• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS PELAKSANAAN PROGRAM POS PEMBINAAN TERPADU PENYAKIT TIDAK MENULAR (POSBINDU PTM) DI PUSKESMAS GLUGUR DARAT TAHUN 2018 SKRIPSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ANALISIS PELAKSANAAN PROGRAM POS PEMBINAAN TERPADU PENYAKIT TIDAK MENULAR (POSBINDU PTM) DI PUSKESMAS GLUGUR DARAT TAHUN 2018 SKRIPSI"

Copied!
90
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS PELAKSANAAN PROGRAM POS PEMBINAAN TERPADU PENYAKIT TIDAK MENULAR

(POSBINDU PTM) DI PUSKESMAS GLUGUR DARAT TAHUN 2018

SKRIPSI

Oleh:

FANNY AZRYNA DAMAYANTI.S NIM : 121000059

PROGRAM STUDI S1 KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2018

(2)

SKRIPSI

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat

untuk Memperoleh Gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat pada Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara

Oleh :

FANNY AZRYNA DAMAYANTI.S NIM : 121000059

PROGRAM STUDI S1 KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2018

(3)

PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI

Saya menyatakan dengan ini bahwa skripsi yang berjudul “ANALISIS PELAKSANAAN PROGRAM POS PEMBINAAN TERPADU PENYAKIT TIDAK MENULAR (POSBINDU PTM) DI PUSKESMAS GLUGUR DARAT TAHUN 2017” beserta seluruh isinya adalah benar hasil karya saya sendiri dan tidak melakukan penjiplakan atau pengutipan dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan etika keilmuan yang berlaku dalam masyarakatkeilmuan kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebut dalam daftar pustaka. Atas pernyataan ini, saya siap menanggung risiko atau sanksi yang dijatuhkan kepada saya apabila kemudian ditemukan adanya pelanggaran terhadap etika keilmuan dalam karya saya ini, atau klaim dari pihak lain terhadap keaslian karya saya ini.

Medan, Oktober 2018

Fanny Azryna Damayanti.S

(4)
(5)

Telah diuji dan dipertahankan Pada tanggal : 10 September 2018

TIM PENGUJI SKRIPSI

Ketua : Dr. Drs. Zulfendri, M.Kes

Anggota : 1. Puteri Citra Cinta Asyura Nasution, SKM, MPH 2. dr. Rahayu Lubis, M.Kes, Ph. D

3. Dr. Juanita, SE, M.Kes

(6)

Abstrak

Penyakit tidak menular (PTM) merupakan penyakit yang lebih banyak disebabkan oleh gaya hidup manusia atau sering dikenal juga dengan penyakit degeneratif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan program Posbindu PTM di Puskesmas Glugur Darat Kecamatan Medan Timur Tahun 2017. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode observasi dan wawancara mendalam terhadap sepuluh orang informan yang terdiri Kepala Puskesmas, Dokter Penanggung Jawab Program, Bidan Penggerak, serta pasien Puskesmas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksana Posbindu PTM di Puskesmas Glugur Darat masih belum sesuai dengan konsep Posbindu PTM, karena masih dilakukan oleh tenaga kesehatan Puskesmas Glugur Darat dan alur pelaksanaan masih sama dengan pasien berobat puskesmas sehingga alur lima meja masih belum berjalan. Pemberdayaan masih belum maksimal dalam melibatkan partisipasi masyarakat dalam pencegahan, yaitu menjadikan masyarakat sebagai subjek dalam pelaksanaan Posbindu PTM di Puskesmas Glugur Darat. Kepada Penanggung jawab dan pelaksana Posbindu PTM Puskesmas Glugur Darat dapat secara konsisten menjalankan program Posbindu PTM dan lebih mengoptimalkan peran masyarakat (seperti mahasisawa kesehatan masyarakat, ibu-ibu perwiritan, kantor dan tempat umum lainnya) dalam pelaksanaan Posbindu PTM. Dan kepada kepala Puskesmas Glugur Darat untuk memberikan kebijakan mengenai pelaksanaan Posbindu PTM agar lebih terarah dengan menerapkan sistem lima meja dan tidak disatukan dengan pasien berobat puskesmas umum.

Kata Kunci : Program Pos Pembinaan Terpadu Penyakit Tidak Menular, Puskesmas

(7)

Abstract

Non-communicable diseases (PTM) are more diseases caused by human lifestyles or often known as degenerative diseases. This study aims to find out how the program implementation of integrated PTM coaching in the Glugur Darat Public Health Center in East Medan Subdistrict 2017. The type of this research is qualitative research with observation methods and in-depth interviews of ten informants consisting of the Head of Puskesmas, Physicians in Charge of Programs, Midwives Driving , as well as Puskesmas patients. The results showed that the implementer of PTM integrated coaching at Glugur Darat Health Center was still not in accordance with the concept of PTM integrated post development, because it was still carried out by Glugur Darat Health Center health workers and the flow of implementation was still the same as puskesmas medical treatment so the five-table groove was still not running. Empowerment is still not maximal in involving community participation in prevention, namely making the community as a subject in the implementation of integrated PTM coaching posts at Glugur Darat Health Center. To the person in charge and implementer of PTM integrated coaching post the Glugur Darat Health Center can consistently run the integrated PTM Post development program and further optimize the role of the community (such as public health students, female officers, offices and other public places) in the implementation of integrated PTM coaching posts. And to the head of the Glugur Darat Health Center to provide a policy regarding the implementation of the integrated PTM Coaching Post to be more directed by implementing a five-table system and not integrated with the patient's treatment at the public health center.

Keywords: Integrated Counseling Post Program of Non-Communicable Disease, Health Center

(8)

Puji syukur dan terima kasih kepada Allah SWT, atas berkat dan anugerah- Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Analisis Pelaksanaan Program Pos Pembinaan Terpadu Penyakit Tidak Menular (POSBINDU PTM) di Puskesmas Glugur Darat Tahun 2017” sebagai salah satu syarat dalam menyelesaikan pendidikan di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara. Dalam pelaksanaan penyusunan penulisan ini banyak mengalami kesulitan-kesulitan dan hambatan, namun penulis banyak menerima bantuan, bimbingan dan motivasi dari berbagai pihak, untuk itu penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Prof. Dr. Runtung Sitepu, SH, M. Hum, selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.

2. Prof. Dr. Dra. Ida Yustina M.Si, selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

3. Dr. Drs. Zulfendri, M.Kes, selaku Ketua Departemen Administrasi Dan Kebijakan Kesehatan FKM USU dan selaku dosen pembimbing I yang telah meluangkan waktu dan pikirannya dalam memberikan bimbingan, saran dan petunujuk kepada penulis sehingga skripsi ini dapat diselesaikan.

(9)

4. Puteri Citra Cinta Asyura Nasution, SKM, MPH, selaku Pembimbing II yang telah meluangkan waktu dan pikirannya dalam memberikan bimbingan, saran dan petunujuk kepada penulis sehingga skripsi ini dapat diselesaikan.

5. dr. Rahayu Lubis, M.Kes, P.Hd selaku Dosen penguji I yang telah memberikan saran dan masukan dalam penyelesaian skripsi ini.

6. Dr. Juanita, SE, M.Kes selaku Dosen penguji II yang telah memberikan saran dan masukan dalam penyelesaian skripsi ini.

7. Staf Departemen Administrasi Dan Kebijakan Kesehatan yang telah banyak membantu peneliti dalam menyelesaikan berkas-berkas penelitian dengan tepat waktu.

8. Seluruh dosen dan staf di FKM USU yang telah memberikan ilmu kepada penulis selama mengikuti pendidikan di FKM USU.

9. Kepala Dinas Kesehatan Kota Medan dan seluruh staf yang telah membantu penulis dalam penelitian.

10. Kepala Puskesmas Glugur Darat dan seluruh staf yang telah membantu penulis dalam penelitian.

11. Teristimewa untuk kedua orang tua saya H. Subagio PN dan ibu saya tercinta Hj. Suryati. S, yang telah memberi dukungan, semangat dan doa kepada penulis selama ini, abang saya Harry Pratama dan istri serta kakak saya Dessy Syafitri. S.Pd beserta suami dan Renny Triana A.Md beserta suami yang telah memberikan dukungan dan semangat dalam penulisan ini

(10)

Dalam penyelesaian skripsi ini, masih banyak kekurangan, oleh karena itu penulis mengharapkan kritikan dan saran yang bersifat membangun untuk kesempurnaan skripsi ini. Demikianlah yang penulis dapat sampaikan, atas segala kesalahan dan kekurangannya penulis mohon maaf. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi penulis dan pembaca.

Medan, Oktober 2018

Fanny Azryna Damayanti. S

(11)

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI i

HALAMAN PENGESAHAN ii

ABSTRAK iii

ABSTRACT iv

KATA PENGANTAR v

DAFTAR ISI viii

DAFTAR TABEL x

DAFTAR GAMBAR xi

DAFTAR LAMPIRAN xii

DAFTAR ISTILAH xiii

RIWAYAT HIDUP xv

PENDAHULUAN 1

Latar Belakang 1

Perumusan Masalah 5

Tujuan Penelitian 6

Manfaat Penelitian 7

TINJAUAN PUSTAKA 8

Posbindu PTM (Pos Pembinaan Terpadu Penyakit Tidak Menular) 8

Pengertian 8

Tujuan 9

Sasaran Kegiatan 9

Wadah Kegiatan 9

Pelaku Kegiatan 10

Bentuk Kegiatan 10

Pengelompokan Tipe Posbindu 12

Kemitraan 13

Langkah-Langkah Penyelengaraan Posbindu PTM 14

Persiapan 14

Pelatihan PTM TenagaPelaksana/Kader Posbindu PTM 16 Kegiatan Kader/Pelaksana Posbindu PTM 19

Pelaksanaan Posbindu PTM 20

Waktu Penyelengaraan 20

Tempat Penyelenggaraan 20

Pelaksanaan Kegiatan 20

Pembiayaan Kegiatan 23

Pencatatan dan Pelaporan 24

(12)

METODE PENELITIAN 32

Jenis Penelitian 32

Lokasi Penelitian 32

Lokasi Penelitian 32

Waktu Penelitian 32

Informan Penelitian 32

Metode Pengumpulan Data 33

Definisi Operasional 33

Jenis dan Sumber Data 34

Uji Validitas Data 34

Triangulasi 34

Metode Analisis Data 35

HASIL DAN PEMBAHASAN 36

Gambaran Umum Puskesmas 36

Letak Geografis Puskesmas 36

Visi dan Misi Puskesmas 36

Keadaan Demografi 37

Karakteristik Informan 37

Alur Pelaksanaan Posbindu PTM di Puskesmas Glugur Darat 39

Pelaksanaan Kegiatan H-1 (Persiapan) 40

Sumber Daya 40

Sarana Prasarana 42

Waktu dan Tempat 44

Sistem Pembiayaan 46

Pelaksanaan Kegiatan H (Pelaksanaan) 48

Penyuluhan 48

Pemeriksaan Kesehatan 50

Konseling 52

Pelaksanaan Kegiatan H+1 (Evaluasi) 54

Pencatatan dan Pelaporan 54

Sistem Rujukan 57

KESIMPULAN DAN SARAN 61

Kesimpulan 61

Saran 62

DAFTAR PUSTAKA 63

LAMPIRAN 64

(13)

DAFTAR TABEL

No Judul Halaman

1 Materi Pelatihan Kader/Pelaksana Posbindu 18

2 Pembagian Peran Kader 22

3 Frekuensi dan Jangka Waktu Pemantauan Faktor Risiko

PTM 28

4 Distribusi Penduduk di Wilayah Kerja Puskesmas Glugu

Darat 39

5 Karakteristik Informan 39

(14)

DAFTAR GAMBAR

No Judul Halaman

1 Standar sarana Posbindu 19

2 Proses Kegiatan Posbindu PTM 21

3 Alur Tindak Lanjut dan Rujukan Hasil Deteksi Dini di

Posbindu PTM 30

4 Kerangka Pikir 32

5 Alur Pelaksanaan Posbindu PTM Hasil Observasi di

Puskesmas Glugur Darat 41

(15)

DAFTAR LAMPIRAN

No Judul Halaman

1 Pedoman Wawancara 64

2 Foto Hasil Wawancara dan Observasi 67

3 Izin Penelitian 70

4 Surat Keterangan Selesai Penelitian 71

(16)

Daftar Istilah

BOK Bantuan Operasional Khusus

BPJS Badan Penyelenggara Jaminan Sosial CSR Corporate Social Respionsibility DAK Dana Alokasi Khusus

DEPKES Departemen Kesehatan

FR-PTM Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular IMT Indeks Masa Tubuh

IVA Inspeksi Visual Asam Asetat KEMENKES Kementrian Kesehatan

KIE Komunikasi, Informasi, dan Edukasi KMS Kartu Menuju Sehat

LSM Lembaga Swadaya Masyarakat NCDs Non Communicable Disease PERMENKES Peraturan Mentri Kesehatan PMT Pemberian Makanan Tambahan POSBINDU Pos Pembinaan Terpadu

PTM Penyakit Tidak Menular

RS Rumah Sakit

UU Undang - undang

UUD Undang-undang Dasar

WHO World Health Organization

(17)

RIWAYAT HIDUP

Penulis bernama Fanny Azryna Damayanti. S berumur 24 tahun, dilahirkan pada tanggal 25 Juni 1994 di Medan. Penulis beragama Islam, anak ke empat dari empat bersaudara pasangan Bapak H. Subagio P.N dan Ibu Hj. Suryati.

Pendidikan formal dimulai di TK Aisyiyah 12 Medan tahun 1998-2000.

Pendidikan Sekolah Dasar Swasta Muhammadiyah 02 Medan pada tahun 2000 - 2006, Sekolah Menengah Pertama Swasta Muhammadiyah 01 Medan pada tahun 2006 - 2009, Sekolah Menengah Atas Negeri 3 Medan pada tahun 2009 -2012, selanjutnya penulis melanjutkan pendidikan di Program Studi S1 Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

Medan, Oktober 2018

FANNY AZRYNA DAMAYANTI.S

(18)

Pendahuluan

Latar Belakang

Kesehatan merupakan hak asasi manusia yang harus dilindungi dan diperhatikan oleh pemerintah. Kesehatan juga merupakan salah satu indikator penting dalam menentukan kesejahteraan suatu bangsa di samping ekonomi dan sosial. Hal ini ditegaskan dalam Undang-Undang Dasar (UUD) tahun 1945 pasal 28 H ayat 1, yang menyatakan bahwa setiap orang berhak memperoleh pelayanan kesehatan. Selain itu Undang-undang (UU) Nomor 36 tahun 2009 tentang

kesehatan juga menjelaskan dengan tegas hak dan kewajiban pemerintah maupun masyarakat yang berkenaan dengan pemenuhan kesehatan.

Kematian akibat penyakit tidak menular diperkirakan akan terus meningkat di seluruh dunia, peningkatan terbesar akan terjadi di negara-negara menengah dan miskin. Lebih dari dua pertiga (70%) dari populasi global akan meninggal akibat penyakit tidak menular seperti kanker, penyakit jantung, hipertensi, stroke dan diabetes (WHO dalam bulletin PTM Kemenkes RI, 2011).

Peningkatan prevalensi penyakit tidak menular berdampak terhadap peningkatan beban pembiayaan kesehatan yang harus ditanggung Negara dan masyarakat. Penyandang penyakit tidak menular memerlukan biaya yang relatif mahal, terlebih bila kondisinya berkembang menjadi kronik dan terjadi

komplikasi. Data Pusat Pemeliharaan Jaminan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI (2012) memperlihatkan bahwa penyakit tidak menular menghabiskan biaya

(19)

2

pengobatan yang cukup besar bila dibandingkan dengan biaya pengobatan tertinggi dari seluruh penyakit menular (Kemenkes RI, 2013).

Penyakit tidak menular (PTM) merupakan penyakit yang lebih banyak disebabkan oleh gaya hidup manusia atau sering dikenal juga dengan penyakit degeneratif. Kematian akibat PTM diperkirakan akan terus meningkat di seluruh dunia, peningkatan terbesar akan terjadi di negara-negara menengah dan miskin.

Lebih dari dua pertiga (70%) dari populasi global akan meninggal akibat penyakit tidak menular seperti kanker, penyakit jantung, stroke dan diabetes (WHO dalam bulletin PTM Kemenkes RI, 2011).

Penyakit tidak menular cenderung terus meningkat dan telah mengnacam sejak usia muda. Transisi epidemiologis telas terjadi secara signifikan selama dua dekade terakhir, yakni penyakit tidak menular telah menjadi beban utama,

sementara beban penyakit menular masih berat juga. Indonesia sedang mengalami double burdendiesease, yaitu beban penyakit tidask menular dan penyakit menular sekaligus. Penyakit tidak menular utama meliputi hypertensi, diabetes melitus, kanker, dan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK). Oleh karena itu deteksi dini harus dilakukan secara proaktif mendatangi sasaran, karena sebagian besar tidak mengetahui bahwa dirinya menderita penyakit tidak menular. Pengendalian penyakit tidak menular antara lain dilakukan melalui pelaksanaan pos pembinaan terpadu pengendalian penyakit tidak menular (posbindu ptm) yang merupakan upaya monitoring dan deteksi dini faktor resiko penyaklit tidak menular di masyarakat (Permenkes No 39, 2016).

(20)

Pos Pembinaan Terpadu Penyakit Tidak Menular (Posbindu PTM) merupakan salah satu program Upaya Kesehatan Bersumber Daya Masyarakat (UKBM) dan merupakan salah satu tuntutan dari Undang-Undang Kesehatan RI Nomor 36 Tahun 2009 Bab X Pasal 158 bahwa pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat melakukan upaya pencegahan, pengendalian, penanganan PTM beserta akibat yang ditimbulkan (UU RI no. 36 tahun 2009).

Indonesia merupakan salah satu negara yang telah menetapkan program nasional untuk menanggulangi masalah PTM melalui program Posbindu PTM (Pos Pembinaan Terpadu). Posbindu dilakukan untuk seluruh masyarakat yang berusia 15 tahun ke atas dengan pelaksana masyarakat dan dibantu oleh petugas puskesmas setempat. Saat ini sudah terdapat 7.225 posbindu di seluruh Indonesia (Depkes, 2013). Dilakukan secara berkala dengan menggunakan sistem 5 meja, yaitu pendaftaran; wawancara terarah; pengukuran TB, BB, IMT, Lingkar perut dan analisa lemak tubuh; pengukuran tekanan darah gula, kolesterol total dan trigliserida darah, Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA), kadar alkohol pernafasan dan tes amfetamin urin; serta konseling, edukasi dan tindak lanjut lainnya (Petunujuk Teknis PTM Kemenkes RI, 2014).

Berubahnya gaya hidup manusia karena adanya urbanisasi, modernisasi, dan globalisasi telah menyebabkan terjadinya peningkatan Penyakit Tidak Menular (PTM). Penyakit tidak menular telah menjadi penyebab utama kematian secara global pada saat ini. Data WHO menunjukkan bahwa sebanyak 57 juta (63%) angka kematian yang terjadi di dunia dan 36 juta (43%) angka kesakitan disebabkan oleh Penyakit Tidak Menular. Global status report on NCD World

(21)

4

Health Organization (WHO) tahun 2010 melaporkan bahwa 60% penyebab kematian semua umur di dunia adalah karena PTM dan 4% meninggal sebelum usia 70 tahun. Seluruh kematian akibat PTM terjadi pada orang-orang berusia kurang dari 60 tahun, 29% di negaranegara berkembang, sedangkan di negara- negara maju sebesar 13% (Remais, 2012).

Berdasarkan survei pendahuluan yang telah dilakukan rekapitulasi PTM di Puskesmas Glugur Darat menunjukkan pada tahun 2017 terdapat 114 kunjungan.

Penyakit tidak menular yang paling banyak ditemukan adalah hipertensi, rematik, gastritis, dan diabetes melitus. Dalam jumlah kunjungan 10 penyakit terbesar di Puskesmas Glugur Darat hipertensi menduduki peringkat pertama dan diabetes melitus menduduki peringkat kedua (Puskesmas Glugur Darat, 2017).

Menurut hasil pencatatan Puskesmas Glugur Darat jumlah peserta yang mengikuti kegiatan Posbindu PTM pada 3 bulan terakhir tahun 2017 yaitu, 20 orang pada bulan Oktober, 21 orang pada bulan November, dan 18 orang pada bulan Desember. Hal ini menunjukkan masih sangat kurangnya partisipasi kelompok masyarakat sehat, berisiko dan penyandang PTM berusia 15 tahun keatas dalam memanfaatkan Posbindu PTM di wilayah kerja Puskesmas Glugur Darat.

Hasil penelitian yang dilakukan Dwi (2015) mengenai cakupan kegiatan Posbindu PTM dibawah 1% pada tahun 2015. Target cakupan kegiatan Posbindu PTM yang harus dicapai adalah 10% sasaran kegiatan berusia ≥ 15 tahun.

Berbagai kendala dalam proses kegiatan Posbindu PTM meliputi kurangnya ketersediaan SDM, belum lengkapnya sarana atau peralatan, pembiayaan belum

(22)

mandiri, penyelenggaraan Posbindu PTM tidak rutin setiap bulan dan adanya kurangnya respon dari masyarakat. Beberapa hambatan yang dialami mengenai rujukan antara lain tidak ada keluarga yang mengantar ke puskesmas, jarak rumah sasaran kegiatan dengan puskesmas jauh, malas untuk datang ke puskesmas dan sasaran memilih untuk membeli obat di apotek.

Hasil penelitian yang dilakukan Khadijah (2014) mengenai pelaksanaan program Posbindu PTM, bahwa sebagian besar Puskesmas di Kota Medan dalam pelaksanaan program Posbindu PTM masih belum sesuai dengan konsep

pelaksanan Posbindu PTM, karena masih dilakukan oleh tenaga kesehatan Puskesmas dan alur pelaksanaan belum semua berjalan seperti yang ditetapkan dalam petunjuk teknis pelaksanaan Posbindu oleh Kemenkes RI tahun 2012.

Pemberdayaan juga masih belum maksimal dalam melibatkan partisipasi masyarakat dalam mencegah DM, yaitu menjadikan masyarakat sebagai subjek dalam pelaksanaan Posbindu PTM di Puskesmas.

Mengacu pada latar belakang di atas maka penulis akan melakukan

penelitian untuk menganalisis pelaksanaan program Posbindu PTM di Puskesmas Glugur Darat tahun 2017 dengan alasan ingin melihat bagaimana proses

pelaksanaan program Posbindu PTM di Puskesmas Glugur Darat dan juga ingin melihat bagaimana antusiasnya masyarakat dalam pelaksanaan program ini.

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah:

(23)

6

1. Bagaimana pelaksanaan kegiatan Pos Pembinaan Terpadu Penyakit Tidak Menular (POSBINDU PTM) pada H-1 (tahap persiapan, yaitu: sumber daya, sarana prasarana, waktu dan tempat serta system pembiayaan) di Puskesmas Glugur Darat.

2. Bagaimana pelaksanaan kegiatan Pos Pembinaan Terpadu Penyakit Tidak Menular (POSBINDU PTM) pada H (tahap pelaksanaan, yaitu: penyuluhan, pemeriksaan kesehatan serta konseling) di Puskesmas Glugur Darat.

3. Bagaimana pelaksanaan kegiatan Pos Pembinaan Terpadu Penyakit Tidak Menular (POSBINDU PTM) pada H+1 (tahap evaluasi, yaitu: pencatatn dan pelaporan serta system rujukan) di Puskesmas Glugur Darat.

Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah :

1. Menjelaskan bagaimana pelaksanaan kegiatan Pos Pembinaan Terpadu

Penyakit Tidak Menular (POSBINDU PTM) pada H-1 (tahap persiapan, yaitu:

sumber daya, sarana prasarana, waktu dan tempat serta system pembiayaan) di Puskesmas Glugur Darat.

2. Menjelaskan bagaimana pelaksanaan kegiatan Pos Pembinaan Terpadu

Penyakit Tidak Menular (POSBINDU PTM) pada H (tahap pelaksanaan, yaitu:

penyuluhan, pemeriksaan kesehatan serta konseling) di Puskesmas Glugur Darat.

3. Menjelaskan bagaimana pelaksanaan kegiatan Pos Pembinaan Terpadu Penyakit Tidak Menular (POSBINDU PTM) pada H+1 (tahap evaluasi, yaitu:

pencatatan dan pelaporan serta system rujukan) di Puskesmas Glugur Darat.

(24)

Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah :

1. Sebagai bahan masukan dan pertimbangan bagi Dinas Kesehatan Kota Medan mengenai penanggulangan diabetes melitus sehingga dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi penanggulangan diabetes melitus di Kota Medan.

2. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi puskesmas dan kader Posbindu PTM mengenai pelaksanaan penanggulangan diabetes melitus, sehingga dapat meningkatkan perannya dalam upaya preventif dan promotif.

3. Untuk meningkatkan kemampuan peneliti dalam mengadakan research ilmiah dalam meningkatkan pemahaman peneliti mengenai pelaksanaan program pos pembianaan terpadu penyakit tidak menular di Puskesmas Glugur Darat.

4. Sebagai sumber referensi untuk dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai pelaksanaan program pos pembianaan terpadu penyakit tidak menular di Puskesmas Glugur Darat.

5. Menjadi wawasan baru bagi peneliti lain dalam penelitian mengenai deteksi dini dan pencegahan komplikasi diabetes melitus dengan program Posbindu PTM.

(25)

Tinjauan Pustaka

Posbindu PTM (Pos Pembinaan Terpadu Penyakit Tidak Menular)

Pengertian. Program adalah cara yang disahkan untuk mencapai tujuan.

Program kesehatan diadakan sebagai realisasi dari rencana program kesehatan di bidang kesehatan yang akan memberikan dampak pada peningkatan kesehatan.

Blum membedakan ruang lingkup penilaian program atas enam macam, yaitu:

Pelaksanaan program, pemenuhan kriteria yang telah ditetapkan, efektivitas program dan efisiensi program. Penilaian pelaksanaan program memiliki

pertanyaan pokok yang akan dijawab pada penilaian tentang pelaksanaan program ialah apakah program itu terlaksana atau tidak, bagaimana pelaksanaannya serta faktor-faktor penopang dan penghambat apakah yang ditemukan dalam

pelaksanaan program (Azwar, 2010).

Pos Pembinaan Terpadu Penyakit Tidak Menular (Posbindu PTM)

merupakan wujud peran serta masyarakat dalam kegiatan deteksi dini, monitoring dan tindak lanjut dini faktor risiko penyakit tidak menular secara mandiri dan berkesinambungan. Kegiatan ini dikembangkan sebagai bentuk kewaspadaan dini terhadap penyakit tidak menular mengingat hampir semua faktor risiko penyakit tidak menular tidak memberikan gejala pada yang mengalaminya. Faktor resiko penyakit tidak menular meliputi merokok, konsumsi minuman beralkohol, pola makan tidak sehat, kurang aktivitas fisik, obesitas, stress, hipertensi, hiperglikemi, hiperkolesterol, serta menindaklanjuti secara dini faktor resiko yang ditemukan

(26)

melalui konseling kesehatan dan segera merujuk ke fasiitas pelayanan kesehatan dasar (Azwar, 2010).

Pos Pembinaan Terpadu Penyakit Tidak Menular (Posbindu PTM) merupakan salah satu upaya kesehatan masyarakat (UKM) yang berorientasi kepada upaya promotif dan preventif dalam pengendalian penyakit tidak menular dengan melibatkan masyarakat mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan

monitoring-evaluasi. Masyarakat diperankan sebagai sasaran kegiatan, target perubahan, agen pengubah sekaligus sebagai sumber daya. Dalam pelaksanaan selanjutnya kegiatan posbindu menjadi Upaya Kesehatan Bersumber Daya Masyarakat (UKBM), dimana kegiatan ini diselenggarakan oleh masyarakat sesuai dengan sumber daya, kemampuan, dan kebutuhan masyarakat (Kemenkes, 2012).

Tujuan. Meningkatkan peran serta masyarakat sehat, berisiko dan penyandang penyakit tidak menular berusia 15 tahun ke atas (Rahajeng, 2012).

Sasaran kegiatan. Sasaran utama adalah kelompok masyarakat sehat, berisiko dan penyandang penyakit tidak menular berusia 15 tahun ke atas (Rahajeng, 2012).

Wadah kegiatan. Pos Pembinaan Terpadu Penyakit Tidak Menular (Posbindu PTM) dapat dilaksanakan terintegrasi dengan upaya kesehatan

bersumber masyarakat yang sudah ada, di tempat kerja atau klinik di perusahaan, di lembaga pendidikan, tempat lain dimana masyarakat dalam jumlah tertentu berkumpul/beraktivitas secara rutin, misalnya di mesjid, gereja klub olahraga, pertemuan organisasi politik maupun kemasyarakatan. Pengintegrasian yang

(27)

10

dimaksud adalah memadukan pelaksanaan posbindu dengan kegiatan yang sudah dilakukan meliputi kesesuaian waktu dan tempat serta memanfaatkan sarana dan tenaga yang sudah ada (Pudiastuti, 2011).

Pelaku kegiatan. Pelaksanaan Pos Pembinaan Terpadu Penyakit Tidak Menular (Posbindu PTM) dilakukan oleh kader kesehatan yang telah ada atau beberapa orang dari masing-masing kelompok/ organisasi/ lembaga/ tempat kerja yang bersedia menyelenggarakan posbindu, yang dilatih secara khusus, dibina atau difasilitasi untuk melakukan pemantauan faktor risiko penyakit tidak menular di masing-masing kelompok atau organisasinya. Kriteria kader posbindu antara lain, berpendidikan minimal SLTA, mau dan mampu melakukan kegiatan berkaitan dengan posbindu (Pudiastuti, 2011).

Bentuk kegiatan. Pos Pembinaan Terpadu Penyakit Tidak Menular (Posbindu PTM) meliputi 10 (sepuluh) kegiatan (Maryam, 2010) :

1. Kegiatan penggalian informasi faktor risiko dengan wawancara sederhana tentang riwayat penyakit tidak menular pada keluarga dan diri peserta, aktifitas fisik, merokok, kurang makan sayur dan buah, potensi terjadinya cedera dan kekerasan rumah tangga, serta informasi lainnya yang dibutuhkan untuk identifikasi masalah kesehatan berkaitan dengan terjadinya penyakit tidak menular. Aktifitas ini dilakukan saat pertama kali kunjungan dan berkala sebulan sekali.

2. Kegiatan pengukuran berat badan, tinggi badan, Indeks Masa Tubuh (IMT), lingkar perut, analisis lemak tubuh, dan tekanan darah sebaiknya

diselenggarakan 1 bulan sekali. Analisa lemak tubuh hanya dapat dilakukan

(28)

pada usia 10 tahun ke atas. Untuk anak, pengukuran tekanan darah disesuaikan ukuran mansetnya dengan ukuran lengan atas.

3. Kegiatan pemeriksaan fungsi paru sederhana diselenggarakan 1 tahun sekali bagi yang sehat, sementara yang beresiko 3 bulan sekali dan penderita

gangguan paru dianjurkan 1 bulan sekali. Pemeriksaan fungsi paru sederhana sebaiknya dilakukan oleh tenaga kesehatan yang telah terlatih.

4. Kegiatan pemeriksaan gula darah bagi individu sehat paling sedikit

diselenggarakan 3 tahun sekali dan bagi yang telah mempunyai faktor risiko penyakit tidak menular atau penyandang diabetes melitus paling sedikit 1 tahun sekali. Untuk pemeriksaan glukosa darah dilakukan oleh tenaga kesehatan (dokter/perawat/ bidan/analis laboratorium dan lainnya).

5. Kegiatan pemeriksaan kolesterol total dan trigliserida, bagi individu sehat disarankan 5 tahun sekali dan bagi yang telah mempunyai faktor risiko penyakit tidak menular 6 bulan sekali dan penderita dislipedemia/gangguan lemak dalam darah minimal 3 bulan sekali. Untuk pemeriksaan gula darah dan kolesterol darah dilakukan oleh tenaga kesehatan yang ada di lingkungan kelompok masyarakat tersebut.

6. Kegiatan pemeriksaan IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat) dilakukan sebaiknya minimal 5 tahun sekali bagi individu sehat, setelah hasil IVA positif, dilakukan tindakan pengobbatan krioterapi, diulangi setelah 6 bulan, jika hasil IVA negatif dilakukan pemeriksaan ulang 5 tahun, namun bila hasil IVA positif dilakukan tindakan pengobatan krioterapi kembali. Pemeriksaan

(29)

12

IVA dilakukan oleh bidan/dokter yang telah terlatih dan tatalaksana lanjutan dilakukan oleh dokter terlatih di puskesmas.

7. Kegiatan pemeriksaan kadar alkohol pernafasan dan tes amfetamin urin bagi kelompok pengemudi umum yang dilakukan oleh tenaga kesehatan(dokter, perawat/bidan/analis laboratorium dan lainnya).

8. Kegiatan konseling dan penyuluhan, harus dilakukan setiap pelaksanaan posbindu. Hal ini penting dilakukan karena pemantauan faktor risiko kurang bermanfaat bila masyarakat tidak tahu cara mengendalikannya.

9. Kegiatan aktifitas fisik atau olahraga bersama, sebaiknya tidak hanya dilakukan jika ada penyelenggaraan posbindu namun perlu dilakukan rutin setiap minggu.

10. Kegiatan rujukan ke fasilitas layanan kesehatan dasar di wilayahnya dengan pemanfaatan sumber daya tersedia termasuk upaya respon cepat sederhana dalam penanganan pra rujukan.

Pengelompokan tipe posbindu. Berdasarkan jenis kegiatan deteksi dini, pemantauan dan tindak lanjut yang dapat dilakukan oleh posbindu, maka dapat dibagi menjadi 2 kelompok tipe posbindu, yaitu (Maryam, 2010):

a. Pos Pembinaan Terpadu Penyakit Tidak Menular (Posbindu PTM) dasar meliputi pelayanan deteksi dini faktor risiko sederhana, yang dilakukan dengan wawancara terarah melalui penggunaan instrument untuk

mengidentifikasi riwayat penyakit tidak menular dalam keluarga dan yang telah diderita sebelumnya, perilaku beresiko, potensi terjadinya cedera dan kekerasan dalam rumah tangga, pengukuran berat badan, tinggi badan, lingkar

(30)

perut, Indeks Masa Tubuh (IMT), alat analisa lemak tubuh, pengukuran tekanan darah, pemeriksaan uji fungsi paru sederhana serta penyuluhan mengenai pemeriksaan payudara sendiri.

b. Pos Pembinaan Terpadu Penyakit Tidak Menular (Posbindu PTM) utama yang meliputi pelayanan Posbindu PTM Dasar ditambah pemeriksaan gula darah, kolesterol total dan trigliserida, pemeriksaan klinis payudara, pemeriksaan IVA (Inspeksi Asam Asetat), pemeriksaan kadar alkohol pernafasan dan tes amfetamin urin bagi kelompok pengemudi umum, dengan pelaksana tenaga kesehatan terlatih (Dokter, bidan, perawat kesehatan/tenaga analis

laboratorium/lainnnya) di desa/kelurahan, kelompok masyarakat,

lembaga/institusi. Untuk penyelenggaraan posbindu utama dapat dipadukan dengan pos Kesehatan Desa atau Kelurahan siaga aktif, maupun di kelompok masyarakat/lembaga/institusi yang tersedia tenaga kesehatan tersebut sesuai dengan kompetensinya.

Kemitraan. Dalam penyelenggaraan Pos Pembinaan Terpadu Penyakit Tidak Menular (Posbindu PTM) tatanan desa/kelurahan perlu dilakukan kemitraan dengan forum desa/kelurahan Siaga, industry, dan klinik swasta untuk mendukung implementasi dan pengembangan kegiatan. Kemitraan dengan forum

desa/kelurahan siaga aktif, pos kesehatan desa/kelurahan serta klinik swasta bermanfaat bagi posbindu untuk komunikasi dan koordinasi dalam mendapatkan dukungan dari pemerintah daerah (Kemenkes, 2014).

Dukungan dapat berupa sarana/prasarana lingkungan yang kondusif untuk menjalankan pola hidup sehat misalnya fasilitas olahraga atau sarana pejalan kaki

(31)

14

yang aman dan sehat. Melalui klinik desa siaga (jika sudah ada) dapat

dikembangkan sistem rujukan dan dapat diperoleh bantuan teknis medis untuk pelayanan kesehatan. Sebaliknya bagi forum desa siaga penyelenggaraan

posbindu merupakan akselerasi pencapaian desa/kelurahan siaga aktif (Kemenkes, 2014).

Kemitraan dengan industri khususnya industri farmasi bermanfaat dalam pendanaan dan fasilitas alat. Misalnya pemberian alat glukometer, tensimeter, sangat bermanfaat untuk pelaksanaan posbindu dengan standar lengkap.

Sedangkan kemitraan dengan klinik swasta, bagi posbindu bermanfaat untuk memperoleh bantuan tenaga untuk pelayanan medis atau alat kesehatan lainnya.

Bagi klinik swasta, kontribusinya dalam penyelenggaraan posbindu dapat meningkatkan citra dan fungsi sosialnya (Kemenkes, 2014).

Langkah-Langkah Penyelenggaraan Posbindu PTM

Persiapan. Kabupaten/Kota berperan untuk melakukan inisiasi dengan berbagai rangkaian kegiatan sebagai berikut:

1. Langkah persiapan diawali dengan pengumpulan data dan informasi besaran masalah PTM, sarana-prasarana pendukung dan sumber daya manusia. Hal ini dapat diambil dari data RS kabupaten/kota, puskesmas, profil kesehatan daerah, riskesdas atau hasil survey lainnya. Informasi tersebut dipergunakan oleh fasilitator sebagai bahan advokasi untuk mendapatkan dukungan

kebijakan maupun dukungan pendanaan sebagai dasar perencanaan kegiatan posbindu.

(32)

2. Selanjutnya dilakukan identifikasi kelompok potensial, baik ditingkat kabupaten/kota maupun lingkup puskesmas. Klompok potensial antara lain kelompok/organisasi masyarakat, tempat kerja, sekolah, koperasi, klub

olahraga, karang taruna dan kelompok lainnya. Kepada kelompok masyarakat potensial terpilih dilakukan sosialisasi tentang besarnya masalah penyakit tidak menular, dampaknya bagi masyarakat dan dunia usaha, strategi pengendalian serta tujuan dan manfaat posbindu. Hal ini dilakukan sebagai advokasi agar diperoleh dukungan dan komitmen dalam menyelenggarakan posbindu. Apabila jumlah kelompok potensial terlalu besar pertemuan sosialisasi dan advokasi dapat dilakukan beberapa kali. Dari pertemuan sosialisasi tersebut diharapkan telah teridentifikasi kelompok/ lembaga/

organisasi yang bersedia menyelenggarakan posbindu.

3. Tindak lanjut yang dilakukan pengelola program di kabupaten/kota adalah melakukan pertemuan koordinasi dengan kelompok potensial yang bersedia menyelenggarakan posbindu. Pertemuan ini diharapkan mengahasilkan kesepakatan bersama berupa kegiatan penyelenggaraan posbindu, yaitu:

a. Kesepakatan menyelenggarakan posbindu.

b. Menetapkan kader dan pembagian peran, fungsinya sebagai tenaga pelaksana posbindu.

c. Menetapkan jadwal pelaksanaan posbindu.

d. Merencanakan besaran dan sumber pembiayaan.

e. Melengkapi sarana dan prasarana.

f. Menetapkan tipe posbindu sesuai kesepakatan dan kebutuhan.

(33)

16

g. Menetapkan mekanisme kerja antara kelompok potensial dengan petugas kesehatan pembinanya.

Pada tahapan persiapan Puskesmas berperan untuk:

1. Memberikan informasi dan sosialisasi tentang PTM (termasuk DM), upaya pengendalian serta manfaat bagi masyarakat, kepada pimpinan wilayah misalnya camat, kepala desa/lurah.

2. Mempersiapkan sarana dan tenaga di puskesmas dalam menerima rujukan dari posbindu.

3. Memastikan ketersediaan sarana, buku pencatatan hasil kegiatan dan lainnya untuk kegiatan posbindu di kelompok potensial yang telah bersedia

menyelenggarkan posbindu.

4. Mempersiapkan pelatihan tenaga pelaksana posbindu.

5. Menyelenggarkan pelatihan bersama pengelola program di kabupaten/kota.

6. Mempersiapkan mekanisme pembinaan.

7. Mengidentifikasi kelompok potensial untuk menyelenggarkan posbindu serta kelompok yang mendukung terselenggaranya posbindu, misalnya

swasta/dunia usaha, PKK, LPM, koperasi desa, yayasan kanker, yayasan Jantung Indonesia, organisasi profesi seperti PPNI, PPPKMI, PGRI, serta lembaga pendidikan misalnya Fakultas Kedokteran, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Fakultas Psikologi, Fakultas Keperawatan dan lainnya.

Pelatihan PTM tenaga pelaksana/kader posbindu PTM. Tujuan materi ketentuan jumlah peserta waktu pelaksanaan dan standart sarana posbindu adalah sebagai berikut:

(34)

Tujuan pelatihan penyakit tidak menular pada posbindu (Maryam, 2010):

1. Memberikan pengetahuan tentang penyakit tidak menular, faktor risiko, dampak, dan pengendalian penyakit tidak menular.

2. Memberikan pengetahuan tentang posbindu.

3. Memberikan kemampuan dan keterampilan dalam memantau faktor risiko penyakit tidak menular.

4. Memberikan keterampilan dalam melakukan konseling serta tindak lanjut lainnya.

Materi pelatihan kader/pelaksana Posbindu:

Tabel 1 Materi Pelatihan Kader/Pelaksana Posbindu PTM NO MATERI PELATIHAN

1 PTM dan Faktor Risiko

2 Posbindu PTM dan pelaksanaannya 3 Tahapan kegiatan Posbindu PTM

a. Meja 1 : pendaftaran, pencatatan b. Meja 2 : wawancara terarah

c. Meja 3 : pengukuran TB,BB,IMT, lingkar perut dan analisa lemak tubuh

d. Meja 4 : pengukuran tekanan darah, gula, kolesterol total dan trigliserida darah, pemeriksaan klinis payudara, uji fungsi paru sederhana, IVA, kadar alkohol pernafasan dan tes amfetamin urin.

e. Meja 5 : konseling, edukasi dan tindak lanjut lainnya.

4 Cara pengukuran berat badan, tinggi badan, lingkar perut, IMT, analisa lemak tubuh, tekanan darah.

5 Pengukuran kadar alkohol pernafasan dan tes amfetamin urin 6 Pemeriksaan glukosa darah

7 Pemeriksaan kolesterol dan trigliserida darah 8 Pemeriksaan uji fungsi paru sederhana

9 Pemeriksaan klinis payudara dan IVA (khusus dokter/bidan) 10 Pencatatan

11 Rujukan dan respon cepat sederhana Sumber: Kemenkes RI, 2014c

Peserta pelatihan : Jumlah peserta maksimal 30 orang agar pelatihan berlangsung efektif.

(35)

18

Waktu pelaksanaan pelatihan : selama 3 hari atau disesuaikan dengan

kondisi setempat dengan modul yang telah dipersiapkan.

Standar Sarana pos pelayanan terpadu penyakit tidak menular. Sarana

dan peralatan yang diperlukan untuk menyelenggarkan posbindu adalah sebagai berikut:

a) Untuk standar minimal 5 set meja-kursi, pengukur tinggi badan, timbangan berat badan, pita pengukur lingkar perut, dan tensi meter serta buku pintar kader tentang cara pengukuran tinggi badan dan berat badan, pengukuran lingkar perut, alat ukur analisa lemak tubuh danpengukuran tekanan darah dengan ukuran maset dewasa dan anak, alat uji fungsi paru sederhana (peakflowmeter) dan media bantu edukasi.

b) Sarana standar lengkap diperlukan alat ukur kadar gula darah, alat ukur kadar kolesterol total dan trigliserida, alat ukur kadar pernafasan alkohol, tes

amfetamin urin kit, dan IVA kit.

c) Untuk kegiatan deteksi dini kanker leher rahim (IVA) dibutuhkan ruangan khusus dan hanya dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan yang telah terlatih dan tersertifikasi.

d) Untuk pelaksanaan pencatatan hasil pelaksanaan posbindu diperlukan kartu menuju sehat Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular (KTMS FR-PTM) dan buku pencatatan.

e) Untuk mendukung kegiatan edukasi dan konseling diperlukan media KIE (Komunikasi, Informasi, dan Edukasi) yang memadai, seperti serial buku

(36)

pintar kader, lembar balik, leafleat, brosur, model makanan (Food Model) dan lainnya.

Gambar 1 Standar Sarana Posbindu PTM Sumber : Kemenkes RI, 2014c

Kegiatan kader/pelaksana posbindu PTM. Setelah kader pelaksana dilatih langkah yang dilakukan:

1. Melaporkan kepada pimpinan organisasi/ lembaga atau pimpinan wilayah.

2. Mempersiapkan dan melengkapi saran yang dibutuhkan.

3. Menyusun rencana kerja.

4. Memberikan informasi kepada sasaran.

5. Melaksanakan wawancara, pemeriksaan, pencatatan dan rujukan bila diperlukan setiap bulan.

6. Melaksanakan konseling.

7. Melaksanakan penyuluhan berkala.

Melaksanakan kegiatan aktifitas fisik bersama.

(37)

20

9. Membangun jejaring kerja.

10. Melakukan konsultasi dengan petugas bila diperlukan.

Pelaksanaan Posbindu PTM

Waktu penyelenggaraan. Posbindu PTM dapat diselenggarkan dalam sebulan sekali, bila diperlukan dapat lebih dari 1 kali dalam sebulan untuk kegiatan pengendalian faktor risiko PTM lainnya, misalnya olahraga bersama, sarasehan dan lainnya. Hari dan waktu yang dipilih sesuai dengan kesepakatan serta dapat saja disesuaikan dengan situasi dan kondisi setempat (Pudiastuti, 2011).

Tempat penyelenggaraan. Tempat pelaksanaan sebaiknya berada pada lokasi yang mudah dijangkau dan nyaman bagi peserta. Posbindu PTM dapat dilaksanakan pada salah satu rumah warga, balai desa/ kelurahan, salah satu kios di pasar, salah satu ruang perkantoran/klinik perusahaan, ruangan khusus di sekolah, salah satu ruangan di dalam lingkungan tempat ibadah, atau tempat tertentu yang disediakan oleh masyarakat secara swadaya (Pudiastuti, 2011).

Pelaksanaan kegiatan. Pos pelayanan terpadu penyakit penyakit menular dilaksanakan dengan 5 tahapan layanan yang disebut sistem 5 meja, namun dalam situasi kondisi tertentu dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kesepakatan bersama. Kegiatan tersebut berupa pelayanan deteksi dini dan tindak lanjut sederhana serta monitoring terhadap faktor risiko penyakit tidak menular, termasuk rujukan ke puskesmas. Dalam pelaksanaannya pada setiap langkah secara sederhana dapat diuraikan sebagai berikut (Kemenkes, 2013):

(38)

Gambar 2 Proses kegiatan Posbindu PTM

Pembagian peran kader posbindu idealnya sebagai berikut, namun sebaiknya setiap kader setiap kader memahami semua peranan tersebut, pelaksanaannya dapat disesuaikan dengan kesepakatan.

Tabel 2 Pembagian Peran Kader

No Peran Kriteria dan Tugas

1 Koordinator Ketua dari perkumpulan dan penanggung jawab kegiatan serta berkoordinasi terhadap Puskesmas dan para Pembina terkait di wilayahnya.

2 Kader penggerak Anggota perkumpulan yang aktif, berpengaruh dan komunikatif bertugas menggerakkan masyarakat, sekaligus melakukan wawancara dalam penggalian informasi.

3 Kader Pemantau Anggota perkumpulan yang aktif dan komunikatif bertugas melakukan

(39)

22

4 Kader Konselor/Edukator Anggota perkumpulan yang aktif, komunikatif dan telah menjadi panutan dalam penerapan gaya hidup sehat, bertugas melakukan konseling, edukasi, motivasi, serta menindaklanjuti rujukan dari puskesmas.

5 Kader Pencatat Anggota perkumpulan yang aktif dan komunikatif bertugas melakukan

pencatatan hasil kegiatan posbindu PTM dan melaporkan kepada koordinator posbindu PTM.

Sumber: Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Posbindu PTM, 2013.

Peran Para Pihak:

1. Kader Posbindu ;

Dari sejumlah kader yang telah dilatih ditetapkan koordinator dan

penanggung jawab untuk penggerak, pemantau, konselor/edukator serta pencatat.

Tugas yang dilakukan oleh kader Pada H-1, tahap persiapan:

a. Mengadakan pertemuan kelompok untuk menentukan jadwal kegiatan.

b. Menyiapkan tempat dan peralatan yang diperlukan.

c. Membuat dan menyebarkan pengumuman mengenai waktu pelaksanaan.

Pada hari H, tahap pelaksanaan :

a. Melakukan pelayanan dengan sistem 5 meja atau modifikasi sesuai dengan kebutuhan dan kesepakatan bersama.

b. Aktifitas bersama seperti olahraga bersama, demo masak, penyuluhan, konseling, sarasehan atau peningkatan keterampilan bagi para anggotanya termasuk rujukan ke puskesmas/klinik swasta/RS.

(40)

Pada H+1, Tahap Evaluasi:

a. Menilai kehadiran(para anggotanya, kader dan undangan lainnya) b. Mengisi catatan pelaksanaan kegiatan.

c. Mengidentifikasi masalah yang dihadapi.

d. Mencatat hasil penyelesaian masalah.

e. Melakukan tindak lanjut berupa kunjungan ke rumah bila diperlukan.

f. Melakukan konsultasi teknis dengan Pembina posbindu.

2. Petugas Puskesmas

Puskesmas memiliki tanggung jawab pembinaan posbindu. di wilayah kerjanya sehingga kehadiran petugas puskesmas dalam kegiatan posbindu sangat diperlukan dalam wujud peran:

a. Memberikan bimbingan teknis kepada para kader posbindu dalam penyelenggaraannya.

b. Memberikan materi kesehatan terkait dengan permasalahan faktor risiko PTM dalam penyuluhan maupun kegiatan lainnya.

c. Mengambil dan menganalisa hasil kegiatan posbindu.

d. Menerima, menangani dan memberi umpan balik kasus rujukan dari posbindu.

e. Melakukan koordinasi dengan para pemangku kepentingan lain terkait.

Pembiayaan kegiatan. Dalam mendukung terselengggaranya posbindu, diperlukan pembiayaan yang memadai baik dana mandiri dari perusahaan, kelompok masyarakat/lembaga atau dukungan dari pihak lain yang peduli

terhadap persoalan penyakit tidak menular di wilayah masing-masing. Puskesmas juga dapat memanfaatkan sumber-sumber pembiayaan yang potensial.

(41)

24

Pembiayaan ini untuk mendukung dan memfasilitasi Posbindu PTM, salah satunya melalui pemanfaatan Bantuan Operasional Kesehatan. Pembiayaan bersumber daya dari masyarakat dapat melalui Dana Sehat atau mekanisme pendanaan lainnya. Dana juga bisa didapat dari lembaga donor yang umumnya didapat dengan mengajukan proposal/usulan kegiatan (Rahajeng, 2012).

Pihak swasta dapat menyelanggarakan Posbindu PTM di lingkungan kerja sendiri maupun dapat berperan serta dalam Posbindu PTM di wilayah sekitarnya dalam bentuk kemitraan melalui CSR (Corporate Social Responsibility)/

Tanggung jawab Sosial Perusahaan. Pemerintah Daerah setempat berkewajiban melakukan pembinaan agar Posbindu PTM tetap tumbuh dan berkembang melalui dukungan kebijakan termasuk pembiayaan secara berkesinambungan. Dana yang terkumpul dari berbagai sumber dapat dipergunakan untuk mendukung kegiatan Posbindu PTM seperti (Rahajeng, 2012);

a. Biaya operasional Posbindu PTM.

b. Pengganti biaya perjalanan kader.

c. Biaya penyediaan bahan habis pakai.

d. Biaya pembelian bahan Pemberian Makanan Tambahan ( PMT).

e. Biaya penyelenggaraan pertemuan.

f. Bantuan biaya rujukan bagi yang membutuhkan.

g. Bantuan biaya duka bila ada anggota yang mengalami kecelakaan atau kematian.

Pencatatan dan pelaporan . Pencatatan hasil kegiatan posbindu dilakukan oleh kader. Petugas Puskesmas mengambil data hasil kegiatan posbindu yang

(42)

digunakan untuk pembinaan, dan melaporkan ke instansi terkait secara berjenjang.

Untuk pencatatan digunakan (Pudiastuti, 2011):

1. Kartu Menuju Sehat (KMS) FR-PTM

Pada pelaksanaan pemantauan, kondisi faktor risiko PTM harus diketahui oleh yang diperiksa maupun yang memeriksa. Masing-masing peserta harus mempunyai alat pantau individu berupa Kartu Menuju Sehat (KMS) FR-PTM.

Untuk mencatat kondisi faktor risiko PTM. Kartu ini disimpan oleh masing- masing peserta, dan harus selalu dibawa ketika berkunjung ke tempat pelaksanaan posbindu. Tujuannya agar setiap individu dapat melakukan mawas diri dan

melakukan tindak lanjut, sesuai saran Kader/ Petugas. Sedangkan bagi Petugas dapat digunakan untuk melakukan tindakan dan memberi saran tindak lanjut yang diperlukan sesuai dengan kondisi peserta posbindu.

Format KMS FR-PTM mencakup nomor identitas, data demografi, waktu kunjungan, jenis faktor risiko PTM dan tindak lanjut. Pada KMS FR-PTM ditambahkan keterangan golongan darah dan status penyandang penyakit tidak menular yang berguna sebagai informasi medis jika pemegang kartu mengalami kondisi darurat di perjalanan. Hasil dari setiap jenis pengukuran/ pemeriksaan faktor risiko PTM pada setiap kunjungan peserta ke posbindu dicatat pada KMS FR-PTM oleh masing-masing kader faktor risiko. Demikian pula tindak lanjut yang dilakukan oleh kader.

2. Buku Pencatatan Hasil Kegiatan Posbindu PTM

Buku pencatatan diperlukan untuk mencatat identitas dan keterangan lain mencakup nomor, No KTP/ kartu identitas lainnya, nama, umur, dan jenis

(43)

26

kelamin. Buku ini merupakan dokumen/file data pribadi peserta yang berguna untuk konfirmasi lebih lanjut jika suatu saat diperlukan. Melalui buku ini, dapat diketahui karakteristik peserta secara umum. Buku Pencatatan Faktor Risiko PTM diperlukan untuk mencatat semua kondisi faktor risiko PTM dari setiap

anggota/peserta. Buku ini merupakan alat bantu mawas diri bagi koordinator dan seluruh petugas Posbindu dalam mengevaluasi kondisi faktor risiko PTM seluruh peserta.

Hasil pengukuran/pemeriksaan faktor risiko yang masuk dalam kategori buruk diberi tanda warna yang menyolok. Melalui buku ini kondisi kesehatan seluruh peserta dapat terpantau secara langsung, sehingga koordinator maupun petugas dapat mengetahui dan mengingatnya serta memberikan motivasi lebih lanjut. Selain itu buku tersebut merupakan file data kesehatan peserta yang sangat berguna untuk laporan secara khusus misalnya ketika diperlukan data kesehatan untuk kelompok usia lanjut atau data jumlah penderita PTM, dan juga merupakan sumber data surveilens atau riset/ penelitian secara khusus jika suatu saat

diperlukan.

Tindak lanjut hasil posbindu PTM. Tujuan dari penyelenggaran Posbindu PTM , yaitu agar faktor risiko PTM dapat dicegah dan dikendalikan lebih dini.

Faktor risiko PTM yang telah terpantau secara rutin dapat selalu terjaga pada kondisi normal atau tidak masuk dalam kategori buruk, namun jika sudah berada dalam kondisi buruk, faktor risiko tersebut harus dikembalikan pada kondisi normal. Tidak semua cara pengendalian faktor risiko PTM, harus dilakukan dengan obat-obatan (Maryam, 2010).

(44)

Pada tahap dini, kondisi faktor risiko PTM dapat dicegah dan dikendalikan melalui diet yang sehat, aktifitas fisik yang cukup dan gaya hidup yang sehat seperti berhenti merokok, pengelolaan stres dan lain-lain. Melalui konseling dan/atau edukasi dengan kader konselor/edukator, pengetahuan dan keterampilan masyarakat untuk mencegah dan mengendalikan faktor risiko PTM dapat

ditingkatkan. Dengan proses pembelajaran di atas secara bertahap, maka setiap individu yang mempunyai faktor risiko akan menerapkan gaya hidup yang lebih sehat secara mandiri (Maryam, 2010).

Tabel 3 Frekuensi dan Jangka Waktu Pemantauan Faktor Risiko PTM

Faktor Resiko Orang Sakit Faktor Resiko Penderita PTM Glukosa darah puasa 3 tahun sekali 1 tahun sekali 1 bulan sekali Glukosa darah 2 jam 3 tahun sekali 1 tahun sekali 1 bulan sekali Glukosa darah sewaktu 3 tahun sekali 1 tahun sekali 1 bulan sekali Kolesterol darah total 5 tahun sekali 6 bulan sekali 3 bulan sekali Trigliserida 5 tahun sekali 6 bulan sekali 3 bulan sekali Tekanan darah 1 bulan sekali 1 bulan sekali 1 bulan sekali Indeks Masa Tubuh (IMT) 1 bulan sekali 1 bulan sekali 1 bulan sekali Lingkar perut 1 bulan sekali 1 bulan sekali 1 bulan sekali Arus puncak ekspirasi 1 bulan sekali 31 bulan sekali 1 bulan sekali

IVA 1 bulan sekali

Cedera dan kekerasan dalam rumah tangga

6 bulan sekali 3 bulan sekali 3 bulan sekali Kadar alkohol pernafasan

dan tes amfetamin urin

1 bulan sekali 6 bulan sekali 1 bulan sekali Sumber: Kemenkes RI, 2014c

Keterangan :

a. Pada kunjungan pertama, semua faktor risiko peserta diperiksa. Untuk pemeriksaan Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA) dilakukan pada perempuan telah berhubungan seksual/menikah usia >35 tahun/riwayat pernikahan>1 kali dan dilakukan oleh bidan terlatih.

(45)

28

b. Pada kunjungan berikutnya bagi peserta yang tidak beresiko dan berisiko faktor risiko PTM dilakukan pemantauan pada faktor risiko perilaku, BB, lingkar perut, IMT, Analisa Lemak tubuh, Tekanan darah setiap bulan.

c. Untuk peserta yang beresiko merokok dan gejala batuk dilakukan pemeriksaan arus puncak respirasi setiap tiga bulan.

d. Untuk peserta yang mempunyai faktor risiko dislipidemia, pemeriksaan kolesterol total dan trigliserida diperiksa setiap 6 bulan sekali.

e. Untuk peserta yang beresiko kegemukan, adanya riwayat keluarga dengan DM kadar gula darah diperiksa setiap tahun.

f. Untuk penyandang PTM, semua faktor risiko dipantau setiap bulan serta pemeriksaan kolesterol total dan trigliserida diperiksa setiap 3 bulan.

g. Pemantauan faktor risiko cedera dan tindak kekerasan dalam rumah tangga dilakukan setiap bulan, sementara untuk pemeriksaan kadar alkohol

pernafasan dan amfetamin urin bagi kelompok pengemudi umum dilakukan setiap bulan bagi yang bernilai positif dan 6 bulan sekali yang beresiko.

Rujukan posbindu PTM. Apabila pada kunjungan berikutnya (setelah 3 bulan) kondisi faktor risiko tidak mengalami perubahan (tetap pada kondisi buruk), atau sesuai dengan kriteria rujukan, maka untuk mendapatkan penanganan yang lebih baik harus dirujuk ke puskesmas atau klinik swasta sesuai dengan kebutuhan dan keinginan yang bersangkutan. Meskipun telah mendapatkan pengobatan yang diperlukan, kasus yang telah dirujuk tetap dianjurkan untuk melakukan pemantauan faktor risiko penyakit tidak menular di posbindu (Kemenkes, 2014).

(46)

Gambar 3 Alur Tindak Lanjut dan Rujukan Hasil Deteksi Dini di Posbindu PTM

Pelaksanaan pospandu dimulai dengan layanan pendaftaran dilanjutkan dengan wawancara dan pengukuran faktor risiko penyakit tidak menular. Kader posbindu akan melakukan konseling dan edukasi terhadap permasalahan

kesehatan yang dijumpai pada peserta posbindu termasuk melaksanakan sistem rujukan puskesmas bila diperlukan sesuai dengan kriteria. Hasil pelaksanaan posbindu tercatat secara tertib dan diberikan kepada petugas puskesmas atau unsur pembina lainnya yang memerlukan sebagai bahan informasi.(Kemenkes, 2013).

Penyakit Tidak Menular (PTM)

Penyakit Tidak Menular (PTM) merupakan masalah yang sangat

substansual, mengingat pola kejadian sangat menentukan status kesehatan di suatu daerah dan juga keberhasilan peningkatan status kesehatan di suatu negara

(Sudoyo, 2006). Penyakit tidak menular adalah jenis penyakit yang tidak menular

(47)

30

seperti cacat fisik, gangguan mental, kanker, penyakit degeneratif, penyakit gangguan metabolisme, dan kelainan-kelainanorgan tubuh lain; penyakit jantung, pembuluh darah, penyakit tekanan darah tinggi, penyakit kencing manis, berat badan lebih, osteoporosis, kanker usus, depresi dan kecemasan (Sutomo, 2010).

Aikins (2006) mendefinisikan penyakit tidak menular dengan sebutan chronicnon-communicable disease (NCDs), yaitu penyakit non-infeksi yang berlangsung seumur hidup dan membutuhkan pengobatan dan perawatan jangka panjang.

Secara global WHO (World Health Organization) memperkirakan penyakit tidak menular menyebabkan sekitar 60% kematian dan 43% kesakitan di seluruh dunia. Perubahan struktur masyarakat dari agraris ke industri dan perubahan pola fertilitas gaya hidup dan sosial ekonomi masyarat diduga sebagai hal yang melatar belakangi prevalensi penyakit tidak menular, sehingga kejadian penyakit tidak menular semakin bervariasi dalam transisi epidemiologi (Mirza, 2010).

Penyakit tidak menular saat ini yang banyak berkembang di masyarakat seperti hipertensi atau darah tinggi, diabetes melitus, hiperkolesterolemia, asam urat, penyakit jantung, paru-paru kronis, bahkan kanker. Penyakit tidak menular dapat juga disebabkan karena kecelakaan termasuk cedera, luka dan benturan akibat kecelakaan (Sutomo,2010).

(48)

Kerangka Pikir

Gambar 4 Kerangka Pikir

Pelaksanaan Kegiatan di Hari H - Penyuluhan - Pemeriksaan

kesehatan - Konseling

Pelaksanaan Progam Posbindu PTM

Pelaksanaan Kegiatan H+1`

- Pencatatan dan pelaporan - Sistem rujukan Pelaksanaan

Kegiatan H-1 - Sumber daya - Sarana prasarana - Waktu dan tempat - Sistem pembiayaan

(49)

Metode Penelitian

Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif yang bertujuan untuk mengetahui secara jelas dan lebih mendalam tentang

pelaksanaan program pos pembinaan terpadu penyakit tidak menular (Posbindu PTM) di Puskesmas Glugur Darat Tahun 2017.

Lokasi dan Waktu Penelitian

Lokasi penelitian. Penelitian ini dilaksanakan di Puskesmas Rawat Inap Glugur Darat. Pemilihan lokasi ini didasarkan atas pertimbangan bahwa Puskesmas Rawat Inap Glugur Darat merupakan puskesmas yang telah

melaksanakan program pos pembinaan terpadu penyakit tidak menular (Posbindu PTM).

Waktu penelitian.Waktu penelitian ini dilakukan pada bulan September 2017 – Maret 2018 (survey pendahuluan dan penelitian).

Informan Penelitian

Informan dalam penelitian ini diambil dengan menggunakan teknik purposive, yaitu teknik yang dilakukan untuk memilih informan yang bersedia dan mampu memberikan informasi yang berkaitan dengan topik penelitian, yaitu pelaksanaan program Posbindu PTM dalam deteksi dini dan pencegahan

komplikasi DM di wilayah puskesmas terkait, berjumlah 10 informan yang terdiri dari, 1 informan kepala puskesmas, 1 informan dokter penanggungjawab program,

(50)

1 informan kader posbindu, 5 informan dari peserta posbindu PTM, dan 2 informan dari pasien Puskesmas.

Metode Pengumpulan Data.

Teknik pengumpulan data merupakan cara yang digunakan peneliti untuk mendapatkan data dalam suatu penelitian. Pada penelitian ini peneliti memilih jenis penelitian kualitatif maka data yang diperoleh haruslah mendalam, jelas dan spesifik.

1. Wawancara mendalam (in-depth interview) kepada informan dengan berpedoman pada panduan wawancara yang telah dipersiapkan.

2. Observasi, untuk menyajikan gambaran realistik perilaku dan kejadian, untuk menjawab pertanyaan, untuk membantu mengerti perilaku manusia, dan untuk evaluasi yaitu melakukan umpan balik terhadap pengukuran tersebut (Saryono dan Mekar, 2011).

Definisi Operasional

1. Tahapan pelaksanaan posbindu pada H-1, yaitu tahapan persiapan yang dilakukan sehari sebelum pelaksanaan program posbindu PTM dilaksanakan.

Seperti; persiapan sumber daya, persiapan sarana prasarana, waktu dan tempat, dan sistem pembiayaan.

2. Tahapan pelaksanaan posbindu pada hari H, yaitu tahapan pelaksaan posbindu PTM yang dilakukan di puskesmas. Yaitu; penyuluhan, pemeriksaan

kesehatan dan konseling.

(51)

34

3. Tahapan pelaksanaan posbindu pada H+1, yaitu tahapan evaluasi yang dilakukan pada sehari setelah pelaksanaan program posbindu PTM dilaksanakan. Yaitu; pencatatan dan pelaporan serta sistem rujukan.

Jenis dan Sumber Data

1. Data primer yang dapat digunakan dalam penelitian ini adalah data-data yang dikumpulkan melalui observasi yaitu dengan melihat kegiatan serta sarana dan prasarana di puskesmas dan wawancara baku terbuka dengan probing

(pendalaman pertanyaan) dengan menggunakan pedoman wawancara yang berisi butir-butir pertanyaan untuk diajukan kepada informan. Pedoman tersebut digunakan untuk memudahkan wawancara, penggalian data dan informasi.

2. Data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini adalah data-data yang diperoleh dari profil Puskesmas Glugur Darat.

Uji Validitas Data

Uji validitas data dalam penelitian kualitatif disebut dengan triangulasi.

Triangulasi digunakan sebagai tehnik pemeriksaan, keabsahan data yang

memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu (Saryono, 2010). Triangulasi yang di gunakan dalam penelitian ini adalah triangulasi sumber yaitu melalui wawancara mendalam dengan Kepala Puskesmas Glugur Darat.

Triangulasi

Menurut patton dalam Moleong (2012) untuk menjaga kualitas dam keakuratan data dilakukan triangulasi. Triangulasi yang dilakukan adalah

(52)

triangulasi sumber, yaitu dengan memilih yang dapat memberikan jawaban sesuai dengan pertanyaan yang diajukan.

Metode Analisis Data

Menurut Miles dan Huberman (2012) terdapat tiga metode analisa data kualitatif yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Proses ini berlangsung terus-menerus selama penelitian berlangsung bahkan sebelum data benar-benar terkumpul.

1. Reduksi Data

Reduksi data merupakan salah satu dari teknik analisis data kualitatif. Reduksi data adalah bentuk analisis yang menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak perlu dan mengorganisasi data sedemikian rupa

sehingga kesimpulan akhir dapat diambil. Reduksi tidak perlu diartikan sebagai kuantifikasi data.

2. Penyajian Data

Penyajian data merupakan salah satu dari teknik analisi data kualitatif.

Penyajian data adalah kegiatan ketika sekumpulan data disusun dapat

dilakukan dalam bentuk matriks,grafik jaringan dan bagan, sehingga memberi kemungkinan akan adanya penarikan kesimpulan.

3. Penarikan Kesimpulan

Penarikan kesimpulan adalah hasil analisis yang dapat digunakan untuk mengambil tindakan. Kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara, dan akan berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti kuat yang mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya.

(53)

Hasil Dan Pembahasan Penelitian

Gambaran Umum Puskesmas Glugur Darat

Letak geografis puskesmas. Puskesmas Glugur Darat terletak di Jalan Pendidikan No. 8 Kecamatan Medan Timur Kota Medan. Batas wilayah yaitu:

Sebelah Utara : Kecamatan Medan Deli Sebelah Selatan : Kecamatan Medan Kota Sebelah Barat : Kecamatan Medan Barat

Sebelah Timur : Kecamatan Medan Perjuangan dan Kecamatan Medan Timur

Visi dan misi puskesmas. Adapun visi dari Puskesmas Glugur Darat ialah

“Masyarakat Medan Sehat Sejahtera”. Yang diwujudkan melalui Misi Puskesmas Glugur Darat, sebagai berikut:

1. Menggerakkan pembangunan berwawasan kesehatan 2. Mendorong kemandirian masyarakat untuk hidup sehat

3. Memelihara dan meningkatkan pelayanan kesehatan yang bermutu, merata dan terjangkau

4. Memelihara dan meningkatkan kesehatan individu, keluarga, masyarakat dan lingkungan.

(54)

Keadaan demografi. Jumlah penduduk Kecamatan Medan Timur Tahun 2017 adalah 112.366 jiwa. Berikut adalah distribusi penduduk di wilayah kerja Puskesmas Glugur Darat.

Tabel 4 Distribusi Penduduk di Wilayah Kerja Puskesmas Glugur Darat No Kelurahan Jumlah Lingkungan Jumlah Penduduk

1 Glugur Darat I 13 11.391

2 Glugur Darat II 12 11.435

3 P. Brayan Darat I 14 21.154

4 P. Brayan Darat II 15 14.118

5 P. Brayan Bengkel I 11 13.736

6 P. Brayan Bengkel II 12 10.454

7 Durian 12 8.734

8 Gaharu 12 8.131

9 Sidodadi 11 5.804

10 Perintis 5 3824

11 Gang Buntu 11 3.585

Jumlah 128 112.366

Sumber: Profil Puskesmas Glugur Darat Tahun 2017

Karakteristik Informan

Karakteristik dari masing-masing informan pada penelitian ini adalah pada tabel berikut.

(55)

38

Tabel 5 Karakteristik Informan

No Informan Jenis Kelamin Umur (Tahun)

Jabatan 1 dr. Sri Wirya

Ningsih

Perempuan 39 Dokter Penaggung Jawab Program Posbindu PTM 2 dr. Rosita Nurjannah Perempuan 56 Kepala

Puskesmas Glugur Darat 3 Yuliarnis Perempuan 48 Bidan Penggerak

Posbindu

4 Suparniati Perempuan 56 Peserta Posbindu PTM

5 Sri Widyawati Perempuan 61 Peserta Posbindu PTM

6 Jumiarti Perempuan 58 Pasien

puskesmas

7 Rajino Laki-laki 60 Pasien

puskesmas

8 Yunus Laki-laki 65 Peserta

Posbindu penderita PTM 9 Manulang Laki-laki 68 Peserta Posbindu

penderita PTM

10 Atik Perempuan 59 Peserta Posbindu

penderita PTM Sumber: Puskesmas Glugur Darat Tahun 2017

Dari tabel di atas dapat terlihat bahwa jumlah informan pada penelitian ini ialah enam informan yang terdiri dari satu informan dokter penanggung jawab program Posbindu PTM di Puskesmas Glugur Darat, satu informan Kepala Puskesmas Glugur Darat, satu orang bidan penggerak osbindu PTM, dua orang informan peserta Posbindu PTM di Puskesmas Glugur Darat, dua orang informan pasien umum puskesmas Glugur Darat, dan tiga orang informan peserta Posbindu PTM yang telah terdeteksi penyakit tidak menular.

(56)

Alur Pelaksanaan Posbindu PTM di Puskesmas Glugur Darat

Alur pelaksanaan posbindu PTM yang dilaksanakan di puskesmas Glugur Darat adalah sebagai berikut :

Gambar 5 Alur Pelaksanaan Posbindu PTM Hasil Observasi di Puskesmas Glugur Darat.

Penyuluhan Kesehatan

Datang Senam Pagi Sarapan

Penyuluhan Kesehatan

Wawancara dan Pemeriksaan

oleh Dokter

Pemeriksaan Gula Darah

Konsultasi dengan Dokter dan Pemberian Obat Pengambilan

Obat Pulang

Pendaftaran di Loket

(57)

40

Dari alur pelaksanaan Posbindu PTM tersebut, pelaksanaan Posbindu PTM belum sesuai dengan petunjuk teknis pos pembinaan terpadu penyakit tidak menular.

Pelaksanaan Kegiatan H-1 (Persiapan)

Pelaksanaan kegiatan H-1 (persiapan) merupakan hal yang dilakukan pada saat sebelum pelaksanaan program dilaksanakan. Terdapat beberapa aspek yang dikategorikan sebagai pelaksanaan kegiatan H-1 (persiapan) dalam pelaksanaan program Posbindu PTM yaitu : sumber daya, sarana prasarana, waktu dan tempat, sistem pembiayaan.

Sumber daya. Sumber daya adalah tenaga kesehatan yang dibutuhkan dalam pelaksanaan program posbindu PTM di Puskesmas. Variabel Sumber Daya berdasarkan kualitas dan kuantitas baik dari tenaga medis maupun kesehatan lainnya dalam memberikan pelayan sudah cukup baik, tetapi yang menjadi kendala adalah kurangnya tenaga pelaksana. Hasil wawancara tentang sumber daya di Puskesmas Glugur Darat dijelaskan oleh Dokter penanggung jawab pelaksana Posbindu sebagai berikut :

“Untuk tenaga pelaksana kita cuma 2 orang. Pasti jelas kita masih kekurangan tenaga yaa. Tapi kadang kita dibantu sama dokter muda yang lagi magang di puskesmas ini.” (Informan 1)

“... Kalau untuk tenaga pelaksana posbindu ini masih saya dengan dokter ningsih.” (Informan 3)

Berdasarkan pernyataan informan di atas dapat disimpulkan bahwa tenaga pelaksana yang terlibat dalam pelaksanaan program Posbindu PTM di Puskesmas Glugur Darat hanya ada 2 orang, yaitu Dokter penanggung jawab progam dan seorang bidan pelaksana. Dapat disimpulkan bahwa untuk sumber daya di

(58)

Puskesmas Glugur Darat untuk program Posbindu PTM belum sesuai dengan standar yang telah ditentukan oleh Kemenkes RI Tahun 2014 tentang petunjuk teknis pos pembinaan terpadu penyakit tidak menular. Menurut Kemenmkes RI Tahun 2014 tentang petunjuk teknis pos pembinaan terpadu penyakit tidak menular pelaksanaan program posbindu PTM seharusnya dilakukan oleh kader dengan pengawasan dokter pelaksana program. Kader yang dibutuhkan adalah sebanyak 5 orang, yaitu kordinator, kader penggerak, kader pemantau, kader konselor/edukator, dan kader pencatat.

Bedasarkan penelitian Annisa (2016) menyatakan bahwa tenaga pelaksana yang terlibat dalam pelaksanaan program Posbindu PTM di wilayah kerja

Puskesmas Polonia berjumlah 4 orang yang terdiri dari 1 perawat pelaksana dan 3 kader. Sedangkan Puskesmas Glugur Darat hanya memiliki dua orang petugas pelaksana program yaitu, seorang dokter, dan seorang bidan.

Berdasarkan penelitian Bintang (2017) menyatakan bahwa kader berfungsi sebagai penggerak posbindu, dimana kader yang melakukan pemeriksaan umum pada peserta, seperti : penimbangan, pengukuran tensi, pengukuran tinggi badan dan lingkar perut, lengan serta pinggang. Kader juga mencatat laporan kegiatan posbindu yang kemudian diberikan kepada petugas posbindu.

Berdasarkan konsep Posbindu PTM yang telah ditetapkan bahwa Posbindu PTM merupakan salah satu program pemberdayaan masyarakat dalam mencegah penyakit tidak menular, salah satunya adalah diabetes melitus. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan bahwa peran tenaga kesehatan masih mendominasi dalam pelaksanan Posbindu PTM di Puskesmas Glugur Darat dibandingkan

Referensi

Dokumen terkait

Pos  pembinaan  terpadu  (Posbindu)  PTM  adalah  pe- ran  serta  masyarakat  dalam  melakukan  kegiatan  deteksi  dini  dan  pemantauan  terhadap  faktor  risiko 

Meskipun demikian, masih terdapat beberapa hal yang menjadi bahan evaluasi yang perlu ditingkatkan untuk pencapaian output dari pelaksanaan posbindu PTM dalam deteksi dini

peserta ke posbindu dicatat pada KMS FR-PTM oleh masing-masing.. kader faktor risiko. Demikian pula tindak lanjut yang dilakukan oleh. kader. 2) Buku pencatatan hasil kegiatan

Salah satu program promosi kesehatan dalam penanggulangan penyakit tidak menular adalah Posbindu PTM yang merupakan Pos Pembinaan terpadu faktor risiko PTM

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul “ANALISIS PELAKSANAAN PROGRAM POS PEMBINAAN TERPADU PENYAKIT TIDAK MENULAR DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS

Pelaksana posbindu masih belum sesuai dengan SPO (Standart Prosedur Operasional) Posbindu PTM, karena masih dilakukan oleh tenaga kesehatan Puskesmas Padang Bulan

Tidak Menular (Posbindu PTM) pada penderita hipertensi di Puskesmas Padang Bulan

Pelaksana posbindu masih belum sesuai dengan SPO (Standart Prosedur Operasional) Posbindu PTM, karena masih dilakukan oleh tenaga kesehatan Puskesmas Padang Bulan