• Tidak ada hasil yang ditemukan

Membicarakan Keterampilan Berbicara di depan Mikrofon

B. Fungsi Bahasa Penyiar Radio FM di Surakarta

4. Membicarakan Keterampilan Berbicara di depan Mikrofon

Keterampilan berbicara di depan mikrofon atau announcing skill merupakan hal mutlak yang harus dikuasai oleh setiap penyiar radio. Pada proses membicarakan keterampilan berbicara di depan mikrofon terjadi percakapan antara penyiar senior dengan penyiar yang masih magang. Penyiar magang harus bisa menguasai announcing skill oleh karena itu penyiar senior wajib mengajarinya. Pada proses ini terjadi fungsi konatif menjelaskan, menyuruh, menasehati; dan fungsi emotif memuji, emotif kekecewaan.

a. Fungsi Konatif

commit to user

1) Fungsi Konatif Menjelaskan Antara Penyiar Senior dan Penyiar Magang

(100) Konteks situasi : Percakapan Rido

Wicaksono yang sedang memberikan pengarahan kepada penyiar magang tentang announcing skill di radio RRI Surakarta pada tanggal 27 Mei 2013.

Penyiar magang : “Kata bu Ina opening-ku tadi Masih monoton Mas. Biar gak monoton tu gimana Mas?”

Rido Wicaksono : “Jadi pada saat kamu open mike biar gak monoton tiap hari tu kamu ganti-ganti, misal hari ini pakai huruf a misalnya „Apa kabar anda hari ini?

Semoga selalu dalam keadaan sehat tidak kurang satu apapun‟, besok pakai b besoknya lagi c dan seterusnya.”

(100/FB/OFF/RRI/27 Mei 2013)

Data pada tuturan di atas diucapkan oleh Rido Wicaksono ketika memberikan pengarahan kepada penyiar baru tentang cara opening (kata-kata untuk membuka siaran) supaya tidak terdengar monoton. Ketika berbicara mengenai opening, Rido menjelaskan cara-cara supaya pada saat opening tidak terdengar monoton.

Tuturan di atas mengandung fungsi konatif menjelaskan. Menjelaskan adalah menerangkan atau menguraikan secara terang. Dalam hal ini Rido Wicaksono berusaha menjelaskan bagaimana cara opening supaya tidak terdengar monoton. Rido berusaha memberikan penjelasan kepada penyiar baru, hal tersebut tampak pada kalimat berikut “Jadi pada saat kamu open mike biar gak monoton tiap hari tu kamu ganti-ganti, misal hari ini pakai huruf a misalnya

„Apa kabar anda hari ini? Semoga selalu dalam keadaan sehat tidak kurang satu apapun‟, besok pakai b besoknya lagi c dan seterusnya.”

commit to user 2) Fungsi Konatif Meminta Antarpenyiar

(101) Konteks situasi : Percakapan Rido

Wicaksono dengan rekan kerjanya pada saat pergantian jam siaran di radio RRI Surakarta pada tanggal 28 Mei 2013.

Rido Wicaksono : “Mbak, tolong sini bentar.”

Rekan kerja : “Apa?”

Rido Wicaksono : “Mbak tolong jagain dulu ya, aku mau ke kamar mandi bentar, mules banget, sebelum closing tak usahain kelar.”

Rekan kerja : “Iya, jangan lama-lama lho, Masih berapa menit ni?”

Rido Wicaksono : “Sepuluh Mbak.”

(101/FB/OFF/RRI/28 Mei 2013)

Tuturan di atas diucapkan oleh Rido Wicaksono yang sedang meminta tolong kepada rekan kerjanya untuk menjaga ruang siaran. Tuturan ini mengandung fungsi konatif meminta, hal tersebut tampak pada tuturan berikut

“Mbak tolong jagain dulu ya.” Rido meminta kepada rekan kerjanya untuk menjaga ruang siar karena ia ingin pergi ke kamar mandi. Ruang siaran memang tidak boleh ditinggal karena takut terjadi suatu hal yang tidak diinginkan, misalnya saja iklan yang diputar habis dan harus ganti memutar lagu. Jika tidak ada yang menjaga setelah iklan selesai maka akan berhenti dan terjadi kekosongan pada saat siaran, padahal pada saat siaran tidak boleh terjadi hal tersebut.

3) Fungsi Konatif Menasihati Antara Penyiar Senior dan Penyiar Magang (102) Konteks situasi : Percakapan Sara Neyrhiza

yang sedang memberi pengarahan kepada rekan kerjanya (penyiar magang) tentang comment di radio PTPN pada tanggal 6 Juni 2013.

commit to user

Sara Neyriza : “Kalau comment tu jangan lebih dari tiga menit, pendengar tu bosen dengernya.

Pokoknya diinget-inget ya, jangan lebih dari tiga menit.”

Penyiar magang : “Iya Mbak iya, kan gak tau kalau lebih dari tiga menit.”

(102/FB/OFF/PTPN/6 Juni 2013)

Tuturan di atas diucapkan oleh Sara Neyrhiza yang sedang memberikan pengarahan kepada penyiar magang mengenai comment (komentar). Penyiar wajib memberikan komentar pada saat siaran dan komentar yang disampaikan dalam satu waktu tidak boleh lebih dari tiga menit. Apabila komentar diberikan lebih dari tiga menit pendengar bisa merasa bosan dan dikhawatirkan akan beralih ke radio lain.

Tuturan di atas mengandung fungsi konatif menasihati. Menasihati adalah memberi nasihat, ajaran, pelajaran yang baik, teguran atau anjuran yang baik (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2003:775). Sara Neyrhiza berusaha memberikan teguran kepada penyiar baru bahwa setiap comment tidak boleh lebih dari tiga menit. Jika comment lebih dari tiga menit akan membuat pendengar merasa bosan, apalagi kalau penyiar tersebut dalam menyampaikan informasi kurang cakap.

Teguran tampak pada tuturan berikut “Kalau comment tu jangan lebih dari tiga menit, pendengar tu bosen dengernya.” Tuturan tersebut menggunakan kata

„jangan‟ yang berfungsi sebagai penanda larangan.

b. Fungsi Emotif

1) Fungsi Emotif Memuji Penyiar Magang

(103) Konteks situasi : Percakapan Rido

Wicaksono yang sedang memberikan pengarahan kepada penyiar magang tentang

commit to user

announcing skill pada saat siaran berdua di radio RRI Surakarta pada tanggal 18 Juni 2013.

Rido Wicaksono : “Tapi comment mu tadi dah lumayan bagus lho, ya lumayanlah buat anak magang. Cuma kurang santai, masih kaku kamunya.”

Penyiar magang : “Oke Mas. O ya Mas bukumu tak balikin besok ya.”

Rido Wicaksono : “Sip.”

(103/FB/OFF/RRI/18 Juni 2013)

Dialog di atas dituturkan oleh Rido Wicaksono yang sedang membicarakan tentang comment pada saat siaran. Tuturan di atas mengandung fungsi emotif memuji penyiar yang sedang magang. Pujian tersebut ditunjukkan dengan tuturan “lumayan bagus”. Penutur memuji penyiar magang yang sudah bisa menampilkan comment yang bagus. Bagi penyiar magang memang untuk bisa berbicara dengan baik dan benar di depan mikrofon tidaklah mudah, harus banyak hal yang perlu diperhatikan. Misalnya saja, bagaimana mengatur jarak antara mulut dengan mikrofon, bagaimana merangkai kata-kata yang bisa dimengerti oleh pendengar. Seorang penyiar untuk sekedar berbicara saja memang tidak semudah yang dibayangkan karena penyiar juga harus berkonsentrasi untuk menjalankan alat audio sendiri. Oleh karena itu Rido Wicaksono memberikan pujian kepada penyiar magang atas perkembangannya selama magang di radio RRI Surakarta.

2) Fungsi Emotif Kekecewaan

(104) Konteks situasi : Percakapan Sara Neyrhiza yang sedang memberikan pengarahan kepada rekan kerjanya (penyiar magang) tentang

commit to user

announcing skill pada saat siaran berdua di radio PTPN pada tanggal 6 Juni 2013.

Sara Neyriza : “Comment kamu tadi kok gak enak ya, coba liat script kamu (sambil membaca script di komputer), lho kamu kasih teasing dong jangan langsung gini. Pake tuh bahasa tutur yang baik dan enak didenger trus mudah dicerna juga. Kalau kamu comment langsung gini gak enak, kasih teasing ya. Ngerti teasing kan?”

Penyiar Magang : “Emm iya Mbak.”

Sara Neyrhiza : “Oke kalau gitu yuk cus langsung dibenerin aja, mumpung Masih ada waktu, Masih dua lagu lagi kan. Aduh bawel banget ya aku, aja lara ati lho ya, ini semua juga biar kamu belajar.”

(104/FB/OFF/PTPN/6 Juni 2013)

Tuturan di atas diucapkan oleh Sara Neyrhiza yang sedang mengeluhkan comment dari penyiar magang. Pada saat siaran berdua penutur mengeluhkan comment yang diberikan oleh mitra tutur pada saat siaran. Penutur merasa kecewa karena script yang dibuat tidak diberi teasing (kalimat sapaan yang berfungsi sebagai pemanis pada awal comment) sehingga comment yang diberikan terdengar kaku.

Data di atas terdapat fungsi emotif kekecewaan, penutur memperlihatkan emosi ketika menyampaikan maksudnya. Fungsi bahasa ini digunakan untuk menunjukkan ekspresi kekecewaan penutur kepada mitra tutur. Hal tersebut tampak pada kalimat berikut “Comment kamu tadi kok gak enak ya, coba liat script kamu (sambil membaca script di komputer), lho kamu kasih teasing

dong jangan langsung gini.”

(105) Konteks situasi : Percakapan Rido

Wicaksono yang sedang memberikan

commit to user

pengarahan kepada penyiar magang tentang announcing skill pada saat siaran berdua di radio RRI Surakarta pada tanggal 18 Juni 2013.

Rido Wicaksono : “Aduh, kalau mau break itu, jangan gitu-gitu terus ngomongnya, jadinya monoton kan. Lebih gimana ya, lebih kreatif dikit lah, tau kan maksudku?”

Penyiar magang : “Waduh, iya ta Mas. Gak nyadar aku.”

(105/FB/OFF/RRI/18 Juni 2013)

Dialog di atas dututurkan oleh Rido Wicaksono pada saat siaran berdua bersama penyiar yang baru magang. Tuturan tersebutu mengandung fungsi emotif kekecewaan. Hal tersebut tergambar pada penggunaan kata „Aduh‟ pada data di atas. Kata „aduh‟ yang dipakai bukan berarti menunjukkan rasa sakit, tetapi jika dilihat konteksnya „aduh‟ merupakan bentuk kekecewaan dari penutur terhadap mitra tuturnya. Penutur yang bernama Rido Wicaksono merasa kecewa karena pada saat siaran, penyiar magang selalu mengucapkan kalimat yang sama setiap akan break iklan. Sebagai seorang penyiar pengucapan kalimat yang sama harus dihindari supaya tidak terdengar monoton. Seorang penyiar harus menjadi sosok yang cerdas, jika selalu monoton maka akan tergambar bahwa penyiar tersebut tidak smart. Hal tersebut dilakukan karena pendengar akan cenderung mengidolakan sosok penyiar yang cerdas, jadi jika ingin memiliki banyak pendengar maka seorang penyiar harus terdengar cerdas.

Dokumen terkait