HASIL DAN PEMBAHASAN
5. Membuat Catatan
Indikator membuat catatan memiliki persentase 67,12% yang berada pada kategori cukup baik. Berdasarkan hasil angket dan alasan siswa diangket serta wawancara dengan siswa, indikator ini berada pada kategori cukup baik.
89
Berdasarkan hasil wawancara dengan siswa bahwa mereka rajin mencatat penjelasan guru yang tidak ada dibuku pegangan siswa dan untuk lebih menambah pengetahuan mereka memiliki beberapa buku lain sebagai referensi untuk belajar.
Perlunya diupayakan siswa mencatat yakni dengan bahasa yang mudah dipahami dan dengan tulisan yang rapi, bagus, sehingga siswa akan semangat dalam belajar dengan mencatat berarti siswa mengulang kembali apa yang telah siswa baca sebelumnya sehingga secara tidak langsung akan mudah tersimpan dalam pikiran. Membuat catatan besar pengaruhnya dalam membaca. Hal ini sesuai dengan pendapat Slameto (2010: 83), yang menyatakan dengan memiliki catatan yang tidak jelas, semraut dan tidak teratur antara materi yang satu dengan materi yang lain akan menimbulkan rasa bosan dalam membaca, selanjutnya belajar jadi kacau. Sebaiknya catatan yang baik, rapi, lengkap, teratur, akan menambah semangat dalam belajar, khususnya dalam membaca, karena tidak terjadi kebosanaan membaca. Selain itu Djamarah (2011: 41) menyatakan bahwa dalam membuat catatan jangan sembarangan, sebab bisa mendatangkan kerugian material dan pemikiran, akibat lainnya adalah akan sia-sialah catatan itu, karena tidak bisa digunakan untuk kepentingan kemajuan dan kesuksesan belajar. Catatan sangat berguna untuk menampung semua informasi.
6. Konsentrasi
Indikator yang memiliki persentase paling rendah adalah indikator konsentrasi dengan persentase 63,30% kategori cukup baik. Berdasarkan hasil angket dan alasan siswa diangket serta wawancara dengan siswa, indikator ini berada pada kategori cukup baik dikarenakan beberapa dari merekalebih banyak yang berkonsentrasi dalam belajar apabila di dalam kelas tidak ribut. Namun sebagian dari mereka walaupun di dalam kelas ribut mereka tetap berkonsentrasi saat belajar.
Hasil wawancara dengan siswa, sebagian siswa masih ada yang tidak memperhatikan sibuk bermain, pukul-pukulan dengan teman sebangku atau belakang, dan melamum memikirkan sesuatu di luar materi pelajaran, siswa
90
terlihat seperti memperhatikan tetapi ketika ditanya siswa tidak bisa untuk menjawab apa yang telah dijelaskan, siswa tidak konsentrasi saat belajar di dalam kelas. Padahal dalam belajar diperlukan konsentrasi dalam perwujudan perhatian terpusat. Pemusatan perhatian tertuju pada suatu objek tertentu dengan mengabaikan masalah-masalah lain yang tidak diperlukan. Orang yang tidak dapat berkonsentrasi pasti tidak akan berhasil menyimpan atau menguasai bahan pelajaran. diketahui bahwa kebanyakan dari siswa tidak bisa berkonsentrasi dengan baik saat belajar.
Siswa harus melihat papan tulis, mengamati gambar, memperhatikan guru, mengamati tulisan di buku, mendengarkan apa yang guru ucapkan, dan sebagainya. Untuk itu, anak harus diberikan rangsangan yang dapat mempengaruhi kelakuannya agar terus memperhatikan pelajaran (Nasution dalam Djamarah, 2011: 94). Tetapi pada proses belajar berlangsung sangat banyak kendala yang terdapat didalam kelas misal nya masih banyak dijumpai siswa yang selalu keluar kelas dengan alasan permisi, ini salah satu hilang nya konsentrasi siswa dalam memahami penjelasan guru. Sedang siswa mengatakan saat wawancara mereka menyebutkan konsentrasi mereka pecah atau tidak fokus itu disebabkan karna teman kelas itu sendiri yang selalu meribut dan mengganggu saat teman lainnya fokus belajar.
4.12 Siswa Akademik Sedang 1. Mengerjakan tugas
Berdasarkan analisis data angket cara belajar, indikator yang memiliki persentase paling tinggi adalah mengerjakan tugas sebesar73,34% dalam kategori cukup baik. Berdasarkan hasil angket dan alasan siswa diangket serta wawancara dengan siswa, indikator mengerjakan tugas berada pada kategori Cukup baik dikarenakan jika jika diberika tugas/ PR oleh gurunya mereka selalu berusaha untuk dikerjakan secepat mungkin agar tidak lupa apabila memiliki tugas dari guru dan takut untuk menumpuk tugas-tugas yang ada. Namun sebagian siswa terkadang ada yang mengerjakan tugas/PR nya disekolah karena lupa atau mengalami kesulitan dalam mengerjakannya.
91
Soal latihan yang diberikan bisa menjadi bentuk evaluasi belajar siswa setelah mengikuti materi pelajaran yang diberikan. Soal-soal yang dapat diselesaikan dengan baik, akan menjadi acuan bagi guru untuk menilai kemampuan siswa seberapa besarkah siswa menguasai materi pelajaran yang diberikan, akan tetapi kebanyakan siswa tidak percaya diri sehingga menyebabkan siswa itu lebih memilih mencontek tugas temannya. Selain itu karena guru terlalu banyak memberikan soal-soal kepada siswa, hal tersebut cenderung membuat siswa merasa jenuh dan malas untuk mengerjakannya sehingga lebih memilih untuk mencontek.
Menurut Deighton dalam kadri (2015:74) mencontek adalah upaya yang dilakukan seseorang untuk mendapatkan keberhasilan secara tidak fair (tidak jujur). Namun, dalam proses belajar mengajar, tentunya guru sering mendapati prilaku siswa yang bermacam-macam. Seperti jika diberikan tugas latihan siswa mencontek temannya. Namun ada juga siswa yang memilih menyelesaikan dengan usaha sendiri karena siswa tersebut yakin dengan kemampuan dan usahanya sendiri karena rasa percaya dirinya yang tinggi dapat menyelesaikan latihan dengan baik.
Hasil wawancara dengan siswa, diketahui bahwa ada siswa yang berusaha keras menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru, tidak putus asa dan yakin dapat menyelesaikannya dengan baik dengan nilai yang memuaskan. Tapi ada juga sebagian siswa yang merasa tidak yakin terhadap kemampuannya pada pelajaran Biologi ini sehingga sebagian siswa ada yang mencontek tugas kepada temannya. Malasnya siswa mengerjakan tugas Biologi yang dianggap sulit, bisa jadi dikarenakan faktor tidak percaya dirinya siswa dalam menyelesaikan soal yang dianggap sulit. Sehingga pentingnya peran guru untuk meningkatkan percaya diri dari siswa tersebut agar berminat lagi untuk menyelesaikan tugasnya agar mendapatkan hasil belajar yang optimal. Kemudian dengan adanya dorongan atau motivasi oleh guru yakni apabila siswa mengerjakan tugas dengan benar dan mengumpulkan tugas tepat pada waktu yang telah ditentukan maka guru akan memberikan nilai yang berbeda dengan nilai siswa yang
92
mengumpulkan tugas tidak pada waktu yang telah ditentukan. Dimana, siswa akan mendapatkan pengurangan nilai apabila siswa mengumpulkan tugas terlambat atau tidak pada waktu yang telah ditentukan.
Dengan demikian berdasarkan hasil angket serta wawancara dengan siswa dan guru, dengan adanya dorongan atau motivasi oleh guru yakni apabila siswa mengerjakan tugas dengan benar dan mengumpulkan tugas tepat pada waktu yang telah ditentukan maka akan berbeda nilainya dengan siswa yang mengumpulkan tugas tidak pada waktu yang ditentukan. Dimana siswa akan mendapatkan pengurangan nilai apabila siswa mengumpulkan terlambat. Hal ini dilakukan agar siswa disiplin dalam belajar. Berdasarkan teori yang dikemukkan oleh Dalyono (2009: 57),
Cara belajar merupakan salah satu faktor internal yang mempengaruhi prestasi belajar siswa. Oleh karena itu, tinggi rendahnya hasil belajar siswa dipengaruhi dengan bagaimana cara belajar yang diterapkan siswa dalam belajar. Siswa sebaiknya lebih rajin dan disiplin lagi dalam mengerjakan tugas, disebabkan dalam pengerjaan tugas, materi-materi yang sudah dipelajari atau yang belum dipelajari menjadi salah satu usaha dalam belajar untuk menunjang ilmu dan infirmasi yang diperoleh siswa.