BAB II - Prosedur Survei Lapangan
2.6 Membuat Jalur
2.6 Membuat Jalur
Prosedur membuat jalur sama dengan prosedur membuat batas garis ikat. Titik awal setiap jalur pada batas ikat mempunyai ketinggian yang telah diperhitungkan dari sudut petak. Ketinggian batas garis ikat ini menjadi ketinggian awal untuk setiap jalur.
Untuk mengoreksi kesalahan-kesalahan survei yang ada, disarankan agar jalur-jalur disurvei secara berpasangan. Titik awal dari jalur pertama ada di batas garis ikat dan titik akhir jalur kedua ada di lokasi batas garis ikat berikutnya.
Prosedur Survei LapanganBAB II
Tip : Catatan survei harus dimulai dari bagian paling bawah dari halaman, dan selanjutnya dicatat ke atas. Ini akan memudahkan pembuatan sketsa peta karena catatan dibawa menghadap arah jalur.
Gambar 10 : Ilustrasi titik pertemuan dari sepasang jalur.
Jarak sebenarnya jalur kedua haruslah dicatat pada titik dimana batas garis ikat itu bertemu. Juga catat kesalahan temu gelang (arah, jarak kemiringan, dan persen kemiringan) ke lokasi di batas garis ikat bertandakan titik awal jalur 2. Gambar 10 menunjukan suatu kesalahan temu gelang dimana jalur kedua 5m lebih panjang dibandingkan dengan yang pertama dan 4 m dari lokasi batas ikat.
Prosedur Survei LapanganBAB II
Gambar 11 : Ilustrasi protokol pencatatan untuk kesalahan penutupan.
Jarak antar jalur 20 m dianjurkan oleh Departemen Kehutanan, pada prosedur inventarisasi 100%. Pada tingkat intensitas ini lama pelaksanaan survei oleh regu inventori untuk menyelesaikan satu petak / 100 hektar adalah satu bulan.
Pada percobaan operasional di lapangan telah memperlihatkan tingkat akurasi yang dapat diterima bisa dicapai dengan mengunakan jarak antar jalur 40 meter. Ini akan mengurangi biaya survei sampai dengan setengahnya.
Perusahaan HPH perlu mempertimbangkan, bila memilih jarak antar jalur yang cocok untuk survei pemetaan kontur dan posisi pohon.
Prosedur Survei LapanganBAB II
Gambar 12 : Protokol survei untuk daerah yang menyeberangi sungai dan pencatatan sementara (Intermediate Fore Shot / IFS).
Prosedur Lapangan :
Ini merupakan variasi yang cukup penting dari ukuran datar 20 meter yang normal karena mencatat data penting mengenai relief topografi yang dibutuhkan untuk membuat peta kontur yang akurat.
Keadaan Khusus
Keadaan Khusus
BAB III BAB III
BAB III
Keadaan 1 : Jalur anda akan menyeberangi suatu sungai yang dalam pada jarak pandang 20 m.
Anda bermaksud untuk mengetahui jarak ke sungai dan ketinggian di sungai dengan tujuan untuk menghasilkan peta kontur yang akurat.
Gambar 13 : Cara mencatat informasi survei sementara ketika melewati sungai atau selokan.
1) Pemegang tali akan berhenti beberapa saat ketika ia sampai di sungai untuk mengukur jarak lereng pada waktu ia berjalan ke depan pada arah jalur.
2) Pemegang tali belakang akan membaca kemiringan dan pengukuran kemiringan ke arah pemegang tali di sungai dan mencatat informasi ini sebagai suatu “catatan sementara (IFS)”.
“Catatan sementara” ini harus dicatat di dalam kurung di sebelah lokasi di mana catatan itu seharusnya berada (lihat catatan pada Gambar 13). Pencatat akan mampu menunjukkan secara tepat posisi sungai di peta sketsa dan menunjukkan arah aliran sungai dengan suatu panah.
3) Pemegang tali kemudian maju sampai mencapai jarak 20 meter ditambah jarak kemiringan sedangkan pemegang tali belakang tetap tinggal di posisinya yang terakhir.
4) Prosedur survei yang normal dan pencatatannya akan diterapkan untuk pengukuran dan koreksi kemiringan (lihat bagian 2.5.
Pembuatan batas ikat). Penting untuk di catat pengukuran di sungai tidak memerlukan pembuatan stasiun survei.
Keadaan KhususBAB III
Gambar 14 : Prosedur survei untuk melintasi bukit.
Keadaan KhususBAB III
Keadaan 2 : Jalur anda akan melintasi patahan bukit (puncak bukit) atau kelerengan yang dapat berubah tiba-tiba sehingga pencatat tidak dapat melihat pemegang tali pada jarak 20 meter.
Tip : Usahakan agar dapat membagi interval 20m menjadi dua interval, masing-masing 10m. Tabel kemiringan dalam Lampiran 2 memberi jarak kemiringan yang diperlukan untuk ukuran horizontal 10 m.
Bila ukuran 10 m tidak dapat dilakukan atau karena satu dan lain hal menjadi tidak diinginkan maka anda perlu menggunakan tabel kelerengan umum / standar (Appendix III) untuk mengukur jarak di luar 20m. Selalu usahakan untuk mengukur ke pembulatan meter terdekat karena tabel-tabel ini dibuat dalam dua meter interval. Ini akan membuat koreksi kemiringan menjadi lebih mudah.
Gambar 15 : Cara mencatat informasi survey antara/sementara ketika melewati puncak bukit.
Prosedur lapangan Prosedur lapangan :
1) Begitu pemegang tali mencapai puncak bukit, ia akan melihat bahwa ia akan turun dan akan kehilangan pandang dengan pencatat. Ia harus berhenti dan memberitahu pencatat untuk mengukur kemiringan sampai di tempat ia berdiri.
2) Pemegang tali belakang akan membaca kemiringan dan mengukurnya untuk mendapatkan jarak datar 10 meter. Nilai jarak datar bisa di dapatkan dari tabel Pengoreksian Jarak Miring untuk jarak kelerengan tetap 20 meter (lihat Lampiran III).
3) Pemegang tali akan menarik tali rapat ke jarak miring 10 meter yang tepat dan akan membuat tanda di tanah dengan kakinya dan kedua orang ini kemudian bergerak lagi mengikuti jalur rintis.
4) Ketika pemegang tali belakang dan pencatat sampai di tempat yang telah ditandai tersebut, mereka akan berhenti dan mempersilakan pemegang tali untuk maju hingga jarak yang tersisa dalam interval 20 meter tercapai.
5) Pembacaan kedua sekarang dapat dilakukan dengan cara yang normal. Sebagai catatan, jumlah kedua pengukuran jarak harus sama dengan 20 m jarak horizontal agar dapat mempertahankan pengukuran interval yang konstan (tetap) di sepanjang jalur.
Keadaan KhususBAB III
Gambar 16 : Protokol survei menghindari suatu halangan.
6) Perhatikan bahwa patok tidak dibuat pada 10 meter yang pertama, tapi pada 10 meter yang kedua untuk mencapai interval titik survei jarak datar 20 meter.
7) Proses pencatatan untuk keadaan ini digambarkan pada Gambar 15. Perhatikan bila tidak digunakan tanda kurung dalam pencatatan tersebut itu berarti kedua ukuran adalah bagian dari garis survei.
Keadaan KhususBAB III
Keadaan 3 : Jalur anda mencapai batu yang besar dimana anda tidak dapat memanjatnya. Bagaimana anda akan membuat jalur kedepan dan masih tetap dalam ketelitian yang ada?
Prosedur lapangan Prosedur lapangan :
1) Pemegang tali telah sampai ke dinding jurang yang tidak dapat dipanjat. Ia memutuskan bahwa ia dapat mengitari dinding jurang tersebut ke arah kiri jalur.
2) Pemegang tali kembali ke titik terakhir survei dan membuat arah baru ke sudut kanan dari jalur aslinya (arah 270º pada contoh berikut).
3) Setelah 10 m (atau jarak yang memungkinkan), pemegang tali memeriksa arah aslinya untuk melihat kalau-kalau ia dapat melewati dinding jurang tersebut. Bila ia berfi kir bahwa ia dapat melewatinya, ia akan memberitahu ke pencatat untuk melakukan pengukuran pada jarak 10m.
4) Pencatat harus mencatat arah, jarak kelerengan, dan persentase kelerengan pada titik baru itu. Pemegang tali membuat suatu tanda di tanah untuk mencatat titik tersebut.
5) Pemegang tali kemudian melanjutkan ke arah aslinya yaitu ke Utara sampai ia melewati dinding jurang dan memberitahu pencatat untuk melakukan pengukuran.
6) Penarik tali menarik tali ukur dengan kencang dan pencatat mencatat arah baru tersebut, jarak kelerengan dan persentase kelerengan.
7) Tim survei kemudian bergerak berlawanan arah dengan arah belokan pertama sejauh jarak yang sama dengan yang pertama untuk kembali ke jalur asli (arah 90º sepanjang 10m).
8) Titik di mana jalur asli ini dibuat harus menjadi titik survei berikutnya pada jalur tersebut atau pada kelipatan genap dari standar interval 20m.
9) Untuk meyakinkan bahwa pengukuran jarak datar dengan interval 20 m tetap pada jalur, koreksi kelerengan dengan menggunakan tabel koreksi kelerengan umum harus dipakai pada pengukuran semua belokan tersebut.
Keadaan KhususBAB III
Gambar 17 : Bagaimana membuat catatan jika menghindari rintangan.
Catatan : Bila pemeliharaan interval survei 20 m horizontal tidak diperlukan atau tidak mungkin dilakukan secara fi sik, sebuah garis melintang dapat dibuat di sekeliling hambatan yang terdapat dalam jalur. Berbagai variabel seperti arah azimut, jarak kemiringan dan persentase kemiringan harus dicatat.
Pada keadaan seperti ini diperlukan pendekatan fl eksibel. Regu survei akan menentukan perubahan arah dan jarak yang diperlukan untuk melewati rintangan. Adalah sangat penting untuk menghitung jarak horizontal di lapangan, untuk menentukan posisi dari patok survei yang pertama melewati garis survei semula.
Keadaan KhususBAB III
Gambar 18 : Cara menangani hambatan utama yang terjadi dalam petak survei.
Dalam beberapa petak, ada kemungkinan beberapa masalah utama seperti keadaan medan yang sulit seperti daerah berawa atau lahan berbatu akan dijumpai di lapangan. Dalam keadaan lapangan seperti yang disebut di atas akan sulit bahkan tidak mungkin untuk memetakan kawasan-kawasan tersebut dengan menggunakan survei jalur yang sistematis.
Keadaan KhususBAB III
Keadaan 4 : Bagaimana mengatasi kesulitan dalam suatu petak survei.
Tentu saja jalan keluar bagi keadaan-keadaan tersebut juga sifatnya akan sangat spesifi k dengan lokasi. Ada kemungkinan jalur harus diperpendek untuk menghindari keadaan medan yang sulit. Bila di dalam petak terdapat medan yang sulit, perlu diperhatikan agar perluasan jalur survey di sekitar bagian medan yang sulit tersebut harus dibuat sedemikian rupa sehingga dapat mempertahankan tingkat ketepatan yang tinggi.
Jarak, kemiringan dan azimut untuk setiap pengukuran harus dicatat secara jelas dan dengan cara yang konsisten. Di lapangan hubungan dengan jalur-jalur yang letaknya berdekatan harus dibina dengan baik dan secara jelas dicatat dalam buku catatan. Situasi pemetaan seperti ini dapat dilihat dalam Gambar 18 di mana batu yang menjulang ke atas menyulitkan pemeliharaan jaringan jalur.
Keadaan KhususBAB III
Survei pemetaan kontur adalah suatu survei tingkat rendah (low order survei). Survei ini merupakan suatu pemecahan pragmatik terhadap kebutuhan akan peta-peta kontur di mana peta kontur berbasis foto udara tidak tersedia pada skala operasional. Karena survei kontur ini memerlukan tenaga dan waktu yang banyak, dan karena areal yang harus dipetakan dalam satu tahun biasanya cukup luas, prosedur survei ini merupakan suatu kompromi antara kebutuhan akan ketelitian dan kebutuhan produktivitas.
Disarankan agar semua jalur pemetaan kontur terikat dengan suatu batas ikat yang terkontrol sehingga kesalahan survei dapat di koreksi dengan lebih mudah ketika mempersiapkan peta tersebut.
Prosedur yang dijelaskan pada bagian sebelum ini merekomendasikan bahwa satu survei yang dilanjutkan harus terdiri dari dua jalur.
Survei tersebut harus dilakukan secara tuntas. Survei tersebut harus dimulai dan diakhiri pada titik survei yang sama atau pada titik garis melintang yang sudah dihubungkan melalui survei yang telah dilakukan sebelumnya. Dengan perkataan lain data survei yang dicatat harus dapat menjelaskan secara jelas apa yang telah dilakukan di lapangan. Setiap bagian dari survei harus mencatat arah, jarak kelerengan dan persentase kelerengan.
Untuk meminimkan kesalahan-kesalahan survei di lapangan, perlu memeriksa sumber kesalahan. Daftar potensi sumber-sumber kesalahan berikut belumlah lengkap, tetapi daftar ini mencakup sumber-sumber kesalahan yang umum terjadi.
4.1 Kesalahan dalam pembacaan arah kompas 4.1 Kesalahan dalam pembacaan arah kompas
Kesalahan dalam pembacaan arah kompas akan menghasilkan suatu deviasi (penyimpangan) jalur dari arah yang telah dipilih. Kesalahan ini mungkin disebabkan oleh:
(a) Cara memegang kompas yang tidak benar.
(b) Tidak hati-hati saat memeriksa arah jalur.
Sumber Potensi Kesalahan
Sumber Potensi Kesalahan
BAB IV BAB IV
BAB IV
Cara Mengatasinya Cara Mengatasinya :
(a) Usahakan agar kompas dipegang dengan posisi mendatar dan jarum kompas (atau roda) berotasi dengan bebas.
(b) Selalu tembak balik jalur anda untuk meyakinkan bahwa anda tidak menyimpang dari arah yang sebenarnya.
(c) Pemegang tali juga harus selalu memegang kompas sehingga dapat mencek arah yang diperoleh pemegang kompas sesering mungkin. Bila ada penyimpangan pada waktu pembuatan garis survei oleh pemegang kompas, segera harus diperbaiki, karena bila dibiarkan akan menyebabkan masalah pada waktu pemetaan.
(d) Jauhkan benda logam, seperti jam tangan dari kompas.
4.2 Kesalahan Pembacaan Kelerengan 4.2 Kesalahan Pembacaan Kelerengan
Kesalahan pembacaan kelerengan menyebabkan suatu kesalahan pandangan ketinggian (vertikal). Kesalahan ini bisa disebabkan oleh:
(a) Penggunaan alat-alat yang tidak dikalibrasi.
(b) Kesalahan dalam memberikan tanda yang benar (+/-) pada catatan,
(c) Yang dicatat derajat, bukan persentase.
(d) Pencatat bertubuh lebih tinggi (atau lebih rendah) dibandingkan pemegang tali, tetapi ia membaca kelerengan pada ketinggian mata pemegang tali. Hasilnya memang hanya merupakan kesalahan kecil tetapi sifatnya konsisten sehingga pada akhir survei jalur kesalahan tersebut menjadi signifi kan.
Cara Mengatasinya Cara Mengatasinya :
(a) Periksa klinometer. Ada kemungkinan klinometer tersebut tidak dikalibrasi dengan benar (Gambar 19).
• Buat dua target titik dengan jarak 20m. Tandai target pertama pada ketinggian mata. Pegang alat pada tanda ini dan buat tanda kelerengan nol pada target kedua.
• Pindahkan alat ke tanda kelerengan nol pada target kedua. Pegang alat dekat ke tanda ini dan buat tanda
Sumber Potensi KesalahanBAB IV
Gambar 19 : Pemeriksaan ketelitian klinometer.
kelerengan nol pada target pertama. Bila alat ini benar (akurat), tanda kelerengan nol ini akan sama dengan posisi alat asli.
• Bila tanda kedua berada di bawah posisi alat asli (Posisi Alat 1), klinometer itu pembacaanya terlalu rendah tentukan perbedaan persentase (%) antara Posisi Alat 2 Sasaran 2 dengan Posisi Alat 1. Kemudian bagi perbedaan persentase menjadi dua, karena kesalahan ini akumulasi dari 2 kali pembacaan klinometer. Hasil persentase tersebut harus disesuaikan dengan menambahkan pada setiap pembacaan 20 meter di lapangan.
• Bila tanda kedua berada di atas posisi alat asli (tanda pertama), klinometer itu pembacaanya terlalu tinggi tentukan perbedaan persentase (%) antara Posisi Alat 2 dengan Posisi Alat 1. Kemudian bagi perbedaan persentase menjadi dua. Hasil persentase tersebut harus disesuaikan dengan mengurangi pada setiap pembacaan 20 meter dilapangan.
• Cara yang mudah untuk mengetahui apakah pembacaan klinometer anda benar adalah dengan cara membawanya ke suatu danau atau sungai yang lebar dan tembaklah ke permukaan air di seberang danau atau sungai tersebut.
Hasil yang diperoleh menunjukkan apakah alat anda mempunyai penyimpangan negatif atau positif.
Sumber Potensi KesalahanBAB IV
(b) Ketika menambahkan koreksi kelerengan selama melaksanakan survei jalur, baca kembali titik survei horisontal yang telah dikoreksi. Catat pembacaan kedua ini.
(c) Pencatat harus selalu menetapkan ketinggian matanya dan menyesuaikannya dengan mitranya (pemegang tali) dengan cara berdiri di dekat mitranya pada tempat yang datar dan membuat bacaan kelerengan nol di kepala mitranya.
4.3 Kesalahan pengukuran Jarak.
4.3 Kesalahan pengukuran Jarak.
Ketika menutup jalur balik sepanjang jalur ke dua terhadap batas ikat, jarak harus sama. Bila lebih panjang atau lebih pendek, namun arahnya benar, maka besar kemungkinan ada kesalahan pengukuran jarak. Seluruh pembacaan kelerengan pada mitranya harus berada pada titik yang sama.
Cara Mengatasinya Cara Mengatasinya :
(a) Gunakan alat survei yang benar. Alat ukur yang baik adalah pita survei nilon atau pita survei yang telah dikalibrasikan dengan interval satu meter.
(b) Usahakan selalu menarik tali dengan kencang dan lurus ketika mengukur dari satu titik ke titik lainnya.
(c) Bila menggunakan tali polyproylene (plastik), periksalah secara teratur dengan pita survei yang benar. Polyproylene (tali plastik) dapat berubah setiap waktu.
4.4 Kesalahan Dalam Pencatatan 4.4 Kesalahan Dalam Pencatatan
Catatan yang salah, tidak lengkap atau tidak jelas adalah sumber kesalahan yang umum terjadi saat memplot data lapangan.
Cara Mengatasinya Cara Mengatasinya :
(a) Selalu memulai catatan dengan mengidentifi kasi secara jelas nomor petak, nomor jalur, arah jalur, tanggal, dan nama pencatat.
(b) Identifi kasi dengan jelas perubahan-perubahan arah dalam catatan.
Sumber Potensi KesalahanBAB IV
(c) Pastikan bahwa setiap survei terikat dengan garis survei berikutnya. Catat arah, jarak kemiringan dan persentase kelerengan semua yang terikat.
(d) Buat sketsa dari setiap ikatan.
(e) Buat sketsa dari semua anak sungai dan kenampakan fi sik yang penting di lembaran kompas.
(f) Buat sketsa garis bentuk untuk menggambarkan arah dari kontur untuk jarak 20 m pada setiap tepi jalur.
(g) Catat setiap kesalahan yang terdapat pada penutup, seberapapun kecilnya. Pastikan bahwa jarak, azimut dan kemiringan dicatat untuk setiap pengukuran.
Sumber Potensi KesalahanBAB IV
Tip : Catatan lapangan harus mudah dimengerti oleh setiap orang. Jangan biarkan orang berkhayal sendiri. Tulislah semua informasi yang mungkin bermanfaat, jangan hanya bergantung pada ingatan anda.
Prosedur survei lapangan digambarkan dalam Bab II, digunakan untuk pembuatan petak ukur yang sitematis dari garis-garis survei dan titik survei yang ditandai dalam interval 20 meter dalam hutan.
Petak ukur ini bisa digunakan sebagai dasar pembuatan peta posisi pohon yang akurat.
Buku petunjuk ini menganggap pembaca sudah mempunyai pengetahuan dasar tentang prosedur inventarisasi dan istilahnya, seperti ukuran diameter, tinggi, pengenalan jenis kayu, penilaian kualitas. Istilah ini adalah fokus dari pengumpulan data posisi pohon dan pemetaan.
5.1 Pertimbangan Pengumpulan Data 5.1 Pertimbangan Pengumpulan Data
Biasanya pada praktek inventarisasi 100% yang diwajibkan oleh system TPTI, digunakan tim yang terdiri dari 8 - 10 orang. Buku petunjuk ini menganjurkan pembagian tim ini ke dalam 2 regu (regu survei topografi dan regu survei inventori).
Regu Survei Topografi menentukan petak ukur dengan menggunakan jarak horizontal antar jalur 20 m dan telah mengumpulkan seluruh informasi yang diperlukan untuk menyiapkan peta kontur.
Regu Inventarisasi harus mengikuti petak yang sudah ditentukan oleh Regu Survei Topografi , dengan tujuan inventarisasi hutan dan pemetaan posisi pohon.
Ada beberapa pertimbangan penting, sebelum memulai survei inventarisasi 100%.
Mengukur atau menaksir ?
Ini adalah persoalan pokok “kualitas” vs “kuantitas”. Pada intensitas yang rendah diperlukan ketelitian untuk penilaian yang dapat diandalkan.
Prosedur Lapangan Pemetaan Pohon
Prosedur Lapangan Pemetaan Pohon
BAB V BAB V
BAB V
Gambar 20 : Pengukuran tinggi pohon – Situasi 1
Pada intensitas sampling 100%, taksiran diameter dan tinggi sudah cukup. Pengukuran sebenarnya dari tiap pohon akan memakan waktu yang lama dan berbiaya tinggi.
Untuk mendapatkan taksiran seakurat mungkin, disarankan Regu Inventarisasi melakukan estimasi secara berkala.
Pengecekan taksiran dari diameter pohon, bisa dilakukan secara cepat dan dapat dipercaya dengan mengunakan meteran. Setiap Regu Inventori sebaiknya membawa satu meteran untuk tujuan ini.
Pengukuran tinggi pohon memakan waktu lebih lama, tapi bisa dilakukan dengan menggunakan meteran dan klinometer.
Menghitung tinggi pohon harus dilakukan langsung di lapangan.
Dengan menggunakan skala persentase pada klinometer, penentuan tinggi pohon adalah sangat mudah, tetapi harus diperhatikan tanda (+ atau -) seperti pada contoh Gambar 20 dan 21 di bawah ini.
Prosedur Lapangan Pemetaan PohonBAB V
Gambar 21 : Pengukuran tinggi pohon – Situasi 2.
Pohon yang mana harus dicatat ?
Syarat pengaturan dan pertimbangan operasional akan menentukan pohon yang mana harus dicatat dan dipetakan. Di bawah peraturan sistem TPTI mewajibkan pohon komersial di atas diameter minimum yang sudah ditentukan harus dicatat. Sistem TPTI juga mewajibkan semua jenis pohon yang dilindungi harus di tandai dan Unit Pengelola Hutan memperlihatkan sekurangnya 25 pohon yang akan ditebang pada panen berikutnya, ditandai dan diberi label.
Prosedur Lapangan Pemetaan PohonBAB V
Keterangan Batas Diameter Penebangan
Pohon yang akan ditebang pada panen
berikut
Hutan Produksi 50 cm + 20 - 49 cm
Hutan Produksi Terbatas 60 cm + 20 - 59 cm
Jenis Pohon yg dilindungi Ulin, Jelutung,
Tengkawang, dll Ulin, Jelutung, Teng-kawang, dll
Pertimbangan operasional adalah sama pentingnya dengan syarat-syarat dalam peraturan saat memutuskan pohon mana yang harus dicatat dan ditandai.
Defi nisi “commercial” sebagian besar ditentukan oleh kebijaksanaan masing-masing perusahaan, dan dipengaruhi oleh bentuk industri dari perusahaan. Pertimbangan utama adalah kualitas dari kayu.
Bila Unit Pengelola Hutan (FMU) memproduksi kayu hanya untuk pabrik kayu lapis, kebijakan perusahaan mengenai cacat kayu yang diperbolehkan akan lebih banyak persyaratannya dibandingkan bila kayu ditebang untuk industri besar yang terpadu.
Pertimbangan lokasi dan transportasi juga sangat penting. Bila konsesi HPH terpencil dan transportasi sungai menggunakan kapal tongkang tidak dimungkinkan, maka jenis kayu yang tenggelam tidak akan dianggap sebagai kayu komersial, karena tidak bisa diapungkan di sungai.
5.2 Regu Inventori 5.2 Regu Inventori
Tim Inventori biasanya terdiri dari empat sampai lima orang.
Pencatat : Ini adalah pimpinan regu. Tugasnya adalah Pencatat : Ini adalah pimpinan regu. Tugasnya adalah menerima dan mencatat semua data (jenis pohon, kategori, diameter, panjang batang, dan posisi pohon). Dia juga membuat sketsa yang menggambarkan posisi dari tiap pohon yand dicatat di dalam petak ukur ditetapkan survei grid secara relatif.
Cruser : Biasanya ada dua orang Cruser dalam regu.
Cruser : Biasanya ada dua orang Cruser dalam regu.
Tugasnya adalah mengukur diameter pohon, tinggi batang sampai dengan cabang pertama, juga menomori dan menaruh label pada pohon, dimana posisi pohon berada, mengunakan sistem koordinat, menaksir nilai “X” dan “Y”
untuk posisi pohon. Cruser harus saling berkomunikasi secara terus menerus dan menyampaikan pengukurannya dan estimasinya kepada Pencatat, secara lisan.
Pengenal Pohon : Orang ini adalah ahli pengenal jenis Pengenal Pohon : Orang ini adalah ahli pengenal jenis pohon. Tugasnya juga termasuk membantu Cruser dengan memasang label pada pohon.
Prosedur Lapangan Pemetaan PohonBAB V
Gambar 22 : Prosedur lapangan untuk pemetaan pohon.
5.3 Prosedur Lapangan 5.3 Prosedur Lapangan
Inventarisasi dan pemetaan pohon dilaksanakan oleh Regu Inventori.
Regu ini mengikuti survei petak ukur yang dibuat oleh Regu Survei Topografi . Unit dasar adalah petak ukur yang berukuran 20 x 20
Regu ini mengikuti survei petak ukur yang dibuat oleh Regu Survei Topografi . Unit dasar adalah petak ukur yang berukuran 20 x 20