat sebanyak 7.225 posbindu di Indonesia dan sebanyak 201 posbindu di Provinsi Sumatera Utara.

(Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 5 Tahun 2017)

Hasil penelitian Purdiyani (2016) tentang pemanfaatan posbindu PTM, berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden tidak memanfaatkan fasilitas posbindu PTM. Banyak masyarakat yang menyatakan mereka sebenarnya ingin mengunjungi dan memanfaatkan fasilitas posbindu PTM tetapi mereka lupa akan jadwal posbindu PTM, karena informasi mengenai

(21)

posbindu PTM sangat gencar pada saat awal pembentukan tetapi semakin lama kader dan tenaga kesehatan sudah tidak lagi memberi informasi mengenai kegiatan tersebut sehingga banyak masyarakat yang lupa jadwal posbindu PTM.

Hasil penelitian yang dilakukan Parinduri (2014) mengenai Analisis pelaksanaan program posbindu PTM dan pencegahan DM di Puskesmas Glugur Darat yaitu penderita DM belum melakukan pencegahan dan penemuan dini faktor risiko DM melalui Posbindu PTM karena peran serta masyarakat yang masih kurang baik dan kurang lengkapnya sarana prasarana serta terbatasnya biaya operasional.

Berdasarkan survei pendahuluan yang sudah dilakukan rekapitulasi penyakit tidak menular di Puskesmas Kartini Kota Pematangsiantar Tahun 2016- 2018 menunjukkan pada Tahun 2016 dari 320 kasus PTM ditemukan 115 kasus DM. Tahun 2017 dari 450 kasus PTM ditemukan kasus DM sebanyak 205 kasus.

Tahun 2018 mengalami peningkatan yaitu dari 526 PTM ditemukan kasus DM sebanyak 350 kasus. Berdasarkan data tersebut, DM termasuk kasus terbesar dalam kasus PTM di Puskesmas Kartini, sehingga menjadi perhatian besar dalam upaya penanganannya.

Pelaksana kegiatan Posbindu PTM ini adalah tenaga kesehatan dan kader serta melibatkan 3 petugas yaitu dokter, perawat dan analis. Jadwal pelaksanaan Posbindu ditentukan bersama masyarakat sekitar yaitu pada setiap melaksanakan Posyandu, dalam satu bulan ada sembilan kali posyandu untuk dua kelurahan di setiap bulannya. Posbindu dilaksanakan di rumah salah satu warga. Kegiatan- kegiatan yang dilakukan adapun seperti penyuluhan dan pemeriksaan (TD, TB

(22)

dan BB) Berdasarkan hasil pencatatan pada Tahun 2018 peserta posbindu di Puskesmas Kartini berfluktuasi. Beberapa kendala lain yang diasumsikan pada saat wawancara dengan pegawai puskesmas adalah kurang memadainya sarana dan prasarana, keterbatasan tenaga salah satunya seperti tidak adanya petugas untuk memantau yang tidak berkunjung ke Posbindu PTM serta tidak efektifnya kegiatan posbindu PTM dikarenakan penggabungan kegiatan posyandu balita dan posbindu serta kurangnya kesadaran dan pengetahuan masyarakat tentang posbindu. Hal ini menyebabkan penanganan PTM di wilayah puskesmas Kartini belum optimal.

Mengacu pada latar belakang di atas maka perlu melakukan penelitian analisis pelaksanaan program posbindu PTM dalam deteksi dini dan pencegahan DM di Puskesmas Kartini Kota Pematangsiantar 2019

Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana pelaksanaan program Posbindu PTM dalam deteksi dini dan pencegahan DM di Puskesmas Kartini Kota Pematangsiantar 2019.

Tujuan Penelitian

Tujuan umum. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pelaksanaan program Posbindu PTM dalam deteksi dini dan pencegahan DM di Puskesmas Kartini Kota Pematangsiantar 2019.

Tujuan khusus. Tujuan khusus dari penelitian ini adalah :

(23)

1. Untuk menganalisis komponen input yaitu tenaga kesehatan, sarana prasarana, peralatan, dana dan sasaran tujuan Posbindu PTM

2. Untuk menganalisis komponen process yaitu pelaksanaan posbindu PTM dalam mencegah DM

3. Untuk menganalisis Komponen output yaitu masyarakat sehat, berisiko dan penderita DM dapat melakukan pencegahan dan penemuan dini faktor risiko DM

Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah :

1. Sebagai bahan masukan dan pertimbangan bagi Dinas Kesehatan Kota Siantar mengenai penanggulangan diabetes melitus sehingga dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi penanggulangan diabetes melitus di Kota Pematangsiantar.

2. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi puskesmas dan kader Posbindu PTM mengenai pelaksanaan penanggulangan diabetes melitus, sehingga dapat meningkatkan perannya dalam upaya preventif dan promotif.

3. Sebagai bahan menambah ilmu pengetahuan serta wawasan secara nyata bagi penulis.

4. Menjadi wawasan baru bagi peneliti lain dalam penelitian mengenai deteksi dini dan pencegahan diabetes melitus dengan program Posbindu PTM.

(24)

Tinjauan Pustaka

Puskesmas

Pengertian. Puskesmas adalah unit pelaksana teknis Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di suatu wilayah kerja. Unit pelaksana teknis yang dimaksud di atas adalah bahwa puskesmas berperan menyelengarakan sebagian dari teknis operasional Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan merupakan unit pelaksana tingkat pertama serta ujung tombak pembangunan kesehatan di Indonesia.

Pembangunan kesehatan yang dimaksud adalah penyelenggara upaya kesehatan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan yang optimal. Pengertian pembangunan kesehatan juga meliputi pembangunan yang berwawasan kesehatan, pemberdayaan masyarakat dan keluarga, serta pelayanan kesehatan. Sementara yang dimaksud dengan wilayah kecamatan adalah batas wilayah kerja Puskesmas dalam melaksanakan tugas dan fungsi pembangunan kesehatan. (Kardi dan Suhadi, 2015)

Fungsi puskesmas. Adapun fungsi puskesmas yaitu sebagai berikut : 1. Pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan

Puskesmas selalu berupaya mengerakkan dan memantau penyelenggaraan pembangunan lintas sektor, termasuk oleh masyarakat dan dunia usaha di wilayah kerjanya, sehingga berwawasan serta mendukung pembangunan kesehatan.

2. Puskesmas pemberdayaan masyarakat

(25)

keluarga dan masyarakat termasuk dunia usaha memiliki kesadaran, kemauan dan kemampuan melayani diri sendiri dan masyarakat untuk hidup sehat, berperan aktif dalam memperjuangkan kepentingan kesehatan termasuk sumber pembiayaan, serta ikut memantapkan, menyelenggarakan dan memantau pelaksana program kesehatan. Pemberdayaan perorangan, keluarga dan masyarakat ini diselenggarakan dengan memperhatikan kondisi dan situasi, khususnya budaya masyarakat setempat.

3. Pusat pelayanan kesehatan strata pertama

Puskesmas bertanggung jawab melaksanakan pelayanan kesehatan tingkat pertama secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan. (Kardi dan Suhadi, 2015)

Tujuan puskesmas. Tujuan puskesmas adalah untuk mendukung tercapainya pembangunan Kesehatan Nasional, yakni meningkatkan kesadaran, kemauan, kemampuan untuk hidup yang sehat bagi orang yang bertempat tinggal di wilayah kerja puskesmas itu, agar dapat terwujud derajat kesehatan yang merata. (Kardi dan Suhadi, 2015)

Diabetes Melitus

Diabetes melitus adalah suatu penyakit dimana kadar glukosa di dalam darah cukup tinggi karena tubuh tidak dapat melepaskan atau menggunakan insulin secara cukup dan seseorang dikatakan menderita diabetes melitus jika memiliki kadar gula darah pada saat puasa >126 mg/dl dan pada saat tes >200 mg/dl. (Kemeterian Kesehatan RI, 2016)

(26)

Jenis diabetes melitus. Menurut Masriadi (2016) secara umum, diabetes melitus dibagi menjadi 3 macam, yaitu :

1. Diabetes Melitus yang tergantung pada insulin (DM Tipe-1)

Diabetes tipe 1 adalah dibetes yang bergantung pada insulin. Diabetes tipe 1 berkaitan dengan ketidaksanggupan pankreas untuk membuat insulin. Diabetes tipe 1 berkaitan dengan kerusakan atau gangguan fungsi pankreas menghasilkan insulin. Penderita diabetes tipe 1 menghasilkan sedikit insulin atau sama sekali tidak menghasilkan insulin. Sebagian besar diabetes mellitus tipe 1 terjadi sebelum usia 30 tahun. Diabetes tipe 1 banyak ditemukan pada balita, anak-anak dan remaja. Diabetes mellitus tipe 1 hanya dapat diobati dengan pemberian insulin secara terus menerus.

2. Diabetes Melitus Tanpa Bergantung pada Insulin (DiabetesTipe-2)

Diabetes tipe 2 adalah diabetes yang tidak bergantung pada dimana pankreas tetap menghasilkan insulin namun jumlah insulin tidak cukup.

Kebanyakan dari insulin yang diproduksi dihisap oleh sel lemak akibat gaya hidup dan pola makan yang tidak baik. Diabetes tipe 2 biasanya terjadi pada anak-anak yang dewasa tetapi biasanya terjadi setelah usia 30 tahun. Pengontrolan kadar gula darah pada penderita diabetes tipe 2 dapat dilakukan dengan beberapa tindakan seperti diet, penurunan berat badan dan pemberian tablet diabetik.

3. Diabetes Melitus Gestasional (Diabetes Kehamilan)

Diabetes yang muncul pada saat hamil. Keadaan ini terjadi karena pembentukan beberapa hormon pada ibu hamil yang menyebabkan resistensi insulin. Gestasional Diabetes Melitus (GDM) terjadi sekitar 2-5 % dari semua

(27)

kehamilan. Diabetes ini sifatnya sementara dan harus ditangani dengan baik, karena jika tidak, bisa menyebabkan masalah dalam kehamilan seperti cacat janin, penyakit jantung sejak lahir, gangguan pada sistem saraf pusat, dan juga cacat otot

Gejala diabetes melitus. Berikut ini merupakan gejala yang umumnya dirasakan oleh penderita diabetes melitus (Masriadi, 2016) :

1. Sering buang air kecil. Tingginya kadar gula dalam darah yang dikeluarkan lewat ginjal selalu diiringi oleh air atau cairan tubuh maka buang air kecil menjadi lebih banyak. Bahkan tidur dimalam hari kerap terganggu karna ingin buang air kecil.

2. Haus dan banyak minum. Banyaknya urin yang keluar menyebabkan cairan tubuh berkurang sehingga kebutuhan akan air minum meningkat.

3. Fatugue/lelah, muncul kerap energi menurun akibat berkurangnya glukosa dalam jaringan dan sel. Kadar gula dalam darah yang tinggi tidak bisa optimal masuk dalam sel disebabkan oleh menurunnya fungsi insulin sehingga orang yang menderita diabetes melitus kekurangan energi.

4. Pusing dan berkeringat serta tidak dapat berkonsentrasi. Hal tersebut disebabkan oleh menurunnya kadar gula. Setelah seseorang mengkonsumsi gula, reaksi pankreas meningkat menimbulkan hipoglikemik.

5. Meningkatnya berat badan disebabkan terganggunya metabolisme karbohidrat karena hormon lainnya juga tergangu.

6. Gatal disebabkan oleh mengeringnya kulit akibat gangguan regulasi cairan tubuh.

(28)

7. Gangguan imunitas. Meningkatnya kadar glukosa dalam darah menyebabkan penderita diabetes rentan terhadap infeksi. Hal tersebut disebabkan oleh menurunnya fungsi del-sel darah putih.

8. Gangguan mata. Penglihatan berkurang disebabkan oleh perubahan cairan dalam lensa mata. Pandangan akan tampak berbayang karena kelumpuhan pada otot mata.

Faktor risiko diabetes melitus. Risiko adalah probabilitas atau kemungkinan terjadinya penyakit atau gangguan kesehatan. Sedangkan faktor risiko atau risk factor merupakan salah satu istilah dari risiko berupa penjabaran dari faktor-faktor determinan epidemiologi suatu penyakit yang menentukan kemungkinan terjadinya suatu penyakit. Faktor risiko bisa berupa karakteristik, perilaku, gejala atau keluhan dari seseorang yang tidak menderita yang secara statistic berhubungan dengan peningkatan insiden sebuah penyakit. (Masriadi, 2016)

Pencegahan diabetes melitus. Menurut Masriadi (2016) Pencegahan diabetes sepenuhnya meliputi :

1. Pencegahan Premordial

Ditunjuk kepada masyarakat yang sehat untuk berprilaku positif mendukung kesehatan umum dan upaya menghindarkan diri dari risiko DM.

misalnya berprilaku hidup sehat, tidak merokok makan makanan yang bergizi dan seimbang atau pun diet membatasi diri terhadap makanan tertentu atau kegiatan jasmani yang memadai.

(29)

2. Promosi Kesehatan

Ditunjuk pada kelompok berisiko untuk mengurangi atau menghilangkan risiko yang ada. Dapat dilakukan penyuluhan dan penambahan ilmu terhadap masyarakat.

3. Pencegahan Khusus

Ditunjuk kepada mereka yang mempunyai risiko tinggi untuk melakukan pemeriksaan atau upaya agar tidak jatuh ke diabetes melitus. Upaya ini dapat berbentuk konsultasi gizi/dietetic.

4. Diagnosis Awal

Dilakukan penyaringan yakni pemeriksaan kadar gula darah dalam kelompok risiko. Diabetes mellitus mudah di diagnosa dengan bantuan pemeriksaan sederhana terlebih dengan teknologi canggih. Hanya saja keinginan masyarakat untuk memeriksakan diri dan aksebilitas yang rendah (Pelayanan yang tersedia masih kurang dan belum mudah didapatkan oleh masyarakat)

5. Pengobatan yang Tepat

Dikenal berbagai macam upaya dan pendekatan pengobatan terhadap penderita untuk tidak jatuh ke diabetes melitus yang lebih berat atau komplikasi.

6. Rehabilitasi

Rehabilitasi social maupun medis bertujuan untuk memperbaiki keadaan yang terjadi akibat komplikasi atau kecacatan yang terjadi karena DM. Upaya rehabilitasi fisik berkaitan dengan akibat lanjut DM yang telah menyebabkan adanya amputasi (Masriadi, 2016)

(30)

Upaya pengendalian DM. Menurut Masriadi (2016) diabetes melitus merupakan kondisi yang tidak dapat disembuhkan, tetapi dapat dikendalikan melalui lima pilar kendali diabetes. Upaya pengendalian diabetes akan membuat diabetes dapat hidup normal layaknya orang sehat yang lain. Lima pilar tersebut, sebagai berikut :

1. Edukasi diabetes

Diabetesi harus selalu ingin tahu perihal diabetes melalui kegiatan membaca, mengikuti ceramah edukasi, seminar dan lain sebagainya.

2. Mengatur pola makan

Diabetesi harus mengatur pola makannya dengan prinsip 3 J yaitu tepat jadwal, tepat jenis, dan tepat jumlah makan.

3. Melakukan aktivitas fisik

Diabetesi harus melakukan aktivitas fisik dan olahraga secara teratur. Dosis olahraga dapat diatur dengan pedoman FIT, yaitu frekuensi, intensitas, dan time (waktu).

4. Pemantauan gula darah secara mandiri.

Pemeriksaan gula darah secara mandiri bermanfaat agar pengidap diabetes mengetahui kadar gula darahnya sehingga bisa mengatur pola makan, aktivitas, dan dosis obat atau dosis hormon insulin yang harus diterapkan.

Posbindu PTM

Pengertian. Posbindu PTM merupakan wujud peran serta masyarakat dalam kegiatan deteksi dini, monitoring dan tindak lanjut dini faktor risiko PTM secara mandiri dan berkesinambungan. Kegiatan ini dikembangkan sebagai

(31)

bentuk kewaspadaan dini terhadap PTM mengingat hampir semua faktor risiko PTM tidak memberikan gejala kepada yang mengalaminya. Posbindu PTM menjadi salah satu upaya kesehatan masyarakat atau UKM yang selanjutnya berkembang menjadi upaya kesehatan bersumber daya masyarakat (UKBM) dalam pengendalian faktor risiko PTM di bawah pembinaan Puskesmas.

(Kementerian Kesehatan RI, 2014)

Tujuan. Meningkatkan peran serta masyarakat sehat, berisiko dan penyandang PTM berusia 15 tahun ke atas. (Kementerian Kesehatan RI, 2014)

Sasaran kegiatan. Sasaran utama adalah kelompok masyarakat sehat, berisiko dan penyandang PTM berusia 15 tahun ke atas. (Kementerian Kesehatan RI, 2014)

Wadah kegiatan. Penyelenggaraan kegiatan Posbindu PTM dapat dilakukan dilingkungan tempat tinggal dalam wilayah desa/kelurahan ataupun fasilitas publik lainnya seperti sekolah dan perguruaan tinggi, tempat kerja, tempat ibadah, pasar, terminal dan sebagainya. Kegiatan ini dapat berlangsung secara terintegrasi dengan kegiatan masyarakat yang sudah aktif seperti majelis taklim, karang taruna dan lain-lainnya. Posbindu PTM dalam pelaksanaannya dilapangan dapat bersama-sama dengan program atau pelayanan lainnya yang diberikan.

Dalam rangka menarik minat dan meningkatkan kepatuhan masyarakat seperti posyandu balita, posyandu lansia maupun puskesmas keliling dan lainnya.

(Kementerian Kesehatan RI, 2014)

Pelaku kegiatan. Penyelenggaraan posbindu PTM dilakukan oleh petugas pelaksana posbindu PTM yang berasal dari kader kesehatan yang telah ada atau

(32)

beberapa orang dari masing-masing kelompok/organisasi/lembaga/tempat kerja yang bersedia menyelenggarakan posbindu PTM yang dilatih secara khusus, dibina atau difasilitasi untuk melakukan pemantauan faktor risiko PTM dimasing- masing kelompok atau organisasinya. Pembina pelaksanaan kegiatan ini adalah puskesmas pembina diwilayah tersebut dan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota tersebut. (Kementerian Kesehatan RI, 2014)

Bentuk kegiatan. Menurut Kementerian Kesehatan RI Tahun 2014 Posbindu PTM meliputi 10 (sepuluh) kegiatan :

1. Kegiatan penggalian informasi faktor risiko dengan wawancara sederhana tentang riwayat PTM pada keluarga dan diri peserta, aktifitas fisik, merokok, kurang makan sayur dan buah, potensi terjadinya cedera dan kekerasan rumah tangga, serta informasi lainnya yang dibutuhkan untuk identifikasi masalah kesehatan berkaitan dengan terjadinya PTM.

2. Kegiatan pengukuran berat badan, tinggi badan, lingkar perut, analisis lemak tubuh, dan tekanan darah sebaiknya diselenggarakan 1 bulan sekali. Analisa lemak tubuh hanya dapat dilakukan pada usia 10 tahun ke atas.

3. Kegiatan pemeriksaan fungsi paru sederhana diselenggarakan 1 tahun sekali bagi yang sehat, sementara yang berisiko 3 bulan sekali dan penderita gangguan paru dianjurkan 1 bulan sekali. Pemeriksaan fungsi paru sederhana sebaiknya dilakukan oleh tenaga kesehatan yang telah terlatih.

4. Kegiatan pemeriksaan gula darah bagi individu sehat paling sedikit diselenggarakan 3 tahun sekali dan bagi yang telah mempunyai faktor risiko

(33)

PTM atau penyandang diabetes melitus paling sedikit 1 tahun sekali. Untuk pemeriksaan glukosa darah dilakukan oleh tenaga kesehatan (dokter/perawat/

bidan/analis laboratorium dan lainnya).

5. Kegiatan pemeriksaan kolesterol total dan trigliserida, bagi individu sehat disarankan 5 tahun sekali dan bagi yang telah mempunyai faktor risiko PTM 6 bulan sekali dan penderita dislipedemia/gangguan lemak dalam darah minimal 3 bulan sekali. Untuk pemeriksaan gula darah dan kolesterol darah dilakukan oleh tenaga kesehatan yang ada di lingkungan kelompok masyarakat tersebut.

6. Kegiatan pemeriksaan IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat) dilakukan sebaiknya minimal 5 tahun sekali bagi individu sehat, setelah hasil IVA positif, dilakukan tindakan pengobatan krioterapi, diulangi setelah 6 bulan, jika hasil IVA negatif dilakukan pemeriksaan ulang 5 tahun, namun bila hasil IVA positif dilakukan tindakan pengobatan krioterapi kembali.

7. Kegiatan pemeriksaan kadar alkohol pernafasan dan tes amfetamin urin bagi kelompok pengemudi umum yang dilakukan oleh tenaga kesehatan (dokter, perawat/bidan/analis laboratorium dan lainnya)

8. Kegiatan konseling dan penyuluhan, harus dilakukan setiap pelaksanaan posbindu PTM. Hal ini penting dilakukan karena pemantauan faktor risiko kurang bermanfaat bila masyarakat tidak tahu cara mengendalikannya.

9. Kegiatan aktifitas fisik atau olahraga bersama, sebaiknya tidak hanya dilakukan jika ada penyelenggaraan posbindu PTM namun perlu dilakukan rutin setiap minggu.

(34)

10. Kegiatan rujukan ke fasilitas layanan kesehatan dasar di wilayahnya dengan pemanfaatan sumber daya tersedia termasuk upaya respon cepat sederhana dalam penanganan pra rujukan.

Pengelompokan tipe posbindu. Menurut Kemenkes RI 2014.

Berdasarkan jenis kegiatan deteksi dini, pemantauan dan tindak lanjut yang dapat dilakukan oleh posbindu PTM, maka dapat dibagi menjadi 2 kelompok tipe posbindu, yaitu :

1. Posbindu PTM dasar meliputi pelayanan deteksi dini faktor risiko sederhana, yang dilakukan dengan wawancara terarah melalui penggunaan instrument untuk mengidentifikasi riwayat penyakit tidak menular dalam keluarga dan yang telah diderita sebelumnya, perilaku berisiko, potensi terjadinya cedera dan kekerasan dalam rumah tangga, pengukuran berat badan, tinggi badan, lingkar perut, alat analisa lemak tubuh, pengukuran tekanan darah, pemeriksaan uji fungsi paru sederhana serta penyuluhan mengenai pemeriksaan payudara sendiri.

2. Posbindu PTM utama yang meliputi pelayanan posbindu PTM Dasar ditambah pemeriksaan gula darah, kolesterol total dan trigliserida, pemeriksaan klinis payudara, pemeriksaan IVA (Inspeksi Asam Asetat), pemeriksaan kadar alkohol pernafasan dan tes amfetamin urin bagi kelompok pengemudi umum, dengan pelaksana tenaga kesehatan terlatih (Dokter, bidan, perawat kesehatan/tenaga analis laboratorium/lainnnya) di desa/kelurahan, kelompok masyarakat, lembaga/institusi. Untuk penyelenggaraan posbindu PTM utama dapat dipadukan dengan pos

(35)

Kesehatan Desa atau Kelurahan siaga aktif, maupun di kelompok masyarakat/lembaga/institusi yang tersedia tenaga kesehatan tersebut sesuai dengan kompetensinya.

Kemitraan. Dalam penyelenggaraan posbindu PTM tatanan desa/kelurahan perlu dilakukan kemitraan dengan forum desa/kelurahan Siaga, industri, dan klinik swasta untuk mendukung implementasi dan pengembangan kegiatan. Kemitraan dengan forum desa/kelurahan siaga aktif, pos kesehatan desa/kelurahan serta klinik swasta bermanfaat bagi posbindu PTM untuk komunikasi dan koordinasi dalam mendapatkan dukungan dari pemerintah daerah.

Dukungan dapat berupa sarana/prasarana lingkungan yang kondusif untuk menjalankan pola hidup sehat misalnya fasilitas olahraga atau sarana pejalan kaki yang aman dan sehat. Melalui klinik desa siaga (jika sudah ada) dapat dikembangkan sistem rujukan dan dapat diperoleh bantuan teknis medis untuk pelayanan kesehatan. Sebaliknya bagi forum desa siaga penyelenggaraan posbindu PTM merupakan akselerasi pencapaian desa/kelurahan siaga aktif.

(Kementerian Kesehatan RI, 2014)

Langkah-Langkah Penyelenggaraan Posbindu PTM

Persiapan. Menurut Kemenkes RI (2014) setelah mengadakan pertemuan advokasi dan sosialisasi dengan pihak Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dan Puskesmas maka Puskesmas menindak lanjutin dengan mendeteksi kelompok- kelompok potensial yang sudah ada diwilayah kerjanya. Kesepakatan bersama yang dihasilkan menjadi bahan perencanaan dalam mengembangkan Posbindu

(36)

PTM sesuai dengan sumber daya yang tersedia. Kesepakatan yang dihasilkan berupa :

1. Kesepakatan menyelenggarakan posbindu PTM 2. Menetapkan jadwal pelaksanaan posbindu PTM 3. Menetapkan jenis layanan posbindu PTM

4. Melengkapi sarana dan prasarana pendukung kegiatan termasuk pembiayaan Pelatihan petugas pelaksana posbindu PTM. Peserta pelatihan adalah petugas pelaksana Posbindu PTM. Agar pelatihan berlangsung efektif jumlah seluruh peserta maksimal 30 orang yang berarti Puskesmas akan melatih 6 posbindu PTM yang masing-masing posbindu PTM terdiri dari 5 orang. Waktu pelaksanaan pelatihan selama 3 hari atau disesuaikan dengan kondisi setempat dengan modul yang telah dipersiapkan. Materi kader dan pelaksana Posbindu (Kementerian Kesehatan RI, 2014)

Tabel 1

Materi Pelatihan Kader/Pelaksana Posbindu PTM Materi Pelatihan

PTM dan faktor risiko

Posbindu PTM dan Pelaksanaannya Tahapan kegiatan Posbindu PTM

Meja 1 : pendaftaran,pencatatan Meja 2 : tehnik wawancara terarah

Meja 3 : pengukuran TB, BB, IMT, Lingkar perut dan analisa lemak tubuh Meja 4 : Pengukuran tekanan darah, gula, kolesterol total dan trigeserida

darah, pemeriksaan klinis payudara, uji fungsi paru sederhana, IVA, kadar alkohol pernafasan dan tes amfetamin urin

Cara pengukuran berat badan, tinggi badan, lingkar perut, IMT, analisa lemak tubuh, tekanan darah

Pengukuran kadar alkohol pernafasan dan tes amfetamin urin Pemeriksaan glukosa darah

Pemeriksaan kolesterol dan trigriserida darah

(37)

Tabel 1

Materi Pelatihan Kader/Pelaksana Posbindu PTM Materi Pelatihan

Pemeriksaan uji fungsi paru sederhana

Pemeriksaan klinis payudara dan IVA (khusus dokter bidan) Pencatatan

Rujukan dan respon cepat sederhana

Kegiatan kader/pelaksana posbidu PTM. Menurut Kementerian Kesehatan RI (2014) setelah kader pelaksana dilatih langkah yang dilakukan : 1. Melaporkan kepada pimpinan organisasi/ lembaga atau pimpinan wilayah 2. Mempersiapkan dan melengkapi saran yang dibutuhkan

3. Menyusun rencana kerja

4. Memberikan informasi kepada sasaran

5. Melaksanakan wawancara, pemeriksaan, pencatatan dan rujukan bila dierlukan setiap bulan

6. Melaksanakan konseling

7. Melaksanakan penyuluhan berkala

8. Melaksanakan kegiatan aktifitas fisik bersama 9. Membangun jejaring kerja

10. Melakukan konsultasi dengan petugas bila diperlukan Pelaksanaan Posbindu PTM

Waktu. Posbindu PTM diselenggarakan sebulan sekali bila diperlukan dapat lebih dari satu kali dalam sebulan pelaksanaan waktu ini dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kesepakatan bersama. (Kementerian Kesehatan RI, 2014)

(38)

Tempat. Tempat pelaksanaan adalah tempat yang sudah disepakati dan menjadi tempat yang rutin bagi kelompok tersebut melaksanakan kegiatan.

Posbindu PTM dapat dilakukan dirumah warga pada lingkungan permukiman balai desa/kelurahan, salah satu ruang perkantoran/klinik atau tempat tertentu yang disediakan oleh masyarakat secara swadaya. (Kementerian Kesehatan RI, 2014)

Pelaksanaan kegiatan. Posbindu PTM dilaksanakan dengan 5 tahapan layanan yang disebut sistem 5 meja, namun dalam situasi kondisi tertentu dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kesepakatan bersama. Kegiatan tersebut berupa pelayanan deteksi dini dan tindak lanjut sederhana serta monitoring terhadap faktor risiko penyakit tidak menular, termasuk rujukan ke puskesmas.

Dalam pelaksanaannya pada setiap langkah secara sederhana dapat diuraikan sebagai berikut (Kementerian Kesehatan RI, 2014)

1. Proses Kegiatan Posbindu PTM

Gambar 1. Proses kegiatan posbindu PTM

Pembagian peran kader posbindu PTM idealnya sebagai berikut, namun sebaiknya setiap kader setiap kader memahami semua peranan tersebut,

(39)

Tabel 2

Pembagian Peran Kader

Peran Kriteria dan Tugas

Koordinator Ketua dari perkumpulan dan penanggung jawab kegiatan serta berkoordinasi terhadap Puskesmas dan para Pembina terkait di wilayahnya.

Kader penggerak Anggota perkumpulan yang aktif, berpengaruh dan komunikatif bertugas menggerakkan masyarakat, sekaligus melakukan wawancara dalam penggalian informasi.

Kader Pemantau Anggota perkumpulan yang aktif dan komunikatif bertugas melakukan pengukuran faktor risiko PTM.

Kader

Konselor/Edukator

Anggota perkumpulan yang aktif, komunikatif dan telah menjadi panutan dalam penerapan gaya hidup sehat, bertugas melakukan konseling, edukasi, motivasi, serta menindaklanjuti rujukan dari puskesmas.

Kader Pencatat Anggota perkumpulan yang aktif dan komunikatif bertugas melakukan pencatatan hasil kegiatan posbindu PTM dan melaporkan kepada koordinator posbindu PTM.

Peran para pihak :

1. Kader Posbindu PTM

Dari sejumlah kader yang telah dilatih ditetapkan koordinator dan penanggung jawab untuk penggerak, pemantau, konselor/edukator serta pencatat.

Tugas yang dilakukan oleh kader pada H-1, tahap persiapan :

a. Mengadakan pertemuan kelompok untuk menentukan jadwal kegiatan.

b. Menyiapkan tempat dan peralatan yang diperlukan.

c. Membuat dan menyebarkan pengumuman mengenai waktu pelaksanaan.

Pada hari H, tahap pelaksanaan :

a. Melakukan pelayanan dengan sistem 5 meja atau modifikasi sesuai dengan kebutuhan dan kesepakatan bersama.

(40)

b. Aktivitas bersama seperti olahraga bersama, demo masak, penyuluhan, konseling, sarasehan atau peningkatan keterampilan bagi para anggotanya termasuk rujukan ke puskesmas/klinik swasta/RS.

Pada H+1, Tahap Evaluasi :

a. Menilai kehadiran (para anggotanya, kader dan undangan lainnya) b. Mengisi catatan pelaksanaan kegiatan.

c. Mengidentifikasi masalah yang dihadapi.

d. Mencatat hasil penyelesaian masalah.

d. Melakukan tindak lanjut berupa kunjungan ke rumah bila diperlukan.

e. Melakukan konsultasi teknis dengan Pembina Posbindu PTM.

f. Petugas Puskesmas

Puskesmas memiliki tanggung jawab pembinaan posbindu PTM di wilayah kerjanya sehingga kehadiran petugas puskesmas dalam kegiatan posbindu PTM sangat diperlukan dalam wujud peran :

1. Memberikan bimbingan teknis kepada para kader posbindu PTM dalam penyelenggaraannya.

2. Memberikan materi kesehatan terkait dengan permasalahan faktor risiko PTM dalam penyuluhan maupun kegiatan lainnya.

3. Mengambil dan menganalisa hasil kegiatan posbindu PTM.

4. Menerima, menangani dan memberi umpan balik kasus rujukan dari posbindu PTM.

5. Melakukan koordinasi dengan para pemangku kepentingan lain terkait.

6. Para Pemangku Kepentingan (Para Pembina Terkait) :

(41)

a. Camat

Mengkoordinasikan hasil kegiatan dan tindak lanjut posbindu PTM di wilayah kerjanya selaku penanggung jawab wilayah kecamatan serta melakukan pembinaan dalam mendukung kelestarian kegiatan posbindu PTM.

Lurah/kepala desa atau sebutan lainnya Mengkoordinasikan hasil kegiatan dan tindak lanjut posbindu PTM di wilayah kerjanya selaku penanggung jawab wilayah kecamatan serta melakukan pembinaan dalam mendukung kelestarian kegiatan posbindu PTM.

b. Para pimpinan kelompok/ lembaga/instansi/organisasi

Mendukung dan berperan aktif dalam kegiatan posbindu PTM sesuai dengan minat dan misi kelompok/lembaga/instansi/ organisasi tersebut.

c. Tokoh/penggerak masyarakat

Menggerakkan masyarakat untuk berpartisipasi secara aktif dan mendukung dengan sumberdaya yang dimiliki terhadap penyelenggaraan posbindu PTM.

Pembiayaan. Dalam mendukung terselenggaranya Posbindu PTM di perlukan pembiayaan yang memadai baik dana mandiri dari perusahaan, kelompok masyarakat/lembaga atau dukungan dari pihak lain yang perduli terhadap persoalan penyakit tidak menular di wilayah masing-masing. Puskesmas juga dapat memanfaatkan sumber-sumber pembiayaan yang potensial.

Pembiayaan ini untuk mendukung dan memfasilitasi posbindu PTM, salah satunya melalui pemanfaatan bantuan operasional kesehatan. Dana juga bisa

(42)

didapat dari lembaga donor yang umumnya didapat dengan mengajukan proposal/usulan kegiatan (Kemenkes, 2013)

Pencatatan dan pelaporan. Menurut Kemenkes RI (2014), pencatatan dan pelaporan hasil kegiatan Posbindu PTM dilakukan secara manual atau menggunakan sistem informasi manajemen PTM melalui survelains faktor risiko PTM berbasis Posbindu PTM oleh petugas Pelaksanaan Posbindu PTM maupun oleh petugas puskesmas. Petugas puskesmas mengambil data hasil pencatatan Posbindu PTM atau menerima hasil pencatatan dari petugas pelaksanaan Posbindu PTM hasil pencatatan ini dianalisis oleh petugas puskesmas untuk digunakan dalam pembinaan sekaligus melaporkan untuk instansi terkait secara berjenjang.

Tindak lanjut hasil kegiatan. Menurut Kementerian Kesehatan RI Tahun 2014 tujuan dari penyelenggaraan posbindu PTM, yaitu agar faktor risiko PTM dapat dicegah dan dikendalikan lebih dini. Faktor risiko PTM yang telah terpantau secara rutin dapat selalu terjaga pada kondisi normal atau tidak masuk dalam kategori buruk, namun jika sudah berada dalam kondisi buruk, faktor risiko tersebut harus dikembalikan pada kondisi normal. Tidak semua cara pengendalian faktor risiko PTM, harus dilakukan dengan obat-obatan.

Pada tahap dini, kondisi faktor risiko PTM dapat dicegah dan dikendalikan melalui diet yang sehat, aktivitas fisik yang cukup dan gaya hidup yang sehat seperti berhenti merokok, pengelolaan stress dan lain-lain. Melalui konseling/edukator, pengetahuan dan keterampilan masyarakat untuk mencegah dan mengendalikan faktor risiko PTM dapat ditingkatkan. Dengan proses

(43)

pembelajaran di atas secar bertahap, maka setiap individu yang mempunyai faktor risiko akan menerapkan gaya hidup yang lebih sehat secara mandiri.

Tabel 3

Frekuensi dan Jangka Waktu Pemantauan Faktor Risiko PTM

Faktor Risiko Orang sehat Faktor Risiko Penderita PTM Glukosa darah puasa 3 tahun sekali 1 tahun sekali 1 bulan sekali Glukosa darah 2 jam 3 tahun sekali 1 tahun sekali 1 bulan sekali Glukosa darah sewaktu 3 tahun sekali 1 tahun sekali 1 bulan sekali Kolesterol darah total 5 tahun sekali 6 bulan sekali 3 bulan sekali Trigliserida 5 tahun sekali 6 bulan sekali 3 bulan sekali Tekanan darah 1 bulan sekali 1 bulan sekali 1 bulan sekali Indeks Masa Tubuh

(IMT) 1 bulan sekali 1 bulan sekali 1 bulan sekali Lingkar Perut 1 bulan sekali 1 bulan sekali 1 bulan sekali Arus Puncak Ekspirasi 1 bulan sekali 3 bulan sekali 1 bulan sekali

IVA 5 tahun sekali

Cedera dan kekerasan

rumah tangga 6 bulan sekali 3 bulan sekali 3 bulan sekali

Kadar Alkohol

Pernafasan dan Tes Urin

1 tahun sekali 6 bulan sekali 1 bulan sekali

Keterangan :

1. Pada kunjungan pertama, semua faktor risiko peserta diperiksa. Untuk pemeriksaan nspeksi Visual Asam Asetat (IVA) dilakukan pada perempuan telah berhubungan seksual/menikah usia >35 tahun/riwayat pernikahan>1 kali dan dilakukan oleh bidan terlatih.

2. Pada kunjungan berikutnya bagi peserta yang tidak beri siko dan berisiko faktor risiko PTM dilakukan pemantauan pada faktor risiko perilaku, BB, lingkar perut, IMT, Analisa Lemak tubuh, Tekanan darah setiap bulan.

3. Untuk peserta yang beresiko merokok dan gejala batuk dilakukan pemeriksaan arus puncak respirasi setiap tiga bulan.

(44)

4. Untuk peserta yang mempunyai faktor risiko dislipidemia, pemeriksaan kolesterol total dan trigliserida diperiksa setiap 6 bulan sekali.

5. Untuk peserta yang berisiko kegemukan, adanya riwayat keluarga dengan DM kadar gula darah diperiksa setiap tahun.

6. Untuk penyandang PTM, semua faktor risiko dipantau setiap bulan serta pemeriksaan kolesterol total dan trigliserida diperiksa setiap 3 bulan.

7. Pemantauan faktor risiko cedera dan tindak kekerasan dalam rumah tangga dilakukan setiap bulan, sementara untuk pemeriksaan kadar alkohol pernafasan dan amfetamin urin bagi kelompok pengemudi umum dilakukan setiap bulan bagi yang bernilai positif dan 6 bulan sekali yang berisiko.

Rujukan posbindu PTM. Apabila pada kunjungan berikutnya (setelah 3 bulan) kondisi faktor risiko tidak mengalami perubahan (tetap pada kondisi buruk), atau sesuai dengan kriteria rujukan, maka untuk mendapatkan penanganan yang lebih baik harus dirujuk ke puskesmas atau klinik swasta sesuai dengan kebutuhan dan keinginan yang bersangkutan. Meskipun telah mendapatkan pengobatan yang diperlukan, kasus yang telah dirujuk tetap dianjurkan untuk melakukan pemantauan faktor risiko PTM di Posbindu PTM. (Kementerian Kesehatan RI, 2014).

(45)

Gambar 2. Alur tindak lanjut dan rujukan hasil deteksi dini di posbindu

Pelaksanaan posbindu PTM dimulai dengan layanan pendaftaran dilanjutkan dengan wawancara dan pengukuran faktor risiko PTM. Kader posbindu PTM akan melakukan konseling dan edukasi terhadap permasalahan kesehatan yang dijumpai pada peserta posbindu PTM termasuk melaksanakan sistem rujukan puskesmas bila diperlukan sesuai dengan kriteria. Hasil pelaksanaan posbindu PTM tercatat secara tertib dan diberikan kepada petugas puskesmas atau unsur pembina lainnya yang memerlukan sebagai bahan informasi. (Kementerian Kesehatan RI, 2014)

Landasan Teori

Pos Pembinaan Terpadu Penyakit Tidak Menular (Posbindu PTM) merupakan wujud peran serta masyarakat dalam kegiatan deteksi dini, monitoring dan tindak lanjut dini faktor risiko penyakit tidak menular secara mandiri dan berkesinambungan. Kegiatan ini dikembangkan sebagai bentuk kewaspadaan dini

Masyarakat Pendaftaran Wawancara Pengukuran

Rekomendasi

Rujuk ke Puskesmas/

Klinik Swasta

Konseling/

Edukasi/

Motivasi

Pencatatan

Pulang/Rujuk

(46)

terhadap penyakit tidak menular mengingat hampir semua faktor risiko penyakit tidak menular tidak memberikan gejala pada yang mengalaminya. Faktor risiko penyakit tidak menular meliputi merokok, konsumsi minuman beralkohol, pola makan tidak sehat, kurang aktivitas fisik, obesitas, stress, hipertensi, hiperglikemi, hiperkolesterol, serta menindaklanjuti secara dini faktor risiko yang ditemukan melalui konseling kesehatan dan segera merujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan dasar (Azwar, 2010).

Upaya pengendalian PTM dibangun berdasarkan komitmen bersama dari seluruh elemen masyarakat yang peduli terhadap ancaman PTM melalui posbindu PTM. Pengembangan posbindu PTM merupakan bagian integral dari sistem pelayanan kesehatan, diselenggarakan berdasarkan permasalahan PTM yang ada dimasyarakat, mencakup berbagai upaya promotif dan preventif serta pola rujukan. Pos Pembinaan Terpadu Penyakit Tidak Menular (Posbindu PTM) merupakan peran serta masyarakat dalam kegiatan deteksi dini dan pemantauan risiko PTM Utama yang dilaksanakan secara terpadu, rutin, dan periodik.

Diabetes melitus adalah suatu penyakit dimana kadar glukosa di dalam darah cukup tinggi karena tubuh tidak dapat melepaskan atau menggunakan insulin secara cukup dan seseorang dikatakan menderita diabetes melitus jika memiliki kadar gula darah pada saat puasa >126 mg/dl dan pada saat tes >200 mg/dl. (Kemeterian Kesehatan RI, 2016)

Diabetes Mellitus secara umum disebabkan oleh defisiensi insulin akibat adanya kerusakan pada sel beta pankreas dan gangguan hormonal (Mansjoer, 2005).

(47)

Kerangka Berpikir

Keberhasilan pelaksanaan program posbindu dalam mencegah diabetes melitus dapat diukur melalui indikator masukan (input), proses (process) dan luaran (output). Oleh karena itu fokus penelitian dapat disusun sebagai berikut :

Gambar 3. Kerangka berpikir

Berdasarkan gambar di atas, dapat dirumuskan definisi sebagai berikut : 1. Masukan (input) adalah segala sesuatu yang dibutuhkan dalam

penatalaksanaan DM dengan posbindu agar dapat berjalan dengan baik, meliputi : Tenaga Kesehatan, Sarana, Prasarana dan Peralatan. Tenaga pelaksana posbindu PTM adalah tenaga kesehatan yang telah mendapat pelatihan pelaksanaan posbindu PTM

a. Sarana, prasarana dan peralatan termasuk di dalamnya yaitu : obat, peralatan pemeriksaan seperti alat ukur gula darah, kolesterol, alat ukur tinggi dan berat badan, alat ukur lingkar perut, alat ukur lemak tubuh, tensimeter, alat ukur kadar alkohol, pernafasan, KMS FR-PTM, dan perlengkapan pemeriksaan yang mendukung seperti tempat posbindu diadakan, alat tulis, meja dan kursi.

Input:

1. Tenaga Pelaksana 2. Sarana, Prasarana dan Peralatan

3. Dana

4. Sasaran dan Tujuan

Process:

Pelaksanaan Posbindu PTM dalam mencegah DM

Output:

Penderita DM melakukan pencegahan dan penemuan dini faktor risiko DM

(48)

b. Dana adalah sumber dana yang dibutuhkan untuk menyelenggarakan dan memanfaatkan pelayanan kesehatan masyarakat yang tujuan utamanya untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan serta untuk mencegah penyakit.

c. Sasaran dan tujuan sasaran posbindu PTM cukup luas mencakup semua masyarakat usia 15 tahun ke atas baik dengan kondisi sehat, masyarakt berisiko terkena penyakit PTM. Tujuan dan kegiatan Posbindu Penyakit Tidak Menular (PTM) adalah terlaksananya pencegahan dan pengendalian faktor risiko PTM berbasis peran serta masyarakat secara terpadu rutin dan periode.

2. Proses (process) adalah seluruh kegiatan dari program posbindu PTM yang meliputi promosi dan sosialisasi program posbindu serta melakukan pengukuran tinggi badan, berat badan, Indeks Massa Tubuh (IMT) pemeriksaan gula darah, tekanan darah, kolesterol identifikasi faktor risiko dan konseling/edukasi, rujukan posbindu, pencatatan dan pelaporan serta pengawasan dan evaluasi program posbindu PTM.

3. Keluaran (output) adalah hasil dari suatu penatalaksanaan DM dengan posbindu, diharapkan penderita DM melakukan pencegahan dan penemuan dini faktor risiko DM melalui Posbindu PTM.

(49)

Metode Penelitian

Jenis Penelitian

Penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif yang bertujuan untuk mengetahui secara jelas dan mendalam tentang pelaksanaan program pelaksanaan posbindu PTM dan pencegahan diabetes melitus di wilayah kerja Puskesmas Kartini Kota Pematangsiantar Tahun 2019.

Lokasi dan Waktu Penelitian

Lokasi. Lokasi penelitian dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Kartini kota Pematangsiantar, dengan pertimbangan merupakan salah satu puskesmas di kota Pematangsiantar yang telah menjalankan posbindu PTM sebagai upaya penanggulangan masalah penyakit tidak menular, salah satunya ialah diabetes melitus.

Waktu penelitian. Waktu penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus 2019 sampai dengan bulan September 2019

Subjek Penelitian

Subjek adalah orang yang dimanfaatkan untuk memberikan informasi tentang situasi dan kondisi di lokasi penelitian. Informan diambil dengan menggunakan teknik purposive, yaitu teknik yang dilakukan untuk memilih informan yang bersedia dan mampu memberikan informasi yang berkaitan dengan topik penelitian, yaitu pelaksanaan program posbindu PTM dalam deteksi dini dan pencegahan komplikasi terkait, 1 informan kepala pusksmas, 2 informan petugas puskesma, 4 informan kader posbindu, 5 informan masyarakat sehat, 4 informan

(50)

Definisi Konsep

1. Posbindu PTM : Wujud peran serta masyarakat dalam kegiatan deteksi dini, monitoring dan tindak lanjut dini faktor risiko PTM secara mandiri dan berkesinambungan.

2. Input : segala sesuatu yang dibutuhkan dalam penatalaksanaan DM dengan posbindu agar dapat berjalan dengan baik,

3. Proses : segala bentuk sub kegiatan dalam pelaksanaan kegiatan Posbindu PTM yang berfungsi untuk mengubah masukan menjadi keluaran kegiatan Posbindu PTM.

4. Output : hasil dari suatu penatalaksanaan DM dengan posbindu, diharapkan penderita DM melakukan pencegahan dan penemuan dini faktor risiko DM melalui Posbindu PTM.

Metode Pengumpulan Data

1. Wawancara mendalam (in-depth interview) kepada informan dengan berpedoman pada panduan wawancara yang telah dipersiapkan.

2. Observasi, untuk menyajikan gambaran realistik perilaku dan kejadian, untuk menjawab pertanyaan, untuk membantu mengerti perilaku manusia, dan untuk evaluasi yaitu melakukan umpan balik terhadap pengukuran tersebut (Saryono dan Mekar, 2010).

Instrumen peneitian. Instrumen penelitian adalah alat-alat yang digunakan untuk mengumpulkan data seperti alat tulis, buku catatan dan alat perekam.

(51)

Metode Analisis Data

Dalam pengungkapan teknis analisis data tidak hanya sekedar mengemukakan dan menunjukkan teknik analisis data apa yang digunakan, namun perlu menunjukkan bagaimana cara pengelolahan data yang akan dilakukan ketika menggunakan teknik tersebut. Adapun teknik analisis menggunakan teknik analisis data yang dikemukakan oleh Miles dan Huberman melalui tiga proses yaitu (Prastowo, 2016) :

Reduksi data. Reduksi data merupakan suatu proses pemiihan, pemutusan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan dan transformasi data “kasar”

yang muncu dari catatan-catatan tertulis di lapangan. Reduksi data ini berlangsung terus menerus selma proyek yang berorientasi kualitatif berlangsung. Selama pengumpulan data berjalan, terjadilah tahapan reduksi selanjutnya (membuat ringkasan, mengde, menelusuri tema, membuat gugus-gugus, membuat partisi dan menulis memo).

Penyajian data. Penyajian data merupakan sekumpulan informasi tersusun yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan, dapat dipahami apa yang sedang terjadi dan apa yang harus dilakukan berdasarkan atas beberapa pemahaman. Adapun penyajian yang baik merupakan suatu cara yang utama bagi anaisis kualitatif yang valid.

Beberapa jenis bentuk penyajian adalah matriks, grafik, bagan yang bertujuan untuk memudahkan membaca dan menarik kesimpulan.

Menarik kesimpulan/verifikasi. Dalam tahap ini, peneliti membuat rumusan yang terkait dengan prinsip logika, mengangkatnya sebagai temuan

(52)

peneliti, kemudian dilanjutkan dengan mengkaji secara berulang-ulang terhadap data yang ada, pengkelompokkan data yang telah terbentuk dan kemudian disimpulkan.

Triangulasi. Triangulasi yang dilakukan dalam penelitian ini adalah triangulasi sumber data, yaitu upaya untuk melakukan pengecekan terhadap konsistensi dari berbagai sumber data dengan menggunakan metode yang sama.

Triangulasi sumber data menggunakan metode yang sama yaitu wawancara tapi ditujukan kepada sumber data yang berbeda-beda (Wibowo, 2014)

(53)

Hasil Penelitian dan Pembahasan

Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Letak geografis Puskesmas Kartini. Puskesmas Kartini dibangun di atas lahan seluas 1248 m² dan luas bangunan 396 m² pada Tahun 1965, dengan penambahan ruangan Tahun 2010, pembangunan IPAL Tahun 2014 dan memiliki 2 rumah dinas. Terletak di Jalan Dahlia Nomor 1 Kelurahan Bukit Sofa, Kecamatan Siantar Barat, Kota Pematangsiantar. Batas-batas wilayah kerja Puskesmas Kartini.

Sebelah Utara : Kelurahan Timbang Galung Sebelah Timur : Kelurahan Teladan

Sebelah Selatan : Kelurahan Kampung Kristen Sebelah Barat : Kelurahan Bah Kapul

Wilayah kerja. Puskesmas Kartini merupakan puskesmas non-rawat inap.

Wilayah kerja Puskesmas Kartini berdasarkan administrasi dibagi menjadi 2 kelurahan yaitu Kelurahan Simarito dan Kelurahan Sipinggol-pinggol.

Demografi. Jumlah penduduk di wilayah kerja Puskesmas Kartini Tahun 2017 sebanyak 14.163 jiwa yang berasal dari 2 kelurahan jumlah penduduk laki- laki sebanyak 5636 jiwa dan jumlah penduduk perempuan sebanyak 5497 jiwa.

Tabel 4

Demografi Penduduk di Wilayah Kerja Puskesmas Kartini

Kelurahan Jumlah Penduduk (Jiwa)

Luas Wilayah (Km²)

Kepadatan (jiwa/km²)

Simarito 5.480 0,420 13.047,6

Sipinggol-pinggol 5.653 0,370 15.278,4

(54)

Jumlah tenaga kesehatan di Puskesmas Kartini Kota Pematangsiantar sebanyak 33 orang dengan rincian sbagai berikut :

Tabel 5

Distribusi Jumlah Tenaga Kesehatan di Puskesmas Kartini

Jenis Tenaga Jumlah

Dokter Umum 2

Dokter Gigi 1

SKM 2

Apoteker 1

Asisten Apoteker 1

Promosi Kesehatan 1

Perawat Gigi 1

Bidan 9

Gizi 1

Analis Laboratorium 2

Perawat 9

Administrasi 3

Jumlah 33

Tabel 6

Sarana dan Prasarana Kesehatan di Puskesmas Kartini Tahun 2018

Ruang Jumlah

Kepala Puskesmas 1

Kepala Sub Bagian Tata Usaha 1

Poli Umum 1

Ruang Pendaftaran 1

Ruang Tunggu 1

Poli Gigi 1

Apotik 1

Ruang KIA/KB/Imunisasi Gizi 1

Laboratorium 1

Kamar Mandi 2

Ruang Rapat 1

Gudang Obat 1

Gudang Barang 1

Total 14

Sumber : Data Laporan Tahunan Puskesmas Kartini Tahun 2018

(55)

Karakteristik Informan

Jumlah informan penelitian sebanyak 20 informan, yang terdiri dari 1 informan Kepala Puskesmas, 2 informan petugas Puskesmas, 4 informan kader Posbindu, 5 informan masyarakat sehat, 4 informan dengan masyarakat yang berisiko DM dan 4 masyarakat dengan penderita DM.

Tabel 7

Karakteristik Informan

Informan Nama Jenis

Kelamin Pendidikan Jabatan

1 Relasti Bakara P S1-SKM Kepala

Puskesmas 2

Pipit P D3-Kebidanan Petugas

Pelaksana Posbindu

3 Fahmi P D3-Kebidanan Petugas

Posbindu

4 Tati P SMK Kader Posbindu

5 Herawati P SMA Kader Posbindu

6 Ummi P SMA Kader Posbindu

7 Mini P SMA Kader Posbindu

8 Ani P SMA Masyarakat

sehat

9 Irma P SMA Masyarakat

sehat

10 Juli P SMA Masyarakat

sehat

11 Ita P SMA Masyarakat

sehat

12 Rani P S1 Masyarakat

sehat

13 Sumirah P SMP Berisiko DM

14 Adelina P SMA Berisiko DM

15 Salbiah P SMA Berisiko DM

16 Asma P SMA Berisiko DM

17 Ijung P SMA DM

18 Betti P SMP DM

19 Sufiah P SD DM

20 Zuriah P SD DM

Gambar

Gambar 1. Proses kegiatan posbindu PTM
Gambar 2. Alur tindak lanjut dan rujukan hasil deteksi dini di posbindu
Gambar 3. Kerangka berpikir
Gambar 4. Alur pelaksana hasil observasi kegiatan Posbindu PTM di Puskesmas  Kartin

Referensi

Dokumen terkait

Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Penderita Diabetes Melitus (DM) dengan Pemanfaatan Klinik Diabetes Melitus di Puskesmas Sering Kecamatan Medan Tembung Tahun 2010.. Skripsi

Pernyataan Informan tentang kegiatan pemeriksaan yang dilakukan di Posbindu PTM di Wilayah Kerja Puskesmas Polonia.. Informan

EPIDEMIOLOGI PENYAKIT TIDAK MENULAR DALAM PROGRAM POSBINDU DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS AMBULU.. KABUPATEN JEMBER

Pelaksana posbindu masih belum sesuai dengan SPO (Standart Prosedur Operasional) Posbindu PTM, karena masih dilakukan oleh tenaga kesehatan Puskesmas Padang Bulan

Meskipun demikian, masih terdapat beberapa hal yang menjadi bahan evaluasi yang perlu ditingkatkan untuk pencapaian output dari pelaksanaan posbindu termasuk

dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan yang telah terlatih dan tersertifikasi. d) Untuk pelaksanaan pencatatan hasil pelaksanaan posbindu diperlukan kartu menuju sehat.. Faktor

Pelaksana posbindu masih belum sesuai dengan SPO (Standart Prosedur Operasional) Posbindu PTM, karena masih dilakukan oleh tenaga kesehatan Puskesmas Padang Bulan

Terkait dengan beban kerja dan efisiensi kinerja, bagaimana menurut pendapat bapak/Ibu mengenai beban kerja petugas Posbindu.. Apakah jumlah petugas yang dilatih